Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal Universitas Diponegoro
Pelindung:
Prof dr Susilo Wibowo MS ED SpAnd Penasehat:
Prof Dr Ignatius Riwanto SpBD, Dr H Muhammad Nasir MSi Akt, Sukinta SH MHum,
Dr Muhammad Nur DEA, Dr Adi Nugroho Pemimpin Umum:
Hendra Kusuma Wahyu Hardani Sekretaris Umum:
Ratna Trianingsih Pemimpin Redaksi: Ridha Swasti Hapsari Pemimpin Litbang: Mia Aulia Hasana, Arnindya Kanti Prasasti
Staf Redaksi:
Hasan Anwar, Taufiq Bagus Prasojo, Anna Kurnia, Gagah Aluvi Redaktur Artistik dan Online:
Siti Khatijah Staf Artistik dan Online: Furqon Abdi, Amalia Puspita Sari, Mohamad
Reza Huzain, Azam David Saifullah, Widya Prabandari, Ratih Putri Budiyanty
Manajer Iklan: Taufik Hidayat Staf Iklan:
Hayatul Fitri, Rahman Adi Nugroho, Taufik Budiawan
Manajer Rumah Tangga: Eka Mei Fajar Y Produksi dan Distribusi: Tidar Priyo Santoso, Widayanti
Kadiv Data dan Informasi: Ali Budi Utomo Staf Data dan Informasi:
Andri Imam Subekhi Kadiv Jaringan dan Kerjasama:
Farah Melchalida Staf Jaringan dan Kerjasama:
Lutfi Agung Mardiansyah Kadiv Kaderisasi: Bondika Ariandani Aprilia
Staf Kaderisasi: Septian Ananggadipa Alamat Redaksi, Iklan dan Sirkulasi: Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Joglo Universitas Diponegoro Jl. Imam Bardjo, S.H.
No.2 Telp. (024) 8446003 Semarang 50241 E-mail: [email protected]
Web: www.manunggal.undip.ac.id
SAJIAN UTAMA
- Sistem Distribusi Penuai Kontroversi - MLM, Peluang atau Jebakan? - Sukses “Hanya” Berbekal Downline - Bisnis Menggiurkan yang BerisikoPOLING
- Populer tapi Tak DiminatiPENDIDIKAN
- Mengkritisi Industri Perfilman lewat KineclubARTIKEL DOSEN
- Client’s Trusting RelationshipARTIKEL MAHASISWA
- Menjadikan Sektor Perikanan dan Kelautan sepertiBatik
FACE TO FACE
- Anak Muda Indonesia, Menirulah!PROFIL
- The CS, Nasyid Kebanggan UndipOLAHRAGA
- Efektif dan Efisien ala ParkourBISNISIANA
- Mandiri ArtGAYA HIDUP
- Hati-hati Pakai High Heels!CORNER
- Selami Bahasa Inggris dengan VOAINTERMEZZO
- Dari Es Krim Hingga BateraiTECHNO
- Waktunya Bersentuhan dengan Dunia 3DKULINER
- Nasi Kucing House of Raminten - Serba Jamur di JejamuranPLESIR
- Berwisata Bersama Sang Panglima - Meriam Lumpur si Bledug KuwuTO BE FIT
- Atasi Insomnia, Tidur Lebih BerkualitasKONSULTASI
CERPEN
- Perjalanan IlusiSalam sejahtera...
Layaknya gelombang, sebuah organisasi pasti pernah mengalami pasang surut. Itulah yang dialami Manunggal saat ini. Meskipun demikian, hambatan dan tantangan tidak seharusnya
menjadi penghalang untuk terus berkarya. Karena itu, majalah Manunggal bisa tetap berada di
tangan pembaca, dengan seonggok isu yang siap disajikan.
Pada edisi ini, Manunggal menghadirkan tema Multi Level Marketing (MLM) yang kian
po-puler. Pengertian, pendapat para pakar, dan tak lupa pro kontra MLM, disajikan lengkap dalam rubrik Sajian Utama. Poling tentang MLM pun siap melengkapi informasi pembaca mengenai
bisnis satu ini.
Dalam rubrik Face to Face, Manunggal mengangkat sosok Mario Teguh, yang
popularitas-nya tak lagi diragukan. Ada juga profil The CS, grup nasyid Undip dan Kineclub. Bagi pecinta
artikel kesehatan, ulasan mengenai insomnia dan bahaya high heels bisa disimak.
Setelah itu, referensi kuliner unik di Kota Gudeg Yogyakarta siap menemani pembaca dalam
menentukan tempat makan yang cocok dan pas . Pilihan obyek wisata untuk menghilangkan
penat juga tersaji dalam rubrik Plesir, diantaranya Monumen Jenderal Sudirman dan Bledug
Kuwu.
Terakhir, rekomendasi film, musik dan buku, dihadirkan lengkap dalam rubrik resensi.
Hitam Putih MLM
Konon, istilah
Multi Level Marketing
(MLM) mulai diperkenalkan Karl
Ramburg dari Amerika pada 1945. Ia mulai memasarkan produk Nutrilite
ke-pada teman-temannya. Berawal dari hal tersebut, bisnis MLM berkembang.
Kini, Indonesia juga menjadi negara yang melegalkan bisnis MLM.
MLM sejatinya merupakan sistem pemasaran berjenjang. Penjual
me-manfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem
MLM seperti penjualan produk kebanyakan, dimana distributor mengambil
keuntungan dari penjualan produk.
Awalnya niat para
member
bergabung dalam MLM hanya sekadar
coba-coba. Saat benar-benar bergabung,
member
akan diberi motivasi untuk
men-capai impian-impian mereka. Kerja keras diperlukan untuk menmen-capai impian
tersebut. Motivasi itu akan tertanam di benak para member sejak awal
ber-gabung.
Dalam hal ini,
Manunggal
lebih menyoroti pro kontra yang muncul seputar
MLM. Ada anggapan MLM hanya menjual mimpi. Ada target-target yang
ha-rus tercapai terlebih dahulu. Perlu usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit
untuk meraihnya. Tak sedikit para
member
yang mendapat penolakan karena
harga yang tinggi atau calon pembeli
underestimate
terhadap MLM.
Namun, tak sedikit yang sukses karena MLM. Banyak hal yang bisa
didapat-kan dengan MLM, salah satunya keuntungan finansial. Selain itu, MLM
menga-jarkan kemampuan marketing,
public speaking
, komunikasi persuasif,
komu-nikasi antar pesonal, bahkan psikologi.
MLM merupakan sistem pemasaran berjenjang.
Pada dasarnya, prinsip MLM terdiri dari promo-tor (upline) dan bawahan (downline). Upline bi-asanya anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan down-line merupakan anggota baru yang mendaftar atau direkrut promotor.
Yang membedakan MLM dengan penjualan
konvensional adalah anggota dapat mempu-nyai mitra (bawahan) dan merekrut mitra lagi.
Seorang mitra tidak akan dibiarkan bekerja
sendiri. Member setingkat manajer memberi
penyuluhan serta merekrut downline, yang
ber-tujuan memfollowup mitra dengan menjalin ke -dekatan emosional.
Informasi tentang jenis pemasaran berjen
-jang sendiri mengacu pada Peraturan Menteri
Perdagangan Republik Indonesia No. 13/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Penjualan
Langsung dengan memuat larangan tegas yang tercantum pada bab VII.
“Dalam upaya perekrutan berlaku Hukum Pareto. Jika mengundang 10, yang berhasil 1
orang. Jika ingin merekrut 1 juta orang maka har
-us mengundang 10 juta orang. Ini karena proses seleksi alam,” ungkap Nurul, manajer salah satu
MLM di Semarang.
Sistem Distribusi
Pemasaran berjenjang sendiri merupakan
sebuah sistem distribusi barang. Bonus didapat
dari omzet penjualan yang didistribusikan me
-lalui jaringannya. Dalam pemasaran berjenjang,
walaupun memiliki banyak bawahan, tanpa omzet bonus tidak akan diperoleh.
Sistem Distribusi
Dalam dunia bisnis,
peluang sering menjadi
satu kata ajaib yang
dinantikan banyak orang.
Terlebih bila peluang
tersebut menjanjikan
keuntungan. Salah
satunya, peluang yang
ditawarkan Multi Level
Marketing (MLM).
Nurul mengaku, keuntungan ditentukan
omzet. “Kalau tidak menjual ya tidak dapat un -tung,” katanya. Untuk mendapatkan bonus mini-mal ia harus mengumpulkan 400 Bisnis Value
(point-red) per bulan. Misalnya1 botol klorofil me -miliki nilai 29 BV.
Komisi yang diberikan dalam pemasaran
ber-jenjang dihitung dari banyaknya jasa distribusi, yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan
pembelian barang. Promotor akan mendapatkan
bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa
atas perekrutan bawahan.
Membuka Paradigma
Dengan mengikuti training MLM, para mem-ber dibekali banyak ilmu. Peserta akan dibuka
paradigmanya untuk meraih tujuan hidup. Selain itu, member juga akan mempelajari
ilmu psikologi seperti empat karakter manusia, koleris, sanguin, melankolis, dan pragmatis. Dengan ini, mereka bisa merekrut mitra dan men-getahui hal yang dibutuhkan customer.
Cara berpakaian dan cara
mempresen-tasikan suatu produk juga menjadi perhatian
suatu MLM. “Butuh orang yang pandai menden-gar, bukan pandai bicara, karena ilmu akan ma-suk pada orang yang mau mendengarkan,” tutur Nurul.
Kontroversi
Meskipun demikian, bergabung dengan MLM masih menyisakan kontroversi. Masyarakat
ma-sih apatis dengan keberadaan MLM. “Sulit jika
menemui orang-orang yang underestimate de-ngan MLM . Paling-paling ya ditolak. Kalau lagi malas ya tidak dapat pemasukan,” terang Nurul.
Awalnya, ia hanya menjadikan MLM sebagai
sambilan. Kini, sudah empat bulan ia menekuni bisnis MLM sungguh-sungguh dan
mening-galkan pekerjan lamanya di bidang garmen. Penghasilannya dari MLM kini 1-2,5 juta per bu -lan. (Mia)
Perkembangan MLM di Indonesia memang
begitu signifikan. Di era yang serba instan, cara cepat meraih kesuksesan menjadi alternatif
pilihan yang dicari banyak orang. Salah satunya, bisnis MLM.
Meskipun demikian, bukan berarti semua orang akan sukses. Sebagian orang yang mengi-kuti MLM bisa mendapatkan keuntungan dan
se-bagian lagi merasa dirugikan. Hal ini terjadi tidak
lepas dari skema piramida yang terbentuk. Pada skema piramida, agen yang berada di lapisan bawah akan mendapatkan keuntu-ngan paling sedikit karena harus banyak berbagi keuntungan dengan lapisan-lapisan di atasnya.
Disamping itu, segmen bisnisnya juga akan lebih
kecil karena biasanya agen yang direkrut MLM adalah orang dekat atau orang yang dikenalnya.
“Dalam perjalanannya agen yang berada di -posisi bawah dalam skema piramid akan mening-galkan bisnis ini dengan sendirinya karena sudah tidak menguntungkan lagi. Hal seperti ini sesuatu
yang wajar dalam bisnis pemasaran,” kata Farida Indirani, Dosen Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi Undip.
Selain itu, dalam MLM juga terdapat pemang -katan agen. Agen harus memenuhi target
terten-tu unterten-tuk mencapai pangkat tertenterten-tu, baik
berupa target penjualan maupun perekrutan
agen. Target-target itu disampaikan
seakan-akan mudah untuk dijalankan, padahal dalam
kenyataanya sangat sulit untuk mencapai target tersebut.
Multiply System
Seperti yang redaksi kutip dari salah satu pe-rusahaan MLM, bisnis ini memberlakukan mul-tiply system bagi para anggotanya. Multiply sys-tem terjadi ketika seorang agen dapat merekrut
agen, dan agen yang direkrut tadi juga merekrut
agen lagi.
Dengan multiply system ini, apabila ang-gota dapat merekrut empat orang tiap bulan dan memotivasi agen yang direkrut untuk mere-krut orang lain dengan target yang sama, maka setelah sepuluh bulan seorang agen akan mem-punyai member sebanyak 4 ^10 = 1.048.576.
Dengan mendapat agen sebanyak itu,
wa-laupun bonus untuk seorang agen atas jasa
pe-rekrutan hanya Rp 5000 per agen, maka ia akan mendapatkan bonus sebesar 1.048.576 x Rp 5000 = Rp 5.242.880.000. Sangat fantastis.
Namun, apabila dicerna kembali secara ra-sional, multiply system tersebut hanya sebuah hitungan matematis. Dalam keadaan real
se-hari-hari, merekrut orang lain untuk menjadi agen
sangat susah. Ditambah lagi dengan memotivasi
downline untuk merekrut agen juga, bisa
diba-yangkan betapa susahnya melakukan hal itu. Kalaupun ada yang berhasil merekrut
ba-Peluang atau Jebakan?
Pendapatan besar dalam waktu
yang singkat, siapa tak tergiur
dengan “tagline” ini. Satu kalimat
tersebut ternyata mampu menjadi
bius yang menyebabkan MLM
berkembang begitu pesat.
nyak agen, hal itu tak lepas dari kerja keras yang
mereka lakukan. Jika seorang agen
berkeingi-nan untuk mengembangkan bisnisnya menjadi
besar, mereka harus berani berekspektasi keluar
dengan mengajak orang-orang yang tidak me-reka kenal sama sekali untuk menjadi agen.
Menjual Mimpi
Pada dasarnya MLM hanya salah satu metode untuk memasarkan suatu produk, bukan diperuntukkan sebagai cara yang cepat dan mu-dah untuk mendapatkan uang. Namun dalam re-alitanya, MLM lebih dipromosikan sebagai cara cepat mendapatkan uang.
Iming-iming bonusnya pun tidak main-main, seperti mobil mewah, rumah mewah, dan liburan
ke luar negeri. Tidak mengherankan jika banyak
orang yang tertarik untuk mengikuti MLM. Tidak
jarang pula seorang agen berubah menjadi be
-gitu ambisius dalam menjalankan bisnis ini.
Dra Endang Sri Indrawati, MSi, Dosen
Fakultas Psikologi Undip, menjelaskan, agen
MLM yang bersifat ambisius disebabkan motiva-tor yang cenderung menyesatkan. Dalam semi-nar-seminar motivasi yang diselenggarakan
pe-rusahaan MLM, para agen jarang sekali diberikan
edukasi tentang produk perusahaan tersebut, tapi lebih banyak diberikan motivasi untuk merek-rut downline sebanyak-banyaknya.
Iming-iming bonus yang besar menjadi pele
-cut motivasi agen untuk terus berjuang dalam bi -sinis ini. Motivasi bersifat propaganda pun sering muncul dalam MLM. Seperti sugesti,“ tidak perlu
bekerja bisa produktif menghasilkan uang.“ dan
” Tidak sukses dalam MLM dianggap tidak
ber-bakat menjadi orang kaya.”
Pelajar Antusias
Pelajar pun tak luput dari iming-iming MLM. Justru pelajar begitu antusias karena sistem
MLM begitu pas dengan kondisi mereka. Sistem yang mendukung itu antara lain tidak
memerlu-kan modal yang besar, tidak bekerja full time, dan tidak dituntut mempunyai skill tertentu.
Namun, dengan pengalaman yang masih sangat minim dalam dunia bisnis serta dibumbui
dengan keinginan menjadi kaya di waktu muda, pelajar begitu antusias dalam mengikuti MLM
sampai mengorbankan waktu mereka untuk
be-lajar.
Hendro Saptono, Dosen Fakultas Hukum
Undip, mengatakan, “Yang bahaya, MLM dilaku
-kan oleh mereka yang belum dewasa (pelajar-red) karena mimpi menjadi kaya. Padahal dalam
usia tersebut, tidak memungkinkan mempunyai
public speaking, kemampuan analisis, dan cara memasarkan yang baik.”
Melihat hal ini, mendapat kesuksesan dengan mudah dalam bisnis MLM pun dipertanyakan. Apalagi, MLM sebagai cara cepat dan mudah
un-tuk kaya, sebaiknya juga dikaji lagi. Endang men
-gatakan, “MLM itu hanya menjual mimpi, mereka
(MLM-red) menarik orang dengan iming-iming kekayaan. Kenyataanya banyak yang rugi gara-gara ikut MLM.”
Dalam menjalankan bisnis MLM juga diperlu -kan keuletan dan ketekunan agar mencapai
kes-uksesan. Keuntungan yang besar juga tidak bisa didapat dengan sekejap mata. Terkadang juga mengalami kegagalan, tidak beda jauh dengan
bisnis pemasaran pada umumnya. (Hasan)
Salah satunya Christian Eko Nugroho, pebis-nis MLM dari Amway, mempunyai cerita lain men-gapa dia mengikuti bisnis MLM. Christian meng-ikuti MLM untuk menambah pendapatan selain
bekerja sebagai marketing di bidang industri.
Setelah bekerja sambil berbisnis MLM sejak 2001, Christian memutuskan berhenti bekerja
sebagai marketing lalu terjun total di bisnis MLM.
Ia menuturkan, sebelum bekerja sambil berbis -nis MLM, pria kelahiran 13 Desember 1971 ini se-benarnya sudah bergabung di Amway saat kuliah di STIMIK (sekarang Udinus, red).
Christian tertarik untuk bergabung karena usia perusahaan Amway sudah 51 tahun. Ada
garansi produk, sehingga jika konsumen sudah
membeli produk Amway lalu merasa tidak cocok, barang bisa dikembalikan dan uang bisa ditarik kembali. Penghargaan Super Brand tingkat Asia
di bidang suplemen juga menjadi pertimbangan -nya.
Terkendala Downline
Perjalanan bisnis MLM Christian bukannya
tanpa kendala. Saat mempresentasikan MLM, ia sering ditolak calon downline, seperti hukum Pareto.Ia juga pernah diusir saat berkunjung di rumah calon downline untuk menjelaskan kon -sep bisnis, karena orang tersebut ternyata tidak suka dengan MLM.
Kisah lain, ketika tengah mempresentasikan MLM kepada seorang anak, Christian dimarahi orang tua sang anak, karena menganggap MLM bisnis yang tidak baik. Bahkan, keluarganya
sendiri juga tidak setuju dengan dia yang men
-jalankan bisnis MLM. “Ngapain kok ikut begini
(bisnis MLM, red) ,mbok kerja saja,” kenangnya.
Namun ia tetap teguh menjalankan bisnis MLM.
Berkat kegigihannya, dukungan sikap dan
moral teman-teman seperjuangan, dan tetap
percaya diri meskipun penyakit polio meng-gerogoti kaki kanannya, kini Christian telah men-capai tingkat Platinum, dengan perolehan bonus
delapan sampai sepuluh juta perbula. Ia bahkan
mendapat hadiah liburan keliling Singapura, Thailand, dan Malaysia dengan kapal pesiar, serta mendapat penghargaan dari Amway.
Ditanya tentang tanggapan negatif masyara-kat terhadap MLM ,Christian menilai hal tersebut karena banyak MLM yang menawarkan
iming yang besar saat pertama kali mempresen-tasi calon downline, padahal tidak mudah untuk meraih hasil yang diimingi-imingkan tersebut. Butuh usaha keras untuk mendapatkan bonus bulanan yang bernominal puluhan atau ratusan
juta. “Banyak MLM yang menjalankan bisnis -nya dengan tidak benar dan tidak bergabung di Asosiasi Pedagang Langsung Indonesia (APLI),”
ujarnya.
Bisa Berkembang
Berbeda cerita dengan Dhadin Hidayat, pebi-snis MLM dari K-Link. “Saya melihat MLM hal yang bisa dikembangkan sehingga layak untuk
dijalankan,” kata alumnus Fakultas Ekonomi
Undip ini. Dhadin menambahkan, selain
mempu-nyai potensi yang baik, bisnis MLM juga
menan-tang, karena banyak masyarakat yang masih
enggan terjun di bisnis MLM.
Sebelum bergabung di K-Link, eks
maha-siswa jurusan akuntansi ini pernah bergabung
di perusahaan lain yang mempunyai sistem
MLM juga. Di MLM sebelumnya dia mempunyai
seorang upline. Dari upline inilah ia bergabung di K-Link.
“Saya sudah banyak mempelajari Multi Level,
saya dalami dan cermati dari berbagai segi,” Kata Dhadin ketika membandingkan K-Link dengan perusahaan MLM yang lain. Setelah mengetahui keunggulan K-Link Dhadin memutuskan untuk bergabung pada awal 2006 dan mengundurkan diri dari MLM perusahaan sebelumnya.
Dhadin yang sekarang berperingkat Diamond Manager bercerita, dirinya sering ditolak orang saat sedang mempresentasikan bisnis MLM
yang dijalankannya. “Ada yang menolak sambil mencibir,” ujarnya.
Namun, Dhadin tidak putus asa. Ia tetap men-cari orang lain untuk mempresentasikan bisnis K-Link. “Saya tidak sedih. Bagi kami, itulah cara
kami mengasah mental,” jawab Dhadin ketika dit
-anya sikapnya ketika gagal mengajak orang lain.
Dhadin tidak hanya mendapat duka saja saat menjalankan bisnis ini. Mantan anggota Resimen
Mahasiswa ini menuturkan, dia mendapat pen-didikan pengembangan kepribadian dan mem-peroleh banyak teman.
Seperti pepatah “ketekunan akan berbuah kesuksesan”, sekarang Dhadin mampu mem-peroleh bonus sekitar sepuluh sampai duapuluh
juta per bulan. Hasil ini diraih setelah empat tahun tekun menjalankan bisnis MLM.
Bukan Money Game
Disinggung tentang tanggapan negatif
ma-syarakat terhadap bisnis MLM, Dhadin berujar itu hal yang wajar, sebab masyarakat masih bias
membedakan MLM dengan permainan uang (money game), sehingga mereka beranggapan MLM adalah money game.
Padahal sejatinya, MLM dan money game berbeda. MLM adalah strategi perusahaan
yang bertujuan untuk mengubah jalur distribusi
barang. Dari yang semula melewati berbagai pos distribusi, mulai pabrik, agen tunggal, gro-sir, pengecer baru ke konsumen, dipersingkat
menjadi dari pabrik langsung ke stockist MLM.
Distributor atau anggota MLM kemudian menjual
kepada konsumen atau ke downline .
Perubahan jalur distribusi barang yang lebih
pendek menyebabkan biaya pemasaran bisa lebih murah. Selain itu, dalam bisnis MLM harus
ada barang yang dijual, berbeda dengan money game yang tidak mempunyai produk untuk dipa-sarkan. “Di Indonesia ada 850 perusahaan yang mengaku MLM, tetapi yang ada produknya hanya 250 perusahaan,” tuturnya.
Christian dan Dhadin memang hanya
seke-lumit orang yang berhasil menjalankan bisnis
MLM. Satu hal bisa dipetik, MLM membutuhkan ketekunan.(Afiq)
Bisnis Multi Level Marketing (MLM) memang
telah menjamur di Indonesia. Tak hanya berben
-tuk produk, MLM ada yang menawarkan jasa
asuransi. Sistemnya pun masih sama, dengan
menjual barang sembari mencari downline.
Bisnis ini terkesan praktis dan mudah. Tak
jarang banyak ungkapan, “kalau mau kaya, ikut MLM saja”. Namun, apakah fakta juga berkata demikian? Ironis, yang terjadi kebanyakan malah
sebaliknya.
Kita harus berhati-hati pada bisnis ini karena sebagian MLM menggunakan cara yang
men-jurus ke arah penipuan. Mahasiswa biasanya merupakan sasaran empuk untuk dijadikan
downline.
Kebanyakan mahasiswa ingin hidup mandiri dan tak ingin menyusahkan orang tua. Ini
men-jadikan MLM terlihat menggiurkan, ditambah
lagi iming-iming dalam waktu yang singkat kita bisa mendapat rumah mewah, mobil, hingga pe-sawat. Masuk akalkah?
Hal tersebut yang banyak menjerat maha
-siswa masuk menjadi downline MLM. Beruntung,
bagi mereka yang menjadi bagian dari MLM yang jujur dan tidak memaksa. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang menjadi korban penipuan
MLM?
Salah satu korban dari MLM, sebut saja
Wahyu, mahasiswa Universitas Sebelas Maret.
“Awalnya ikut salah satu MLM gara-gara diajak
temen. Waktu itu, dia presentasi, lalu saya pikir
bisnis ini lumayan menguntungkan. Ya sudah
terus gabung aja,” tutur Wahyu.
Menurut mahasiswa semester 9 ini, gaya per-ekrutan downline MLM memang agak memaksa dan terlalu berlebihan. Pasalnya, dia diiming-im-ingi keuntungan yang sangat besar dalam waktu
yang singkat. Ini juga yang membuatnya men
-jadi semakin tertarik untuk bergabung di MLM. Dengan bermodal awal uang sebesar Rp 2 juta,
Wahyu kemudian aktif mencari downline untuk MLMnya.
Akan tetapi, lama kelamaan Wahyu merasa bisnis MLM ini mulai menghambat kuliahnya. “Waktu itu saya memang harus mengikuti semua kegiatan. Mulai dari seminar-seminarnya sampai cari downline. Dan itu membuat saya jadi harus
rela bolos kuliah.”
“Awalnya saya memang tertarik dan sema-ngat cari downline. Tapi lama-lama kok jadi meru
-gikan. Udah harus bolos kuliah, uang modal juga
nggak kembali-kembali,” kata Wahyu.
Hal ini tentu membuat Wahyu dan orang
tuan-ya menjadi down. Orang tua Wahyu yang semula sangat mendukung Wahyu mengikuti Multi Level Marketing berbalik menuntut Wahyu
un-tuk segera keluar dari jaringan MLM. Tak ha-nya karena modal awal yang hilang begitu saja, tetapi juga karena prestasi akademik Wahyu yang
sa-ngat merosot akibat terlalu sering meninggalkan perkuliahan.
saya sampai semester ini,” tandas Wahyu yang
memang mulai mengikuti bisnis MLM ini sejak se -mester 2 ini. Wahyu akhirnya meninggalkan bis-nis MLM bukan hanya karena MLM telah
merugi-kan dirinya sendiri, namun dia juga merasa ber
-salah karena mengajak teman-temannya untuk
ikut MLM yang dia ikuti.
“Saya sedih karena gara-gara saya, teman-teman ikut dirugikan oleh MLM, itu yang bikin
saya jadi down. Apalagi teman-teman yang saya rekrut nggak ada yang bertahan lama, karena mereka sadar itu merugikan. Bahkan teman yang
merekrut saya pun akhirnya keluar,” ujar Wahyu.
Berkedok Launching
Wahyu bukan satu-satunya mahasiswa yang
menjadi korban MLM. Berbeda cerita dengan
Lila, mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip. Lila yang mengikuti bisnis MLM dari semester awal ini, awalnya tak terlalu berminat dengan MLM, sampai akhirnya dihubungi via telepon oleh salah satu kakak tingkatnya.
Kakak tingkatnya tersebut menawarinya
ker-ja part-time di sebuah swalayan yang memang khusus disediakan Undip, dengan syarat harus datang di acara launching-nya yang diadakan di salah satu restoran ternama di Semarang. “Waktu itu sih saya minat banget. Siapa yang nggak
berminat, tau-tau ditawarin kerja part-time,
na-manya juga mahasiswa, ya oke-oke aja. Apalagi lumayan bisa buat nambah-nambah uang saku,” tuturnya.
Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan
oleh kakak tingkatnya, bukan acara launching swalayan yang ada, tetapi seminar Multi Level Marketing. “Ketika tahu itu seminar MLM, saya sebenarnya sudah nggak terlalu berminat, tapi saya coba untuk nggak pergi dari tempat itu, sia-pa tau MLM nggak seperti yang saya pikirkan,” terang Lila.
Di akhir acara semua peserta diminta untuk menyetorkan uang sebagai modal awal. Seperti dicuci otak, Lila pun ikut menyetorkan semua
uang yang ada di ATM. “ Nggak tau kenapa, saya seperti tersugesti untuk menanam modal awal, ya sudah saya ambil semua uang di ATM, saya daft-arkan sebagai modal awal. Untungnya waktu itu, uang di ATM nggak banyak. Apalagi di tempat itu
juga ada 3 orang teman saya yang ikutan mena
-nam modal awal, saya jadi yakin,” katanya. Ternyata, setelah dijalani, bisnis MLM tidak
hanya membutuhkan pengorbanan materi, tetapi mengorbankan waktu. Lila dituntut untuk meninggalkan kuliahnya untuk mengikuti semi-nar-seminar MLM.
“Karena awalnya juga kurang berminat,
di-tambah lagi orang tua tidak mengizinkan, akh-irnya saya memutuskan untukkeluar sebelum saya semakin dirugikan. Ditambah lagi, modal
awal yang akhirnya juga nggak kembali. Nggak
logis juga, dalam waktu yang cepat kita bisa dapat
mobil dan kapal pesiar seperti yang di seminar, ” papar Lila.
Dengan berbekal pengalaman dari kedua-nya, ada baiknya kita memilah-milah bisnis yang dilakoni. Sebagai mahasiswa, sangat baik
mempunyai jiwa enterpreneurship, tetapi jan
-gan sampai itu menjadi jurang karena keinginan
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat. Bukankah usaha yang
di-awali dengan ketidakjujuran tidak akan meng -hasilkan sebuah kebaikan? (Sasti)
Di sisi lain, pihak yang dirugikan dengan hadirnya MLM pun cukup banyak. Padahal, produk yang ditawarkan MLM sangat ber-variatif dan beraneka ragam.
Di Undip sendiri, bisnis MLM juga sudah
merebak. Hampir tidak ada mahasiswa yang tidak mengetahui bisnis tersebut. Meskipun
demikian, bisnis MLM tetap menjadi pro dan
kontra bagi kalangan mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang tertarik,
mengem-bangkan jiwa enterpreneurship menjadi
salah satu alasan mahasiswa bergabung dengan bisnis tersebut. Namun, ada yang berdalil bisnis ini merugikan “bawahan” serta menguntungkan “atasan”. Anggapan ini membuat mereka enggan bergabung dengan bisnis MLM.
Prinsip mahasiswa yang notabene
ingin belajar di perkuliahan dan juga ingin bekerja mencari uang sebagai tambahan
uang saku mendorong mahasiswa untuk
mengikuti bisnis tersebut. Bekerja dengan
memainkan skill komunikasi dan juga tanpa
harus kerja keras menguras tenaga mem -buat mahasiswa tertarik mengikutinya.
Untuk menyikapinya, setiap mahasiswa selayaknya mempunyai pengetahuan men-genai bisnis yang mereka tekuni. Sehingga
diharapkan mahasiswa tidak akan terjeru -mus dengan bisnis yang mereka pilih, entah itu MLM ataupun non-MLM.
Karena itu, LPM Manunggal
mengada-kan jajak pendapat kepada 250 responden
yang semuanya adalah mahasiswa Undip
Keberhasilan bisnis Multi-Level Marketing
(MLM) merupakan dambaan kesuksesan setiap
orang yang menekuni bisnis tersebut. Bahkan
sebagian besar kalangan masyarakat mendapat
untuk menjawab perkembangan bis
-nis MLM yang telah menjamur diling -kungan kampus.
Dari jumlah tersebut, 76% maha -siswa mengetahui sistem bisnis MLM,
24% mahsiswa tidak mengetahui sistem bisnis tersebut. Hal ini menunjukan
sistem bisnis MLM sudah tidak asing lagi di kampus.
Tidak sedikit mahasiswa yang mengikuti
bisnis MLM sebagai pekerjaan sampingan demi mendapatkan uang saku tambahan. 34% ma
-hasiswa setuju jika mengikuti bisnis MLM akan mendapatkan keutungan. 43% mahasiswa tidak setuju sedangkan lainnya 23% menjawab tidak
tahu.
Ini menunjukkan bisnis MLM yang cenderung
tidak diminati, meskipun banyak kalangan meni-lai bisnis ini prospektif. Ada yang beranggapan
bisnis MLM ini bisa dikatakan baik, tetapi ada juga
yang beranggapan bahwa bisnis MLM ini buruk.
Sebanyak 41% responden menjawab bisnis
ini buruk karena mereka berpendapat MLM bersi-fat memaksa, konsumen cenderung dirugikan,
dan juga banyak pihak yang dirugikan.
Namun, 24% mahasiswa menjawab bisnis
MLM ini baik karena bagi mereka, setiap bisnis pasti ada untungnya, melatih enterpreneurship,
dan juga membentuk kepemimpinan. 35% ma
-hasiswa menjawab tidak tahu.
lingkungan sekitar, teman, atau mungkin hal lainnya. Karena media informasi ini
meru-pakan hal penting yang menjadi alasan sudah
banyaknya bisnis MLM di lingkungan kampus.
62% mahasiswa mendapat informasi mengenai bisnis MLM melaului teman atau keluarga, 22% melalui media massa serta 16% lainnya seperti
brosur. (Litbang)
Jika diproyeksikan 86% mahasiswa tidak
tertarik untuk mengikuti bisnis MLM, mereka lebih menyukai bisnin non-MLM dalam mengem-bangkan enterpreneurship. Sedangkan 14%
mahasiswa tertarik untuk mengikuti bisnis MLM tersebut.
Ini karena sebagian mahasiswa ber-pendapat, MLM hanya memberikan keun-tungan maksimal bagi upline, sedangkan downline yang harus bersusah payah
menjual produk dan mencari konsumen lain untuk naik menjadi upline.
Sebagian lain mengemukakan,
bisnis MLM hanya memberikan janji-janji yang tidak benar. MLM juga meny -ita banyak waktu karena sifat bisnisnya yang harus “agresif”.
Informasi-informasimengenai bisnis MLM dapat diketahui dari
Jajak pendapat ini dilaksanakan oleh Litbang LPM Manunggal. Pengambilan sampel dilaksanakan pada 22-23 Oktober
2010 dengan responden mahasiswa sebanyak 280 orang. Teknik pengambilan
sampel dengan metode Simple Random Sampling. Tingkat kepercayaan yang
digunakan 93% dan sampling error diperkirakan sebesar 7% dengan tidak
Pada 1926, film berjudul “Loetoeng
Kasaroeng” diproduksi di Indonesia.
Meskipun hanya film bisu, film lokal
ini merupakan awal tonggak
sejarah perkembangan industri
film Indonesia. Lebih dari 2.200
film diproduksi setelah film
tersebut.
Dari situlah, industri film Indonesia mulai
berkembang. Pada dekade 60-an, keadaan negara masih labil, terutama saat transformasi orde lama ke orde baru. Baru pada tahun 70-an,
perfilman nasional bisa berkembang tanpa gun -cangan keamanan dan politik.
Dunia perfilman Indonesia berada di pun
-cak pada akhir tahun 70-an, dimana film “Badai Pasti Berlalu” menandai awal masa kejayaan perfilman nasional. Badai Pasti Berlalu juga turut
mengerek industri musik Indonesia dengan
pen-jualan album soundtrack film yang laku keras di
pasaran.
Di tahun 80-an, film-film lokal mampu bersa
-ing dengan film impor dari Hollywood. Salah satu buktinya, jumlah pemutaran film lokal di bioskop
Indonesia yang relatif banyak. Salah satunya
Catatan si Boy, yang merupakan salah satu film
yang banyak diminati masyarakat.
Sementara itu, dekade 90-an merupakan
masa suram bagi perfilman Indonesia. Melihat kondisi perfilman nasional yang semakin jeblok, para sineas, seniman, dan jurnalis menjadi pri
-hatin, sehingga mengkritisi film yang dibuat pada
kurun waktu tersebut.
Beberapa pengkritik tersebut yaitu, Imron
Supriyadi, Garin Nugroho, dan Yayat R. Menurut Salim Said, tema film pada 90-an lebih mengede -pankan sisi komedi-horor-erotis. Selain itu pemerintah sangat otoriter dalam kancah
perkembangan film nasional.
Melihat perkembangan perfilman Indonesia
tersebut, beberapa mahasiswa FISIP tergerak
membuat sebuah komunitas mendiskusikan film. Renata Yuwana, mahasiswa Ilmu Komunikasi
organisasi pecinta film sebagai wadah saling ber -tukar pikiran antar anggota.
Kineclub adalah UKM Fakultas ISIP. “Selama ini orang beranggapan Kineclub itu milik anak-anak Komunikasi, padahal sebenarnya eng-gak,” tutur Reza, Ketua Kineclub 2010. Anggota
Kineclub tidak hanya berasal dari Ilkom saja, ada juga dari Ilmu Pemerintahan dan Administrasi
Bisnis.
Pemutaran Film
Kegiatan Kineclub meliputi pemutaran film yang baru beredar di bioskop atau film lama yang
akan dibedah dalam forum Kineclub. Dalam
fo-rum tersebut, peserta akan mempelajari teknik
pengambilan gambar, pemilihan sudut kamera, pembuatan alur cerita, editing suara, dan pesan
yang ingin disampaikan pembuat film, sehingga
peserta bisa mengambil hikmah dari pemutaran
film di Kineclub.
Acara nonton bareng diadakan di ruang Channel. Selain nonton bareng, anggota
Kineclub juga mengumpulkan film-film yang
dinilai berkualitas. Dalam perkembangannya,
Kineclub tidak hanya mengapresiasi film, tetapi telah memproduksi beberapa film indie.
Saat open recruitment anggota baru,
misal-nya, Kineclub mengajak mereka membuat film indie. Hasilnya, tercipta film tanpa dialog berjudul “Copet Enggak Ada Matinya”. Di film ini Kineclub
ingin menyampaikan pesan moral kepada pe-nonton agar tidak main hakim sendiri terhadap pencopet.
Dengan bekal beberapa film indie tersebut,
Kineclub dapat tampil di berbagai perlombaan.
Namun, UKM ini merasa belum bisa terjun ke ajang perlombaan karena masih dalam tahap pembelajaran pembuatan film.
Festival Indie
Kineclub juga pernah membantu meny -elenggarakan festival Indie Movie bersama
21
HMJ Ilmu Komunikasi FISIP. Tujuannya, untuk memotivasi para pembuat film agar semakin giat menciptakan film yang sarat pesan moral dan
mendidik masyarakat.
“Apresiasi film Indonesia setinggi-tinggin
-ya, teruskan perjuangan mereka yang su
-dah mengangkat film Indonesia, ayo kita
teruskan,”demikian pesan Reza yang menyukai
Oleh: Meidiana Dwidiyanti SKp,MSc
Pelayanan kesehatan di Indonesia umum-nya kurang memperhatikan penghargaan
terha-dap pasien. Orang bijak mengatakan, kita dihar
-gai orang lain sejauhmana kita bisa menghar-gai
orang lain.
Peningkatan pelayanan kesehatan dilaku-kan dengan meningkatdilaku-kan penghargaan pada pasien, dengan memperhatikan segala kekuatan dan kelebihannya. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan empati.
Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, banyaknya keluhan konsumen terhadap pelayanan rumah sakit dikarenakan pelayanan yang belum berorientasi pada pasien.
Pelayanan yang berfokus pada pasien ditunjuk
-kan melalui kerja sama dokter dan perawat.
Kini,peran tradisional dokter dan perawat telah berubah. Perubahan tersebut mendorong perawat untuk menilai kembali cara mereka memberikan asuhan dan berkomunikasi dengan pasien dan kolega.
Perawat dituntut membangun hubungan ke-percayaan pasien dengan cara komunikasi inter personal dalam level identitas. Artinya perawat dituntutbisa merasakan dan memikirkan kondisi
pasien dengan pasti dan jelas, sehingga mampu
mencegah komplain di luar tenaga kesehatan. Perawat bertugas membantu individu, ke-luarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat
dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang
kesehatan, penyembuhan atau menghadapi ke-matian yang pada hakikatnya dapat mereka lak-sanakan tanpa bantuan.
Tindakan mandiri perawat harus dapat
mem-berikan bantuan terhadap adanya penyimpan-gan atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia baik kebutuhan biologis, psikologis, so-sial, kultural maupun spiritual. Mulai dari tingkat individu secara utuh, mencakup seluruh siklus kehidupan, sampai tingkat masyarakat.
Salah satu aplikasi tindakan mandiri perawat adalah ketika merawat pasien stroke pada masa krisis antara lain memberikan kesempatan pada keluarga untuk merawat pasien (menyuapi, me-mandikan, dan berganti pakaian) dan mengatur posisi tidur dengan bagian kepala lebih tinggi 30
derajat.
Tindakan mengatur posisi tidur ini sangat penting dilakukan. Sehingga akan
memper-baiki tingkat kesadaran. Perawat juga mem
-berikan penjelasan pada keluarga tentang kon -disi pasien, menyarankan dan memberikan ke-sempatan keluarga untuk mendampingi sampai pasien meninggal, menyediakan Al Quran agar
keluarga membacakan surat Yasin dan bersikap
empati terhadap keluarga.
Pasien stroke yang kondisinya
memburuk-dibimbing untuk berdoa.Bisa juga mendatang -kan ahli agama pada saat pasien sakaratul maut. Dengan demikian, keluarga akan lebih tenang, menerima dan menghadapi dengan tabah.
Seorang perawat harus mendahulukantin-dakan mandiri yang membantu pasien melewati masa krisis, untuk menyelamatkan nyawanya. Misalnya, dengan melihat kondisi pasien, yang
dilakukan pertama kali adalah bebaskan jalan
mengalami peningkatan temperatur dilakukan kompres. Selama melakukantindakan tersebut, perawat selalu memonitor tanda-tanda vital.
Hal ini dilakukan perawat, karena fokus
inter-vensi keperawatan pada masa krisis ditujukan
untuk keselamatan nyawa dan penyetabilan kondisi pasien. Setelah kondisi pasien stabil baru direncanakan tindakan untuk melakukan alih
baring secara rutin untuk menghindari terjadinya
dekubitus (luka pada punggung akibat terlalu sering berbaring-red.)
Berdasarkan survei Citizen Report Card (CRC) Indonesia Corruption Watch (ICW) pada November 2009 mengenai pelayanan kesehat-an, rumah sakit pemerintah dan swasta belum ramah terhadap pasien, terutama pasien miskin.
Pelayanan di bidang kesehatan masih menjadi
problem mendasar yang dikeluhkan sebagian besar masyarakat.
Seperti kasus Prita Mulyasari (32) warga Villa melati Residence Serpong, Tangerang Selatan yang mengeluh atas pelayanan Rumah Sakit Omni International Alam Sutera (dikelola oleh PT Sarana Mediatama International). Prita merasa
dipingpong dan tidak mendapat jawaban yang
memuaskan soal penyakitnya ketika berobat di rumah sakit tersebut. Prita kemudian mengirim-kan e-mail kepada sahabatnya, yang kemudian menyebar di berbagai mailing list. Kalau Prita bisa bicara dengan perawat dengan nyaman,
tentu hal ini tidak akan terjadi.
Ada beberapa hal penting yang perlu dilaku-kan untuk meningkatdilaku-kan mutu pelayanan kes-ehatan, yaitu:
1. Pendidikan interdisiplin berpotensi
menin-gkatkan kerja tim yang lebih besar. Diharapkan akan mewujudkan mutu yang berkualitas jika
telah ada dan berakhirnya interaksi antara pe-nerima pelayanan dan pemberi pelayanan.
2. Perawat adalah tenaga yang berpotensi
untuk mencegah terjadinya komplain dan mem -bangun kepercayaan antara pasien dan rumah sakit. Hal ini penting sebagai dasar untuk mem-berikan solusi yang tepat. Melalui sistem
pelay-anan kesehatan dengan konsep kerja tim yang kuat, banyak pelajaran yang bisa di gali untuk
memberikan pelayanan yang sesuai dengan
masalah pasien,bukan hanya fisik, tetapi juga
emosi, sosial, kultural dan spiritual.
*Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Undip
Batik telah menjadi warisan budaya dan
busana kebanggaan Indonesia. Demam me-makai batik dalam acara sehari-hari mewabah di semua kalangan masyarakat, tidak mengenal batas profesi, usia, sosial, dan status pendidikan. Bahkan, instansi pemerintah dan swasta telah
mewajibkan karyawannya memakai batik pada
hari tertentu.
Semua itu mucul karena kesadaran masyara-kat untuk melindungi dan melestarikan batik se-makin meningkat. Apalagi saat Malaysia mulai mengklaim batik sebagai warisan budaya mer-eka. Dari situ Indonesia berbondong-bondong menolak klaim Malaysia dan mulai sadar untuk melestarikan batik. Dengan sendirinya, batik
menjalar ke semua lapisan masyarakat.
Seperti batik, sektor perikanan dan kelautan
juga menuntut untuk diperhatikan. Kedua sektor ini sangat menjanjikan seb
-agai penggerak utama eko-nomi bangsa. Bayangkan, Indonesia adalah negara dengan luas lautan terbesar di
dunia ini, yaitu sekitar 5,8 juta
km2, 75% dari total wilayah
Indonesia. Indonesia
mempu-nyai garis pantai terpanjang ke
dua di dunia setelah Kanada,
yakni sejauh 81.000 km, jum -lah pulau terbanyak didunia
dengan pulau besar dan kecilnya mencapai 17.508 buah.
Dari luas lautan itu dapat ditangkap ikan
setiap tahun sejumlah 6,4 juta ton, dan potensi laut untuk kegiatan budidaya seluas 24,53 juta
Ha. Luas lautan yang begitu besar meyimpan berbagai macam kekayaan laut lainnya seperti pengembangan bioteknologi kelautan, pariwi-sata bahari, pertambangan dan energi,
indus-tri dan jasa maritim, benda berharga muatan
kapal tenggelam, energi pasang surut, OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion), dan ma-sih banyak lagi (Rokhmin Dahuri, 2009, Cetak Biru Pembangunan Kelautan dan Perikanan Menuju Indonesia Yang Maju, Adil, Makmur, dan Mandiri).
Potensi sangat besar itu justru ibarat menina -bobokan masyarakat Indonesia sehingga banyak
Oleh: Panca Dias Purnomo*)
enjadikan
ektor erikanan dan elautan
eperti atik
M
S
S
P
K
masyarakat Indonesia yang lupa, tertidur nyeyak dengan gunungan emas di-dalam lautannya. P e m b a n g u n a n
Indonesia sejak
masa Orde Baru me-mang mengarah kepada pembangunan bangsa berbasis kedaratan, seperti sektor pertanian dan industri darat.
Sejauh ini sektor kelautan dan perikanan baru menyumbang 20% PDB Indonesia, pada -hal negara dengan lautan lebih sedikit dibanding
Indonesia mampu menyumbang lebih dari 40%
PDB, contohnya Jepang, Cina, Korea Utara dan Norwegia. Pembangunan selama bertahun-ta-hun itu membuat sektor kelautan dan perikanan terabaikan. Ketidakseimbangan pembangunan tersebut berimbas pada tidak diperhatikannya nelayan dan pembudidaya ikan di wilayah pesisir, sehingga nelayan dan pembudidaya ikan
men-jadi bagian masyarakat yang terkenal miskin,
terbelakang, tidak berpendidikan, dan penuh dengan penderitaan.
Image/persepsi buruk nelayan dan pembudi-daya ikan ini terbentuk bertahun-tahun
ditengah-tengah masyarakat dan merasuk jauh kedalam
otak manusia, padahal sekali lagi Indonesia adalah negara dengan potensi kelautan dan
perikanan terbesar di dunia, bahkan sejak dahulu
banyak bukti bahwa nenek moyang negara ini adalah pelaut, Indonesia adalah negara maritim, dan negara kepulauan.
Ironis memang, pemimpin negara ini belum
juga tersadar untuk mengelola potensi kelautan
dan perikanan ini seluas-luasnya untuk
kemak-muran rakyat. Lihat saja, banyak program pemer -intah untuk membangunkan raksasa kelautan
tetapi belum juga membuahkan hasil, seperti
Gerbang Mina Bahari-nya Megawati, Revitalisasi
Perikanan-nya SBY,
hingga Produsen Perikanan Terbesar 2015 yang di-canangkan Fadel Muhammad. Di ten-gah-tengah besarnya
potensi itu, justru ma -syarakatnya menganggap rendah dan memalukan profesi yang berhubungan dengan kelautan dan
perikanan. Mahasiswa yang belajar
kelautan dan perikanan pun belum sepenuhnya bangga pada bidang yang mereka tekuni.
Haruskah laut dan ikan serta kekayaan alam didalamnya dicaplok dan diklaim oleh bangsa lain terlebih dulu agar sektor kelautan dan perikanan mewabah dimasyarakat seperti batik? Haruskah laut dan seisinya dihabiskan oleh negara lain leb-ih dulu agar pemimpin negara ini bergerak nyata
menjadikan sektor kelautan menjadi penggerak
utama pembangunan bangsa?
Pemimpin bangsa ini harusnya mempunyai visi seorang Ocean Leadership--meminjam isti -lah Dr Arief Satria--yaitu pemimpin yang mampu membawa arah pembangunan bangsa ini ber-basis kelautan. Mengubah mindstream dan cara berpikir masyarakat untuk menghormati lautan
dan menjadikan sektor kelautan dan perikanan
sebagai sektor terhormat, kebanggaan, unggu-lan. Dengan demikian, kelautan dan perikanan akan mewabah seperti mewabahnya batik di ka-langan masyarakat.
Kemudian, masyarakat pun (termasuk ma-hasiswa) akan berkata bangga, Indonesia adalah negara maritim, negara kelautan dan perikanan,
yang besar, maju, dan terhormat karena lautan
dan seisinya.
*) Mahasiswa Budidaya Perairan 2007 Presiden BEM FPIK Undip 2010
Kata “super” yang selalu diucapkan tatkala
menyapa orang seolah menjadi trademark. Sang istri, Linna Teguh, selalu mendampingi di
manapun Mario Teguh bekerja. Gambaran yang
dicitrakannya adalah sosok orang yang damai, sukses dalam bisnis, dan selalu harmonis dalam rumah tangga.
Salah satu prestasi terbarunya adalah pen-catatan namanya dalam Museum Rekor
Dunia-Indonesia (Muri) sebagai motivator dengan jum
-lah fans terbanyak, terhitung lebih dari 1 juta
fans pada Mei 2010.
Berikut petikan wawancara reporter
ManunggalRio Sandy Pradana dengan Mario Teguh saat mengisi seminar di Hotel Grand Candi beberapa waktu silam.
Selamat malam Pak Mario, Salam Super..
Super sekali..
Apa tanggapan Anda mengenai asumsi kalangan muda yang
men-ganggap Mario Teguh (khususnya MTGW) hanya untuk kalangan menengah ke atas?
Ada kesalahan pendapat umum
dari para remaja. Memang pada
awalnya MTGW didesain bahkan untuk kalangan masyarakat kelas
Anak Muda Indonesia,
Menirulah!
nakan standar, ilmunya standar, tetapi ternyata
83% dari fans saya yang 1,1 juta adalah dibawah
usia 34tahun, 46% dibawah 24 tahun. Berarti anak muda Indonesia itu seleranya baik. Jangan merasa minder.
Selama ini mereka salah mengerti tentang dirinya sendiri. Kalau mereka suka saya berarti
seleranya sama. Mario Teguh juga milik kalian.
Kok bisa menyukai sesuatu tetapi merasa bukan miliknya. Anak muda harus merasa memiliki. Anak muda Indonesia seperti sedang berdiri di atas gunung tetapi tidak melihat gunung. Anak muda Indonesia harus percaya diri.
Bagaimana Anda sewaktu muda?
Saya juga pernah muda dulu sekali, Mario
kecil anak pensiunan kapten yang miskin. Saya
juga memiliki sifat yang dikeluhkan semua fans
yaitu, memiliki cita-cita yang tinggi tapi dibatal-batalkan sendiri, mempunyai impian yang besar tapi hanya mau mencoba yang kecil-kecil,
per-caya diri tetapi peragu, sulit tidur tetapi juga sulit
bangun. Sifat saya lengkap sebagai anak muda yang minder, nakal, lemah, ragu dan takut akan masa depan.
Namun, perbedaan saya dengan orang lain adalah saya itu notulen yang baik tentang proses kehidupan. Saya mencatat setiap perasaan dan pembuktian diri dalam hubungan dengan orang lain. Kalau tidak tertulis, saya catat secara men-tal. Jadi kalau saya dapat berbicara seperti ini karena saya mencatat setiap pendewasaan diri
saya. Yang ingin saya tularkan adalah motivasi is ‘very peaceful confident’. Rasa motivasi adalah
rasa percaya diri yang baik.
Apakah Anda bisa menjadi seperti ini karena belajar secara otodidak?
Iya, saya belajar sendiri, itu sebabnya saya mengajarkan semua yang saya pelajari. Dulu saya berandai-andai menjadi Mario Teguh sejak
muda. Kita harus mempunyai gambaran masa
depan sejak muda. Saya ganti-ganti, mulai dari
pemimpin skuadron pasukan pesawat tempur melawan Rusia, sampai suatu ketika melihat diri saya sebagai pribadi yang kalau sedang
berbi-cara harus didengarkan, itu saja.
Sosok Mario Teguh yang damai dan bicaranya
didengarkan. Untuk menjadi pribadi yang diden -garkan itu harus mampu membuktikan. Jadi saya
bekerja sebagai pegawai untuk mencapai pang -kat yang tertinggi lalu berhenti secepatnya
kare-na kalau saya tidak jadi yang tertinggi, kare-nanti orang
tidak percaya kalau saya menasehati pegawai.
Kalau saya tidak menjadi pebisnis yang ber -hasil nanti orang tidak percara bahwa saya bisa
memberi makan diri saya tanpa gajian. Mario
Teguh betul-betul sendiri, ‘alone’ tidak pernah menyuap dalam karirnya dan ikut tender. Orang membayar saya karena mereka membutuhkan saya.
Apakah dulu suara Anda sudah seperti ini?
Suara ini dilatih lumayan lama. Saya sadar
mulai melatih suara saya sejak kuliah tahun
1983. Perubahan bisa dimulai kapanpun, sema-kin besar perubahan yang kita butuhkan harus secepatnya dimulai. Kita harus memaksa diri,
karena didalam teori kepemimpinan, jika tidak
memaksa diri, maka akan dipaksa. Orang tidak akan suka dipaksa orang lain.
Apa saat itu Anda yakin akan sukses seperti ini?
Kata yakin saat ini harus diperbaharui. Yakin
adalah pengharapan yang baik. Saya tidak per-nah berkata “yakin”, “pasti akan bisa”, itu som-bong, mendahului Tuhan dan pasti akan kecewa, tetapi pengharapan baik karena, keyakinan dasarnya adalah iman.
Apa pesan Anda untuk anak muda Indonesia?
Anak-anak muda harus dapat menggam-barkan dirinya sebagai orang yang jadi. Sebagai anak muda menirulah, demikian hebatnya me-niru sampai tidak bisa ditiru. Saya ini sebenarnya peniru ulung sampai sulit ditiru. Karena peniru yang sulit ditiru menjadi original.
Selama beberapa tahun terakhir, aliran musik pop menjadi pilihan
utama bagi para pendengar musik Indonesia. Tingginya hasil
penjualan album pop membuat banyak orang tertarik terjun ke
dalamnya. Namun bagi enam mahasiswa Undip,
nasyid justru menjadi pilihan.
Keenamnya bergabung dalam The CS (baca: The Cis), tim nasyid Undip. The CS be-ranggotakan Iie (vokal), Azmi (bass), Saut (choir),Leon (percussion), Rifki (choir) dan Redi (choir).
The CS merupakan singkatan dari “The Choir of Sahabat”. Kata “Choir” berasal dari teknik permainan musik The CS, yaitu
acapella, suatu teknik bermain musik dengan cara meniru-kan suara alat musik meng-gunakan mulut, sedangkan kata “Sahabat” berasal dari si-fat kekerabatan yang erat antar personil, sehingga antar personil
merasa menjadi sahabat pada
umumnya.
The CS terbentuk pada 12 Maret 2005. Karena setiap personil The CS akan lulus kuliah,
maka pergantian personil The CS sering terjadi. Sejak berdiri, tercatat kurang lebih dua puluh kali
tim nasyid ini berganti personil.
Meskipun beraliran nasyid, saat tampil di
panggung The CS juga bisa membawakan na-syid yang disisipi nada jazz, rap, dangdut, dan
RnB. “Pernah satu lagu ada aliran rock dan RnB,” tutur Iie.
Ciptakan Lagu
Personil The CS tak hanya piawai menyaji -kan lagu nasyid dengan aransemen yang indah. Beberapa diantaranya bahkan bisa
mencip-takan lagu sendiri. Lagu ciptaan Iie yang berjudul
“Mama Bunda Ummi Apapun Namanya” bah-kan telah masuk dalam album Kompilasi Solois
Terpilih produksi Nada Hijrah Division of Forte Record Aquarius Musikindo 2010.
Sahabat”. Lagu-lagu The CS pernah diputar di
radio lokal maupun luar kota, dan dijadikan NSP
oleh provider jaringan telepon genggam.
Disinggung tentang jadwal latihan, Azmi cs berujar mereka berlatih dua kali seminggu sela
-ma dua jam sehari. Jika ada jadwal tampil, The CS
akan menambah waktu untuk berlatih.
Penuh Prestasi
Meskipun sering berganti-ganti perso-nil, prestasi The CS sangat membanggakan. Beberapa diantaranya, Juara I Festival Nasyid (FN) Persimaptar Akpol Jateng 2009, Juara FN
Solo Tingkat Regional Jateng - Jatim - DIY 2010,
dan Juara I FN FTI Unissula 2006.
Di tingkat nasional The CS meraih penghar-gaan Nuris Award untuk kategori Lagu Nasyid Terbaik. Salah satu tim nasyid terbaik ANN ini
juga pernah tampil
di program acara TVRI, SMESCO, bersama Opick dan SNADA, serta Bank Syariah Mandiri.
Kenyang Pengalaman
Selama lima tahun berdiri, The CS telah mem-punyai berbagai pengalaman. Pengalaman tak terlupakan didapat ketika mereka mendapat kesempatan tampil di acara tabligh akbar SMA 2 Serang, Banten.
Meskipun tak mengenal The CS, penonton disana menyambut dengan sorakan meriah saat Azmi cz keluar dari belakang panggung. Pengalaman menarik lainnya, The CS pernah dibayar dengan buah setelah tampil.
Ke depan, para personil The CS bercita-cita
membuat mini album dan memajukan musik
nasyid agar makin dikenal. (Afiq)
Nama Parkour berasal dari kata parcours du combatant, yang berarti pelatihan halang rintang untuk sesi militer. Cikal bakal parkour berawal dari latihan halang rintang militer yang didalami Raymond Belle.
Awalnya Raymond memperkenalkan pada anaknya, David Belle, tentang methode natu-ralle dan latihan halang rintang militer. Bersama
dengan sahabatnya, Sebastian Faucan,
mere-ka berlatih dan mengembangmere-kan fisik dan teknik latihan mereka sehingga menjadi sebuah dis -iplin yang saat itu dikenal dengan nama Art Du Deplacement.
Dalam perkembangannya, antara David dan Sebastian mulai terlihat perbedaan pan-dangan. Sebastian mengedepankan kebe-basan bergerak dan kebekebe-basan berekspresi yang dikenal dengan freerun. Sedangkan David mementingkan gerakan yang efektif dan
efisien, kemudian disebut parkour.
Parkour merupakan seni berpindah tempat
Pernah membayangkan bisa melewati tembok-tembok,
rintangan-rintangan, dan sejenisnya dengan cepat dan
mudah? Jangan beranggapan itu hanya ada di film saja. Ada
sebuah olahraga yang membantu kita melakukan hal seperti
itu, parkour namanya. Dengan mengutamakan efsiensi dalam
melewati rintangan, parkour sekarang mulai berkembang luas.
melewati beberapa rintangan dari point A menuju point B secara efisien dan secepat mungkin den -gan men-gandalkan kekuatan tubuh manusia. Inti dari Parkour adalah mampu menghadapi semua
halangan dan rintangan di sepanjang track yang
dilalui mengunakan gerakan yang istimewa dan indah dengan cara mengkombinasikan bebera-pa gerakan yang mengalir dan terkontrol penuh.
Parkour tidak hanya melatih fisik saja, tetapi juga mencerminkan sebuah filosofi moral den -gan nilai-nilai tersendiri. Atlet parkour putra sering disebut dengan traceur, sedangkan traceuse un-tuk atlet putri.
Tidak seperti olahraga kebanyakan, dalam parkour tidak ada kompetisi karena tidak sesuai
dengan filosofi dan nilai moral dari parkour yang
mengutamakan kebebasan. Kompetisi akan mendorong seseorang untuk mengalahkan orang lain yang disaksikan oleh penonton.
dan terkadang kita pentas untuk
memperkenal-kan parkour kepada masyarakat”.kata Yudha,
salah satu traceur yang berdomisili di Semarang. Parkour sekarang sudah dikenal di selu-ruh dunia, termasuk Indonesia. Sudah banyak video-video tentang parkour yang bisa didapat
dengan mudah di internet, bahkan ada flim yang
menampilkan gerakan-gerakan parkour, seperti
D13 dan Yamakasi.
Dinamis
Daya tarik parkour terletak pada teknik-teknik gerakan yang diperagakan, terlihat dinamis,
efisien, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan
tenaga. Gerakan parkour antara lain: landing, balance, cat balance, precision jump, rolling, cat leap, turn vault, lazy vault, speed vault, kong vault, dash vault, reverse vault, wall hop, under-bar, climb up, gap jump, dan tic tac.
Banyak orang beranggapan Parkour adalah olah raga ekstrem dengan menggolongkannya seperti skate board, BMX, dan lainnya, padahal parkour tidak seekstrem itu. Dalam melakukan gerakan parkour tidak hanya dibutuhkan nyali
saja, tapi juga membutuhkan pikiran matang, lati
-han fisik, dan teknik yang benar.
Gerakan-gerakan parkour merupakan hasil
dari sebuah latihan panjang selama belasan ta -hun yang dilakukan oleh David Belle dan kawan-kawan.
Resiko cedera dalam melakukan parkour pasti ada, tapi selama melakukannya dengan teknik dan pemanasan yang benar resiko cedera
sedikit sekali. Yudha mengatakan, “Dulu pernah
cedera, tapi setelah berlatih cara pemanasan yang benar, sampai sekarang tidak cedera lagi”.
Yudha menambahkan, “Parkour tidak olahraga
yang ekstrim, malah merupakan kegiatan yang
positif, melatih kekuatan fisik sehingga dapat
mengurangi merokok.”
Di Semarang, parkour mulai ada sekitar ta-hun 2007. Berawal dari sekelompok pemuda yang latihan gerakan-gerakan parkour, kemudi-an membentuk sebuah kelompok ykemudi-ang dinamak-an Fly to Sky. Kelompok ini latihan setiap Rabu sore di taman KB dan setiap Kamis sore di Widya Puraya Tembalang.
Kelompok ini tidak menutup kemungkinan setiap orang untuk bergabung. “Kalau ada yang
yang mau gabung, ikut aja ketika kami latihan. Siapapun boleh ikut.”kata Yudha, bendahara Fly
to Sky.
Fly to Sky juga mempunyai anggota perem -puan. “Aku tertarik parkour karena sering lihat di TV gerakan-gerakan yang seperti itu. Terus meli-hat kelompok parkour ini kemudian ingin
mempe-lajarinya” kata Nidnot, salah satu anggota wanita
Fly to Sky.
Tidak jarang para anggota Fly to Sky kena
marah dari orang tua mereka karena melakukan gerakan-gerakan parkour yang memang terlihat berbahaya. “Orang tua pernah marah-marah, apalagi ketika saya cedera. Tapi lama-kelamaan mereka mengerti kalau ini tidak berbahaya” kata
Yudha.
Begitu juga yang dialami Nidnot. Ia sering di -marahi orang tua karena keseringan berlatih par-kour, apalagi dirinya seorang perempuan. Tapi orang tua mereka mulai memahami karena me-mang parkour tidak olahraga berbahaya selama dilakukan dengan teknik yang benar. (Hasan)
Berlatar belakang keinginan menjadi mandiri
dan tidak bergantung pada orang tua, Ifmawan dkk mendirikan Tri Jaya Mandiri, dengan Mandiri Art sebagai salah satu divisinya. Mandiri
Art yang berkantor di Jl Sirojudin
Gang Jatisari IV/1 ini menghasil-kan barang-barang yang terbuat dari limbah kaca.
Awalnya, Ifmawan hanya ber-modal pisau potong dan lem
un-tuk membuat kerajinan dari
limbah kaca. “Pisau harganya 100 ribu, kalau lem sekitar 30 ribu. Sedangkan limbah kaca kami peroleh dari Fakultas Peternakan, sisa praktikum mahasiswa, dari toko, dan lain-nya,” ungkap Ifmawan.
Dengan modal kecil itulah, Ifmawan kemudian membuat
kerajinan dari limbah kaca yang bernilai tinggi. Beberapa kejuaraan
pun pernah diraihnya bersama
te-man-teman. Tak tanggung-tanggung, Juara I Reuse Festival se-kota Semarang 2009, Juara III Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Kewirausahaan 2009 dan medali perunggu Pimnas XXIII 2010 pernah mereka
sabet.
Menurut Ifmawan, produk-produk yang dihasilkan Mandiri
Art memang berbagai kerajinan dari
limbah kaca. Namun, karena ba-rang yang dihasilkan terlalu ma-hal bagi mahasiswa, maka yang
sering diproduksi Mandiri Art adalah plakat kaca. “Mungkin di Indonesia kami baru satu-satun-ya satu-satun-yang membuat ini,” tuturnsatu-satun-ya.
Empat Divisi
Seiring meningkatnya per-mintaan pasar, kini Mandiri Art tidak hanya membuat plakat dari
kaca. Ifmawan menjelaskan, Tri Jaya
Mandiri telah memiliki tiga divisi untuk
Banyak orang kreatif yang memanfaatkan
barang bekas menjadi barang baru. Ada juga
yang mahir mengolah sampah menjadi barang
kerajinan. Tidak seperti orang kebanyakan, tiga
mahasiswa Fakultas MIPA, Ifmawan, Husni
memudahkan proses produksi. Pertama, Mandiri Art yang fokus membuat
kerajinan dari limbah
kaca, seperti plakat kaca dan hiasan. Kedua, Mandiri Digital Printing, yang memproduksi mer-chandise seperti mug, gantungan kunci, pin, kaos, dan lainnya.
Selanjutnya, Mandiri
Percetakan. Divisi ini mem-produksi barang-barang seperti stiker, MMT dan pemotongan stiker. Terakhir adalah Mandiri Kuliner, yang melayani pemesanan masakan. “Berbagai divisi kami kembang-kan karena permintaan pasar,” tambahnya.
Menurut Ifmawan, proses pemasaran
men-jadi kesulitan awal menjalankan usaha. Namun,
kesulitan itu dapat diatasi karena masing-mas-ing dari mereka memiliki pengalaman dan peran strategis dalam organisasi. “Mas Husni dulu Ketua Rohis dan Rohman pernah Juara Pimnas. Ini memudahkan pemasaran kami di kampus,” ungkapnya.
Ifmawan juga menceritakan salah satu strategi pemasarannya. “Kami menjalin ker
-jasama dengan organisasi mahasiswa. Tentu saja mereka mendapat diskon khusus. Ini salah
satu strategi yang membuat mahasiswa tertarik
bekerjasama dengan kita,” jelasnya.
Untuk mengembangkan pemasaran, Mandiri Art banyak mengikuti pameran, seperti Jateng Fair dan Jakarta Fair. Bahkan, berbagai media TV lokal Semarang sering meliput. Kini, Mandiri Art telah mempunyai agen di beberapa kampus di Semarang. “Setiap 2 minggu sekali kami
menye-bar pamflet untuk promosi,” tuturnya.
Nilai Sosial
Meskipun wirausaha profit, tapi dalam bis
-nisnya, Mandiri Art juga mengusung nilai sosial.
Hal ini terlihat dari para pegawai yang diambil dari
kaum muda yang belum bekerja.
Kaum muda tersebut mendapat training khu-sus dan setelah mereka trampil, baru diangkat
menjadi pegawai tetap. “Kami juga menyisihkan 2,5 % profit kami untuk infaq pada anak yatim dan
kegiatan dakwah,” tambahnya.
Mandiri Art yang mengusung jargon
“Keajaiban Dunia Dari Limbah Kaca” juga memi -liki visi ke depan. “Visi kami pada tahun 2020 ke depan, usaha kami ini dapat membiayai sekolah 1000 anak yatim, mulai dari SD, SMP, dan SMA,” tutur Ifmawan penuh semangat.
“Kunci menjadi mahasiswa berwirausaha adalah mahasiswa harus siap mandiri, jangan
setengah-setengah dan harus bersungguh- sungguh,” pungkasnya. (Huda)
Alan/Manunggal
N
amun, tidak banyak yang tahu, terlalu sering memakai high heels berdampak buruk bagi tubuh.Efek buruk tersebut antara lain, kaki dan otot mudah cedera karena aliran darah tidak lancar. Penggunaan high heelsdalam jangka panjang juga mempengaruhi ben -tuk tulang dan tubuh. Selain itu, high heels bisa menyebabkan sistem pembuangan tidak lancar.
Pada saat menambah ketinggian hak, be-rarti menambah ketidakstabilan pada kaki. Pemakaian sepatu berhak tinggi yang
terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko radang pada ibu jari, keru
-sakan tulang telapak kaki, dan
meningkatkan risiko jari yang
melengkung.
Hak yang terlalu tinggi
juga membuat kaki me -rosot ke bagian depan
sepatu karena beban tubuh tertumpu
pada jari-jari
kaki. Pada sepatu model tertutup, jari-jari tentu
akan sakit mengenai dinding sepatu.
Ketika menggunakan high heels, pinggul miring ke depan, dan menambah kelengkungan pada tulang belakang. Tulang belakang akan ter-tumpah ke belakang untuk mengoreksi keseim-bangan, dan hal ini dapat menyebabkan pemam-patan pada punggung bagian bawah.
Pemakaian sepatu berhak tinggi yang
terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko radang pada ibu jari, kerusakan tulang telapak kaki, dan
meningkatkan kaki merosot ke bagian depan
sepatu karena beban tubuh tertumpu pada jari-jari kaki.
Postur yang dihasilkan saat berjalan dengan
high heels, menambah paksaan pada bagian be-lakang lutut. High heels mendorong pusat massa pada tubuh kedepan, membuat pinggul dan
tu-lang belakang tidak sejajar lagi. Dari samping tu -buh akan terlihat melengkung.
Otot betis berkontraksi dan menyusuaikan sudut dari high heels. Akibatnya otot menjadi
lebih pendek dan tegang. Tinggi hak sepatu dan
Hati-hati Pakai
Sepatu berhak tinggi (high heels) kian menjadi andalan perempuan untuk
tampil feminim, anggun, dan elegan. Alasannya, mereka ingin terlihat lebih
tinggi, cantik, seksi dan percaya diri.
bagian depan sepatu yang sempit dapat menimbulkan
penebalan jaringan saraf antara jari ketiga
dan keempat yang dapat menimbulkan rasa sakit
dan mati rasa pada jari.
Kaki akan mudah cedera, terutama bagian mata kaki. Otot kaki bagian bawah tidak akan
bekerja maksimal. Peredaran darah tidak akan
lancar dan terhambat di beberapa tempat. Otot lebih mudah cedera dan berkumpul pada suatu tempat karena aliran darah yang tidak lancar.
Mengenakan high heels membuat badan cenderung condong ke depan. Tulang punggung tidak akan tegak dan lurus, namun condong ke
depan. Tekanan pada jari-jari kaki lebih besar, sehingga pada umumnya jari kaki akan berbeng -kok, bentuknya tidak lagi alami seperti biasanya.
Beberapa peneliti menyebutkan bahwa high heels mampu memengaruhi ketidaklancaran sistem urogenital. Mereka yang mengenakan
high heels, sistem pembuangannya tidak lancar,
Kuatkan kaki. Regangkan betis, pinggul, dan kaki sebelum dan setelah mengenakan sepatu berhak tinggi.
sulit membuang air besar
maupun kecil. Mempengaruhi bentuk
tulang dan tubuh serta mempengaruhi kesub-uran dan hasrat seksual.
High heels membawa efek buruk bagi kes-ehatan sehingga tidak seharusnya dikenakan dan mesti di tinggalkan. Pendapat tersebut tak sepenuhnya benar karena membuang high heels
tidak berarti membuang masalah dan rasa sakit yang dialami kaki anda. High heels masih
dibu-tuhkan untuk melengkapi kinerja profesional dan
penampilan pada suatu momen penting.
Beberapa peneliti mengungkapkan fakta bahwa high heels bisa di toleransi, asal tingginya pas dan aman. Misalnya tinggi high heels tak bo-leh lebih dari satu inchi. High heels yang memiliki tinggi lebih dari 1 inci akan lebih mudah menced-erai kaki. Jika di kenakan secara rutin, bentuk kaki akan lebih mengikuti sepatu yang biasa dikena-kan. (Mia, dari berbagai sumber)
Tips Aman Ber
high Heels
:
Kenakan high heels hanya pada momen-momen tertentu. Saat berada di luar momen penting, kenakan sepatu berhak datar atau sandal agar kaki dapat lebih rileks.
Pilih high heels di bawah satu inci. Pastikan tubuh sejajar ketika mengenakan sepatu berhak
tinggi. Ketika berdiri di atas hak tinggi, jaga kepala dan dagu tetap tegak, bahu tertarik ke
belakang dan luruskan perut.
Saat melangkah, cobalah membuat hak sepatu berada segaris dengan ibu jari kaki yang satunya, dan hindari berjalan dengan pinggul membungkuk.
Lakukan terapi pada kaki. Pijat dengan rutin agar peredaran darah menjadi lebih lancar. Ini bisa dilakukan dengan berjalan di atas batu-batuan bulat atau di atas pasir pantai yang
hangat.