PANDUAN ASESMEN PASIEN
BAB I : PENDAHULUAN
Semua pasien yang datang ke rumah sakit akan dilakukan asesmen atau pengkajian yaitu asesmen informasi (yang berisi tentang asesmen medis, riwayat sakit dahulu), asesmen Psikologi dan Sosio-ekonomi, asesmen nyeri, asesmen gizi, asesmen keperawatan asesmen resiko jatuh. Dari proses asesmen awal tersebut maka akan teridentifikasi kebutuhan pelayanan pasien dan diagnosa kerja, kemudian diikuti dengan asesmen berkelanjutan untuk proses terapi melihat reaksi terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
A. TUJUAN
Pengumpulan data yang komprehensif untuk menilai kondisi dan masalah pasien
Identifikasi kondisi yang mengancam nyawa Intervensi segera
Tatalaksana cedera yang tidak emergensi dan manajemen transfer B. PENGERTIAN
Asesmen pasien : yaitu serangkaian proses sejak dari pre RS hingga manajemen pasien di RS
Asesmen tempat kejadian : yaitu suatu tindakan yang dilakukan paramedis saat tiba ditempat kejadian
Asesmen awal : yaitu proses untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi yang mengancam nyawa, berfokus pada :
Tingkat kesadaran
Stabilisasi leher dan tulang-tulang belakang
Menjaga patensi jalan nafas,pernafasan dan sirkulasi Asesmen segera: kasus trauma dan kasus medis
Asesmen segera kasus trauma : yaitu proses untuk pasien dengan cedera signifikan, untuk mengidentifikasi :
Cedera yang berpotensi mengancam nyawa Derajat keparahan cedera
Pertimbangkan Bantuan Hidup Lanjut
Asesmen segera kasus medis : yaitu dilakukan pada pasien yang tidak sadar, delirium/disorientasi, identifikasi segera kondisi yang berpotensi mengancam nyawa
Asesmen terfokus : kasus trauma dan kasus medis
Asesmen terfokus kasus trauma dilakukan untuk pasien yang telah dipastikan tidak cedera dan berfokus pada keluhan utama pasien
Asesmen terfokus kasus medis dilakukan pada pasien sadar, berorientasi baik berfokus pada keluhan utama pasien
Asesmen secara mendetail, yaitu pemeriksaan dilakukan dari kepala sampai kaki untuk menidentifikasi masalah yang tidak mengancam nyawa pasien
Asesmen berkelanjutan, yaitu dilakukan selama transfer, untuk mengidentifikasi adanya perubahan kondisi (perbaikan/perburukan) pasien C. RUANG LINGKUP
Semua pasien yang datang ke rumah sakit dilakukan asesmen, yaitu :
Meliputi asesmen informasi (asesmen medis, asesmen segera dan terfokus, serta asesmen berkelanjutan), termasuk riwayat penyakit sebelumnya
Asesmen skala nyeri Asesmen status gizi
Asesmen kebutuhan fungsional Asesmen keperawatan
Asesmen psikologi Asesmen sosio-ekonomi
D. BATASAN OPERASIONAL
Asesmen/pengkajian pasien dilakukan untuk semua pasien rawat jalan dan rawat inap, dilakukan oleh semua petugas kesehatan, sejak pasien sebelum masuk rumah sakit sampai keluar dari rumah sakit, asesmen dilakukan secara berkesinambungan agar kebutuhan pelayanan kesehatan pasien teridentifikasi dan terpenuhi. Asesmen sesuai dengan kebutuhan pelayanan pasien dibagi menjadi dua, yaitu :
Asesmen untuk populasi khusus, misalnya: Pediatrik
Maternity Geriatri
Korban kekerasan
Pasien pada stadium terminal
Rumah Sakit akan menetapkan kriteria tertulis tentang asesmen mendalam dan jika diperlukan 3 | P a g e dilakukan modifikasi yang harus dilakukan pada pasien populasi khusus sehingga dapat tercermin kebutuhannya
E. LANDASAN HUKUM
1. Undang-undang Republik Indonesia No.29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-undang Republik Indonesia No.36 tahun 2009 Tentang Kesehatan 3. Undang-undang Republik Indonesia No.44 tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
F. URUTAN ASESMEN PASIEN
Urutan ini diberlakukan pada semua pasien,asesmen terbagi menjadi lima,yaitu:
Asesmen tempat kejadian Asesmen awal
Asesmen segera dan terfokus Asesmen secara mendetail Asesmen berkelanjutan
ASESMEN TEMPAT KEJADIAN :
Amankan area
Gunakan alat pelindung diri
Kenali bahaya dan cegah cedera lebih lanjut
Panggil bantuan (ambulan, pemadam kebakaran, dll) Observasi posisi pasien
Identifikasi mekanisme cedera Stabilisasi leher dan tulang belakang Lindungi barang bukti di tempat kejadian
Periksa keadaan umum (identifikasi keluhan utama,mekanisme cedera, nilai kesadaran/orientasi, atasi kondisi yang mengancam nyawa)
Pastikan patensi jalan nafas,fiksasi leher dan tulang belakang
Nilai pernafasan (look, listen and feel), intervensi jika ventilasi/oksigenasi tak adekuat
Nilai ulang status kesadaran
Sirkulasi (nilai nadi/ arteri karotis, jika diperlukan mulai resusitasi jantung-paru (dibawah 1 tahun,nilai arteri Brachialis)
Identifikasi prioritas pasien : o Kritis
o Tidak stabil
o Berpotensi tidak stabil o Stabil
ASESMEN SEGERA DAN TERFOKUS :
Asesmen segera :
o Dilakukan pada pasien dengan cedera signifikan o Atau pasien medis yang tak sadar
o Dlakukan pada pasien dengan cedera signifikan :
- Dilakukan pada pasien sadar/ tidak sadar,untuk mengidentifikasi cedera yang mengancam nyawa
- Nilai status kesadaran dengan GCS
- Imobilisasi spinal dengan collar-neck,periksa kepala sampai tulang belakang,menggunakan DCAP-BTLS
D : deformitas
C : contusion – kontusio/ krepitasi A : abrasi
P : penetrasi/gerakan paradoks B : burn – luka bakar
T : tenderness – nyeri L :laserasi
S : swelling- bengkak o Kasus medis tidak sadar
- Pertahankan patensi jalan nafas
- Periksa dari kepala sampai tulang belakang - Tanda-tanda vital dinilai
- Nilai SAMPLE :
S : sign dan symtome,tanda dan gejala keluhan utama A : alergi
M: medikasi/ obat-obatan
L : last oral intake/menstrual period,asupan makanan terkini/periode menstruasi terakhir
E : etiologi penyakit Inisiasi intervensi
Transfer
Pemeriksaan fisik menyeluruh Lakukan asesmen berkelanjutan
ASESMEN SECARA MENDETAIL :
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh dan sistematis,untuk mengidentifikasi masalah yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas :
Nilai tanda vital
Pemeriksaan : kepala dan wajah (inspeksi,palpasi, nilai potensi sumbatan jalan nafas)
Mata : isokoritas, reflek cahaya pupil, benda asing/lensa kontak Hidung : deformitas, perdarahan, secret
Telinga : perdarahan, secret, hematoma/ Battle s sign Pemeriksaan leher : nilai ulang deformitas dan nyeri
Pemeriksaan dada : inspeksi adanya luka, pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu nafas, palpasi adanya luka, fraktur, krepitasi, ekspansi paru
Pemeriksaan abdomen : inspeksi adanya hematoma, distensi. Palpasi,temukan nyeri, defans muskuler
Pelvis dan genitourinarius : palpasi dan tekan kedua SIAS, untuk menilai adanya nyeri, instabilitas, dan krepitasi. Inspeksi dan palpasi : Inkontinensia, priapismus, darah di matus uretra, denyut nadi arteri femoralis
Pemeriksaan anggota gerak : Inspeksi,palpasi,nilai nadi distal,nilai sensasi saraf,nilai adanya parese,nilai gerak ektremitas
Pemeriksaan punggung : pertimbangkan imobilisasi, palpasi (luka, fraktur, nyeri)
ASESMEN BERKELANJUTAN :
Dilakukan untuk semua pasien yang akan ditranfer ke RS Tujuan :
Menilai adanya perubahan kondisi pasien Evaluasi efektifitas intervensi sebelumnya Menilai ulang temuan klinis sebelumnya
Pada pasien stabil ulangi asesmen awal tiap 15 menit, Pada pasien tidak stabil ulangi asesmen awal tiap 5 menit
Nilai ulang status kesadaran Pertahankan patensi jalan nafas Pantau kecepatan, kualitas pernafasan Nilai ulang kecepatan dan kualitas nadi Pantau warna dan suhu kulit
Nilai ulang tanda-tanda vital
Ulangi asesmen terfokus sesuai keluhan pasien Periksa intervensi
Pastikan pemberian oksigen adekuat Manajemen perdarahan
B. ASESMEN UNTUK POPULASI KHUSUS 1. ASESMEN PEDIATRIK
Pemeriksaan dilakukan secara sistematis ( anak sering tak dapat mengeluh secara verbal )
Awasi pergerakan spontan pasien untuk melindungi area tertentu Langkah-langkah asesmen
Keadaan umum ;
Tingkat kesadaran : kontak mata,perhatian ke sekitar Tonus otot : normal,meningkat atau menurun
Respon ke orang tua atau pengasuh : menyenangkan,atau gelisah
Kepala :
tanda trauma
ubun-ubun besar : masih terbuka, cekung atau menonjol Wajah :
Pupil : ukuran, kesimetrisan, reflek cahaya Hidrasi: air mata, kelembaban mukosa mulut Leher: periksa ada/ tidak kaku kuduk
Dada :
Periksa adanya stridor,retraksi sela iga,peningkatan usaha nafas
Auskultasi : suara nafas meningkat/menurun, simetris kanan-kiri, ronki, mengi
Bunyi jantung : regular, kecepatan, mur-mur Abdomen :
Periksa adanya distensi, kaku, nyeri dan hematom Anggota gerak :
Palpasi nadi Brakialis Tanda-tanda trauma
Tonus otot dan pergerakan simetris Suhu, warna kulit dan capillary refill Gerakan terbatas karena nyeri Pemeriksaan Neurologis
2. ASESMEN MATERNITY Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis :
a. Keadaan Umun : □ Tampak tidak sakit □ Tampak sakit ringan □Tampak sakit sedang □ampak sakit berat
b.Kesadaran : Compos mentis Apatis c. Edema : Palpebra Tungkai 2. Status Obstetrik
a.Leopold I : □TFU : ...Cm
b.Leopold II : □ Punggung kanan □ Punggung Kiri □ Letak Lintang □ Letak Obliq
c.Leopold III : □ Letak Kepala □ Letak Lintang □ Lain-lain
d. Leopold IV : □ 5/5 □ 4/5 □ 3/5 3. Denyut Jantung Janin: Pemeriksaan Fisik
a. Frekwensi : ...x/menit
b. Irama : □ Teratur □ Tidak teratur □ Tidak terdengar c.His : Frekwensi : ...x/menit
Relaksasi : ...
Kualitas : □ Ringan □ Sedang □ Ada □ Tidak ada 4. Pemeriksaan Dalam ( Dilakukan bila ada tanda-tanda inpartu )
a. Portio : □ Lancip □
Mendatar f. Penurunan bagian terendah: □ Hodge I : ... □ Hodge III : ...
□ HodgeII : ... □ Hodge IV: ...
b. Pembukaan : Tidak Ya, ...cm
g. Lain-lain : □ Blood slim □ Air ketuban : ○ Ya ○ Tidak ○ Ragu,tes lakmus c. Ketuban : □ Negatif □ Positip d. Presentasi : □ Kepala, Posisi UUK : ... □ Bokong, posisi Sarkum: ... □ Muka : .... □ Lain-lain: ... 5. Periksaan panggul : □ Tidak dilakukan
□ Dilakukan : ○ luas sedang ○ sedang ○ sempit
TBJ: ...Gram
□ Imbang Feto Pelvic: □ baik □ CPD □ suspek CPD
6. Pemeriksaan Kardiotokografi ( CTG ) Denyut Jantung Janin :
a. Frekuensi dasar : ... dpm
b. Variabilitas : □ Normal □ Berkurang □ silent □ Tidak ada □ Saltatory c. Akselerasi : □ Ada □ Tidak ada
d. Deselerasi : □ Ada □ Tidak ada Beratnya : □ ringan □ Sedang □ Berat Frekuensi : ... x/ mnt Kekuatan : ....mm Hg Lamanya : ...mnt Relaksasi : ... Konfigurasi : ... Tonus dasar : ... mm Hg f. Gerak janin : ... kali Dalam : .... mnt g. Interpretasi CTG : ...
DIAGNOSIS : Ibu : ... Bayi : ...
PROGNOSIS : Ibu : □ Bonam □ Dubia ad Bonam □ Malam □ Dubia ad Malam Bayi : □ Bonam □ Dubia ad Bonam □ Malam □ Dubia ad Malam RENCANA : □ Partus Pervaginam
□ Sectio caesaria □ Konservatif
□ Partus Percobaan
3. ASESMEN KORBAN KEKERASAN Korban kekerasan
Asesmen Informasi tambahan : o Waktu, dan tempat kejadian
o Kepada pasien/ keluarga pasien diberi pilihan untuk melapor ke pihak yang berwajib.
o Bila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut bisa dirujuk ke RS Tugurejo-Semarang
o Bila petugas Kesehatan diminta untuk membuat laporan ke pihak yang berwajib, harus ada permintaan/ pernyataan tertulis dari pihak Kepolisian
o Dianjurkan yang melapor ke pihak yang berwajib pasien / keluarga pasien
o Bila diperlukan dapat dikonsultasikan ke dokter ahli sesuai keperluannya
4. PASIEN KONDISI TERMINAL
Asesmen dan asesmen ulang perlu dilakukan secara individual untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga apabila pasien mendekati kematian, dan yang dievaluasi :
a. Gejala seperti mau muntah dari kesulitan bernafas
b. Faktor-faktor yang meningkatkan dan membangkitkan gejala fisik c. Manajemen gejala saat ini dan hasil respon pasien
d. Orientasi spiritual pasien dan keluarga,kalau perlu keterlibatan kelompok agama ( pelayanan pastoral )
e. Status Psikososial pasien dan keluarga,seperti hubungan keluarga, lingkungan rumah yg memadai apabila diperlukan perawatan di rumah, cara mengatasi dan reaksi pasien dan keluarga atas penyakit pasien f. Kebutuhan dukungan atau kelonggaran pelayanan bagi pasien,keluarga
dan pemberi pelayanan lain
g. Kebutuhan akan alternatif atau tingkat pelayanan lain
h. Faktor resiko bagi yang ditinggalkan dalam hal cara mengatasi dan potensi reaksi patologis atas kesedihannya
5. ASESMEN PASIEN USIA LANJUT/ GERIATRI
Geriatri didefinisikan sebagai orang-orang yang berusia diatas atau sama dengan 65 tahun, prevalensi nyeri dan resiko jatuh dapat meningkat dibandingkan dengan usia dewasa muda. Asesmen nyeri pada geriatri yang valid, reliabel, dan dapat diaplikasikan menggunakan Functional Pain Scale, seperti dibawah ini
Skala nyeri Keterangan
0 Tidak nyeri
1 Dapat ditoleransi/aktifitas tidak terganggu
2 Dapat ditoleransi/beberapa aktifitas sedikit terganggu
3 Tidak dapat ditoleransi/tetapi masih dapat menggunakan telepon,menonton tv,dan membaca
4 Tidak dapat ditoleransi/sudah tidak dapat menggunakan telepon,menonton tv,dan membaca
5 Tidak dapat ditoleransi/dan tidak dapat membaca karena nyerinya Untuk Asesmen Resiko jatuh dapat dilihat pada asesmen resiko jatuh di dalam asesmen tambahan nomor 3
C. ASESMEN TAMBAHAN 1. ASESMEN NEUROLOGIS
- Dilakukan pada pasien dengan cedera kepala atau gangguan neurologis - Status neurologi awal dipakai sebagai dasar memantau kondisi selanjutnya - Tahapan asesmen berupa :
Tanda vital : nilai ventilasi, Kedalaman
Kecepatan Keteraturan Usaha nafas
Mata : nilai ukuran pupil,kesimetrisan kanan-kiri,reflek cahaya Pergerakan ; nilai kesimetrisan keempat anggota gerak
Sensasi Nilai ada/ tidaknya sensasi abnormal ( pada cedera spinal ) Status kesadaran : dinilai memakai Glasgow Coma Scale (GCS ),
secara akurat
Menggambarkan fungsi serebri
Pada anak kecil GCS sulit dilakukan,anak dengan kesadaran baik Dapat memfokuskan pandangan,dan mengikuti gerakan tangan pe Meriksa,merespon stimulus yang diberikan,memiliki tonus otot dan Tangisan normaI
Usia 2 tahun < Usia 2 tahun
Mata Terbuka spontan
Terbuka terhadap suara Terbuka terhadap rangsang nyeri
Tidak merespon
Terbuka spontan Terbuka saat dipanggil Terbuka thd rangsang nyeri Tidak merespon
4 3 2 1 Verbal Orientasi baik
Disorientasi
Jawaban tidak sesuai Suara tak dpt dimengerti Tidak merespon
Berceloteh
Menangis ,Gelisah
Menangis thd rangsang nyeri Merintih,Mengerang Tidak merespon 5 4 3 2 1 pergerakan Mengikuti perintah
Melokalisasi nyeri
Menarik diri dr rangsang nyeri
Fleksi abnormal ektremitas E ktensi abnormal ektremitas
Tidak merespon
Pergerakan normal Menarik diri thd sentuhan Menarik diri dr rangsang nyeri Fleksi abnormal ektremitas thd rangsang nyeri
Ektensi abnormal ektremitas thd rangsang nyeri Tidak merespon 6 5 4 3 2 1 TOTAL SKOR : MATA + VERBAL + PERGERAKAN = 3 - 15
- SKOR 13 – 15 = KELAINAN NEUROLOGI RINGAN - SKOR 9 - 12 = KELAINAN NEUROLOGI SEDANG - SKOR 3 - 9 = KELAINAN NEUROLOGI BERAT
GLASGOW COMA SCALE DEWASA
Mata Terbuka spontan
Terbuka terhadap suara
Terbuka terhadap
rangsang nyeri Tidak merespon
Terbuka spontan Terbuka saat dipanggil Terbuka thd rangsang nyeri Tidak merespon
4 3 2 1 Verbal Orientasi baik
Disorientasi
Jawaban tidak sesuai Suara tak dpt dimengerti Tidak merespon
Berceloteh
Menangis ,Gelisah
Menangis thd rangsang nyeri Merintih,Mengerang Tidak merespon 5 4 3 2 1 pergerakan Mengikuti perintah
Melokalisasi nyeri
Menarik diri dr rangsang
Pergerakan normal Menarik diri thd sentuhan Menarik diri dr rangsang nyeri
6 5 4
nyeri Fleksi abnormal ektremitas E ktensi abnormal ektremitas Tidak merespon
Fleksi abnormal ektremitas thd rangsang nyeri
Ektensi abnormal ektremitas thd rangsang nyeri
Tidak merespon
3 2 1
TOTAL SKOR : MATA + VERBAL+ PERGERAKAN = 3 – 15 - SKOR 13 – 15 = KELAINAN NEUROLOGI RINGAN - SKOR 9 – 12 = KELAINAN NEUROLOGI SEDANG - SKOR 3 – 9 = KELAINAN NEUROLOGI BERAT 2. ASESMEN NYERI
- Dokter/ Perawat melakukan asesmen awal tentang nyeri untuk semua pasien yang datang ke poliklinik,UGD,dan pasien rawat inap
- Asesmen nyeri dapat menggunakan NUMERIC RATING SCALE
Indikasi : digunakan untuk pasien dewasa dan anak > 9 tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyerinya Instruksi : pasien akan ditanya tentang intensitas
nyerinya,dilambangkan dengan angka 0 – 10 - 0 = tidak nyeri
- 1-3 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari- hari) - 4-6 = nyeri sedang(gangguan nyata terhadap aktivitas sehari –
hari)
- 7-10 = nyeri berat (tak dapat melakukan aktifitas sehari – hari) - Pada pasien yang tidak dapat mengutarakan intensitas nyerinya dengan
angka,maka menggunakan WONG BAKER FACES PAIN SCALE
- Dokter/ Perawat menanyakan faktor yang memperberat/ meringankan intensitas nyeri pasien
- Anamnesa juga tentang diskripsi nyeri Lokasi nyeri
Kwalitas dan atau pola penjalaran/ penyebaran Onset,durasi dan faktor pemicu
Riwayat penanganan nyeri sebelumnya,dan efektifitasnya Efek nyeri terhadap aktivitas sehari-hari
Obat- obat yang dikonsumsi sebelumnya
- Pasien dengan pengaruh obat anestesi/ sedasi sedang,asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien memberi respon berupa ekpresi tubuh,atau verbal akan nyeri
- Asesmen ulang nyeri : bagi pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam dan menunjukkan rasa nyeri, sebagai berikut
Diasesmen nyeri yang komprehensif setiap melakukan pemeriksaan fisik
Pasien dengan nyeri,satu jam setelah dilakukan tatalaksana nyeri, setiap 4 jam pada pasien yang sadar, pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum tranfer pasien, sebelum pasien pulang dari RS
Untuk pasien dengan nyeri kardiak,dilakukan asesmen setiap 5 menit setelah pemberian obat Nitrat atau obat intra vena
Pada nyeri akut/ kronik,dilakukan asesmen ulang tiap 30 menit- 1 jam setelah pemberian obat anti nyeri
- Tatalaksana nyeri
Berikan analgesik,sesuai anjuran dokter
Perawat secara rutin/ tiap 4 jam mengevaluasi tatalaksana nyeri pada pasien yang sadar
Tatalaksana nyeri diberikan pada [asien dengan intensitas nyeri ≥ 4,dilakukan asesmen tiap 1 jam,setelah tatalaksana nyeri,sampai intensitas ≤ 3
Sebisa mungkin diberi analgesik melalui cara yang tak menimbulkan nyeri
Nilai efektifitas pengobatan Tatalaksana non farmakologi :
o Berikan heat/ cold pack
o Lakukan reposisi,mobilisasi yang dapat ditoleransi pasien o Latihan relaksasi (tarik nafas dalam,bernafas dengan irama
teratur dan meditasi pernafasan yang menenangkan o Distraksi/ pengalihan perhatian
- Edukasi kepada pasien dan keluarga, tentang :
Faktor psikologis yang yang dapat menjadi penyebab nyeri Menenangkan ketakutan pasien
Tatalaksana nyeri
Dianjurkan lapor ke petugas jika timbul rasa nyeri dan sebelum nyeri makin parah
3. ASESMEN RISIKO JATUH
Faktor predisposisi untuk risiko jatuh : INTRINSIK
( berhubungan dengan kondisi pasien) EKTRINSIK (berhubungandengan lingkungan ) Dapat diperkirakan Riwayatjatuh sebelumnya Inkontinensia Gangguankognitif/ psikologis Gangguan keseimbangan Usia > 65 tahun Osteoporosis
Status kessehatan buruk
Lantai basah, pencahayaan kurang, kabel longgar/lepas, ruangan berantakan
Alas kaki tak pas Dudukan toilet rendah Kursi/tempat tidur beroda Rawat inap yang lama Peralatan yg tak aman
Tempat tidur ditinggal dlm posisi tinggi Tidak dapat diperkirakan Kejang Aritmia jantung Stroke/ TIA Pingsan Serangan jatuh/ drop attack
Reaksi individu terhadap obat-obatan
Etiologi jatuh :
Ketidak sengajaan
Gangguan gaya berjalan/ keseimbangan Vertigo
Serangan jatuh/ drop attack Gangguan kognitif
Hipotensi Postural Gangguan visus Tidak diketahui
Asesmen risiko jatuh menggunakan Morse Fall Scale sebagai berikut
Faktor risiko Skala Poin Skor pasien Riwayat jatuh Ya Tidak 25 0 Diagnosa sekunder ( ≥ 2 diagnosis medis) Ya Tidak 15 0
Alat bantu Berpegangan pada alat bantu Tongkat / alat penopang
Tidak ada kursi roda/Perawat/ tirah baring
30 15 0 Terpasang infus Ya Tidak 20 0
Gaya berjalan Terganggu
Lemah
Normal/tirah baring/imobilisasi
20 10 0 Status mantal Sering lupa akan keterbatasan yg dimiliki
Sadar akan diri sendiri
15 0 TOT AL ... Kategori: Risiko tinggi = ≥ 45 Risiko sedang = 25 - 44 Risiko rendah = 0 - 24
- Setiap pasien akan dinilai ulang dan dicatat kategori risiko jatuh dua kali sehari,saat tranfer ke tempat lain dan saat terjadi perubahan kondisi pasien
- Untuk mengubah kategori dari risiko tinggi ke risiko rendah diperlukan skor < 25 dalam satu kali pemeriksaan berturut - turut
- Pencegahan risiko jatuh :
Tindakan pencegahan umum ( semua kategori ) o Lakukan orientasi kamar inap kepada pasien
o Posisi tempat tidur rendah,roda terkunci, ke 2 sisi pegangan tempat tidur terpasang baik
o Ruangan rapi
o Benda pribadi berada dalam jangkauan (HP, tombol panggilan,air minum,kaca mata)
o Pencahayaan yang kuat/sesuai kebutuhan pasien o Alat bantu dalam jangkauan( tongkat, alat penopang ) o Optimalisasi penggunaan kacamata dan alat bantu dengar o Pantau efek obat-obatan
o Sediakan dukungan emosional dan psikologis
o Beri edukasi tentang pencegahan jatuh pada pasien dan keluarga
Kategori risiko tinggi : lakukan tindakan pencegahan umum dan berikut ini,
o Didepan kamar pasien beri tulisan Pencegahan Jatuh o Beri gelang penanda kuning,di pergelangan tangan pasien
o Sandal anti licin
o Tawarkan bantuan ke kamar mandi/ memakai pispot o Kunjungi dan amati pasien tiap 2 jam
o Nilai kebutuhan akan :
Fisioterapi dan terapi okupasi Alarm tempat tidur
Lokasi kamar tidur berdekatan dengan pos Perawat
4. ASESMEN GIZI
Untuk asesmen/ mengkaji gizi pada pasien anak-anak usia 0-5 tahun memakai lingkar kepala.
Untuk asesmen gizi pasien dewasa memakai Form Subjective Global Assesment ( SGA).
Lakukan anamnesa: - Perubahan berat badan
Perubahan berat badan dalam 2 minggu/6 bulan terakhir: □ meningkat □ tidak ada perubahan □ menurun
- Perubahan asupan diit dibandingkan keadaan normal Tidak ada perubahan
Perubahan : durasi ... minggu ... bulan ...
Tipe : □ diit padat suboptimal □ diit cair penuh □ diit cair rendah kalori □ tidak mau makan - Keluhan gastrointestinal (dirasakan terus selama lebih dari 2 minggu)
Tidak ada
Ada : □ mual □ muntah □ diare □ Anorexia - Kapasitas fungsional
Tanpa gangguan
Disfungsi : durasi ...minggu ... bulan
Tipe : □ bekerja suboptimal □ ambulatory □ berbaring saja - Penyakit dan hubungannya dengan kebutuhan zat gizi
Diagnosa utama : ...
Kebutuhan metabolik / stress : □ tidak ada □ sedang □ tinggi Form Subjective Global Assesment
Deskripsi Jawaban
A
B C
1 Perubahan berat badan Bila pasien/keluarga tidak tahu, tanyakan: o Perubahan ukuran a. Tidak ada b. Ada, bertambah/menurun lambat c. Ada,
pakaian
o Apakah “terlihat lebih kurus”
bertambah/menurun cepat
2 Asupan makan dan perubahan dalam dua minggu terakhir
a. Asupan cukup tidak ada perubahan
b. Asupan selalu
rendah/menurun daripada sebelumnya c. Asupan sangat tidak
cukup/sangat
menurun/tdk bisa makan/NGT
3 Gejala gastrointestinal minimal satu gejala: mual/muntah/diare/anoreksia
a. Tidak ada b. Ada, ringan c. Ada, berat
4 Faktor pemberat a. Tidak ada
b. Ada, ringan-sedang (infeksi,DM,PJK,Strok e)
c. Ada, berat (colitis ulseratif, peritonitis, kanker, multiple trauma) 5 Penurunan kapasitas fungsional a. Tidak ada b. Ada, ringan c. Ada, Berat Kategori status gizi :
A. Status Gizi baik B. Beresiko malnutrisi C. Malnutrisi berat Catatan:
1. Kategori status gizi berdasarkan kondisi terberat yang ada. Sebagai contoh bila semua deskripsi dalam kriteria A namun ada satu diskripsi dengan kriteria B,maka digolongkan dalam B.Atau bila semua diskripsi memenuhi kriteria A dan B namun ada satu diskripsi dengan kriteria C, maka digolongkan dalam kriteria C
2. Pasien dengan B dan C dilaporkan ke tim terapi gizi untuk asesmen lanjut
5. ASESMEN FUNGSI
Dilakukan pemeriksaan adakah kelemahan otot-otot anggota gerak pasien, jika ada kelemahannya kita catatan klinis pasien, dan dikonsulkan ke dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (di unit Rehabilitasi Medis), Langkah-langkah pengkajian:
- Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari □ mandiri □ bantuan minimal
□ Bantuan sebagian □ bantuan total
- Aktivitas □ tirah baring □ duduk □ berjalan
- Berjalan □ tidak ada kesulitan □ penurunan kekuatan/ROM
□ Paralisis □ sering jatuh
□ Deformitas □ riwayat patah tulang - Alat ambulasi □ walker □ tongkat
□ kursi roda
- Ektremitas atas □ tak ada kelainan □ lemah
Kemampuan menggengam □ tak ada kesulitan □ terkilir □ lain-lain
Kemampuan koordinasi □ tak ada kesulitan □ ada masalah - Ektremitas bawah □ tak ada kesulitan □ lemah □
deformita □ Paralisis □ terkilir □ kontraktur □Lain-lain 6. ASESMEN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT
- Merupakan asesmen yang mendasar dan penting dalam langkah perawatan pasien
- Perawat memeriksa pasien dari kepala hingga kaki dan membuat asesmen awal
- Asesmen awal merupakan pegangan bagi perawat lain dalam memantau perkembangan pasien, menyorot masalah-masalah yang dimiliki pasien dan merencanakan strategi keperawatan
Pemberian materi materi edukasi kepada pasien dan atau keluarga tentang hal-hal yang harus diperhatikan, yang berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien tersebut, yaitu dengan cara :
Petugas kesehatan memperkenalkan diri, dan menerangkan peran dan tugasnya
Lakukan verifikasi kepada pasien dan atau keluarga terhadap materi edukasi yang telah diberikan
Berikan formulir edukasi untuk ditanda tangani oleh pasien atau keluarga Berikan nomor telepon yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu diperlikan Ucapkan terima kasih dan semoga lekas sembuh
B. RUANG LINGKUP PELAYANAN 1. Medis 2. Keperawatan 3. Penunjang : a. Laboratorium b. Radiologi c. Dietary d. Rehabilitasi Medis e. Farmasi f. Keselamatan pasien C. DOKUMENTASI
Semua asesmen pasien dicatat dalam catatan klinisnya dan direkam dicatatan medik pasien.