Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
LAMPIRAN III
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu INVENTORI KEMARAHAN REMAJA
Petunjuk Pengerjaan
Item dibawah ini menggambarkan situasi yang memprovokasi kemarahan. Untuk setiap item, silahkan kamu menilai diri sendiri berkaitan dengan reaksi atau respon kamu dalam menyikapi situasi tersebut. Coba bayangkan kejadian itu benar-benar terjadi pada kamu dan pilihlah reaksi yang kamu lakukan ketika berhadapan dengan situasi tersebut dengan melingkari salah satu pilihan yang ada pada Lembar Jawaban.
1. Guru mengoreksi kesalahanmu di depan teman-temanmu tetapi mengabaikan kesalahan teman-temanmu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menjelaskan kepada guru mengenai kesalahan yang dilakukan oleh
teman-temanmu
b. Merencanakan untuk memarahi temanmu yang berbuat kesalahan
c. Menarik nafas yang panjang sambil mengakatakan “tenang” di dalam hati 2. Misalkan kamu secara tidak sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di
rumah dan tiba-tiba kakakmu memarahimu dengan mengatakan „Bodoh, lain kali kamu harus hati-hati‟. Apa yang kamu lakukan ?
a. Diam dan menenangkan diri dengan berkata dihati “tenang”
b. Merasa kesal sambil mengatakan „Tidak Sengaja‟ dengan suara keras c. Langsung pergi ke dalam kamar sebelum orang tua atau kakamu selesai
berbicara
3. Ketika kamu harus segera pergi ke sekolah. Tiba-tiba mobil angkutan umum yang kamu tumpangi terjebak macet. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berpikir untuk turun dari angkot dan berkata dalam hati “Saya gak akan
pernah naik angkot ini lagi”
b. Mencoba untuk menenangkan diri dan mengirim SMS ke teman bahwa kamu masuk telat
c. Tidak bisa duduk dengan tenang sambil mengeluh “Kapan sampainya
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 4. Kamu telah membuat janji dengan seseorang untuk pergi ke suatu tempat,
namun orang tersebut membatalkan janji tersebut di menit-menit terakhir dan membuat kamu menunggu sendirian. Apa yang kamu lakukan ?
a. Mengirim SMS atau menelponnya sambil marah dan memberitahu kepada dia bahwa kamu sudah lama menunggu
b. Mengatakan dalam hati “Lihat aja nanti saya juga akan melakukan hal
yang sama pada dirinya”
c. Meminta klarifikasi kepada teman mengenai pembatalan janji sambil menjelaskan lebih baik tidak usah menepati janji jika memang banyak kesibukan
5. Kamu baru selesai membereskan buku-buku yang berserakan, tiba-tiba
adikmu mengacak-ngacaknya lagi. Apa yang kamu lakukan ?
a. Mencoba untuk tenang dan memberikan penjelasan kepada adik bahwa apa yang telah dilakukannya itu adalah tidak baik
b. Mengomel kepada adik yang telah mengacak buku
c. Merasa kesal dan menghukum adik untuk membersihkan seluruh rumah 6. Ketika banyak tugas yang harus dibereskan, adikmu menyalakan musik
dengan sangat keras sampai terdengar ke kamarmu. Apa yang kamu lakukan?
a. Tanpa banyak bicara langsung mematikan musiknya dan menyuruh
adikmu untuk main keluar rumah
b. Meminta adik untuk mengecilkan suara musiknya
c. Memarahinya karena tidak bersimpati kepadamu yang sedang banyak tugas
7. Kamu sedang berusaha untuk konsentrasi tetapi orang yang di sebelah kamu terus-menerus mengetukkan kakinya ke lantai. Apa yang kamu lakukan ? a. Meminta dia untuk berhenti mengetukkan kakinya ke lantai karena kamu
merasa terganggu
b. Berpikiran untuk menegurnya bahwa suara ketukan kakinya
mengganggumu
c. Mengatakan pada diri sendiri “Tenang. Tidak apa-apa mungkin dia
sedang merasa cemas.”
8. Kamu sedang mengerjakan LKS dan mengalami kesulitan kemudian meminta bantuan kepada temanmu mengenai cara mengerjakannya akan tetapi temanmu menghiraukanmu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Kembali fokus pada diri sambil mengatakan “saya kerjakan sebisanya
saja”
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Mengatakan pada diri “awas lho nanti setelah ujian beres, saya kasih
pelajaran” atau bergumam “Nanti kalau kamu butuh sesuatu, saya gak akan membantu”
9. Kamu memliki tugas rumah yang harus dibereskan dan kamu meminta
bantuan temanmu untuk mengerjakannya akan tetapi temanmu tidak menanggapinya. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berkata dalam hati “Jika suatu saat dia butuh bantuan saya, pasti saya gak
akan bantu”
b. Bersikap tenang sambil mengerjakan tugas sebisanya
c. Mengatakan kepada temanmu “Kalau punya ilmu itu harusnya bagi-bagi
donk biar bermanfaat”
10. Saat kamu sedang antri tiba-tiba ada orang yang menyerobot, apa yang akan kamu lakukan ?
a. Berkata “dasar main serobot aja. Tidak tahu etika”
b. Berpikir untuk belas dendam jika bertemu dengan orang itu lagi c. Berkata dalam hati “Tenang aja” sambil mengelus dada
11. Orang tua kamu memaksa dan mengharuskan kamu untuk hadir di sebuah acara yang sangat tidak kamu sukai. Suasana acara itu pasti sangat tidak menyenangkan dan orang-orangnya sepertinya akan sangat membosankan. Apa yang akan kamu lakukan ?
a. Berusaha mencari sesuatu yang bisa sedikit menghiburmu misalkan berusaha menikmati makanan yang ada, menikmati musiknya atau apapun yang bisa membuat kamu merasa mendapat keuntungan hadir disana b. Menentang orang tuamu karena kamu merasa tidak bisa dipaksa
c. Mengikuti kemauan orang tuamu secara terpaksa dengan cara bermalas-malasan mandi, memasang tampang kesal.
12. Kamu sudah menabung berbulan-bulan untuk membeli barang kesukaanmu, kemudian tiba-tiba orangtuamu meminta tolong kepadamu karena ada masalah keuangan. Kamu diminta untuk memberikan hasil tabunganmu tetapi mereka tidak menjelaskan secara detail apa masalahnya. Apa yang akan kamu lakukan ?
a. Menolak untuk memberikan uang karena kamu ingin membeli barang kesukaanmu
b. Memberikan uangnya kepada orang tuamu akan tetapi meminta
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Memberikan uang itu secara terpaksa sambil mengatakan “Pokoknya ibu
dan bapak harus balikin uang saya lebih dari yang saya pinjamkan saat
ini”
13. Kamu sedang makan di sebuah rumah makan, kemudian pelayan
membawakan makanan yang tidak kamu pesan. Ketika kamu menjelaskan bahwa itu bukan pesananmu, pelayan itu malah ngotot bahwa itulah pesanan ada temanmu yang bertanya mengenai cara bagaimana mengerjakan tugas sambil memaksa. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menarik nafas sambil berkata “sebentar ya. Saya juga belum beres. Nanti kalau sudah saya akan bantu kamu”
b. Berkata “Kamu bisa sabar gak ?. saya juga belum beres nih” c. Berpikir untuk memaki-maki temanmu
15. Kamu sedang belajar di kelas, kemudian tiba-tiba ada temanmu yang membuat keributan sehingga kamu menjadi tidak konsentrasi. Apa yang kamu lakukan ?
a. Diam dan menunjukkan muka tidak suka sambil berkata di hati “dasar orang-orang yang tidak tahu tempat. Bisanya mengganggu saja”
b. Menarik nafas sambil meminta teman-teman supaya lebih tenang
c. Menggebrak meja sambil berkata “Bisa diam tidak. Saya tidak bisa
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
17. Temanmu membeberkan rahasia yang telah kamu ceritakan kepadanya
padahal kamu sudah percaya kepadanya agar menjaga rahasia itu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Meminta klarifikasi dan menyampaikan bahwa apa yang telah
dilakukannya tidak baik
b. Menyampaikan seluruh unek-unek yang kamu rasakan sambil berkata
dengan keras kepadanya “kamu benar-benar tidak bisa dipercaya”
c. Merasa kesal dan berkata di dalam hati “Nanti saya juga akan beberkan b. Berkata “supaya lain kali tidak terlalu lama karena bisa telat ke sekolah” c. Mengungkapkan kekesalan itu kepada temanmu
19. Misalkan kamu pergi dengan pacarmu, kemudian kamu ingin sekali makan
memperlihatkan wajah tidak senang dan makan dengan malas-malasan c. Melakukan kesepakatan dengan pacarmu, jika hari ini makan bakso, maka
berikutnya kamu harus menuruti keinginannya begitu juga sebaliknya.
20. Temanmu membuat lelucon tentang dirimu yang membuat kamu merasa
kesal. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menarik nafas yang dalam ketika muncul rasa kesal sambil mengatakan
“Tenang” dan menghiraukan leluconnya
b. Merasa terganggu dan menanyakan apa alasan dia membuat lelucon itu c. Diam dan menunjukkan wajah tidak suka kepadanya sambil berkata di
dalam diri “Brengsek, beraninya menghina orang. Lihat saja nanti, saya
balas kamu”
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu b. Berpikir positif bahwa teman-teman sedang memikirkan yang lain.
Setelah itu menjelaskan kembali pendapatmu
c. Menggebrak meja sambil berkata “tolong, dengarkan pendapat saya”
22. Suatu saat kamu berbicara kepada temanmu akan tetapi tiba-tiba temanmu ngomong dengan kasar dan keras. Setelah itu, diketahui ternyata temanmu sedang ada masalah. Apa yang akan kamu lakukan ?
a. Membalasnya dengan berkata “Kenapa kamu marah-marah sama saya” b. Merasa kesal dan berkata dalam hati “kenapa dia marah sama saya. Awas
aja nanti kalau butuh bantuan, saya gak akan bantu”
c. Mengatakan pada diri “sabar, mungkin dia sedang butuh waktu karena
sedang ada masalah”
23. Temanmu membuat suatu kesalahan dan kemudian menyalahkan kamu atas kesalahan tersebut. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menahan diri dengan menarik nafas sampai tenang dan menanyakan kepada dia tentang maksud pembicaraan dia
b. Merasa kesal dan melawannya dengan berkata “Mengapa kamu menyalahkan saya. Kan kamu sendiri yang berbuat itu”
c. Diam dan menghindari temannya sambil berkata dalam hati “Sialan, saya
disalahin. Awas, aja nanti saya balas kamu”
24. Kamu menelepon temanmu akan tetapi ia tidak segera menjawab dan ketika akhirnya ia menjawab, telepon genggammu mati karena baterainya habis. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berpikir untuk memaki-maki dia jika bertemu
b. Berusaha tenang sambil berkata “Ya, sudah saatnya baterainya habis” c. Menggerutu “Tuh kan dia gak cepat-cepat ngangkat telpon sih. Jadi
baterainya habis”
25. Kamu sedang berdiskusi dengan teman kemudian ada teman yang lain terus berusaha untuk menyela dengan mengangkat suatu topik yang bahkan ia sendiri tidak terlalu mengerti. Apa yang kamu lakukan ?
a. Memotong obrolan dia sambil mengatakan “Kamu mengganggu kami
yang sedang berdiskusi”
b. Bergumam dalam hati “Dasar pengganggu padahal kami sedang
asyik-asyiknya diskusi”
c. Mengontrol diri untuk lebih bersabar sambil mengatakan dalam hati
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
26. Kamu meminjam penghapus ke teman karena salah menulis sementara
temanmu meminjamkannya dengan muka yang cemberut sambil sedikit ngomel. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menahan diri untuk tidak menanggapi sesaat kemudian berkata dalam hati
“Mungkin dia sedang ada masalah”
b. Kamu berkata kepada dia “sepertinya kamu gak ikhlas ya. Saya gak jadi
minjamnya”
c. Merasa kesal tetapi tidak menunjukkan ekspresi tidak senang sambil
bergumam dalam hati “Kalau gak mau ngasih mah gak apa-apa. Tidak
usah menunjukkan muka seperti itu”
27. Barang yang kamu pinjamkan ke temanmu tiba-tiba hilang padahal barang itu sangat berharga sekali untukmu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menunjukkan ekspresi tidak suka dan tidak banyak bicara akan tetapi
berkata dalam hati “Orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya”
b. Mengendalikan diri dengan cara menghindar dulu sesaat kemudian
setelah tenang menjelaskan kepada teman seharusnya lebih hati-hati c. Memarahinya karena telah menghilangkan barang itu
28. Kamu sudah belajar semalaman dan mengerjakan banyak soal karena
persiapan akan ujian. Tetapi tiba-iba gurunya memberitahu bahwa ujiannya diundur ke minggu depan. Apa yang kamu lakukan ? apa-apa semuanya juga pasti ada manfaatnya”
29. Kamu sedang terburu-buru pergi ke sekolah, tetapi mobil angkot yang kamu saya telat ke sekolah. Cepetan donk”
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
30. Kamu membutuhkan buku temanmu untuk menulis catatan yang belum
sempat tercatat, tetapi temanmu tidak memberikan pinjaman. Apa yang kamu lakukan ?
a. Memiliki rencana untuk membalasnya sambil berkata “awas nanti kalau butuh, saya gak akan bantu kamu”
b. Menahan diri untuk tidak menanggapi sesaat kemudian berkata dalam hati
“Ya sudah, saya cari saja teman lain yang bisa meminjamkan buku”
c. Kamu berkata kepada dia “Kamu gak mau membantu teman yang sedang
kesulitan ya”
31. Kamu memiliki kesepakatan dengan temanmu mengenai suatu hal, tetapi temanmu melanggar kesepakatan yang telah disepakati bersama. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menyerangnya dengan berkata “dasar munafik, katanya sepakat tapi
malah dilanggar ?”
d. Berpikir untuk membalasnya dengan membeberkan keburukan dia
b. Memiliki pemikiran “mungkin lain waktu kita harus lebih hati-hati dalam
melakukan kesepakatan”
32. Orang tuamu membanding-bandingkan kamu dengan anak temannya yang
pintar dan cerdas. Hal itu terus mereka lakukan sampai kamu merasa tidak nyaman dengan ucapan orang tua tersebut. Apa yang kamu lakukan ?
a. Memiliki pemikiran “Mungkin orang tua berharap banyak agar saya bisa
menjadi lebih baik”
b. Menunjukkan ekspresi muka tidak menyenangkan kemudian langsung
pergi sambil dalam hati menggerutu “Mereka benar-benar membuat saya kesal. Saya gak suka dibanding-bandingkan seperti itu”
c. Tanpa banyak bicara langsung pergi ke kamar sambil menutup pintu dengan keras
33. Hari kemarin kamu tidak sekolah karena sakit. Untuk itu, kamu menanyakan mengenai pelajaran yang kemarin dan tugas-tugasnya tetapi temanmu malah tidak menanggapinya. Apa yang kamu lakukan ?
a. Memiliki rencana untuk membalasnya sambil berkata “awas nanti kalau
butuh, saya gak akan bantu kamu”
b. Menahan diri untuk tidak menanggapi sesaat kemudian berkata dalam hati
“Ya sudah, saya cari saja teman lain yang bisa meminjamkan buku”
c. Kamu berkata kepada dia “Kamu gak mau membantu teman yang sedang
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 34. Ketika kamu sedang tergesa-gesa untuk mengerjakan ujian, tiba-tiba bolpoin
yang kamu gunakan habis tintanya dan tidak bisa dipakai lagi. Kamu mencoba untuk meminjam ke temanmu akan tetapi temanmu tidak terlalu menanggapi permintaanmu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Kamu berkata kepada dia “sepertinya kamu gak mau membantu teman
yang sedang kesulitan ya”
d. Memiliki rencana untuk membalasnya sambil berkata “awas nanti kalau
butuh, saya gak akan bantu kamu”
b. Menahan diri untuk tidak menanggapi sesaat kemudian berkata dalam hati
“Dia sedang sibuk, saya harus lebih bersabar”
35. Kamu sudah membereskan rumahmu dan mengepelnya dengan bersih. Tiba-tiba adikmu lari-lari di lantai yang baru saja kamu bersihkan. Apa yang kamu lakukan ?
a. Mencoba untuk tenang dan memberikan penjelasan kepada adik bahwa apa yang telah dilakukannya itu adalah tidak baik
b. Mengomel kepada adik yang telah mengotori lantai c. Menghukum adik untuk membersihkan seluruh rumah
36. Kamu sedang berjalan dipinggir jalan, tiba-tiba ada mobil yang menyerobot dari belakang dan membuat celana yang kamu pakai terkena air kotor. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berkata dalam hati “Duh, jadi kotor lagi bajunya. Awas nanti kalau lihat
mobil itu saya lempar batu”
b. Menarik nafas panjang sambil berkata “tenang”
c. Berkata dengan keras “Dasar sialan, lihat-lihat kalau mengendarai mobil”
37. Kamu sudah mengerjakan tugas sebaik mungkin akan tetapi guru malah mengatakan bahwa tugas yang kamu kerjakan jelek. Apa yang kamu lakukan ?
a. Mengatakan kepada guru bahwa kamu sudah mengerjakan semaksimal b. Mengatakan dalam hati “sialan, guru yang tidak bisa menghargai hasil
kerjaannya. Udah capek, masih dikritik”
c. Berusaha menenangkan diri dengan cara menarik nafas yang panjang
sambil mengakatakan “tenang” di dalam hati
38. Kamu sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba adikmu mengganti siara TV yang sedang kamu tonton. Apa yang kamu lakukan ?
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Tanpa banyak bicara mematikan Televisi dan menyuruh adik untuk
belajar
39. Temanmu membicarakan keburukanmu dibelakang. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berpikiran untuk mengajaknya berkelahi
b. Memiliki pemikiran “semoga dosa saya terhapus dengan dibicarakannya
keburukan saya”
c. Menyerangnya dengan berkata “Kamu gak ada kerjaan ya ngomongin
orang dibelakang”
40. Kamu sedang mencoba memisahkan temanmu yang sedang bertengkar, akan tetapi secara tidak sengaja wajahmu ditampar oleh salah satu temanmu. Apa yang kamu lakukan ?
a. Menyerang dia dengan berkata “kamu malah mukul saya padahal saya
ingin memisahkan kalian”
b. Menampar kembali teman yang memukulmu
c. Menghindar dari pertikaian dan menenangkan diri sambil berkata
“tenang”
41. Kamu sedang berada di tengah-tengah perselisihan, dan orang lain menyebut kamu sebagai "brengsek bodoh.". Apa yang kamu lakukan ?
a. Berkata dalam hati “tenang” sambil menjelaskan kepada dia bahwa kamu tidak suka disebut seperti itu
b. Menyerangnya kembali dengan berkata “kamu yang brengsek”
c. Kamu keluar dari ruangan tersebut dengan menunjukkan ekspresi tidak suka
42. Kamu membongkar sebuah alat yang baru saja kamu membelinya, dan ketika mencoba menggunakannya ternyata alat itu tidak bekerja. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berencana untuk menghancurkan alat tersebut
b. Berpikir untuk meminta bantuan kepada orang lain untuk mengecek alat tersebut
c. Membuangnya sambil berkata “sialan saya tertipu”
43. Kamu sedang membawa makanan yang kamu sukai yang akan kamu simpan di meja, tiba-tiba adik kamu menabrak kamu sehingga makanan itu jatuh ke lantai. Apa yang kamu lakukan ?
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Mencoba untuk tenang dan memberikan penjelasan kepada adik bahwa
tindakannya membuat makanan menjadi tidak layak dimakan
44. Kamu mencoba berbicara kepada temanmu mengenai masalah yang sedang kamu hadapi tetapi temanmu tidak menanggapinya dengan serius. Apa yang kamu lakukan ?
a. Memiliki pikiran „mungkin bukan waktu yang tepat jika saat ini berbicara
masalah ini kepada temanmu‟
b. Berkata kepadanya “Kamu benar-benar tidak empati. Saya sudah ngobrol
panjang lebar tidak didengar”
c. Diam dan langsung pergi sambil berkata dalam hati “awas aja nanti kalau
butuh, saya tidak akan bantu”
45. Kamu diminta ibu untuk mencuci dan cangkir favorit kamu tidak sengaja jatuh dan hancur. Apa yang kamu lakukan ?
a. Berpikir untuk menjatuhkan atau menghancurkan piring atau cangkir yang lain
b. Berkata dalam hati “Ya, sudah tidak apa-apa nanti saya beli lagi”
c. Membuangnya sambil berkata “Gara-gara ibu nih cangkir kesayangan
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
LAMPIRAN IV
PROSEDUR KONSELING EGO STATE DALAM
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu PROSEDUR KONSELING EGO STATE UNTUK MENGELOLA
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Oleh
GIAN SUGIANA SUGARA NIM 1201308
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2014
PROSEDUR KONSELING EGO STATE DALAM MENGELOLA
KEMARAHAN
A. Rasional
Emosi adalah bagian terpenting dari manusia serta merupakan aspek
perkembangan yang terdapat pada setiap manusia. Karena emosi, individu mampu
untuk merasakan keadaan dirinya. Secara umum terdapat dua macam emosi pada
manusia yaitu emosi positif dan emosi negatif (Faupel, Herrick & Sharp, 2011: 3).
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu marah (anger) dan sedih merupakan contoh dari emosi negatif (Shaffer, 2009:
285). Emosi pada manusia diperlukan untuk melakukan adaptasi dengan lebih
mudah. Ketika individu mampu untuk mengelola emosinya secara positif, maka
individu akan mampu dalam mengendalikan dirinya. Untuk itu, sesuai dengan
yang dijelaskan Bhave dan Saini (2009: 3) yang mengatakan bahwa manusia perlu
mempelajari bagaimana cara mereka mengendalikan emosinya agar dapat
beradaptasi dengan baik.
Marah merupakan bagian dari emosi yang mengandung muatan emosi
yang negatif. Walaupun termasuk sebagai emosi negatif, akan tetapi kemunculan
marah tidak selalu menjadi tanda dari adanya ketidakstabilan emosi, melainkan
merupakan emosi alami yang dialami oleh setiap orang baik itu anak-anak,
remaja, dan orang dewasa (Golden, 2003: 15). Hal ini sesuai dengan pendapat
Perritano (2011:23) yang menjelaskan bahwa perubahan kondisi mental kita yang
terjadi pada diri kita akan menimbulkan emosi tertentu. Marah memiliki dua sisi
yakni sisi positif dan negatif. Memiliki makna positif jika marah diekspresikan
dengan cara yang pantas sehingga dapat membantu individu dalam
mengekspresikan berbagai perasaan dengan cara yang dapat diterima lingkungan,
membantu menyelesaikan masalah, dan juga mampu memotivasi dalam mencapai
tujuan yang positif (Bhave & Saini, 2009: 11). Memiliki makna negatif, jika
marah diekspresikan dalam cara yang tidak pantas seperti merusak benda,
bertindak agresif baik verbal maupun fisik yang dapat mengganggu hubungan
interpersonal.
Terdapat berbagai macam hal yang dapat menyebabkan munculnya rasa
kemarahan pada seseorang. Hal yang paling sering dapat menyebabkan
munculnya rasa kemarahan adalah ketika seseorang menghadapi suatu situasi
yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dalam hal ini kemarahan
muncul sebagai reaksi dari perasaan frustrasi ataupun kecewa ketika memiliki
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu siswa tidak mampu mengendalikan dirinya dimana ketika tidak mampu mengelola
kemarahan menyebabkan perilaku agresif baik secara verbal maupun fisik
(Nindita, 2012).
Di Giusepe dan Tafrate (2007) menjelaskan bahwa individu yang
mengalami kemarahan perlu mendapatkan layanan konseling agar mampu
mengendalikan dirinya. Jika kemarahan tidak terkendali, maka akan
mengakibatkan perilaku agresif bahkan dapat mengalami depresi. Mengelola
kemarahan (anger management) merupakan hal yang penting dilakukan dalam
kehidupan manusia. Karena mengelola kemarahan, manusia dituntut untuk
mampu mengekspresikan kemarahan yang mereka miliki dengan cara yang dapat
diterima oleh lingkungan, dan tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain
(Burt, 2012). Remaja yang tidak mampu mengelola kemarahan cenderung
mengekspresikan emosi mereka dengan menangis atau berteriak. Dengan sedikit
atau tanpa provokasi sama sekali, remaja dapat menjadi sangat marah kepada
orangtuanya atau memproyeksikan perasaan-perasaan mereka yang tidak
menyenangkan kepada orang lain (Santrock, 2007). Santrock memaparkan bahwa
banyak remaja yang belum mampu mengelola emosi secara efektif. Sebagai
akibatnya, remaja rentan mengalami depresi dan kemarahan yang akan memicu
berbagai masalah, seperti penyalahgunaan obat, kenakalan atau gangguan makan.
Kegagalan dalam mengelola kemarahan ternyata berdampak pada aspek
kehidupan siswa. Penelitian Law, Wong, & Song pada tahun 2004 menyatakan
individu yang tidak mampu mengelola emosi akan mengalami kesulitan dalam
berinteraksi dengan seseorang (Hudgson & Wertheim, 2007). Penelitian
Mustamsikin (2011) menemukan bahwa kemampuan pengelolaan emosi memberi
pengaruh yang signifikan terhadap perilaku agresif siswa. Caruso & Salovey
(2005) menyebutkan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosi
akan berdampak pada berbagai perilaku yang maladaptif, seperti terjerumus
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Berdasarkan pengumpulan data awal terhadap siswa kelas XI SMK Profita
Bandung Tahun Ajaran 2013/2014 diperoleh gambaran umum sebanyak 19,60 %
siswa mmiliki profil kemarahan pada kategori tinggi, sebanyak 61,31% siswa
memiliki profil kemarahan pada kategori sedang, dan sebanyak 19,10% siswa
memiliki profil kemarahan pada kategori rendah. Kecenderungan kemarahan yang
dialami adalah dominan yang pertama kemarahan terkelola, kemudian kemarahan
reaktif dan terakhir kemarahan instrumental. Data di atas, menunjukan bahwa
diperlukan sebuah penanganan untuk membantu siswa dalam mengelola
kemarahan agar siswa memiliki kemampuan mengelola kemarahan yang sehat.
Untuk itu, dikembangkan intervensi pengelolaan kemarahan melalui
penggunaan konseling ego state. Intervensi yang dikembangkan dalam setting
individual. Emmerson (2010) menjelaskan bahwa konseling ego state dapat
digunakan untuk meningkatkan pengelolaan kemarahan. Dalam pandangan ego
state, konseli yang mengalamai kemarahan karena konseli belum mampu
menerima perasaan marah yang terjadi pada dirinya. Emmerson (2010: 136)
berpendapat bahwa konseli yang tidak mampu mengelola rasa marah karena tidak
dilepaskan rasa marah tersebut atau bingung tentang bagaimana cara melepaskan
marah secara tepat. Menekan rasa marah ini akan menyebabkan konseli
mengalami distress secara internal dan ketika mengekspresikan secara tidak tepat
akan menyebabkan masalah sosial. Ketidakmampuan mengelola ini dapat
menyebabkan kecemasan yang berujung pada depresi (Emmerson, 2010: 137).
Untuk itu, konseling ego state dipandang tepat digunakan sebagai intervensi bagi
konseli dengan masalah pengelolaan rasa marah.
B. Tujuan Intervensi
Secara umum tujuan intervensi expressive writing adalah untuk
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu emosional, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Secara khusus tujuan
intervensi adalah :
1. Mengubah perasaan marah menjadi lebih tenang dan terkelola
2. Menghentikan perilaku agresif dan melepaskan kemarahan secara tepat
3. Mengalokasikan dimana adanya kesakitan, trauma, kemarahan atau frustrasi dalam ego sta te dan memfasilitasi ekspresi, melepaskan emosi negatif, memberikan rasa nyaman serta memberdayakan diri
4. Memfasilitasi fungsi komunikasi di antara ego state yang negatif sehingga dapat berubah menjadi positif
5. Menolong klien mengenal ego sta te mereka sehingga klien dapat mengelola kemarahan
6. Mengatasi konflik diri atau konflik ego state yang menyebabkan kemarahan
C. Asumsi Dasar
Asumsi pelaksanaan intervensi ini adalah :
1. Kemarahan adalah emosi negatif yang merupakan hasil dari pengalaman subjektif seseorang terhadap orang lain atau terhadap suatu situasi yang dipersepsikan sebagai keadaan yang tidak menyenangkan (Novaco, 2003).
2. Siswa yang tidak mampu mengelola kemarahan membutuhkan layanan konseling untuk mengelola kemarahan agar mampu mengendalikan dirinya (DiGiusefe dan Tafrate, 2007)
3. Konseling ego state dapat digunakan untuk mengelola kemarahan siswa (Emmerson, 2010)
D. Sasaran Intervensi
Intervensi dilakukan terhadap 6 orang siswa dimana 4 orang siswa berada
dalam kategori tinggi terdiri dari 2 orang siswa laki-laki dan 2 orang siswa
perempuan. Selain itu, 2 orang siswa dalam kategori sedang yang terdiri dari 1
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1. Ia Tita memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi kemarahan
yang dominan adalah kemarahan instrumental
2. Hafidz memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan instrumental
3. Vira Yuniar memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan reaktif.
4. Yohanes memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan reaktif.
5. Jonathan memiliki skor pada kategori sedang. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan yang terkelola.
6. Rossy memiliki skor pada kategori sedang. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan yang terkelola.
E. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur konseling ego state dalam mengelola kemarahan dilakukan
dengan langkah- langkah sebagai berikut :
1. Joining a nd ra pport-building atau membangun hubungan yang positif dengan konseli agar konseli terlibat dalam sesi intervensi. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan dari konseling yang akan diikuti konseli.
2. Accesing Ego Sta te yakni tahapan dimana konselor mengakses Ego State yang mengalami kemarahan dan memberi nama ego state tersebut
3. Bridging to orign problem yakni tahapan selanjutnya melakukan regresi untuk mengetahui kejadian pertama kali munculnya ego state kemarahan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui akar masalah yang terjadi pada diri konseli.
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu terpendam. Secara khusus ego sta te yang mengekpresikan emosi tersebut harus ego sta te yang terluka.
5. Remova l Pha se adalah tahapan dimana konselor melakukan remova l atau pelepasan. Setelah proses mengekspresikan perasaan selesai, dilakukan proses removal atau pelepasan rasa kesal. Konselor harus membantu ego sta te yang terluka untuk melakukan pelepasan dari ego sta te negatif yang masih melekat.
6. Relief Pha se adalah tahapan melakukan proses relief atau penenangan. Setelah melakukan proses pelepasan ego sta te negatif, langkah selanjutnya adalah melakukan proses penenangan (relief) yaitu dengan memanggil ego sta te yang lebih dewasa (ma ture) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka tadi. Bila ego sta te yang dewasa dan mau mengasuh tidak muncul sama sekali, maka konselor dapat memanggil ego sta te introject yang lebih dewasa dan mau mengasuh ego sta te yang terluka tersebut. Caranya adalah konselor dapat meminta konseli untuk memanggil bagian dari konseli yang lebih dewasa dan matang kemudian beri nama ego sta te tersebut.
F. Sesi Intervensi
Pelaksanaan intervensi ini dilakukan selama empat sesi. Penentuan jumlah
sesi ini merujuk pada prinsip konseling ego state yang singkat serta acuan dari
pendapat Gordon Emmerson. Setiap sesi dilakukan selama 50 menit. Penentuan
jadwal intervensi berdasarkan kesepakatan antara konselor dan konseli. Adapun
gambaran mengenai sesi konseling ego state dalam mengelola kemarahan adalah
sebagai berikut
Sesi ke-1
Sesi pertama ini merupakan pembuka dan pengenalan dari konseling ego
state. Tujuan dari sesi ini adalah membangun hubungan yang positif dengan
konseli, serta mengenalkan intervensi kepada konseli dan kemampuan apa yang
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
mengeksplorasi pengalaman kemarahan konseli. Selanjutnya konselor
mengenalkan konseli mengenai peran ego state ketika konseli mengalami
kemarahan. Target dalam sesi ini adalah konseli terlibat aktif dalam sesi konseling
ego state dan mengetahui peranan ego state dalam mengelola kemarahan. Diakhir
sesi, klien diminta untuk menuliskan perasaannya dalam lembar “Homework”
Sesi ke-2
Sesi kedua bertujuan untuk mengubah perasaan marah menjadi lebih
tenang dan terkelola. Pada sesi ini konselor melakukan terlebih dahulu evaluasi
terhadap perasaan marah selama seminggu dan berdiskusi mengenai “Homework”
yang dikerjakan oleh konseli. Kemudian pada sesi ini, konselor mengakses ego
state marah kemudian melakukan regresi untuk mengetahui pertama kali
munculnya ego state marah dan melakukan proses ekspresi dan pelepasan
terhadap emosi negatif yang dirasakan. Setelah itu, dilakukan proses penanganan
dengan mencari ego state yang lebih dewasa dan dapat membantu ego state marah
menjadi lebih tenang. Target pada sesi ini adalah siswa mampu mengubah
perasaan marah menjadi lebih tenang dan terkelola.
Sesi ke-3
Sesi ketiga dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap perasaan marah
yang dirasakan dan „homework‟ yang dikerjakan konseli dalam satu minggu. Sesi ketiga bertujuan untuk menghentikan perilaku agresif dan melepaskan kemarahan
secara tepat. Pada sesi ini, konselor melakukan proses konseling ego state
menggunakan teknik kursi kosong (empty chair). Pertama konselor mengakses
ego state asertif yang pernah dialami oleh konseli di masa lalu setelah itu memberi
ego state tersebut dan menyediakan kursi kosong yang mewakili ego state asertif.
Setelah itu melakukan negosiai dengan ego state asertif bahwa ego state asertif
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu sehingga dapat membantu konseli untuk melepaskan perasaan negatif secara tepat.
Setelah itu, konselor membantu konseli untuk mendatangkan ego state marah dan
menyediakan satu kursi kosong yang mewakili sebagai ego state marah. Setelah
itu, konselor memfasilitasi ego state asertif dan ego state marah untuk
berkomunikasi sehingga menemukan kesepakatan bahwa ego state marah
memberikan izin kepada ego asertif untuk membantu ego state marah ketika
mengalami masalah. Selanjutnya, konselor membantu konseli untuk
mendatangkan ego state bijak yang bisa bekerjasama dengan ego state asertif
dalam membantu ego state marah. Target pada sesi ini adalah konseli memiliki
kemampuan untuk menghentikan perilaku agresif dan melepaskan kemarahan
secara tepat.
Sesi ke-4
Sesi keempat merupakan sesi terakhir. Sesi ini bertujuan untuk
mengevaluasi sejauhamana perubahan yang dirasakan. Dalam sesi ini, konselor
dengan konseli terlibat aktif untuk diskusi mengenai proses konseling yang telah
dilakukan dan „homework‟ yang telah dikerjakan.
G. Indikator Keberhasilan
Evaluasi keberhasilan intervensi untuk mengelola kemarahan siswa
dilakukan pada setiap sesi intervensi. Konseli yang berhasil mengikuti kegiatan
intervensi adalah konseli yang mampu mengubah ego state yang negatif menjadi
ego state yang positif dan memberdayakan. Selain itu, konseli juga mengetahui
fungsi ego state dalam hidupnya dan mampu memanfaatkannya dalam
memberdayakan dirinya.
Lembar evaluasi diberikan setelah siswa mengikuti setiap sesi konseling.
Lembar evaluasi ini yang digunakan dalam mengukur sejauh mana keefektifan
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu homework berupa „Anger Meter‟ dimana konseli melakukan identifikasi perasaan
marahnya dengan „Anger Meter‟ setiap mengalami situasi atau kejadian yang
memprovokasi munculnya kemarahan.
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan konseling ego state dalam
mengelola kemarahan siswa, maka setiap sesi konseling dilakukan post-test yang
bertujuan untuk melihat perubahan konseli dari setiap sesi konseling yang telah
dijalani. Adapun instrumen atau alat ukur yang digunakannya adalah dengan
menggunakan instrumen kemarahan yang dikembangkan oleh peneliti. Evaluasi
keberhasilan secara keseluruhan dilihat dengan menurunnya profil kemarahan
yang dialami oleh partisipan penelitian yang dapat dilihat dari grafik penelitian.
Sesi 1
Tujuan Konseli terlibat aktif dalam sesi konseling ego state
dan mengetahui peranan ego state dalam mengelola kemarahan
Waktu 60 Menit
Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan
Deskripsi Kegiatan
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada peserta b. Konselor menjelaskan secara singkat tentang maksud dan tujuan
konseling, bentuk kegiatan dan waktu yang akan ditempuh
c. Konselor memberikan kesempatan bertanya kepada konseli mengenai sesi konseling yang akan dilaksanakan.
d. Konselor menjelaskan tentang asas kerahasiaan dalam konseling kelompok
e. Konselor menjelaskan ulang tentang proses pelaksanaan kegiatan. Akhir dari tahapan ini adalah kontrak kesepakatan konseling yang diadakan selama satu minggu sekali
Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State)
a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia marah sambil menutup mata
b. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang dirasakan ketika perasaan marah muncul
c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai kemarahan yang sering muncul dan dirasakannya
d. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat dia marah apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan dibagian tubuh mana dirasakannya
e. Konselor menjelaskan bahwa menjelaskan bagian diri (ego state) yang sering muncul ketika mengingat situasi yang memprovokasi kemarahan
f. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang marah
Tahapan Negosiasi Ego State (Negotiation Phase)
a. Konselor menuliskan nama ego state dalam sebuah kertas dan menempelnya di salah satu kursi yang kosong
b. Konselor meminta konseli bergerak ke arah kursi kosong dan menjadi ego state yang marah ketika duduk di kursi yang kosong
c. Konselor menanyakan kepada konseli ‟apa fungsi dan peranan ego state marah‟ untuk konseli dan reaksi apa yang biasa dilakukan
d. Konselor meminta konseli untuk kembali duduk di kursi yang sebelumnya dan meminta untuk membayangkan situasi atau pengalaman yang membuat dia tenang
e. Konselor menanyakan dibagian tubuh mana rasa tenang itu muncul dan menjelaskan bahwa ini adalah ego state yang positif
f. Konselor menulis nama ego state ‟si tenang‟ dalam kertas dan g. menempelnya di kursi yang kosong
h. Konselor meminta konseli bergerak ke arah kursi kosong dan menjadi ego state yang tenang ketika duduk di kursi yang kosong
i. Konselor menanyakan kepada konseli ‟apa fungsi dan peranan ego state tenang‟ untuk konseli dan reaksi apa yang biasa dilakukan
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Tahapan Penutup
a. Konselor berdiskusi dengan konseli tentang pengalaman yang dialami oleh konseli ketika mengakses ego state yang positif dan negatif
b. Konselor menjelaskan bahwa Ego State adalah bagian diri kita yang berpengaruh dalam kehidupan kita
c. Konselor meminta konseli untuk mengisi lembar homework ‟Anger Meter‟ selama seminggu dan dibawa pada sesi selanjutnya
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Sesi 2
Tujuan Konseli mampu mengubah perasaan marah menjadi
lebih tenang dan terkelola
Waktu 60 Menit
Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan
Deskripsi Kegiatan
Tahapan Membangun Hubungan yang positif
a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada konseli dan menanyakan kabar
b. Konselor melakukan evaluasi terhadap lembar kerja ”Anger Meter” yang diisi oleh konseli selama seminggu
c. Konselor memotivasi konseli bahwa konseli dapat berubah menjadi lebih baik dengan sesi konseling
Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State)
a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia marah sambil menutup mata
b. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang dirasakan ketika perasaan marah muncul
c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai kemarahan yang sering muncul dan dirasakannya
d. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat dia marah apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan dibagian tubuh mana dirasakannya
e. Konselor menjelaskan bahwa menjelaskan bagian diri (ego state) yang sering muncul ketika mengingat situasi yang memprovokasi kemarahan
f. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang marah
Tahapan Kembali ke Inti Masalah (Bridging to Orign Problem)
a. Konselor meminta konseli untuk menutup mata dan fokus pada bagian tubuh yang dirasakan ketika mengalami marah
b. Konselor memperbesar rasa marah yang dirasakan ditubuh
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu d. Konselor mendengarkan setiap informasi yang disampaikan oleh konseli
Tahapan Ekspresi (Expression Phase)
a. Konselor mengetahui emosi negatif yang memicu pertama kali ego state marah muncul dari tahapan sebelumnya
b. Konselor membantu konseli mengekspresikan emosi yang terpendam terhadap ego state introject yang memicu kemarahan
c. Konselor memfasilitasi proses ekspresi ego state introject yang negatif dengan konseli sampai konseli merasa lega
Tahapan Pelepasan (Removal Phase)
a. Konselor meminta konseli untuk membayangkan ego state introject yang negatif untuk menjadi kecil
b. Konselor membantu konseli untuk menghilangkan ego state introject tersebut dengan cara mengusirnya atau meniupnya sampai hilang dari bayangan pikiran konseli
Tahapan Penenangan (Relief Phase)
a. Konselor menanyakan kepada konseli, ego state yang dapat membantu ego state marah agar menjadi lebih positif
b. Konselor meminta konseli untuk membayangkan kembali dalam situasi dimana merasakan ketenangan
c. Konselor memanggil ego state ‟tenang‟ dan melakuka negosiasi agar membantu ego state ‟marah‟
d. Konselor mengganti nama ego state ‟marah‟ menjadi ego state yang berdaya
Tahapan Mengecek perubahan (Future Pacing)
a. Konselor mebimbing konseli untuk membayangkan situasi yang membuat marah dan menanyakan perasaannya ketika dalam kondisi tersebut
b. Konselor meminta konseli untuk mengisi lembar homework ‟Anger Meter‟ dan dibawa pada sesi selanjutnya
Evaluasi Sesi ini berhasil jika konseli mampu untuk memanggil ego state
‟marah‟ dan melakukan ekspresi, pelepasan emosi negatif terhadap
ego state marah serta menemukan ego state yang lebih dewasa agar
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Sesi 3
Tujuan Konseli memiliki kemampuan untuk menghentikan
perilaku agresif dan melepaskan kemarahan secara tepat.
Waktu 60 Menit
Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan, Kursi Kosong
Deskripsi Kegiatan
Tahapan Membangun Hubungan yang positif
a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada konseli dan menanyakan kabar
b. Konselor melakukan evaluasi terhadap lembar kerja ”Anger Meter” yang diisi oleh konseli selama seminggu
c. Konselor memotivasi konseli bahwa konseli dapat berubah menjadi lebih baik dengan sesi konseling
Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State) Mengakses Ego State yang berdaya
a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia asertif
b. Konselor membimbing konseli untuk menjelaskan situasi ketika konseli mengalam „Asertif‟ di masa lalu
c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai sikap „asertif‟ yang dirasakannya
d. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat dia „asertif‟ apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan dibagian tubuh mana dirasakannya
e. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang „asertif‟ dan menulis dalam sebuah kertas serta menempelkannya di kursi yang kosong f. Konselor meminta konseli untuk duduk di kursi kosong dan menjadi diri yang
asertif
g. Konselor menanyakan fungsi dan peranan asertif untuk konseli dan mengadakan kesepakatan untuk mengobrol lagi ketika konselor meminta h. Konselor meminta konseli untuk duduk lagi di kursi yang sebelumnya
Mengakse Ego State yang Vaded
g. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia marah dan berperilaku agresif
a. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang dirasakan ketika perasaan marah muncul
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat
dia marah apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan reaksi apa yang dilakukan
d. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang „agresif‟ dan menulis dalam sebuah kertas serta menempelkannya di kursi yang kosong e. Konselor meminta konseli untuk duduk di kursi kosong dan menjadi diri yang
asertif
f. Konselor menanyakan fungsi dan peranan asertif untuk konseli dan mengadakan kesepakatan untuk mengobrol lagi ketika konselor meminta
Tahapan Negosiasi (Negotiation Phase)
a. Konselor meminta konseli untuk duduk di kursi ego state “Asertif”
b. Konselor membantu untuk meyakinkan ego state asertif agar dapat membantu ego state “Agresif”
c. Konselor meminta konseli untuk duduk di kursi ego state “Agresif” dan memfasilitasi “Agresif” agar mau dibantu oleh “Asertif”
d. Konselor melakukan negosiasi dengan ego state pemarah dengan meminta izin untuk diganti perannya oleh ego state asertif
Tahapan Penenangan (Reliefe Phase)
a. Konselor melakukan memanggil dengan ego state yang bijaksana dan dewasa agar dapat mengasuh ego state yang “Agresif‟
b. Konselor mendengarkan kesepakatan ego state dan pastikan setiap ego state menyepakatinya
c. Apabila setiap ego state ada permintaan, maka konselor perlu untuk mendengarkannya karena persyaratan ini akan membantu siswa agar cepat berubah.
d. Konselor menuliskan apa saja yang diminta oleh setiap ego state dan menyampaikannya kepada siswa pada akhir sesi.
Tahapan Mengecek perubahan (Future Pacing)
a. Konselor mebimbing konseli untuk membayangkan situasi yang membuat marah dan menanyakan perasaannya ketika dalam kondisi tersebut
b. Konselor meminta konseli untuk mengisi lembar homework ‟Anger Meter‟ dan dibawa pada sesi selanjutnya
Gian Sugiana Sugara, 2014
Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Sesi 4
Tujuan Mengevaluasi perubahan kemarahan yang dirasakan
oleh konseli
Waktu 45 Menit
Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan
Deskripsi Kegiatan
Tahapan Pembuka
a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada konseli dan menanyakan kabar
b. Konselor melakukan evaluasi terhadap lembar kerja ”Anger Meter” yang diisi oleh konseli selama seminggu
c. Konselor memotivasi konseli bahwa konseli dapat berubah menjadi lebih baik dengan sesi konseling
Tahapan Inti
a. Konselor menanyakan kepada konseli perubahan apa yang dirasakan setelah sesi konseling
b. Konselor berdikusi dengan konseli mengenai pengelolaan ego state dalam mengelola kemarahan
c. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang akan dilakukan ketika mengalami situasi yang memicu marah
d. Konselor bertanya kepada konseli tentang pengalaman yang didapatkan selama sesi konseling
Tahapan Penutup
a. Konselor menutup sesi konseling dengan menyimpulkan semua proses konseling yang telah dilewati
b. Konselor memotivasi konseli untuk senantiasa mengelola ego state yang positif