• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 20112012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 20112012"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENERAPAN METODE SILABA

DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA

PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN

TAHUN AJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Oleh:

MUSTAHSIN

NIM X7210090

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini

Nama : Mustahsin

NIM : X 7210090

Jurusab/Program Studi : FKIP/Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 2011/2012” ini benar-benar merupakan karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip

dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar

pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil

jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, Oktober 2012

Yang membuat pertanyaan

(3)

commit to user

iii

PENERAPAN METODE SILABA

DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA

PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN

TAHUN AJARAN 2011/2012

Oleh:

MUSTAHSIN

NIM X7210090

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(4)

commit to user

iv

PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul “PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 2011/2012”

yang disusun oleh:

Nama : Mustahsin

NIM : X7210090

telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, Oktober 2012

DosenPembimbing I

Warsiti, M.Pd.

NIP19500709197603 2001

DosenPembimbing II

(5)

commit to user

v

PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 2011/2012”

yang disusun oleh:

Nama : Mustahsin

NIM : X7210090

telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi

salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Jumat

Tanggal : 12 Oktober 2012

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Hadi Mulyono, M. Pd.

Sekretaris : Kartika Chrysti Suryandari, M. Si.

Anggota I : Warsiti, M. Pd.

Anggota II : Drs. H. Setyo Budi, M. Pd.

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

a.n. Dekan

Pembantu Dekan I

(6)

commit to user

vi

ABSTRAK

Mustahsin.

PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN

KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 2011/2012.

Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Oktober 2012.

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menguji dapat tidaknya metode silaba meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas II SD N 2 Pejagatan Tahun Ajaran 2011/2012, (2) mendeskripsikan langkah penerapan metode silaba yang dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas II SD N 2 Pejagatan Tahun Ajaran 2011/2012.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SD N 2 Pejagatan yang berjumlah 23 siswa. Sumber data berasal dari guru kelas II, teman sejawat, serta siswa kelas II. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, angket, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik interaktif model miles dan Huberman yang terdiri dari tiga komponen analisis yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Metode silaba dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas II SD N 2 Pejagatan sesuai indikator kinerja. (2) Langkah penerapan metode silaba yang dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas 2 adalah: a) Guru memberikan materi secara singkat sesuai tema, b) Siswa membentuk kelompok bermain, dan mendengarkan penjelasan aturan permainan, c) Siswa melakukan permainan babak pertama yang berkaitan dengan suku-suku kata, d) Siswa melanjutkan permainan babak kedua tentang perangkaian suku-suku kata menjadi kata bermakna, e) Di babak ketiga, siswa bermain permainan tentang perangkaian kata-kata acak menjadi kalimat sederhana. f) babak terakhir, siswa bersama kelompok membaca teks dengan metode silaba yang sekaligus sebagai tes psikomotor keterampilan membaca.

(7)

commit to user

vii

ABSTRACT

Mustahsin:

Application of Silaba Method in Increasing Reading

Skill at Second Grade Student of State Elementary School 2

Pejagatan In Academic Year 2011/2012.

Skripsi, Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University. October 2012.

The purpose of this research were (1) examine capability of silaba method in increasing reading skill at second grade student of State Elementary School 2 Pejagatan in academic year 2011/2012, (2) describe the right steps on application of silaba method in increasing reading skill at second grade student of State Elementary School 2 Pejagatan in academic year 2011/2012.

This research is a Class Room Action Research (CAR). The research was conducted in two cycles. Each cycle consist of planning, action, observation, and reflection. Subject were 23 second grade student of State Elementary School 2 Pejagatan in academic year 2011/2012. The data source came from the second grade teacher, peers, and students. The data are collected by technique of observation, interview, questionnaire, testing, and documentation. The data were analysis using Miles and Huberman interactive model consist of three component ar: data reduction, data display, and conclusion drawing/verification.

The result showed that (1) silaba method can increasing reading skill at second grade student of State Elementary School 2 Pejagatan in academic year 2011/2012 appropriate work indicator, (2) the right step application of silaba method in increasing reading skill at second grade student of State Elementary School 2 Pejagatan in academic year 2011/2012 are: a) The teacher brief learning the subject of lesson, b) Students are make 5 groups and listening a rule of game, (c) Students are playing first stage game on occasion of syllable, (d) Student continuing second stage game on occasion of string up syllable to a means word. (e) I n stage three, students are playing game on occasion of string up random word to good simple sentence, (f) The last stage, students in groups are reading text with silaba method, all at once to a reading skill test.

(8)

commit to user

viii

MOTTO

Sukses selalu menyertai orang-orang yang ulet dan penuh

kepercayaan pada diri sendiri (Leonardo da vinci)

Keberhasilan tanpa menempuh resiko tak beda dengan kemenangan

tanpa kebanggaan (Pierre Corneila)

“Defer no time, delays have dangerous ends.” (William Shakespeare)

“Be modest, be respectful of others, try to understand.” (Lakhdar

(9)

commit to user

ix

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu kusuntingkan karya ini untuk:

v My self … you can do it.

v My father and mother …you are super parent.

v My little sister and brother…you are my inspiration.

v My friend… without you, what is the meaning of me.

v My student in SD N 2 Pejagatan…I do love you.

v Mr. I mam Suyanto… thank you so much.

v Mrs. Kartika Chrysti…thank’s a lot

v Mrs. Warsiti … my motivation.

v Mr. H. Setya Budi.… thank’s for all.

(10)

commit to user

x

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang

memberi ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “PENERAPAN METODE SILABA

DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA

KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 2011/2012”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk

mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi PGSD, Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa

terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan

pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih

kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Warsiti, M.Pd. selaku pembimbing I, yang selalu memberikan motivasi dan

bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Harun Setyo Budi, M.Pd, selaku pembimbing II, yang selalu memberikan

motivasi dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Kepala SD N 2 Pejagatan, yang telah memberi kesempatan dan tempat guna

pengambilan data dalam penelitian.

7. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan

karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga

skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Surakarta, Oktober 2012

(11)

commit to user

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK... vi

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR... x

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB 1 P ENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA... 5

A. Kajian Pustaka dan Hasil Penelitian yang Relevan ... 5

B. Kerangka Berpikir ... 30

C. Hipotesis Tindakan... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

B. Subjek Penelitian ... 33

(12)

commit to user

xii

D. Pengumpulan Data ... 34

E. Uji Validitas Data ... 44

F. Analisis Data ... 45

G.Indikator Kinerja Penelitian ... 47

H. Prosedur Penelitian ... 47

BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN ... 53

A. Deskripsi Pratindakan ... 53

B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus ... 53

1. Siklus 1 ... 54

2. Siklus 2 ... 71

C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar siklus ... 85

D. Pembahasan ... 87

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 90

A. Simpulan ... 90

B. Implikasi ... 90

C. Saran... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1. Denah SD N 2 Pejagatan ... 32

3.2. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 33

3.3. Indikator Kinerja Penelitian ... 47

3.4. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 47

4.1. Perbandingan Nilai Tes Psikomotor Keterampilan Membaca ... 86

4.2. Perbandingan Nilai Tes Psikomotor Keterampilan Membaca ... 86

4.3. Diagram Ketuntasan Tes Psikomotor Keterampilan Membaca... 88

4.4. Diagram Ketuntasan Tes Kognitif Keterampilan Membaca ... 89

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1. Cakupan Materi Membaca Kelas 2 Semester II ... 21

3.1 Kisi-Kisi Soal Tes Kognitif Keterampilan Membaca ... 38

3.2. Kisi-Kisi Soal Tes Psikomotor Keterampilan Membaca Siklus I ... 39

3.3. .... Kisi-Kisi Soal Tes Psikomotor Keterampilan Membaca Siklus II 40 3.4. Kisi-Kisi Butir Angket Siswa ... 41

3.5. Kisi-Kisi Lembar observasi ... 43

3.6. Kisi-Kisi Pedoman Wawancara ... 44

3.7. Materi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Siklus 1 ... 48

3.8. Materi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Siklus ... 50

4.1. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan I ... 57

4.2. Analisis Nilai Evaluasi Siklus I Pertemuan 1 ... 59

4.3. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan 2 ... 63

4.4. Analisis Nilai Evaluasi Siklus I Pertemuan 2 ... 64

4.5. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan 3 ... 69

4.6. Analisis Nilai Evaluasi Siklus I Pertemuan 3 ... 70

4.7. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus II Pertemuan I ... 74

4.8. Analisis Nilai Evaluasi S iklus II Pertemuan 1... 75

4.9. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus II Pertemuan 2 ... 78

4.10 Analisis Nilai Evaluasi Siklus II Pertemuan 2... 80

4.11. Hasil Observasi Pembelajaran Siklus II Pertemuan 3 ... 82

4.12. Analisis Nilai Evaluasi Siklus II Pertemuan 3... 84

4.13. Perbandingan hasil Tindakan Antar Siklus... 85

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Nilai Keterampilan Membaca Siswa Kelas II Semester I ... 96

2 Silabus Pembelajaran... 97

3 Skenario Siklus 1 Pertemuan 1 ... 99

4 Lembar observasi ... 101

5 Pedoman Wawancara (Daftar Pertanyaan) ... 103

6 Instrumen Tes Psikomotor Keterampilan Membaca ... 104

7 Instrumen Tes Kogn itif Keterampilan Membaca ... 107

8 Instumen Angket Siswa ... 110

9 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ... 112

10 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II... 160

11 Daftar Presensi Siklus I dan II ... 197

12 Rekap Hasil Observasi Siklus I ... 198

13 Rekap Hasil Observasi Siklus II ... 201

14 Sampel Hasil Wawancara... 204

15 Sampel Hasil Pekerjaan Siswa Tertinggi dan Terendah ... 206

16 Data Hasil Angket S iswa... 208

17 Data Hasil Tes Psikomotor Keterampilan Membaca ... 214

18 Data Hasil Tes Kognitif Keterampilan Membaca ... 220

19 Foto Pembelajaran Siklus I dan II ... 226

20 Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Observer... 232

21 Surat Ijin Menggunakan SD ... 236

22 Surat Keterangan Kepala Sekolah ... 237

(16)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan Negara Indonesia

di semua jenis dan jenjang sekolah mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan

perguruan tinggi, memegang peranan penting dalam pembaruan dan peningkatan

mutu pendidikan. Perhatian dan kegiatan pendidikan pelajaran Bahasa Indonesia

dikembangkan menjadi keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca,

dan menulis) bukan lagi pengajaran tentang tata bahasa semata. Mambaca

merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang saling terkait dan penting

dimiliki agar dapat berkomunikasi secara optimal. Seseorang akan memperoleh

berbagai pengetahuan baru yang semakin meningkatkan wawasannya sehingga

mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup kedepan.

Heckman (2006) menuliskan pendapatnya tentang membaca sebagai

berikut:

Teaching children to read accurately and with comprehension is one of

the main goals of early education. Reading is critical because a great deal of formal education depends upon being able to read with understanding. Reading difficulties will inevitably create educational difficul-ties, which, in turn, are a major source of economic and social disadvantage. But such difficulties may be reduced by suitable early intervention ” (Mengajarkan anak untuk membaca dengan teliti, dengan fasih, dan dengan pemahaman yang cukup adalah satu dari tujuan utama pendidikan awal. Membaca itu kritis karena tujuan utama pendidikan formal bergantung pada kemampuan membaca dengan pemahaman. Kesulitan membaca tidak bisa diacuhkan, karena menjadikan kesulitan pendidikan yang mana, perubahan itu akan mendatangkan kerugian di sumber utama yaitu sosial dan ekonomi. Tetapi kesulitan seperti itu mungkin dapat diatasi dengan tindakan yang cocok), Hulme C. and Snowling M.J., 2010: 139.

Burns, dkk (1996) menuliskan bahwa membaca merupakan sesuatu yang

vital dalam suatu masyarakat terpelajar. Namun anak-anak yang tidak memahami

pentingnya belajar membaca tidak akan termotivasi untuk membaca (Rahim,

2008: 1). Sedangkan John Gardner menyatakan “Masyarakat kompleks setiap jam

(17)

commit to user

pertimbangan rumit dan bertindak berdasarkan informasi yang luas (Ahuja, P dan

Ahuja, G.C. 2010: 5). Bila tidak demikian, perkembangan ekonomi dan sosial

modern mustahil terjadi”. Kedua pendapat diatas tentunya mengindikasikan

bahwa keterampilan membaca harus dikuasai seseorang yang pada hakikatnya

merupakan makhluk monodualis, yaitu selain berdiri sendiri, mereka juga

membutuhkan orang lain.

Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru SD N 2 Pejagatan,

kenyataan di lapangan adalah hampir di setiap kelas selalu ada siswa yang belum

menguasai keterampilan membaca dengan baik padahal dari sisi usia sudah

semestinya keterampilan tersebut dimiliki. Di kelas tinggi, siswa banyak

melakukan kesalahan membaca, terlihat saat pelaksanaan upacara bendera ketika

membaca teks protokol, do’a, maupun UUD 1945. Sarana dan prasarana

pendukung kegiatan membaca juga sangat kurang, buku-buku di perpustakaan

hanya berjumlah ratusan dan mulai usang dimakan usia, serta kondisi ruangannya

juga tidak nyaman.

Di kelas rendah terutama kelas II juga demikian, banyak siswa yang

belum menguasai keterampilan membaca. Berdasarkan dokumen nilai

keterampilan membaca siswa kelas II di semester I terlihat bahwa siswa belum

sepenuhnya menguasai keterampilan membaca, dari 23 siswa yang dinyatakan

tuntas dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 60 hanya 7 anak (30,43 %)

dan yang belum tuntas sebanyak 16 anak (69,56%). Kurangnya penguasaan

keterampilan membaca siswa tersebut menimbulkan banyak masalah. Guru

merasa kesulitan saat mengajarkan materi dengan banyak tuntutan membaca

didalamnya, sebab harus menjelaskan terus menerus secara indvidu, sementara

dari sisi waktu dan tenaga sangat terbatas. Siswa yang berkesulitan membaca

(belum menguasai keterampilan membaca) selalu berbuat gaduh saat mengerjakan

soal. Mereka sering jalan-jalan untuk melihat jawaban teman sehingga

pertengkaran pun kerap terjadi. Prestasi siswa yang berkesulitan membaca juga

jauh dari teman yang lancar membaca, hampir di semua mata pelajaran. Jika guru

tidak segera melakukan tindakan, maka permasalahan akan menjadi semakin

(18)

commit to user

Metode silaba menjadi pilihan yang memungkinkan diantara

metode-metode lainnya untuk diterapkan dan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan

membaca. Pertimbangannya adalah metode ini mudah dipasangkan dengan

strategi maupun media lain. Proses pembelajarannya dimulai dari pengenalan

berbagai suku kata yang dapat dibaca siswa, mengingat mereka telah masuk fase

pertama yang telah mengenal huruf serta mampu membaca suku kata dengan

baik. Beban siswa ketika bertemu kata-kata yang panjang dapat teratasi dengan

metode silaba yang menampilkan kata-kata menjadi beberapa suku-suku kata.

Melalui pengalaman saat pembelajaran, siswa yang berkesulitan membaca,

mampu membaca dengan metode silaba sedikit demi sedikit per suku kata hingga

akhir bacaan.

Peneliti semakin termotivasi untuk mengadakan penelitian, selain sebagai

tugas penelitian, juga merupakan tantangan. Agar peneliti dapat meningkatkan

keterampilan membaca siswa kelas II, maka peneliti mengajukan judul penelitian

”Penerapan Metode Silaba dalam Peningkatan Keterampilan Membaca Pada

Siswa Kelas II SDN 2 Pejagatan Tahun Ajaran 2011/2012”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengajukan rumusan

masalah sebagai berikut:

1. Apakah penerapan metode silaba dapat meningkatkan keterampilan membaca

pada siswa kelas II SD N 2 Pejagatan Tahun Ajaran 2011/2012?

2. Bagaimanakah penerapan metode silaba yang dapat meningkatkan

keterampilan membaca pada siswa kelas II SD N 2 Pejagatan Tahun Ajaran

2011/2012?

C. Tujuan Penelitian

1. Menguji dapat tidaknya metode silaba meningkatan keterampilan membaca

pada siswa kelas II SD N 2 Pejagatan Tahun Ajaran 2011/2012.

2. Mendiskripsikan langkah penerapan metode silaba yang dapat meningkatkan

keterampilan membaca pada siswa kelas II SDN 2 Pejagatan Tahun Ajaran

(19)

commit to user

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memiliki beberapa manfaat

baik dari segi teoritis maupun segi praktis.

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan/teori baru tentang

membaca dengan menggunakan metode silaba, serta sebagai tambahan

dokumen ilm iah agar dapat ditindaklanjuti oleh peneliti berikutnya.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Siswa diharapkan merasa gembira dengan berbagai kegiatan pembelajaran

membaca yang menyenangkan.

b.Bagi Guru

Memberikan pandangan bagi guru kelas rendah dalam merancang

pembelajaran membaca maupun memperbaiki keterampilan membaca.

c. Bagi Lembaga Sekolah

Mampu melihat pentingnya keterampilan membaca, sehingga turut

mengupayakan sarana dan prasarana yang memadai untuk peningkatan

minat baca.

d.Bagi Peneliti Lain

Mendapatkan gambaran tentang penerapan metode silaba dan keterampilan

(20)

commit to user

5 BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka dan Hasil Penelitian yang Relevan 1. Peningkatan Keterampilan Membaca Siswa Kelas II

a. Karakteristik Siswa Kelas II

Rentangan usia pada kelas dua secara umum adalah 7 sampai 8 tahun.

Anak dalam masa ini berada dalam stadium operasional konkrit (7-11 tahun)

Stadium operasional konkrit dapat digambarkan sebagai menjadinya positif

ciri-ciri yang negativ pada stadium berfikir pra-operasional, artinya anak

sekarang misalnya sudah mampu untuk memperhatikan lebih dari satu dimensi

sekaligus juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi ini satu sama lain.

Kekurangannya adalah anak akan mampu untuk melakukan aktivitas logis

tertentu dalam situasi yang konkrit (Haditono, 2006)

Perkembanyan egosentrisme pada stadium operasional konkrit disebut

Elkind (1971) sebagai realitas asumtif, dimana anak melihat kenyataan berdasarkan informasi yang terbatas dan tidak dipengaruhi oleh informasi baru

atau informasi yang bertentangan. Sekarang anak tidak lagi memandang orang

tua sebagai yang serba tahu, bahkan mereka lebih percaya pada teman-teman

sebaya atau pada guru yang dalam hal ini dinamakan Elkind (1971) sebagai

keseimbangan kognitif. Mereka juga sering menunjukkan kecerdikan dan

superiornya mereka dengan berbuat kenakalan-kenakalan (Haditono, 2006:

115-116).

Ros dan Roe (1990) berpendapat bahwa perkembangan bahasa pada

periode operasional masuk pada fase semantik, yaitu anak dapat membedakan

kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata (Zuchdi dan

Budiasih, 2001). Memang benar bahwa rata-rata anak kelas dua sudah

mengenal huruf dan dapat membaca dan maupun menulis kata-kata yang

pendek.

Zuchdi dan Budiasih juga mengemukakan bahwa anak-anak kelas dua

(21)

commit to user

meskipun alurnya belum jelas. Anak-anak juga mulai dilatih menggunakan

kalimat yang agak panjang dengan konjungsi: dan, lalu, dan, kata depan di, ke, dari. Tentu hal tersebut agar anak siap untuk menapaki jenjang selanjutnya yang lebih kompleks (2001).

Kesimpulannya adalah bahwa anak-anak kelas dua masuk dalam

periode kognitif, operasional konkrit dan periode bahasa semantik dimana

mereka dapat melakukan aktivitas logis tertentu dalam situasi konkrit, mereka

sudah mengenal huruf dan dapat membaca dan maupun menulis kata-kata yang

pendek serta dapat dilatih bercerita mengenai beberapa kejadian secara

kronologis, meskipun alurnya belum jelas.

b.Pengertian Membaca

Mengenai pengertian membaca Rahim (2008) berpendapat,

”Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan yang rumit yang melibatkan

banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan

aktivitas visual, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif” (hlm. 2). Menurut

peneliti membaca bagaikan sebuah permainan, jika kita belum memilliki modal

dasar dan aturannya kita tidak dapat melakukan permainan atau dalam hal ini

tidak mampu membaca. Hal ini terbukti ketika kita membaca huruf jawa, kita

perlu hafal simbol dan tata bacanya hal itu berarti ”Membaca merupakan

aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah,

mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan

(Abdurrahman, 2003: 200).

Menurut Ahuja, P. dan Ahuja, G.C. (2010: 36) Membaca adalah

kecakapan memaknai dan menemukan arti. Proses pendekodean (memaknai

dan menemukan arti) ini berfungsi sebagai alat atau sarana bagi proses mental

ketika pembaca mencoba memperoleh makna dari bahan bacaan. Pendapat

tersebut tentu mengarah pada tujuan lanjut dari keterampilan membaca.

Zuchdi dan Budiasih mengemukakan bahwa membaca merupakan

salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang reseptif, karena seseorang

dapat memperoleh informasi, ilmu pengetahuan dan pegalaman-pengalaman

(22)

commit to user

kegiatan membaca yang saat ini semakin tergantikan dengan kegiatan lain,

seperti menonton televisi atau mendengarkan radio. Padahal terdapat

pengalaman yang tidak tergantikan dalam kegiatan membaca misalnya

khayalan atau imajinasi ketika membaca sesuatu. Hal tersebut sejalan dengan

pendapat Matedu (mengutip pernyataan Tampubolon) menjelaskan pada

hakikatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan

makna dari tulisan. Walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan

huruf-huruf. (2009)

Finocchiaro dan Bonomo mengatakan bahwa reading adalah bringing meaning to and getting meaning from printed or written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis. Para

pelajar harus dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap

lambang-lambang visual yang telah mereka tanggapi. Setiap kesulitan yang

berkenaan dengan bunyi, urutan bunyi, intonasi, atau jeda haruslah dijelaskan

terleb ih dahulu sebelum para pelajar membacanya (Tarigan, H.G. 2008).

Pendapat para ahli diatas menuju kesimpulan, membaca adalah

kegiatan reseptif yang melibatkan berbagai aktivitas secara serentak

(melafalkan tulisan, aktivitas visual, berfikir psikolinguistik dan metakognitif),

dalam melihat rangkaian simbol-simbol bahasa atau tulisan demi mencari

makna.

1) Manfaat Membaca

Ahuja, P. dan Ahuja, G.C. (2010: 20-23) menuliskan dua manfaat

besar membaca yaitu a) pembaca mampu menggunakan bacaannya untuk

meningkatkan pemahamannya dan menemukan wawasan baru, b) membaca

memberikan kontribusi ide-ide yang membantu orang-orang menjernihkan

nila-nilai dan merumuskan keputusan-keputusan. Besarnya manfaat

membaca dapat digunakan guru untuk memberikan dorongan lebih bagi

siswa dalam menguasai keterampilan ini.

Di sisi lain, manfaat membaca juga diuraikan oleh Sukirno (2009:

3) dalam bukunya ”Sistem Membaca yang Efektif” yaitu dengan membaca

(23)

commit to user

informasi kepada orang lain, c) menangkap isi bacaan dengan cepat dan

tepat, d) menumbuhkan sikap positif terhadap bacaan, e) bersifat kritis

terhadap informasi yang diterima, f) menghargai nilai-nilai luhur yang ada

dalam masyarakat, g) memasuki dunia keilmuan yang penuh pesona dan

memahami khasanah kearifan yang banyak hikmah, h) mengembangkan

berbagai keterampilan yang berguna untuk mencapai sukses dalam hidup, i)

membukakan jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang dalam,

dan lorong keahlian yang lebar di masa depan, dan j) memperbaiki

nasibnya menjadi lebih baik.

Pendapat Sukirno memberikan gambaran bahwa kegiatan membaca

memberikan banyak manfaat bagi para pelakunya, tetapi memerlukan peran

serta guru dalam merangsang dan menggali manfaat membaca agar peserta

didik dapat mendapatkan dan merasakan manfaatnya. Dengan kata lain,

besarnya manfaat membaca yang dapat diperoleh atau dirasakan siswa

merupakan hasil dari efektifnya kegiatan membaca yang dilakukan siswa

maupun baiknya kualitas pembelajaran membaca yang dilakukan guru,

sehingga dapat menjadi salah satu indikator dalam keterampilan membaca

yang menjadi fokus penelitian ini.

2) Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari dan

memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan (Tarigan,

H.G. 2008). Goodman (1980); Heath (1980); Mason (1977); Mason &

McCormick (1981); dan Taylor (1983) menuliskan tentang pentingnya

tujuan membaca ”Children are more likely to become involved in formal reading if they have seen reading, writing, and speaking as functional, purpose, and useful. Studies of early reading behaviors clearly ilustrate that young children acquire their first information about reading and writing through their functional uses” (Anak akan memungkinkan untuk terlibat dalam membaca formal jika mereka dapat melihat bahwa membaca,

menulis, dan berbicara itu memiliki fungsi, tujuan dan bermanfaat.

(24)

commit to user

mengilustrasikan bahwa anak muda mendapatkan informasi pertama tentang

membaca dan menulis yang menyambung dengan tujuan penggunaan

(Morrow, 1993: 115)

Tarigan lebih lanjut mengemukakan tujuan membaca sebagai berikut.

a) Reading for details or facts, membaca untuk memperoleh rincian atau fakta-fakta;

b) Reading for main ideas, membaca untuk memperoleh ide-ide utama,;

c) Reading or sequence or organization, membaca untuk mengetahui urutan

atau susunan organisasi cerita;

d) Reading for inference, membaca untuk menyimpulkan;

e) Reading to classify, membaca untuk mengelompokkan atau

mengklasifikasikan;

f) Reading for evaluate, membaca untuk menilai atau mengevaluasi;

g) Reading to compare of contrast, merupakan tujuan membaca untuk

memperbandingkan atau mempertentangkan, contohnya menemukan

bagaimana cara tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda, bagaimana

tokoh menyerupai pembaca (Tarigan, H.G. 2008).

Seseorang cenderung akan mudah memahami bacaannya jika

disertai atau mempunyai tujuan tertentu. Sehingga guru dapat menetapkan

tujuan membaca sesuai silabus yang berlaku, dengan harapan siswa mampu

menguasai keterampilan membaca sesuai fase perkembangannya. (Rahim,

2008), Lebih lanjut Rahim menuliskan tujuan membaca yang mencakup: a)

kesenangan, b) menyempurnakan membaca nyaring, c) menggunakan

strategi tertentu, d) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, e)

mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, f)

memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, g)

mengkonfirmasikan atau menolak prediksi, h) menampilkan suatu

eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks

dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, dan i)

(25)

commit to user

Berdasarkan pendapat ahli tentang tujuan membaca, maka tujuan

membaca dalam penelitian ini adalah: a) membaca untuk memperoleh

ide-ide utama, b) membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi

cerita anak, c) membaca untuk menilai atau mengevaluasi, d) membaca

untuk memperbandingkan atau mempertentangkan, e) kesenangan, f)

menyempurnakan membaca nyaring, g) memperbaharui pengetahuannya

tentang suatu topik, h) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang

telah diketahuinya, i) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau

tertulis, j) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Kesepuluh tujuan membaca tersebut menjadi pedoman guru dalam

merumuskan fokus tujuan, setiap kegiatan membaca yang dilakukan siswa.

Jika tujuan membaca yang diinginkan tercapai, berarti kemampuan

membaca siswa menunjukan perkembangan yang baik, sekaligus dapat

menjadikan indikator untuk menguji keterampilan membaca siswa.

3) Proses dan Produk Membaca

Proses membaca merupakan proses kompleks yang melibatkan

unsur visik dan mental, seperti penjelasan Burns dkk. (1997) yang

menyatakan bahwa proses membaca terdiri atas sembilan aspek, yaitu

sensor, persepsi, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap,

dan gagasan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut.

a) Membaca dimulai dengan sensor visual yang diperoleh melalui

pengungkapan simbol-simbol grafis melalui indera penglihatan;

b) Kegiatan berikutnya adalah persepsi terhadap makna simbol tadi

berdasarkan pengalaman yang dimiliki;

c) Aspek urutan proses membaca merupakan kegiatan mengikuti rangkaian

tulisan yang tersusun pada halaman dari kiri ke kanan kecuali tulisan

bahasa Arab;

d) Pengalaman merupakan aspek penting dimana pengalaman luas dan

kosakata yang banyak akan lebih cepat menangkap makna bacaan;

e) Membaca adalah berpikir untuk memahami makna kata, kalimat,

(26)

commit to user

f) Untuk memperoleh kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan

kritis, pembaca memerlukan teori belajar membaca yang benar yang

diperoleh melalu i pembelajaran sedini mungkin, baik dirumah maupun

disekolah;

g) Mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna

merupakan aspek asosiasi dalam membaca, tanpa asosiasi, pembaca

mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan;

h) Aspek sikap atau afektif pembaca yang sangat diperlukan adalah

mempunyai minat/kegemaran membaca yang kuat, memusatkan

perhatian saat membaca, dan mempunyai motivasi membaca untuk

kebutuhan hidup;

i) Pembaca yang sudah terampil akan mudah menangkap gagasan yang ada

di dalam bacaan, baik berupa pikiran pokok atau topik bacaan (Sukirno,

2009: 5).

Sembilan tahapan membaca yang dikemukakan Burns, merupakan

proses otomatis yang membutuhkan keterampilan dari hasil latihan dan

bimbingan yang berkelanjutan, sehingga proses tersebut dapat terlaksana

dengan baik. Sedangkan Ahuja, P. dan Ahuja, G.C mendefinisikan

membaca adalah proses ganda yaitu: a) proses indrawi (sensori) yang

bergantung pada keterampilan visual tertentu, melibatkan pengenalan

(identifikasi) simbol-simbol dimana mata memainkan peran penting dan, b)

proses pemahaman (perseptual) yaitu mengacu pada interpretasi segala

sesuatu yang kita pahami, kita persepsi (2010).

Seseorang akan melalui tiga komponen dasar dari proses

membaca, yaitu recording, decoding, dan, meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, decoding (penyandian) adalah proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata dan meaning, adalah pemahaman makna berlangsung melalui berbagai tingkat mulai dari

pemahaman literal, interpretatif, kreatif, dan evaluatif. Proses recording dan

(27)

commit to user

SD (membaca permulaan), sedangkan proses memahami makna (meaning) lebih ditekankan di kelas-kelas tinggi (Rahim, 2008).

Proses membaca menunjukkan adanya mekanika gerakan mata

yang memperlihatkan bahwa mata menyimak bahan yang tercetak dalam

baris-baris huruf dengan serangkaian gerakan dan hentian, ada satu gerakan

kemudian satu hentian, dan demikian seterusnya hingga baris itu habis.

Gerakan mata dicirikan oleh istilah-istilah: fiksasi, regresi atau refiksasi,

kembali menyapu, dan gerakan antar fiksasi, dengan penjelasan sebagai berikut.

a) Fiksasi adalah hentian oleh mata sedemikian rupa sehingga mata dapat bereaksi terhadap stimulus grafis. Banyak dan lama fiksasi bergantung

pada kesulitan bahan atau kematangan pembaca;

b) Regresi atau refiksasi adalah gerakan balik, atau fiksasi dalam arah kanan-ke kiri pada gerakan mata, dimana banyak pembaca balik kembali

ke belakang karena merasa kurang percaya diri dan merasa

membutuhkan pembacaan ulang terus menerus. Regresi dapat terjadi

karena pembaca terselang oleh sesuatu atau adanya ketakutan persepsi;

c) Kembali menyapu, ketika menyelesaikan suatu baris bacaan, pembaca membuat sapuan penglihatan ke permulaan baris berikutnya. Jika seluruh

baris di bawahnya hilang karena satu dan lain sebab, maka pembaca

harus melokasikan tempas yang pas untuk melakukan refiksasi. Pembaca

yang payah, akan membuat fiksasi ekstra, bahkan refiksasi atau regresi

karena tidak memahami bahan bacaan. Pembaca seperti ini

membutuhkan latihan untuk meningkatkan pengenalan dan pemahaman

kata, bukan sekedar gerakan mata;

d) Gerakan antar fiksasi, merupakan gerakan mata dari fiksasi ke fiksasi lainnya. Banyak bahan atau jumlah kata yang dipersepsi seseorang dalam

setiap fiksasi (hentian oleh mata) disebut rentang pengenalan. lebih lebar

rentang pengenalan, lebih sedikit jumlah fiksasi. Bentukan rentang

pengenalan bergantung pada faktor psikologis yang intrinsik, tetapi

(28)

commit to user

bacaan yang sulit, boleh jadi merusak bentukan rentang pengenalan yang

wajar (Ahuja, P. dan Ahuja, G.C. 2010). Teori gerakan mata diatas

membawa peneliti pada satu indikator yaitu efisiensi membaca, dimana

pembaca memperoleh sesuatu dengan waktu yang sesingkat mungkin,

atau dengan kata lain adalah kelancaran membaca.

Kegiatan membaca akan menghasilkan produk berupa komunikasi

dari pemikiran dan emosi antara penulis dan pembaca. Syafi’ie (1993)

menuliskan ”Agar hasil membaca dapat tercapai secara maksimal, pembaca

harus menguasai kegiatan-kegiatan dalam proses membaca tersebut”

(Rahim, 2008: 15). Pendidik memegang peranan penting dalam

membimbing siswa menguasai kegiatan-kegiatan dalam proses membaca

dengan baik.

4) Jenis-jenis Membaca

Jenis-jenis membaca bertalian erat hubungannya dengan tujuan

membaca, dengan banyaknya tujuan membaca, banyak juga jenis-jenis

membaca yang dilakukan seseorang. Berdasarkan tingkat pendidikan jenis

membaca ada dua macam, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjutan

sebagai berikut (Sukirno, 2009).

a) Membaca Permulaan

Membaca permulaan diberikan kepada peserta didik semenjak

di taman kanak-kanak, kelas 1, dan kelas 2 sekolah dasar. Membaca

Permulaan disajikan melalui dua cara yaitu membaca permulaan tanpa

buku dan membaca permulaan dengan buku. Membaca permulaan

tanpa buku maksudnya ketika membaca tanpa menggunakan buku

sebagai media pembelajaran yang telah tersedia agar tidak membebani

siswa.

Adapun membaca permulaan dengan buku maksudnya anak

telah diperkenalkan kepada tulisan yang terdapat dalam buku secara

berseri karena telah mengenal semua lambang bunyi, jadi fungsi

(29)

commit to user

merupakan tahapan yang cocok bagi kelas dua dengan karakteristiknya

yang sudah membaca suku kata.

b) Membaca Lanjutan

Membaca lanjutan sudah diberikan kepada peserta didik sejak

kelas 3 sekolah dasar sampai di perguruan tinggi, tentu dengan tingkat

kesukaran yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikannya.

Jenis-jenis membaca lanjutan antara lain:

(1) Membaca pemahaman, yaitu membaca yang dilakukan dalam hati

secara cermat dan teliti untuk mengetahui isi bacaan sampai kepada

hal yang sekecil-kecilnya. Edwards (1957) menyatakan bahwa

membaca pemahaman adalah perkembangan berkesinambungan

menuju kecakapan membaca yang lebih besar dan terdiri dari

banyak tahapan dengan keberhasilan bergantung pada besar-

kecilnya motivasi, latar belakang, substansial yang terait dengan

konsep, kemampuan mempersepsi kata, kemampuan menalar, dan

kemampuan memahami makna; (Ahuja, P. dan Ahuja, G.C. 2010:

50)

(2) Membaca kritis, yaitu membaca untuk mengetahui fakta-fakta yang

terdapat dalam bacaan, kemudian memberi perhatian kepada

fakta-fakta itu. Membaca kritis adalah jenis membaca tertinggi yang

dicapai seseorang, karena tidak sekedar mengetahui apa yang

dibaca, tetapi mengapa penulis membuat tulisan/karangan itu.

Membaca kritis memerlukan keterampilan untuk merangkum,

menganalisis, dan menilai gagasan yang ada dalam bacaan. Albert

et all (1961) mengemukakan bahwa membaca kritis (critical reading) adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analisis, dan bukan

hanya mencari kesalahan; (Tarigan, H.G. 2008: 92)

(3) Membaca cepat, yakni kegiatan membaca secara cepat untuk

memahami gagasan pokok dalam bacaan secara cepat pula, tentu

(30)

commit to user

(4) Membaca bahasa atau membaca telaah bahasa, yaitu keterampilan

membaca untuk menelaah bahasa. Penekanannya adalah pada

latihan penelaahan hukum dan kaidah bahasa, seperti: pemakaian

huruf kapital, pengrtuasi, tanda baca, afiksasi, sinonim, homonim,

idiom, pola kalimat, peribahasa, defiasi kata, dan gaya bahasa;

(5) Membaca untuk keperluan studi, yaitu kegiatan membaca yang

bertujuan untuk mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan

studi seseorang. Misalnya membaca buku-buku pembelajaran yang

dianjurkan oleh para guru;

(6) Membaca untuk keperluan praktis, ialah membaca yang digunakan

untuk memenuhi keperluan sehari-hari sesuai dengan tugas kita

masing-masing, baik seorang siswa, mahasiswa, guru, dokter dan

lain-lain;

(7) Membaca bebas, yaitu keterampilan membaca yang penekanannya

terletak pada latihan kebiasaan mengisi waktu luang dengan

kegiatan membaca;

(8) Membaca di perpustakaan, yaitu kegiatan membaca di ruang

perpustakaan dengan memanfaatkan buku-buku di perpustakaan;

(9) Membaca teknik, yakni keterampilan membaca lisan atau membaca

bersuara atau membaca keras yang penekanannya terletak pada

kemampuan membaca dengan pengucapan atau pelafalan, intonasi,

jeda, dan pelaguan yang tepat sesuai dengan isi dan situasi bacaan.

Naskah yang baik untuk dibaca teknik antara lain : naskah

pancasila, UUD 1945, ikrar/janji/sumpah, naskah berita, naskah

pidato, naskah doa, naskah urutan upacara, kisah/biografi

seseorang, naskah pengumuman, atau naskah nonsastra;

(10) Membaca indah, yaitu keterampilan membaca nyaring/bersuara

yang sering d isebut juga dengan istilah membaca sastra, membaca

estetis, membaca ekspresif. Penekanannya terletak pada

kemampuan pengucapan, intonasi, jeda, penggambaran,

(31)

commit to user

bacaan. Naskah yang dibaca misalnya: puisi bebas atau puisi terikat

seperti pantun, syair, gurindam, cerpen, legenda, hikayat, dongeng,

dan naskah drama.

Tarigan, H.G. menuliskan bahwa jenis-jenis membaca ditinjau

dari segi terdengar atau tidaknya suara si pembaca waktu dia membaca

(2008). Maka proses membaca dapat dibagi atas:

a) Membaca Nyaring

Membaca nyaring, membaca bersuara, membaca lisan (reading out loud; oral reading; reading aloud) adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca

bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta

memahami informasi, pikiran dan perasaan seseorang pengarang

(Tarigan, H.G. 2008).

Membaca bersuara merupakan kegiatan membaca yang

dilakukan dengan cara melafalkan setiap kata, kelompok kata, dan

kalimat dari bacaan yang kita hadapi (Mulyati, 2007).

Membaca teknik dan membaca indah adalah jenis membaca

yang masuk dalam kategori membaca nyaring. Perbedaannya adalah

membaca teknik ditujukan pada teks non sastra, sedangkan membaca

indah dikhususkan pada teks sastra (Sukirno, 2008).

b) Membaca dalam Hati

Membaca dalam hati (silent reading) merupakan kegiatan membaca yang hanya mengandalkan kemampuan visual, pemahaman,

serta ingatan dalam menghadapi bacaan, tanpa mengeluarkan suara atau

menggerakkan bibir (Mulyati, 2007). Tujuan utama membaca dalam hati

adalah untuk memperoleh informasi. Keterampilan membaca dalam hati

merupakam kunci bagi semua ilmu pengetahuan (Tarigan, H.G. 2008).

Para ahli sependapat untuk mememberikan jangka waktu yang lebih

banyak untuk membaca jenis ini ketika para pelajar meningkat dari kelas

(32)

commit to user

didik di kelas rendah degan baik untuk menguasai keterampilan

membaca dalam hati.

Tarigan, H.G. lebih lanjut merinci jenis membaca dalam hati

yang terbagi menjadi dua yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif

(2008).

(1) Membaca Ekstensif

Membaca ektensif berarti membaca secara luas, obyeknya

meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat

mungkin. Tuntutan membaca ektensif adalah memahami isi-isi

penting dengan cepat sehingga efisiensi tercapai.

Membaca ektensif meliputi:

(a) Membaca survey (survey reading), yaitu membaca untuk mensurvei bahan bacaan yang akan dipelajari, seperti meneliti

indeks-indeks, melihat-lihat judul-judul bab dan memeriksa

bagan atau skema buku yang bersangkutan;

(b) Membaca sekilas (skimming), adalah sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat,

memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta

mendapatkan informasi, penerangan;

(c) Membaca dangkal (superficial reading), ialah membaca dengan tujuan memperoleh pemahaman yang dangkal yang

bersifat luaran, dan tidak mendalam dari suatu bahan bacaan.

Biasanya dilakukan untuk kesenangan, membaca bacaan

ringan yang mendatangkan kebahagiaan di waktu senggang.

(2) Membaca Intensif

Membaca intensif adalah studi seksama, telaah teliti, dan

penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap

suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman

(33)

commit to user

Membaca telaah isi adalah bila kita biasanya ingin

mengetahui dan menelaah isi secara mendalam, serta ingin

membaca dengan teliti suatu bahan bacaan yang kita temukan

(menarik hati) setelah membaca sekilas. Membaca telaah isi terbagi

atas (a) membaca teliti, (b) membaca pemahaman, (c) membaca

kritis, (d) membaca ide.

Membaca telaah bahasa merupakan kegiatan membaca

yang berkaitan dengan bahasa (language) sebagai unsur jasmaniyah, bersanding dengan unsur lain yaitu rohaniah berupa isi

(content) yang terdapaat dalam setiap bacaan. membaca telaah bahasa mencakup (a) membaca bahasa asing (foreign language reading), dan (b) membaca sastra.

Berkenaan dengan jenis-jenis membaca yang dilaksanakan dalam

penelitian ini, d irencanakan meliputi: a) membaca tanpa buku, b)

membaca dengan buku, c) membaca untuk keperluan praktis, d) membaca

di perpustakaan, e) membaca teknik, f) membaca sekilas (skimming), g) membaca indah, dan h) membaca dangkal (superficial reading).

5) Pendekatan Membaca

Syafi’ie (1993) mengemukakan bahwa pendekatan dalam

pengajaran bahasa mengacu kepada teori-teori tentang hakikat bahasa dan

pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai landasan dan prinsip

pengajaran bahasa (Rahim, 2008: 31). Pendekatan-pendekatan yang

dimaksud adalah:

a) Pendekatan Komunikatif

Pendakatan ini mengarah kepada tujuan pengajaran yang

mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Prinsipnya,

pengejaran membaca harus didasarkan pada tujuan membaca dan

diarahkan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Zuhdi

dan Budiasih berpendapat bahwa pendekatan komunikatif merupakan

(34)

commit to user

menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus

dicapai dalam pembelajaran bahasa (2001)

b) Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Semiawan dan Joni (1993) memberikan batasan bahwa esensi

pendekatan ini terletak pada penghayatan pengalaman belajar yang

diprogramkan oleh siswa (Rahim, 2008: 32).

c) Pendekatan Terpadu

Pada praktiknya, aspek-aspek bahasa selalu tampil bersama,

sehingga pembelajaran bahasa dirancang baik dengan perpaduan antar

keterampilan membaca maupun dengan bidang studi yang lain. Waktu

satu hari dapat digunakan untuk mata pelajaran yang terkait dengan

menggunakan salah satu tema sebagai penyatunya. Yeager (1991)

menyatakan bahwa pembelajaran bahasa secara terpadu menaruh

penghargaan terhadap bahasa, dan dengan seksama meningkatkan

penguasaan bahasa siswa (Zuchdi dan Budiasih, 2001: 43).

d) Pendekatan Kooperatif

Belajar kooperatif merupakan suatu metode yang

mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil, siswa

bekerja sama dan saling membantu menyelesaikan tugas. Metode

kooperatif yang sering digunakan misalnya STAD (Student Teams Achievement Divisions), CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), dan TAI (Team assisted Individualization).

Berpedoman pada kurikulum KTSP yang menekankan

pembelajaran tematik pada kelas I dan II, maka pendekatan yang

semestinya peneliti gunakan adalah pendekatan terpadu dalam satu mata

pelajaran Bahasa Indonesia yang memadukan empat keterampilan

berbahasa.

6) Strategi Membaca

Strategi adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala

sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai

(35)

commit to user

membaca, yaitu: a) bawah-atas (bottom-up), b) atas-bawah (top-down), c) model membaca campuran (eclectic), d) model strategi interaktif, e) strategi KWL (Know-Want to Know-Learned), f) Strategi DRA (Directed Reading Activity), dan g) Strategi DRTA (Directed Reading Thingking

Activity) (2008). Berbagai model tersebut memberikan pandangan kepada

peneliti untuk merancang pembelajaran yang variatif sehingga peserta

didik tidak merasa bosan dan antusias mengikutinya.

7) Teknik Membaca

Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan

ajar yang telah disusun (dalam model), berdasarkan pendekatan yang

dianut. Teknik yang digunakan guru perlu memprtimbangkan situasi kelas,

lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi yang lain

(Zuchdi dan Budiasih, 2001).

Ahuja, P. dan Ahuja G.C. sedikitnya menulisakan empat teknik

membaca yang bertitik tolak dari asumsi bahwa pembaca telah

mengembangkan keteranpilan membaca frase, memahami struktur

paragraf dan dapat mengidentifikasi kata kunci, yang meliputi: a) SQ3R

(Survey, Question, Read, Recite, Review), b) SQ4R (Survey, Question, Read, Recite, Repeat, Review), c) OK4R (Overview, key Ideas, Read,

Recall, Reflect, Review), dan PQRST (Preview, Question, Read,

Summarize, Test) (2010).

Beberapa Teknik membaca diatas, juga ditu liskan Sukirno dalam

buku ”Metode membaca yang efektif” seperti: metode STUDY (Survey the entire assigment, Think of question, Understand your reading, Your review the entire assigment) dan OK5R (Overview, key Ideas, Read, Record, Recite, Review, Reflect). Di sisi lain, Tampubolon merinci teknik membaca yang meliputi: a) baca-pilih (selecting), b) baca-lompat (skipping), c) baca-layap (skimming), d) bata-tatap (scanning) (2009). (Farida Rahim, 2008: 51-52)

Sedangkan Tarigan, J dan Tarigan, H.G. menuliskan tekn

(36)

commit to user

menyusun kalimat, c) menceritakan kembali, d) parafrase, e) melanjutkan

cerita, f) mem praktekan petunjuk, g) baca dan terka, h) membaca sekilas

(skimming), i) membaca sepintas (scaning), dan j) SQ3R (survei, susun pertanyaan, baca, ceritakan kembali, kaji ulang) (1986).

Sebelas teknik pembelajaran membaca tersebut cukup relevan

sebagai acuan dalam menciptakan suasana pembelajaran membaca yang

efektiv dan variatif. Keseluruhan teknik-teknik membaca yang ada,

manakala dibutuhkan akan menjadi sumber pilihan peneliti dalam

merancang pembelajaran membaca dengan metode silaba yang efektif,

yaitu memadukan metode silaba yang menjadi fokus, dengan teknik yang

sesuai.

8) Materi Membaca

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SDN

2 Pejagatan tahun 2010, maka cakupan materi membaca kelas 2 semester

II, jika dilihat dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikatornya

adalah sebagai berikut (Dinas P dan K, 2010).

Tabel 2.1. Cakupan Materi Membaca Kelas 2 Semester II

SD N 2 Pejagatan

Standar

Kompetensi Kompetensi dasar Indikator

(37)

commit to user

Zuchdi dan Budiasih (2001) menuangkan beberapa materi

pembelajaran membaca bagi kelas 2 yang masih didasarkan pada

kurikulum terdahulu (GBPP 1994) sebagai berikut:

a) Persiapan (Pramembaca)

Pada tahap ini, siswa diajarkan: (1) sikap duduk yang baik,

(2) cara meletakkan atau menempatkan buku di meja, (3) cara

memegang buku, (4) cara membalik halaman buku yang tepat, (5)

Melihat atau memperhatikan gambar atau tulisan.

b) Setelah Pramembaca

(1) Materi paragraf (15 sampai 20 baris) dibaca dengan lafal dan

intonasi yang tepat dan wajar. Bahan untuk itu diambil dari buku

ajar, atau majalah anak-anak, misalnya Bobo, dengan memilih

wacana yang ada kaitannya dengan bidang studi IPA, IPS, atau

Matematika;

(2) Kalimat-kalimat sederhana (untuk dipahami isinya), bahan untuk

ini pun dapat diambil dari bacaan anak atau membuat sendiri;

(3) Huruf besar pada awal kalimat yang dapat dibuat sendiri atau

mengambil bahan bacaan anak yang sesuai dengan tingkat

kemampuan dan usia siswa;

(4) Bacaan dengan kalimat-kalimat sederhana (menggunakan huruf

kapital pada awal kalimat) untuk dipahami isinya;

(5) Cerita anak-anak (dengan memperhatikan jeda yang ada dalam

bacaan);

(6) Percakapan/dialog tentang suatu kegiatan (menggunakan tanda

baca titik dan tanda tanya pada akhir kalimat);

(7) Puisi anak-anak (dibaca secara kelompok).

Mengacu dua sumber materi membaca tersebut, peneliti tetap

berpedoman pada kurikulum KTSP yang berlaku, dengan m enjadikan

sumber dari Zuchdi dan Budiasih sebagai pandangan maupun

perbandingan materi-materi yang semestinya dilalui (dikuasai) siswa di

(38)

commit to user

c. Pengertian Keterampilan

Muttaqin mendefinisikan keterampilan sebagai usaha untuk

memperoleh kompetensi cekat, cepat, dan tepat dalam menghadapi

permasalahan belajar. Pembelajaran keterampilan dirancang sebagai proses

komunikasi belajar untuk mengubah perilaku siswa menjadi cekat, cepat, dan

tepat melalui belajaran kerajinan dan teknologi rekayasa, dan teknologi

pengolahan (2008).

Pusat Bahasa, Depdiknas mendefinisikan keterampilan sebagai

kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan dalam hal ini adalah

membaca, jadi keterampilan membaca adalah kecakapan seseorang dalam

membunyikan bahasa tulis untuk mencari makna (2008).

Keterampilan dapat diuraikan dengan kata seperti otomatik, cepat, dan

akurat. Meskipun demikian, adalah keliru menganggap keterampilan sebagai

tindakan tunggal yang sempurna, karena setiap pelaksanaan sesuatu yang

terlatih walaupun menulis huruf a, merupakan suatu rangkaian koordinasi

beratus-ratus otot rumit yang melibatkan perbedaan isyarat dan koreksi

kesalahan yang berkesimanbungan. Sesuai pendapat Cronbach bahwa

keterampilan yang dipelajari dengan baik akan berkembang menjadi kebiasaan,

(Hurlock, 1987: 154).

Kesimpulannya adalah keterampilan merupakan kecakapan yang

otomatik, cepat dan akurat sebagai usaha menyelesaikan tugas atau

menghadapi permasalahan belajar dan berkembang menjadi kebiasaan jika

dipelajari dengan baik.

d. Pengertian Keterampilan Membaca

Broughton, et all (1978) menyebutkan bahwa membaca merupakan

keterampilan yang kompleks, rumit dan melibatkan serangkaian

keterampilan-keterampilan yang lebih kecil, sehingga dapat dikatakan keterampilan-keterampilan

membaca mencakup tiga komponen yaitu,

1) Pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca (keterampilan A);

2) Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik

(39)

commit to user

(3) Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning

(keterampilan C) (Tarigan, H.G. 1983: 11).

Keterampilan A merupakan suatu kemampuan untuk megenal

bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan mode yang berupa gambar, gambar di atas

suatu lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam

hubungan-hubungan berpola yang teratur dan rapi. Keterampilan B merupakan

suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas

dengan bahasa. Keterampilan C atau ketiga (keterampilan intelektual)

merupakan kemampuan atau abilitas menghubungkan tanda-tanda hitam di atas

kertas melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi,

dengan makna yang dikembangkan oleh kata-kata tersebut. Ahli lain

mengatakan bahwa keterampilan membaca merupakan jenis keterampilan

berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif yang berkaitan erat dengan 3 jenis

keterampilan berbahasa lainnya yaitu mendengar, berbicara, dan menulis

(Mulyati, 2007).

Kesimpulan yang dapat diambil adalah keterampilan membaca

merupakan suatu kecakapan (otomatik, cepat dan akurat) yang kompleks,

untuk menyelesaikan suatu tugas yang bersifat reseptif dengan membunyikan

serangkaian simbol-simbol bahasa tulis melalui proses recording, decoding, dan meaning.

Keterampilan-keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring

bagi kelas II adalah: 1) membaca dengan terang dan jelas, 2) membaca

dengan penuh perasaan, ekspresi, dan 3) membaca tanpa tertegun-tegun, tanpa

terbata-bata (Tarigan, H.G. 2008). Keterampilan mambaca dalam hati

menuntut siswa kelas II SD untuk menguasai: 1) membaca tanpa

gerakan-gerakan bibir atau kepala, dan 2) membaca lebih cepat secara dalam hati

daripada secara bersuara.

e. Pengertian Peningkatan Keterampilan Membaca

Peningkatan merupakan kata berimbuhan dari kata tingkat yang

(40)

commit to user

kegiatan, dan sebagainya). Mengacu kepada penelitian, maka peningkatan

yang dimaksud adalah usaha untuk meningkatkan keterampilan membaca

siswa kelas dua (2008).

Kesimpulan yang peneliti dapatkan dari definisi para ahli tersebut

adalah bahwa peningkatan keterampilan membaca merupakan suatu perbuatan

untuk meningkatkan kecakapan siswa dalam membunyikan bahasa tulis untuk

mencari makna.

Tarigan H.G. mencantumkan usaha dalam mengembangkan serta

meningkatan keterampilan membaca sebagai berikut.

1) Memperluas pengalaman para pelajar sehingga mereka memahami

keadaan dan seluk beluk kebudayaan;

2) Mengajarkan bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;

3) Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;

4) Membantu para pelajar memahami struktur-struktur (termasuk struktur

kalimat yang biasanya tidak begitu mudah bagi pelajar bahasa);

5) Mengajarkan keterampilan-keterampilan pemahaman (komprehension skills) kepada para pelajar;

6) Membantu para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca

(2008).

Ahuja, P. dan Ahuja, G.C. menuliskan usaha meningkatkan

keterampilan membaca melalui surat kabar, yaitu guru membantu para

siswanya dalam kegiatan-kegiatan berikut dengan bantuan surat kabar:

1) meningkatkan penguasaan kata, 2) menambah pundi-pundi pengetahuan

umum, 3) memperbaiki jangkauan mata, 4) meningkatkan kecepatan membaca,

5) mengembangkan keterampilan skimming dan scaning, 6) meningkatkan

fleksibilitas dalam membaca, 7) mengembangkan keterampilan membaca kritis

(2010).

Kesimpulan dari peneliti adalah, bahwa peningkatan keterampilan

membaca siswa kelas dua adalah suatu perbuatan untuk meningkatkan kecakapan

anak-anak kelas dua yang memasuki periode operasional konkrit dan masuk

(41)

commit to user

(mendapatkan informasi) yang melibatkan sejumlah aktifitas fisik dan mental

secara serentak (melafalkan tulisan, aktivitas visual, berfikir psikolinguistik dan

metakognitif), dalam melihat rangkaian simbol-simbol bahasa atau tulisan demi

mencapai tujuan membaca tertentu.

2. Penerapan Metode Silaba a. Pengertian Metode

Pusat Bahasa, Depdiknas memberi batasan tentang metode yaitu

merupakan cara yang teratur berdasarkan pemikiran yang matang untuk

mencapai maksud, metode juga dapat dikatakan sebagai cara kerja yang

teratur dan bersistem untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan dengan mudah

guna mencapai maksud yang ditentukan (2008). Alya juga mendefinisikan

metode adalah cara teratur yang dapat digunakan untuk melaksanakan suatu

pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang

bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai

tujuan yang ditentukan (2007).

Di sisi lain, metode diartikan sebagai rencana keseluruhan penyajian

bahan pembelajaran bahasa secara rapi dan tertib yang tidak ada

bagian-bagiannya yang berkontradiksi, dan kesemuanya itu didasarkan pendekatan

terpilih (Tarigan, J. dkk, 1997). Sumantri dan Permana menjelaskan bahwa

metode merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi

pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran

proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan (2001).

Berdasarkan defin isi para ah li diatas, disimpulkan bahwa metode

adalah cara-cara teratur yang ditempuh guru berdasarkan pemikiran yang

matang untuk memudahkan menciptakan situasi pembelajaran yang

mendukung guna mencapai kelancaran proses belajar mengajar dan tercapainya

prestasi yang memuaskan.

b. Pengertian Metode Silaba

Chaer menuliskan batasan bahwa silaba adalah satuan ritmis terkecil

dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran yang mempunyai puncak

Gambar

Gambar
Tabel
Tabel 2.1.  Cakupan Materi Membaca Kelas 2 Semester II
Gambar 3.1   Denah SD N 2 Pejagatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan Metode Struktural Analisis Sintesis (Sas) Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa Kelas Iii Sekolah Dasar.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan ketrampilan membaca siswa kelas 2 dengan penerapan media gambar dan huruf

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis huruf tegak bersambung melalui penerapan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) pada siswa kelas II SD

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis huruf tegak bersambung melalui penerapan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) pada siswa kelas II SD

Dengan penerapan metode Struktural Analitik Sintetik, siswa kelas I SD I Petir, Kabupaten Bantul, keterampilan membaca permulaannya mengalami peningkatan, siswa dapat

Judul skripsi : Penerapan Metode Edutainment berbasis Storytelling untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Dongeng (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas II SD

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa melalui penerapan media Puzzle dalam pembelajaran. Media yang secara khusus dirancang

menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul, PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA AKSARA JAWA (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa