• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia faq pbi 103908r

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia faq pbi 103908r"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1 FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQ)

PBI TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN PENANGANAN KHUSUS PERMASALAHAN PERBANKAN PASCABENCANA NASIONAL DI PROVINSI

NANGGROE ACEH DARUSSALAM DAN KEPULAUAN NIAS, PROVINSI SUMATERA UTARA

1. Apa latar belakang penerbitan PBI?

PBI ini merupakan tindak lanjut dari UU Nomor 48 Tahun 2007 tentang Penetapan

Perpu Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum Dalam

Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan

Masayarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi

Sumatera Utara menjadi Undang-Undang, khususnya Pasal 23 Perpu yang

mengamanatkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai penyelesaian berbagai

permasalahan perbankan pascabencana gempa bumi dan tsunami diatur dengan

Peraturan Bank Indonesia.

2. Apakah Bank dapat menerbitkan bukti kepemilikan baru atas simpanan yang bukti kepemilikannya hilang/musnah?

Ya, Bank atas dasar permintaan nasabah dapat mengeluarkan bukti kepemilikan baru

atas Simpanan/Investasi di Bank setelah Bank meyakini kebenaran identitas nasabah

atau ahli waris/Wali nasabah sesuai dengan tata cara dan pencatatan yang ada pada

Bank.

3. Bagaimana apabila catatan yang ada di Bank musnah?

Dalam hal catatan di bank musnah dan nasabah/ahli waris dapat menunjukkan bukti

kepemilikan atas simpanan/investasi di Bank, Bank melakukan pencatatan setelah

meyakini kebenaran atau keaslian bukti kepemilikan atas simpanan/investasi nasabah.

4. Bagaimana apabila Simpanan/Investasi nasabah di Bank tidak diketahui lagi keberadaan pemilik atau ahli waris/Wali nasabah?

Bank menyerahkan Simpanan/Investasi tersebut kepada Baitul Mal atau Balai Harta

Peninggalan setelah memperoleh penetapan pengadilan melalui langkah-langkah

berikut:

(2)

2 tidak ada lagi pemilik atau ahli waris/wali nasabah;

b. mengumumkan nama dan alamat dimaksud sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali

sampai dengan 6 September 2009;

c. pengumuman dilakukan melalui surat kabar berbahasa Indonesia yang

mempunyai peredaran luas di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan

Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara yang berskala lokal paling sedikit 2

(dua) kali dan dan melalui surat kabar berbahasa Indonesia berskala nasional

paling sedikit 1 (satu) kali;

d. menyampaikan pengumuman sebagaimana dimaksud pada huruf c untuk dimuat

pada Berita Daerah atas pengumuman melalui surat kabar lokal dan pada Berita

Negara atas pengumuman melalui surat kabar nasional; dan

e. mengajukan permohonan penetapan kepada Pengadilan yang berwenang

5. Bagaimana penyelesaian hak tagih atas Simpanan/Investasi nasabah yang juga

mempunyai kewajiban yang belum diselesaikan?

a. Dalam rangka penarikan dana oleh nasabah dan penyerahan simpanan/investasi

kepada Baitul Mal atau Balai Harta Peninggalan, Bank memperhitungkan terlebih

dahulu dengan kewajiban kredit atau pembiayaan dan fasilitas lainnya yang belum

diselesaikan oleh nasabah yang bersangkutan.

b. Penyerahan simpanan/investasi atas nasabah yang dianggap tidak ada nasabah

penyimpan atau ahli waris/wali nasabah oleh Bank kepada Baitul Mal atau Balai

Harta Peninggalan tidak menyebabkan hak tagih atas simpanan/investasi nasabah

tersebut menjadi hapus.

6. Bagaimana apabila tanah yang diagunkan kepada Bank musnah?

Apabila tanah yang diagunkan kepada Bank dinyatakan musnah dan debitur yang

bersangkutan tidak dapat menyelesaikan kewajibannya kepada Bank, maka

Referensi

Dokumen terkait

Pemenuhan GWM Utama dalam rupiah mulai berlaku sejak tanggal 24 Oktober 2008.. dan pemenuhan GWM Sekunder dalam rupiah mulai berlaku sejak tanggal

pihak ketiga dua periode sebelumnya. Kas bank tidak lagi menjadi komponen alat likuid minimum. Dana pihak ketiga diperluas menjadi giro, simpanan berjangka, tabungan,

Bank wajib menjelaskan kepada nasabah mengenai karakteristik produk Pembiayaan atas dasar Akad Mudharabah, serta hak dan kewajiban nasabah sebagaimana diatur dalam

Dengan demikian, transaksi forward beli valuta asing terhadap rupiah yang dilakukan kurang dari USD 100.000 (seratus ribu US Dolar) per bulan tidak wajib

A : Aturan peralihan tersebut berlaku untuk transaksi yang dilakukan antara Bank dengan Nasabah, maupun Bank dengan Bank, sepanjang Transaksi Valuta Asing terhadap

A: Jumlah Direksi BPRS paling sedikit 2 (dua) orang dan persyaratan untuk menjadi Direksi.. BPRS,

a. GWM Primer sebesar 8% dari DPK dalam rupiah.. GWM LDR sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan selisih antara LDR

di atas tanggal 25 bulan berikutnya 4 Laporan Konsolidasi di atas tanggal 15.