TEORI SASTRA
MATERI POKOK Pengertian
Sastra Jawa Kuna
Sastra JawaTengahan Sastra Jawa Islam
Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern
Pengertian sastra bersifat kontekstual Sastra klasik
MATERI POKOK
Konvensi sastra Jawa Tradisionall dan Modern Bentuk dan jenis karya sastra Jawa
Pperkembangan sastra Jawa
TEORI SASTRA
Pengertian istilah istilah dalam sastra Karya sastra sebagai karya seni
Ilmu sastra
SASTRA
Teori Sastra Ilmu Sastra
Sejarah Sastra Kritik Sastra
TIGA BIDANG ILMU SASTRA
Teori sastra: mempelajari teori sastra,
Sejarah Sastra: Mempelajari penyusunan perkembangan sastra dari awal hingga yang terakhir, mencakup sejarah lahirnya karya
sastra, jenis jenis sastra,
perkembanganpemikiran manusia yang
mengemuka dalam karya sastra,
perkembangan aliran aliran dalam sastra, dsb
KARYA SASTAR SEBAGAI DUNIA
REKAAN
Karya sastra sebagai struktur dunia rekaan
Realitas dalam karya sastra adalah realitas rekaan yang
tidak sama dengan dengan realitias dunia nyata, karena sudah ada campur tangan pengarang sehingga kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran menurut idealnya
pengarang
Sebagai pencerminan kehidupan tidak berarti karya sastra
merupakan gambaran tentang kehidupan tetapi
merupakan pendapat pengarang tentang keseluruhan kehidupan
Karya sastra meskipun bersifat rekaan tetapi tetap
FUNGSI KARYA SASTRA
Dulce : menyenangkan Utile: berguna
KEINDAHAN DALAM KARYA SASTRA Keutuhan
GENRE SASTRA Aristoteles
Epik Lirik Drama
PERKEMBANGAN GENRE SASTRA Prosa, karangan bebas
Puisi , ada emosi, pemikiran(ide) dan struktur bentuk
JENIS DRAMA
Tragedi: drama yang bercerita tentang kesedihan Kpmedi: drama jenaka beisi sindiran atau kritik Tragedi komedi: drama yang bercerita tentang
kesedihan sekaligus bersifat jenaka
Opera: drama yang cakapannya berupa nyanyian Operet: drama sejenis opera yang lebih pendek Tableau: drama tanpa kata kata, pelaku hanya
mengandalkan gerak patah patah
Minikata: drama dengan cakapan sinkat yang
mengandalkan gerak teatrikal
Lawakan: drama yang sepenuhnya berisi humor,
PROSA REKAAN
Merupakan kisahan atau cerita yang
diemban oleh pelaku pelaku tertentu
dengan peranan, latar atau
tahapandan rangkaian cerita tertentu
yang bertolak dari hasil imajinasi
BENTUK KOMUNIKASI PROSA
REKAAN
Prosa rekaan adalah salah satu bentuk
komunikasi. Sastrawan ingin menyampaikan pikiran, perasaan dan keinginannya kepada pembaca. Dalam karya sastra sastrawan
BENTUK PROSA REKAAN
Prosa lama: Dongeng
Mitos
Legenda Parwa
Prosa Modern Roman
UNSUR INTRINSIK PROSA REKAAN
Tokoh: pelaku yang mengemban peristiwa dalam
cerita sehingga menjalin suatu cerita
Penokohan: cara sastrawan menampilkan tokoh
Perwatakan: pemberian watak pada tokoh
TOKOH DILIHAT DARI PERANAN
Dari peranan dan keterlibatan: Tokoh utama
Tokoh tambahan
Dari perkembangan kepribadian tokoh Tokoh dinamis
TOKOH DINAMISDAN STATIS
Tokoh dinamis:Tokoh yang kepribadiannya selalu berkembang
Tokoh statis: tokoh yang mempunyai kepribadian tetap
TOKOH DARI WATAKNYA
Dibedakan tokoh protagonis dan antagonis Tokoh protagonis: tokoh yang wataknya
disukai pembaca
Cara memahami watak tokoh
Melalui tuturan pengarang terhadap karakteristikpelakunya
Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran
lingkungan kehidupannya tau cara berpakaian
Menunjukkan bagaimana perilakunya
Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya
sendiri,
Melihat bagaimana bagaimana tokoh lain berbicara
tentangnya
Melihat tokoh lain berbincang dengannya
Melihat bagaimana tokoh tokoh yang lain memberi
reaksi terhadapnya
Unsur Intrinsik
Tema
Hakekat Tema
-Tema merupakan dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah karya.
- Tema adalah makna sebuah cerita yang secara
sederhana (Stanton dalam Nurgiyantoro, 1998: 70). Tema Mengangkat Masalah Kehidupan
- Hal-hal dalam kehidupan yang sering diangkat
Tema dan Unsur Cerita yang Lain
- Tema akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur-unsur lain, yaitu tokoh dan penokohan, plot dan pemplotan, latar dan pelataran, serta cerita.
Penggolongan Tema
1. Tema Tradisional dan Nontradisional
Merupakan tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama digunakan dan dapat ditemukan di dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama.
2. Tingkatan Tema Menurut Shipley
a. Tema tingkat fisik, yaitu manusia sebagai
(atau: dalam tingkat kejiwaan molekul, man as molecul.
b.Tema tingkat organik, yaitu manusia sebagai
(atau: dalam tingkat kejiwaan) plotoplasma,
man as protoplasm.
c. Tema tingkat sosial, yaitu manusia sebagai
makluk sosial, man as sicious.
d.Tema tingkat egoik, yaitu manusia sebagai
individu, mas as individualism.
e. Tema tingkat divine, yaitu manusia sebagai
3. Tema Utama dan Tema Tambahan
a. Tema pokok/tema mayor, yaitu makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu.
b. Tema tambahan/tema minor, yaitu makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita.
Penafsiran Tema
a. Dengan mempertimbangkan tiap detil cerita yang menonjol.
b. Tidak bersifat bertentangan dengan tiap detil cerita.
c. Tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun idak
langsung dalam karya yang bersangkutan.
Cerita
Hakikat Cerita- Sebuah narasi berbagai kejadian yan sengaja
disusun berdasarkan urutan waktu (Forster dalam Nurgiyantoro, 1998: 91).
- Sebuah urutan kejadian yang sederhana dalam urutan waktu (Abrams dalam
Nurgiyantoro, 1998: 91).
Cerita dan Plot
- Cerita dan plot sama-sama mendasarkan diri dalam rangkaian peristiwa, namun tututan plot
bersifat lebih kompleks daripada cerita.
- Untuk membedakan dapat dilakukan dengan beberapa pertanyaan.
Cerita:
1. Bagaimana seterusnya?
2. Bagaimana kelanjutannya? Plot:
3. Mengapa demikian?
4. Mengapa peristiwa itu dapat terjadi?
Cerita dan Pokok Permasalahan
- Isi cerita adalah sesuatu yang dikisahkan dalam sebuah karya fiksi.
- Permasalahan merupakan sesuatu yang diacu
atau berkaitan dengan isi cerita. Pemilihan pokok permasalahan cerita fiksi biasanya
ada
kaitannya dengan pemilihan tema. Cerita dan Fakta
- Cerita merupakan karangan yang berisi hal yang dikhayalkan (fiction).
- Fakta merupakan karangan yang memuat
Pemplotan
1. Hakikat Plot dan Pemplotan
- Plot merupakan apa yang dilakukan oleh tokoh dan peristiwa apa yang terjadi dan dialami tokoh (Kenny dalam Nurgiyantoro, 1998: 75).
- Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian,
namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan sebab akibat, peristiwa yang satu
disebabkan
atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang
- Pemplotan adalah pengembangan plot. - Pemplotan merupakan pengolahan dan penyiasatan plot agar dapat menarik yang bersangkutan dengan karya fiksi secara keseluruhan.
2. Peristiwa, Konflik, dan Klimaks
a. Peristiwa
Peristiwa adalah peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg dkk dalam
Nurgiyantoro, 1998: 117).
1. Peristiwa Fungsional: peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan plot.
2. Peristiwa Kaitan: peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita (atau: secara plot).
b. Konflik
Konflik merupakan sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh cerita, jika tokoh itu memiliki kebebasan untuk memilih, mereka tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Fitzgerald dalam Nurgiyantoro, 1998: 122).
Bentuk Konflik
1. Konflik ekternal: konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang diluar dirinya, mungkin dengan lingkungan manusia.
- Konflik Fisik (konflik elemental): konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam.
Misal: konflik dan atau permasalahan yang dialami seseorang tokoh akibat adanya banjir besar.kemarau panjang, gunung meletus, dll.
- Konflik sosial: konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antar manusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia.
2. Konflik Internal (konflik kejiwaan): konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (tokoh-tokoh) cerita. Konflik ini adalah konflik yang dialami dengan dirinya sendiri, ia lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia.
c. Klimaks: saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupkan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya (Stanton dalam Nurgiyantoro, 1998: 126).
3. Kaidah Pemplotan
a. Plausibilitas (plausibility): sesuatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
b. Rasa ingin tahu (suspense): adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca (Abrams Nurgiyantoro, 1998: 134).
Sebuah cerita yang yang baik pasti memiliki kadar suspense (membangkitkan rasa ingin tahu) yang tinggi di hati pembaca.
Salah satu cara untuk membangkitkan suspense
STRUKTUR PUISI
1. Bunyi
Fungsi: memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan,
menimbulkan suasana yang khusus
Jenis bunyi
Bnyi bunyi konsonan bersuara (b, d, g, j Bunyi liquida: r,l
BUNYI
Bunyi vokal (asonansi) : a, e, I, o, u
Kombinasi bunyi merdu disebut Efoni, bunyi asonansi, bunyi konsonan bersuara, bunyi liquida dan bunyi sengau
Struktur Puisi
2. Irama rhytm (Ing), rhythme (Pr)
Merupakan pergantian turun naik, panjang
pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur
Jenis irama: metrum dan ritme
Metrum: irama yang tetap pergantiannya tetap
RITME
Adalah irama yang disebabkan pertentangan dan pergantian bunyi, tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap melainkan henya menjadi gema dendang sukma penyair
KATA
Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata.
Konotasi
adalah kata yang bermakna
luas, tidak hanya berarti makna yang
ditunjuk, tetapi terdapat arti tambahan
yang ditimbulkan dari asosiasi-asosiasi
yang keluar dari denotasinya.
Bahasa Kiasan,
yaitu digunakan
Macam Bahasa Kiasan
Perbandingan Metafora
Perumpamaan epos Personifikasi
Perbandingan, simile
Bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengn hal lain dengan mempergunakan kata kata penghubung dengan kata kata
pembanding seperti bagai, sebagai,bak, seperti,semisal, seumpama, laksana,
Metafora
Perumpamaan Epos
Perbaningan yang dilanjutkan atau
diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat sifat pembandingnyalebih lanjut dalam kalimat kalimat atau frasa yang berturut turut.
Alegori
Personifikasi
Mempersamakan benda dengan manusia, benda benda mati dibuat seperti manusia yang apat bebuatdan berpikir.
Metonimia
Kiasan pengganti nama rhubungan
dengannyauntuk menggunakan obyek
Pencitraan
Citra penglihatan: citraan yang timbul karena penglihatan
Citra pendengaran: citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran
Ketatabahasaan
Pemendekan kata
Penhilanganimbuhan
Penyimpangan unsur sintaksis Penghapusan tanda baca
Pemendekan kata
Kalau sampai waktuku
‘ku mau tak seorang–kan merayu Orang ngomong anjing nggonggong
Penyimpangan Struktur Sintaksis
Dihitam matamu kembang mawar dan melati
Penghapusan tanda baca
Rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya Dari segala nyata sebab dari segala abad
sungsang
Pemutusan Kata
Siapa dapat kembalikan sia
pada
mula sia pa
da
pa sia
KAKAWIN
Praharsini
akweh gostinira tangeha yan wiwaksan
lesyapatti rasa padhakêkês wilasa
lawan tocapaning upaya sampun arpat
Arjunawiwaha Z XVII.1
1) Sajak di atas disebut “kakawin”, nama metrumnya “Praharsini”,
2) Jumlah baris 4 sebait
3) Jumlah suku kata tiap baris 13 dan keempat baris sama jumlah suku katanya
4) Penggubahan kakawin terikat oleh suku kata yang diucapkan panjang dan pendek
6) Dalam sistim tulis digunakan tanda – untuk bunyi panjang (guru, berat) dan tanda ◡ untuk bunyi pendek (lagu, ringan),
7) Tiap baris mempunyai aturan panjang pendek tertentu dan ajeg, disebut “metrum”,
8) Metrum pada kakawin di atas dapat dirumuskan sebagai berikut: ggg lll glg l/g
9) Tanda – digunakan bagi bunyi suku kata yang bervokal o, e, au, ai, a, i, u dan bunyi suku kata mati.
Contoh kakawin:
1. Kakawin 7 suku kata tiap baris:
Kumaralalita
Metrum: lgl llg g/l
nda tan turidaa ngwang
apan tuhu mapunggung
kêdö manutakên kung
kumara lalitaswi
2. Kakawin 8 suku kata tiap baris:
Widyutmala
3. Kakawin 9 suku kata tiap baris:
Halamuki
4. Kakawin 10 suku kata tiap baris:
Twaritagati
5. Kakawin 11 suku kata tiap baris:
6. Kakawin 12 suku kata tiap baris:
Kusumawicitra
7. Kakawin 13 suku kata tiap baris:
Mattamayura
8. Kakawin 14 suku kata tiap baris:
Basantatilaka
9. Kakawin 15 suku kata tiap baris:
10.Kakawin 16 suku kata tiap baris:
Girisa
11.Kakawin 17 suku kata tiap baris:
Sikharini
12.Kakawin 18 suku kata tiap baris:
Mŗdukumala
13.Kakawin 19 suku kata tiap baris:
14.Kakawin 20 suku kata tiap baris:
Suwadana
15.Kakawin 21 suku kata tiap baris:
Kusumawilasita
16.Kakawin 22 suku kata tiap[ baris:
Kilayu anêdhêng
KIDUNG
1.
Pangkur
Mar syuh twsira sang natha, I 8 - a
sampuniranggangsal asêmu tangis, II 11- i
adhuh kaki putuningsun, III 8 - u
amlasakên pa sira, IV 7 - a
utusan mangke kita patulakasru, V 12 - u
maturanging apa tan asih, VI 9 - i
mong kahidhêpeng kami, VII 7 – I
a) Puisi di atas disebut “kidung”, namanya Pangkur.
b) Jumlah baris (gatra) 7,
c) Jumlah suku kata: baris I=8, II=11, III=8, IV=7, V=12, VI-9, VII=7
d) Bunyi vokal pada akhir baris: I=a, II=I, III=u, IV=a, V=u, VI=I, VII=I
2.
Durma
3.
Sinom
4.
Pamijil
TEMBANG GEDHE
Citrarini
Lir sadpadengsun tumiling angulati,
Puspita ingkang medem endah kang warni,
Mider ing taman anom sekar warsiki,
Kumenyuting tyas baya ta jatukrama.
1) Puisi di atas disebut “tembang gedhe” namanya “Citrarini”,
2) Jumlah baris 4,
3) Jumlah suku kata tiap baris 12, disebut lampah 12,
4) Puisi empat baris tersebut dinamai “tembang sapada” atau puisi sebait.
Contoh tembang gedhe:
1.
Tembang gedhe lampah 5
Rerantang
Dhuh babo sira,
ywa walangdriya,
sedya bawa ing,
2.
Tembang gedhe lanpah 6
Liwung
Kari siji nanging,
nora miyatani,
3. Tembang gedhe lanpah 7: Kumaralalita, Sundari
4. Tembang gedhe lanpah 8: Patralalita
5. Tembang gedhe lanpah 9: Maddayanti
6. Tembang gedhe lanpah 10: Saragati, Rukmarata, Tebu sauyun
8. Tembang gedhe lanpah 12: Citrakusuma, Citramengeng, Citrarini, Jiwaretna
9. Tembang gedhe lanpah 13: Kusumastuti, Madubrangta, Patrajuwita, Puspanjana, Puspanjali
10.Tembang gedhe lanpah 14: Basanta, Langenasmara
12.Tembang gedhe lanpah 16: Candraasmara, Mintajiwa, Raraturida, Candrakusuma
13.Tembang gedhe lanpah 17: Bangsapatra, Pusparukmi
14.Tembang gedhe lanpah 18: Tepikawuri
TEMBANG TENGAHAN
ISTILAH “Tembang Tengahan” muncul sebagai
imbangan istilah “Tembang Gedhe” dan “Tembang Macapat”.
Tembang tengahan sering disebut Tembang
dhagel atau Tembang tanggung.
Guru wilangan Tembang tengahan meniru
bentuk kidung
Fungsi seni suara Tembang tengahan
1) Tembang tengahan terikat jumlah baris tiap bait, yaitu guru gatra
2) Tembang tengahan terikat oleh jumlah suku kata tiap baris, yaitu guru wilangan
Contoh Tembang tengahan
1. Wirangrong
2. Pranasmara
3. Jurudemung
4. Kuswarini
5. Palugon
TEMBANG MACAPAT
Tembang Macapat juga disebut “Tembang
cilik” atau “Sekar alit”.
Tembang macapat sama atau hampir sama
Tembang macapat terikat oleh:
1. Jumlah baris tiap bait dan jumlah suku kata tiap baris mempunyai aturan tertentu.
2. Jumlah baris tiap bait disebut guru gatra, jumlah suku kata tiap baris disebut guru wilangan.
Jenis Tembang Macapat:
1. Dhandhanggula
2. Sinom
3. Asmaradana
4. Pangkur
5. Mijil
6. Kinanthi
7. Gambuh
8. Megatruh
9. Pucung
Purwakanthi
(Persajakan)
a.
Purwakanthi
Guru
Sastra
(sastra milir):
persajakan pada
bunyi
konsonan,
maka
bisa
disebut
aliterasi
.
Contoh:
r
inipteng puspita
r
ineh,
b. Purwakanthi Guru Swara (asonansi):
persamaan bunyi pada bunyi vokal.
Contoh :
setya budya pangekese dur angkara
c. Purwakanthi Lumaksita (sajak berkait):
perkaitan bunyi yang memperindah tembang.
contoh:
yen lumintu uga dadi laku,
laku agung kang kagungan narapati patitis tetep ing kawruh,
Sandisama
Sandiasma: nama yang tersamar atau terahasiakan
dalam tembang.
Contoh:
Raras ruming sarkaraniraris,
denta peksa mangapus pustaka,
Atbuteng tyas tan wrin ing reh,
mamprih amardi kayun,
dinuking don nir deya ugi,
kadayan darpa limpat,
rasikaning kidung,
Sumengka ngangka pujangga,
rasaning kang ukara kang pinarsudi,