Perjalanan panjang yang pendek
Awalnya seorang pria yang mengaku sebagai perwakilan dari SMA Sampoerna datang ke sekolah saya di akhir semester 2 di tahun terakhir saya di SMP. Ia mengenalkan Sekolah yang berlokasi di Bogor itu dengan berbagai macam keunggulannya kepada kami. Ia pun mengatakan bahwa SMA Sampoerna sedang melakukan penerimaan siswa baru. Ia juga berkata bahwa bagi siswa yang berminat dapat segera mengisi formulir pendaftaran yang telah tersedia di sekolah kami.
Saya melihat banyak keunggulan yang disampaikan oleh pihak SMA Sampoerna kepada kami. Saya pun tertarik dan ingin mendaftar. Saya meminta formulir pendaftaran yang ternyata berisi lembaran kertas yang banyak. Lalu, saya pun mengisi formulir tersebut dengan berhati-hati dengan harapan saya di terima di SMA Sampoerna. Kami pun di beri waktu untuk mengisi formulir pendaftaran selama seminggu kedepan.
Seminggu pun telah berlalu. Saya mengumpulkan formulir pendaftaran itu. Setelah itu, saya mengikuti tiga tes yang telah dirancang oleh pihak SMA Sampoerna dalam proses penerimaan siswa baru. Tes-tes tersebut adalah tes tulis, diskusi, dan wawancara. Saya merasa senang karena menurut saya, saya telah menyelesaikan tes sersebut degan baik.
Saya mendengar kabar bahwa saya diberi waktu seminggu kedepan untuk mempersiapkan semua barang yang harus dibawa ke Bogor kelak. Selanjutnya, tanpa persiapan matang sebelumnya, saya penuhi semua barang yang saya perlukan. Tidak terasa seminggu telah berlalu. Dengan segala keperluan yang telah tercukupi, saya telah merasa siap untuk menghadapi tahun-tahun berat masa SMA di Bogor.
Tanggal 22 juli 2016 merupakan pertama kalinya kaki ini elangkah menuju perjalanan panjang ke pulau seberang ntuk menimba ilmu. Setelah menyusun segala keperluan ke dalam koper, saya berangkat ke bandara dengan orang tua mengunakan mobil. Selama dalam perjalanan, kami banyak berbicara dan bercerita seakan tidak akan perah bertemu lagi di kemudian hari. Sesampainya di bandara, saya melihat siswa baru lainnya. Saya bercengkerama asik dengan mereka. Setelah menunggu sekitar 2 jam, jadwal penerbangan kami siap diberangkatkan. Kami bergegas untuk berangkat, bergegas untuk pergi jauh dari orang tua agar terapai masa depan cerah kami. Sedih rasanya hati ini pergi meninggalkan kampung halaman. Sedih pula melihat orangtua yang dengan berat hati melepas anaknya. Namun, apalah daya, inilah jalan yang telah ditetapkan untukku. Pesawat kami lepas landas meninggalkan Ranah Minang, kampung halaman, menuju Bogor.