• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-17/BC/2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-17/BC/2008"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

Jalan Jenderal A. Yani By Pass Telepon 4890308 Jakarta 13230 Faksimili 4897544 Kotak Pos 108 Jakarta 10002 Website www.beacukai.go.id

25 Maret 2008 Yth. 1. Direktur Audit;

2. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

3. Para Kepala Kantor Pelayanan Utama Direktorat Jenderal Bea

dan Cukai

SURAT EDARAN Nomor : SE- 17 /BC/2008

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN PENENTUAN OBYEK AUDIT

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Bea

dan Cukai Nomor P-36/BC/2007 tentang Tatalaksana Audit Kepabeanan dan Keputusan

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-12/BC/2000 tentang Tatalaksana Audit Di Bidang

Kepabeanan dan cukai, maka dipandang perlu untuk memberikan petunjuk tentang Penentuan

Obyek Audit sebagai berikut:

1. Dalam menentukan obyek audit, Direktur Audit, Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Kantor

Pelayanan Utama agar menerapkan manajemen risiko.

2. Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada butir 1 di atas diterapkan dalam rangka

penuyusunan Daftar Rencana Obyek Audit (DROA) maupun penentuan obyek audit secara

sewaktu-waktu.

3. Dalam menerapkan manajemen risiko agar mempertimbangkan:

a. Profil auditte;

b. Riwayat / record audit seperti:

1) belum pernah diudit;

2) hasil audit terdahulu; dan/atau

3) periode yang belum diaudit;

c. Nilai fasilitas kepabeanan dan cukai;

d. Nilai pungutan negara;

e. Barang-barang yang terkena Pajak Ekspor;

f. Klasifikasi dan pembebanan atau tarif cukai;

g. Frekuensi impor atau ekspor;

h. Strata produksi Barang Kena Cukai;

i. Frekuensi pemesanan pita cukai; dan

j. Informasi/intelijen seperti (jika ada):

1) Under-valuation;

2) Over-valuation;

3) Misclassification;

4) Partial (separate) payment;

5) Terdapat assist, proceed dan royalty; dan/atau

(2)

4. Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada butir 3 di atas juga dapat

mempertimbangkan:

a. Informasi komoditi yang ditetapkan sebagai komoditi rawan atau berisiko tinggi;

b. Negara asal yang berisiko;

c. Eksistensi perusahaan yang meragukan;

d. Nature of business perusahaan tidak jelas;

e. Barang larangan dan pembatasan;

f. Tarif preferensial dan tarif diskriminatif (antidumping, safeguard, pembalasan, imbalan);

g. Topik kepabeanan dan cukai yang menjadi perhatian nasional; dan/atau

h. Jalur pengeluaran barang.

5. Apabila variabel-variabel di atas belum mencukupi untuk kebutuhan analisa, dapat ditambah

variabel-variabel lain sesuai dengan karakteristik atau jenis obyek audit.

6. Untuk keperluan analisis manajemen risiko dalam penentuan obyek audit, Direktur Audit,

Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Kantor Pelayanan Utama agar:

a. melakukan profiling data obyek audit yang berada di wilayah kerja masing-masing,

serta melakukan pemutakhiran data dimaksud setiap terjadi perubahan;

b. meminta data-data kegiatan kepabeanan dan cukai kepada Kantor Pengawasan dan

Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) di wilayah pengawasannya; atau

c. meminta data atau informasi dari Direktorat di lingkungan Kantor Pusat Direktorat

Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Kantor Wilayah DJBC lainnya, instansi teknis terkait

atau masyarakat.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal Maret 2008

Direktur Jenderal,

ttd,-

Anwar Suprijadi NIP 120050332

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Sejak PMK 99/PMK.011/2010 diundangkan, Kepala Kantor dapat menetapkan kembali Keputusan Penetapan Tarif Cukai dari sebelumnya Rp65 per batang menjadi Rp50 per batang yang

Sehubungan dengan telah diberlakukannya penerapan secara penuh (mandatory) portal INSW di beberapa Kantor Pabean dan untuk memberikan keseragaman pelayanan terkait

Perhitungan penetapan kembali tarif cukai atas masing-masing merek hasil tembakau yang HJE-nya masih berlaku dilakukan oleh Kepala Kantor tanpa permohonan dari Pengusaha Pabrik

Meningkatkan pelayanan impor dan ekspor, terutama terkait dengan kelancaran arus barang yang berhubungan dengan persiapan Hari Raya Idhul Fitri 1429 H.. Peningkatan

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK.05/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.04/2005 dan Keputusan Direktur

Sejalan dengan hal tersebut diatas, dengan ini diminta seluruh kantor Bea dan Cukai yang tidak secara langsung melakukan pengawasan GB namun berfungsi sebagai tempat

2.) Berdasarkan hasil audit yang telah dilaksanakan, merekomendasikan pembekuan dan tindakan pengamanan keuangan negara lainnya kepada KPPBC. Terhadap TPB yang sedang menjalani

Untuk mendapatkan pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan/atau Bunga, Pihak yang berhak harus mengajukan surat permohonan bermaterai kepada Kepala KPBC tempat pendaftaran