KEGAGALAN INSTANSI PEMADAM KEBAKARAN
Instansi Pemadam Kebakaran (IPK) adalah organisasi yangt mempunyai tupoksi dalam bidang pencegahan bahaya kebakaran dan penanggulangan kebakaran termasuk penyelamatan jiwa dari ancaman bahaya kebakaran serta bencana lainnya. IPK adalah sebuah profesi yang penuh dengan risiko bahaya sehingga sangat menekankan arti
penting ‘bugar’ dan ‘terlatih baik’ bagi personilnya. Dari sudut pandang manajemen risiko, IPK secara relative selalu mempunyai ‘andil’ dalam pengendalian risiko.
Dalam penanganan insiden kebakaran sedikitnya terdapat 15 (lima belas) taktik pemadaman kebakaran yang mengandung risiko bahaya (Safety And Survival On The Fireground oleh Vincent Dunn, terbitan Fire Engineering Books & Videos th. 1992) yaitu;
a. Operasi rescue bangunan runtuh.
b. Dalam perjalanan merespon panggilan dan kembali ke pangkalan. c. Mencari titik api kebakaran.
d. Memperpanjang gelar slang pada strategi ofensif. e. Beroperasi di atap bangunan.
n. Operasi meninggalkan bangunan (fire escape operations)
o. Pemeriksaan seksama bangunan setelah pemadaman (overhauling).
Di negeri maju pemadam kebakaran merupakan sebuah profesi yang
membanggakan. Di Indonesia sebaliknya, bahkan istilah ‘pemadam kebakaran’ telah
menjadi sebuah sebutan berkonotasi negatif terhadap instansi atau personil yang bekerjanya hanya bila sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi.
inspeksi dan penegakan hukum, membuat ‘pre-fire plan’ dan berlatih) yang tidak melulu hanya memadamkan kebakaran.
Pada warga masyarakat sendiri kesadaran mengenai proteksi kebakaran relatif tidak tinggi bahkan sangat kental dengan hambatan kulturalnya yang memandang bencana kebakaran sebagai musibah, bukan risiko.
Kondisi psikologis warga masyarakat tersebut berjalan beriringan dengan kekurang mampuan IPK dalam mengimbangi perkembangan masyarakat (waktu tanggap yang panjang dan tumpulnya efektivitas pemadaman kebakaran, terbatasnya peraturan dan standar teknis kebakaran yang dimiliki). Kecendrungan yang terjadi dari kondisi ini adalah meningkatnya kuantitas dan kualitas kebakaran. Beberapa diantaranya berakibat fatal.
Tantangan dari perkembangan masyarakat perkotaan dengan berbagai tingkatan bahaya kebakaran sesuai tipologinya, belum dapat dilayani oleh IPK dengan perlawanan yang sistematis secara menyeluruh. Tantangan tersebut antara lain berupa kawasan hunian, industri, perdagangan dan lingkungan gedung tinggi, hutan dan lahan, lingkungan hunian padat tidak tertata (kumuh), bangunan bersejarah, bangunan vital, tangki –tangki timbun bahan bakar, dan bahan-bahan berbahaya (hazardous material). Tentu ke depan diharapkan IPK sebuah kabupaten/kota mampu melayani tantangan yang ada.
Tipologi kebakaran yang sering terjadi di Indonesia adalah: 1) Kebakaran bangunan (cellulosic/compartment fire) 2) Kebakaran gedung bertingkat/tinggi (high-rise fire) 3) Kebakaran di lingkungan padat penduduk (conflagration) 4) Kebakaran sampah (garbage fire)
5) Kebakaran hutan (forest fire) 6) Kebakaran gambut (pest fires)
7) Kebakaran di lingkungan industri (hydrocarbon fires) dan 8) Kebakaran alat transportasi.
Meski perkotaan mempunyai kerentanan yang relative tinggi terhadap bahaya
kebakaran kinerja IPK lebih banyak mengandalkan kepada strategi ‘reactionary’
pemadaman kebakaran. Strategi ‘aggressive prevention’ (edukasi publik, inspeksi dan penegakkan hukum) untuk menurunkan dan mengendalikan risiko kebaran masih belum berarti pelaksanaannya
Penting untuk dinyatakan bahwa IPK di beberapa kabupaten/kota ‘tidak berdaya’ dalam mengatasi kebakaran hutan/lahan yang terjadi dalam wilayahnya.
masih ada kerugian secara ekologis yang belum dapat dikuantifikasikan. Kebakaran hutan ini juga telah menjadi sumber polemik yang berkepanjangan tanpa ada solusi yang konhkrit, baik di dalam maupun di luar negeri.
Gambar 1. Kondisi lahan yang di bakar (sumber: www.citraislam.com, 2015)
Gambar 2. Asap terlihat menutupi pandangan pengguna jalan di Pekanbaru (Sumber: news.liputan6.com, 2015)
Siklus kabut asap yg melanda Riau, Jambi, Sumsel dan beberapa propinsi di Kalimantan dan sekitarnya sudah menjadi rutinitas tahunan yg selalu berulang, hal ini bukan sebuah cobaan Allah kepada masyarakat, tetapi merupakan prilaku sebagian kecil masyarakat yg tahu aturan dan tidak mau peduli terhadap orang lain. Prilaku tersebut bisa pada masyarakat biasa maupun pejabat terkait, tergantung dari kondisi tempat timbulnya asap.
Apa akbita dari asap yang ada pada kota/perkampungan, akan menyebabkan gangguan pernafasan bagi manusia (sudah merasakan) bahkan (mungkin) binatang dan mahluk lain, luar biasa kerugian dari adanya asap tahun 2015 ini yang mewabah tersebutb, diantaranya yang disampaikan Wakil ketua Umum Bidang Ekonomi dan Kerja sama Internasional, Kadin Provinsi Riau, Viator Butar Butar mengatakan kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan telah mengakibatkan Riau rugi secara ekonomi sebesar Rp 10 triliun lebih (REPUBLIKA.CO.ID, 2015).
Gambar 3. Gangguan transportasi udara akibat kabut asap (sumber: yosuna.com, 2015)
Musibah kabut asap akibat kebakaran l
ahan dan hutan telah meluas di seluruh wilayah Riau, propinsi lainnya, dan daerah sekitarnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kondisi kualitas udara di daerah ini sudah masuk pada level sangat berbahaya (diatas 300 psi).
Selain penyebab seperti tersebut di atas, secara rinci faktor-faktor lain yang
b.komitmen masyarakat dan pengusaha mengenai bahaya kebakaran dan dampak kepada lingkungan, rendah
c. ketergantungan masyarakat terhadap lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sangat tinggi).
2). Sifat dan Kondisi Alam
a. pola cuaca semakin sulit diramalkan dan adanya kecendrungan terjadinya musim kering yang panjang sebagai akibat perubahan cuaca global
b. sebagian besar kondisi hutan tropis Indonesia saat ini mengalami degradasi struktur dan komposisi jenis, sehingga lahan lebih rentan terhadap terjadinya kebakaran.
c. adanya lahan gambut yang cukup luas serta terdapatnya kandungan batubara di lahan hutan mengakibatkan semakin sulitnya dilakukan pemadaman bila terjadi kebakaran di lahan tersebut.
d. Sebagian besar kebakaran hutan terjadi di daerah yang sulit diakses sehingga menyulitkan upaya penanggulangan.
3). Belum adanya ‘leading agency’
a. belum adanya sebuah lembaga/’lead agenccy’ yang memiliki program terencana dan terarah yang ditunjuk menangani kebakaran hutan dengan
‘garis komando’ yang jelas, dari tingkat pusat sampai ke tingkat
operasional di lapangan
b. lembaga yang telah ada saat ini, masih bersifat forum koordinasi dan belum memiliki kemampuan operasional di lapangan
c. sumber daya penanggulangan yaitu tenaga, peralatan dan dana, belum memadai dan belum terorganisasi dengan baik baik di tingkat pysat maupun di daerah
d. belum adanya prosedur operasi standar dalam penanggulangan kebakaran hutan yang dapat diimplementasikan di semua wilayah sehingga lembaga terkait yang ada masih bekerja dengan pola masing-masing).
4). Lemahnya Pengawasan/Penegakan Hukum
e. belum tersosialisasinya peraturan per-undang-undangan di bidang kebakaran hutan secara luas sehingga sistim pengawasan oleh lembaga terkait dan masyarakat belum berjalan baik
g. belum adanya penerapan sanksi yang menimbulkan efek jera terhadap pelaku pelanggaran di bidang kebakaran hutan
h. adanya peraturan di bidang kebakaran hutan yang kurang sesuai dengan perkembangan keadaan terutama dengan diberlakukannya otonomi daerah).
5). Lambatnya Penindakan Dini
i. informasi peringatan dini belum ditindaklanjuti secara cepat dan tepat oleh lembaga terkait yang berwenang di tingkat lapangan,
j. bahaya kebakaran hutan belum dianggap sebagai suatu ancaman yang serius terhadap kerusakan sumber daya hutan dan lingkungan
k. masih terbatasnya SDM, peralatan dan dana dengan karakteristik mobilitas tinggi dalam merespon informasi awal pengendalian kebakaran hutan secara dini,
l. teknologi pembakaran terencana lading lahan gambut yang ramah lingkungan belum dikuasai
Menanggapi musibah ini, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Jumat (14/3/2014), mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan waspada terhadap 8 masalah kesehatan akibat kabut asap.
Pertama, kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan
tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
Kedua, kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain,
seperti bronkitis kronik, dan penyakit paru kronik.
Ketiga, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang
mudah lelah serta mengalami kesulitan bernapas.
Keempat, bagi yang berusia lanjut dan anak-anak, yang punya penyakir kronik
dengan daya tahan tubuh rendah serta wanita yang sedang hamil, akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.
Kelima, kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang,
sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
Keenam, secara umum berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
Ketujuh, bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi
juga mungkin dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
Kedelapan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lebih mudah terjadi.
''Terutama karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh, pola bakteri atau virus penyebab penyakit dan buruknya lingkungan,'' kata Tjandra.
Pertama, masyarakat perlu menghindari atau kurangi aktivitas di luar
rumah/gedung, terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan.
Kedua, jika terpaksa pergi ke luar rumah/gedung maka sebaiknya menggunakan
masker.
Ketiga, minumlah air putih lebih banyak dan lebih sering.
Keempat, bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya,
mintalah nasehat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. ''Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain,'' kata Tjandra.
Kelima, selalu lakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), seperti makan
bergizi, jangan merokok, dan istirahat yang cukup.
Keenam, upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah / sekolah /
kantor dan ruang tertutup lainnya.
Ketujuh, penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.
Kedelapan, buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Di samping bahan
makanan dan minuman yang dimasak perlu di masak dengan baik.
Secara institusional, kewenangan pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan berdasarkan PP No.4/2001 adalah berjenjang. Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai instansi terdepan yang langsung berhubungan dengan kawasan hutan dan lahan mempunyai wewenang dan tanggung jawab operasional pengendalian kebakaran, sedangkan wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat lebih bersifat koordinatif. (Pasal 30 dan 31 secara jelas menguraikan tanggung jawab Bupati/Walikota dalam pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 27 dan 28 menjelaskan tentang tanggung jawab Gubernur dalam hal koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan lintas kabupaten. Pasal 23 menjelaskan tanggung jawab Menteri dalam hal ini Menteri Kehutanan yaitu dalam koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi dan lintas batas Negara).
Sementara itu, berdasarkan Undang –Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 1, ayat (1) dan (15) serta Pasal 47, huruf (a) dipahami bahwa Menteri Kehutanan hanya bertugas dan bertanggung jawab atas kebakaran hutan di kawasan hutan saja. Sesuai dengan PP No.4 Tahun 2001, Menteri Kehutanan mengkoordinasikan pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi dan atau lintas batas negara. Dengan demikian penanggung jawab kebakaran hutan/lahan tetap menjadi tanggung jawab dari pemegang hak atau ijin atau pemilik lahan. Bagi pemegang hak/ijin apabila terjadi kebakaran hutan di wilayah kerjanya akan memperoleh sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya.
mensimulasikan tindakan antisipasinya dengan peralatan kerja yang dibutuhkan termasuk sumber air), SDM terlatih berikut perwira yang berkualitas, kendaraan pemadam kebakaran dan peralatan kerja yang selalu dalam keadaan baik/’ready for use’.
Dapat dirumuskan dengan bahasa sederhana bahwa warga masyarakat menginginkan IPKnya cepat tanggap dan mampu mengatasi situasi secepat dan setepat mungkin. Dengan tekad yang kuat dan perkembangan teknologi, tuntutan tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada (masyarakat selalu menuntut layanan prima IPK.
Para pemangku kepentingan seharusnya telah mengetahui bahwa IPK bukan organisasi yang berorientasi pada profit, dan pola produktivitasnya tidak jelas. Organisasi ini pemakai besar hasil pajak, menggunakan perlengkapan mahal, sangat bergantung pada tenaga kerja, dan sekarang ini tidak mempunyai cara yang memuaskan untuk mengukur efektivitas operasinya jika dikaitkan dengan biaya yang dihabiskan.
Dengan harapan di tahun depan dan seterusnya tidak ada lagi asap sebagaiman 18 tahun yang lalu, sehingga tidak ada lagi sekolah diliburkan bukan di hari libur, rumah sakit penuh sesak karena kebanyakan kena ISPA, pembatalan kegiatan akibat berhentinya operasional transportasi udara dan laut, terhambatnya masyarakat untuk beraktifitas di luar rumah, gangguan kinerja pemerintah dengan kegiatan yang sudah di rencanakan, dan yang paling menyenangkan adalah bebasnya anak-anak bermain di luar rumah dengan penuh ceria dan bahagia.
2. SOLUSI YANG DITAWARKAN
Gambaran kinerja IPK masih diwakili oleh panjangnya waktu tanggap (response time) dan tumpulnya efektivitas pemadaman kebakaran. Gambaran pelaksanaan pencegahan kebakaran lebih banyak bertumpu pada penyuluhan yang menyuarakan bahwa kebakaran itu merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Gambaran kinerja IPK ini, menyimpulkan bahwa IPK belum efektif dalam pengendalian bahaya kebakaran di wilayahnya. Sebagaiman tujuan IPK.
Tujuan IPK sebagai organisasi modern tidak berbeda dengan IPK tradisional yaitu;
a. Mencegah terjadinya kebakaran.
b. Mencegah kerugian jiwa dan harta benda karena kebakaran. c. Membatasi penjalaran kebakaran.
d. Memadamkan kebakaran.
Pertanggung-jawaban kurang efektifnya kinerja IPK tidak dapat dipikul oleh IPK sendiri melainkan oleh seluruh jajaran pemerintahan terkait, baik yang mempunyai kewenangan dalam pencapaian visi dan misi kabupaten/kota maupun pemerintah pusat yang mempunyai kewenangan pengaturan teknis teknologis.
Strategi ‘reactionary’ yang digunakan IPK Kabupaten/Kota dalam pengendalian kebakaran di wilayahnya, akan tidak banyak gunanya untuk titik api aplikasi kebakaran hutan. (a.l. karena terdapatnya banyak lokasi ‘hot spot’, memerlukan SDM dalam jumlah besar dan kebutuhan logistiknya, ketiadaan aksesibilitas, sumber air, dll.). Hal ini bisa di atasi karena setiap kabupaten sudah terbentuk TAGANA (Taruna Siaga Bencana) dan tidak seluruh propinsi/kabupaten/kota terjadi kebakaran lahan dan hutan, untuk itu daerah yang tidak terkena bisa di alihkan personil TAGANA ke daerah yang sedang di landa kebakaran dengan pendanaan subsidi silang dengan instansi terkait baik daerah maupun pusat.
Solusi lain yang di tawarkan adalah sosialisasi yang menyeluruh ke lapisan masyarakat beserta pengawasanya di lapangan, baik masyarakat korporasi maupun masyarakat biasa. Rutinitas kebakaran lahan dan hutan setiap tahun disebabkan karena sosialisasi yang tidak menyentuh sampi level bawah dan tidak ada pengawasan dari instansi terkait, ini di buktikan dengan adanya lahan milik korporasi dan hutan lindung yang ikut di bakar. Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan aktifitas pengelolaan hutan lindung dan pengolahan lahan oleh masyarakat, bukan sebaliknya luas hutan malah semakin menurun. Hal tersebut juga menandakan program reboisasi di beberapa wilayah gagal di lakukan untuk itu biaya reboisasi alangkah lebih baik di gunakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar hutan lindung, sehingga masyarakat terhindar dari pemanfaatan hutan untuk kebutuhan ekonomi secara berkelanjutan.
3. POSISI KITA TERHADAP KONDISI KABUT ASAP
Untuk kondisi lingkungan yang sehat dan baik kita sebagai generasi penerus bangsa yang punya optimisme tinggi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik, mempunyai prinsip mulai MO-LIMO (mulai dari sekarang, mulai diri sendiri, mulai dari yang sederhana, mulai dari tempat kita dan mulai dengan yang ada). Serta sembari belajar tentang kodisi ekonomi, teknologi, sosial, budaya dan lingkungan dalam rangka mempersiapkan generasi yang siap dalam menjadi tauladan yang baik dan benar serata bertanggung jawab, baik tanggang jawab terhadap sesama manuasi dan institusi sebagi mahluk sosial maupun tanggung jawab kepada Allah SWT sebagi mahluk yang ber Tuhan.
Selain itu juga tiada henti dan bosan untuk senantiasa berdo’a kepada Allah
Ucapan Terimakasih disampikan kepada:
Prof. Dr. Ir. A. Aziz Darwis, MSc. Dosen Mata Kulian Falsafah Sains
Program Pascasarjana Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Tahun 2015.
DAFTAR PUSTAKA
1. International Development Research Center & Institute of SEA Studies Singapore,1999
2. Safety And Survival On The Fireground oleh Vincent Dunn, terbitan Fire Engineering Books & Videos th. 1992
3. sumber: www.citraislam.com, 2015
4. Tri Wibowo, Direktur Penanggulangan Kebakaran Hutan Dir.Jen. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Dep Hut.Jakarta 2002
5. GORIAU.COM 2014
6. Sumber: news.liputan6.com, 2015
7. REPUBLIKA.CO.ID, 2015 8. nasional.kontan.co.id, 2015
9. sumber: yosuna.com, 2015
10.Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Jumat (14/3/2014
11.PP No.4/2001