GAMBARAN KADAR KLORIN PADA SUMBER AIR BERSIH RSUP. SANGLAH, DENPASAR
1DGD. Dharma Santhi
1Bagian Patologi Klinik PSPD FK UNUD ABSTRAK
Air merupakan salah satu sumber yang paling berharga karena tanpa air tidak satupun bentuk kehidupan yang mungkin berlangsung. Salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan bagi penduduk adalah dengan mengusahakan pemakaian air bersih. Pengolahan air minum untuk mendapatkan air bersih dan sehat sesuai dengan standar mutu air untuk kesehatan, misalnya dengan cara klorinasi yaitu dengan menambahkan kaporit (Ca(OCl)2). Residu klorin (sisa klorin) harus diukur karena residu yang terlalu tinggi dapat membahayakan kesehatan sedangkan bila terlalu rendah tidak efektif sebagai desinfektan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar sisa klorin pada air bersih di RSUP. Sanglah tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah deskriptif Analitik. Sampel yang digunakan adalah air bersih yang beberapa sumber air keran di RSUP. Sanglah. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah metode Iodometri dengan chloroform sebagai indikator titik akhir titrasi.
Dari hasil analisa kadar sisa klorin pada 29 sampel air, 29 sampel air bersih di RSUP Sanglah Denpasar, sebanyak 7 sampel memiliki kadar sisa klorin rendah (<0,2 mg/L), 20 sampel memiliki kadar sisa klorin normal (0,2 mg/L – 0,5 mg/L ), dan 2 sampel memiliki kadar sisa klorin tinggi (tidak memenuhi syarat). Disarankan untuk sampel yang masih memiliki kadar klorin tinggi untuk mengadakan pengawasan internal terhadap kualitas air yang, misalnya pemeriksaan sisa klorin yang dilakukan minimal satu kali sehari untuk memastikan efisiensi proses klorinasi.
Kata kunci: Kadar Klorin, Air Bersih PENDAHULUAN
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang paling berharga karena tanpa air tidak satupun bentuk kehidupan yang mungkin berlangsung (Suryawiria, 1996). Dalam kesulitan bahan pangan dan air, manusia mungkin dapat bertahan hidup tanpa makan selama lebih dari dua bulan, tetapi tanpa minum akan mengakibatkan kematian dalam waktu kurang daru seminggu,demikian juga makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan (Chandra, 1997).
Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus memenuhi persyaratan kesehatan. Air bersih menurut Permenkes No. 416 tahun 1990 adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sedangkan air menurut KepMenKes No. 907 tahun 2002 adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Athena, 2004).
Pengolahan air minum merupakan cara untuk mendapatkan air bersih dan sehat sesuai dengan standar mutu air untuk kesehatan. Cara pembersihan air yang dialirkan melalui pipa-pipa air minum biasanya dengan cara klorinasi, yaitu dengan menambahkan kaporit (CaOCl2). Berbagai jenis senyawa organik yang berada di dalam air yang bereaksi dengan klorin akan dapat menginaktifkan klorin. Karena itu, selama masih banyak terkandung senyawa-senyawa tersebut, klorin yang ditambahkan tidak dapat berdaya sebagai desinfektan terhadap jasad - jasad renik. Hanya setelah kebutuhan klorin telah cukup banyak untuk menghilangkan senyawa-senyawa tersebut di atas, baru penambahan klorin selebihnya dapat berfungsi dalam membunuh dan menghambat pertumbuhan mikroba (Winarno, 1986).
Pemeriksaan terhadap sisa klor pernah dilakukan oleh petugas DinKes Kota Surabaya, petugas mengambil sampel air di 146 pelanggan dari beberapa wilayah di Surabaya, sebanyak 118 pelanggan yang airnya disampling ditemukan sisa klor yang tinggi (Rachmie, 2007). Penelitian Elizabet (2001), tentang pengaruh jarak instalasi pengolahan terhadap kadar sisa klor dalam air minum konsumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang sangat kuat antara jarak instalasi pengolahan air terhadap kadar sisa klor yaitu semakin jauh jarak instalasi pengolahan air maka kadar sisa klor semakin menurun. Berdasarkan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990, tentang batas minimum diperbolehkan penggunaan klorin dalam air renang yaitu sebanyak 0,2 mg/L dan batas maksimum 0,5 mg/L, sedangkan persyaratan batas klorin untuk air minum menurut KepMenKes No. 907/MENKES/SK/VII/2002 yaitu maksimum 5 mg/L (ppm) serta pengelola air minum dengan system perpipaan wajib mengadakan pengawasan internal terhadap kualitas air yang diproduksinya, misalnya pemeriksaan sisa klor yang dilakukan minimal satu kali sehari untuk memastikan efisiensi proses klorinasi sebelum didistribusikan (Pudjianto, 1984).
Klorin banyak digunakan sebagai desinfektan karena klorin sangat efektif membasmi spora dan residu klorin mudah diukur. Residu klor (sisa klor) harus dapat terdeteksi untuk memastikan bahwa klorinasi telah berlangsung dengan baik. Residu klorin pun harus diukur karena residu yang terlalu tinggi dianggap membahayakan kesehatan dan juga menyebabkan korosif pada peralatan besi. Atau penyebab kebocoran pada pengalengan, sedangkan bila terlalu rendah tidak efektif sebagai desinfektan (Slamet, 1994). Zat klorin jika bereaksi dengan senyawa organik akan membentuk suatu senyawa bersifat toksik seperti dioksin. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi sehingga akan menyebabkan gangguan kesehatan seperti kanker (Rini, 2006).
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui gambaran kadar sisa klorin pada air bersih di RSUP. Sanglah tahun 2015.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan observatif yaitu melakukan pengujian kadar sisa klorin dalam air bersih di RSUP. Sanglah tahun 2015 . Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober s/d 3 Desember 2015.
Metode yang digunakan adalah Iodometri. Bilangan peroksida dapat ditentukan dengan metode iodometri dengan prinsip pengukuran sejumlah iod yang dibebaskan dari KI melalui oksidasi oleh peroksida dalam lemah pada suhu ruang dalam reagen campuran. Iod yang terbentuk titrasi dengan larutan standart thiosulfat dan menghasilkan ion iodida. Iodometri adalah penetapan kadar suatu zat yang bersifat oksidator dengan menggunakan larutan standar bersifat reduktor. Metode ini menggunakan kloroform sebagai indikator yang berfungsi untuk memperjelas Titik Akhir Titrasi (TAT).
Interpretasi hasil:
1. Memenuhi syarat, jika sisa klorin yang terdapat dalam sampel 0,2 mg/L – 0,5 mg/L (normal)
2. Tidak memenuhi syarat, jika sisa klorin dalam sampel < 0,2 mg/L (rendah) atau > 0,5 mg/L (tinggi)
ANALISIS DATA
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan juga disajikan secara narasi.
HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan penelitian terhadap kadar sisa klorin pada 29 sampel air bersih di RSUP Sanglah Denpasar, sebanyak 7 sampel memiliki kadar sisa klorin rendah (<0,2 mg/L), 20 sampel memiliki kadar sisa klorin normal (0,2 mg/L – 0,5 mg/L ), dan 2 sampel memiliki kadar sisa klorin tinggi (tidak memenuhi syarat).
No. Kadar Klorin
Rendah (< 0,2 mg/L) Normal (0,2 mg/L – 0,5 mg/L) Tinggi (> 0,5 mg/L) Jumlah 7 20 2 Frekuensi (%) 25 68 7 PEMBAHASAN
Hasil penelitian dari 29 sampel air bersih di RSUP Sanglah Denpasar, sebanyak 7 sampel memiliki kadar sisa klorin rendah (<0,2 mg/L), 20 sampel memiliki kadar sisa klorin normal (0,2 mg/L – 0,5 mg/L ), dan 2 sampel memiliki kadar sisa klorin tinggi (tidak
memenuhi syarat). Pada air bersih, klorin banyak digunakan sebagai desinfektan mengingat klorin sangat efektif membasmi spora dan residu klorin mudah diukur, selain klorinasi air dengan gas korin atau sodium hipoklorit adalah mudah dan murah. Klor yang diberikan ke dalam air dapat dalam bentuk unsur-unsurnya atau bentuk hipoklorit, yang mula-mula terhidrolisa memberikan klor bebas yang terdiri dari molekul klor, asam hipoklorit, dan ion hipoklorit. Klor bebas bereaksi dengan amoniak dan senyawa nitrogen tertentu membentuk kloramin, dikloramin, dan nitrogen klorida (Pudjianto, 1984).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Elizabet (2001), tentang pengaruh jarak instalasi pengolahan terhadap kadar sisa klor dalam air minum konsumen, bahwa semakin jauh jarak instalasi pengolahan air maka kadar sisa klorin semakin menurun. Hal ini disebabkan karena sifat klorin yang sedikit demi sedikit direduksi dan dapat juga disebabkan karena adanya kebocoran pipa pendistribusian (Alaerts dan Santika, 1987). Tinggi rendahnya klorin juga tergantung pada diameter pipa karena semakin kecil diameter pipa maka semakin besar tekanan, dimana hal ini dapat menyebabkan penurunan kadar klorin pada air. Jika dibandingkan dengan Permenkes RI No. 416 tahun 1990 tentang kadar klorin yang diperbolehkan yaitu 0,2 mg/L – 0,5mg/L maka secara umum hasil penelitian ini lebih banyak mendapatkan kadar sisa klorin yang tidak memenuhi syarat daripada yang memenuhi syarat, hal ini berarti proses klorinasi pada air PDAM belum berjalan secara efektif.
Klorin, khlorin atau chlorine merupakan bahan utama yang digunakan dalam proses khlorinasi. Sudah umum pula bahwa khlorinasi adalah proses utama dalam proses penghilangan kuman penyakit air ledeng, air bersih atau air minum yang digunakan oleh masyarakat. Proses khlorinasi sangat efektif untuk menghilangkan kuman penyakit terutama dalam penggunaan air ledeng. Tetapi dibalik kefektifannya klorin juga dapat berbahaya bagi kesehatan. Orang yang meminum air yang mengandung klorin memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker kandung kemih, dubur ataupun usus besar. Sedangkan bagi wanita hamil dapat menyebabkan melahirkan bayi cacat dengan kelainan otak atau urat saraf tulang belakang, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur atau bahkan dapat mengalami keguguran kandungan. Selain itu pada hasil studi efek klorin pada binatang ditemukan pula kemungkinan kerusakan ginjal dan hati.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Hasil penelitian dapat diambil kesimpulan yaitu : Dari 29 sampel, kadar sisa klorin pada air yang memenuhi syarat Permenkes RI No.416 tahun 1990 sebanyak 20 sampel (68%) dan tidak memenuhi syarat sebanyak 2 sampel (7%).
Saran
1. Disarankan untuk melakukan pengawasan internal terhadap kualitas airnya, misalnya pemeriksaan sisa klorin minimal satu kali sehari pada bak penampungan dan konsumen terjauh untuk memastikan efisiensi proses klorinasi.
2. Disarankan kepada pengguna untuk membiarkan air selama 30 menit sebelum digunakan untuk mengendapkan sisa klorin yang dapat membahayakan kesehatan dan memasak air hingga benar-benar mendidih untuk membunuh kuman penyebab penyakit yang lolos dari proses klorinasi karena sisa klorin yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G dan Santika, Sri Sumesti. 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional: Surabaya. Athena, Sunar Haryono. 2004. Buletin Penelitian Kesehatan. Departemen Kesehatan: Palembang.
Chandra, Budiman. 1997. Pengantar Sanitasi Lingkungan. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya: Palembang.
Elizabet. 2001. Pengaruh Jarak Instalasi Pengolahan Air terhadap Kadar Sisa Khlor dalam Air Minum Konsumen pada Jaringan Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bengkulu.(http://www.fkm.undi p.or.id/data/index.php/action diakses 09 Juni 2016). Pudjianto, Edi Wahyu. 1984. Analisa Kualitas Air, Pengendalian dan pemeriksaan sampel Air. PT. Bina Indra Karya: Surabaya.
Rachmie, Esti Martina. 2007. Air PDAM Belum Layak Minum. Surabaya.(http://www.indopos.c o.id/index.php diakses 09 Juni 2016).
Rini, Daru Setyo. 2006. Minimasi Limbah dalam Industri Pulp andpaper.(http://www.terranet. or.id// diakses 04 Juni 2016)
Riyadi, A.S. 1984. Kesehatan Lingkungan. Karya Anda: Surabaya.
Slamet, Juli Soemirat. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada University Press: Bandung. Suryawiria, Unus. 1996. Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. PT. Alumni: Bandung.