• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS PESERTA D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS PESERTA D"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS BAGI SISWA

Oleh:

SUGENG PAMUDJI

NIP. 196309061997031001

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SIDOARJO

SMP NEGERI 4 WARU

Jl. Gajahmada-Dukuh Ngingas-Ngingas-Waru Telp. 031-9544639

SIDOARJO

(2)

MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS BAGI SISWA

Oleh: Sugeng Pamudji (Guru SMP Negeri 4 Waru-Sidoarjo)

E-mail: [email protected]

A. Latar Belakang

Zaman berkembang demikian cepat, bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan para ahli. Prediksi para ahli perancang masa depan sering meleset, karena dimensi permasalahan yang dihadapi manusia saat ini demikian kompeks. Satu peristiwa sering bertautan dengan peristiwa lainnya, sehingga tidak ada peristiwa yang berupa a single event. Untuk menyelesaikannya diperlukan berbagai pendekatan. Sebut saja, misalnya, peristiwa keagamaan hampir selalu terkait dengan masalah politik, sosial, budaya, dan bahkan ekonomi.

Ada sebagian orang yang sanggup mengikutinya, ada sebagian lain yang gagal. Bagi yang sanggup, perkembangan pesat dianggap sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memacu diri. Umumnya kelompok ini adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan hidup yang memadai. Bagi yang tidak sanggup, zaman ini dianggap sebagai petaka, karena tidak memberikan peluang kepadanya, bahkan menyingkirkannya. Umumnya, kelompok ini diisi orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup.

Selain itu, zaman ini pula disebut sebagai zaman kompetisi atau persaingan. Implikasinya orang lain dianggap sebagai kompetitor dalam meraih cita-cita. Teman akrab ada kalanya bisa menjadi pesaing beratnya. Karena masing-masing saling berkompetisi, wajar jika kemudian ada pihak yang menang dan ada pula yang kalah.

(3)

berpikir tingkat tinggi, bisa menganalisis, memecahkan persoalan, membuat keputusan, dan mengkomunikasikan apa yang dimilikinya/ diperolehnya.

Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi. Presseisen (dalam Poppy Kamalia Devi, 2011) menyatakan bahwa proses berpikir tingkat tinggi meliputi pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan pada zaman perkembangan IPTEK sekarang ini, sebab saat ini selain hasil-hasil IPTEK yang dapat dinikmati, ternyata timbul beberapa dampak yang membuat masalah bagi manusia dan lingkungannya.

Dengan demikian, menjadi orang pintar saja belum cukup. Agar mampu menghadapi persaingan ke depan, dibutuhkan orang yang mampu berpikir kritis. Banyak orang mengatakan bahwa salah satu ciri orang pintar adalah mampu berpikir kritis. Pengertian berpikir kritis ialah berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Bertanya dengan baik akan memperoleh jawaban yang baik, setidaknya respons yang baik. Dia tidak bersikap apatis terhadap sesuatu yang tidak beres.

B. Tujuan

Dengan adanya tulisan ini diharapkan pembaca dapat memahami dari berpikir kritis, manfaat berpikir kritis bagi anak, cara melatih anak didik berpikir kritis. Dengan demikian pembaca, terutama para pendidik, akan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat membangun berpikir kritis pada anak didik. Tentu saja hal ini tidak mudah, memerlukan latihan dan pembiasaan yang memerlukan waktu dan proses. Dengan adanya tulisan semoga bisa membantu para pendidik dalam menciptakan suasan tersebut. Bahkan lebih penting lagi menyiapkan diri dalam menyikapi berlakunya kurikulum 2013.

C. Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut dapat didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi.

(4)

mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.

Anggelo (dalam Arief Achmad, 2007), berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.

Dari dua pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir yang ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai kepada sebuah kesimpulan atau penilaian.

Arthur L. Costa (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 2009) menggambarkan bahwa berpikir kritis adalah : “using basic thinking processes to analyze arguments and generate insight into particular meanings and interpretation; also known as directed thinking”.

R. Matindas (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 2009) menyatakan bahwa: “Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”.

D. Karakterisitik Berpikir kritis

Angelo (dalam Arief Achmad, 2007), bahwa berpikir kritis harus memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis, pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian.

(5)

atau pengambilan keputusan. Hal ini yang nantinya menjadi tuntutan dari kurikulum 2013 di sekolah menengah pertama.

Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Menurut Ennis (dalam Arief Ahmad, 2007), berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.

Wade (dalam Arief Ahmad, 2007) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi:

(1) kegiatan merumuskan pertanyaan, (2) membatasi permasalahan,

(3) menguji data-data,

(4) menganalisis berbagai pendapat dan bias,

(5) menghindari pertimbangan yang sangat emosional, (6) menghindari penyederhanaan berlebihan,

(7) mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan (8) mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (Arief Ahmad, 2007) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu: . a. Watak (dispositions)

Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.

(6)

c. Argumen (argument) Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

d. Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)

Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

e. Sudut pandang (point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)

Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

Selanjutnya, Ennis (dalam Arief Ahmad, 2007), mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:

a. Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.

b. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.

c. Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan.

d. Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi. e. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan

berinteraksi dengan orang lain.

(7)

Penemuan indikator keterampilan berpikir kritis dapat diungkapkan melalui aspek-aspek perilaku yang diungkapkan dalam definisi berpikir kritis. Menurut beberapa definisi yang diungkapkan terdahulu, terdapat beberapa kegiatan atau perilaku yang mengindikasikan bahwa perilaku tersebut merupakan kegiatan-kegiatan dalam berpikir kritis. Angelo mengidentifikaasi lima perilaku yang sistematis dalam berpikir kritis. Penilaku tersebut adalah sebagai berikut:

a. Keterampilan Menganalisis

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut (http://www.uwsp/cognitif.htm.). Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana dalam Arief Ahmad, 2007).

Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dsb.

b. Keterampilan Mensintesis

Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana dalam Arief Ahmad, 2007).

c. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

(8)

memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker dalam Arief Ahmad, 2007).

d. Keterampilan Menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, dalam Arief Ahmad, 2007). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.

e. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana dalam Arief Ahmad, 2007).

E. Manfaat berpikir kritis

Arief Achmad, 2007, menyatakan kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya.

Keuntungan yang didapatkan sewaktu kita tajam dalam berpikir kritis, kita bisa menilai bobot kemampuan seseorang dari perkataan yang ia keluarkan, kita juga dengan tidak gampangnya menyerap setiap informasi tanpa memikirkan terlebih dahulu hal yang sedang disampaikan. Bayangkan! Jika kita semua terbentuk dengan kebiasaan ini, bisa dipastikan akan muncul kreatifitas yang baru dan kita bisa terus menerus mengalami pertumbuhan yang lebih baik di setiap aspek dari bidang yang sedang kita tekuni.

(9)

1. Pemecahan Soal-Soal “Higher Order Thinking Skill” (HOTS).

Berdasarkan Taxonomi Bloom, HOTS termasuk pada tiga level tertinggi pada Taxonomi Bloom yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi. Soal-soal untuk pengujian ini dapat dibuat dalam bentuk soal pilihan ganda maupun uraian. Teknik penulisan soal HOTS secara umum hampir sama dengan teknik penulisan soal-soal biasa tetapi karena peserta didik diuji pada proses analisis, sintesis atau evaluasi, maka pada soal harus ada komponen yang dapat dianalisis, disintesis atau dievaluasi. Komponen ini di dalam soal dikenal dengan istilah stimulus.

1. Kegiatan KIR

Keberadaan KIR di setiap sekolah pun dirasakan masih sangat jarang, apalagi bagi sekolah-sekolah yang terdapat di luar kota. Kegiatan KIR di sekolah pada umumnya dilaksanakan menjelang kegiataan lomba atau momen tertentu yang akan diikuti sekolah. Seolah-olah kegiatan KIR adalah hanya mengikuti lomba-lomba saja sehingga kegiatan hanya berupa pemantapan atau pengayaan materi pelajaran saja. Tentu saja KIR sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa tidak akan bisa terlaksana apalagi sebagai pengenalan secara dini kepada para siswa.

Kenapa para siswa perlu dikenalkan secara dini pada kegiatan ilmiah atau penelitian? Karena, kegiatan itu bisa merangsang cara berpikir kritis, melatih pola berpikir teratur (sistematis), serta meningkatkan kepekaan atau kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penelitian ilmiah dan penulisan karya ilmiah dapat menjadi pilihan kegiatan yang menarik bagi remaja. Tak jarang, dari rasa keingintahuan lahirlah sebuah karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat.

Berpikir cerdas, kritis, objektif dan sistematis, serta peka terhadap lingkungan sekitar merupakan syarat yang sangat dibutuhkan bagi seorang calon peneliti. Oleh karena itu, KIR membawa misi untuk membentuk remaja yang memiliki kompetensi sebagai seorang peneliti.

(10)

selalu memerlukan biaya yang tinggi. Semua pandangan itu tentu sama sekali keliru.

Kegiatan KIR yang sebenarnya adalah bukan hanya monopoli kegiatan siswa IPA. Karena, semua hal yang disekitar kita dapat dijadikan objek penelitian, misalnya, mengapa kebiasaan menyontek siswa sulit di hilangkan. Bagaimana hubungan nilai UN ketika SMP dengan prestasi yang dicapai ketika SMA, dan masih banyak lagi persolan lainnya.

KIR juga tidak hanya ditujukan bagi siswa pandai atau mendapat ranking dikelasnya saja. KIR juga tidak terfokus pada salah satu mata pelajaran, sehingga pembina KIR dapat berlatarbelakang mata pelajaran apa saja. KIR dapat diikuti oleh semua siswa. Yang terpenting adalah kemauan dan keuletan. KIR juga bukanlah kegiatan yang selalu super serius hingga siswa lekas mengalami kejenuhan. Tetapi, kegiatan KIR penuh dengan inovasi dan kreativitas yang dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa.

2. Latihan melakukan penelitian ilmiah

a. Mengawali latihan penelitian ilmiah adalah menangkap suatu realita atau suatu benda.

b. Setelah melihat suatu realita, mereka diajak mengumpulkan informasi dan data tentang realita dengan cara tertentu. Misalnya, para siswa diajak untuk menetapkan berat ayam hidup. Tentu ada cara tertentu untuk menimbang ayam yang masih hidup. Pertanyaan kritis yang dapat diajukan adalah "Apakah prosedur yang digunakan benar?" Pertanyaan untuk diri sendiri berbentuk "Apakah prosedur yang kugunakan sudah benar?"

(11)

penalaran yang digunakan dalam menganalisis data serta informasi ini sahih?" pertanyaan kepada diri sendiri, "Apakah penalaranku sahih?"

d. Tahap terakhir dari kegiatan mencari pengetahuan adalah menarik kesimpulan. Pertanyaan kritis yang dapat diajukan pada tahap ini adalah: "Apakah kesimpulan yang dibuat itu betul?" Atau "Apakah kesimpulan yang kubuat ini betul?"

3. Menerapkan metode debat

Debat merupakan implementasi dari berpikir kritis (critical thinking). Seorang siswa harus dilatih sejak awal untuk terbiasa berani mengkritisi segala sesuatu, sebab hanya dengan kebebasan berpikirlah manusia akan maju dan berkembang. Sejarah sudah membuktikan betapa masyarakat yang terkungkung oleh kekuasaan yang otoriter dan menghalangi kebebasan berpikir mengakibatkan bangsa itu menjadi bangsa yang terbelakang.

Siswa, sebagai calon pemimpin masa depan, harus dibiasakan untuk belajar mengkritisi fenomena yang ada dalam kehidupannya. Langkah ini diharapkan akan menanamkan dalam dirinya keberanian untuk mengkritisi segala sesuatu, belajar berargumentasi, dan berani untuk mengemukakan perbedaan pendapat.

Ada beberapa macam format debat yang dapat digunakan. Perbedaan format yang dipakai ini menentukan peraturan teknis yang berkenaan dengan waktu pembicara menyampaikan argumennya serta kesempatan untuk

menyampaikan interupsi pada kelompok lawan.

Di antara format debat tersebut adalah, pertama, format lomba debat SMA sedunia. Ciri format ini adalah memberlakukan interupsi di tengah pidato, dan tidak memberikan interupsi pada pidato penutup. Kedua, format debat parlemen Asia. Format ini memberikan kesempatan interupsi di tengah debat. Ketiga, format debat Australia-Asia. Format ini tidak memberlakukan interupsi di tengah debat. Dan keempat, format debat parlemen Inggris. Format ini tidak mengenal adanya pembicara penutup, tapi memperbolehkan adanya interupsi di tengah jalannya debat.

(12)

Menurut para ahli, melatih berpikir kritis dapat dilakukan dengan cara mempertanyakan apa yang dilihat dan didengar. Setelah itu, dilanjutkan dengan bertanya mengapa dan bagaimana tentang hal tersebut. Intinya, jangan langsung menerima mentah-mentah informasi yang masuk. Dari mana pun datangnya, informasi yang diperoleh harus dicerna dengan baik dan cermat sebelum akhirnya disimpulkan. Karena itu, berlatih berpikir kritis artinya juga berperilaku hati-hati dan tidak grusa-grusu dalam menyikapi permasalahan.

5. Diskusi kelompok kecil

Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok kecil juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Resnick L., 1990; Rimiene V., 2002; Gokhale A.A., 2005 dalam Sudaryanto, 2008). Dengan berdiskusi siswa mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun pemahaman, meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.

6. Melatih otak kanan

Ada pandangan lain untuk meningkatkan sikap kritis. Menurut penelitian para ahli neurolinguistik, cabang ilmu yang mengkaji bahasa dan fungsi saraf, otak manusia bisa dilatih fungsi-fungsinya, termasuk untuk melahirkan sikap kritis. Menurut mereka, otak manusia dibagi dua, yakni otak kiri yang memproduksi bahasa verbal, imitatif dan repetitif, dan otak kanan yang memperoduksi pikiran yang bersifat imajinatif, komprehensif, dan kontemplatif. Muncul dugaan bahwa orang-orang agung para pembuat sejarah besar adalah orang yang memiliki otak kanan yang aktif.

(13)

G. Simpulan

Dari uraian di atas dapat disimpul bahwa:

1. Berpikir kritis merupakan ketrampilan berpikir tingkat tinggi yang perlu dilatihkan pada anak didik;

2. Dengan berpikir kritis akan melatih anak didik agar tidak begitu saja menerimainformasi yang diterimanya, namun menelusuri kebenaran dari informasi tersebut;

3. Ada beberapa cara melatih berpikir kritis pada anak didik, diantaranya melalui kegiatan karya ilmiah remaja (KIR), latihan peelitian, diskusi kelompok kecil, debat, mempertanyakan informasi yang diterima, melatih otak kanan.

(14)

RUJUKAN

Abdul Wahid,http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/14855; 13 April 2010 Agustinus Setiono, 2007, Berpikir Kritis, diambil dari

http://agustinussetiono.wordpress.com/2007/09/25/berpikir-kritis/, 13 April 2010; 20:24 wib

Arief Achmad , 2007, Memahami Berpikir Kritis, diambil dari http://re-searchengines.com/1007arief3.html; 13 April 2010; 20:23 wib. Brando Lubis, http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/11/berpikir-kritis

%E2%80%A6/; 13 April 2010

Indra Yusuf,http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=AVBdBFMEVlBR; 16 April 2010

Leo Sutrisno , http://www.borneotribune.com/pdf/kolom/berlatih-berpikir-kritis.pdf; 13 April 2010

Poppy Kamalia Devi, M.Pd., Dr. dan Erly Tjahja Widjajanto T, S. Pd., 2011, Penilaian “Higher Order Thinking Skills ” Pada Pembelajaran IPA SMP/MTS Untuk Guru SMP, Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk Program BERMUTU.

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si, http://mudjiarahardjo.com/artikel/169-melatih-berpikir-kritis.html; 13 April 2010

Sarlito Wirawan Sarwono, 2009, Berpikir Kritis Dan Benar, diambil dari

(15)

SURAT PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Drs. Sugeng Pamudji, M. Pd. Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil (PNS) Unit kerja : SMP Negeri 4 Waru

Alamat : Jl. Bebekan Masjid Gg. V RT 12 RW 04 Kel. Bebekan, Kec. Taman, Kab. Sidoarjo

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa artikel yang berjudul MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS BAGI SISWA

benar-benar merupakan hasil karya sendiri.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan penuh rasa tanggung jawab.

Sidoarjo, 6 Maret 2011 Mengetahui :

Kepala SMP Negeri 4 Waru, Yang membuat pernyataan,

Hj. Ekowati, M. Pd.. Drs. Sugeng Pamudji, M. Pd.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian tersebut dapat bahwa tingkat berpikir kritis siswa yaitu siswa dengan gaya berpikir Field Dependentberada pada tingkat berpikir kritis 1 dengan

Instrumen evaluasi yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi keterampilan berpikir kritis peserta didik yang digunakan untuk mengetahui tingkat

Penelitian yang dikembangkan ialah pengembangan Lembar Kegiatan Siswa pada materi perubahan lingkungan untuk melatihkan kemampuan berpikir kritis yang bertujuan

Keefektifan LKPD berekstensi EPUB yang dikembangkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dapat diketahui melalui peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada

Berdasarkan temuan hasil penelitian, berikut adalah beberapa saran untuk melengkapi penelitian dan untuk peneliti selanjutnya yang ingin mengambangkan kemampuan berpikir kritis 1 hasil

Simpulan Berdasarkan masalah, tujuan penelitian yang dirumuskan, hasil paparan data, validasi data, dan analisis data tentang kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam

Hipotesis yang diajukan 𝐻0 : kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik kelas eksperimen tidak lebih baik dari atau sama dengan kelas kontrol 𝐻1 : kemampuan berpikir kritis

Gen-Z yang hidup di tengah era digital dengan segala kemudahan dalam mengakses informasi, mereka perlu mengembangkan keterampilan berpikir kritis agar lebih mampu memilih dan memilah