• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-06/BC/2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-06/BC/2007"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

Jalan Jenderal Ahmad Yani Telepon 4890308 Jakarta 13230 Faximile 4897928

Kotak Pos 108 Jakarta 10002 Website www.beacukai.go.id

Yth. Para Kepala Kantor Pelayanan

di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

SURAT EDARAN

Nomor: SE- 06 /BC/2007

TENTANG

PENUNJUKAN PEJABAT PEMERIKSA BARANG DALAM RANGKA PELAKSANAAN PEMERIKSAAN FISIK BARANG

Sehubungan dengan peningkatan pelayanan kepabeanan terutama dalam pelaksanaan pemeriksaan fisik barang, dengan ini disampaikan tata cara penunjukan Pejabat Pemeriksa Barang sebagai berikut.

1. Penunjukan Pejabat Pemeriksa Barang dilakukan oleh Sistem Aplikasi Pelayanan Kepabeanan (bagi Kantor Pelayanan yang telah menerapkan PDE Kepabeanan) atau Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai berdasarkan :

a. kesiapan Pejabat Pemeriksa Barang untuk melakukan pemeriksaan fisik, dan

b. kesiapan barang untuk dilakukan pemeriksaan fisik.

2. Penunjukan Pejabat Pemeriksa Barang dilakukan sesuai urutan kesiapan Pejabat Pemeriksa Barang untuk melakukan pemeriksaan fisik, dengan katentuan:

a. Pejabat Pemeriksa Barang yang telah siap untuk melakukan pemeriksaan fisik menyatakan ”siap” dengan mengisikan nama dan menekan tombol/menu ”siap”

pada Aplikasi Pelayanan Kepabeanan di ruang kerja (standby room) Pejabat

Pemeriksa Barang;

b. Aplikasi Pelayanan Kepabeanan memberikan nomor urut kepada pemilik barang atau kuasanya yang telah melaporkan bahwa barang telah siap untuk dilakukan

pemeriksaan fisik dengan menyerahkan hardcopy Pemberitahuan Impor Barang

(PIB) dan dokumen pelengkap pabean kepada Pejabat Penerima Dokumen di loket

penerimaan dokumen di ruang kerja (standby room) Pejabat Pemeriksa Barang

(sesuai urutan laporan kesiapan untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang);

c. Aplikasi Pelayanan Kepabenan menunjuk Pejabat Pemeriksa Barang yang telah ”siap” sesuai urutan;

d. Pejabat Pemeriksa Barang yang telah ditunjuk melakukan pemeriksaan fisik, oleh Aplikasi Pelayanan Kepabeanan dinyatakan ”Sedang Bekerja”;

e. Pejabat Pemeriksa Barang yang telah selesai melakukan pemeriksaan fisik harus

segera kembali ke ruang kerja (standby room) untuk melakukan perekaman Laporan

Hasil Pemeriksaan (LHP);

f. Setelah selesai melakukan perekaman LHP, Pejabat Pemeriksa Barang menyatakan ”siap” dengan tata cara sebagaimana huruf a di atas.

g. Aplikasi akan melakukan penunjukan kepada Pejabat Pemeriksa Barang yang bersangkutan untuk melakukan pemeriksaan berikutnya.

3. Pejabat Pemeriksa Barang yang meninggalkan ruang kerja (standby room) untuk

kepentingan lain selain pemeriksaan fisik barang dengan izin Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai atau karena telah selesai jam kerja, sebelum meninggalkan ruang kerja

(standby room) tersebut mengisikan nama dan menekan tombol/menu ”tidak di tempat”

(2)

4. Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai melakukan pembinaan, evaluasi dan melaporkan secara berkala kinerja Pejabat Pemeriksa Fisik dengan mendasarkan pada beberapa aspek-aspek pemeriksaan yaitu:

a. Lama pemeriksaan fisik barang;

b. Kemampuan pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan fisik sebagaimana dituangkan dalam LHP (salah satu indikator yang dapat dipakai adalah seringnya LHP dikembalikan oleh PFPD untuk dilakukan pemeriksaan ulang)

c. Keluhan importir/kuasanya/pengusaha TPS atas pemeriksaan fisik barang impor;

d. Kendala pemeriksaan fisik barang;

e. Keterangan lain yang dianggap perlu.

5. Dalam hal Kantor Pelayanan telah menerapkan PDE Kepabeanan, namun aplikasi penunjukan pemeriksa tidak siap/tersedia, penunjukan pemeriksa fisik barang dilakukan secara manual oleh Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai dengan tata cara penunjukan sebagaimana diatur pada butir 2 dengan format penunjukan sebagaimana Lampiran Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini;

6. Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai melaporkan kegiatan sebagaimana dimaksud pada butir 5 kepada kepala Kantor Pelayanan setiap hari;

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 05 April 2007

Direktur Jenderal,

ttd.

Anwar Suprijadi NIP 120050332

Tembusan :

1. Sekretaris, Para Direktur, dan Tenaga Pengkaji; 2. Para Kepala Kantor Wilayah

(3)

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDINESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ...

LEMBAR PENUNJUKAN PEMERIKSA BARANG

Tanggal : …./…./200..

Jumlah Kemasan

Kontainer Non

Kontainer

No Nama/

NIP Pemeriksa No/Tgl PIB Nama Importir

40 20

Jumlah/jenis Barang

Tgl/jam Siap

Tgl/jam

Selesai Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

dst.

………..., ..../.../200.. Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai

... NIP.

DIREKTUR JENDERAL ,

ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

Referensi

Dokumen terkait

Sejak PMK 99/PMK.011/2010 diundangkan, Kepala Kantor dapat menetapkan kembali Keputusan Penetapan Tarif Cukai dari sebelumnya Rp65 per batang menjadi Rp50 per batang yang

Sehubungan dengan telah diberlakukannya penerapan secara penuh (mandatory) portal INSW di beberapa Kantor Pabean dan untuk memberikan keseragaman pelayanan terkait

Sekretaris Direktorat Jenderal atau Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai (pejabat yang berwenang membentuk Komisi Kode Etik) dapat mempertimbangkan proses penyelesaian atas

Terhitung mulai tanggal 2 Juli 2007, pita cukai untuk pengusaha pabrik yang jumlah produksi hasil tembakau tahun 2006 sampai dengan 100.000.000 (seratus juta) batang dan/atau

Memastikan agar penyerahan pita cukai berdasarkan dokumen pemesanan pita cukai, diserahterimakan oleh petugas Bea dan Cukai kepada pengusaha Hasil Tembakau / pihak yang

Sebagai konsekuensi suatu institusi yang menjadi bagian dari lingkungan internasional, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) berhubungan dengan organisasi / lembaga

Dalam angka 1 butir 1.3 Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor SE- 27/BC/2006 disebutkan bahwa pembayaran biaya pengganti dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran

a) tanggal 1 Maret 2007, saldo penundaan pada buku catatan penundaan Pabrik ”PR. b) tanggal 1 Juli 2007, saldo penundaan pada buku catatan penundaan Pabrik ”PR. 4) Masa