• Tidak ada hasil yang ditemukan

281285866 Gebrakan Dakwah Dan Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "281285866 Gebrakan Dakwah Dan Politik"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

GEBRAKAN DAKWAH DAN POLITIK ERDOGAN DALAM MEWUJUDKAN VISI BESAR NEO OTTOMANISME

Oleh : MUHAMMAD ZAINI, S.Kom.I Dosen : Dr. H. A ILYAS ISMAIL, MA Mata Kuliah : Rijâlud-Da’wah Wal-Fikry

Pascasarjana Magister Studi Islam

Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta

A. PENDAHULUAN

(2)

Salah satu tokoh Islam kontemporer dan berpengaruh di abad 21 ini, yang menarik untuk kita amati dan kaji adalah Recep Tayyeb Erdogan selaku Perdana Menteri Turki, yang disegani kawan maupun lawan, bahkan di tingkat internasional. Ia telah berupaya memperjuangkan nilai-nilai Islam secara persuasif, di tengah budaya kehidupan dan sistem pemerintahan yang menganut paham sekularisme. Semenjak “diracuni” oleh Mustafa Kemal al-Taturk, dengan menggantikan sistem kekhilafahan Turki Ustmani dengan sistem sekuler pada tahun 1924. Semenjak itu, sistem pemerintahan Islam yang menguasai tiga perempat dunia menjadi terpecah belah, bak “macan ompong” .

Terkait dengan Erdogan, banyak para pengamat yang menilai, perkembangan Islam dan politik di Turki menjadi fenomena yang sangat menarik akhir-akhir ini. Keberhasilan kelompok Islam untuk mempengaruhi proses politik nasional setelah mewujud dalam partai politik yang dominan, perlu mendapatkan perhatian khusus. Bukan saja karena kehadiran para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Keadilan dan Pembangunan (Adelet ve Kalkinma Partisi/AKP) ini mampu mengurai persoalan pelik hubungan Islam dan negara, tetapi lebih dari itu, proses panjang gerakan Islam mampu masuk dalam mainstream politik Turki dengan ideologi sekuler paling kuat di dunia ini juga patut menjadi bahan diskusi.[1] Dengan king maker-nya, Erdogan selaku

Perdana Menteri Turki, Pendiri Partai Keadilan dan Pembangunan.

Dr. A. Ilyas Ismail[2], menegaskan, bahwa tampilnya Recep Tayyeb Erdogan, pemimpin baru Turki sekarang, memberikan harapan baru, tak hanya bagi Turki, tetapi juga bagi dunia Islam. Di bawah kepemimpinan Erdogan, tulis Graham E Fuller, Turki telah menjadi negara penting di dunia Islam, A Pivotal State in the Muslim World (2008), dan diharapkan menjadi pemain internasional (the international player) yang mampu mengambil peran dalam masalah-masalah regional dan global. Posisi baru Turki ini, disebut oleh R Harris Jerry Harris, sebagai fenomena “Neo-Ottomanisme”[3]. (The Nation In the Global Era: 2010).[4]

Erdogan merupakan politisi yang dijuluki sebagai “Mu’adzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki”. Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarjinalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini dalam kegelapan.[5]

(3)

Dengan kepiawaian berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam. Turki bisa mengembalikan kejayaan bangsa, yang tidak hanya kuat dari sisi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah Solusi” (Al-Islam huwa al-hal). Erdogan yang dibesarkan di lingkungan keislaman mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “TheSick Man In Europe”, menjadi Negara kuat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai Negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.

[7]

Dengan demikian, Turki kerap disebut sebagai Neo-Ottomanisme yang merupakan visi kenegaraan dan politik baru Turki yang menekankan kekuatan peran politik Turki, baik pada tingkat regional maupun global melalui kekuatan diplomatik. Jadi Neo-Ottomanisme – berbeda dengan Kekhalifahan Usmani– merupakan grand strategis yang memosisikan Turki sebagai pemain dunia (international player), tetapi menggunakan kekuatan lunak (soft power) dan steril dari interest imperialisme.[8]

Sehingga beberapa pengamat Turki berpikir mimpi bangsa dengan mendirikan kembali hari-hari kemuliaan Kekaisaran Ottoman, yang pada puncaknya membentang dari gerbang Balkan ke Samudera Hindia dan "mengklaim kepemimpinan spiritual dari dunia Muslim”.[9]

Oleh karena tegarnya Erdogan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah sekularisme Turki dan pengaruhnya yang signifikan bagi dunia Islam dan Barat, menjadikannya menarik untuk dicermati dan dikaji, dalam perspektif dakwah sebagai subjek rijâl al-da’wah (tokoh dakwah). Sehingga kegigihan dan strateginya bisa menjadi inspirasi, motivasi baru, dan teladan bahkan pola gerakan dalam memperjuangkan kemuliaan Islam dalam kehidupan.

Metode penulisan ini, dengan pendekatan deskriptif analisis, yang berupaya menguraikan latar belakang kehidupan, pemikiran dan kiprah perjuangan tokoh. Lalu menganalisisnya dalam perspektif dakwah, terhadap pengaruhnya bagi perkembangan dakwah dan dunia Islam. Selanjutnya penulis berusaha mengumpulkan sumber bacaan, referensi, fakta, dan data pendukung terkait Erdogan sebagai bahan rujukan. Mulai dari buku, koran dan situs internet. Namun menurut hemat penulis, dari aspek referensi biografi tokoh yang utuh, jika dibandingkan dengan tokoh berpengaruh lainnya di dunia –terlebih yang telah mendahului kita semua-, buku yang mengkaji Erdogan masih tergolong minim, apa lagi dalam versi Indonesia. Mungkin karena masih tergolong tokoh kontemporer yang sedang berjuang saat ini. Namun demikian, penulis sangat terbantu dengan mengeksplorasinya langsung melalui internet baik dalam bentuk berita aktual maupun e-book mengenai Erdogan.

(4)

dengan strategi dan taktik dengan sesuai dengan zamannya, guna mewujudkan ‘izzu al-Islam wa-al-muslimin.

B. BIOGRAFI KEHIDUPAN ERDOGAN

a) Latar Belakang Keluarga

Recep Tayyep Erdogan dilahirkan pada tanggal 26 Februari 1954, di sebuah desa kecil di Istanbul. Orang tua Erdogan bernama Ahmed, seorang pria keturunan yang berasal dari Batumi Georgia. Ia pindah ke Istanbul sekitar empat puluhan untuk mencari pekerjaan. Ia bekerja sebagai penjaga pantai di Laut Hitam kota Rize, sehingga sejak kecil Erdogan bergumul dengan gelombang serta belajar kesabaran dan keberanian.[10] Ayah Erdogan, selain sebagai penjaga pantai di Angkatan Laut, juga seorang politikus muslim.[11]

Orang tua Erdogan kembali –untuk kedua kalinya- ke Istanbul dengan harapan masa depan pendidikan bagi kelima putranya yang lebih menjanjikan, terutama pendidikan keislaman.[12] Erdogan hidup dengan latar belakang keluarga yang sederhana, sehingga memotivasinya untuk berjualan semangka dan kue Semolia, guna membantu orang tuanya.[13] Pendidikan keagamaan dan orang tua yang agamis telah

memiliki peran penting dalam membentuk karakterErdogan.[14]

Erdogan menikah dengan Emine, seorang gadis keturunan Arab dari kota Sard, Tenggara Anatolia, pada tanggal 4 Juli 1978. Emine merupakan seorang aktifis pada Partai Keselamatan Nasional (Milli Selamet Partisi) dan berkenalan pada awalnya ketika partai tersebut mengadakan suatu acara. Setelah pernikahan tersebut mereka sempat menunaikan ibadah haji bersama dan melanjutkan kehidupan mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Akhirnya kemudian hari, keduanya menjadi pejabat pemerintahan di Turki, meskipun jilbab yang dikenakan oleh ibi Emine menimbulkan kemarahan pihak militer dan oposisi sekular.[15]

Erdogan memiliki empat orang anak, yaitu Ahmad Buraq, Necmettin Bilal (diberi nama sesuai nama gurunya Necmettin Erbakan[16] disebabkan kekaguman dan rasa

hormatnya kepada gurunya), Isra` dan Sumayya. Necmettin Bilal telah menikah. Dari Isra` putrinya, dia memiliki dua cucu. Sedangkan Sumayya, putrinya, melanjutkan studinya di Amerika, karena Negara Turki yang dipimpin oleh ayahnya sejak 8 tahun silam melarang wanita-wanita Turki mengenakan jilbab di Sekolah ataupun di Perguruan Tinggi. Adapun ibunda Erdogan yang memiliki garis keturunan Georgia, masih hidup dan bergelut dengan kesehatannya yang memburuk karena serangan jantung dan gangguan hati.[17]

(5)

Minat keluarga Erdogan memilih pendidikan keagamaan sejak dini, terlihat dari kemauan orang tuanya yang tinggi dengan memasukkan Erdogan ke Sekolah “Imam Khatib”. Perkembangan Erdogan menjadi seorang pemuda saleh sangat cepat, sesuai dengan keinginan orang tuanya yang memilih pendidikan keagamaan yang memadukan pendidikan agama klasik dan modern.[18]

Ketika Erdogan berumur 13 tahun, dia belajar di Sekolah Dasar (Ibtidaiyah) bersama anak-anak Kota Qasim Pasha dan lulus tahun 1965. Kota Qasim Pasha terkenal dengan penduduknya yang kuat, temperamen, memiliki dialek yang menjadi kebanggaan dan kehormatan sebagaimana Erdogan merasa terhormat tinggal di sana. Di sanalah Erdogan belajar tantangan dan kekuatan,yang terlihat dalam setiap pernyataan dan pidato resminya. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, dia melanjutkan studinya ke Sekolah Menengah Imam Khatib dan lulus tahun 1973. Di sekolah inilah dia belajar fikih, aqidah dan tajwid sehingga sedikit demi sedikit meningkatkan kemampuannya dalam berbicara dan berfikir.[19]

Ketika Erdogan duduk di bangku Sekolah Dasar, salah satu gurunya memberi julukan kepadanya “Syaikh Recep”. Hal itu ketika pelajaran tentang pendidikan keislaman, gurunya bertanya kepada murid-murid siapa yang bisa melakukan shalat di dalam kelas untuk dicontoh oleh murid-murid yang lain? Erdogan mengangkat tangan untuk memimpin teman-temannya melakukan shalat. Gurunya berterima kasih kepadanya dan meletakkan koran di atas lantai sebagai sajadah (alas) untuk shalat. Dan, Erdogan kecil menolak melakukan shalat di atas koran karena di lembaran koran terdapat gambar wanita yang sedang berjalan. Sang guru merasa heran dan takjub dengan sikap Erdogan dan memuji kecerdasan dan kesalehannya sehingga memanggilnya dengan “Syaikh”. Gelar itu didapatkan Erdogan sebelum masuk Sekolah Menengah Leadershipdan Retorika. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Keagamaan “Imam Khatib”, dia melanjutkan ke Universitas Marmara Istanbul untuk belajar ekonomi dan bisnis. Erdogan sangat terpengaruh dengan pendidikan keagamaannya. Dia selalu menselaraskan antara iman, akhlak Islamiyah dan selalu mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Inilah rahasia kesuksesannya.[20]

Selama menempuh pendidikan yang berbeda-beda, Erdogan membantu orang tuanya dan mengajar saudara-saudaranya. Dia berjualan jus lemon dan semangka di jalan-jalan kota Istanbul ketika duduk di Sekolah dasar dan Menengah. Ketika tingkat Sekolah Menengah Atas, dia berjualan kue yang terkenal di Turki yaitu kue Semolina. Dia membeli kue tersebut dalam keadaan kering dengan harga murah, kemudian memanaskannya di rumah hingga menjadi lembut dan enak, lalu menjualnya dengan harga yang sesuai sehingga bisa membantu orang tuanya.[21]

(6)

yang bisa aku lakukan kecuali berjualan semangka dan Semolina saat masih belajar di Sekolah Dasar dan Menengah, agar aku dapat membantu orang tuaku dan bisa menyelesaikan studiku. Hal ini aku lakukan karena orang tuaku miskin”. Saat belajar di Perguruan Tinggi, dia bekerja di pasar kota. Meskipun belajar dan bekerja, dia tidak meninggalkan hobi favoritnya yaitu bermain sepak bola. Sejak kecil hingga dewasa, dia telah bergabung di tiga klub sepak bola yang berbeda di Istanbul. Erdogan selalu bermain sepak bola hingga lulus dari universitas dan masuk wajib milter sebagai pasukan cadangan. Setelah selesai wajib militer, dia bekerja sebagai penasihat keuangan di beberapa perusahaan finance. Hal itu dilakukan Erdogan ketika belum terjun ke dunia politik sekitar tahun tujuh puluhan.[22] Ketika masih aktif menjadi

mahasiswa, ia bergabung dengan gerakan politik yang berkembang di Negara Islam tersebut.

Bekal ketika menjadi aktivis kemahasiswaan itulah yang kemudian membantu perjalanan karirnya.[23]

c) Latar Belakang Organisasi

Sejak remaja Erdogan sudah terlibat dalam dunia organisasi, diantaranyabergabung dengan Partai Keselamatan Nasional (Milli Selamet Partisi/ Hizb Salamh Al-Wathani) yang dipimpin oleh Necmettin Erbakan, bapak partai konservatif dan menjadi Perdana Menteri Turki Pertama yang Islami. Erdogan bertemu dengan Erbakan pada saat masih duduk di bangku kuliah. Pertemuan ini membuka cakrawala berfikir Erdogan tentang politik. Dia mulai mengenal organisasi dan belajar politik bersama Partai keselamatan Nasional. Pada tahun 1975, Erdogan ditunjukkan Sebagai Ketua Kepemudaan partai tersebut, yang berdiri pada pada tahun 1972, setelah Partai keselamatan Nasional dibubarkan dan pendirinya, Erbakan, pindah ke Swiss. Sebelum dibubarkan, Erdogan telah dipilih menjadi Ketua Bidang Kepemudaan di Partai Keselamatan Nasional. Dia menduduki posisi tersebut samapai tahun 1980 dan seluruh partai dibekukan, untuk pertama kali Erdogan masuk dalam ranah hukum yang sesuai dengan otoritasnya sebagai praktisi. [24]

(7)

telah dilakukan Erdogan saat menjadi walikota dengan menata dan memperindah kota. Inilah yang menjadi nilai tambah Erdogan di mata masyarakat dan Parlemen.[25]

Kepiawaian Erdogan dalam memimpin Istanbul menjadi bukti bahwa ia memang sanggup dan layak menjadi pemimpin umat. Ia berhasil membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pengadaan air bersih, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.[26]

Selain Rasulullah Saw, sosok yang menjadi idola Erdogan adalah Necmettin Erbakan, Pemimpin Patai Keselamat Nasional Islam Turki, yang memberikan pendidikan politik. Adapun pengaruh Necmettin Erbakan pada Erdogan adalah karakter Erbakan dalam memimpin partai yang sangat membekas bagi Erdogan sehingga menjadi panutan saat menjadi pemimpin. Erbakan juga sangat percaya kepada Erdogan sehingga menyetujui setiap perubahan yang dilakukan Erdogan terhadap partainya. Termasuk kepercayaan Erbakan saat mendirikan Partai Refah tahun 1997. Erdogan selalu menghormati Erbakan sebagai guru, sehingga setelah keluar dari penjara tanggal 24 juli 1999 dan menyatakan keluar dari Partai refah[27] tahun 2001, lalu membuat partai baru, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (Adelet ve Kalkinma Partisi/AKP).[28]Meski tidak secara tegas mencantumkan azas Islam karena hal itu memang dilarang, namun demikian orang-orang AKP sudah dikenal oleh masyarakat Turki sebagai penerus perjuangan Erbakan,[29] yang berideologi Islam.

Sejak mendirikan partai AKP, dia selalu menghindari setiap perkara yang mencurigakan. Dia juga menggunakan ideologi keislaman seperti yang dilakukan Erbakan, sehingga membuat geram kelompok-kelompok sekuler. Partai ini, selalu berpihak kepada keputusan orang banyak dan tidak pernah melakukan perselisihan dengan militer Turki, bahkan mengatakan, “Aku akan mengikuti politik yang jelas untuk mencapai tujuan yang yang telah dicanangkan Attaturk, yaitu mendirikan masyarakat yang berbudaya dan modern dalam keislaman yang diyakini oleh 99% penduduk Turki”. Inilah keputusan yang dilakukan Erdogan dan menunjukkan gaya baru dari demokrasi yang membuatnya selalu memenangi pemilihan umum semenjak 2002 hingga 2007.[30]

Meski baru berusia 12 bulan, pada pemilu 3 November 2002, AKP secara fantastis meraih 34,1 persen suara. Perolehan ini menjadikan AKP sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan partai-partai nasionalis dan sekuler. Karena masih berstatus terpidana, Erdogan tidak boleh menjabat sebagai perdana menteri. Dan jabatan itu dipegang oleh wakil ketua AKP, Abdullah Gul[31]. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret 2003, setelah kasus tuduhan terhadap Erdogan dianggap selesai dan disetujui parlemen, Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri menggantikan Abdullah Gul.[32]

(8)

Sebagai bangsa, Turki memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Kasus Turki mengundang minat dan perhatian banyak pengamat, karena terjadi banyak paradoks di dalamnya. Dr. A. Ilyas Ismail, mengemukakannya sebagai berikut:[33]

Pertama, Turki adalah bangsa Muslim, tetapi negara sekuler. Dalam sejarah, Turki pernah dicatat sebagai bangsa yang sangat gigih mengupayakan terwujudnya doktrin kesatuan agama dan negara (wahdat al-din wa al-daulah), tetapi orang Turki pula yang mula-mula menghancurkannya melalui gerakan sekularisme yang dilancarkan oleh Mustafa Kamal Ataturk.

Kedua, Turki juga pernah dicatat dalam sejarah sebagai kekuatan adidaya (superpower) yang disegani di Timur maupun Barat. Akan tetapi, sejak pertengahan abad ke-19 M, muncul sebutan olok-olok sebagai “the sick man Europe” (orang Eropa yang sakit). Sebutan ini mengandung dua interpretasi. Pertama, sebagai olok-olok atas kekuasaan Turki yang terus melorot. Kedua, juga olok-olok karena Turki modern, meskipun secara kultural adalah Arab dan Islam, tetapi mereka lebih suka mengidentifikasikan diri kepada Eropa dan Barat.

Ketiga, Turki dicatat pula sebagai bangsa Islam yang paling awal melakukan pembaharuan. Tapi, Turki tak kunjung maju-maju, tak berbeda dengan negeri-negeri Islam lain yang belum lama melepaskan diri dari penjajahan Barat.

Di Istanbul, Erdogan hidup diantara dua kekuatan yang bertentangan. Kekuatan masa lalu, yang dibangun Turki Ustmani dalam beberapa abad berupa istana, masjid dan kota-kota klasik, dengan kekuatan modern, yang terlihat dari simbol-simbol baru yang diterapkan oleh Republik (sekular) Turki.[34]

D. PEMIKIRAN DAN GERAKAN DAKWAH ERDOGAN

Dalam perspektif penulis, jika membicarakan sosok Erdogan, umumnya lebih terkesan dan menonjol sebagai politikus atau negarawan muslim, daripada sebagai rijâl ad-da’wah (mujahid/aktivis dakwah) sebagaimana kesan padaHasan Al-Banna[35] dan Abul A’la Al-Maududi[36] atau pun Mohammad Natsir[37],karena kiprahnya yang lebih

dominan di ranah politik dengan dinamika keterlibatannya secara praktis.

Namun demikian, segala pemikiran dan aktivitasnya secara substansi dapat kita maknai sebagai gerakan dakwah di ranah politik. Sehingga -meminjam istilah Allahu yarham Mohammad Natsir[38]- kita dapat menyebutnya dengan “berdakwah di jalur politik”. Apalagi kentalnya komitmen orientasi politik Erdogan dengan ideologi Islam, yang disesuaikan dengan pandangan politik sekular Negara Turki. Berikut ini, penulis berusaha menjelaskan berbagai pemikiran dan aktivitas Erdogan sebagai ijtihad dakwahnya di ranah politik.

(9)

Diantara bukti komitmen keislaman dan seruan dakwah Erdogan adalah keberaniannya ketika membacakan kutipan bait-bait puisi seorang penyair Ziya Gokalp, yang disampaikan dengan penuh semangat dan suara lantang di sela-sela konferensi Umum Partai Refah di Kota Sard, Tenggara Anatolia;

“Masjid adalah barak kami, kubah adalah penutup kepala kami, menara adalah bayonet kami, orang-orang beriman adalah tentara kami, tentara ini yang menjaga agama kami”.[39]

Sehingga dengan alasan itu pengadilan intelijen Negara di Diyarbakir tahun 1998, memutuskan Erdogan selama 10 bulan penjara dan melarangnya dari aktvitas politik. Karena dianggap telah memprovokasi rakyat untuk membangkitkan rasa keberagamaan. Pada hari penjatuhan vonis pengadilan, massa mendatangi rumahnya untuk mengucapkan perpisahan dan menunaikan shalat Jumat bersamanya di Masjid Muhammad Al-Fatih. Seusai shalat, ia menuju penjara dengan diiringi 500 mobil pendukungnya. Lalu ia menyampaikan pidatonya yang terkenal, pidato yang bisa dijadikan teladan bagi sesama. Ia mengata, “Seorang mukmin kebahagiaannya akan tampak diwajahnya, dan kesedihannya ada dalam hatinya”. Lalu ia menegaskan: [40]

“Selamat tinggal, wahai para pendukungku. Aku ucapkan selamat Hari Raya Idul Adha kepada penduduk Istanbul, masyarakat Turki dan seluruh dunia Islam. Aku tidak pernah merasa keberatan dan aku tidak akan dendam untuk menentang negaraku. Aku akan menghabiskan waktu beberapa bulan ini untuk mempelajari jalan-jalan yang dapat mengantar negeri ini pada era millennium ketiga, insyaAllah itu adalah masa-masa yang indah. Aku akan bekerja sungguh-sungguh dipenjara. Sementara kalian yang berada di luar penjara, berbuatlah sesuai dengan batas kemampuan kalian….aku titipkan kalian kepada Allah, mohon maafkan aku, doakan aku agar bisa bersabar dan diberi kekuatan. Sebagaimana aku berharap kalian tidak mengeluarkan protes apapun terhadap partai-partai lain. Hendaknya kalian menjalani semuanya ini dengan penuh kewibawaan dan ketenangan, tanpa ada tindakan protes dan teriakan penentangan sebagai ungkapan rasa sakit kalian. Tunjukkan kecintaan kalian pada kotak-kotak suara pada pemilu yang akan datang”.

(10)

Bersama sahabat perjuangannya, Abdullah Gul, ia memikirkan cara baru untuk merealisasikan ide-ide reformasi mereka yang bertentangan dengan pemikiran pemimpin sekaligus guru mereka, yaitu Necmettin Erbakan. Perbedaan pendapat sangat jelas di antara kelompok orang-orang yang ingin mempertahankan kepemimpinan Erbakan dan kelompok reformis yang dipimpin oleh Erdogan dan Gul, di mana keduannya memiliki pemikiran bahwa Partai Refah berda dalam kesalahan fatal selama masih berseteru dengan Negara dan menggunakn semboyan-semboyan keagamaan dalam masalah politik, sebagaimana pengobaran semangat pasukan yang melestarikan sekularisme Attaturk. Maka kudeta pun terjadi secara diam-diam, dan pemerintah Erbakan dijatuhkan serta adanya larangan terhadap Partai Refah. Bahkan Partai Fadhilah penjelmaan baru Partai Refah pun dibubarkan.[42]

Maka akhirnya kelompok pembaharu, Erdogan dan Gul mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), di bawah pimpinan Erdogan pada 14 Agustus 2001. Prediksi Erdogan terealisasikan, lalu Partai AKP berhasil mengikuti pemilu yang diselenggarakan pada tahun 2002. Selain itu partai ini berhasil mangantarkan 323 wakil-wakilnya di parlemen. Ini adalah kemengan yang gemilang, di mana pemerintah bisa mengatur pemerintahan sekarang.[43] Dalam politik moderatnya, Erdogan selalu menjaga hubungan dengan berbagai kelompok didasari pada kecerdasan politik yang dimilikinya. Ia bekerja berdasarkan keteguhan semangat politiknya yang jauh dari ektrimisme keagamaan, apalagi background Islami yang menjadi ciri khasnya. Beberapa factor Erdogan disukai rakyat adalah reputasi baik dan kewibawaannya, tidak punya cacat dan tidak suka mengumbar janji-janji kosong.[44]

Partai AKP bukan hanya partai moderat, tapi ia parta Islami yang memadukan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan politik. Berdasarkan keyakinan bahwa partai Islam adalah partai yang mampu memposisikan ajaran Al-Quran dan Hadits dalam bentuk prinsip-prinsip dasar yang cakap dalam mengatur Negara dan masyarakat. Inilah yang ditunaikan oleh partai AKP, dimana ia berjuang demi menegakkan keadilan social dan menghormati nilai-nilai keagamaan, mengakui nilai-nilai-nilai-nilai keagamaan, memenuhi kesejahteraan masyaraat, menjamin kebutuhan meraka terhadap pendidikan dan kesehatan, serta mendorong potensi negaranya.[45] Walau masih tidak terang-terangan menyatakan menegakkan syariat Islam di Turki, Erdogan dan partainya sudah berhasil meyakinkan masyarakat Turki yang sudah sekian puluh tahun terkungkung dalam topeng sukuler Turki kepada pembangunan nilai-nilai Islam yang universal.[46]Hingga akhirnya mengantarkan Abdullah Gul sebagai Presiden dan Erdogan sebagai Perdana Menteri Turki.

(11)

rakyat Turki, bahwa sekularisme yang pernah menggurita dan ekstrem pada masa Mustafa Kamal Attaturk, yang menihilkan nilai-nilai Islam, adalah masa kegelapan yang membuat negeri indah ini berada dalam kendali otoritarian dan pemimpin yang mabuk dalam kekuasaan. Erdogan meyakinkan rakyatnya, bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhalifahan Utsmani, kekhalifahan yang tidak hanya kuat dari segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Pada masa lalu, kekuasaan Khilafah Utsmaniyah mampu membuka jalur-jalur perdagangan ke berbagai belahan dunia, bahkan sampai ke Indonesia.[47]

Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah Solusi” (Al-Islama huwa al-hal), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu menunjukkan kesantunan dan kepiawaiannya dalam berpolitik, sehingga berhasil menumbangkan “berhala sekularisme Attaturk” tanpa melakukan kudeta dan melesatkan peluru sebutir pun. Sekularisme yang disucikan militer, dan dijaga oleh kekuatan senjata, mampu ditumbangkan dengan kudeta tanpa senjata. Siapa mengira, symbol-simbol keislaman yang pada masa lalu dilarang dan diganti dengan hukum Swiss (Swiss Code) oleh dictator Kemal Attaturk, seperti jilbab dan lain-lain, kini bisa bebas dan kembali menjadi identitas muslimah Turki di jalan-jalan. Bahkan tak ada yang menduga, dengan “kudeta tanpa senjata” pengunaan yang tabu dalam lembaga-lembaga pemerintahan, kini mendapat kebebasan. Jilbab bahkan masuk istana dan menghiasi acara-acara kenegaraan, dengan tampilnya Nyonya Erdogan sebagai ibu Negara.[48]

Erdogan merupakan contoh politisi dan pemimpin yang tidak larut dalam kekuasaan, sehingga melupakan identitas keislamannya. Jejak rekamnya dalam membela kaum muslimin yang tertindas, terutama di Palestina, sudah tidak diragukan lagi. Begitu pun kritik-kritiknya terhadap Barat, terutama yang tergabung dalam Uni Eropa, terkait persoalan hak-hak asasi umat Islam yang terkadang mendapatkan perlakuan zalim.[49]

Sehingga dengan yang demikian, banyak pengamat –Turki dan Barat-menilai bahwa kebijakan luar negeri Turki telah bergeser ke sumbu "baru” yaitu fokus ke arah Timur yang “terlalu Islami” dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang ditetapkan oleh Attaturk. Namun Erdogan dan Partai AKP membantah pandangan tersebut.[50]

b) Gerakan Dakwah

Aktivitas keislaman dan dakwah telah bersentuhan dengannya semenjak masih kecil di bawah bimbingan orang tuanya yang agamis. Bahkan ketika masih remaja ia telah aktif di partai dakwah yang dipimpin oleh Erbakan.

(12)

senjata yang tidak kalian miliki. Senjata itu adalah keimanan. Kami memiliki akhlak Islam, teladan bagi umat manusia, Rasulullah Saw.[51]

Salah satu pendekatan dakwah Erdogan ialah merasakan kebutuhan, dekat dan peduli dengan kaum mustadh’afin (fakir miskin dan dhu’afa), yang kemudian menjadi basis pendukungnya. Ini pula merupakan strategi dakwah Rasulullah Saw pada masa awal penyebaran Islam.

Saat menjabat walikota Istanbul, Erdogan sukses dalam menanamkan sosoknya sebagai penolong bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dimana ia telah banyak memberikan bantuan kepada orang banyak, baik bantuan uang maupun materi. Dalam waktu bersamaan, Erdogan masih tetap menunjukkan sosok orang yang taat beragama dan menjalankan shalat tepat pada waktunya. Ia selalu menyertakan dalil dari Al-Quran dan Hadits dalam setiap pidato dan sambutan-sambutannya. Erdogan juga masih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana di Qasim Basya. Ia menolak untuk pindah ke tempat lain, yang layak bagi seorang walikota di kota besar seperti Istanbul. Bahkan ia berhasil mengeluarkan kota Istanbul dari hutang-hutangnya yang mencapai milyaran dollar menjadi keuntungan dan investasi senilai 12 milyar dollar dan dengan pertumbuhan mencapai 7%.[52]

Semua ini dicapai Erdogan berkat kecerdasan, sentuhan “tangan sucinya” dan kedekatannya dengan masyarakat, terlebih kaum buruh, karena Erdogan telah menaikkan upah buruh, serta memberikan perlindungan dalam bidang kesehatan dan sosial. Persoalan besar yang pernah menimpa Istanbul, mampu diselesaikan Erdogan, diantaranya; persoalan air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah, dimana jutaan penduduk kita tidak memperolehnya selama bertahun-tahun, saat bantuan air dari ibu kota terputus beberapa tahun lamanya. Keadaan ini berubah semenjak tahun 1996, air bersih selalu memancar permanaen dan secara alami di berbagai daerah perkotaan yang padat berbagai sudutnya. Bahkan Erdogan adalah orang pertama yang mendidrikan tempat-tempat berbuka puasa untuk umum di Kota Istanbul pada bulan ramadhan. Di tempat itu disajikan makanan hangat bagi orang yang tidak memiliki makanan berbuka saat waktu berbuka tiba. Ini merupakan kegiatan sosial yang mendapat sambutan baik dari penduduk kota. Termasuk memberikan beasiswa kepada para pelajar pada awal-awal tahun ajaran pendidikan.[53]

(13)

publik Turki, bagaimana mungkin Eropa dan Amerika yang jauh lebih sekuler dari Turki masih membolehkan siswi untuk mengenakan jilbab. Sementara Turki malah melarang. Erdogan pun akhirnya mengangkat logika ini untuk menyerang para anti Islam yang berlindung di balik topeng ideologi sekuler. Akhirnya, pada pemilu 2007, partai yang dipimpin Erdogan mendapatkan suara yang sangat luar biasa, 46, 7 persen. Suatu perolehan yang belum pernah terjadi di pemilu Turki secara demokratis. Angka ini menjadikan AKP memperoleh 340 kursi dari 550 kursi parlemen. Dalam kemenangan itulah, Erdogan dan partainya mengajukan proposal RUU Paket Demokrasi. Yang di antaranya, undang-undang yang membolehkan jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah.[54]

Keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina, Erdogan secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melakukan lobi untuk mendukung perjuangan Palestina. Terakhir dalam diskusi internasional ‘World Economic Forum’ di Davos, Swiss, yang dihadiri Presiden Israel Shimon Peres, Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Amir Moussa, Erdogan duduk disamping Presiden Israel Shimon Peres menyatakan bahwa, “Israel adalah negara yang lebih daripada sekedar barbar” Beliau menatap tajam mata Presiden Israel Shimon Peres yang seolah cuek saja dengan Erdogan. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum.[55]

Sehingga Turki di bawah AKP dan Erdogan menjadi tempat berlabuh para aktivis Islam, dan seluruh kekuatan-kekuatan Islam, yang ingin membangun komunikasi politik dan kerjasama antar Gerakan, dan mereka bisa bertemu di Istambul Turki. Turki menjadi tempat semua Gerakan Islam yang ingin bertemu untuk menyamakan visi gerakan mereka. Ini yang tidak ada di negara Islam, khususnya di dunia Arab, dan tempat lainnya. Di mana pemerintahan Turki di bawah AKP, memfasilitasi berbagai kelompok dan kekuatan Islam di seluruh dunia, yang ingin melakukan pertemuan dan menggalang kerjasama di Istambul Turki. Kelompok-kelompok Islam di Turki terus tumbuh, dan bersemi dengan baik, dan mereka mengaktualisasi pemikiran dan gerakan mereka, dan semuanya tanpa ada restriksi (hambatan). Pemerintah Turki di bawah AKP, memperjuangkan perubahan konstitusi, yang merupakan produk militer, dan hasil kudeta tahun l982, dan inilah yang ingin di rubah oleh Erdogan dan AKP. Termasuk dibebaskan semua pelajar, mahasiswa, dan pegawai untuk menggunakan jilbab.[56]

(14)

sebagai satu-satunya Perdana Menteri Turki yang menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Liga Arab (Arab League Summit) di Khartoum, dan Turki diberi status “Permanent Guest”. Semua langkah Erdogan ini, selain memperkuat pengaruh Turki di negeri-negeri Arab, juga dengan sendirinya menaikkan kemajuan ekonomi Turki itu sendiri.[57]

Mengenai rahasia kesuksesannya yang mengembalikan perekonomian Turki untuk hidup dan mendorongnya secara kuat untuk berhasil dan mampu menjembatani terjadinya kesenjangan sosial dengan meningkatkan penghasilan dan mengurangi pengangguran. Rahasianya pada tiga hal; pertama, manajemen sumber daya manusia. Keduamanajemen informasi. Ketiga, manajemen keuangan.[58]

Dari hari kehari Turki mengalami perubahan dan melepaskan baju westernisasinya untuk kembali kepada prinsip-prinsipnya dan bangga dengan identitas-identitas, peradaban dan posisinya di antara negera-negara Timur Tengah, Asia tengah dan Eropa. Inilah wajah baru Turki di bawah manajemen politik Erdogan.

[59] Pemerintahan mengeluarkan kebijakan baru terhadap kekuatan militer yang selama ini berpengaruh, yaitu sesuai dengan standar yang ditentukan Kopenhagen (maksudnya standar politik dan konstitusi yang harus diambil Turki agar bisa diterima menjadi anggota Uni Eropa dengan konstitusi baru, dan yang terpenting adalah menyingkirkan lembaga militer dari politik dan menjauhkannya dari campur tangan sipil dan pengadilan). Kebijakan ini diambil dengan tujuan mengembalikan fungsi dan peran lembaga tersebut.

Selain itu, Konstitusi Turki menunjukkan bahwa bentuk tatanan Negara di Turki adalah republik demokratik sekular. Namun akhirnya realita yang terlihat adalah bahwa upaya yang dilakukan oleh Erdogan melalui Partai AKP sejak tahun 2002 telah berhasil menjadikan tatanan politik di Turki sebagai contoh atau model yang patut mendapatkan perhatian. Semua pihak memperbincangkan tentang model Turki (The Turkish Model) yang berporos pada tiga pilar utama yaitu demikrasi, sekularisme dan Islam. Dapat kita katakana, rahasia perubahan tatanan politik Turki menjadi salah satu alat kekuatan yang lembut pada tingkat regional, yaitu:

1. Merupakan model dari sikap kelompok Islamis dimana melalui tatanan tersebut mereka mampu berinteraks dengan keadaan dalam dan luar negeri di Negara mereka dengan sikap yang realistis, pragmatis dan moderat.

2. Merupakan model demokrasi Islam yang moderat yang selama ini yang dicari oleh Amerika Serikat dan berupaya secara luas untuk menerapkannya secara luas.

3. Merupakan model kemampuan identitas Islam untuk beradatasi dan menghargai nilai penting di masyarakat yaitu kebebasan, keadilan dan transparansi.[60]

(15)

rakyat Turki, yang dapat dinilai sebagai gebrakan politik dan dakwahnya, antara lain;

[61]

1. Adanya faktor kepemimpinan di dalam Partai AKP, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki visi, integritas, kredibel, dan komitmen yang sungguh-sungguh dengan visi mereka. Bukan orang-orang oportunis, yang hanya semata mengejar kekuasaan. Mereka bekerja di dalam sebuah kekuasaan dengan visi yang sangat jelas. Tiga tokoh utama dalam AKP, yang membuat Partai AKP menjadi pilihan rakyat Turki, yaitu Recep Tayyib Erdogan, yang menjadi perdana menteri, Abdullah Gul, yang menjadi presiden Turki, dan Ali Babacan, yang menjadi deputi perdana menteri.

2. Adanya “Triumvirat” AKP; Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, sebagaiarsitek perubahan di Turki, melalui instrumen Partai AKP. Ketiganya orang yang terdidik, berlatar belakang sebagai ekonom, dan ketiganya pernah bekerja di lembaga multilateral. Abdullah Gul pernah bekerja di IDB (Islamic Development Bank), dan World Bank. Erdogan, yang ekonom pernah bekerja di IDB, dan memulai karir politiknya sebagai Walikota Istambul, yang sukses, saat Partai Refah, yang dipimpin Necmetin Erbakan memenangkan pemilu di Turki l994. Ali Babacan, ekonom yang sangat jenius, dan menjadi deputi perdana menteri, dan ketua negosiator dengan negara Uni Eropa. Tokoh “Triumvirat” Turki, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, ketiganya adalah tokoh yang memiliki visi yang jelas, integritas yang tinggi, komitmen, dan kesungguhan menjalankan dan memperjuangkan visi atau cita-cita yang dimilikinya dengan bekerja keras. Tetapi, yang paling pokok, mereka memiliki visi (cita-cita) yang jelas, dan meperjuangkannya dengan jalan dan instrumen yang terbuka, disertai komitmen yang tidak pernah putus, selama satu dekade ini. Karena pandangan dan sikap ketiga pemimpin Turki itu, rakyatnya memberikan apresiasi dengan dukungan politik, yang konstan selama satu dekade ini.

3. Hanya dalam waktu satu dekade Turki di bawah kekuasaan Partai AKP, yang dipimpin Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan, terjadi perubahan yang luas. Ekonomi Turki mengalami “booming”, ditandai dengan meningkatnya “income perkapita” rakyat Turki. Menurunnya inflasi di bawah dua digit. Surplus perdagangan luar negeri Turki yang terus meningkat, dan Turki menjadi kekuatan keempat ekonomi di Eropa. Mata uang Lira Turki sejajar dengan dollar. Semuanya itu telah mengubah kehidupan rakyat Turki yang lebih makmur.

(16)

E. PENGARUH GERAKAN DAKWAH ERDOGAN

DAN VISI NEO OTTOMANISME

Dari uraian di atas, fakta inilah yang membuat Abdel Halim Ghazali, komentator resmi The New Anatolian, mengimbau para pemimpin dan penguasa Arab agar berubah memandang Turki sekarang. Menurut Ghazali, Erdogan menjalin hubungan ekonomi dan persaudaraan dengan Arab secara sungguh-sungguh, jauh dari basa-basi, dan tak lagi sebatas retorika. Kebangkitan Turki di bawah Erdogan dan peran politik luar negeri Turki yang makin menonjol belakangan ini, dinilai banyak pengamat, termasuk oleh lawan-lawan politik Erdogan, sebagai fenomena kebangkitan “Neo-Ottomanisme.” Neo-Ottomanisme adalah visi kenegaraan dan politik baru Turki yang menekankan kekuatan peran politik Turki, baik pada tingkat regional maupun global melalui kekuatan diplomatik. Jadi, Neo-Ottomanisme –berbeda dengan Kekhalifahan Usmani– merupakan grand strategi yang memosisikan Turki sebagai pemain dunia (international player), tetapi menggunakan kekuatan lunak (soft power) dan steril dari interest imperialisme.[62] Pendek kata, neo-ottomanisme ini sebagai "soft power" menjadi jembatan antara Timur dan Barat, sebuah bangsa Muslim, negara sekular, demokratik, dan sebagai kekuatan ekonomi kapitalis.[63]

Paham Neo-Ottomanisme ini digagas untuk pertama kalinya oleh Prof. Ahmed Davutoglu[64], ketua Penasihat Erdogan untuk urusan kebjikan luar negeri, dalam karyanya yang termasyhur, Strategic Deph. Davutoglu dikenal sebagai tokoh yang paling vokal menyuarakan Neo-Ottomanisme dan menekankan pentingnya warisan Ottomanisme sebagai pemikiran besar yang perlu diperhatikan oleh para pengambil kebijkan di Turki (the most elaborate articulation of neo-ottomanism, and importance of ottoman legacy, on strategic thinking of Turkish decision makers). Menurut tesis Davutoglu, kekuatan (politik) suatu negara ditentukan oleh dua faktor. Pertama, faktor geo-strategi dan geo-politik. Kedua, faktor kesejarahan, tetapnya kedalaman (kekayaan) sejarah (historical dept). Turki, menurut Davutoglu, merupakan negara yang istimewa (unik), karena dianugerahi oleh Tuhan kedua kekuatan itu, baik dari lokasi geo-politiknya yang menguasai dan mengendallikan selat Bosporus, epicenter dari Balkan, Timur Tengah, dan Kaukasus, maupun keutamaan warisan (legacy)-nya yang amat besar dan agung dari Kerajaan Ottoman. Berkat kekayaan legacy-nya ini, Turki, tegas Davutoglu, berpeluang besar menjadi penguasa di kawasan Islam. (That Turkey is the natural heir to Ottoman Empire that once unified the Muslim World and therefore the potential to become the Muslim regional power).[65]

(17)

kalangan muda, pendukung dan penggerak reformasi di tiga negara itu.[66] Kunjungan Erdogan ke beberapa negara muslim tersebut, bahkan ke Indonesia serta dukungannya kepada Palestina, kiranya lebih merupakan ungkapan dari visi neo-ottomanisme.

[67] Dalam kunjungan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan yang kali ketiganya ke Indonesia pada Rabu malam (7/11/2012), telah menjadi simbol memperkuat kembali Hubungan Turki-Indonesia, yang berakar sejak dari abad ke-12. Bahkan ulama Islam Turki dipandang berpengaruh dalam menyebarkan Islam di nusantara.[68]

Dalam konstalasi politik dengan negara-negara Barat, Turki tidak pula mau dipandang sebelah mata. Turki, tegas Davotuglu, bukan negara pinggiran, peripheral, dan tidak pula hanya “konco wingking” (sideline) dari Uni Eropa, NATO, dan Amerika Serikat. Sebaliknya, Turki justru diharapkan, seperti masa lalunya yang gemilang, menjadi international player baik pada tingkat regional maupun global. Inilah hakikat Neo-Ottomanisme. Pertanyaannya, mampukah Erdogan mewujudkan visi Neo-Ottomanisme ini? Sejarah jugalah yang akan membuktikannya.[69]

F. PENUTUP

Mengakhiri pembahasan ini, ada beberapa hal yang dapat kita kesimpulandan pelajarannya, bahwa;

1. Sosok Erdogan telah membawa perubahan bagi Turki dan dunia Islam. Sehingga Peran Turki di tingkat regional Eropa dan Timur Tengah sangat berpengaruh, dan bahkan posisi Turki sekarang menjadi sangat penting dalam masalah isu politik global dan dunia Islam. Karena visi politiknya yang menjadi kekuatan baru dunia Islam dengan semangat neo-ottomanisme, yang siap bersaing dengan Barat secara positif, dalam bingkai demokrasi, tentunya bukan imprealismekekaisaran.

2. Dalam konteks perjuangan dakwah, Erdogan tidak kaku, bahkan mampu melakukan penyesuaian strategi dalam memperjuangkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat dan sistem politik kenegaraan dalam menghadapi pengaruh sekularisme yang dibangun al-Taturk. Sehingga sulit bagi pengikut sekularisme untuk mencari alasan dalam menggulingkan pemerintahannya, apalagi kebijakan Erdogan merupakan harapan dari representasi masyarakat Turki, yang mampu diperjuangkan olehnya dalam mengangkat kesejahteraan kehidupan.

(18)

4. Dalam konteks keindonesiaan tentu kita pun mengharapkan ada tokoh-tokoh perubahan sekaliber Erdogan. Memiliki visi, integritas, kredibelitas, dan komitmen dalam memajukan umat, bangsa dan Negara serta memperjuangkan nilai-nilai syariat Islam dalam sistem kenegaraan, sebagai negara mayoritas penduduk muslim di dunia.

( Mohon sebutkan sumber dan penulis dalam pengutipannya )

DAFTAR PUSTAKA :

Baran, Zeyno, Torn Country Turkey Between Scularism & Islamism, California United State of Amerika; Hoover Institution Press Pub lication, 2010

Taghian, Syarif, Erdogan Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, Jakarta: Al-Kautsar, 2012, Cet. 1

A. Ilyas Ismail, Dr., MA, http://koran.republika.co.id/koran/24, Selasa, 1 November 2011 Mashadi,

http://www.eramuslim.com/editorial/membandingkan-partai-akp-turki-dengan-partai-islam-di-indonesia.htm ( Rabu, 13 Rajab 1432 H / 15 Juni 2011 11:25 WIB)

Muhammad Nuh,

http://www.eramuslim.com/berita/silaturrahim/erdogan-dan-dakwah-islam-di-turki.htm#.UMs6cazKeuI (Kamis, 9 Safar 1430 H / 5 Februari 2009 13:00 WIB)

http://www.wikipedia.org

http://www.sabili.co.id/resensi/kebangkitan-pos-islamisme-analisis-strategi-dan-kebijakan-akp-turki-memenangkan-pemilu

http://www.islamedia.web.id/2012/11/pm-erdogan-kunjungi-indonesia.html

http://jimbuie.blogs.co

m/journal/2010/01/might-american-and-turkish-empires-become-competitive-1.html

http://profil.merdeka.com/mancanegara/r/recep-tayyip-erdogan/ http://internasional.kompas.com/read/2011/09/16/08262291/Neo-ottomanisme.Kemalisme.dan.Erdogan

http://internasional.kompas.com/read...e..dan.Erdogan

[1] http://www.sabili.co.id/resensi/kebangkitan-pos-islamisme-analisis-strategi-dan-kebijakan-akp-turki-memenangkan-pemilu

[2] Pemerhati Politik Timur Tengah dan Dunia Islam, yang juga Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam As-Syafi’iyyah (UIA) Jakarta dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(19)

sebagian besar Afrika Utara dan Kaukasus. Neo Ottomanisme telah digunakan untuk menggambarkan kebijakan luar negeri Turki di bawah Partai Keadilan dan Pembangunan yang mengambil alih kekuasaan pada tahun 2002 di bawah perdana menteri Recep Tayyip Erdogan. Neo-Ottomanisme sebagai kebijakan luar negeri mendorong keterlibatan meningkat di wilayah ini sebagai bagian dari tumbuh pengaruh regional Turki. Turki menggunakansoft power untuk mencapai tujuannya. Kebijakan luar negeri ini, memberikan kontribusi terhadap peningkatan hubungan Turki dengan negara tetangga Timur Tengah, khususnya dengan Irak, Iran dan Suriah. (http://en.wikipedia.org/wiki/Neo-Ottomanism)

[4]http://koran.republika.co.id/koran/24, Selasa, 1 November 2011

[5] Syarif Taghian, Erdogan Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, Jakarta: Al-Kautsar, 2012, Cet. 1, Hal.v [13] Syarif Taghian, Ibid., hal.14 [14] Syarif Taghian, Ibid., hal.17 [15] Syarif Taghian, Ibid., hal.19

[16] Necmettin Erbakan (29 Oktober 1926 - 27 Februari 2011) lahir di Sinop, di pantai Laut Hitam di utara Turki. merupakan seorang insinyur Turki, akademik, politisi (pemimpin Partai Keselamatan Nasional), yang merupakan Perdana Menteri Turki dari tahun 1996 sampai 1997. Dia adalah Menteri pertama Perdana Turki Islam. Pada tahun 1997 ia ditekan oleh militer untuk mundur sebagai perdana

menteri dan kemudian dilarang berpolitik oleh mahkamah

konstitusi.http://en.wikipedia.org/wiki/Necmettin_Erbakan [17] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.20

[18] Syarif Taghian, Ibid., hal.15 [19] Syarif Taghian, Ibid., hal.13 [20] Syarif Taghian, Ibid., hal.13-14 [21] Syarif Taghian, Ibid., hal.14 [22] Syarif Taghian, Ibid., hal.14-15

[23]http://profil.merdeka.com/mancanegara/r/recep-tayyip-erdogan/ [24] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.16

[25] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.16-17

[26] http://www.eramuslim.com, /berita/silaturrahim/erdogan-dan-dakwah-islam-di-turki, loc.Cit.,

[27] Pada akhirnya Partai Rafah dibubarkan oleh Dewan Nasional karena dianggap bertentangan dengan idelogi negara sekuler Turki.

[28] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.17-18

[29]http://www.eramuslim.com, / berita/silaturrahim/erdogan-dan-dakwah-islam-di-turki, loc.Cit.,

[30] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.18

[31] Abdullah Gül (lahir di Kayseri, 29 Oktober1950) adalah salah satu pendiri Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkınma Partisi/AKP. Menjadi Perdana Menteri Turki (19 November2002 - 12 Maret2003), wakil perdana menteri, dan menteri luar negeri (14 Maret2003 )Turki. Sebagai pilihan resmi Perdana Menteri Erdoğan dan Partai Keadilan dan Pembangunan, Gül terpilih sebagai Presiden Turki dalam pemilihan presiden pada 28 Agustus2007. (http://en.wikipedia.org)

(20)

[33]http://koran.republika.co.id, Loc.Cit., [34] Syarif Taghian, Op.Cit., hal.15

[35] Hassan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin(Persaudaraan Muslimin). Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari1949 di Kairo. Kepergian Hassan al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan 2 karya monumentalnya, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Da'i serta Kumpulan Surat-surat. Selain itu Hasan al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini. Selain itu ia juga dikenal akan cara berdakwahnya yang sangat tidak biasa. Ia terkenal sangat tawadlu dikarenakan ia sering berdakwah di warung-warung kopi tempat oarang-orang yang berpengetahuan rendah berkumpul untuk minum-minum kopi sehabis lelah bekerja seharian. Dan ternyata cara tersebut memang lebih efektif dilakukan dalam berdakwah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna)

[36] Sayyid Abul A'la Maududi (Urdu: یدودوم ىى لعلا وبا دیس - pengejaan alternatif nama akhir Maududi, dan Mawdudi) (25 September1903 - 22 September1979), juga dikenal sebagai Mawlana (Maulana) atau Syeikh Sayyid Abul A'la Mawdudi, adalah jurnalis, teolog, dan filsuf politikPakistanSunni, dan mayor pemikir Islam Ortodoks abad ke-20.Dia juga merupakan figur politik di negaranya (Pakistan), dimana didirikan partai Islam Jamaat Al-Islami. Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu fokus tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam. Sayyid Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. (http://id.wikipedia.org/wiki/Abul_A%27la_Maududi)

[37] Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli1908 – meninggal di Jakarta, 6 Februari1993 pada umur 84 tahun) adalah perdana menteri Indonesia, pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemukaIndonesia. Di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia. Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan daribudaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Pemerintah Indonesia saat itu, baik yang dipimpin oleh Soekarno maupun Soeharto, sama-sama menuding Mohammad Natsir sebagai pemerontak dan pembangkang, bahkan tudingan tersebut membuatnya dipenjarakan. Sedangkan oleh negara-negara lain, Natsir sangat dihormati dan dihargai, hingga banyak penghargaan yang dianugerahkan kepadanya. Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir)

(21)

sehingga menyebutnya “sekarang kita berpolitik di jalur dakwah”. Dengan demikian beliau memandang bahwa dakwah dan politik ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat

dipisahkan, karena keberpikannya untuk menyelamatkan umat. [48] Syarif Taghian, Ibid., hal. vi-vii [49] Syarif Taghian, Ibid., hal. vii

[50] Zeyno Baran, Torn Country Turkey Between Scularism & Islamism, California United State of Amerika; Hoover Institution Press Pub lication, 2010

[51] Syarif Taghian, Op.Cit., hal. 25 indonesia.htm (Kamis, 26 Rabiul Awwal 1434 H / 7 Februari 2013)

[57]http://koran.republika.co.id, Loc.Cit.,

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)

Diposkan oleh MUHAMMAD ZAINI di 07.29

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Label: Gebrakan Dakwah Erdogan

Lokasi: Jakarta Turkey

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini akan menghasilkan perangkat lunak yang mampu membuat visualisasi 3 dimensi dari simulasi penempatan jumlah barang secara maksimal pada gudang dan secara efisien dari

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Bertukar Pasangan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan tata nama senyawa dan persamaan reaksi

panduan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa program ini belum mampu menjadikan PKBM peserta program menjadi PKBM Tematik. Hal ini karena agar menadi PKBM

Sedangkan pada sediaan emulgel tidak mengandung etanol 95% sehingga daya proteksi yang dihasilkan oleh sediaan emulgel tidak mengalami penurunan yang drastis karena minyak akar

Jika ketiga pasangan diatas adalah pasangan pernikahan dini yang memiliki pengalaman hidup berumah tangga dengan masalah dan keadaan yang berbeda- beda, begitu

Informasi tentang tipe khusus perlengkapan seperti transformator (daya, instrument, industri, rel listrik, distribusi), reaktor, bushing, perlengkapan hubung bagi dan kabel

Hasil dari penelitian ini dimaksudkan untuk menambah referensi pada proses perancangan kapal tipe trimaran asimetris dengan kendala yang masih mampu dikendalikan atau

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan rahmat serta Rosulullah Muhammad SAW yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya