PERTEMUAN KE 3
PRINSIP PERIMBANGAN (HUBUNGAN)
KEUANGAN PUSAT-DAERAH
Per tama, hubungan keuangan har us dapat memasti kan terjadinya distr ibusi kewenangan yang rasional diantara
susunan (ti ngkat) pemer intahan – yakni pemer intah pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota.
Distr ibusi kewenangan ini mencakup kewenangan untuk memperoleh maupun menggunakan (membelanjakan) sumber daya publik.
Meskipun tidak ada kr iter ia yang pasti seberapa jauh
Kedua, sistem per imbangan keuangan pusat-daerah har us bisa memasti kan bahwa pemer intah daerah mendapat bagian
pendanaan yang cukup untuk menjalankan fungsinya, baik fungsi pelayanan maupun pembangunan. Meskipun ti dak mudah
menetapkan berapa dana yang cukup bagi daerah untuk
Ketiga, sistem yang ada har us sejauh mungkin mengupayakan
pemerataan antar daerah. Konsentrasi pembangunan pada daerah ter tentu telah mengakibatkan keter ti nggalan daerah lainnya.
Demikian pula, adanya keti mpangan sumber daya daerah mengakibatkan daerah yang miskin sumber daya hanya dapat member ikan pelayanan publik yang jauh terbelakang jika
dibanding daerah lain yang memiliki sumber daya yang memadai.
Sistem hubungan keuangan yang dikembangkan har us ber usaha memperbaiki keti mpangan ini dan mengutamakan untuk
Yang keempat, pengenaan pajak maupun retr ibusi oleh pemer intah daerah har us mematuhi prinsip distr ibusi total beban pajak yang seimbang bagi masyarakat.
Dalam membayar pajak, masyarakat hanya peduli pada besar nya beban pajak yang har us mereka tanggung.
DANA PERIMBANGAN
Dana per imbangan mer upakan transfer dar i pemer intah pusat kepada daerah yang ber tujuan antara lain untuk mengurangi ketimpangansumber pendanaan antara pemer intah pusat dengan pemer intah daerah, ser ta untuk mengurangi
kesenjangan pendanaan antar berbagai pemer intah daerah.
Dana per imbangan, yang mer upakan bentuk transfer antara pemer intah pusat-daerah, yang terdir i atas:
Dana Bagi Hasil (DBH),
Dana Alokasi Umum (DAU) dan
1 . Dana bagi has il
Dana bagi hasil adalah dana yang mer upakan pendapatan
a. Dana bagi hasil dari pe ne rimaan
pajak
Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak yaitu hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atasTanah dan Bangunan
(BPHTB), dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, PPh Pasal 25 dan 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Pemerintah daerah menerima 90% dana bagi hasil dari penerimaan PBB, yang dibagi sebagai berikut: (i) pemerintah provinsi mener ima 16,2%,
(ii) pemerintah kabupaten/ kota menerima 64,8%, dan (iii) 9% sisanya digunakan sebagai upah pemungutan.
Bagian pemerintah pusat dari PBB (sebesar 10%) pada akhir nya
dibagikan kepada daerah kabupaten/ kota. Enampuluh lima persen dari dana ini dibagi secara merata kepada selur uh kabupaten/ kota,
Berkenaan dengan BPHTB, pemer intah daerah mendapat bagian 80% dar i selur uh pener imaan. Daerah provinsi
mendapat 16%, sementara daerah kabupaten/ kota penghasil mendapat 64% pener imaan BPHTB. Seper ti halnya dalam PBB, bagian pemer intah pusat dari BPHTB (sebesar 20%) pada akhir nya juga dibagikan kepada selur uh
Berkenaan dengan PPh Pasal 21 dan Pasal 25/ 29 W P orang pr ibadi dalam neger i, pemer intah daerah hanya mendapat 20% dari selur uh pener imaan. PPh Pasal 25/ 29 yang
b. Dana bagi hasil dari sumbe r daya
alam
Dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dar i kehutanan, per tambangan umum, per ikanan,
per tambangan minyak bumi, per tambangan gas bumi, dan per tambangan panas bumi.
Pener imaan dar i sektor kehutanan terdir i atas pener imaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), dan Dana Reboisasi. Untuk IHPH dan PSDH, daerah mendapatkan 80% dar i selur uh pener imaan.
Pener imaan per ikanan dilakukan secara nasional (ti dak dikelompokanper daerah).
Delapan puluh per sen dar i pener imaan per ikanan ini dibagikan kepada selur uh daerah kabupaten/ kota. Berkaitan dengan
per tambangan, pemer intah daerah mener ima bagian yang berbeda-beda tergantung kelompok jenis barang yang
ditambang.
Untuk per tambangan umum dan per tambangan panas bumi, pemer intah daerah mendapat 80%.
Untuk per tambangan minyak bumi dan gas bumi, pener imaan yang dibagikan kepada daerah adalah pener imaan yang telah dikurangi dengan komponen pajak dan pungutan lainnya.
2 . Dana alo kas i umum
Dana alokasi umum (DAU) ber tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah. Dengan semangat mengatasi ketimpangan kemampuan keuangan daerah,
a.Ce lah fiskal (fisc al gap)
Pada prinsipnya, DAU untuk suatu daerah ditentukan berdasarkan besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) daerah tersebut.
Celah fiskal adalah selisih antara kebutuhan fiskal (fi scal need,
pengeluaran daerah) dengan kapasitas fi skal daerah (fi scal capacity, kemampuan daerah untuk mendapatkan pendapatan).
Daerah yang potensi fi skalnya besar tetapi kebutuhan fi skalnya kecil akan memperoleh alokasi DAU yang relati f kecil.
Sebaliknya, daerah yang potensi fi skalnya kecil, namun kebutuhan fi skalnya besar akan memperoleh alokasi DAU relati f besar.
Kebutuhan fiskal (fiscal needs) mer upakan kebutuhan pembiayaan daerah untuk melaksanaan fungsi pelayanan umum yang mendasar.
Pelayanan umum yang mendasar antara lain adalah penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan, penyediaan infrastr uktur, dan pengentasan masyarakat dar i kemiskinan.
b. Alo kasi dasar
Selain per timbangan celah fiskal, komponen lain yang dimasukkan dalam DAU adalah alokasi dasar.
Alokasi dasar mer upakan alokasi yang didasarkan pada jumlah gaji pegawai neger i sipil daerah. Jumlah gaji ini mencakup
c . Pe rhitungan DAU
DAU yang akan dibagikan kepada suatu daerah adalah sebesar celah fi skal ditambah dengan alokasi dasar.
Daerah yang memiliki celah fi skal nol, yakni dimana semua kebutuhan pengeluarannya dapat dibiayai dengan kemampuan fi skalnya sendir i (fi scal needs = fi scal capacity), akan
Daerah yang memiliki celah fiskal positif (kebutuhan lebih besar dari kemampuan), akan mener ima DAU sebesar celah fiskal
3 . Dana Alo kas i Khus us
Dana Alokasi Khusus dimaksudkan untuk membantu membiayai
kegiatan-kegiatan khusus di daerah ter tentu yang mer upakan ur usan
daerah dan sesuai dengan pr ior itas nasional. Utamanya, dana alokasi
khusus ini adalah untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana
pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar ter tentu
Berbeda dengan DAU (yang dibagikan kepada hampir semua daerah), DAK hanya diber ikan kepada daerah ter tentu, sesuai dengan kr iter ia yang ditetapkan seti ap tahun. Dengan
demikian ti dak semua daerah mener ima DAK. Daerah yang mener ima DAK wajib menyediakan dana pendamping
sekurang-kurangnya 10% dari jumlah DAK yang
C. PERTIMBANGAN DANA ALOKASI
Dari sisi Pemer intah Pusat, persepsi yang melekat adalah bahwa DAU mer upakan instr umen hor izontal imbalance
Per masalahan lain, adalah berkaitan dengan perhitungan alokasi DAU yang didasarkan atas pendekatan fi scal gap yang sampai tahun in belum bisa dilaksanakan secara opti mal, karena;
• Adanya keterbatasan data,
• Belum adanya Standar Pelayanan Minimum (SPM),
Per ti mbangan lainnya dalam implementasi desentralisasi adalah mengukur derajat desentralisasi atau ti ngkat otonomi fi skal
daerah yang dihitung dari proporsi pener imaan daerah
dibandingkan dengan transfer dar i pemer intah pusat. Namun derajat ini sesungguhnya ti dak member i ar ti apa-apa selama kontrol sumber-sumber penerimaan terletak pada pemerintah pusat. Meskipun bentuk transfer pemer intah pusat terdir i dari block grant yang pengelolaannya diserahkan kepada
pemer intahan daerah (maksimum otonomi). Di lain pihak, tetap ada transfer yang jenis penggunaannya telah ditetapkan oleh
Transfer pembiayaan pembangunan dapat diimplementasikan dengan berbagai variasi atau pola. Transfer ter sebut, baik yang dalam bentuk block grant (DAU) maupun yang sifatnya
Penggunaan for mula member i pedoman yang lebih baik untuk pemanfaatan anggran oleh pemer intah pada seti ap ti ngkatan. For mula ini har us dapat mengedepankan
transparansi dengan menggunakan berbagai kr iter ia yang secara obyekti f sulit untuk dimanipulasi. Berbagai variable yang dapat mewakili adalah:
o Variabel wilayah,
o Var iabel ekonomi,
o Variabel sosial, ser ta
Mekanisme pola transfer ini sehar usnya diupayakan agar dapat dimanfaatkan untuk mendorong kompeti si antara publik dan penyedia swasta, dan pada akhir nya dapat menghasilkan kualitas ser ta efekti fi tas pembiayaan pembangunan.
D. TUJUAN SISTEM PERIMBANGAN
KEUANGAN
Str uktur pembiayaan daerah (local budget) memiliki peran sangat penti ng dalam pelaksana otonomi daerah.
Terdapat beberapa per ubahan dalam komposisi keuangan daerah dalam sistem desentralisasi.
Secara teoretik Negara yang melaksanakan desentralisasi
1 . Ke c ukupan Pe ndapatan
Tujuan dar i kecukupan pendapatan adalah seti ap ti ngkatan
pemer intahan diharapkan memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat kecukupan pembiayaan untuk melaksanakan sejumlah kewenangan dasar yang dimilikinya, yang sesungguhnya sangat sulit untuk mencapai kesesuaian antara kewenangan dengan kemampuan pembiayaan.
2 . Ke adilan dalam Pe mbagian
Keadilan dan distribusi yang baik mer upakan salah satu tujuan yang ingin dicapai antar wilayah maupun antar personal.
Kesempatan yang sama untuk seti ap individu untuk memperoleh akses terhadap pelayanan dasar mer upakan tanggung jawab pemerintah.
Dalam ar ti an seti ap pemerintahan seyogyanya dapat menjamin ketersediaan akses tersebut.
Keadilan antar daerah ini dibatasi oleh kenyataan bahwa setiap daerah memiliki kemampuan sumber daya maupun kebutuhan yang berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya, sesuai dengan kondisi dan karakteristi k daerah masing masing.
3 . Efi s ie ns i
Keti ka preferensi penduduk antar daerah berbeda, maka
pemer intah daerah sehar usnya dapat melaksanakan pelayanan publik sesuai dengan preferensi masyarakatnya.
Transfer dana antar pemer intah (dana per imbangan)
Untuk distr ibution of income yang lebih baik, maka tugas desentralisasi yang dibiayai melalui APBD har us lebih
ditingkatkan, dengan cara melakukan penataan kembali sumber-sumber pembiayaan, menghindar i penumpukan sumber-sumber-sumber-sumber keuangan yang gemuk hanya untuk pemer intah pusat (seper ti PPN dan PPH) dengan menyisakan sumbersumber yang sangat kur us untuk pajak daerah.
Selain itu sehar usnya diupayakan pengurangan dana
Dalam implementasi desentralisasi perlu dihindari kemungkinan keti mpangan khususnya bagi daerah-daerah yang ti dak memiliki SDA, di mana fungsi pemer intah khususnya dalam menjaga
distr ibusi pendapatan dan stabilisasi cender ung mer upakan tanggung jawab pemer intah pusat.
Hal ter sebut dapat diatasi dengan penjabaran kewenangan dan pengelolaan keuangan (aspek pener imaan dan pengeluaran) yang lebih baik.
Namun hingga kini penjabaran dalam bentuk peraturan pemer intah agak sulit dibuat oleh karena kemauan politik
otonomi daerah. Jika masalahnya adalah rendahnya pelayanan publik dan atau infrastr uktur di pedesaan yang menyebabkan
pembangunan masyarakat sangat lambat dan akhir nya pendapatan perkapita rendah, maka sebaiknya pada daerah kabupaten.
Tetapi jika kemampuan keuangan sangat terbatas untuk
Dalam kaitan dengan pembiayaan untuk menetapkan
per imbangan keuangan antara Pusat dan Daerah, ada beberapa variabel yang dapat digunakan antara lain:
• kebutuhan daerah,
• tingkat pendapatan masyarakat atau indeks kemiskinan,
• keadaan geografis, presentase jumlah penduduk yang tidak mampu,
• luas wilayah, ti ngkat pendidikan,
Variabel-var iabel ter sebut perlu menggambarkan kondisi obyekti f daerah dengan variasi yang cukup besar.
Namun yang lebih penti ng adalah strategi dalam per umusan for mula ter sebut.
For mula ini seyogyanya disusun ber sama oleh daerah-daerah dengan prinsip kesetaraan (par ti sipasi) sehingga hasilnya
Dana per imbangan ter sebut tetap didasarkan pada fungsi
desentralisasi, yaitu dekonsentrasi, perbantuan dan desentralisasi. Selain itu, untuk menyelesaikan per soalan realokasi, regulasi,
redistr ibusi, maka hal ter sebut mer upakan tugas pemer intah daerah.
Dalam kaitan ini, isi/ mater i peraturan pemer intah yang
mendukung UU No. 33 tahun 2004 akan sangat menentukan.
Dalam Pasal yang berkaitan dengan sumber daya memungkinkan adanya kesenjangan antar daerah dalam sumber ‘ Bagian Daerah” (PBB, BPHTB dan SDA) karena akan sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Oleh karena itu desentralisasi bukan
sekadar penekanan pada pemer intah daerah
saja, tetapi bagaimana mendorong agar
terjadi penyeimbangan antara pemerintah
daerah dan pelaku ekonomi (swasta),
sehingga pengembangan dan pemanfaatan
SDM dan sumber daya budaya dapat
Undang-undang juga telah member ikan batas bawah, yaitu sekurangkurangnya 26 %.
Hal ini member i jaminan minimum bahwa terdapat kemauan politi k pemer intah untuk melaksankan desentralisasi.
Derajat desentralisasi yang dilaksanakan oleh pemer intah
Sesungguhnya pembagian dengan jumlah atau presentase seper ti itu amat tergesa-gesa.
Pembagian tersebut seyogyanya ti dak didasarkan pada angka-angka saja, tetapi pada pola pendekatan yang digunakan, apakah dengan
pendekatan kebutuhan atau pendekatan lainnya karena otonomi daerah bukan sekadar melibatkan pembagian, tetapi lebih dari itu.
Yang lebih penting lagi adalah, otonomi daerah tidak seyogyanya hanya dilihat dar i sisi SDA, tetapi kemungkinan daya cipta dan kreasi
masyarakat lokal yang justru lebih menentukan masa depan bangsa. Hal ini didasari oleh pemikiran kecenderungan masa depan yang lebih berbasis sumber daya buatan dan kemampuan daya cipta keti mbang SDA.
Kemungkinan pemerintah pusat mengalami persoalan teknis
Pada hakekatnya, jika desentralisasi atau otonomi daerah
dilaksanakan secara penuh, maka semua daerah sudah menjadi isti mewa, karena telah mengakui keragaman daerah dalam budaya dan agama.
Dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah adanya fungsi dan kewenangan masingmasing pemer intahan agar desentralisasi ter sebut bisa dilaksanakan, diper tanggung jawabkan dan
dikontrol.
Walaupun terdapat dana per imbangan yang terdir i dar i DAU dan DAK, tetapi hal ter sebut sangat ditentukan oleh sejauh mana
‘ for mula’ yang digunakan mencer minkan war na daerah, keadilan, dan pemerataan.
Dalam jangka pendek or ientasi pengelolaan keuangan yang selama ini diti ti k beratkan pada sisi pener imaan seyogyanya mengalami per ubahan dengan or ientasi sikap penyeimbangan antara kemampuan manajemen sisi penerimaan dengan sisi pengeluaran atau alokasi dana pembangunan secara opti mal (Pareto optimal har us dapat dicapai).
Dalam jangka pendek or ientasi pengelolaan keuangan yang selama ini dititik beratkan pada sisi penerimaan seyogyanya mengalami per ubahan dengan or ientasi sikap penyeimbangan antara kemampuan manajemen sisi penerimaan dengan sisi pengeluaran atau alokasi dana pembangunan secara optimal (Pareto opti mal har us dapat dicapai).
Mengembangkan berbagai insti tusi lokal yang sesuai dengan karakter masyarakat, mencakup pula insti tusi pajak dengan member i keluwesan pada daerah untuk mengembangkan jenis pajak yang potensial dan sesuai karakter istik kehidupan
ekonomi wilayah tanpa menimbulkan distor si dalam perekonomian daerah maupun nasional.
Pada saat yang sama fungsi pengawasan seper ti yang telah
dituangkan dalam UU No. 32 har us diimplementasikan dengan baik, dengan memfungsikan DPRD, dan lembaga-lembaga
Peletakkan otonomi pada ti ngkatan pemer intahan ter tentu sebaiknya ti dak hanya dilihat dari aspek dekonsentrasi,
perbantuan dan devolusi, akan tetapi seyogyanya dilihat dar i aspek yang lebih kompleks menyangkut aspek politik,
administrasi, dan elemen fiskal.
Keuntungan otonomi ter sebut tergantung kepada manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat, antara lain peningkatan akses terhadap berbagai pelayanan publik di mana pelayanan publik ter sebut menjadi efisien dan efektif.
Keuntungan jika otonomi pada ti ngkat kabupaten adalah pelayanan akan lebih dekat dan pemer intah kabupaten lebih memahami kebutuhan masyarakat.
Str uktur pemer intahan yang desentralistik lebih efisien sehingga sangat kondusif untuk mendorong per tumbuhan ekonomi.
Namun sejumlah hasil peneliti an sebelumnuya telah
menunjukkan bahwa ada gejala desentralisasi mengganggu perdagangan domesti k antar daerah menunjukkan bahwa
desentralisasi akan berdampak negatif pada pembangunan jika otonomi diletakkan pada ti ngkat propinsi (Justi n Lin, 1997).
Dar i per timbangan ini dapat ditar ik kesimpulan bahwa, aspek akuntabilitas suatu pemer intahan kepada masyarakatnya yang menentukan apakah otonomi itu akan berhasil (baik pada
pemer intahan propinsi maupun kabupaten).
Di samping itu, akuntabilitas sangat ditentukan oleh kuatnya legiti masi pemer intahan ter sebut atau antar pulau, dengan
implementasi kebijakan fi skal daerah yang salah, utamanya dari sisi kebijakan pengembangan pendapatan asli daerah dengan
jangka menengah penguatan staf dan middle-manager, khususnya dalam bidang perencanaan dan keuangan perlu mendapat
perhatian.
Kesesuaian keahlian dengan bidang tugas dalam pemer intahan sudah har us dibenahi agar profesionalisme dapat tercapai yang pada akhir nya akan menciptakan efisiensi dan efekti vitas.
Dalam jangka panjang desentralisasi administrasi, politik dan fiskal diharapkan dapat mendorong desentralisasi pasar melalui
pengembangan jar ingan infrastr uktur yang mendorong
Secara keselur uhan, dapat dikatakan bahwa desentralisasi akan sangat ber manfaat karena menawarkan alter natif cara untuk mendorong pembangunan.
Dengan demikian, desentralisasi seyogyanya dilihat dari dimensi efisiensi dan efektivitas, bukan hanya dar i dimensi politik dan kemampuan dalam menyediakan pelayanan terhadap masyarakat.
Beberapa hal dapat diper ti mbangkan dalam implementasi desentralisasi, antara lain: kemampuan untuk meningkatkan akses dan par ti sipasi masyarakat dalam pembangunan, kualitas, efi siensi dan kemampuan untuk membiayai pembangunan.
Desentralisasi pembangunan ter sebut membutuhkan sumber pembiayaan (fiskal) yang terdesentralisasi untuk menutupi pembiayaan penyediaan dan pelayanan publik pada daerah kota dan kabupaten.
Tiga sumber utama pembiayaan adalah sumber PAD, dana
per imbangan dan pinjaman.
Dibutuhkan refor masi model per pajakan yang ada selama ini guna memperkuat potensi penerimaan daerah, seper ti
dengan melakukan ‘ piggy backing’ untuk pph dan PBB