Uji efek kombinasi Siprofloksasin dengan ekstrak metanol daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz - USD Repository

44 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UJI EFEK KOMBINASI SIPROFLOKSASIN DENGAN EKSTRAK METANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Alamanda Febriani

NIM : 158114101

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

UJI EFEK KOMBINASI SIPROFLOKSASIN DENGAN EKSTRAK METANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Alamanda Febriani

NIM : 158114101

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini ku persembahkan untuk

Tuhan Yesus Kristus, sumber kasih dan rahmat

Bapak, ibu, kakak, dan segenap keluarga besar

yang selalu memberikan kasih, doa dan masukkan

Teman-teman terkasih yang selalu memberi dukungan

(6)
(7)
(8)

vii

PRAKATA

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan rahmat, pernyertaan serta kasih-Nya sehingga penulis mampu

menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Uji Efek Kombinasi Siprofloksasin dengan Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis”.

Penulis menyadari banyak pihak yang membantu dan medukung dalam penyelesaian skripsi ini, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasi kepada :

1. Ibu Dr. Yustina Sri Hartini M.Si., Apt. Selaku dosen pembimbing yang selalu sabar dalam memberikan arahan, saran, dan evaluasi mulai dari penyususnan proposal hingga terselesainya skripsi ini.

2. Ibu Dr. Erna Tri Wulandari, Apt. dan ibu Damiana Sapta Candrasari, S.Si., M.Sc. selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran kepda penulis.

3. Laboran lantai satu hingga lantai empat, khususnya Pak Wagiran dan Kak Intan yang membantu selama melakukan penelitian.

4. Bapak Mulyono dan Ibu Winarni yang selalu memberikan dukungan doa, semangat serta kasih sayang kepada penulis selama penyususnan skripsi. 5. Kakak penulis Winda Milasari yang selalu mendengarkan cerita penulis dan

memberikan semangat dan doa kepada penulis.

6. Epen, Galang, Pipit, Bryan, Nadia dan Rian yang menjadi teman satu kelompok skripsi yang selalu memberikan dukungan serta semangat dan menjalani suka duka bersama-sama.

7. Teman-teman PosKes Kotabaru yang memberikan dukungan doa dan semangat kepada penulis.

8. Kak Tara, Ce Hanny, Ana yang sudah selalu meluangkan waktu mendengarkan cerita.

9. Ima, Aulia, Yuli, Shella, Melani dan Yulinda yang sudah memberi semangat dan keceriaan selama penulis kuliah di Yogyakarta.

10.Devri, Ambar, Amel dan Dinda yang walaupun jauh di Semarang, tetapi tetap memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan perkuliahan dan skripsi.

11.Teman-teman FSM C dan seluruh angkatan 2015 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan keceriaan, semangat dan kerja sama selama perkuliahan.

(9)

viii

Penulis menyadari bahwa naskah skripsi ini mesih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar skripsi ini menjadi lebih baik. Penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan naskah skripsi. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi banyak pihak.

(10)

ix

ABSTRAK

Latarbelakang : Staphylococcus epidermidis adalah salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Pengobatan infeksi dengan pemberian antibiotik, namun masalah resistensi antibiotik semakin berkembang. Perlu adanya terobosan terbaru, salah satunya melakukan kombinasi dengan tanaman. Berbagai penelitian sebelumnya membuktikan, kombinasi dengan tanaman menunjukan efek sinergis. Ekstrak metanol daun sirih merah juga terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini untuk melihat efek kombinasi ekstrak metanol sirih merah dengan siprofloksasin terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidis.

Metode : Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran, kemudian dilihat profil senyawa yang terdapat pada kombinasi tersebut menggunakan Kromatografi Lapis Tipis dan uji tabung. Data zona hambat yang diperoleh kemudian diuji secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann Whitney.

Hasil : Zona hambat kombinasi lebih sempit dibanding siprofloksasin tunggal. Hasil uji statistik menunjukan ada perbedaan antara zona hambat kombinasi dan zona hambat zat tunggal. Hasil dari skrining fitokimia menunjukan hasil, senyawa antibakteri berupa alkaloid, flavonoid dan tanin terdeteksi dalam larutan kombinasi.

Kesimpulan : Terdapat perbedaan hasil antara kombinasi dan bahan tunggal. Hasil kombinasi tersebut tidak menunjukan efek sinergis.

(11)

x

ABSTRACT

Background: Staphylococcus epidermidis is one of the bacteria that can cause infection. Treatment of infections with antibiotics, but the prevalence of antibiotic resistance is increasing. The latest breakthrough is needed, one of which is to do a combination with plants. Various previous studies have shown, a combination with plants shows a synergistic effect. Methanol extract of red betel leaf is also proven to inhibit bacterial growth. This study was to look at the effect of the combination of red betel methanol extract with ciprofloxacin on the growth of Staphylococcus epidermidis, and see if there are solutions that contain antibacterial compounds.

Method: Antibacterial activity testing using the well method, then the profile of the compounds found in the combination was seen using Thin Layer Chromatography and tube test. The inhibitory zone data obtained were then tested statistically using the Kruskal-Wallis and Mann Whitney tests.

Results: Combination inhibition zones are narrower than single ciprofloxacin. The results of statistical tests show there is a difference between the combination inhibition zone and a single substance inhibition zone. The results of phytochemical screening showed results, antibacterial compounds in the form of alkaloids, flavonoids and tannins found in combination solutions.

Conclusion: There are differences in results between combinations and single materials. The combination results do not show a synergistic effect

(12)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Hasil pengukuran zona hambat (dalam milimeter) aktifitas

antibakteri siprofloksasin dan EMDSM ... 9

Tabel II. Hasil uji Mann Whitney ... 11

Tabel III.Nilai Rf dan warna bercak hasil KLT... 13

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. (a) Kontrol Media, (b) Kontol Pertumbuhan Hasil KLT

(c) penyemprotan FeCl3 ... 8

Gambar 2. Hasil uji sumuran aktifitas antibakteri siprofloksasindan

EMDSM ... 9

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Determinasi Tanaman (Daun Sirih Merah) ... 20

Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus epidermidis ... 21 Lampiran 3. Sertifikat uji statistik dengan SPSS ... 22

Lampiran 4. Hasil perhitungan statistik uji aktivitas antibakteri metode

sumuran... 23

(16)

1

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab kesakitan pada

masyarakat. Menurut data dari Central for Disease Control and Prevention (2015) sebanyak 16,8 juta orang mengunjungi fasilitas kesehatan karena penyakit infeksi.

Pengobatan infeksi bakteri dilakukan dengan pemberian antibiotik. Pemberian

antibiotik pada anak banyak yang tidak tepat sasaran, atau dapat dikatakan

sesungguhnya tidak ada indikasi perlunya penggunaan antibiotik (Farida dkk,

2008).

Setiap tahun 23.000 orang di Amerika meninggal akibat terjadinya

resistensi bakteri (CDC, 2013). Penelitian yang dilakukan Handayani et al (2017) menunjukan bahwa resistensi mikroba cukup menghawatirkan dilihat dari hasil

penelitian dan data rumah sakit yang ada. Hal ini dapat dilihat dari contoh yang

terjadi Laboratorium Pusat Nasional Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo,

selama tahun 2010-2012 banyak antibiotik memiliki tingkat sensitivitas lebih

rendah dari 50%. Resistensi ini dapat terjadi karena penggunaan antibiotik yang

tidak bijak dan penetapan standar yang kurang sesuai di fasilitas kesehatan

(Anonim, 2011).

Staphylococcus epidermidis dapat menyebabkan infeksi pada beberapa tempat seperti infeksi pada blood stream, pneumonia, kulit dan beberapa bagian lain (Mohammed, et. al, 2014). Staphyloccocus epidermidis merupakan mikrobia normal tubuh yang berada di kulit dan mukosa tubuh (Brooks, 2013). Laporan

mengenai resistensi bakteri Staphylococcus epidermidis yaitu 75-90% isolat

Staphylococcus epidermidis mengalami resisten terhadap metisilin, selain itu antibiotik lain yang mengalami resistensi yakni rifampisin, florokuinolon,

gentamisin, serta tetrasiklin (Otto, 2009).

Antibiotik yang dapat digunakan untuk mengatasi Staphylococcus epidermidis tersebut adalah siprofloksasin. Siprofloksasin sendiri merupakan antibiotik golongan quinilon generasi ke dua yang paling sering digunakan dalam

pengobatan. Siprofloksasin cukup mudah mengalami resistensi karena perubahan

stuktur bakteri. Siprofloksasin bekerja membunuh bakteri dengan menghambat

(17)

2

Kejadian resistensi antibiotik yang semakin meningkat ini seharusnya

diiringi dengan perkembangan obat antibiotik terbaru, atau dilakukan alternatif

dengan melakukan kombinasi. Pada beberapa penelitian yang sudah dilakukan,

adanya kombinasi antara antibiotik dengan tanaman dapat menimbulkan efek

sinergis yaitu efek kombinasi lebih tinggi dibanding efek tunggal. Aiyegoro dan

Okoh (2009) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa tanaman bila dikombinasi

dengan antibiotik menunjukan peningkatan aktivitas antibakteri dan efek sinergis.

Kombinasi ampisilin dan ekstrak etanol, petrolium eter Thymbra spicata

menunjukan hasil yang sinergis yang ditandai dengan nilai Fractional Inhibitory Concentration Index <0,5 (0,07 dan 0,27) (Haroun and Al-Kayali, 2016). Pada penelitian Adwan dan Mhanna (2008) menunjukan adanya penurunan MIC

antibiotik setelah dilakukan kombinasi dengan tanaman pada pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus. Tanaman di Indonesia yang sudah terkenal memiliki khasiat sebagai antibakteri adalah sirih merah.

Ekstrak etanol daun sirih merah (EEDSM) menunjukan aktivitas

antibakteri terhadap Staphylococcus sp. Salah satu bakteri tersebut Staphylococcus epidermidis terbentuk zona hambat sebesar 14,95 mm. Pada penelitian yang sama hasil pythocemical test ekstrak etanol daun sirih merah mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, saponin, dan steroid (Kusuma et al, 2016). Penelitian Rinanda et al (2012) menunjukan aktifitas penghambatan pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus dengan ekstrak metanol daun sirih merah pada konsentrasi 300mg/mL diperoleh zona hambat sebesar 9,0 mm. Penelitian tersebut juga

mengidentifikasi kandungan dalam ekstrak metanol, zat yang terkandung dalam

ekstrak metanol daun sirih merah yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid

dan tanin.

Berdasarkan kemiripan zat yang dikandung pada EEDSM dan EMDSM,

dan belum adanya penelitian mengenai ekstrak metanol daun sirih merah terhadap

Staphylococcus epidermidis namun mampu menghambat pertumbuhan

Staphylococcus aureus, maka pada penelitian ini digunakan ekstrak metanol daun sirih merah sebagai salah satu bahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

(18)

3

sirih merah terhadap Staphylococcus epidermidis memiliki efek sinergis sehingga dapat menjadi alternatif mengatasi kasus resistensi, serta melihat apakah didalam

larutan uji mengandung senyawa antibakteri.

METODE PENELITIAN Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan

rancangan eksperimental sederhana atau post only control group design.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penitian ini adalah bakteri uji

Staphylococcus epidermidis dalam bentuk kultur, daun sirih merah yang diperoleh dari daerah Sleman, Yogyakarta, media Nutrien Agar (Merck) dan Nutrien Broth

(Merck) yang didapat dari Laboratorium Mikrobiologi Universitas Sanata Dharma,

pelarut metanol, aquadest, larutan standart Mc Farland 0.5, toluen,

Dimetilsulfoksida (DMSO) 1%, Buffered Pepton Water (Merck), tablet siprofloksasin 500mg, plat Kromatografi Lapis Tipis Silika Gel 60 F 254 (Merck),

etil asetat.

Alat-alat yang digunakan yaitu oven (Hemmert), shaker (Optimal), blender, kertas saring, timbangan analitik (OHAUS), inkubator (Hemmert), rotary evaporator (Buchi), mikropiper (Socorex), nephelometer (PhoenixSpec),

Biological Safety Cabinet class II type A2 (ESCO), autoclave (ALP), vortex, hot plate, yellow tip, corong Buchner, alat-alat gelas (beker, tabung reaksi, cawan petri, labu takar, erlenmeyer, pipet volume (Iwaki Pyrex)), pengayak no. 50, bunsen, rak

tabung, jarum ose, alat destilasi.

Pengumpulan bahan dan determinasi tanaman

Sirih merah yang digunakan sebagai salah satu bahan penelitian diperoleh

dari daerah Sleman, Yogyakarta. Sirih merah kemudian dideterminasi di Fakultas

Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pembuatan simplisia daun sirih merah

Daun sirih merah yang digunakan dipilih daun yang berukuran sedang,

(19)

4

dan bagian dasar berwarna kemerahan. Daun yang telah dikumpulkan kemudian

dilakukan sortasi basah untuk memisahkan dari pengotor (bagian tanaman yang

tidak digunakan). Daun sirih merah kemudian dicuci menggunakan air mengalir

dan diulang sebanyak tiga kali. Daun sirih menudian dipotong melintang kira-kira

2cm. Daun sirih merah yang sudah dipotong kemudian dikerinkan dalam oven

dengan suhu 40oC hingga kering. Daun yang telah kering kemudian diserbuk

dengan bantuan blender, lalu diayak dengan ayakan no. 50 agar ukuran serbuk lebih

seragam dan memperluas permukaan sehingga lebih banyak bagian yang terbasahi.

Serbuk disimpan dalam wadah kering yang terlindung dari sinar matahari langsung

dan diletakkan pada suhu ruang.

Penetapan kadar air simplisia kering daun sirih merah

Pereaksi toluen jenuh air dibuat terlebih dahulu dengan cara mencampur

toluen P dengan sedikit air kemudian dikocok lalu dibiarkan terpisah, bagian air

dapat dibuang. 10 gram simplisia kering daun sirih merah dan 200 ml toluen jenuh

air dimasukkan ke dalam labu. Labu dipanaskan selama 15 menit. Setelah toluen

mendidih, kecepatan penyulingan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga

sebagian besar air tersuling, kemudian kecepatan penyulingan dinaikan hingga 4

tetes tiap detik. Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit, kemudian hasil

penyulingan didinginkan hingga air dan toluen memisah sempurna.

Pembuatan ekstrak metanol daun sirih merah

Tahapan maserasi dilakukan dengan cara merendam 10 g serbuk daun sirih

merah dalam 100 mL metanol selama 24 jam, dilakukan pengadukan dengan

bantuan shaker. Hasil maserasi disaring menggunakan corong buchner dan didapatkan hasil berupa maserat. Serbuk hasil penyaringan direndam kembali

dengan 75mL metanol selama 24 jam. Remaserasi dilakukan sekali lagi dengan

merendam serbuk dalam 25mL metanol selama 24 jam. Setelah itu disaring

menggunakan corong buchner sehingga diperoleh maserat.

Maserat dari hasil pertama dan kedua kemudian diuapkan menggunakan

rotary evaporator pada suhu 65oC untuk menguapkan pelarut. Penguapan

(20)

5

Pembuatan seri konsentrasi ekstrak metanol daun sirih merah

Larutan stok dibuat dengan melarutkan 400mg ekstrak kental ke dalam

DMSO 1% hingga volume 10mL, maka akan diperoleh konsentrasi larutan stok

40mg/mL. Dari larutan stok dilakukan pengenceran hingga didapat seri konsentrasi

20mg/mL, 10mg/mL dan 5mg/mL.

Pembuatan larutan uji antibiotik siprofloksasin

Larutan stok siprofloksasin dibuat dengan menggerus halus tablet

siprofloksasin 500mg kemudian disuspensikan ke dalam aquadest steril hingga

volume 10mL sehingga diperoleh konsentrasi 50mg/mL. Pengenceran dilakukan

kembali, hingga diperoleh konsentrasi akhir siprofloksasin4µg/mL sebagai larutan

uji.

Penyiapan bakteri uji

Kultur bakteri Staphylococcus epidermidis diambil 1-2 ose dimasukkan kedalam Nutrien Broth (NB) steril, kemudian dilakukan inkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Suspensi bakteri yang diperoleh kemudian disetarakan dengan Mc Farland 0,5 menggunakan nephelometer.

Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran

Media NA yang telah disterilkan dan masih dalam bentuk cair

ditambahkan suspensi bakteri sebanyak 1mL kemudian di-vortex, dituangkan ke dalam petri kemudian didiamkan hingga memadat. Setelah padat dengan bantuan

pelubang sumuran dibuat sumuran pada media sebanyak 6 sumuran.

Sumuran-sumuran tersebut akan diisi antibiotik tunggal, ekstrak metanol daun sirih merah

tunggal, kombinasi antibiotik dan ekstrak, serta kontrol negatif yang berisi aquadest

steril, DMSO 1%, dan BPW.

Pada sumuran-sumuran tersebut kemudian diujikan 4µg/mL

siprofloksasintunggal sebanyak 15µL, ekstrak metanol daun sirih merah 10mg/mL

sebanyak 15µL. Kombinasi antibiotik siprofloksasin4µg/mL dan ekstrak metanol

daun sirih merah 5mg/mL, kombinasi antibiotik siprofloksasin4µg/mL dan ekstrak

(21)

6

dan ekstrak metanol daun sirih merah 20mg/mL dengan perbandingan 1:1

(15µL:15µL). Kontrol negatif digunakan aquadest steril, BPW, dan DMSO 1%

dengan volume masing-masing 10µL.

Dilakukan inkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Setelah dilakukan inkubasi dilakukan pengamatan dan pengukuran zona hambat. Pengukuran

diameter diukur secara vertikal dan horizontal yang masing-masing dikurangkan

diameter sumuran kemudian dicari rata-rata.

Uji fitokimia kombinasi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Plat KLT Silika Gel 60 F254disiapkan, dipotong ukuran 7x13cm. Aktivasi

plat yang telah disiapkan dengan meletakkan plat dalam oven bersuhu 50oC selama satu jam. Disiapkan fase gerak dalam chamber berupa etil asetat : toluen (9:1). Plat yang telah diaktivasi kemudian ditotolkan standar dan larutan uji. Standar yang

digunakan adalah standar flavonoid (kuersetin). Larutan uji berupa ciprofloxacin

4µg/mL, ekstrak metanol daun sirih merah 10mg/mL, kombinasi 4µg/mL dan

ekstrak metanol daun sirih merah 5mg/mL, kombinasi 4µg/mL dan ekstrak metanol

daun sirih merah 10mg/mL, serta kombinasi 4µg/mL dan ekstrak metanol daun sirih

merah 20mg/mL.

Plat yang telah ditotol dengan larutan uji kemudian dielusi, jarak elusi dari

totolan sejauh 10cm. Plat lalu disemprot dengan FeCl3 untuk mempertegas bercak.

Letakkan dalam oven sekitar 1-2 menit. Bercak dilihat dibawah sinar UV 254 dan

365.

Uji Tabung

1. Uji Flavonoid

1mL larutan uji ditambahkan serbuk logam Mg 0,1g dan 5 tetes HCl

dilakukan dengan pemanasan, dalam 2-5 menit larutan akan berubah

warna menjadi warna merah (Hartini, 2016, MMI, 1979).

2. Uji Tanin

1mL larutan uji ditambahkan 1mL air, kemudian ditambahkan 2-3 FeCl

III. Warna biru kehitaman menunjukan adanya senyawa tanin (Hartini,

(22)

7 3. Uji Alkaloid

5mL larutan uji ditambhakan HCl10% 2,5mL kemudian dimasukkan

dalam 2 tabung, tabung 1 ditetesi 3 tetes reagen Mayer dan tabung lain

sebagai pembanding. Terbentuknya endapan putih menunjukan adanya

alkaloid (Hartini, 2016, MMI, 1979).

4. Uji Saponin

2mL larutan uji, ditambahkan 2mL air kemudian dikocok selama 5 menit,

akan terbentuk buih setinggi 1-10cm menunjukan adanya saponin (Hartini,

2016, MMI, 1979).

5. Uji Minyak Atsiri

1mL larutan uji dimasukkan dalam cawan porselin, kemudian diuapkan

hingga diperoleh residu. Aroma khas yang tercium menandakan adanya

minyak atsiri (Ciulei, 1984).

Teknik Analisis Data

Data dianalis menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk melihat distribusi normalitas. Uji homogenitas varian menggunakan uji Levene, apabila data terdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji ANOVA One-way.

Bila ditemukan perbedaan, maka dilanjutkan dengan uji Post-Hoc Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Bila data tidak terdistribusi normal atau homogen maka diuji

menggunakan uji Kruskall Wallis, kemudian dilanjutkan uji Mann Whitney.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bahan utama dari penelitian ini adalah daun sirih merah yang diperoleh

dari daerah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pembuktian kebenaran

bahan yang digunakan, dilakukan determinasi. Hasil determinasi membuktikan

bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah Piper crocatum Ruiz & Pav. Daun sirih merah yang telah dikumpulkan dilakukan sortasi basah untuk

memisahkan daun dari pengotor lain, kemudian daun dicuci dengan air mengalir,

(23)

8

metode destilasi toluena. Tujuan dilakukan pengukuran kadar air ini untuk

mengetahui besarnya kadar air yang terkandung dalam serbuk sirih merah. Kadar

air yang baik yang diperbolehkan yaitu kurang dari 10% (Dirjen POM, 1995).

Kadar air sirih merah yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah 4,89% ini sudah

sesuai dengan peraturan yang ada.

Ekstrak metanol daun sirih merah dibuat dengan metode maserasi. Serbuk

sirih merah direndam dengan metanol selama 24 jam. Kemudian hasil rendaman

disaring dan dilakukan remaserasi selama 24 jam. Remaserasi dilakukan sebanyak

2 kali. Hasil filtrasi kemudian diuapkan dengan bantuan rotary evaporator dan dilanjutkan dengan waterbath hingga diperoleh ekstrak kental dengan bobot tetap. Ekstrak kental yang diperoleh pada penelitian ini yaitu sebesar 12, 5453g dari berat

awal serbuk yang dimaserasi 60, 9073g. Rendemen ekstrak dihitung, yaitu sebesar

20,60%. Nilai rendemen ini menggambarkan banyaknya senyawa metabolit yang

tersari dan keefektifan metode ekstaksi (Wijaya, 2018).

Uji aktivitas antibakteri diawali dengan uji difusi sumuran pada media

Nutrien Agar untuk mengetahui apakah siprofloksasin dan ekstrak metanol daun sirih merah mampu menghambat pertumbuhan. Kontrol media dibuat untuk

memastikan media yang digunakan tidak terkontaminasi dan kontrol pertumbuhan

bakteri untuk memastikan bakteri Staphylococcus epidermidis dapat tumbuh baik pada media NA. Kontrol negatif berisi DMSO 1%, aquadest steril, BPW. Kontrol

negatif dibuat untuk memastikan bahwa pelarut-pelarut yang digunakan tersebut

tidak memberikan efek antibakteri pada perlakuan ini.

(a) (b)

(24)

9

Uji aktivitas aktibakteri dengan metode difusi sumuran menunjukan zona

hambat yang berupa daerah jernih disekitar sumuran. Uji aktivitas ini dilakukan

replikasi sebanyak tiga kali. Zona hambat yang terbentuk diukur menggunakan

penggaris, baik secara vertikal maupun horizontal.

Gambar 2. Hasil uji sumuran aktifitas antibakteri siprofloksasindan EMDSM Keterangan : A = Siprofloksasin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C =

Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL, D = Siprofloksasin 4µg/mL dan

EMDSM 10mg/mL, E = Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, F = kontrol

negatif.

Hasil pengukuran zona hambat uji aktivitas antibakteri kombinasi

siprofloksasin dan ekstrak metanol daun sirih merah disajikan dalam Tabel I.

Tabel I. Hasil pengukuran zona hambat (dalam milimeter) aktifitas antibakteri siprofloksasin dan EMDSM

Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL, D = Siprofloksasin 4µg/mL dan

EMDSM 10mg/mL, E = Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, F = kontrol

(25)

10

Menurut penelitian Nopiyanti et al (2016) aktivitas antibakteri berdasarkan zona hambatnya digolongkan menjadi sangat kuat (>20mm), kuat

(10-20mm), sedang (5-10mm), dan lemah (<5mm). Berdasarkan hal tersebut zona

hambat yang terbentuk termasuk kategori sedang. Hasil tersebut juga menunjukan

bahwa siprofloksasinmemiliki daya antibakteri paling poten dibanding dengan

larutan uji lain. Kontrol negatif tidak menunjukan adanya zona hambat berarti

membuktikan bahwa pelarut DMSO 1% yang digunakan untuk mengencerkan

ekstrak dan aquadest steril untuk mengencerkan siprofloksasin tidak memberikan

aktivitas antibakteri. Hasil dalam kombinasi memiliki zona hambat yang lebih kecil

jika dibanding siprofloksasin tunggal. Hal ini berarti kombinasi yang dilakukan

tidak meningkatkan aktivitas antibakteri pada siprofloksasin.

Efek sinergis didefinisikan sebagai interaksi positif yang terbentuk dari

dua agen yang dikombinasi dan menghasilkan efek penghambatan lebih baik

dibanding agen tunggal (Sharma and Kaur, 2014). Efek sinergis tidak terjadi

mungkin karena adanya kesamaan target aksi antara siprofloksasin dan flavonoid

sebagai salah satu komponen yang diduga memiliki aktivitas antibakteri.

Siprofloksasin memiliki target aksi pada topoisomerase II (Fabrega et al, 2009). Menurut Chung et al (2011), kombinasi akan berefek sinergis bila memiliki tempat aksi yang berbeda. Basri et al (2014) juga menyebutkan bahwa kombinasi antimikroba akan berefek sinergis bila bekerja pada lokasi yang berbeda. Penelitian

yang dilakukan Jayaraman et al (2010) pada bakteri Pseudomonas aeruginosa

menyebutkan siprofloksasin bila dikombinasi dengan beberapa senyawa tanaman

seperti kuersetin dan myricetin dapat menimbulkan efek indifferent yaitu apabila efek kombinasi sama dengan efek tunggal.

Data hasil uji sumuran dilakukan uji homogenitas dengan uji levene

menunjukan hasil yang tidak homogen karena p-value 0,008 (<0,05). Setelah itu

dilakukan uji normalitas dengan Saphiro Wilk menunjukan hanya data pada larutan uji siprofloksasin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL adalah data normal karena

(26)

11

perbedaan karena p-value diperoleh 0,008 (<0,05). Untuk melihat kebermaknaan

dilanjutkan uji Mann Whitney.

Tabel II. Hasil Uji Mann Whitney

Perlakuan p-value Makna

Larutan A Larutan B 0,043 Berbeda bermakna

Larutan C 0,105 Tidak berbeda bermakna

Larutan D 0,043 Berbeda bermakna

Larutan E 0,043 Berbeda bermakna

Larutan F 0,034 Berbeda bermakna

Larutan B Larutan C 0,046 Berbeda bermakna

Larutan D 0,197 Tidak berbeda bermakna

Larutan E 0,197 Tidak berbeda bermakna

Larutan F 0,034 Berbeda bermakna

Larutan C Larutan D 0,046 Berbeda bermakna

Larutan E 0,046 Berbeda bermakna

Larutan F 0,037 Berbeda bermakna

Larutan D Larutan E 0,796 Tidak berbeda bermakna

Larutan F 0,034 Berbeda bermakna

Larutan E Larutan F 0,034 Berbeda bermakna

Keterangan : A = Ciprofloxacin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL, D = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, E = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, F = kontrol negatif.

Hasil pada uji statistik pada larutan A yang berisi siprofloksasintunggal

dibanding larutan C yang berisi kombinasi siprofloksasin dan EMDSM 80mg/mL

menunjukan tidak berbeda bermakna. Hal ini berarti kombinasi tersebut memiliki

kemampuan yang sama dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan

siprofloksasintunggal. Sama dengan yang terjadi pada larutan B dibanding larutan

D, larutan B dibanding dengan larutan E dan larutan D dibanding larutan E. Efek

antibakteri yang dihasilkan dianggap memiliki kemampuan yang sama dalam

menghambat pertumbuhan bakteri. Pada perbandingan lain, hasil berbeda

bermakna berarti kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri yang dihasilkan

(27)

12

Zat dalam sirih merah yang diduga memiliki aktivitas antibakteri adalah

flavonoid, alkaloid, minyak atsiri dan tanin (Herryawan and Sabirin, 2018). Target

flavonoid dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat DNA

topoisomerase II (Shuchi et al, 2016). Alkaloid memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengganggu pembentukan peptidoglikan sel bakteri,

sehingga dinding sel bakteri tidak terbentuk sempurna (Herryawan and Sabirin,

2018). Minyak atsiri sendiri memiliki mekanisme menghambat pembentukan

membran plasma atau dinding sel bakteri, sehingga pembentukannya tidak

sempurna (Herryawan and Sabirin, 2018). Mekanisme tanin yaitu penghambatan

enzim ekstraseluler, menghambat metabolisme dengan penghambatan dari

oxidative phosphorylation (Scalbert, 1991).

Pengujian dilanjutkan dengan uji KLT dan uji tabung untuk melihat

apakah senyawa yang diduga sebagai antibakteri terdeteksi dalam larutan uji.

Siprofloksasin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, F = Siprofloksasin 4µg/mL dan

EMDSM 20mg/mL, Fase diam = Silika Gel 60 F254, Fase Gerak = etil asetat : toluen

(28)

13

Tabel III. Nilai Rf dan warna bercak hasil KLT

Sampel No Deteksi UV 254 Deteksi UV 365 Penyemprotan FeCl3

Rf (cm) Warna Rf (cm) Warna Rf (cm) Warna

Keterangan : A = standar flavonoid (kuersetin), B= Siprofloksasin4µg/mL, C = EMDSM 10mg/mL, D = Siprofloksasin 4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, E = Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, F = Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL

Hasil KLT pada pengamatan dibawah UV 254 dan 365 menunjukan

flavonoid (kuersetin) tidak tampak pada kombinasi, maupun EMDSM tunggal

karena perbedaan warna bercak yang dihasilkan dan Rf yang tidak identik. Warna

pada standar menunjukan warna coklat dan pada perlakuan menunjukan warna

hijau kekuningan. Warna hasil KLT pada deteksi dibawah sinar UV 254

(29)

14

kemerahan yang menunjukan adanya klorofil (Wagner et al, 1983). Warna ungu yang ditunjukkan dibawah sinar UV 365 menunjukan adanya flavonoid

(Dwiatmaka, 2010). Pada penelitian Susanti dkk (2017) menunjukan identifikasi

senyawa fenol menunjukan hasil positif berwana kehitaman setelah dilakukan

penyemprotan dengan FeCl3, karena bersifat oksidator. Tabel III. Hasil uji tabung

A B C D E

EMDSM 10mg/mL, E = Siprofloksasin4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

Hasil pada uji tabung menunjukan terdeteksinya alkaloid, flavonoid, tanin

dan minyak atsiri. Hasil uji tabung flavonoid sedikit berbeda dengan KLT, ini

mungkin terjadi karena standar flavonoid yang digunakan berbeda dengan senyawa

yang terdapat dalam EMDSM. Kadar senyawa yang kecil juga mungkin

meyebabkan tidak terdeteksinya senyawa yang dimaksud.

Dalam kombinasi terdeteksi zat lain yang memiliki aktivitas lain sebagai

antibakteri dengan mekanisme yang berlainan dengan siprofloksasin, tetapi hasil

tetap tidak sinergis. Hal ini mungkin terjadi karena kadar zat tersebut kecil,

sehingga efek antibakteri yang dihasilkan juga kecil. Tanaman juga memiliki

senyawa aktif yang kompleks, sehingga sulit menilai kontribusi masing-masing

(30)

15

KESIMPULAN DAN SARAN

Diameter zona hambat siprofloksasin tunggal 10,17±0,29mm; EMDSM

tunggal 7,17±0,29; kombinasi siprofloksasin 4µ g/mL dan EMDSM 20 mg/mL,

10mg/mL, 5mg/mL berturut-turut adalah 8,83±1,04mm; 6,83±0,29mm;

6,67±0,58mm. Hasil kombinasi siprofloksasin dengan EMDSM lebih lemah

dibanding bahan tunggalnya. Hasil uji fitokimia didapatkan bahwa dalam

kombinasi tersebut masih terdeteksi senyawa yang diduga memiliki aktivitas

antibakteri yaitu alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri.

Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu dilakukan perbandingan

volume pada kombinasi dan penambahan seri konsentrasi antibiotik maupun

(31)

16

DAFTAR PUSTAKA

Adwan, G., and Mhanma M., 2008, Synergistic Effect of Plant Extracts and

Antibiotics on Staphylococcus aureus Strains Isolated from Clinical Specimens. Middle-East Journal of Scientific Reasearch., 3(3), 134-139. Aiyegoro, O.A., Okoh, A.I., 2009. Use of bioactive plant products in combination

with standard antibiotics: Implications in antimicrobial chemotherapy. Journal of Medicinal Plants Research., 3(13), 1147-1152.

Anonim, 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2.

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2010. Acuan Sediaan Herbal. Volume 5, Edisi 1, Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan, 6-8.

Basri, D.F., Xian, L. W., Abdul Shukor, N.I., and Latip, J., 2014, Bacteriostatic

Antimicrobial Combination: Antagonistic Interaction Between

Epsilon-Viniferin and Vancomycin Against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus. BioMed Research Internasional., 2014.

Brooks, G.F., Carroll, K.C., Butel, J., Morse, S.A., and Mietzner, T., 2013. Medical Microbiology. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology.

Centers for Disease Control and Prevention, 2013. Antibiotic Resistance Threats in

the United States. United State. CDC (online),

http://www.cdc.gov/drugresistance/threat-report-2013 accessed 3 April 2018.

Central for Disease Control and Prevention, 2015. Infectious Disease, United State.

CDC (online), https://www.cdc.gov/nchs/fastats/infectious-disease.htm, diunduh 22 Juni 2018

Chung, P.Y, Navaratnam, P., Chung, L.Y., 2011. Synergistic antimicrobial activity

between pentacyclic triterpenoids and antibiotics against Staphylococcus aureus strain. Annals of Clinical Microbiology and Antimicrobials., 10(25), 1-4.

(32)

17

Departemen Kesehatan RI, 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan 1, Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 9-12.

Departemen Kesehatan RI, 2014. Farmakope Indonesi edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 42.

Direktorat Jendral Bina Kefarmasian Kefarmasian dan Alat Kesehatan RI, 2011. Farmakope Herbal. Suplemen II. Edisi I, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 110-111.

Dwiatmaka, Y., 2010. Identifikasi Flavonoid Herba Pegagan (Hydrocotyle sibthotpioides Lmk.) Hasil Isolasi Secara KLTP serta Uji Kemurniannya Dengan HPLC. SIGMA., 13(2), 167-177.

Fabrega, A., Madurga, S., Girait, E., and Vila, J., 2009. Mechanism of Action of

and Resistance to Quinolones., Microbial Biotechnology, 2(1), 40-61.

Farida, H., Herawati, Hapsari, MM., Notoatmodjo, H., Hardian, 2008. Penggunaan

Antibiotik Secara Bijak Untuk Mengurangi resistensi Antibiotik, Studi

Intervensi di Bagian Kesehatan Anak RS Dr. Kariadi. Sari Pediatri., 10(1), 34-41.

Handayani, R.S., Siahaan, S., Herman, M.J., 2017. Antimicrobial Resistance and

Its Contro Policy Implementation in Hospital in Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Masyarakat, 4(2), 131-140.

Haroun, M.F., and Al-Kayali, R.S., 2016,Synergistic effect of Thymbra spicata L. Extracts with antibiotics against multidrug-resistant Staphylococcus aureus

and Klebsiella pneumoniae strains. Iranian Journal of Basic Medical Sciences.,

19(11), 1193-1200.

Hartini, Y.S., Wahyuono, S., Widyarini, S., dan Yuswanto, A., 2013, Uji Aktivitas

Fagositosis Makrofag Fraksi-Fraksi dari Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah

(Piper crocatum Ruiz & Pav.) Secara In Vitro. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia., 11(2), 108-115.

Herryawan and Sabirin, I.P.R., 2018. The Effectiveness of Red Betel leaf (Piper

(33)

18

Hitchings, A., Lonsdale, D., Burrage, D., Baker, E., 2015. The Top 100 Drugs Clinical Pharmacology and Practical Prescribing. China, Elsevier, 194-195. Jayaraman, P., Sakharkar, M.K., Lim, C.S., Tang, T.H., and Sakharkar, K.R., 2010,

Activity and Interaction of Antibiotic and Phytochemical Combination Against

Pseudomonas aeruginosa in vitro, International Journal of Biological Sciences., 6(6), 556-569.

Kursia, S., Lebang, J.S., Taebe, B., Burhan, A., Rahim, W.O.R., dan Nursamsiar,

2016. Ujiaktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. IJPST., 3(2),72-77.

Kusuma, S.A.F., Zuhrotun, A., Meidina, FB., 2016. Antibacterial Spectrum of

Ethanol Extract of Indonesian Red Piper Betel Leaf (Piper crocatum Ruiz & Pav) Against Staphylococcus species. International Journal of Pharma Sciences and Research, 7(11), 448-452.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 1979. Materia Medika Indonesia. Jilid III,

Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 167-171.

Mohammed, M., Mohammed, A.H., Mirza, M.A.B., Ghori, A., 2014. Nosocomial

Infection : An Overview. Internasional Researc Journal Of Pharmacy., 5(1), 7-12.

Nopiyanti, H.T., Agustriani, F., Isnaini., Melki., 2016, Screening of Nypa Fructions

as Antibacterial of Bacillus subtilis, E. Coli, and S. aureus, Journal Maspori.,

8(2), 83-90.

Otto, M., 2009, Staphylococcus epidermidis The Accidental Pathogen, Nat. Rev. Microbio.l, 7(8), 555-567.

Rinanda, T., Zulfitri, Alga, D.M., 2012. Antibacterial Activity of Red Betel (Piper

crocatum) Leaf Methanolic Extracts Aginst Methicillin Resistent

Staphylococcus aureus. In : Proceedings of The 2nd Annual Internasional Conference Syiah Kuala University 2012 & The 8th IMT-GT Biosciences Conference, Banda Aceh 2012. 270-275.

(34)

19

Sharma, V., and Kaur, K., 2014. Identification and Characterization of

Medicicanally Important Plants of Kangra valey with Synergistic Effects of

Traditional Antibiotics Against Microbial Infection., The Journal of Phytopharmacology, 3(2), 102-112.

Shuchi, A., Bhone, M.K., and Chu, S.L., 2016. Combination

Antibiotic-Phytochemical Effect on Resistance Adaptation in Staphylococcus aureus.,

African Journal of Microbiology Research, 10(46), 1973-1982.

Skorek, M., Jurczyk, K., Sajewicz, M., and Kowalska, T., 2016. Tin -Layer

Chromatograpic Identification of Flavonoids and Phenolic Acids Contained in

Cosmetic Raw Materials. Journal of Liquid Chromatography & Related Technologies., 39(5-6), 286-291.

Susanti, N.M.P., Dewi, L.P.M.K., Manurung, H.S., dan Wirasuta, I.M.A.G., 2017.

Identifikasi Senyawa Golongan Fenol Dari Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle Linn.) dengan Metode KLT-Spektrofotodensitometri. Jurnal Metafora Journal of Biological Sciences., IV(1), 108-113.

Wagner, H., Bladt, S., and Zgainski, E.M., 1983. Plant Drug Analysis, A Thin Layer Chromatography Atlas. 2nd edition. Berlin : Springer Verlag, 90.

Wijaya, H., Novitasari, dan Jubaidah S., 2018. Perbandingan Metode Ekstrasi

Terhadap Rendemen Ekstrak Daun Rambai Laut (Sonneratia caseolaris L. Engl), Jurnal Ilmiah Manuntung., 4(1) 79-83.

Williamson, E., Samuel, D., Karen, B., 2009. Stockley’s Herbal Medicine

(35)

20

LAMPIRAN

(36)

21

(37)

22

(38)

23

Lampiran 4. Hasil perhitungan statistik uji aktivitas antibakteri metode sumuran Uji Levene

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

b. Larutan F is constant. It has been omitted.

(39)

24

Asymp. Sig. (2-tailed) ,043

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,105

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,200b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,043

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,043

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,034

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,046

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

(40)

25

b. Not corrected for ties. b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,197

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,400b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,197

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,400b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,034

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,046

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,046

Test Statisticsa

(41)

26

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,796

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 1,000b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,034

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

b. Not corrected for ties.

Test Statisticsa

Asymp. Sig. (2-tailed) ,034

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,100b

a. Grouping Variable: Larutan Uji

(42)

27

Lampiran 5. Hasil Uji Tabung 1. Uji Flavonoid

A = Ciprofloxacin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C = Ciprofloxacin

4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, D = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, E = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

2. Uji Alkaloid

A = Ciprofloxacin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C = Ciprofloxacin

4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, D = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, E = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

3. Uji Tanin

A = Ciprofloxacin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C = Ciprofloxacin

4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, D = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, E = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

(43)

28 4. Uji Saponin

A = Ciprofloxacin 4µg/mL, B = EMDSM 10mg/mL, C = Ciprofloxacin

4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, D = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, E = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

5. Uji Minyak Atsiri

A = EMDSM 10mg/mL, B = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 5mg/mL, C = Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 10mg/mL, D =

Ciprofloxacin 4µg/mL dan EMDSM 20mg/mL.

A B

C D

E

A B

(44)

29

BIOGRAFI PENULIS

Penulis bernama lengkap Alamanda Febriani, lahir di

Semarang, 14 Februari 1997. Penulis yang akrab dipanggil

Manda merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan

Mulyono dan Winarni. Penulis menempuh pendidikan di TK

Pelita Hati (2001-2003), SD Kristen Gergaji (2003-2009), SMP

Negeri 7 Semarsang (2009-2012), SMK Farmasi Theresiana

Semarang (2012-2015), dan pada tahun 2015 melanjutkan

pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Selama berkuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma penulis

aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan diantaranya panitia pelepasan wisuda

divisi acara (2016 dan 2017), panitia malam kearaban JMKI divisi dana dan usaha

(2017), panitia OsteoDay divisi dana dan usaha (2017), menjadi peserta dalam

perlombaan Patient Counseling Competition-Pharmacy Festival yang diadakan

Universitas Indonesia tahun 2017, peserta Patient Counseling Event-Pharmacy on

Innovation yang diadakan Institut Teknologi Bandung tahun 2017. Penulis juga

mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa yang berhasil didanai oleh Kementrian

RISTEKDIKTI tahun 2018. Penulis juga menjadi asisten dosen pada praktikum

Figur

Tabel I.  Hasil pengukuran zona hambat (dalam milimeter) aktifitas
Tabel I Hasil pengukuran zona hambat dalam milimeter aktifitas . View in document p.13
Gambar 3.  Hasil KLT (a) Deteksi UV 254, (b) Deteksi UV 365 ..............
Gambar 3 Hasil KLT a Deteksi UV 254 b Deteksi UV 365 . View in document p.14
Gambar 1. (a) Kontrol Media, (b) Kontol Pertumbuhan
Gambar 1 a Kontrol Media b Kontol Pertumbuhan . View in document p.23
Gambar 2. Hasil uji sumuran aktifitas antibakteri siprofloksasin dan EMDSM
Gambar 2 Hasil uji sumuran aktifitas antibakteri siprofloksasin dan EMDSM . View in document p.24
Tabel II. Hasil Uji Mann Whitney
Tabel II Hasil Uji Mann Whitney . View in document p.26
Gambar 3. Hasil KLT (a) detektor UV 254, (b) detektor UV 365,
Gambar 3 Hasil KLT a detektor UV 254 b detektor UV 365 . View in document p.27
Tabel III. Nilai Rf dan warna bercak hasil KLT
Tabel III Nilai Rf dan warna bercak hasil KLT . View in document p.28
Tabel III. Hasil uji tabung
Tabel III Hasil uji tabung . View in document p.29

Referensi

Memperbarui...