• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR SERTIFIKASI HALAL BAGI PRODUK I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSEDUR SERTIFIKASI HALAL BAGI PRODUK I"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh : Nina Maharani, S.E., M.Si

(2)

KENAPA HARUS HALAL?

Jumlah penduduk dunia saat ini mencapai lebih dari 7 milliar jiwa dimana populasi umat Islam menjadi yang terbesar dibanding populasi umat lain.

Populasi umat islam saat ini diperkirakan lebih dari 2,08 miliar jiwa. Perkembangan populasi Islam yang terbanyak terjadi di Benua Asia, lalu diikuti Benua Afrika, Eropa, dan Amerika. Diperkirakan pada tahun 2030 populasi umat Islam mencapai 2,2 miliar atau 27 persen dari total populasi

dunia.

Asia Tenggara dan Timur Tengah mewakili lebih dari 500 juta konsumen muslim dan Indonesia dengan julah penduduk 235 juta atau sekitar 87% (±200 juta) beragama Islam. Dengan demikian Indonesia sangat berpotensi

(3)

ATURAN LABELISASI HALAL

UU Pangan No.7/1996

 Pasal 3 Poin e.

Label pangan minimal mencantumkan: nama produk, daftar bahan baku, berat bersih, alamat produsen, pernyataan halal, tanggal kadaluarsa

 Pasal 34

Setiap pengusaha yang mencantumkan informasi dalam kemasan produknya bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi tersebut

PP No.69/1999; Pasal 10

(4)

ATURAN LABELISASI HALAL

UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen

Pasal 8 (1)

Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan

barang dan/atau jasa yang : tidak mengikuti ketentuan berproduksi

(5)

BANGKAI

BABI

Menyembelih hewan

tidak membaca

(6)
(7)

SERTIFIKASI HALAL

1. Sertifikat halal adalah fatwa tertulis MUI yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam.

Sertifikat halal merupakan syarat untuk mencantumkan label halal

2. Yang dimaksud dengan produk halal adalah produk yang

memenuhi syarat kehalalan sesuai dengan syari’at Islam.

3. Pemegang sertifikat halal MUI bertanggung jawab untuk

memelihara kehalalan produk yang diproduksinya, dan

sertifikat ini tidak dapat dipindahtangankan.

4. Sertifikat yang sudah berakhir masa berlakunya termasuk fotocopynya tidak boleh

(8)

ALUR PROSES SERTIFIKASI HALAL

PENGAJUAN

SERTIFIKASI KANTOR MUI

SURAT TUGAS

TIM AUDITOR

TEMPAT PRODUKSI

PENGKAJIAN OLEH TIM AUDITOR RAPAT AUDITOR

SIDANG KOMISI FATWA MENDAPATKAN

(9)

KRITERIA SISTEM

JAMINAN HALAL

KRITERIA adalah Pernyataan yang menjadi syarat kunci bahwa perusahaan memenuhi kehalalan produk

MELIPUTI :

1. Kebijakan halal

2. Tim manajemen halal 3. Pelatihan dan edukasi 4. Bahan

5. Produk

6. Fasilitas produksi

7. Prosedur tertulis dan aktivitas kritis 8. Penanganan produk untuk yang tidak

memenuhi kriteria

9. Mampu telusur (traceability) 10. Internal audit

(10)

I. KEBIJAKAN HALAL

Pimpinan perusahaan harus membuat

kebijakan halal tertulis dan disosialisasikan kepada semua pihak yang berkepentingan

II. TIM MANAJEMEN HALAL

(11)

III. PELATIHAN & EDUKASI

Terdapat prosedur untuk melatih semua personil yang terlibat dalam produksi halal secara terjadwal.

Pelaksanaan training menjamin kompetensi personil termasuk karyawan baru

IV. BAHAN

(12)

V. PRODUK

Merk/nama produk tidak berasosiasi

dengan produk haram atau peribadatan

agama/kepercayaan lain.

Khusus restoran: semua menu disertifikasi

dan pengunjung restoran tidak

(13)

VI. FASILITAS PRODUKSI

Semua nama dan alamat pabrik/fasilitas yang digunakan harus terdaftar, baik dimiliki oleh perusahaan itu sendiri ataupun menyewa dari perusahaan lain

Lini dan peralatan produksi tidak boleh digunakan bergantian untuk memproduksi produk halal dengan produk yang mengandung bahan haram

Lini dan peralatan produksi yang pernah digunakan untuk produksi produk yang mengandung bahan

haram, jika akan digunakan, harus dibersihkan dengan dicuci sebanyak 7 kali yang salah satunya

(14)

VII. PROSEDUR TERTULIS UNTUK AKTIVITAS

KRITIS

Aktivitas kritis, adalah :

Proses produksi yang terkait yang dapat berpengaruh terhadap status kehalalan produk

Terdapat prosedur tertulis yang terkait dengan penerapan aktivitas kritis

Prosedur dikomunikasikan kepada seluruh pihak yang terlibat pada aktivitas kritis dan

(15)

VIII. PENANGAN PRODUK YANG TIDAK

SESUAI DENGAN KRITERIA

Terdapat prosedur tertulis untuk menangani produk yang telah dibuat dari bahan dan fasilitas yang tidak memenuhi kriteria

Produk yang tidak memenuhi kriteria tidak dijual kepada konsumen yang membutuhkan produk halal

Produk yang telah dijual ditarik kembali

Bukti penanganan produk untuk produk yang tidak memenuhi kriteria dipelihara

1

2

4

(16)

X. AUDIT INTERNAL

1. Terdapat prosedur audit internal 2. Dilaksanakan minimal 6 bulan sekali 3. Dilakukan koreksi apabila ada

ketidaksesuaian

4. Hasil audit internal dilaporkan ke LPPOM MUI

XI. KAJI ULANG MANAJEMEN

1. Pimpinan perusahaan melakukan kaji ulang terhadap efektivitas SJH sedikitnya setahun sekali

(17)

TATA CARA PEMERIKSAAN (AUDIT)

DI LOKASI PRODUSEN

1. Surat tugas resmi akan dikirim oleh

LPPOM MUI ke perusahaan yang akan diperiksa, yang memuat jadwal audit

pemeriksaan dan persyaratan administrasi lainnya.

2. LPPOM MUI menerbitkan surat perintah pemeriksaan yang berisi :

a. Nama ketua tim dan anggota tim b. Penetapan hari dan tanggal

(18)

TATA CARA PEMERIKSAAN (AUDIT)

DI LOKASI PRODUSEN

3. Mengadakan pemeriksaan (auditing) ke perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikat halal sesuai dengan waktu dan tim auditor yang telah ditentukan sebelumnya

4. Pemeriksaan (audit) produk halal mencakup:

a. Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk yang mencakup sistem manajemen secara umum, sistem jaminan halal, sistem administrasi, dokumen pendukung kehalalan (terkait

administrasi, produk, bahan) b. Observasi lapangan

(19)

DOKUMEN ADMINISTRASI

1. Dokumen pembelian bahan : PO, DO

2. Daftar isi gudang

3. Kartu stok

4. Bon pengeluaran bahan dari gudang

5. (

Material issue voucher

)

DOKUMEN PENDUKUNG

KEHALALAN BAHAN BAKU

1. Spesifikasi

(20)

INFORMASI

TENTANG PRODUK

1. Jenis dan nama seluruh produk

yang diproduksi

2. Jenis dan nama produk yang

disertifikasi

3. Sistem pengkodean produk

4. Daftar bahan yang digunakan

dalam produksi halal

5. Sistem pengkodean barang

6. Formula untuk semua produk

(21)

TATA CARA

PENGAJUAN SERTIFIKAT HALAL

2. Sertifikat halal atau surat keterangan halal dari MUI Daerah (produk lokal) atau srtifikasi halal dari

lembaga islam yang telah diakui MUI (produk impor) untuk bahan yang berasal dari hewan dan

turunannya

3. Sistem jaminan halal yang diuraikan dalam panduan halal beserta prosedur baku pelaksanaannya

Mengisi formulir yang telah disediakan dengan melampirkan :

(22)

PROSEDUR PERPANJANGAN

SERTIFIKAT HALAL

1. Produsen yang bermaksud mempepanjag sertifikat yang

dipegangnya harus mengisi formulir pendaftaran yang telah

tersedia

2. Pengisian formulir disesuaikan dengan perkembangan terakhir

produk

3. Perubahan bahan baku, bahan tambahan, dan penolong

serta jenis pengelompokkan produk harus diinformasikan

kepada LPPOM MUI

(23)

SISTEM PENGAWASAN

1. Perusahaan waib menandatangani perjanjian

untuk bersedia menerima tim sidak LPPOM MUI

2. Perusahaan wajib membuat Manual Sistem

Jaminan Halal guna menjamin kehalalan produk

yang dihasilkan

(24)

CONTOH SERTIFIKAT HALAL

DAN LOGO HALAL

(25)

Referensi

Dokumen terkait

Bagi Industri pangan khususnya produsen home industry abon di kampung abon padmosusastro, diharapkan untuk konsisten dalam melaksanakan Sistem Jaminan Halal selama

Dalam semua peraturan tersebut telah diatur keseluruhan mengenai manajemen jaminan produk halal. selanjutnya tulisan ini bertujuan untuk mengkaji manajemen sistem jaminan

Masalahnya, bagaimana menjamin bahwa sertifikat halal tersebut telah memenuhi kaidah syariah yang ditetapkan dalam penetapan kehalalan suatu produk pangan, khususnya dalam

Sistem Jaminan Halal (SJH) ini merupakan sistem yang disiapkan dan dilaksanakan untuk perusahaan pemegang sertifikat halal yang bertujuan untuk menjamin proses

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Pasal 1,angka 1.. Pencantuman label halal adalah tanda kehalalan

Untuk itu buku ini disamping membantu masyarakat khususnya pelaku usaha skala mikro kecil dan menengah UMKM yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai sistem jaminan produk halal,

44 BAB III...47 AKIBAT HUKUM PRODUK OBAT YANG TIDAK TERSERTIFIKASI HALAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG JAMINAN PRODUK HALAL .... Pengaturan Pelaksanaan Jaminan Produk Halal

Dokumen ini berisi peraturan dan dasar hukum terkait jaminan produk halal di