Hal. 99-112
PENGARUH GENDER SEBAGAI PEMODERASI PADA
HUBUNGAN ORIENTASI PASAR DAN KINERJA KEUANGAN
Maria Pampa Kumalaningrum
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telepon 0274 486321, Fax. 0274 486155 E-mail: [email protected]
ABSTRACT
This study examined the effect of gender as moderating variable on relationship between market orientation and financial performance. Market orientation reflects the degree to which firms’ strategic market planning is driven by customer and competitor intelligence. Data was analyzed using Chow analysis. The results showed that market orientation has an effect on financial performance either in female or male–owned micro business. The study also shown that gender had moderating effect on relationship between market orientation and financial performance.
Keywords: gender, market orientation, and financial performance.
PENDAHULUAN
Pada masa-masa sekarang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orientasi pasar bisa dipengaruhi oleh karakteristik demografi pemilik bisnis, semisal gender (Finkelstein dan Hambrick, 1996; Hambrick dan Mason, 1984 dalam Davis et al. 2010). Harapan bahwa laki-laki dan perempuan bertindak berbeda muncul karena laki-laki dan perempuan disosialisasikan dalam peran yang berbeda. Hal tersebut diperkirakan akan menentukan juga nilai-nilai kerja, pengambilan keputusan, dan perilaku strategik mereka.
dan Henrecson 2000; Fasci dan Valdez 1998; Rosa, Carter, dan Hamilton 1996; Cooper, Gimeno-Gascon, dan Woo 1994 dalam Davis et al. 2010).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan lebih menekankan pada
relationship dibandingkan laki-laki (Swan, et al. 1984). Perempuan ternyata lebih menekankan pada interpersonal relationship dari pada pria terhadap konsumen mereka (Cartwright dan Gale, 1995). Semakin besar perhatian yang diberikan perempuan untuk suatu relasi dalam hal pemasaran dan penjualan, akan menjadi pendorong bagi berkembangnya orientasi pasar (Narver dan Slater, 1990).
Orientasi pasar adalah orientasi perusahaan yang memiliki prinsip pada upaya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (Kohli dan Jaworski, 1993). Perusahaan yang memiliki orientasi pasar, memiliki dasar perbaikan yang lebih cepat, serta akan tercermin pada kesuksesan produk unggulan baru perusahaan, profitabilitas, bagian pasar (market share), dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Baker dan Sinkula, 2009; 1999; Narver dan Slater, 1994; Hult dan Ketchen, 2001; Narver dan Slater, 1998; Becherer dan Maurer, 1997; Day 1994).
Hasil dari implementasi strategi yang berdasar pada orientasi pasar, memungkinkan perusahaan beradaptasi dengan sukses terhadap perubahan lingkungan. Orientasi pasar, secara signifikan merupakan faktor penting yang memungkinkan perusahaan memahami pasar dan mengembangkan strategi produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan kebutuhan pasar (Baker dan Sinkula, 2009). Dalam penelitian Kohli dan Jaworski (1990), ditemukan bahwa semakin besar orientasi pasar suatu organisasi, semakin besar pula kinerja keseluruhan. Narver dan Slater (1994) menemukan hubungan positif antara orientasi pasar dan profitabilitas bisnis (Day, 1994; Narver dan Slater, 1998).
Tidak semua penelitian mendukung bahwa gender berpengaruh terhadap orientasi pasar dan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian-penelitian lain melaporkan tidak ada perbedaan dalam hal orientasi dalam bisnis maupun kinerja berkaitan dengan perbedaan gender ( Johnson dan McMahon 2005; Watson dan Robinson, 2003; Watson, 2002; Anna et al. 2000 dalam Davis et al. 2010). Ada juga hasil penelitian yang menemukan dampak gender terhadap kinerja bisnis secara tidak langsung, karena gender berpengaruh ke suatu variable tertentu yang kemudian akan berpengaruh ke kinerja (Watson, 2002; Anna et al. 2000 dalam Davis et al. 2010). Hal ini membuat dampak gender terhadap orientasi pasar maupun kinerja masih belum jelas.
Berbagai hasil penelitian di atas memicu minat peneliti untuk meneliti pengaruh gender terhadap hubungan antara orientasi pasar dan kinerja keuangan usaha-usaha mikro. Usaha mikro dipilih karena diharapkan memiliki fleksibilitas dan daya respon pada peristiwa lingkungan. Orientasi pasar diharapkan berpengaruh terhadap kinerja keuangan, dan gender adalah variabel moderatingnya.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Perusahaan yang memiliki orientasi pasar yang kuat akan memiliki prioritas pembelajaran tentang (1) pelanggan (seperti, suka atau tidak suka, ketidakpuasan, persepsi, dan lainnya), (2) faktor yang mempengaruhi pelanggan (misalkan, persaingan, kecenderungan ekonomi, sosial budaya, dan lainnya), dan (3) faktor yang mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi dan memuaskan pelanggan (misalkan teknologi, regulasi, dan lainnya) (Narver dan Slater, 1994; Kohli dan Jaworski, 1990; Narver dan Slater, 1994).
Gambar 1.
Gender Sebagai Variabel Pemoderasi Hubungan Antara Orientasi Pasar dan Kinerja Keuangan Bisnis
Perusahaan yang berorientasi pada pasar memiliki ketrampilan untuk menilai kebutuhan konsumen, sehingga mungkin menjadi yang pertama menawarkan generasi baru produk dan jasa pada pasar (Day, 1994). Selain itu, perusahaan lebih mungkin membuat perluasan lini dan merek terhadap pasar target baru (Baker dan Sinkula, 1999; Gatignon dan Xuereb, 1997; Kohli dan Jaworski, 1990; Narver dan Slater, 1990). Riset empiris memberi dukungan atas perspektif ini.
Penelitian Kohli dan Jaworski (1990), menemukan bahwa semakin besar orientasi pasar suatu organisasi, semakin besar pula kinerja keseluruhan. Narver dan Slater (1990) menemukan hubungan positif antara orientasi pasar dan kinerja keuangan bisnis (Day, 1994; Narver dan Slater, 1998). Kinerja keuangan adalah ukuran luaran (outcome) keuangan. Pengukuran kinerja keuangan menggunakan daftar pertanyaan yang dikembangkan oleh Baker dan Sinkula (2009). Ukuran kinerja keuangan terdiri tiga butir pertanyaan. Daftar pertanyaan berkaitan dengan perubahan penjualan, perubahan laba, dan perubahan laba margin (profit margin)
Orientasi pasar, secara signifikan merupakan faktor penting untuk memungkinkan perusahaan memahami pasar dan mengembangkan strategi produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan kebutuhan pasar. Orientasi pasar yang kuat menuntut organisasi untuk fokus pada lingkungan yang berpengaruh pada kemampuan organisasi untuk meningkatkan kepuasan konsumen (Baker dan Sinkula, 1999). Strategi yang berorientasi pasar, memungkinkan perusahaan beradaptasi dengan sukses terhadap perubahan lingkungan sehingga perusahaan dengan orientasi pasar yang
Kinerja Keuangan
Orientasi pasar
kuat dapat merespon kekuatan lingkungan melalui proses belajar dan memunculkan inovasi serta perilaku reaktif terhadap pasar (Baker dan Sinkula, 1999).
Penelitian yang penting dan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya adalah penelitian Kohli dan Jaworski (1993) serta Narver dan Slater (1990). Aliran yang intensif dari riset empiris telah secara konsisten, tetapi tidak secara bulat, melaporkan hubungan orientasi pasar dan profitabilitas, bahkan pada perusahaan kecil (Baker dan Sinkula, 2009, 1999; Hult dan Ketchen 2001; Narver dan Slater, 1998, Pelham 2000; Pelham dan Wilson 1996).
Di samping bukti empiris tersebut, ada dukungan teoritis bagi hubungan antara orientasi pasar dan profitabilitas. Perusahaan dengan orientasi pasar yang kuat seharusnya mampu menghasilkan profit margin yang lebih tinggi daripada perusahaan dengan orientasi pasar yang lemah. Profit margin yang tinggi adalah hasil sinergi dari pemilihan pasar target, pengembangan produk, strategi harga, serta distribusi dan promosi, yang memungkinkan penyampaian produk dan jasa disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Pada masa-masa sekarang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orientasi pasar bisa dipengaruhi oleh karakteristik demografi pemilik bisnis, semisal gender (Finkelstein dan Hambrick, 1996; Hambrick dan Mason, 1984 dalam Davis et al. 2010). Harapan bahwa laki-laki dan perempuan bertindak berbeda karena laki-laki dan perempuan disosialisasikan dalam peran yang berbeda. Hal tersebut diperkirakan akan menentukan juga nilai-nilai kerja, pengambilan keputusan, dan perilaku strategik mereka.
Beberapa penelitian di Asia dan Afrika menunjukkan bahwa pemilik bisnis perempuan dan laki-laki menunjukkan prioritas yang berbeda dalam hal produksi dan konsumsi. Pemilik bisnis perempuan cenderung menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk kebutuhan rumah tangga dan sedikit porsi untuk investasi dibandingkan para pemilik bisnis pria (Bruce dan Dwyer, 1988 dalam Surendra et al.
2001). Hal ini menunjukkan bahwa keputusan untuk pengembangan investasi dan pengembangan usaha ternyata juga dipengaruhi oleh gender.
Dalam kewirausahaan dan bisnis kecil, beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan langsung antara gender pemimpin, sebagai salah satu unsur demografi, dengan kinerja keuangan bisnis (Sigh, et al., 2001). Perbedaan antara pemilik bisnis dengan gender perempuan dan pemilik bisnis dengan gender pria pada berbagai perusahaan ternyata menentukan pendapatan, keuntungan, dan pertumbuhan ( Du Rietz dan Henrecson 2000; Fasci dan Valdez 1998; Rosa, Carter, dan Hamilton 1996; Cooper, Gimeno-Gascon, dan Woo 1994 dalam Davis et al. 2010).
Terdapat literatur teoritik yang mendukung bahwa orientasi pasar dipengaruhi oleh perbedaan gender pemilik bisnis (Finkelstein dan Hambrick 1996; Hambrick dan Mason 1984 dalam Davis, et al. 2010). Berkembangnya orientasi pasar dibentuk secara sosial oleh gender, perempuan yang berfokus pada mempertahankan hubungan dengan konsumen potensial, dapat berdampak postif terhadap orientasi pasar (Harris dan Wilkinson, 2004)
suatu relasi dalam hal pemasaran dan penjualan, akan menjadi pendorong bagi berkembangnya orientasi pasar (Narver dan Slater, 1990).
H: Gender memoderasi pengaruh Orientasi pasar pada kenerja keuangan
Penelitian ini menggunakan Usaha Mikro di DIY sebagai unit analisis. Usaha mikro dipilih karena diharapkan memiliki fleksibilitas dan daya respon pada peristiwa lingkungan. Teknik atau prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Sampel penelitian diambil berdasarkan kriteria tertentu yaitu Mikro di DIY yang memiliki kriteria kekayaan bersih maksimal 200 juta; hasil penjualan tahunan maksimal satu milyar; milik warga negara Indonesia; berdiri sendiri; usaha perseorangan; usaha tidak berbadan hukum; usaha berbadan hukum; atau koperasi.
Penelitian ini membutuhkan reponden usaha mikro yang beragam untuk mengetahui kondisi orientasi pasar dan gender pemilik dari usaha mikro di DIY. Karakteristik responden sampel yang terdiri dari pria dan wanita, serta memiliki keberagaman dalam hal jenis usaha, lama berdiri, serta jumlah pekerja, diharapkan dapat mencerminkan keberagaman usaha mikro yang ada di DIY.
Dalam penelitian ini, kuesioner yang disebar sebanyak 350 yang kembali hanya 226, dengan komposisi pemilik bisnis pria sebanyak 107, dan pemilik bisnis wanita 119. Untuk operasionalisasi variabel, orientasi pasar diukur dengan menggunakan skala MORTN (Deshpane dan Farley, 1998). Orientasi pasar diukur berdasarkan 11 pertanyaan yang berkaitan dengan komitmen perusahaan pada kepuasan konsumen. Contoh pertanyaan untuk variabel ini adalah mengenai tingkat keterbukaan perusahaan mengkomunikasikan kesuksesan dan kegagalan dalam usaha memuaskan konsumen.
Kinerja keuangan bisnis dinyatakan dengan profitabilitas. Profitabilitas sendiri adalah ukuran luaran (outcome) keuangan. Pengukuran kinerja keuangan menggunakan daftar pertanyaan yang dikembangkan oleh Baker dan Sinkula (2009). Ukuran profitabilitas terdiri tiga butir pertanyaan. Daftar pertanyaan berkaitan dengan perubahan penjualan, perubahan laba, dan perubahan laba margin (profit margin). Contoh pertanyaan variabel ini adalah mengenai perubahan dalam profit perusahaan.
Untuk menguji efek gender sebagai pemoderasi digunakan analisis sub kelompok. Analisis ini digunakan dengan dasar memecah sampel menjadi dua sub-kelompok atas dasar variabel ketiga, variabel yang dihipotesiskan sebagai moderator, yaitu gender (Ghozali, 2009). Untuk menentukan apakah ada variabel pemoderator, digunakan analisis Chow. Analisis Chow adalah uji kesamaan antar persamaan regresi. Jika koefisien regresi antar sub-kelompok berbeda, maka dapat disimpulkan variabel ketiga yang digunakan untuk memecah menjadi sub-kelompok adalah moderator.
HASIL PENELITIAN
Uji validitas dilakukan dengan menggunakan korelasi antar skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total. Teknik yang digunakan adalah teknik korelasi
Uji validitas digunakan untuk meyakinkan apakah pengukuran memang mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur bahwa instrumen benar-benar bebas dari kesalahan sehingga menghasilkan hasil yang konsisten sehingga dapat berlaku dengan baik pada kondisi yang berbeda-beda. (Cooper dan Emory, 1995:153). Pengujian reliabilitas metode konsistensi internal dengan teknik
Cronbach’s alpha untuk uji reliabilitas.
Penelitian ini menggunakan metode konsistensi internal dengan teknik
Cronbach’s alpha untuk uji reliabilitas. Hasil uji reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien alpha variabel yang diuji. Proses perhitungan uji reliabilitas menggunakn SPSS for Windows. Pada penelitian ini, alat pengukur (kuesioner) yang dipergunakan untuk mengukur semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini semuanya dapat diandalkan atau reliable.
Untuk menghitung orientasi pasar digunakan 11 pertanyaan. Bagi kelompok pemilik usaha mikro pria, jawaban terendah dari sebelas item pertanyaan tersebut adalah 3, sedangkan jawaban tertinggi adalah 10. Nilai jawaban rata-rata pertanyaan adalah 6, 9890. Untuk responden pemilik usaha mikro wanita, jawaban terendah dari sebelas item pertanyaan tersebut adalah 2,13, sedangkan jawaban tertinggi adalah 9,25. Nilai jawaban rata-rata pertanyaan adalah 5,9958.
Variabel lain yaitu kinerja keuangan yang dinyatakan dalam profitabilitas. Dihitung dengan 3 pertanyaan. Untuk reponden pemilik usaha mikro pria, nilai terendah 3,3 dan nilai tertinggi 10, serta jawaban nilai rata-rata 7, 1931. Untuk responden pemilik usaha mikro wanita, jawaban terendah adalah 1,5, sedangkan jawaban tertinggi adalah 9,25. Nilai jawaban rata-rata pertanyaan adalah 6,5630. Tabel 1 menunjukkan deskripsi data untuk pemilik usaha mikro dengan gender pria sedangkan tabel 2 menunjukkan deskripsi data untuk pemilik usaha mikro dengan gender perempuan.
Tabel 1
Deskripsi Data Pemilik Bisnis Bergender Pria
Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Deskripsi Data Pemilik Bisnis Bergender Perempuan
Minimum Maximum Mean Std. Deviation
sebesar 0,1, sedangkan pada pemilik bisnis bergender perempuan sebesar 0,367. Tabel 3 dan tabel 4 menunjukkan hasil persamaan regresi antara pemilik bisnis bergender laki-laki dan pemilik bisnis bergender perempuan. Sedangkan tabel 5 menunjukkan hasil persamaan regresi untuk total kedua gender.
Tabel 3
Uji Signifikansi Pengaruh Orientasi Pasar Terhadap Kinerja Keuangan Pada Pemilik Bisnis Bergender Pria
Variabel Koefisien Signifikansi
Orientasi Pasar 0,397 0,001
Tabel 4
Uji Signifikansi Pengaruh Orientasi Pasar Terhadap Kinerja Keuangan Pada Pemilik Bisnis Bergender Perempuan
Variabel Koefisien Signifikansi
Orientasi Pasar 0,835 0,000
Tabel 5
Uji Signifikansi Pengaruh Orientasi Pasar Terhadap Kinerja Keuangan Total Kedua Gender
Variabel Koefisien Signifikansi
Orientasi Pasar 0,659 0,000
Dengan menggunakan rumus analisis Chow, diperoleh hasil bahwa gender memoderasi pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan bisnis.
F=
1. RSSr atau RSS3 adalah nilai restricted residual sum of squares untuk total sampel observasi gender laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian ini, RSSr sebesar 534,912.
2. Hitung nilai RSS1 untuk sampel observasi pemilik binis bergender pria. Dalam penelitian ini, RSS1 sebesar 224,219.
3. Hitung nilai RSS2 untuk sampel observasi pemilik bisnis bergender perempuan. Dalam penelitian ini, RSS2 sebesar 292,250.
Nilai F hitung 3, 9639 kita bandingkan dengan F tabel dengan df: 2 dan df: 224. Dari F tabel diperoleh nilai 2,99. Oleh karena F hitung > dari F tabel, maka dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi antar sub kelompok observasi pemilik bisnis bergender laki-laki dan pemilik bisnis bergender perempuan berbeda secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa variabel gender adalah moderator (Ghozali, 2009). Tabel 6, 7, dan 8 menunjukkan R2 dan nilai restricted residual sum of square atau RSS baik dari pemilik bisnis bergender pria, pemilik bisnis bergender perempuan, maupun total keduanya.
Tabel 6
R, R2 dan SEE dari Pemilik Bisnis Bergender Pria dan Perempuan
Variabel R R2 SEE
Pemilik bisnis bergender pria Pemilik bisnis bergender wanita Total
Restricted Residual Sum of Square atau RSS dari Pemilik Bisnis Bergender Pria
Sum of Square Df F Sig.
Restricted Residual Sum of Square atau RSS dari Pemilik Bisnis Bergender Perempuan
Restricted Residual Sum of Square atau RSS Total Kedua Gender
Sum of Square Df F Sig.
prioritas pembelajaran tentang (1) pelanggan (seperti, suka atau tidak suka, ketidakpuasan, persepsi, dan lainnya), (2) faktor yang mempengaruhi pelanggan (misalkan, persaingan, kecenderungan ekonomi, sosial budaya, dan lainnya), dan (3) faktor yang mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi dan memuaskan pelanggan (misalkan teknologi, regulasi, dan lainnya)
Hasil penelitian juga mendukung penelitian Kohli dan Jaworski (1990), yang menemukan bahwa semakin besar orientasi pasar suatu organisasi, semakin besar pula kinerja keseluruhan. Hal ini juga sama dengan hasil penelitian Narver dan Slater (1990) yang menemukan hubungan positif antara orientasi pasar dan profitabilitas bisnis Orientasi pasar, secara signifikan merupakan faktor penting untuk memungkinkan perusahaan memahami pasar dan mengembangkan strategi produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan kebutuhan pasar.
Hasil penelitian juga sesuai dengan teori yaitu antara orientasi pasar dan profitabilitas. Perusahaan dengan orientasi pasar yang kuat akan mampu menghasilkan profit margin yang lebih tinggi daripada perusahaan dengan orientasi pasar yang lemah. Profit margin yang tinggi adalah hasil sinergi dari pemilihan pasar target, pengembangan produk, strategi harga, serta distribusi dan promosi, yang memungkinkan penyampaian produk dan jasa disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gender ternyata memoderasi pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan bisnis. Hasil ini mendukung penelitian (Finkelstein dan Hambrick, 1996; Hambrick dan Mason, 1984 dalam Davis et al. 2010). Karena laki-laki dan perempuan dibentuk dengan peran sosial yang berbeda, maka diperkirakan akan menentukan juga nilai-nilai kerja, pengambilan keputusan, dan perilaku strategik mereka.
Hasil penelitian juga mendukung penelitian Du Rietz dan Henrecson 2000; Fasci dan Valdez 1998; Rosa, Carter, dan Hamilton 1996; Cooper, Gimeno-Gascon, dan Woo 1994 dalam Davis et al. 2010 yang menyatakan bahwa ada perbedaan orientasi bisnis dan kinerja antara pemimpin bisnis dengan gender perempuan dan pemimpin bisnis dengan gender pria.
Hasil penelitian juga sesuai dengan literatur teoritik yang menyatakan bahwa orientasi pasar dipengaruhi oleh perbedaan gender pemilik bisnis (Finkelstein dan Hambrick 1996; Hambrick dan Mason 1984 dalam Davis, et al. 2010). Berkembangnya orientasi pasar dibentuk secara sosial oleh gender, perempuan yang berfokus pada mempertahankan hubungan dengan konsumen potensial, dapat berdampak postif terhadap orientasi pasar (Harris dan Wilkinson, 2004)
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
yang lebih tinggi adalah hasil dari pemilihan pasar target, pengembangan produk, strategi harga, serta distribusi dan promosi, yang mengakibatkan penyampaian produk dan jasa bisa sesuai dengan kebutuhan pasar.
Hal ini menimbulkan implikasi perlunya penumbuhan kesadaran yang lebih besar mengenai pentingnya orientasi pada pasar. Perusahaan-perusahaan yang memiliki kesadaran akan perlunya bisnis berorientasi pada pasar akan mengembangkan tindakan-tindakan untuk semakin berfokus pada kebutuhan pelanggan, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gender ternyata memoderasi pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan bisnis. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan pada pemiliki bisnis dengan gender pria dan pemilik bisnis dengan gender perempuan. Koefisien determinasi pada pemilik bisnis bergender perempuan lebih besar dibandingkan pemilik bisnis bergender pria. Ini bisa terjadi karena perempuan lebih menekankan pada relasi personal dalam proses penjualan, sehingga akan mengembangkan orientasi pasar.
Hal ini menimbulkan implikasi bahwa kebijakan dan aturan bagi wirausaha sebaiknya mempertimbangkan perbedaan gendrer maupun perbedaan-perbedaan demografi yang lain. Karena perempuan dan pria dibentuk dengan aturan sosial yang berbeda, maka akan berdampak pada perilaku, cara berpikir, maupun bereaksi terhadap lingkungan.
Saran
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan pertama, sampel penelitian hanyalah Usaha Mikro yang ada di wilayah Yogyakarta. Keterbatasan peneliti menyebabkan lingkup penelitian hanya terbatas. Keterbatasan kedua, pengukuran penelitian sepenuhnya berdasarkan pada pengukuran subyektif yaitu menggunakan persepsi para pemilik dan pengambil keputusan dalam perusahaan. Hal ini disebabkan data obyektif belumlah tersedia. Meskipun dalam banyak penelitian, pengukuran secara subyektif secara metodologis dapat dibenarkan, tetapi tetap saja dapat menimbulkan bias.
Berdasarkan keterbatasan penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran. Pertama, mengembangkan penelitian dengan membagi sampel berdasarkan karakteritik Usaha Mikro, sehingga bisa dipetakan dalam jenis perusahaan apa, gender memoderasi pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan bisnis. Saran kedua, mereplikasi penelitian dengan sampel yang lebih luas baik secara geografis, demografis, maupun cakupan industrinya. Ini dilakukan agar generalisasi dapat lebih tercapai.
RFERENSI
Bagas P. 2005. Pengaruh Orientasi Pasar, Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi, Vol 2, No. 1, 35-57.
Baker, W. E., and Sinkula, J. M. 2009. “The Complementary Effects of Market Orientation and Entrepreneurial Orientation on Profitability in Small Business,” Journal of Small Business Management, 47 (4), 443-464.
Baker, W. E., and Sinkula, J. M. 1999. “The Synergistic Effect of Market Orientation and Learning Orientation on Organizational Performance,” Journal of the Academy of Marketing Science 27, 411-427.
Baron, R. M., and Kenny, D. A. 1986. “The Moderator-Mediator Variable Distinction in Social Psychological Research: Conceptual, Strategic, and Statistical Considerations,” Journal of Personal and Social Psychology, 51, 1173-1182.
Becherer, R.C., and Maurer, J.G. 1997. “The Moderating Effect of Environmental Variables on the Entrepreneurial and Market Orientation of Entrepreneur-Led Firms,” Entrepreneurship: Theory and Practice, 22, 47-58.
Cartwright, S. and Gale, A. 1995. “Project Management: Different Gender, Different Culture?” Leadership and Organization Development Journal 16(4), 12-17.
Cooper, D. R. and Emory, C.W. 1991. Business Research Methods, Fifth Edition, Chicago: Ricard D. Irwin, Inc.
Davis, P.S., Babakus, E., English, P.D., Pett. T. 2010. “The Influence of CEO Gender on Market Orientation and Performance in Service Small and Medium-Sized Service Business,” Journal of Small Business Management, 48(4), 475-496.
Day. 1994. “The Capabilities of Market-Driven Organizations,” Journal of Marketing, 58 (4), 37-52.
Deshpane, R., and Farley, J. 1998. “Measuring Market Orientation: Generalization and Synthesis,” Journal of Market FocusedManagement, 2, 213-232.
Drucker, P. 2002. “This Discipline of Innovation,” Harvard Business Review, Agust, 95-102.
Gatignon, H., and Xuereb, J.M. 1997. “Strategic Orientation of the Firm and New Product Performance,” Journal of Marketing Research, 34, 77-90.
Ghozali, I. 2005. “Konsep dan Aplikasi dengan Program Amos 16” UNDIP, Semarang.
Hair, J. F., Jr., Rolph, E. A., Ronald, L. T., and William, G. B. 1995. Multivariate Data Analysis with Reading, Ed. 4, New jersey: Prentice Hall International, Inc.
Harris, R. and Wilkinson, M.A. 2004. “Situating Gender: Students’s Perception of Information Work,” Information Technology and People, 17, 71-86.
Henard, D.H. and Szymanski, D. M. 2001. “Why Some New Products Are More Successful Than Others,” Journal of MarketingResearch, 37, 362-375.
Hult, G.T. and Ketchen, D.J. 2001. “Does Market Orientation Matter?: A Test of The Relationship Between Positional Advantage and Performance,” Strategic Management Journal, 26, 899-906.
Hurley, Hult, R., Thomas, G., and Hult, M. 1998. “Innovation, Market Orientation and Organizational Learning: An Integration and Empirical Examination,”
Journal of Marketing, p.42-54.
Kohli, A.K. and Jaworski, B. J. 1993. “Market Orientation: Antecedents and Consequences,” Journal of Marketing, 57 (3), 53-70.
Kohli, A. L., and Jaworski, B. J. 1990. “Market Orientation: The Construct, Research propositions, and Managerial Implications,” Journal of Marketing, 54(2), 1-18.
Kohli, A. K., B. J. Jaworski, and Kumar, A. 1993. “MARKOR: A Measure of Orientasi pasar,” Journal of Marketing Research, 30, 467-477.
Mudrajad, K. 2006. Strategi: Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif, Jakarta: Erlangga.
Lee, J and Miller, D. 1996. “Strategy, Environment, and Performance in Two Technological Context: Contingency Theory in Korea,” Organization Studies, Vol. 17, No.5, p.729-750.
Lukas, Bryan A., Ferrel, O.C. 2000. “The Effect of Market Orientation on Product Innovation,” Journal of Marketing Science, p 239-247.
Lumpkin, G. T., and Dess, G. G. 1996. “Claryfying the Entrepreneurial Orientation Construct and Linking it to Performance,” Academy of Management Review, 21, 135-172.
McKee, D.O., Varadarian, P.R., and Pride, W. M. 1989. “Strategic Adaptability and Firm Performance: A Market: Contingent Perspective,” Journal of Marketing, 53 (3), 21-35.
Mengue, N. and Auh, S. 2006. “Creating a Firm-Level Dynamic Capability Through Capitalizing on Market Orientation and Innovativeness,” Journal of The Academy of Marketing Science, 24, 63-73.
Miller, D. 1983, “The Correlated of Entrepreneurship in Three Types of Firms,”
Management Science, 29, p.770-791.
Miller, D and Friensen, P.H. 1983. “Strategy-Making and Environment: The Third Link,” Strategic Management Journal, 4 (3), p.221-235.
Narver, J. and Slater, S. F. 1990. “The Effect of Market Orientation on Business Profitability,” Journal of Marketing, p 20-35.
Narver, J. and Slater, S. F. 1994. “Does Competitive Environment Moderate the Orientasi pasar Performance Relationship,” Journal of Marketing, p.4655.
Narver, J. and Slater, S. F. 1998. “Customer-led and Market-Oriented: Let’s Not Confuse The Two,” Strategic Management Journal, p1 001-1 006.
Alfred, P. M. 1997. “Mediating Influences on the Relationship between Orientasi pasar and Profitability in Small Industrial Firms,” Journal of Marketing Theory and Practice, 5, 55-57.
Alfred, P. M. 2000. “Orientasi pasar and Other Potential Influences on Performance in Small and Medium –Sized Manufacturing Firms,” Journal of Small Business Management, 38, 48-67.
Alfred, P. M., and Wilson, D.T. 1996. “Longitudinal Study of The Impact of Market Structure, Strategy, and Orientasi pasar Culture on Dimensions of Small Firm Performance,” Journal of Marketing Science, 24, 27-43.
Sekaran, U. 1992. Researcah Methods for Business: A Skill Building Approach, Second Edition, New York: John Willey dan Sons, Inc.
Sigh, S.P., Reynolds, R.G., Muhammad, S. (2001). “A Gender-Based Performance Analysis of Micro and Small Enterprises in Java, Indonesia,” Journal of Small Business Management. 39(2), 174-182.
Stata, R. 1989. “Organizational Learning-The Key to Management Innovation,” Sloan Management Review, p.63-74.
William, E. B dan James, M. S. 2009. ‘The Complementary Effects of Orientasi pasar and Entrepreneurial Orientation and Profitability in Small Business,” Journal of Small Business Management, 47, 4, 443-464.
Wiklund, J. 1998. “The Sustainability of The Entrepreneurial Orientation-Performance Relationship,” Entrepreneurship-Theory and Practice, p.37-48.
Zahra, S. And Covin J.G. 1995. “Contextual Influences on The Corporate Entrepreneurship-Performance: A Longitudinal Analysis,” Journal of Business Venturing, 10(1), p.43-58.