BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan suatu bangsa di masa yang akan datang. Oleh karena itu, diperlukan

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan awal mata rantai yang sangat menentukan wujud dan kehidupan suatu bangsa di masa yang akan datang. Oleh karena itu, diperlukan persiapan generasi penerus bangsa dengan mempersiapkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial dan berakhlak mulia. Setiap anak berhak mendapatkan penghidupan yang layak, dapat tumbuh kembang secara optimal dan mendapatkan perlindungan yang layak.

Perlindungan dimaksudkan untuk melindungi anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya, anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan seksual, anak korban kekerasan fisik dan/atau mental, anak penyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran (IDI-Depkes-UNICEF, 2004).

Akhir-akhir ini berbagai fenomena perilaku negatif sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari pada anak-anak. Melalui surat kabar atau televisi dijumpai kasus-kasus anak usia dini seperti kekerasan baik itu kekerasan fisik, verbal, mental bahkan pelecehan atau kekerasan seksualpun sudah menimpa anak-anak. Bentuk kekerasan seperti ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga, ayah kandung, ayah tiri, paman, tetangga, pacar, guru maupun teman

(2)

sepermainannya sendiri. Berdasar data dari KPAI dalam Bagong (2006) mencatat dari 555 tindak kekerasan terhadap anak, 11,8% dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya. Sebanyak 18% dilakukan oleh orang terdekat2007 (Bagong, 2006).

Anak-anak khususnya anak perempuan sering merupakan korban potensial terjadi kejahatan seksual. Selain karena faktor kebejatan si pelaku, secara fisik dan psikis dari si anak, juga disebabkan karena anak - anak kaum yang lemah sehingga sangat rentan dan mudah menjadi korban tindak perkosaan. Studi yang dilakukan tim penelitian dari Universitas Airlangga di Jawa Timur (1992) menemukan mayoritas terjadinya kekerasan karena adanya ancaman dan paksaan (66,3%), bujuk rayu (22,5%) dan dengan menggunakan obat bius (5,1%) (Bagong, 2006).

Wattie (2002) mengatakan kekerasan seksual meliputi kekerasan yang terjadi karena adanya unsur kehendak seksual yang dipaksakan atau mengakibatkan terjadinya tindakan oleh pelaku yang tidak diinginkan oleh dan bersifat ofensif bagi korban. Sebaliknya, kekerasan non-seksual adalah merupakan tindakan pelaku yang juga tidak dikehendaki dan bersifat ofensif bagi korban, tetapi tidak disertai oleh adanya kehendak seksual. Bentuk-bentuk dari kekerasan seksual antara lain ditatap penuh nafsu, disenyumi nakal, diajak berbicara cabul, ditelepon seks, diraba bagian tubuh, dipaksa memegang bagian tubuh pelaku, dicuri cium/dipeluk, dipertontonkan alat kelamin, dipertontonkan foto/benda porno, diserang untuk diperkosa, dan diperkosa. Diantara bentuk-bentuk kekerasan seksual tersebut, perkosaan merupakan bentuk kekerasan seksual yang paling menderitakan perempuan. Dalam perkembangannya, persoalan kekerasan seksual tidaklah bersifat personal dan berdiri

(3)

sendiri, melainkan merupakan masalah sosial yang mempunyai banyak aspek dan faktor yang melingkupinya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di 21 negara menemukan bahwa 7-36% perempuan dan 3-29% laki-laki melaporkan kekerasan seksual selama masa kanak-kanak, tingkat kekerasan (abuse) yang dialami anak perempuan 1,5-3 kali lebih tinggi daripada anak laki-laki. Sebagian besar kekerasan (abuse) terjadi dalam lingkaran keluarga. (Laporan PBB, 2012).

Tindak kekerasan seksual layaknya fenomena gunung es, kejadian yang sampai pada publik jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian yang nyata terjadi dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena banyaknya korban yang tidak melaporkan kejadian kekerasan yang dialaminya, karena ketakutan yang dialami korban dan banyak masyarakat yang menyalahkan korban perkosaan terjadi karena adanya rangsangan atau godaan dari pihak korban (Tipe seductive). Studi yang dilakukan oleh Suparman Marzuki (1997) dalam Bagong (2006) terhadap 63 kasus perkosaan kasus seductive terbanyak (47,6%), kemudian diikuti oleh dominan rape(30,2%) dan tipe exploitation rape (14,3%).

Tindak kekerasan yang terjadi di Indonesia belakangan ini mengalami laju pertumbuhan yang pesat, baik kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitatif ada kecenderungan terjadinya peningkatan tindak kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual. Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan tahun 2013 merupakan tahun darurat kekerasan seksual pada anak. Selama tahun 2012 lembaga ini telah menerima laporan dan pengaduan dari masyarakat terhadap tindakan

(4)

kekerasan pada anak sebanyak 2.637 kasus. Sebanyak 62% atau 1.526 kasus dari jumlah kasus tersebut merupakan tindakan kekerasan seksual pada anak. Angka ini jauh meningkat dibandingkan dengan tahun 2011 yang mencapai 2.509 kasus. Dari jumlah tersebut, 52% diantaranya merupakan kasus kekerasan seksual pada anak. Dari rangkuman data tersebut, sangat jelas bahwa kasus kekerasan seksual pada anak mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 10% sepanjang tahun 2012 dibandingkan tahun 2011 (Pitakasari, 2013).

Banyaknya kasus tindak kekerasan secara fisik maupun seksual yang diterima anak, sehingga mengakibatkan cacat fisik, trauma maupun kematian, sering terdengar di telinga hingga membuat bulu kuduk merinding. Kondisi tersebut di atas, sedikit banyak memberikan gambaran perlakuan salah terhadap anak, juga terjadi dalam keluarga. Banyak kasus juga membuktikan bahwa anak-anak telantar cenderung rawan diperlakukan salah dan bahkan potensial menjadi objek tindak kekerasan (child

abuse) termasuk kekerasan seksual (Yudiati, 2011).

Kekerasan seksual cenderung menimbulkan dampak traumatis baik pada anak maupun pada orang dewasa. Namun, kasus kekerasan seksual sering tidak terungkap karena adanya penyangkalan peristiwa kekerasan seksual. Secara spesifik, kendala yang menghambat seseorang dalam melaporkan kasus kekerasan seksual adalah anak-anak korban kekerasan seksual tidak mengerti bahwa dirinya menjadi korban, korban sulit mempercayai orang lain sehingga merahasiakan peristiwa kekerasan seksualnya. Selain itu, korban cenderung takut melaporkan karena mereka merasa terancam akan mengalami konsekuensi yang lebih buruk bila melapor, korban merasa malu untuk

(5)

menceritakan peristiwa kekerasan seksualnya, korban merasa bahwa peristiwa kekerasan seksual itu terjadi karena kesalahan dirinya dan peristiwa kekerasan seksual membuat korban merasa bahwa dirinya mempermalukan nama keluarga (Zahra, 2007).

Hasil penelitian Sakalasastra (2012), pada dampak psikososial anak jalanan korban pelecehan seksual di Surabaya mendapatkan hasil bahwa faktor psikososial anak memiliki kecenderungan emosi negatif seperti perasaan benci dan menyimpan dendam, keinginan untuk menjalani kehidupan bebas, penilaian yang cenderung negatif pada dirinya sendiri dan kehidupan yang dijalani, perilaku seksual yang tidak wajar, serta relasi yang buruk dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya. Dampak pelecehan seksual yang terjadi ditandai dengan adanya powerlessness, dimana korban merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa pelecehan seksual tersebut. Selain itu, ditemukan adanya pola yang sama dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi minuman beralkohol pada korban pelecehan seksual

Bagi korban, tindak perkosaan adalah sebuah penderitaan yang jauh lebih dahsyat dari sekadar kehilangan harta benda. Perempuan korban perkosaan biasanya akan mengalami trauma psikologis yang tidak terperikan dan stigma sebagai korban perkosaan dari masyarakat. Sebuah studi di Amerika Serikat yang dilakukan Linda E. Ledray terhadap korban perkosaan setelah 2-3 jam kejadian menemukan dampak dan akibat sebagai berikut: 96% mengalami gemetar dan menggigil tak henti, 68% mengalami rasa pusing, 68% mengalami kekejangan otot yang hebat, 65% mengalami sakit kepala, nyeri yang hebat. Sementara itu, untuk periode pasca

(6)

perkosaan, penderitaan yang dialami korban adalah 96% kecemasan, 96% rasa lelah secara psikologis, 88% kegelisahan tiada henti, 88% terancam, dan 80% merasa diteror oleh keadaan (Suyanto, 2010).

Dampak dari pelecehan seksual sangat bervariasi. Berdasarkan penelitian Alter-Reid dkk (1986) tentang dampak pelecehan seksual pada psikososial anak, akan mengakibatkan dampak negatif seperti perasaan bersalah, rasa takut, depresi,

self-esteem yang cenderung rendah, kemampuan yang rendah dalam bersosialisasi, dan

lain-lain. Psikososial yang dimaksud disini adalah suatu dampak dari hubungan yang dinamis dan saling mempengaruhi, yaitu faktor psikologis, dan faktor sosial. Kemudian Kendall-Tackett dkk (1993) juga mengemukakan bahwa anak yang mengalami pelecehan seksual cenderung memiliki masalah dengan kecemasan, stress pasca-traumatis (PTSD), depresi, self-esteem yang rendah, keluhan yang bersifat somatis, agresi, perilaku seksual, dan perilaku yang cenderung merusak diri (Sakalasastra, 2012).

Anak yang menjadi korban kekerasan seksual sering kali menunjukkan keluhan tanpa adanya dasar penyebab organic, kesulitan di sekolah atau dalam mengadakan hubungan dengan teman, gelisah, tumbuh rasa tidak percaya diri. Pada remaja sering tumbuh tingkah laku bunuh diri. Sekitar 15 sampai 24 persen wanita dan 5 % sampai 15 pria pernah mengalami kekerasan seksual ketika masih anak-anak (Bagong,2006).

Tindakan kekerasan seksual pada anak membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, korban perkosaan bisa mengalami stress,

(7)

depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, kehamilan yang tidak diinginkan dan lainnya (Israr, 2009).

Gangguan reproduksi pada korban kekerasan seksual seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS, gangguan/kerusakan organ reproduksi (vagina), aborsi (Depkes RI, 2007). Korban kekerasan seksual dapat mengalami beberapa gangguan pada alat genitalia seperti eritema (kemerahan) vestibulum atau jaringan sekitar anus, adesi labia (mungkin akibat iritasi atau rabaan), Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi, infeksi atau karena traksi labia mayor pada pemeriksaan), Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen, terlipatnya tepi selaput, bengkak karena infeksi ataupun trauma), kulit genital semu (mungkin jumbai kulit atau kulit bukan genital mungkin condyloma acuminata yang didapat bukan dari seksual), fisura ani (biasanya akibat konstipasi atau iritasi perianal), Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter eksterna), pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal), kongesti vena atau

pooling vena (biasanya akibat posisi anak, juga ditemukan pada konstipasi),

perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain, seperti uretra, atau mungkin akibat infeksi vagina, benda asing atau trauma yang aksidental, terjadi pelebaran anus (notch atau cleft) selaput dara di daerah posterior, mencapai dekat dasar (sering merupakan artefak pada posisi pemeriksaan tertentu, tetapi bila

(8)

konsisten pada beberapa posisi, maka mungkin akibat kekerasan tumpul atau penetrasi sebelumnya) (Israr, 2009).

Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Bp3A) Aceh menunjukkan angka kekerasan terhadap anak di Propinsi Aceh

sepanjang tahun 2011 sebanyak 466 orang yaitu untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak sebanyak 196 kasus (42,06%), pelecehan seksual dan pencabulan 68 kasus (14,68%), pembunuhan 2 kasus (0,42%), penganiayaan terhadap anak 105 kasus (22,5%), pemerkosaan 45 kasus (9,65%), sisanya trafficking dan kekerasan psikis terhadap anak 56 (12,07%)

Kabupaten Pidie merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Propinsi Aceh dengan jarak ke ibu Kota Propinsi yaitu 112 Km. Berdasarkan Data BPS tahun 2012 jumlah penduduk di yang ada di Kabupaten Pidie adalah 234.698 jiwa (Dinkes Kabupaten Pidie, 2012). Laporan Badan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Pidie jumlah anak yang mengalami kekerasan dalam tahun 2012 adalah berjumlah 14 (empatbelas) anak. Kekerasan fisik 4 orang, kekerasan psikis 1 orang, kekerasan seksual sebanyak 9 orang. Dari 9 orang yang mengalami kekerasan seksual 4 orang diantaranya karena diperkosa dan hamil sedangkan 5 orang lainnya mengalami pelecehan seksual yang berdampak pada trauma psikologis berupa menarik diri dan mengisolasi diri terhadap lingkungan.

Semakin banyaknya kasus-kasus kekerasan pada anak terutama kasus kekerasan seksual (child sexual abuse) dan menjadi fenomena tersendiri pada masyarakat modern saat ini. Berbagai faktor penyebab sehingga terjadi kasus

(9)

kekerasan seksual dan dampak yang dirasakan bagi korban baik secara fisik, psikologis dan sosial. Berdasarkan uraian di atas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Kabupaten Pidie Tahun 2013.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Kabupaten Pidie Tahun 2013”.

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengungkap kejadian kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Kabupaten Pidie Tahun 2013

1.4 Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang kesehatan reproduksi yang terkait dengan kekerasan seksual pada anak.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi responden sehingga mengetahui bagaimana mengatasi kekerasan seksual yang pernah dialaminya.

(10)

3. Memberi sumbangan informasi bagi kepada keluarga atau lingkungan sekitar korban agar dapat memberikan dukungan yang positif dan pemulihan hingga korban mampu mengatasi trauma akibat kekerasan seksual.

4. Memberikan informasi bagi Badan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Pidie, dalam menyusun dan membuat kebijakan perlindungan kesehatan pada anak terutama pada anak korban kekerasan seksual. 5. Memberikan informasi kepada lembaga-lembaga non pemerintah (LSM) dalam

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :