TRANSAKSI SYARIAH BPR
Agenda
Prinsip Syariah
1.
KPLK dan Penyajian LK
2.
Penyajian LK
3.
Pelaporan BPR
4.
Transaksi Syariah BPR
5.
2
Prinsip Sistem Keuangan
Syariah
1. Pelarangan Riba
2. Pembagian Risiko
3. Tidak menganggap Uang sebagai modal
potensial
4. Larangan melakukan kegiatan spekulatif
5. Kesucian Kontrak
Transaksi Syariah
• Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas umat manusia yang berisi perintah dan larangan,
baik yang menyangkut hubungan interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal dengan sesama
makhluk.
• Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah (transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder entitas yang melakukan transaksi syariah.
• Azas Transaksi Syariah
– Prinsip persaudaraan (ukhuwah);
– Prinsip keadilan (‘adalah);
– Prinsip kemaslahatan (maslahah);
– Prinsip keseimbangan (tawazun);
Karakteristik Transaksi
Syariah
• transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha;
• prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik (thayib);
• uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas;
• tidak mengandung unsur riba; kezaliman; maysir; gharar; haram;
• tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money)
– karena keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi (no gain without accompanying risk);
• transaksi dilakukan berdasarkan :
– suatu perjanjian yang jelas dan benar;
– untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain
– tidak diperkenankan menggunakan standar ganda harga untuk satu akad
PSAK Syariah
•
PSAK 101 (Penyajian Laporan Keuangan
Syariah)
•
PSAK 102 (Akuntansi Murabahah) Revisi
2013
•
PSAK 103 (Akuntansi Salam)
•
PSAK 104 (Akuntansi Istishna)
•
PSAK 105 (Akuntansi Mudharabah)
•
PSAK 106 (Akuntansi Musyarakah)
•
PSAK 107 (Akuntansi Ijarah)
•
PSAK 108 (Akuntansi Transaksi Asuransi
Syariah)
•
PSAK 109 Akuntansi Zakat, Infaq dan
Al Islam
sebuah
pedoman
hidup
dan
berkehidupan
yang
dikeluarkan
langsung oleh Allah SWT, Pencipta,
Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa
tunggal alam semesta, agar manusia
tunduk, patuh, dan pasrah kepada
ketentuan-NYA agar dapat meraih
derajat kehidupan lebih tinggi yaitu
kedamaian,
kesejahteraan
dan
Hukum Islam
• secara istilah disebut juga hukum syara’ adalah
hukum Allah yang mengatur perbuatan manusia
yang didalamnya mengandung tuntutan untuk
dikerjakan
oleh
para
mukallaf
atau
ditinggalkannya atau yang mengandung pilihan
antara dikerjakan dan ditinggalkannya.
Maqashidus Syariah Memelihara Agama Memelihara Jiwa Memelihara Keturunan Memelihara Akal Memelihara Harta
Secara Filosofi , Seluruh kegiatan harus Sesuai Dengan Maqashidus
Syariah
Muamalah Ibadah Hak
Maqashidus Syariah Memelihara Agama Memelihara Jiwa Memelihara Keturunan Memelihara Akal Memelihara Harta
Secara Filosofi , Seluruh kegiatan Sesuai Dengan Maqashidus
Syariah
Yang Harus Dihindari
Prinsip Sistem Keuangan
Syariah
1. Pelarangan Riba
2. Pembagian Risiko
3. Tidak menganggap Uang sebagai
modal potensial
4. Larangan melakukan kegiatan
spekulatif
5. Kesucian Kontrak
Instrumen Keuangan Syariah
1. AKAD INVESTASI (NUC) - mudharabah
- musyarakah - sukuk
- saham syari’ah
2. AKAD INVESTASI (NCC) - murabahah
- salam - istishna’
3.
AKAD LAINNYA
- sharf
- wadiah
- qardhul hasan
- wakalah
KERANGKA DASAR PENYUSUNAN
DAN PENYAJIAN
LAPORAN KEUANGAN SYARIAH
(KDP2LKS)
TUJUAN KERANGKA DASAR
PARADIGMA TRANSAKSI SYARIAH
16
Al-Falah
(Kesejahteraan Hakiki secara material dan spiritual) Alam semesta Amana h Sarana Pencapaia n Akuntabilitas manusia: Syariah dan akhlaq sebagai indikator baik/buruk – benar/salah suatu usaha Terbentuk integritas -> GCG & Market
ASAS TRANSAKSI SYARIAH
KARAKTERISTIK TRANSAKSI
SYARIAH
Transaksi hanya
dilakukan berdasarkan
prinsip
saling
• Semua aktifitas bisnis terkait
dengan barang dan jasa yang diharamkan Allah
• Riba
• Penipuan • Perjudian • Gharar
• Penimbunan Barang/Ihtikar • Monopoli
• Rekayasa Permintaan (Bai’ An
najsy)
• Suap (Risywah)
• Ta’alluq
• Bai’ al inah
• Talaqqi al-Rukban
19
20
Bangun Prinsip Akuntansi Syariah
21
ACUAN PENYUSUNAN LAPORAN
KEUANGAN SYARIAH
• Peraturan Bank Indonesia
• SAK
– KDPPLKS
– PSAK Syariah
– KDPPLK dan PSAK Lainnya (sepanjang tak bertentangan dengan prinsip syariah)
• Accounting, Auditing and Governance Standards
for Islamic Financial Institutions—AAOIFI
• IAS dan SFAS sepanjang tak bertentangan
dengan prinsip syariah
• Peraturan perundang-undangan yang relevan • Prinsip akuntansi berlaku umum lainnya yang
tak bertentangan dengan prinsip syariah
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH
•
Pengambilan putusan investasi dan
pembiayaan
•
Menilai prospek arus kas
•
Memberikan informasi atas sumber daya
ekonomi
•
Memberikan informasi kepatuhan LKS
terhadap prinsip syariah
•
Memberikan informasi mengenai
zakat
•
Memberikan informasi
pemenuhan fungsi
sosial LKS
ASUMSI DASAR LAPORAN KEUANGAN SYARIAH
•
Dasar Akrual
kecuali untuk perhitungan bagi hasil
•
Kelangsungan Usaha
KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN
KEUANGAN SYARIAH
UNSUR-UNSUR LAPORAN KEUANGAN
SYARIAH
• Laporan Perubahan Investasi Terikat
26
• Lap Posisi Keuangan (Neraca) • Laporan Laba Rugi Komprehensif
• Laporan Perubahan Ekuitas • Laporan Arus Kas
Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana ZIS
Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Qardh LKS: Investor Manajer Inv. LKS: Agen Investasi LKS: Pengemban Fungsi Sosial
Catatan atas Laporan Keuangan
Mencerminkan kegiatan
komersial
Mencerminkan kegiatan sosial
NERACA
per 31 Des 200x
ASET
•
KEWAJIBAN
•
DANA SYIRKAH
TEMPORER
•
EKUITAS
27
adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lainnya dimana entitas syariah
mempunyai hak untuk mengelola dan
menginvestasikan dana
ASET
28
Kas
Penempatan pada BI
Giro pada bank lain
Penempatan pada bank
lain
Investasi pada Surat
Berharga
Piutang
Piutang murabahah Piutang Salam
Piutang istishna Piutang Ijarah
Pinjaman Qardh
Pembiayaan /Investasi
Pembiayaan Mudharabah Pembiayaan Musyarakah
Persediaan
Aset yang dibeli untuk
Ijarah
Aset Istisna’ Dalam
Penyelesaian.
Penyertaan pada entitas
lain
Aset Tetap dan Akumulasi
Penyusutan.
Aset Pajak Tangguhan
KEWAJIBAN, DANA SYIRKAH TEMPORER DAN
EKUITAS
29
KEWAJIBAN
Kewajiban Segera
Bagi Hasil yang Belum Dibagikan Simpanan
Giro Wadiah
Tabungan Wadiah Simpanan Dari Bank Lain
Giro Wadiah
Tabungan Wadiah Kewajiban Lain:
Utang Salam Utang Istishna
Kewajiban Kepada Bank Lain Pembiayaan Yang Diterima
Hutang pajak
Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi Penjaman Yang Diterima
Kewajiban Lainnya Pinjaman Subordinasi
DANA SYIRKAH TEMPORER
Dari Bukan Bank
Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah
Dari Bank
Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah
Musyarakah
EKUITAS
Modal disetor Tambahan modal Saldo Laba/Rugi
ASET LANCAR LIABILITAS LANCAR
LAPORAN POSISI KEUANGAN
LABA RUGI KOMPREHENSIF
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
untuk periode yang berakhir 31 desember 20x2 dan 20X1
POS-POS 20X2 20X1
PENDAPATAN
Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib:
Pendapatan jual beli
• Pendapatan marjin murabahah XXX XXX
• Pendapatan bersih salam XXX XXX
• Pendapatan bersih istisna’ XXX XXX Pendapatan sewa bersih
• Pendapatan bersih ijarah XXX XXX Pendapatan bagi hasil
• Pendapatan bagi hasil mudharabah XXX XXX
• Pendapatan bagi hasil musyarakah XXX XXX Pendapatan usaha utama lainnya XXX XXX
Jumlah Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
untuk periode yang berakhir 31 Desember 20X2 dan 20X1 – CONT’D
POS-POS 20X2 20X1
Jumlah Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib
XXX XXX
HAK PIHAK KETIGA ATAS BAGI HASIL (XXX) (XXX)
Hak bagi hasil milik bank XXX XXX
PENDAPATAN USAHA LAINNYA:
• Pendapatan imbalan jasa perbankan XXX XXX
• Pendapatan imbalan investasi terikat XXX XXX
BEBAN USAHA (XXX) (XXX)
LABA (RUGI) USAHA XXX XXX
PENDAPATAN DAN (BEBAN) NON USAHA XXX XXX
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK XXX XXX
BEBAN PAJAK (XXX) (XXX)
ZAKAT* (XXX) (XXX)
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
untuk periode yang berakhir 31 Desember 20X2 dan 20X1 – CONT’D
POS-POS 20X2 20X1
LABA (RUGI) BERSIH PERIODE BERJALAN XXX XXX
Pendapatan Komprehensif Lain
Surplus revaluasi aset tetap XXX XXX
Keuntungan aktuarial XXX XXX
Keuntungan penjabaran laporan keuangan XXX XXX
Jumlah pendapatan komprehensif lain XXX XXX
Laba Komprehensif (XXX) (XXX)
Laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada:
Pemilik entitas induk
Ringkasan Laporan Laba Rugi
36
Pendapatan pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib
20X2 20X1
• Pendapatan dari Jual Beli • Pendapatan dari Sewa
• Pendapatan dari Bagi Hasil
• Pendapatan Usaha Utama Lainnya
XXX XXX XXX XXX XXX XXX XXX XXX
TOTAL XXX XXX
HAK PIHAK KETIGA ATAS BAGI HASIL DST (XXX) (XXX) PENDAPATAN USAHA LAINNYA XXX XXX BEBAN USAHA (XXX) (XXX) PENDAPATAN NON USAHA XXX XXX BEBAN NON USAHA (XXX) (XXX)
ZAKAT (XXX) (XXX)
Laporan Perubahan Investasi Terikat
(Mudharabah Muqayyadah)
• Unsur Laporan Perubahan Investasi Terikat:
– saldo investasi terikat pada tanggal laporan;
– penyetoran dan penarikan dana oleh pemilik investasi;
– hasil investasi sebelum dikurangi bagian manajer investasi; dan
– jasa agen investasi.
• Jika LKS sebagai manajer investasi:
– untung, dibagi sesuai nisbah
– rugi, LKS tidak memperoleh imbalan
• Jika LKS sebagai agen investasi:
– imbalan sebesar jumlah yang disepakati tanpa memperhatikan hasil investasi.
• CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Pengungkapan Dana Investasi Terikat
• Periode yang dicakup
• Saldo awal, keuntungan (kerugian), dan saldo
akhir
• Sifat hubungan LKS dan pemilik dana:
– Mudharib
– Agen investasi
• Hak dan kewajiban terkait dengan jenis dana
investasi terikat
Contoh Laporan Perubahan Dana
Investasi Terikat
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
41
LAPORAN ARUS KAS
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan untuk Bagi Hasil kepada Nasabah penghimpun dana
42
PENDAPATAN USAHA UTAMA (Akrual) PENGURANG
• Pendapatan Periode Berjalan yang Kas/Setara Kasnya Belum Dierima • Pendapatan Margin Murabahah
• Pendapatan Istishna • Hak Bagi Hasil:
• Pembiayaan Mudharabah • Pembiayaan Musyarakah • Pendapatan Sewa
(XXX) (XXX) (XXX) (XXX) (XXX) TOTAL (XXX) XXX PENAMBAH
• Pendapatan periode sebelumnya yang kasnya diterima pada
periode berjalan:
• Penerimaan pelunasan piutang: • Margin Murabahah
• Istishna
• Pendapatan Sewa
• Penerimaan piutang bagi hasil: • Pembiayaan Mudharabah • Pembiayaan Musyarakah
XXX XXX XXX XXX XXX TOTAL XXX
Contoh Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Zakat
Contoh Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Kebajikan
CATATAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN
Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan:
• informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterap-kan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;
• informasi yang diwajibkan dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas; Laporan Perubahan Ekuitas; Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat; dan Laporan Penggunaan Dana Kebajikan;
• informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
CATATAN LAPORAN KEUANGAN
CATATAN LAPORAN KEUANGAN
CATATAN LAPORAN KEUANGAN
Pengakuan Unsur-unsur Laporan
Keuangan LKS
Pengakuan Unsur-unsur Laporan
Keuangan LKS
51
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
PERBANDINGAN PSAK 101 dan PSAK 101 Revisi 2011
Akuntansi Murabahah
Definisi Murabahah
Menurut PSAK No. 102 par 5.
•
Akad jual-beli barang
•
Harga jual: biaya perolehan +
keuntungan
•
Harga perolehan harus diungkapkan
ILLUSTRASI
Murabahah
•
Berdasarkan pesanan
- terikat: pembeli tidak dapat
membatalkan pesanan
- tidak terikat
Pembayaran
Akuntansi untuk Penjual
•
Aset murabahah diakui sebesar
harga perolehan
•
Denda dicatat sebagai hutang, bukan
pendapatan
•
Pada saat penyerahan, piutang
dicatat sebesar harga jual yang
disepakati
•
Harga jual - harga perolehan =
Pengakuan Pendapatan
•
Dilakukan saat barang diserahkan ke
pembeli jika:
- tunai
- cicilan tidak lebih dari 1 tahun
•
Ditangguhkan menunggu sampai
Akuntansi untuk Pembeli
•
Utang murabahah diakui sebesar harga
beli yang disepakati
•
Aset yang diperoleh diakui sebesar
biaya perolehan
•
Utang murabahah – Aset = beban
tangguhan yang akan diamortisasi
•
Diskon setelah akad mengurangi beban
tangguhan
Akuntansi Murabahah
Tanggal Transaksi Pihak Pembeli Pihak Penjual
1 Maret 2009 Pembeli mendatangi Bank/Perusahaan (Penjual) untuk membeli motor Honda Revo dari Bank/Perusahaan.
Penyelesaian Piutang Bermasalah
•
Pembeli mengalami penurunan
3 Opsi Penyelesaian Piutang Bermasalah
•
Memberi potongan tagihan (hair cut)
– kreditur mengalami penurunan
kemampuan membayar permanen
•
Melakukan penjadwalan kembali –
penurunan sementara
Akuntansi Piutang Bermasalah – Kreditur
•
Potongan yang diberikan mengurangi
keuntungan tangguhan
Dr Keuntungan murbahah ditangguhkan XXX
Akuntansi Piutang Bermasalah – Kreditur
• Jika potongan lebih tinggi dari marjin keuntungan, selisihnya diakui sebagai kerugian.
- Contoh:
- Saldo Piutang Murabahah Rp 6.000
- Keuntungan murabahah tangguhan Rp 5.000
Jurnal:
Dr Keuntungan tangguhan 5.000 Dr Kerugian murabahah 1.000
Akuntansi Piutang Bermasalah – Kreditur
•
Untuk penjadwalan ulang:
- tidak ada tambahan piutang
murabahah
- Pembebanan biaya dalam proses
penjadualan ulang adalah biaya riil
- Penjadualan harus melalui
Barang Murabahah Dijual
•
Jika pembeli tidak sanggup melunasi
utang maka barang dijual.
•
Hasil penjualan > sisa utang;
kelebihan menjadi hak pembeli.
•
Hasil penjualn < sisa hutang; hutang
MUDHARABAH
Definisi Mudharabah
77
• Secara bahasa:
dharaba yang berarti bepergian untuk berusaha
• Secara istilah
Akad kerjasama usaha antara pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha,
dimana laba dibagi atas dasar nisbah bagi hasil menurut kesepakatan kedua belah pihak;
Definisi Mudharabah
Dasar Hukum
79
• ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.” (An Nisa: 29).
• “… dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
Dasar Hukum
80
•
HR riwayat Al-Thabrani dari Ibn
Abbas r.a.:
”Abbas bin Abdul Mutthalib jika menyerahkan harta sebagai Mudharabah ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu
dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau
Dasar Hukum
81
•
HR al-Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:
“Perjanjian dapat dilakukan diantara kaum
muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat
Rukun Mudharabah
Rukun : Modal
•
Bisakah Shahibul Maal Menyerahkan Modal
dalam bentuk Aset Non Kas?
•
Apakah boleh Shahibul Maal menyerahkan
Modal dari Hutang?
•
Mudharib menyerahkan dana Shahibul Maal
kepada Pihak Ketiga?
•
Mudharib harus meminta persetujuan dari
Shahibul Maal dalam pengelolaan dana?
•
Bolehkah Shahibul Maal ikut serta dalam
Rukun : Modal
Rukun 2b: Usaha Mudharabah
Rukun :Keuntungan/Kerugian
•
Jika usaha mengalami kerugian,
bagaimana pembagian kerugiannya?
•
Pembagian keuntungan berdasarkan
nilai
rupiah
tertentu?
Atau
prosentase tertentu?
•
Kapan Keuntungan dibagikan?
•
Kapan Penentuan besaran nisbah
bagi hasil?
Rukun :Keuntungan/Kerugian
•
Kerugian dibagi berdasarkan modal yang
disetorkan, keuntungan dibagi
berdasarkan proporsi yang disepakati.
•
Bagian (proporsi/nisbah)
mudharib
dari
keuntungan yang didapat harus ditentukan
di awal, misalnya ½, ⅓, ¼.
•
Tidak ada keuntungan yang bisa dibagikan
kecuali bila modal mudharabah masih utuh
dan tidak tergerus oleh kerugian.
Ketentuan Nisbah Mudharabah
89
Karakteristik Akad Mudharabah
● Mempunyai risiko tinggi
● Pemilik dana memiliki resiko dalam bentuk finansial
● Pengelola dana memiliki resiko dalam bentuk non finansial
● Keuntungan dibagi berdasarkan nisbah yang disepakati, kerugian ditanggung sepenuhnya oleh shahibul maal (kecuali bila mudharib lalai, kerugian akan ditanggung mudharib)
● Apabila terjadi kerugian, cara penyelesaian nya adalah:
● Diambil terlebih dahulu dari keuntungan karena keuntungan merupakan pelindung modal.
Karakteristik Akad Mudharabah
●Tidak boleh ada jaminan atas modal
● Namun demikian, agar pengelola dana tidak melakukan penyimpangan, pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga. Dan jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau
melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.
●Akad sebaiknya dituangkan secara
tertulis dan disaksikan oleh para
HIKMAH AKAD MUDHARABAH
●Agar dapat memberi manfaat dan
keringanan kepada manusia.
●Ada sebagian orang yang memiliki harta,
tetapi tidak mampu untuk membuatnya
menjadi produktif.
●Ada pula orang yang tidak memiliki harta
tetapi ia mempunyai kemampuan untuk
memproduktifkan nya.
Berakhirnya Akad Mudharabah
1. Pada waktu yang telah ditentukan.
2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri
3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal
4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad.
Akad Mudharabah Dasar
Mudharabah pada Bank Syariah
Prinsip Pembagian Hasil Usaha
♦ Dapat menggunakan prinsip bagi hasil (net revenue sharing) atau bagi laba (profit sharing).
♦ Jika berdasarkan prinsip bagi hasil, maka dasar pembagian hasil usaha adalah laba bruto (gross profit) bukan total pendapatan usaha (omzet).
CONTOH PERHITUNGAN BAGI
HASIL
● Penjualan Rp 1.000.000 ● HPP Rp 650.000
● Laba kotor Rp 350.000
● Biaya-biaya Rp 250.000 ● Laba (rugi) bersih Rp 100.000
● metode profit sharing dengan nisbah pemilik: pengelola = 30:70
- Pemilik : 30% x Rp 100.000 = Rp 30.000
- Pengelola : 70% x Rp 100.000 = Rp 70.000
● metode revenue sharing dengan nisbah pemilik:pengelola=10:90
- Pemilik : 10% x Rp 350.000 = Rp 35.000
Bagi Hasil untuk akad Mudharabah Musytarakah(PSAK 105 par 34)
• Hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana sesuai nisbah yang disepakati, selanjutnya bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing; atau
Contoh Perhitungan Bagi Hasil Mudharabah Musytarakah
•
A dan B usaha bersama, dimana A
Investasi uang Rp. 2.000.000 dalam
usaha B. Nisbah untuk A dan B
disepakati 1:3.
•
Setelah usaha berjalan, B ikut
berinvestasi Rp. 500.000.
Perhitungan Bagi Hasil Mudharabah
Musytarakah : Alternatif 1
• Bagian A: ¼ x Rp 1.000.000 = 250.000
Bagian B: ¾ x Rp 1.000.000 = 750.000
• Kemudian bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk
pengelola dana tersebut (Rp 1.000.000 – Rp 750.000)
dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing; Bagian A: Rp 2.000.000/Rp 2.500.000 x 250.000 = Rp
200.000
Bagian B : Rp 500.000/Rp 2.500.000 x 250.000 = Rp 50.000
• Sehingga B sebagai pengelola dana akan memperoleh Rp
Perhitungan Bagi Hasil Mudharabah
Musytarakah : Alternatif 2
• Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai
musytarik) dan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing,
Bagian A: Rp 2.000.000/Rp 2.500.000 x Rp 1.000.000 = Rp 800.000
Bagian B: Rp 500.000/Rp 2.500.000 x Rp 1.000.000 = Rp 200.000
• Kemudian bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk
pengelola dana (sebagai musytarik) sebesar Rp 800.000 (Rp 1.000.000 – Rp 200.000) tersebut dibagi antara pengelola dana dengan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati. Bagian A: ¼ x Rp 800.000 = 200.000
Bagian B: ¾ x Rp 800.000 = 600.000
• Sehingga B sebagai pengelola dana akan memperoleh Rp
Akuntansi
• PT Beta, PT Ceta serta PT Deta sepakat
menjalankan usaha bersama. Dimana PT Beta dan PT Ceta mengeluarkan Modal sedangkan PT Deta akan bertindak sebagai pengelola.
• Modal yang akan diserahkan oleh PT Beta adalah
senilai Rp20.000.000, PT Ceta menyerahkan Aset Tetap berupa peralatan kantor dengan harga
perolehan Rp30.000.000, akm penyusutan Rp10.000.000, harga pasar saat ini adalah
Akuntansi
•
Pembagian nisbah disepakati sebesar
3:3:4. antara Beta, Ceta dan Deta
•
Dasar Pembagian Nisbah adalah Net
Revenue Sharing: dimana disepakati
dalam Net Revenue sharing adalah
Akuntansi Mudharabah
• Penyerahan Dana Mudharabah
Tangga l
Keterangan Debit Kredit
1 Jan
2009 Investasi Mudharabah 20.000.000
Kas 20.000.000 PT Beta
Tanggal Keterangan Debit Kredit
1 Jan 2010 Investasi Mudharabah 15.000.000 Kerugian Penurunan Nilai 5.000.000
Akuntansi Mudharabah
• Penerimaan Dana Mudharabah
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Kas - Mudharabah 30.000.000 Aset Non Kas -
Mudharabah 20.000.000 Dana Syirkah
Temporrer
Akuntansi
•
Pada tahun berjalan, PT Deta
memperoleh pendapatan
Rp200.000.000. Beban langsung
Rp50.000.000, biaya depresiasi
Rp5.000.000 Biaya Operasional Lain
Rp50.000.000. Pajak Rp10.000.000.
•
Laba Bersih Perusahaan
Akuntansi Mudharabah
• Pengakuan Laba Oleh Pengelola
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30.000.000 Aset Non Kas -
Mudharabah 20.000.000 Dana Syirkah
Temporrer
Akuntansi Mudharabah
Tangga l
Keterangan Debit Kredit
1 Jan
2009 Investasi Mudharabah 20.000.000
Kas 20.000.000 PT Beta
Tanggal Keterangan Debit Kredit
1 Jan 2010 Investasi Mudharabah 15.000.000 Kerugian Penurunan Nilai 5.000.000
Akuntansi Mudharabah
• Penerimaan Dana Mudharabah
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Kas - Mudharabah 30.000.000 Aset Non Kas -
Mudharabah 20.000.000 Dana Syirkah
Temporrer
Akuntansi untuk Pemilik Dana
• Jurnal Penyerahan modal mudharabah berupa
Aset Non Kas:
● Nilai wajar > nilai tercatatnya selisihnya diakui sebagai
keuntungan tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah
Dr. Investasi mudharabah xxx
Cr. Keuntungan tangguhan xxx Cr. Aset non kas xxx
Dr. Keuntungan tangguhan xxx Cr. Keuntungan xxx
● Nilai wajar < nilai tercatatnya selisihnya diakui sebagai kerugian.
Dr. Investasi mudharabah xxx Dr. Kerugian xxx
Akuntansi untuk Pemilik Dana
Penurunan nilai aset nonkas
1. Terjadi sebelum usaha dimulai diakui sebagai
kerugian; mengurangi saldo investasi mudharabah. Dr. Kerugian investasi mudharabah xxx
Cr. Investasi mudharabah xxx
2. Terjadi setelah usaha dimulai diakui sebagai
kerugian dan diperhitungkan pada saat pembagian bagi hasil.
Akuntansi untuk Pemilik Dana
• Penyajian
Akuntansi untuk Pemilik Dana
• Pengungkapan
Pemilik dana mengungkapkan hal-hal terkait transaksi mudharabah, tetapi tidak terbatas, pada:
– isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi
dana, pembagian hasil usaha, aktivitas usaha mudharabah, dan lain-lain;
– rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya; – penyisihan kerugian investasi mudharabah selama periode
berjalan;
– pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang
Akuntansi untuk Pengelola Dana
• Kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan atau
kelalaian pengelola dana diakui sebagai beban pengelola dana
Dr. Beban xxx
Akuntansi untuk Pengelola Dana
Penyajian dalam laporan keuangan:
● Dana syirkah temporer dari pemilik dana disajikan
Akuntansi untuk Pengelola Dana
Penyajian dalam laporan keuangan:
● Bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah
Akuntansi untuk Pengelola Dana
Pengungkapan
• Isi kesepakatan utama usaha mudharabah,
AKUNTANSI MUSYARAKAH
Definisi
•
Secara bahasa: syirkah “كرررررر
ش
”
Berarti: serikat/
partnership
•
Secara istilah
Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberi kontribusi dana dan kerja dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana.
Skema Akad Musyarakah
128
Dasar Hukum: Al-Qur’an
”Dan sesungguhnya kebanyakan dari
orang-orang yang berserikat itu
sebagian mereka berbuat dzalim
kepada sebagian yang lain kecuali
orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh.”
(QS.Shad:24)
Dasar Hukum: Al-Hadits
•
“Allah berfirman,
Aku akan menjadi pihak
ketiga dari orang yang berserikat,
selama salah seorang dari keduanya
tidak mengkhianati sahabatnya
(pihaknya)
.”
(HR. Abu Daud dan Hakim no 2936, dalam Kitab al-Buyu)
•
“tangan Allah di atas dua orang yang
berserikat selama keduanya tidak
saling mengkhianati
.”
HR. ad-Daruquthni (3/35)
Rukun Syirkah
Rukun 1: Pihak yang Berakad
132
•
Orang yang merdeka, baligh, berakal
sehat, dan
rasyid
(mampu menggunakan
hartanya dengan baik serta bukan orang
yang boros yang terkena larangan
mengelola harta).
•
Kompeten dalam memberikan atau
Rukun 2a: Modal
Rukun 2b: Kerja
Rukun 2c: Keuntungan/Kerugian
• Keuntungan dibagi berdasarkan proporsi yang
disepakati.
• Bagian (proporsi/nisbah) syarik dari keuntungan
yang didapat harus ditentukan di awal, misalnya ½, ⅓, ¼.
• Kerugian dibagi berdasarkan proporsi modal yang
disetorkan
Rukun 3: Sighat Ijab Kabul
• Ijab Kabul merupakan ekspresi kesepakatan
antar syarik yang dilakukan sama-sama rela.
• Akad dituangkan secara tertulis, melalui
korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.
• Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan
dalam akad.
Karakteristik Akad Musyarakah
•
Mitra Aktif dan Mitra Pasif
•
Modal musyarakah
•
Keuntungan
•
Kerugian
Fatwa No. 14
Sistem Distribusi Hasil Usaha
•
Pada prinsipnya, LKS boleh menggunakan
sistem
accrual basis
maupun
cash basis
dalam administrasi keuangan.
•
Dilihat dari segi kemaslahatan (
al-ashlah
),
dalam pencatatan sebaiknya digunakan
sistem
accrual basis
; akan tetapi, dalam
distribusi hasil usaha hendaknya ditentukan
atas dasar penerimaan yang benar-benar
terjadi (
cash basis
)
Metode Distribusi Bagi Hasil
•
Fatwa No. 15/DSN-MUI/IX/2000:
– LKS boleh menerapkan profit sharing atau net revenue sharing
– Dilihat dari segi kemaslahatan (al-ashlah), saat ini, pembagian hasil usaha sebaiknya digunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing).
– Penetapan prinsip pembagian hasil usaha yang dipilih harus disepakati dalam akad.
Contoh Perhitungan Pembagian
Keuntungan
•
Penjualan 100
•
Harga pokok penjualan 65
•
Laba Kotor 35
•
Beban 25
•
Laba/rugi bersih 10
140
Net Revenue
Prinsip Akuntansi Musyarakah
• Pembiayaan/Investasi Musyarakah diakui pada
saat penyerahan kas atau aset nonkas untuk usaha musyarakah oleh mitra.
• Biaya pra akad tidak dapat dianggap sebagai
bagian investasi musyarakah kecuali jika ada persetujuan dari seluruh mitra.
• Modal dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah
Prinsip Akuntansi Musyarakah
• Setoran Modal dalam bentuk Aset Non Kas dinilai
sebesar nilai wajar
• Jika Nilai Wajar > Nilai buku aset non kas
Untuk mitra aktif
- diakui sebagai selisih penilaian asset musyarakah
- disajikan di sisi ekuitas
• Untuk mitra pasif
Prinsip Akuntansi Musyarakah
• Baik selisih penilaian asset maupun keuntungan
tangguhan diamortisasi selama masa akad
• Jika Nilai wajar < Nilai buku
Pencatatan Penerimaan Dana
Investasi-Perusahaan Bentukan
•
Mencatat penerimaan dana pada
akun Dana Syirkah Temporer (DST)
•
Sebesar kas diterima atau nilai wajar
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
• 1 Januari 2008 Mitra Aktif menyerahkan : uang tunai Rp 50.000
aset nonkas dengan harga perolehan Rp 100.000 akm penyusutan Rp 20.000
nilai pasar Rp 120.000.
Diakhir akad Aset Nonkas akan dikembalikan. Masa manfaat 10 tahun
• Mitra Pasif menyerahkan:
aset dengan harga perolehan Rp 50.000 akm penyusutan Rp 10.000
nilai pasar Rp 30.000
Diakhir akad Aset Nonkas tidak dikembalikan. Masa manfaat 3 tahun.
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
Pengakuan dan Pengukuran (Selama
Akad)
•
Modal berupa aset tetap, pada akhir
akad:
–
Dikembalikan, beban depresiasi diakui
mitra yang menyerahkan.
–
Jika tidak dikembalikan, usaha
musyarakah yang mencatat beban
depresiasi
•
Penyusutan dilakukan berdasarkan
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
• Jurnal penyesuaian per 31 Desember 2008 untuk
– Beban penyusutan
Pengakuan dan Pengukuran (Selama
Akad)
•
Keuntungan akan dibagikan kepada
mitra untuk periode yang disepakati
•
Kerugian ditampung dalam akun
Penyisihan Kerugian sebagai akun
kontra Investasi Musyarakah
•
Kerugian karena lalai akan ditanggung
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
• Tahun ke-2: Perusahaan memperoleh pendapatan
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
• Jurnal penyesuaian per 31 Desember 2006 untuk
– Beban penyusutan
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
Ilustrasi Akuntansi Musyarakah
Saat Akad Musyarakah Berakhir
•
Jurnal: Pemindahan kepemilikan
aset non kas kepada mitra aktif
•
Jurnal: Pengembalian modal
Berakhirnya Akad Musyarakah
1. Pada waktu yang telah ditentukan.
2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri
3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal
4. Pengelola dana tidak menjalankan
amanahnya sebagai pengelola usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad.
Akuntansi untuk Pengelola Dana
Penyajian
Pengelola menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:
• Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan
yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai investasi musyarakah;
• Aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan
sebagai unsur dana syirkah temporer;
• Selisih penilaian aset musyarakah, disajikan sebagai unsur
Akuntansi untuk Mitra Aktif & Mitra
Pasif
Penyajian
Mitra pasif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:
• Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif
disajikan sebagai investasi musyarakah
• Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian aset nonkas
Akuntansi untuk Mitra Aktif & Mitra
Pasif
Pengungkapan
Mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi musyarakah, tetapi tidak terbatas pada:
• isi kesepakatan utama usaha musyarakah, seperti porsi dana, pembagian hasil usaha, aktivitas usaha musyarakah, dan lain-lain;
• pengelola usaha, jika tidak ada mitra aktif; dan
• pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101
TERIMA KASIH
Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEUI
Gedung Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Kampus UI Depok 16424
IJARAH
Definisi Ijarah
171
• Secara bahasa:
al Ajru yang berarti al ‘Iwadhu : (ganti/kompensasi)
• Secara istilah
akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa, dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah sewa (ujrah), tanpa diikuti
Definisi Ijarah
Dasar Hukum
173
• “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat
Tuhan-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan yang lain. Dan rahmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS 43:32)
• “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh
Dasar Hukum
174
• Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw Beliau
bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Ada tiga
golongan yang pada hari kiamat (kelak) Aku akan menjadi musuh mereka: (pertama) seorang laki-laki yang mengucapkan sumpah karena Aku
Rukun Ijarah
Elemen
•
Aset yang habis dikonsumsi bolehkah menjadi
objek ijarah?
•
Nilai dari Manfaat Aset haruskah Ada?
•
Bolehkah Menyewakan barang yang haram?
•
Jika Manfaat Aset tidak Dapat Dialihkan,
Apakah Akad Ijarah masih dapat dilakukan?
•
Bolehkah Periode Waktu Tidak Ditentukan?
•
Bolehkan Pembayaran tidak dilakukan dengan
tunai?
Elemen
•
Apakah Hukum Wa’ad Mengikat?
•
Siapakah yang menanggung Biaya
Perawatan?
•
Siapakah yang menanggung Biaya
Perbaikan?
•
Bolehkan ada Pembayaran Jaminan
Rukun : Objek Ijarah
Rukun : Pembayaran Ijarah
Jenis Ijarah
Berakhirnya Akad Ijarah
1. Periode akad sudah selesai
2. Para Pihak sepakat menghentikan
akad ijarah
3. Terjadi kerusakan aset.
4. Penyewa tidak dapat membayar sewa.
5. Salah satu pihak meninggal dan ahli
waris tidak berkeinginan untuk
meneruskan akad karena
Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
•
Pihak yang melakukan Ijarah
Muntahiya bit Tamlik harus
melaksanakan akad ijarah terlebih
dahulu.
•
Janji pemindahan kepemilikan yang
disepakati di awal akad ijarah adalah
wa'ad, yang
hukumnya tidak
mengikat
•
Transaksi pemindahan akad terpisah
Perlakuan Setelah Ijarah
Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
• Hibah, maka nilai tercatat objek ijarah diakui
sebagai beban
• Penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar
sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati, maka selisih antara harga jual dan jumlah
tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau kerugian.
• Penjualan setelah selesai masa akad, maka
Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
•
Penjualan objek ijarah secara bertahap,
maka:
•
(i) selisih antara harga jual dan jumlah
tercatat sebagian objek ijarah yang telah
dijual diakui sebagai keuntungan atau
kerugian
•
(ii) bagian objek ijarah yang tidak dibeli
penyewa diakui sebagai aset tidak lancar
atau aset lancar sesuai dengan tujuan
Akuntansi
• Tgl. 30 Desember 2006
Pemberi sewa dan penyewa menandatangi akad ijarah atas mobil selama 3 tahun. Disepakati bahwa pembayaran
dilakukan setiap bulan sebesar Rp12.500.000. Pembayaran dilakukan setiap bulan
• Pemberi sewa membeli mobil yang disewakan sebesar Rp150.000.000 dari PT B.
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30
Desember 2006
Aset Ijarah 150.000.000
Akuntansi
•Tgl. 30 Januari 2007 : Menerima Pembayaran
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30Januari 2007
Kas 12.500.000
Pendapatan Sewa 12.500.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30Januari 2007
Beban Sewa 12.500.000
Akuntansi
•Tgl. 30 Januari 2007 : Menerima Pembayaran Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30Januari 2007
Kas 12.500.000
Pendapatan Sewa 12.500.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30Januari 2007
Beban Sewa 12.500.000
Akuntansi
•Tgl. 1 Juli 2007 : Penyewa Mengeluarkan Biaya Perawatan
Tanggal Keterangan Debit Kredit
1 Juli 2007 Beban Perawatan .500.000
Utang 500.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
1 Juli 2007 Piutang .500.000
Akuntansi
•Tgl. 2 Juli 2007 : Pemberi Sewa Membayar B. Perawatan
Tanggal Keterangan Debit Kredit
2Juli 2007 Utang .500.000
Kas 500.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
2Juli 2007 Kas .500.000
Akuntansi
•Tgl. 30 Des 2007: Mencatat Depresiasi (masa sewa 10 Thn)
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Beban Penyusutan 15.000.000
Akm Penyusutan 15.000.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
- 0
- 0
Akuntansi
•
Tgl. 2 Jan 2011: Aset Ijarah Diterima
Tanggal Keterangan Debit Kredit
2 Jan 2011
Aset Tetap 150.000.000
Aset Ijarah 150.000.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
2 Jan 2010
Akm Peny - Ijarah 75.000.000 Akm. Peny. Aset
Akuntansi
•
Pemberi Sewa dan Penyewa
menyepakati akad IMBT. Dimana
saat akhir sewa, Aset perolehannya
Rp100.000.000, akumulasi
Akuntansi IMBT
• Akhir Masa Sewa : Hibah
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Beban Ijarah 10.000.000 Akm Penyusutan 90.000.000
Aset Ijarah 100.000.000 Pemberi Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Aset Non Kas 12.500.000
Akuntansi IMBT
• Akhir Masa Sewa : Dijual dengan Harga Rp.12.000.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Kas 12.000.000 Akm Penyusutan 90.000.000
Aset Ijarah 100.000.000 Keuntungan 2.000.000 Pemberi
Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Aset Non Kas 12.000.000
Akuntansi IMBT
• Pada Masa Sewa (akhir thn 2): Dijual dengan Harga Rp.40.000.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Kas 40.000.000 Akm Penyusutan 60.000.000
Aset Ijarah 100.000.000 Pemberi
Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Aset Non Kas 40.000.000
Akuntansi IMBT
• Pada Akhir Masa Sewa : Dijual bertahap 50% Harga Rp.10.000.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Kas 10.000.000 Akm Penyusutan 45.000.000
Aset Ijarah 50.000.000 Keuntungan 5.000.000 Pemberi
Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Aset Non Kas 10.000.000
Akuntansi IMBT
• Pada Akhir Masa Sewa : Pencatatan Atas Sisa Tidak Terjual
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
Aset Tetap 50.000.000 Akm Penyusutan 45.000.000
Aset Ijarah 50.000.000 Akm. Peny. Aset
Ijarah
45.000.000 Pemberi
Sewa
Tanggal Keterangan Debit Kredit
30 Des 2007
- 0
- 0