Risk Factors of Gonorrhoea Among
Female Indirect Sex Workers
Anita Nugrahaeni1), Muchlis AU Sofro2), Zahroh Shaluhiyah3) Antono Suryosaputro3) Bagoes Widjanarko3)
1)Masters Program in Epidemiology, Diponegoro University
2)Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine, Diponegoro University 3)Department of Health Promotion, Faculty of Public Health, Diponegoro University
ABSTRACT
Background: Gonorrhoea is one of sexually transmitted infections (STI) with high incidence, besides chlamydia, syphilis, and trichomoniasis. STIs are spread predominantly by sexual context including vaginal, anal, and oral. STIs have a profound impact on sexual and reproductive health worldwide. STIs can increase the risk of HIV acquisition three fold or more. This study aimed to determine the risk factors of gonorrhoea among female indirect sex workers.
Subjects and Method: This was a case control study carried out in Wonosobo district, Central Java, from April to May 2017. A sample of 84 female indirect sex workers were selected for this study consisting of 42 cases of gonorrhea and 42 control. The dependent variable was gonorrhoea. The independent variables were sex combination and condom use. Data on gonorrhoea was collected from STI clinic. The other data were collected by questionnaire. The data were analyzed using logistic regression.
Results: The risk of gonorrhoea among female indirect sex workers increased with sex combination practice (OR=3.17; p=0.027; 95% CI= 1.14 to 8.82) and absence of condom use (OR= 8.04; 95% CI= 2.30 to 28.12; p=0.001).
Conclusion: The risk of gonorrhoea among female indirect sex workers increases with sex combination practice and absence of condom use.
Keywords : gonorrhoea, sex combination, condom use, female, indirect sex workers
Correspondence:
Anita Nugrahaeni. Masters Program in Epidemiology, Diponegoro University, Jl. Imam Bardjo SH No. 5, Semarang, Central Java. Email: [email protected].
Mobile: 081335980666.
LATAR BELAKANG
Gonore adalah salah satu jenis IMS yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonor-rhoeae. Manifestasi klinis dari penyakit ini adalah servisitis, uretritis, proktitis, dan konjungtivitis. Infeksi gonore pada wanita menyebabkan permasalahan khusus karena menimbulkan gangguan perkembangan re-produksi seperti penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, jaringan parut tuba dan bayi yang dilahirkan dari ibu yang men-derita gonore dapat menyebabkan infeksi mata hingga kebutaan (Daili, 2015; Mayor et al., 2012).
Fenomena peningkatan dan penye-baran kasus IMS termasuk gonore yang terjadi pada kelompok risiko tinggi demi-kian cepat. Wanita Pekerja Seksual Tidak Langsung (WPSTL) merupakan kelompok risiko tinggi terkena IMS. WPSTL adalah WPS yang mendapatkan klien dari jalan atau ketika bekerja di tempat-tempat hibur-an seperti klab malam, phibur-anti pijat, diskotik, cafe, tempat karaoke atau bar dan menjual seks sebagai penghasilan tambahan (Widodo, 2009). Kelompok ini melakukan aktivitas seksual dengan pasangan yang tidak tetap dan dengan tingkat mobilitas
yang sangat tinggi. Selain itu, kelompok ini berisiko tinggi menularkan IMS kepada masyarakat melalui kliennya (Thuong et al., 2008).
Lebih dari 150 juta kasus gonore di dunia ditemukan setiap tahunnya. Insiden gonore lebih tinggi di negara berkembang daripada negara maju. Peningkatan kasus gonore setiap tahun berkisar 3.9% yaitu dari 421.9 per 100,000 penduduk menjadi 438.2 per 100,000 penduduk (Centers for Disease Control and Prevention, 2010). Prevalensi gonore di negara berkembang dilaporkan tinggi pada WPS dengan sosial ekonomi rendah. Prevalensi gonore di Asia pada WPS bervariasi tiap negara, berkisar antara 11-38% dan prevalensi tertinggi terjadi di China dan yang kedua adalah di Indonesia (Blanchard & Moses, 2008).
Data prevalensi gonore di Indonesia yang diambil dari beberapa RS bervariasi, di RSU Mataram dilaporkan 52.8% dari seluruh kasus IMS, di RS dr Pringadi Medan 16% dari seluruh kasus IMS, di RS Dr. Soetomo 25.22% dari seluruh kasus IMS, di RS Kariadi Semarang sebesar 17.56% dari seluruh seluruh kasus IMS (Hakim, 2011).
Hasil Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015 diketahui bahwa prevalensi gonore pada populasi kunci berturut-turut adalah sebesar 21.12% pada WPSL, 12.71% pada LSL, 12.12% pada waria dan 9.67% pada WPSTL (Kemen-terian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Tahun 2014 di Jawa Tengah tercatat 28,472 kasus positif IMS, 14,295 kasus IMS ditemukan pada kelompok WPS. Tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 30.650 kasus positif IMS, 13.053 kasus ditemukan pada kelompok WPS. Kasus gonore yang ditemukan sebesar 7.8% meru-pakan urutan kelima setelah bakterial vagi-nosis sebesar 32.33%, servisitis sebesar
25.80%, kandidiasis vaginalis sebesar 19.15% dan uretiris non gonore sebesar 9.40% (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2015).
Jumlah kasus IMS yang ditemukan dan diobati di Kabupaten Wonosobo pada pada tahun 2014 sebesar 1682 kasus, tahun 2015 sebesar 1261 kasus dan tahun 2016 sebesar 844 kasus, gonore menduduki peringkat ketiga yaitu sebesar 19,3%. Distribusi gonore pada berbagai kelompok risiko terbesar adalah pada kelompok WPS yaitu sebesar 29.4%, sisanya ditemukan pada pasangan risiko tinggi sebesar 19.1%, pelanggan pekerja seks sebesar 14.1 %, LSL sebesar 9.8%, waria sebesar 6.1%, pria penjaja seks sebesar 0.6% dan masyarakat umum sebesar 20.8%. Kabupaten Wono-sobo tidak mempunyai lokalisasi. WPS yang ada di Kabupaten Wonosobo masuk ke dalam kategori WPSTL yang sebagian besar bekerja sebagai pemandu lagu di kafe atau karaoke (Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, 2016).
Gonore diketahui mempermudah penularan HIV yang dapat berkembang menjadi AIDS dengan tingkat kematian yang tinggi. Kejadian gonore dipengaruhi oleh perilaku seks. Tingginya angka gonore pada WPSTL dipengaruhi oleh rendahnya konsistensi penggunaan kondom (Budiman et al., 2015; Budiono, 2012).Faktor- faktor lain yang juga mempengaruhi kejadian gonore adalah bentuk aktivitas seks yang dilakukan WPS meliputi aktivitas seks vaginal, seks anal, seks oral maupun seks kombinasi. Aktivitas vaginal seks, oral seks dan anal seks berhubungan dengan kejadi-an IMS seperti gonore. (Zhao et al., 2015). Jumlah partner seks berhubungan dengan kejadian gonore (Alexander et al., 2014). Berdasarkan penjelasan dan uraian ter-sebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai faktor karakteristik dan aktivitas seks yang terkait dengan kejadian
gonore pada WPSTL di Kabupaten Wono-sobo yang bertujuan membuktikan faktor yang berisiko terhadap kejadian gonore pada WPSTL.
SUBJEK DAN METODE 1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu analitik obervasional, dengan pendekatan case control. Pengambilan data dilakukan di Klinik IMS puskemas wonosobo I, pus-kesmas selomerto I dan puskemas leksono I pada April-Mei 2017.
2. Populasi dan Teknik Sampling Populasi studi dalam penelitian ini adalah WPSTL yang berprofesi sebagai pemandu lagu karaoke di Kabupaten Wonosobo yang telah menjalani pemeriksaan IMS oleh klinik IMS. Kriteria inklusi sampel adalah WPSTL yang berprofesi sebagai pemandu karaoke dibawah binaan LSM Wonosobo Youth Center minimal 1 bulan dan telah menjalani pemeriksaan IMS oleh klinik IMS berdasarkan hasil pemeriksaan labora-torium. Kasus adalah pemandu karaoke yang hasil pemeriksaan IMS berdasarkan pendekatan laboratorium positif gonore sedangkan kontrol dinyatakan negatif gonore maupun IMS jenis lain. Teknik pengambilan sampel secara non probabi-lity sampling dengan consecutive sampling yang diambil berdasarkan urutan data sekunder terbaru dari register klinik IMS sebagai data awal hingga jumlah sampel terpenuhi.
3. Variabel Penelitian
Variabel independen yang diteliti adalah karakteristik dan aktivitas seks. Karakte-ristik meliputi usia, tingkat pendidikan, status perkawinan dan lama kerja menjadi WPS. Aktivitas seks meliputi riwayat akti-vitas seks vaginal, riwayat aktiakti-vitas seks anal, riwayat aktivitas seks oral, riwayat aktivitas seks kombinasi, jumlah mitra
seks, frekuensi hubungan seks dan konsis-tensi penggunaan kondom.
4. Definisi Operasional Variabel Usia didefinisikan sebagai umur subjek penelitian yang dihitung dari tanggal lahir sampai dengan tanggal dilakukan wawan-cara diukur dalam satuan tahun.
Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang ditempuh subjek penelitian. Status perkawinan didefinisikan sebagai status perkawinan sah yang disan-dang subjek penelitian. Lama kerja menjadi WPS adalah waktu subjek penelitian dari awal menjadi WPS samapi waktu peme-riksaan IMS diukur dalam satuan bulan.
Riwayat aktivitas seks vaginal didefi-nisikan sebagai riwayat subjek penelitian melakukan hubungan seks dengan pelang-gan dalam sebulan terakhir denpelang-gan cara penetrasi penis mitra seks ke dalam liang vagina subjek penelitian. Riwayat aktivitas seks anal didefinisikan sebagai riwayat sub-jek penelitian melakukan hubungan seks dengan pelanggan dalam sebulan terakhir dengan cara penetrasi penis mitra seks ke dalam dubur subjek penelitian.
Riwayat aktivitas seks oral didefi-nisikan sebagai riwayat subjek penelitian dalam 1 bulan terakhir pernah diberi rang-sangan seks oral pada vagina terutama daerah clitoris oleh pelanggan dengan menggunakan bibir atau lidah.
Riwayat aktivitas seks kombinasi didefinisikan sebagai riwayat subjek pene-litian melakukan hubungan seks dengan pelanggan dalam sebulan terakhir dengan cara kombinasi vaginal-oral, oral-anal, vaginal-anal, anal-vaginal-oral.
Jumlah mitra seks adalah jumlah pelanggan subjek penelitian dalam 1 minggu terakhir. Frekuensi hubungan seks didefinisikan sebagai jumlah hubungan seks yang dilakukan dalam 1 malam dengan pelanggan. Penggunaan kondom didefinisi-kan sebagai perilaku pelanggan memakai
kondom ketika melakukan hubungan seksual.
Kejadian gonore didefinisikan sebagai subjek penelitian yang hasil pemeriksaan sediaan apus duh tubuh vagina ditemukan ≥ 1 diplokokus intraseluler.
5. Uji Validitas & Realibilitas
Uji validitas dan realibilitas dilaksanakan pada pemandu lagu karaoke di Kabupaten Banjarnegara. Hasil uji validitas pada variabel aktivitas seks mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel, sehingga semua butir pertanyaan dinyatakan valid. Uji reliabilitas dengan menggunakan alpha Cronbach menunjukkan bahwa semua variabel ≥0.50 sehingga butir pertanyaan dinyatakan realibel.
6. Analisis Data
Analisis data kuantitatif univariat dila-kukan untuk menampilkan data karak-teristik dan deskriptif variabel penelitian, analisis bivariat untuk menganalisis hubungan variabel independen terhadap variabel dependen menggunakan uji Chi-Square. Analisis multivariat dengan analisis regresi logistik digunakan untuk mem-prediksi variabel dependen dari beberapa variabel independen
HASIL 1. Hasil analisis univariat
Penelitian dilakukan di Kabupaten Wono-sobo Provinsi Jawa Tengah pada 84 WPSTL yang berprofesi sebagai pemandu lagu pada 12 karaoke dibawah binaan LSM Wonosobo Youth Center. Sampel kasus terdiri dari 42 orang berstatus positif gonore dan sampel kontrol terdiri dari 42 orang berstatus negatif gonore maupun IMS jenis lain.
Sebagian besar WPSTL yang profesi sebagai pemandu lagu karaoke ber-usia <25 tahun (62.3%), berpendidikan SLTP (53.5%), berstatus cerai hidup (40.5%) dan lama kerja menjadi WPS ≥6
bulan (73.8%). Berdasarkan aktivitas seks, diketahui bahwa sebagian besar WPSTL mempunyai riwayat aktivitas seks vaginal (96.4%), tidak mempunyai riwayat aktivitas seks anal (91.7%), tidak mempunyai riwayat aktivitas seks oral (92.9%), mempunyai riwayat seks kombinasi (60.7%) mem-punyai jumlah mitra seks > 2 orang per minggu (80.9%), mempunyai frekuensi hubungan seks <3 kali per malam (82.2%) dan tidak konsisten menggunakan kondom (71.4%).
2. Hasil analisis bivariat
Hasil analisis bivariat dengan uji Chi Square ditunjukkan pada Tabel 2. Berda-sarkan Tabel 2 diketahui bahwa usia ≥25 tahun (OR= 1.87; CI 95%= 0.76 hingga 4.64; p= 0.172), tingkat pendidikan <SMP (OR= 1.25; CI 95%= 0.49 hingga 3.16; p= 0.637), belum menikah (OR= 1.83; CI 95%= 0.69 hingga 4.87; p= 0.221), lama menjadi WPSTL ≥6 bulan (OR= 2.12; CI 95%= 0.78 hingga 5.79; p= 0.136), melaku-kan aktivitas seks oral (OR= 2.10; CI 95%= 0.36 hingga 12.17; p= 0.397), dan frekuensi berhubungan seksual ≥2 kali per malam (OR= 1.21; CI 95%= 0.51 hingga 2.86; p= 0.661) berpengaruh terhadap peningkatan risiko terkena gonore pada WPSTL meski-pun secara statistik signifikan.
Faktor jumlah mitra seksual ≥2 per minggu (OR= 3.80; CI 95%= 1.11 hingga 12.98; p= 0.026), melakukan aktivitas seks kombinasi (OR= 3.10; CI 95%= 1.24 hingga 7.71; p= 0.014), dan penggunaan kondom yang tidak konsisten (OR= 8.64; CI 95%= 2.16 hingga 28.53; p<0.001) berpengaruh terhadap peningkatan risiko terkena gonore pada WPSTL dan secara statistik signifikan. 3. Hasil analisis multivariat
Hasil analisis multivariat regresi logistik diketahui melalui Tabel 3 bahwa faktor risiko kejadian gonore pada WPSTL adalah riwayat aktivitas seks kombinasi (OR=3.17; CI 95%=1.14 hingga 8.82; p= 0.027) dan
konsistensi penggunaan kondom (OR= 8.04; CI 95%=2.31 hingga 28.12; p= 0.001). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa bentuk model untuk menduga kejadian gonore pada WPSTL berdasarkan nilai 2 variabel prediktor adalah:
Keterangan :
p = Probabilitas individu mengalami keja-dian; e=bilangan natural (nilai e = 2.7182); α= konstanta; β= koefisien regresi; x=
variabel prediktor (riwayat aktivitas seks kombinasi, konsistesi penggunaan kondom).
Berdasarkan bentuk model tersebut diketahui bahwa WPSTL dengan riwayat aktivitas seks kombinasi dan tidak konsis-ten menggunakan kondom memiliki proba-bilitas atau risiko kejadian gonore sebesar 49.5%, dan 50.5% disebabkan oleh faktor yang lain.
Tabel 1. Hasil analisis univariat karakteristik subjek penelitian
Variabel Kategori Frekuensi %
Usia Usia < 25 tahun 54 62.3
Usia > 25 tahun 30 35.7 Tingkat Pendidikan SD/Sederajat 13 15.5
SLTP/Sederajat 45 53.5
SLTA/Sederajat 26 31.0
Status perkawinan Belum menikah 26 30.9
Menikah 23 27.4
Cerai hidup 34 40.5
Cerai mati 1 1.2
Lama kerja menjadi WPS ≥6 bulan 62 73.8
<6 bulan 22 26.2
Riwayat aktivitas seks vaginal
Seks vaginal 81 96.4
Tidak seks vaginal 3 3.6 Riwayat aktivitas seks
anal Seks anal Tidak seks anal 77 7 91.7 8.3 Riwayat aktivitas seks
oral
Seks oral 6 7.1
Tidak seks oral 78 92.9 Riwayat aktivitas seks
kombinasi
Seks kombinasi 51 60.7
Tidak seks kombinasi 33 39.3 Jumlah mitra seks Berisiko (>2 per minggu) 68 80.9 Tidak berisiko (1 per minggu) 16 19.1 Frekuensi hubungan
seks Berisiko (>2 kali per malam) Tidak berisiko (1 kali per malam) 69 15 82.2 17.8 Konsistensi penggunaan
kondom Tidak konsisten Konsisten 60 24 28.6 71.4
Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda ditunjukkan pada Tabel 3 memberikan informasi bahwa riwa-yat aktivitas seks kombinasi (OR= 3.17; CI 95%= 1.14 hingga 8.82; p= 0.027) dan
kon-sistensi penggunaan kondom (OR=8.04; CI 95%= 2.30 hingga 28.12; p<0.001) ber-pengaruh meningkatkan kejadian gonore pada WPSTL.
100
%
1
1
... 2 2 1 1x
e
p
x x kxk
Tabel 2. Hasil analisis bivariat variabel independen terhadap kejadian gonore pada WPSTL
Variabel Kategori Gonore Tidak Gonore OR 95 % CI p
n % n % Bawah Atas Usia < 25 tahun 30 71.4 4 57.1 1.87 0.76 4.64 0.172 ≥ 25 tahun 12 28.6 18 42.9 Tingkat pendidikan <SMP 30 71.4 28 66.7 1.25 0.49 3.16 0.637 ≥SMP 12 28.8 14 33.3 Status perkawinan Belum menikah 33 78.6 28 66.7 1.83 0.69 4.87 0.221 Menikah 9 21.4 14 33.3 Lama kerja menjadi WPS ≥6 bulan 34 81.0 28 66.7 2.12 0.78 5.79 0.136 <6 bulan 8 19.0 14 33.3 Aktivitas seks vaginal Seks vaginal 40 95.2 41 97,.6 0.49 0.04 5.59 0.557 Tidak 2 4.8 1 2.4 Aktivitas seks
anal Seks anal Tidak 39 92.9 3 7.1 38 4 90.5 9.5 0.73 0.15 3.48 0.693 Riwayat
akti-vitas seks oral
Seks oral 4 9.5 2 4.8 2.10 0.36 12.17 0.397 Tidak 38 90.5 40 85.2 Riwayat aktivitas seks kombinasi Seks kombinasi 31 73.8 20 47.6 3.10 1.24 7.71 0.014 Tidak 11 26.2 22 52.4 Jumlah mitra seks ≥2 /minggu 38 90.5 30 71.4 3.80 1.11 12.98 0.026 1 /minggu 4 9.5 12 28.6 Frekuensi hubungan seks ≥2 kali per malam 24 57.1 22 52.4 1.21 0.51 2.86 0.661 1 kali per malam 18 42,9 20 47.6 Konsistensi penggunaan kondom Tidak konsisten 38 90.5 22 52.4 8.64 2.16 28.53 <0.001 Konsisten 4 9.5 20 47.6
Tabel 3. Hasil analisis multivariat faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian gonore pada WPSTL
No Variabel OR CI 95 % p
1. Riwayat aktivitas seks kombinasi 3.17 1.14 hingga 8.82 0.027 2. Konsistensi penggunaan kondom 8.04 2.30 hingga 28.12 0.001
Constant 0.04 <0.001
PEMBAHASAN
1. Hubungan riwayat aktivitas seks kombinasi dengan kejadian gonore pada WPSTL
Hasil analisis multivariat menyatakan bahwa WPSTL yang mempunyai riwayat aktivitas seks kombinasi mempunyai risiko 3.17 kali lebih besar mengalami kejadian gonore dibandingkan WPSTL yang tidak
mempunyai riwayat aktivitas seks kom-binasi (OR=3.17; CI 95%= 1.14 hingga 8.82; p= 0.027). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Velicko (2016) dengan metode kohort yang menyatakan bahwa riwayat aktivitas seks kombinasi berhu-bungan dengan IMS (ARR= 1.84; CI 95%= 1.09 hingga 3.10; p= 0.019).
Murtono (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa aktivitas seks kom-binasi memiliki risiko 4.32 kali untuk men-derita HIV/AIDS pada populasi kunci ter-masuk WPS (OR= 4.32; CI 95%= 1.74 hingga 10.75; p= 0.002).
Hubungan seksual secara vaginal, oral dan anal berperan dalam mening-katkan kemungkinan invasi mikroorga-nisme penyebab IMS. Hubungan seksual anal juga berisiko karena dapat menim-bulkan luka pada jaringan anus sehingga mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui jaringan yang luka (Daili, 2015). Aktivitas seks vaginal, oral dan anal merupakan perilaku seks berisiko sehingga memudahkan penularan HIV dan IMS (Rahardjo, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian diper-oleh informasi bahwa sebagian besar subjek penelitian melakukan aktivitas seks kom-binasi oral-vaginal baik pada kelompok kasus (57.1%) maupun kelompok kontrol (40.5%). Terdapat subjek penelitian yang melakukan aktivitas seks kombinasi oral-vaginal-anal kelompok kasus (9.5%) dan kelompok kontrol (7.1%). Hasil penelitian tidak ditemukan subjek penelitian yang melakukan aktivitas seks kombinasi oral-anal.
WPSTL melakukan berbagai hal untuk mendapatkan uang tambahan ter-masuk melakukan aktivitas seks kombinasi. Mitra seks dalam hal ini pelanggan WPS akan mencoba berbagai variasi bentuk seksual karena adanya rasa penasaran dan ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari pada seks yang seperti biasa. Seks kombinasi berisiko lebih besar terpapar IMS termasuk gonore (Rahardjo, 2008). 2. Hubungan konsistensi penggunaan
kondom dengan kejadian gonore pada WPSTL
WPSTL yang tidak konsisten menggunakan kondom mempunyai risiko 5.78 lebih besar
mengalami kejadian gonore dibandingkan WPSTL yang konsisten menggunakan kondom (OR= 5.78; CI 95%= 1.55 hingga 21.49; p= 0.009).
Penelitian ini sejalan dengan Budi-man (2015) yang menyatakan bahwa peng-gunaan kondom tidak konsisten dengan pasangan yang tidak tetap merupakan faktor risiko infeksi gonore (OR= 3.99; CI 95%= 1.18 hingga 13.49; p= 0.045). Jung (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada hubungan frekuensi pengguna-an kondom dengpengguna-an kejadipengguna-an IMS pada WPS.
Berdasarkan hasil penelitian diper-oleh informasi bahwa semua responden mengetahui kondom, namun hanya 27.38% subjek penelitian yang menyatakan memiliki kondom dan 20.32% subjek penelitian yang menawarkan kondom kepada pelanggannya. Subjek penelitian yang menyatakan konsisten menggunakan kondom hanya sebesar 27.8%.
Hasil STBP 2015 menunjukkan kon-sistensi penggunaan kondom pada WPSTL (40.19%) lebih rendah dibandingkan pada WPSL (43.43%). Rendahnya penggunaan kondom di kalangan WPSTL disebabkan rendahnya kemampuan negosiasi dengan pelanggan karena hampir semua pelanggan tidak mau menggunakan kondom dengan alasan mengurangi kenikmatan saat mela-kukan hubungan seks. Rendahnya kemam-puan negosiasi pada WPSTL disebabkan karena WPSTL tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan meyakinkan pen-tingnya pemakaian kondom kepada pelang-gan. Meskipun WPSTL telah mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara rutin, tetapi tidak konsistensi dalam penggunaan kondom maka akan memudahkan ter-jadinya IMS termasuk gonore.
Kondom pria berfungsi sebagai pen-cegah lewatnya jasad renik pembawa penyakit (dan mani) dari seorang pria
kepada pasangan seksnya. Kondom juga mencegah masuknya cairan vagina (dan kuman di dalamnya) memasuki saluran kencing pria melalui liang uretra atau melalui luka-luka kecil pada permukaan penis (Hutapea, 2014).
Pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko merupakan salah satu strategi pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan IMS pada kelompok berisiko termasuk kepada WPSTL dan pelanggannya. WPS seharus-nya menggunakan kondom secara konsis-ten baik untuk melindungi dirinya sendiri maupun mitra seksnya. (Budiono, 2012).
REFERENCE
Alexander M, Mainkar M, Deshpande S, Chidrawar S, Sane S, Mehendale S (2014). Heterosexual Anal Sex among Female Sex Workers in High HIV Prevalence States of India: Need for Comprehensive Intervention. PLoS One, 9(1):1–11.
Blanchard JF, Moses S (2008). Female Sex Worker and Their Client in the Epidemiology and Control of Sexually Transmitted Disease. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN, Corey L, Cohen MS, Watts DH, editors. Sexually Trans-mitted Disease. Fourth Edition. New York: Mc Graw Hill.
Budiman, Ruhyandi, Pratiwi A (2015). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gonore di Wilayah Kerja Puskesmas Ibrahim Adji Kota Bandung. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM Kesehatan. Budiono I (2012). Konsistensi Penggunaan
Kondom oleh Wanita Pekerja Seks/ Pelanggannya. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(2):84–94.
Centers for Disease Control and Prevention (2010). Fact Sheet: The Role of STD
Prevention and Treatment in HIV Prevention. Diakses: 20 September 2016. Available from: http://www.- cdc.gov/std/hiv/stds-and-hiv-fact-sheet-press.pdf.
Daili SF (2011). Gonore. In: Daili SF, Makes WIB, Zubier F, editors. Infeksi Me-nular Seksual. Edisi 4. Jakarta: Badan Penebit Fakultas Kedokteran Univer-sitas Indonesia.
Daili SF (2015). Tinjauan Penyakit Menular Seksual. In: Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W, editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta: Badan Penebit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2015). Rekap Sistem Informasi HIV/ AIDS dan IMS 2015. Semarang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo (2016). Rekap Sistem Infomasi HIV/ AIDS dan IMS 2016. Wonosobo. Hakim L (2011). Epidemiologi Infeksi
Menular Seksual. In: Daili SF, Makes WIB, Zubier F, editors. Infeksi Menular Seksual. Edisi 4. Jakarta: Badan Penebit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hutapea R (2014). AIDS, IMS dan Perkosa-an. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Jung M (2012). Sexual, Behavioral and Social Characteristic of Female Sex Workers and Their Sexually Trans-mitted Infection : in South Korea. Sex Disabil, 30:421–31.
Kementerian Kesehatan Republik Indo-nesia (2015). Surveilans Terpadu Bio-logis dan Perilaku Tahun 2015. Jakarta.
Mayor MT, Roett MA, Uduhiri KA (2012). Diagnosis and Management of Gono-coccal Infections. American Family Physicia, 86(10): 931–88.
Ling-kungan yang Berpengaruh terhadap Kejadian HIV/AIDS pada Populasi Kunci di Kabupaten Pati [Thesis]. Universitas Diponegoro.
Rahardjo W (2008). Konsumsi Alkohol, Obat‐obatan Terlarang dan Perilaku Seks Berisiko: Suatu Studi Meta -Analisis. Jurnal Psikologi, 35(1):80– 100.
Thuong NV, Long NT, Hung ND, Truc NTT, Nhung VTT, Van CTB, et al (2008). Sexually Transmitted Infections and Risk Factors for Gonorrhea and Chlamydia in Female Sex Workers in Soc Trang, Vietnam. Sexually Trans-mitted Disease, 35(11):935–40.
Veliccko I, Ploner A, Sparen P, Marions L, Herrmann B, Kuhlmann-Berenzon S
(2016). Sexual and Testing Behaviour Associated with Chlamydia Tracho-matis Infection: A Cohort Study in An STI Clinic in Sweden. BMJ Open, 6(8):1–10.
Widodo E (2009). Wanita Praktik Wanita Pekerja Seks (WPS) dalam Pencegah-an Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/ AIDS di Lokalisasi Koplak, Kabupaten Grobogan. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 4(4): 94–102.
Zhao Y, Luo T, Tucker JD, Wong WCW (2015). Risk Factors of HIV and Other Sexually Transmitted Infections in China: A Systematic Review of Re-views. PLoS One, 10(10): 1–15.