• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia dan mahluk hidup lainnya.Air dipakai untuk berbagai keperluan dan harus memenuhi beberapa persyaratan baik dari sisi kuantitas dan kualitasnya.Dengan ditemukannya sumber energi yang tertimbun didalam tanah seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam serta dikenalkannya teknologi akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Di samping itu semakin meningkatnya perkembangan industrialisasi, maka semakin meningkat pula tingkat pencemaran pada perairan, udara, dan tanah yang disebabkan oleh hasil buangan industri.1,2,3

Air sering tercemar oleh komponen-komponen anorganik, diantaranya berbagai logam berat yang berbahaya. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), khromium (Cr) dan nikel (Ni). Logam berat tersebut dapat menggumpal di dalam tubuh suatu organisme, dan tetap tinggal dalam tubuh dalam waktu yang lama sebagai racun yang terakumulasi.3Pembangunan industri di Indonesia pada tahun 2000 terdapat sekitar 22.147 industri skala menengah dan besar.

Berdasarkan data statistik industri tahun 2003, jumlah industri sedang telah mencapai 113.253 dan industri besar 36.012. Angka ini belum termasuk industri kecil yang jumlahnya lebih dari 1.275.175 industri.4

Logam berat merupakan polutan yang berbahaya bagi mahluk hidup yang mengalami keterpaparan oleh unsur ini. Hal ini dikarenakan unsur logam berat merupakan unsur yang tidak dapat dimusnahkan (Nondegradabel) sehingga ada terus dialam. Selain itu, unsur logam berat juga memiliki kemampuan daya racun

(2)

yang tinggi dan dapat terakumulasi ke dalam tubuh makhluk hidup sehingga keberadaannya dilingkungan sangat tidak diharapkan.5

Berbagai kegiatan manusia di daratan, seperti limbah domestik, pertanian dan perindustrian berujung di area muara sungai dan pantai. Kelompok masyarakat dan industri memiliki anggapan bahwa sungai dan laut merupakan keranjang sampah yang dapat berguna untuk membuang sampah yang sangat mudah caranya dan murah ongkosnya. Akibatnya pada perairan pantai ditemukan kadar timbal (Pb) yang melampau ambang batas. Pada perairan pantai Marina ditemukan kadar Pb air sebesar 0,030mg/L.8 Hal ini di atas NAB (Nilai Ambang Batas), batas maksimum yang diperbolehkan yaitu 0,005 mg/L.9Pengelolaan lingkungan masih dipandang sebagai beban para pengusaha dan para pengambil keputusan tidak mudah terdorong untuk mengadopsi aspek lingkungan dalam kebijaksanaannya.5

Menurut ketentuan WHO, kadar Pb dalam darah manusia yang tidak terpapar oleh Pb adalah sekitar 10-25 µg/100 ml. Pada penelitian yang dilakukan di industri proses daur ulang aki bekas, menemukan bahwa kadar Pb udara di daerah terpapar pada malam hari besarnya sepuluh kali lipat kadar Pb di daerah yang tidak terpapar pada malam hari (0,0299 mg/m3 vs 0,0028 mg/m3), sedangkan rerata kadar Pb Blood (Pb-B) di daerah terpapar 170,44 ug/100 ml dan di daerah tidak terpapar sebesar 45,43 ug/100 ml. Juga ditemukan bahwa semakin tinggi kadar Pb-B, semakin rendah kadar Hb nya.6

Timbal (Pb) masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan merupakan jalan pemajanan terbesar dan melaui saluran cerna, terutama pada anak-anak dan orang dewasa dengan kebersihan perorangan yang kurang baik. Adsopsi Pb udara pada saluran pernafasan ±40% dan saluran pencernaan ±5-10%, kemudian Pb di distribusikan ke dalam darah ±95% terikat pada sel darah merah, dan sisanya terikat pada plasma. Sebagian Pb di simpan pada jaringan lunak dan tulang. Ekskresi terutama melalui ginjal dan saluran pencernaan.7 Paparan bahan tercemar Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ sebagai berikut: gangguan

(3)

pada sistem syaraf, gangguan pada sistem urogenetal, gangguan pada sistem reproduksi, gangguan pada sistem hemopoitik dan gangguan pada sistem syaraf.6

Untuk mengurangi kadar Pb pada air sungai dapat digunakan suatu metode pengolahan yaitu dengan adsorpsi. Adsorpsi adalah proses penggumpalan substansi terlarut yang ada di dalam larutan oleh permukaan benda atau zat penyerap. Zat penyerap yang digunakan dalam adsorpsidiantaranya adalah serbuk biji kelor (Moringa Oleifera). Biji buah kelor mengandung zat aktif rhamnosy-loxy-benzil-isothiocyante, yang mampu mengadsorpsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam limbah tersuspensi dengan partikel kotoran yang melayang dalam air (Suara Merdeka, 2002). Biji kelor diketahui mengandung polielektrolit kationik dan flokulan alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul 6.000-16.000 dalton, mengandung 6 asam amino sehingga dapat mengkoagulasi dan flokulasi kekeruhan air (Nurasiah dkk, 2002).10

Biji kelor tanpa kulit ari dengan ukuran serbuk 80/115 mesh pada konsentrasi 300 mg/L dapat menurunkan 97,11% kadar Pb air.11 Waktu pengadukan proses ekstraksi biji kelor dengan kulit ari selama 45 menit dapat mencapai kondisi optimum untuk menurunkan zat warna reaktif, dengan penurunan 491,63 mg/ml untuk warna biru; 490,02mg/ml untuk warna merah dan 466,60 mg/ml untuk warna kuning.12

Hingga saat ini belum ada penelitian yang mengkombinasikan antara dosis dan lama waktu kontak serbuk biji kelor (Moringa Oleifera)yang paling efektif untuk menurunkan kadar timbal (Pb). Berdasarkan permasalahandi atas maka dalam penelitian ini akan diujivariasi dosis dan lama waktu kontak serbuk biji kelor dalam menurunkan logam berat Pb pada air sungai. Besarnya dosis serbuk biji kelor yang akan dipakai adalah (100 mg/L, 200 mg/L, 300 mg/L) dengan lama waktu kontak (15 menit, 30 menit, 45 menit).

(4)

B. Perumusan Masalah

Adakah pengaruh variasi dosis dan lama waktu kontak serbukbiji kelor (Moringa Oleifera) dalam menurunkan kadar Pb pada airsungai.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui efektifitas variasi dosis dan lama waktu kontak serbukbiji kelor (Moringa Oleifera) dalam menurunkan kadar timbal (Pb) air sungai.

2. Tujuan Khusus

a. Mengukur kadar timbal (Pb) pada air sungai sebelum perlakuan.

b. Mengukur logam beratPb pada air sungaisesudah perlakuan pada berbagai dosis dan lama waktu kontak.

c. Menganalisis persentase kadar logam berat timbal (Pb) pada air sungaiantara sebelumdansesudah perlakuan.

d. Menganalisis dosis dan lama waktu kontak serbuk biji kelor (Moringa Oleifera) yang paling efektif dalam menurunkan logam berat Pb pada air sungai.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

a. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemakaian serbukbiji kelor (Moringa Oleifera) sebagai media adsorpsi dalam menurunkan logam berat timbal (Pb) pada air sungai.

b. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang dosis dan lama waktu kontak serbukbiji kelor (Moringa Oleifera) yang paling efektif dalam menurunkan logam berat timbal (Pb) pada air sungai.

2. Manfaat Metodologis

Dapatdijadikan pengembangan ilmu di bidang kesehatan masyarakat khususnya pada bidang pengolahan airsungai.

(5)

E. Bidang Ilmu

Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya bidang kesehatan lingkungan tentang penyediaan air bersih.

F. Keaslian Penelitian (Orginalitas)

Penelitian tentang pemanfaatan serbuk biji kelor(Moringa Oleifera) dan logam berat pernah dilakukan penelitian sebelumnya oleh beberapa peneliti dengan variabel yang berbeda-beda, antara lain:

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian no Peneliti

(th) Judul Desain studi Variabel Hasil

1. Nova Risanto (2009) Pengaruh Variasi Konsentrasi Ekstrak Serbuk Biji Kelor (Moringa Oleifera Lam) Terhadap Penurunan Kesadahan Air Artetis (Studi di RW II Kel Sendangguwo, Kec Temabang, Kota Semarang) Randomi zed pre test-post test control group design. Variabel bebas: Konsentrasi ekstrak serbuk biji kelor 1% Variabel terikat: Penurunan kesadahan air sumur artetis

Konsentrasi paling efektif dalam menurunkan kesadahan air sumur artetis adalah pada penambahan ektrak serbuk biji kelor 1% dengan konsentrasi 15 ml yang ditunjukkan dengan nilai “mean diffrence” tertinggi yaitu 74,3504% 2. Ahmad Mulia Rambe (2009) Pemanfaatan Biji Kelor (Moringan Oleifera) Sebagai Koagulan Alternatif Dalam Proses Penjernihan Limbah Cair Industri Tekstil. Analisa data dilakuka n secara grafis

Variabel bebas: dosisi biji kelor (750, 875, 1000, 1125 dan 1250 mg/L) dan Ukuran partikel biji kelor 212 mest

Variabel terikat: penyisihan

kekeruhan,TSS, COD dan kadar warna pH 7,8. Penggunaan biji kelor sebagai koagulan lebih efektif dibandingkan dengan kombinasi biji kelor dan alum

(6)

3. Niken Hayudanti A dan Alke Niera Amelia (2007) Penyerapan Logam Berat Dalam Air minum Menggunakan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Analisa data menggun akan metode spektrofo tometri Variabel Bebas: Konsentrasi awal larutan logam berat, ketinggian Bed, selang waktu pengambian sampel. Variabel terikat: Adsopsi logam berat

Efektif dilakukan pada konsentrasi logam berat masing-masing kurang dari 3 ppm. 4. Harmin Sulistiyani ng Titah (2009) Kemampuana dsorpsi serbuk biji kelor(moringa oleifera) untuk menurunkanko nsentrasi logam berat timbal (Pb) Analisa data menggun akan AAS

Serbuk biji kelor, ukuran butiran, konsentrasi serbuk biji kelor, dan konsentrasi larutan yang mengandung Pb2+

variasi terbaik yang memberikan prosentase penurunan sebesar 97,11% adalah serbuk biji kelor tanpa kulit, ukuran butiran 80/115 mesh, dan konsentrasi adsorben sebesar 300 mg/L Sumber: 11, 13, 14, 15

Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terletak pada subyek penelitian yaitu variasi dosis dan lama waktu kontak serbuk biji kelor sebagai adsorben dalam menurunkan logam berat Pb air sungai, menggunakan adsorpsi serbuk biji kelor (Moringa Oleifera) dalam menurunkan kandungan logam berat Pb. Dalam penelitian ini, peneliti memakai dosis serbuk biji kelor yang berbeda (100 mg/L, 200 mg/L, 300 mg/L)dengan lama waktu kontak serbuk biji kelor yang berbeda (15 menit, 30 menit, 45 menit).

Gambar

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian no Peneliti

Referensi

Dokumen terkait

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Nada yang timbul adalah sinis, sedih, semangat, nasihat, dan sendu (3) Kritik sosial yang disampaikan dalam album ini adalah kritik terhadap masalah kemanusiaan, kritik

and you can see from the radar screen – that’s the screen just to the left of Professor Cornish – that the recovery capsule and Mars Probe Seven are now close to convergence..

[r]

Data dan informasi yang dimuat tetap mengikuti perkembangan data terbaru yang dihimpun dan dirilis BPS, yang merupakan hasil pendataan langsung dan hasil kompilasi produk

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū