• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kesenjangan Antar Daerah di Wil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Kesenjangan Antar Daerah di Wil"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir mata kuliah Ekonomi Wilayah dengan judul “Analisis Pengaruh Kesenjangan Antar Daerah di Wilayah SUBOSUKAWONOSRATEN terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Model Core-Periphery”. Proses penyusunan makalah ini dikerjakan secara bersama-sama dalam satu tim atau kelompok dengan memahami materi yang telah disampaikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan optimal. Pada kesempatan ini penulis sekaligus penyusun makalah menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas makalah ini yaitu :

1. Dr.Ir.Eko Budi Santoso,Lic.Rer.Reg dan Velly Kukinul S, ST.MT sebagai dosen mata kuliah Ekonomi Wilayah yang telah membimbing kami dan memberikan masuk baik ilmu maupun saran yang sangat bermanfaat bagi kelompok kami.

2. Rekan-rekan Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP-ITS yang memberikan dukungan dan motivasi demi kelancaran penyusunan makalah ini.

Kami berharap, makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca tentang Ekonomi Wilayah. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan sebagai penulis dan penyusun. Akhir kata, kami ucapkan terimakasih.

Surabaya, 01 Juni 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I... 1

PENDAHULUAN... 1

1.1 LATAR BELAKANG... 1

1.2 TUJUAN... 2

1.3 METODE PENDEKATAN...2

1.4 STEMATIKA PENULISAN...2

BAB II... 3

TINJAUAN PUSTAKA...3

2.1 PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH...3

2.2 TEORI BASIS EKONOMI...4

2.3 KONSEP ANALISIS LOCATION QUOTIENT (LQ)...4

2.4 KONSEP ANALISIS SHIFT SHARE...6

3.5 KERJASAMA ANTAR DAERAH...6

BAB III... 10

STUDI KASUS... 10

3.1 GAMBARAN UMUM KAWASAN...10

3.2 KAWASAN STRATEGIS SOLO RAYA...10

3.3 PERSOALAN EKONOMI WILAYAH...12

BAB IV... 13

ANALISA DAN PEMBAHASAN...13

4.1 ANALISA PERSOALAN EKONOMI WILAYAH...13

4.1.1 ANALISA LOCATION QUOTIENT (LQ)...13

4.1.2 ANALISA SHIFT-SHARE...16

4.1.3 ANALISA SWOT...18

Tabel. Matriks EFAS-IFAS...21

4.2 KONSEP PENANGANAN PERSOALAN EKONOMI WILAYAH...22

BAB V... 23

PENUTUP... 23

5.1 LESSON LEARNED...23

(4)
(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perkembangan ekonomi suatu daerah tidak terlepas dari daerah di sekitarnya, wilayah sebagai subsistem spasial dalam lingkup yang lebih luas. Sebuah kabupaten atau kota yang bersangkutan, juga perlu memperhatikan paling tidak bagaimana perkembangan daerah di sekitarnya (interregional planning) (Sumarmi dan Amirudin.2014). Perkembangan ekonomi (development) berawal pada suatu lingkungan sosial, politik dan teknologi yang menunjang kreativitas para wiraswasta. Istilah pertumbuhan, perkembangan dan pembangunan sering digunakan secara bergantian, tetapi mempunyai maksud yang sama, terutama dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai masalah ekonomi.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi regional adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Pembangunan ekonomi merupakan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat dan meningkatkan hubungan regional antar daerah. Pertumbuhan ekonomi regional yang di tunjukkan oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat dilihat secara sektoral maupun dari sisi lain, yaitu dengan memperhatikan masing-masing pertumbuhan komponen penggunaannya. Indikator-indikator yang biasanya digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi regional antara lain: (1) pertumbuhan output (2) pertumbuhan output perpekerja (3) pertumbuhan output perkapita. Pada umumnya, patokan-patokan tersebut memiliki keterkaitan yang erat. (Harvey Armstrong & Jim Tayler, 1993).

Salah satu permasalahan ekonomi di suatu wilayah adalah adanya kesenjangan atau ketimpangan antar daerah, dimana terdapat daerah yang maju pesat dan berkembang juga terdapat daerah yang tertinggal. Ketimpangan antar daearah adalah sebuah realita yang ada di tengah-tengah masyarakat dunia ini, dan selalu menjadi isu penting untuk ditinjau. Di negara berkembang masalah ketimpangan telah menjadi pembahasan utama dalam menetapkan kebijakan sejak tahun tujuh puluhan yang lalu. Perhatian ini timbul karena adanya kecenderungan bahwa kebijakan pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi telah menimbulkan semakin tingginya tingkat kesenjangan yang terjadi. Pembangunan ekonomi masyarakat pada hakekatnya merupakan usaha yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya. Ketimpangan pembangunan pada prinsipnya merupakan ketimpangan ekonomi yang mengandung makna kemiskinan dan kesenjangan. Agar ketimpangan dan perkembangan suatu daerah dengan daerah lain tidak menciptakan jurang yang semakin besar, maka implijakasi kebijaksanan terhadap daur perkembangan dari pembangunan haruslah dirumuskan secara cepat (Suryana, 2000).

(6)

Menurut Michael M. Humavindu dan Jesper Stage (2013), sektor kunci memiliki peran penting dalam strategi pembangunan. Kondisi dan potensi ekonomi daerah memiliki peran yang penting dalam perekonomian Jawa Tengah, yang dapat dikembangkan untuk mencapai sasaran pembangunan. Sehingga diperlukan perencanaan strategis guna mensinergikan antara kebijakan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.

Berdasarkan uraian permasalahan yang terjadi diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kesenjangan Antar Daerah di Wilayah Solo Raya sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Regional dengan Metode LQ-Shift Share”.

1.2 TUJUAN

Tujuan dari penyusunan makalah yang berjudul “Analisis Kesenjangan Antar Daerah di Wilayah Solo Raya sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Regional dengan Metode LQ-Shift Share” adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh kesenjangan antar daerah di wilayah Solo Raya (Subosukawonosraten) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesenjangan antar daerah di wilayah Solo Raya.

3. Untuk menentukan konsep pengembangan yang tepat sebagai upaya mengatasi kesenjangan wilayah di Solo Raya.

1.3 METODE PENDEKATAN

Metode pendekatan yang digunakan dalam makalah ini adalah Indeks Williamson dan analisis LQ-Shift Share. Metode ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya faktor-faktor yang mempengaruhi kesenjangan anatar daerah yang terjadi di Solo Raya (Solo, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten).

1.4 STEMATIKA PENULISAN

BAB 1 Pendahuluan

Pada bab ini berisi latar belakang, tujuan penulisan, metode pendekatan, dan sistematika penulisan makalah.

(7)

Berisikan tinjauan teori dan materi terkait teori kesenjangan wilayah, serta kebijakan yang terdiri dari RTRW Jawa Tengah, RPJM Jawa Tengah, dan .

BAB III Gambaran Umum

Merupakan bab yang berisi gambaran umum wilayah studi yaitu Solo Raya (Subosukawonosraten) yang merupakan wilayah eks Kota Solo.

BAB IV Analisa dan Konsep Penanganan

Berisikan analisis perhitungan Indeks Williamson dan analisis LQ-Shift Share dan konsep penangan yang tepat untuk mengatasi masalah kesenjangan (disparitas) di wilayah Solo Raya.

BAB V Penutup

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH

Boediono (1999) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah roses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Lebih jauh, pengertian ini lebih menekankan kepada prosesnya, karena mengandung unsur perubahan dan indikator pertubuhan ekonomi dilihat dalam kurun waktu yang cukup lama. Sedangkan Samuelson (1995) mendefinisikan bahwa pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya perluasan atau peningkatan dari GDP potensial/output dari suatu negara. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi wilayah sebagai pertimbangan dalam hal perencanaan adalah sebagai berikut:

1. Sumber Daya Manusia (SDM)

Faktor sumberdaya manusia menjadi faktor utama dalam proses pertumbuhan ekonomi. Cepat lambatnya proses pembangunan bergantung kepada kompetensi dari sumberdaya manusia selaku subjek pembangunan. Hampir keseluruhan faktor seperti modal, sumberdaya alam, teknologi dan lainnya bisa didapatkan dari negara lain, akan tetapi tana manajemen ketrampilan yang baik, tanpa adanya keahlian dalam mengelola maka semua faktor yang lain akan sia-sia. Oleh karena itu, faktor sumberdaya manusia menjadi faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

2. Sumber Daya Alam (SDA)

Sumber daya alam menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar negara berkembang bergantung pada kekayaan sumberdaya alamnya dalam melaksanakan proses pembangunan. Namun demikian, faktor penentu keberhasilan dari pembangunan ekonomi tidak hanya sumber daya alamnya. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kemampuan dari sumberdaya manusia dalam mengelola sumberdaya alam. Dalam hal ini sumberdaya alam yang dimaksud adalah kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, hasil hutan, kekayaan laut, dan lain sebagainya.

3. Pembentukan Modal

Untuk pembentukan modal, diperlukan pengorbanan berupa pengurangan konsumsi, yang mungkin berlangsung selama beberapa puluh tahun. Pembentukan modal modal dan investasi ini sebenarnya sangat dibutuhklan untuk kemajuan cepat di bidang ekonomi. Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.

4. Perubahan teknologi dan inovasi

(9)

dengan memacu semangat kewiraswastaan, yang mana juga akan berdampak kepada penambahan lapangan kerja baru.

5. Faktor budaya

Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan. Faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan, dan juga dapat sebagai penghambat pembangunan. Faktor budaya dapat menjadi pendorong pembangunan misalnya adalah sikap kerja keras, jujur, ulet, budaya kerjasama dan lain sebagainya. Faktor budaya juga dapat menjadi penghambat, misalnya adalah sikap anarkis, boros, egois dan sebagainya.

2.2 TEORI BASIS EKONOMI

Teori basis ekonomi dikemukakan oleh Harry W. Richardson (1973) yang menyatakan bahwa faktor penentu utama dari pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Rustiadi, 2009).

Teori basis ekonomi membagi perekonomian menjadi 2 sektor yakni: 1. Sektor-sektor basis

Sektor-sektor basis adalah sektor-sektor yang mengekspor barang-barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

2. Sektor-sektor non basis

Sektor-sektor non basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barang-barang dan jasa sebagai pemenuhan kebutuhan sendiri, dalam artian hanya didalam batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

Teori basis ekonomi atau economic base inilah yang mendasari pemikiran teknik dari analisa Location Quotient (LQ), yakni teknik yang membentu dalam menemukan kapasitas ekspor perekonomian daerah dan derajat ke-swasembada-an suatu sektor.

2.3 KONSEP ANALISIS LOCATION QUOTIENT (LQ)

Location Quotient (LQ) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengukur spesialisasi relatif dari suatu wilayah/daerah didalam industri-industri tertentu. Rustiadi (2009) menjelaskan bahwa Metode LQ merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah, LQ digunakan untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan basis dan bukan basis.

Metode ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas ekspor yang dimiliki oleh suatu daerah. Tarigan (2007) menjelaskan bahwa metode ini dapat diketahui spesialisasi yang dimiliki oleh daerah dibandingkan dengan daerah yang tingkatannya lebih tinggi atu sektor lain yanng memiliki kategori yang sama. Metode Location Quotient dirumuskan sebagai berikut:

LQ=

qi/

qr

Qi/

Qn

Keterangan:

(10)

Qi = Output sektor i wilayah referensi

qi = output sektor i wilayah studi

Qn = output total wilayah referensi qr = output total wilayah studi

Metode dalam perhitungan LQ sendiri terbagi menjadi 2, yakni SLQ dan DLQ. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut terkait SLQ dan DLQ.

1. SLQ merupakan metode yang paling sederhana dari LQ. Static Location Quotient (SLQ) adalah suatu indeks yang mengukur apakah suatu sektor merupakan sektor basis atau tidak bagi suatu daerah. Kriteria ini bersifat statis yang artinya hanya memberikan gambaran pada satu titik waktu tertentu saja. Berikut penggunaan formulanya.

SLQ

=

Vik

/Vk

Vip/Vp

Keterangan:

Vik = Nilai output (PDRB) sektor i daerah studi k (kabupaten/kota)

Vk = PDRB total semua sektor di daerah studi k

Vip = Nilai output (PDRB) sektor i daerah referensi p (propinsi) Vp = PDRB total semua sektor di daerah referensi p

Hasil dari perhitungan SLQ akan diketahui peran suatu sektor dalam wilayah tersebut. Indikatornya sebagai berikut.

SLQ > 1 Peran sektor i di daerah k lebih menonjol daripada peran sektor k di daerah p. Sehingga, sektor i merupakan sektor basis di daerah k

SLQ = 1 Peran sektor i di daerah k dan daerah p terspesialisasi baik. Sehingga, sektor i belum dapat dikatakan sebagai sektor basis, bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk menjadi sektor basis

SLQ < 1 Peran sektor i di daerah k kurang menonjol dari pada peran sektor k di daerah p. Sehingga, sektor i merupakan sektor non basis

(11)

ekonomi wilayah dalam kurun waktu tertentu. Semakin lama rentang waktu yang digunakan maka semakin baik dapat digambarkan perubahan laju pertumbuhannya. Namun dalam DLQ, laju pertumbuhan dianggap tumbuh secara linier. Untuk mencari laju pertumbuhan digunakan rumus :

DLQ=

(

1

+

gij)/(

1

+

gj

)

(

1

+Gi)/(

1

+

G)

DLQij = Indeks potensi sektor i di regional j

gij = Laju pertumbuhan sektor i di regional j

gj =Rata-rata laju pertumbuhan sektor di regional j

Gi = Laju pertumbuhan sektor i di provinsi

G = Rata-rata laju pertumbuhan sektor di provinsi t = Selisih tahun akhir dan tahun awal

Hasil dari perhitungan DLQ akan diketahui laju pertumbuhan suatu sektor dalam wilayah tersebut tergolong meningkat atau menurun. Indikatornya sebagai berikut.

DLQ > 1 Potensi perkembangan sektor i di suatu regional lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di provinsi.

DLQ = 1 Sektor i mempunyai potensi perkembangan sama cepat dengan sektor yang sama di provinsi.

DLQ < 1 Potensi perkembangan sektor i di suatu regional lebih rendah dibandingkan sektor yang sama di provinsi.

3. Analisis gabungan adalah analisis LQ yang memadukan antara metode SLQ dengan DLQ. Berikut adalah tabel yang dapat digunakan untuk menjelaskan terkait interpretasi hasil analisis LQ gabungan yang meliputi SLQ dan DLQ.

- SLQ>1 SLQ<1

DLQ>1 Sektor Unggulan Sektor Andalan

DLQ<1 Sektor Prospektif Sektor Tertinggal

2.4 KONSEP ANALISIS SHIFT SHARE

(12)

(Rustiadi, 2009). Lebih lanjut, Tarigan (2007) menjelaskan bahwa analisis shift share adalah salah sau teknik kuantitatif yang biasa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi.

Pada prinsipnya analisis Shift Share lebih mendalami perbandingan antara perbedaan laju ertumbuhan berbagai sektor (industri) dalam suatu kewilayahan tertentu, dengan laju pertumbuhan dari berbagai sektor yang wilayahnya (lingkupnya) lebih luas. Dalam analisa shift share, berikut adalah indikator-indikatornya yang terdiri atas:

1. Komponen Share Nasional (N)/KPN

KPN adalah banyaknya pertambahan lapangan kerja dipengaruhi oleh pertumbuhan nasional. Bagaimana pengaruh pertumbuhan nasional terhadap perekonomian daerah. Dapat digunakan sebagai kriteria untuk daerah mengukur apakah daerah tersebut tumbuh lebih cepat/lambat dari pertumbuhan nasional. 2. Komponen Shift Proposional (P)/KPP

KPP menunjukkan pertumbuhan relative kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di daerah referensi. Komponen ini disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix), dapat membantu untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada industri yang tumbuh lebih ceat daripada daerah referensi. KPPW : Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah

3.5KERJASAMA ANTAR DAERAH

Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang efektif telah dilaksanakan, memunculkan peluang bagi Pemerintah Daerah unutk memberikan alternatif pemecahan-pemecahan inovatif dalam menghadapi tantangan-tantangan. Untuk mengoptimalkan potensinya, kerjasama antar daerah menjadi salah satu alternatif inovasi/konsep yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas, sinergi dan saling menguntungkan terutama menyangkut keentingan lintas daerah. Kebijakan pemerintah mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dengan berbagai regulasi dan peraturan menjadi dasar pedoman dan mendorong terjadinya kerjasama daerah.

(13)

sinergi, saling menguntungkan, merupakan kesepakatan bersama, beritikad baik, mengutamakan kepentingan nasional dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, persamaan kedudukan, transparansi, keadilan, dan kepastian hukum yang jelas. Adapun objek yang menjadi kerjasama daerah adalah seluruh urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenngan daerah otonom dan daat berupa penyediaan pelayanan publik.

Bentuk-bentuk atau model kerjasama antar daerah berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah digolongkan menjadi 9 kategori yakni:

1. Kerjasama Pelayanan Bersama adalah kerja sama antar daerah untuk memberikan pelayanan bersama kepada masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang merupakan jurisdiksi dari daerah yang bekerjasama, untuk membangun fasilitas dan memberikan pelayanan bersama.

4. Kerja Sama Pelayanan dengan pembayaran Retribusi adalah kerja sama antar daerah untuk memberikan pelayanan publik tertentu dengan membayar retribusi atas jasa pelayanan.

5. Kerja Sama Perencanaan dan Pengurusan adalah kerja sama antar daerah untuk mengembangkan dan/atau meningkatkan layanan publik tertentu, dengan mana mereka menyepakati rencana dan programnya, tetapi melaksanakan sendiri-sendiri rencana dan program yang berkait dengan jurisdiksi masing-masing; Kerja sama tersebut membagi kepemilikan dan tanggungjawab atas program dan kontrol atas implementasinya.

6. Kerja Sama Pembelian Penyediaan Pelayanan adalah kerja sama antar daerah untuk menyediakan layanan kepada daerah lain dengan pembayaran sesuai dengan perjanjian.

7. Kerja Sama Pertukaran Layanan adalah kerja sama antar daerah melalui suatu mekanisme pertukaran layanan (imbal layan).

8. Kerja Sama Pemanfaatan Peralatan adalah kerja sama antar daerah untuk pengadaan/penyediaan peralatan yang bisa digunakan bersama.

9. Kerja Sama Kebijakan dan Pengaturan adalah kerja sama antar daerah untuk menselaraskan kebijakan dan pengaturan terkait dengan suatu urusan atau layanan umum tertentu.

Dalam kaitannya dengan kerjasama antar daerah, selama ini muncul isu-isu strategis yang menjadi salah satu urgensi dalam pelaksanaan kerjasama antar daerah adalah sebagai berikut:

(14)

Kerjasama antar daerah diharapkan menjadi salah satu metode inovatif dalam meningkatkan kualitas dan cakupan dari pelayanan publik. Efektivitas dan efisiensi dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan sebagainya menjadi isu-isu yang penting terutama untuk daerah-daerah tertinggal. Peningkatan pelayanan publik termasuk juga pembangunan infrastruktur yang mana mencakup jaringan jalan, pembangkit listrik dan sebagainya. 2. Kawasan Perbatasan

Kerjasama dalam hal keamanan di kawasan perbatasan juga menjadi salah satu isu strategis. Selain dalam hal keamanan, kerjasama di kawasan-kawasan perbatasan juga difokuskan pada pengembangan wilayah, karena daerah-daerah di kawasan perbatasan ini sebagian besar adalah daerah tertinggal.

3. Tata Ruang

Sedangkan untuk isu penataan ruang, kerjasama antar daerah diberlakukan apabila dalam kaitan dimana terjadi keterkaitan tata ruang yang dapat mempengaruhi lebih dari satu daerah, misalnya adalah Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan lindung, dsb. 4. Penanggulangan Bencana dan Penanganan Potensi Konflik

Usaha mitigasi bencana dan tindakan pasca bencana mendasari terjadinya kerjasama antar daerah. Bercermin dari berbagai pengalaman terkait kebencanaan yang menimpa beberapa wilayah seperti tsunami dsb membutuhkan kerjasama yang baik antar daerah-daerah yang berdekatan untuk saling membantu.

5. Kemiskinan dan Pengurangan Disparitas Wilayah

Keterbatasan kemampuan, kapasitas dan sumber daya yang berbeda-beda antar daerah menimbulkan adanya disparitas wilayah dan kemiskinan (kesenjangan sosial). Melalui kerjasama antar daerah, diharapkan terjadi peningkatan kapasitas daerah dalam penggunaan sumber daya secara lebih optimal dan pengembangan ekonomi lokal, dalam rangka menekan angka kemiskinan dan mengurangi disparitas wilayah. 6. Peningkatan Peran Provinsi

Berdasarkan pada Undang-Undang terkait Pemerintahan Daerah mengisyaratkan perlunya peningkatan peran provinsi termasuk dalam memfasilitasi penyelesaian permasalahan-permasalahan antar daerah. Peningkatan peran provinsi dalam hal ini sebagai fasilitator dan katalisator terjadinya kerjasama antar daerah.

7. Pemekaran Daerah

(15)

BAB III

STUDI KASUS

3.1 GAMBARAN UMUM KAWASAN

SUBOSUKAWONOSRATEN dahulunya merupakan Eks Karesidenan Surakarta yang terdiri dari 6 Kabupaten dan 1 Kota. Terdiri dari Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Klaten. Wilayah strategis yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini terpusat di Kota Solo sebagai kota intinya. Wilayah ini memiliki luas sekitar 5.722 Km2. Dengan rata-rata suhu 280C, dengan berikilim tropis yang relative nyaman sebagai tempat tinggal penduduk. Topografi wilayah strategis tersebut sangat beragam, mulai dari 100-500 mdpl hingga ketinggian sekitar 3000 mdpl. Secara geografis wilayah Subosukawonosraten memiliki wilayah yang berdekatan, dengan batas wilayah sebagai berikut:

a. Batas Utara : Kabupaten Grobokan

b. Batas Selatan : Laut Selatan, Kabupaten Gunung Kidul

c. Batas Timur : Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Magetan, Ngawi d. Batas Barat : Kabupaten Semarang, Magelang, Sleman, Yogyakarta

Gambar 1. Peta administrasi Subosukawonosraten

Berdasarkan buku BKAD Subosukawonosraten, menyebutkan bahwa wilayah Subosukawonosraten berada di lokasi yang strategis, di tengah Pulau Jawa dan menjadi bagian dari wilayah pengembangan Joglosemar (Yogyakarta, Solo, Semarang). Hal tersebut menjadikan wilayah ini memiliki posisi yang strategis di berbagai bidang.

3.2 KAWASAN STRATEGIS SOLO RAYA

(16)

Melihat dari hal tersebut tentunya perlu meninjau dari Produk Domestik Bruto (PDRB) di Kota Solo serta PRDB di kawasan Provinsi Jawa Tengah khususnya Kawasan Subosukawonosraten.

Berdasarkan data BPS Kota Solo, PDRB Kota solo terus mengalami peningkatan. PDRB Kota Solo menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku (Juta Rupiah) dari tahun 2011-2014 telah mengalami peningkatan rata-rata sebesar 10,2%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 1. PDRB Kota solo menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku (Juta Rupiah) tahun 2011-2014

Sumber, BPS Kota Surakarta, 2015

(17)

Sumber, BPS Kota Surakarta, 2015

Tabel 3. PDRB Provinsi Jawa Tengah menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku (Juta Rupiah) tahun 2011-2014

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2015

(18)

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2015

3.3 PERSOALAN EKONOMI WILAYAH

Berdasarkan analisis gambaran umum kondisi Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, terdapat berbagai aspek pembangunan yang telah mengalami kemajuan atau keberhasilan, namun di sisi lain terdapat pula berbagai permasalahan dan tantangan yang masih dihadapi dan perlu ditangani melalui serangkaian kebijakan dan program secara terencana, sinergis, dan berkelanjutan. Permasalahan pembangunan daerah yang ada di Jawa Tengah adalah sebagai berikut :

1. Kemiskinan

Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah meskipun dari tahun ke tahun mengalami penurunan, namun demikian jumlahnya masih banyak yaitu pada Tahun 2008 sebanyak 6,189 juta (19,23%) turun menjadi 4,863 juta (14,98%) pada Tahun 2012. Pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin di perdesaan sebanyak 3,633 juta orang (21,96%) menurun menjadi 2,916 juta orang (16,55%), dan di perkotaan sebanyak 2,556 juta orang (16,34%) menurun menjadi 1,946 juta orang (13,11%). Sedangkan garis kemiskinan meningkat dari Rp.168.168,- per kapita/bulan menjadi Rp.233.769,- per kapita/bulan. Tingginya jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah dikarenakan masih banyaknya penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Permasalahan kemiskinan tidak terlepas dari tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Dari sisi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan, dapat dijelaskan kondisi kemiskinan di Jawa Tengah kurun waktu Tahun 2008 - 2012 menunjukkan tren yang menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 4,25 menjadi 2,39 dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 1,24 menjadi 0,57.

(19)

miskin di atas rata-rata angka Jawa Tengah dan nasional, yaitu Wonosobo, Kebumen, Rembang, Purbalingga, Brebes, Banyumas, Pemalang, Banjarnegara, Demak, Sragen, Klaten, Purworejo, Grobogan, Cilacap dan Blora. Selanjutnya berdasarkan data PPLS Tahun 2011, terdapat rumah tangga (ruta) yang dikategorikan sangat miskin dan miskin sebanyak 1.195.368 ruta, hampir miskin 1.155.102 ruta dan rentan miskin lainnya 1.893.736 ruta. Melalui pemetaan interval persentase rumah tangga miskin (sangat miskin dan miskin) dibandingkan total rumah tangga yang dilakukan Sekretariat TKPK Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 50 kecamatan (15 kabupaten) termasuk kategori kecamatan dengan persentase penduduk miskin tinggi, 234 kecamatan (27 kabupaten) kategori sedang dan 28 kecamatan (30 kabupaten/kota) kategori rendah.

2. Pengangguran

Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah cenderung fluktuatif, dari 16,69 juta orang di Tahun 2008 menjadi 17,09 juta orang di Tahun 2012. Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja mengalami peningkatan dari 15,46 juta orang pada Tahun 2008 menjadi 16,13 juta orang pada Tahun 2012. Pada kurun waktu yang sama, jumlah pengangguran di Jawa Tengah mengalami penurunan dari 1,22 juta orang pada Tahun 2008 menjadi 0,96 juta orang pada Tahun 2012. Berkurangnya jumlah pengangguran berpengaruh terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), berturut-turut dari Tahun 2008 sampai 2012 yaitu 7,35%, 7,33%, 6,21%, 5,93%, dan 5,63%. Secara umum banyaknya penganggur dikarenakan terbatasnya lapangan kerja, jumlah tenaga kerja tidak sebanding dengan kesempatan kerja, dan pendidikan tenaga kerja belum sepenuhnya sesuai dengan pasar kerja.

3. Kesejahteraan Pekerja

(20)

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 ANALISA PERSOALAN EKONOMI WILAYAH

4.1.1 ANALISA KESENJANGAN WILAYAH (INDEKS WILLIAMSON)

Kesenjangan potensi wilayah dapat diukur dengan menggunakan Indeks Williamson. Tujuannya adalah sebagai bahan untuk melihat disparitas antarwilayah ataupun sektor ekonomi. (Williamson, 1975) mengembangkan indeks kesenjangan wilayah yang diformulasikan sebagai berikut :

Keterangan :

IW : Indeks kesenjangan Williamson

Yi : PDRB per kapita wilayah ke-i

Y : Rata–rata PDRB per kapita nasional, kawasan, pulau, provinsi, wilayah

Pi : fi/n, dimana Jumlah penduduk kabupaten/kota ke- i dan n adalah total penduduk nasional, provinsi, pulau, atau kawasan.

Nilai IDW terletak antara 0 sampai dengan 1, apabila nilai IDW mendekati 0 (nol), maka suatu wilayah dapat dikatakan merata dan apabila nilai IDW mendekati 1 (satu) berarti suatu wilayah ada ketimpangan.

(21)

Sumber : Analisis Penulis, 2017

Tahun Surakart a

Boyolal i

Sukoharj o

Wonogir i

Karanganya

r Sragen Klaten

2015 0.5744 0.3432 0.0478 0.1494 0.3706 0.1670 0.3544

2014 0.5935 0.3217 0.0114 0.1202 0.3382 0.1409 0.3200

2013 0.6278 0.2775 0.0363 0.0673 0.2960 0.1016 0.2756

2012 0.1814 0.0143 0.0654 0.039 0.0933 0.0208 0.0021

(22)

4.1.2 ANALISA LOCATION QUOTIENT (LQ)

1. Hasil Perhitungan dengan metode LQ Kota Solo terhadap Provinsi Jawa Tengah

Tabel. Hasil Perhitungan dengan metode SLQ

Kategor i

Uraian (Lapangan Usaha) 201 1

201 2

201 3

201 4

Keteranga n

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,03 0,03 0,03 0,04 Non Basis

B Pertambangan & Penggalian 0,00 0,00 0,00 0,00 Non Basis

C Industri Pengolahan 0,23 0,24 0,24 0,24 Non Basis

D Pengadaan Listrik dan Gas 2,15 2,19 2,18 2,20 Basis

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 2,60 2,55 2,50 2,52 Basis

F Konstruksi 2,72 2,67 2,66 2,65 Basis

G Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

1,64 1,64 1,69 1,70 Basis

H Transportasi dan Pergudangan 0,88 0,86 0,86 0,87 Non Basis

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,67 1,81 1,88 1,88 Basis

J Informasi dan Komunikasi 3,38 3,47 3,55 3,51 Basis

K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,34 1,31 1,30 1,32 Basis

L Real Estate 2,50 2,52 2,47 2,49 Basis

M,N Jasa Perusahaan 2,24 2,25 2,21 2,24 Basis

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2,04 2,03 2,06 2,07 Basis

P Jasa Pendidikan 1,39 1,30 1,31 1,30 Basis

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,32 1,32 1,31 1,33 Basis

R,S,T,U Jasa lainnya 0,67 0,68 0,66 0,65 Non Basis

(23)

eceran; Reparasi mobil dan sepeda motor, (5) Penyediaan Akomodasi dan makan minum, (6) informasi dan komunikasi, (7) jasa keuangan dan asuransi, (8) Real estate, (9) jasa perusahaan (10) administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, (11) jasa pendidikan, (12) jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sedangkan sektor-sektor yang termasuk dalam sektor non basis meliuti; (1) pertanian, kehutanan, dan perikanan, (2) pertambangan dan penggalian, (3) industri pengolahan, (4) transportasi dan pergudangan, (5) jasa lainnya.

Tabel. Hasil Perhitungan dengan metode DLQ

Kate

gori Uraian (Lapangan Usaha) 2012 2013 2014 Rerata Keterangan

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,82 1,49 1,73 1,35 Potensi perkembangan lebih

cepat

B Pertambangan & Penggalian

-0,30 0,14 0,91 0,25

Potensi perkembangan lebih cepat

C Industri Pengolahan 1,16 0,78 0,82 0,92 Potensi perkembangan lebih

cepat

D Pengadaan Listrik dan Gas 1,48 0,67 0,94 1,03 Potensi perkembangan lebih

cepat

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

-0,77 0,05

-0,65 -0,45 Tidak berkembangan cepat

F Konstruksi 0,93 0,90 0,89 0,90 Potensi Perkembangan lebih

cepat

G Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda

Motor 1,11 1,05 0,69 0,95

Potensi perkembangan lebih cepat

H Transportasi dan Pergudangan 0,78 0,80 0,81 0,80 Potensi perkembangan lebih

cepat

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,37 0,83 0,54 0,91 Potensi perkembangan lebih

cepat

J Informasi dan Komunikasi 1,14 0,99 0,50 0,88 Potensi perkembangan lebih

cepat

K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,00 1,02 1,16 1,06 Potensi perkembangan lebih

cepat

L Real Estate 1,17 0,51 0,79 0,83 Potensi perkembangan lebih

(24)

M,N Jasa Perusahaan 1,26 0,89 1,12 1,09 Potensi perkembangan lebih cepat

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 1,12 1,21 0,92 1,08 Potensi perkembangan lebih cepat

P Jasa Pendidikan 1,00 1,39 1,12 1,17 Potensi perkembangan lebih

cepat

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,06 0,87 1,00 0,98 Potensi perkembangan lebih

cepat R,S,T

,U Jasa lainnya 5,92 0,55 0,58 2,35

Potensi perkembangan lebih cepat

Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan metode DLQ Kota Solo, digolongkan dalam 2 kategori yakni sektor yang berpotensi berkembang dengan cepat, dan sektor yang tidak berkembang. Adapun sektor-sektor yang termasuk dalam kategori berkembang cepat terdapat 16 sektor. Sektor-sektor yang termasuk didalamnya adalah (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Pertambangan & Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Pengadaan Listrik dan Gas, (5) Konstruksi, (6) Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, (7) Transportasi dan Pergudangan, (8) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, (9) Informasi dan Komunikasi, (10) Jasa Keuangan dan Asuransi, (11) Real Estate, (12) Jasa Perusahaan, (13) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, (14) Jasa Pendidikan, (15) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, (16) Jasa lainnya. Sedangkan yang termasuk didalam sektor yang tidak berkembang hanyalah sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode gabungan antara SLQ dan DLQ, berikut adalah kategori sektor yang termasuk kedalam sektor unggulan, sektor pprospektif, sektor andalah, dan sektor tertinggal.

Kategor i

Uraian (Lapangan Usaha) SL Q

DLQ Keterangan

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,03 1,35 sektor andalan

B Pertambangan & Penggalian 0,00 0,25 sektor tertinggal

C Industri Pengolahan 0,24 0,92 sektor tertinggal

D Pengadaan Listrik dan Gas 2,18 1,03 sektor unggulan

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 2,54 -0,45

sektor prospektif

(25)

prospektif G Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda

Motor

1,67 0,95 sektor prospektif

H Transportasi dan Pergudangan 0,87 0,80 sektor tertinggal

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,81 0,91 sektor

prospektif

J Informasi dan Komunikasi 3,48 0,88 sektor

prospektif

K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,32 1,06 sektor unggulan

L Real Estate 2,50 0,83 sektor

prospektif

M,N Jasa Perusahaan 2,24 1,09 sektor unggulan

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2,05 1,08 sektor unggulan

P Jasa Pendidikan 1,32 1,17 sektor unggulan

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,32 0,98 sektor

prospektif

R,S,T,U Jasa lainnya 0,66 2,35 sektor andalan

4.1.3 ANALISA SHIFT-SHARE

Kate

gori Uraian (Lapangan Usaha) KPN KPPW KPP PE PB KPPW (+/-) KPP(+/-)

Keter

Penggalian 40,60 6,94 22,41 69,95 29,35

Mempunyai Daya Saing

Spesialisasi dalam sektor yang

secara nasional tumbuh cepat Progresif

C Industri Pengolahan 39,14 5,48 -5,22 39,40 0,26 Mempunyai

Daya Saing

(26)

21,36 Mempunyai

F Konstruksi 35,53 1,87 2,61 40,00 4,47 Mempunyai

Daya Saing

Spesialisasi dalam sektor yang

secara nasional tumbuh cepat Progresif

G

Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Pergudangan 39,66 6,00 0,54 46,21 6,55

Mempunyai

J Informasi dan Komunikasi 24,57 -9,09 -5,28 10,19

-14,37

Asuransi 35,29 1,63 1,11 38,04 2,74

Mempunyai Daya Saing

Spesialisasi dalam sektor yang

secara nasional tumbuh cepat Progresif

L Real Estate 30,29 -3,37 0,31 27,23 -3,06

Tidak

M,N Jasa Perusahaan 46,11 12,46 -0,27 58,30 12,18 Mempunyai

Daya Saing

P Jasa Pendidikan 76,17 42,51 11,93 130,61 54,44 Mempunyai

Daya Saing

Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

Progre sif

(27)

Kegiatan Sosial Daya Saing secara nasional tumbuh

mundur ur

R,S,

T,U Jasa lainnya 32,88 -0,77 4,03 36,14 3,26

Tidak Mempunyai Daya Saing

Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

(28)

Berikut adalah hasil interretasi terhadap hasil analisa Shift-Share yang telah dilakukan:

KRITERI A

KPPW (+) KPPW (-)

KPP (+) Sektor tersebut secara Nasional tumbuh cepat dan memiliki daya saing keunggulan komparatif

Sektor tersebut secara Nasional tumbuh cepat tetapi tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif KPP (-) Sektor tersebut secara Nasional

tumbuh lambat tetapi memiliki daya saing keunggulan komparatif

Sektor tersebut secara Nasional tumbuh lambat dan tidak memiliki komparatif

KRITERI A

KPPW (+) KPPW (-)

KPP (+)1. Pertambangan & Penggalian 2. Konstruksi

3. Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

4. Informasi dan Komunikasi

5. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan di Kota Solo, sektor yang memilki keunggulan dan pertumbuhan yang cepat adalah sekor (1) Pertambangan dan Penggalian, (2) Konstruksi, (3) Transportasi dan Pergudangan, (4) Jasa Keuangan dan Asuransi, dan (5) Jasa Pendidikan. Sedangkan sektor yang masuk kedalam sektor yang tumbuh secara ceat dan tidak memiliki keunggulan adalah (1) sektor Pengadaan Air, (2) Pengelolaan Sampah, (3) Limbah dan Daur Ulang, (4) Real Estate, (5) Jasa lainnya. Sektor yang berkembang lambat tetapi memiliki keunggulan komparatif adalah sektor (1) Industri Pengolahan, (2) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, (3) Jasa Perusahaan, (4) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Sedangkan sektor yang termasuk dalam pertumbuhan yang lambat dan tidak memiliki keunggulan adalah sektor (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Pengadaan Listrik dan Gas, (3) Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, (4) Informasi dan Komunikasi, dan (5) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib.

4.1.4 ANALISA SWOT

(29)

industri pengolahan tercatat 20,6%. Angkatan kerja merupakan lapangan Regional Bruto/PDRB kota. Industri yang menonjol adalah industri sandang meliputi setengah dari industri yang ada. Disusul industri pengolahan makanan 25% da kemudian industri kertas percetakan 15%. Melihat dominannya sektor perdagangan dan industri sebagai aktifitas masyarakat bawah, maka sasaran strategis pengembangan kota hendaknya dapat memperhatikan hajat semua lapisan masyarakat. Pada sisi lain, perkembangan perekonomian nasional yang ditandai dengan tidak menentunya fluktuasi nilai tukar rupiah dapat mempengaruhi perekonomian daerah. Lebih dari itu, diharapkan pada era persaingan pasar bebas (AFTA/NAFTA), harus dapat diubah ancaman yang ada menjadi peluang yang menguntungkan. Perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi sangat berpengaruh dalam perkembangan budaya. Hal ini terlihat dengan adanya perubahan perilaku dan sikap konsumtif masyarakat, serta pengaruh dari negara lain.

KEKUATAN

1. Keragaman destinasi pariwisata dan banyaknya hotel untuk akomodasi di Kota Solo di banding dengan daerah lain di sekitarnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

2. Dari sisi persentase, yaitu dalam bentuk rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Pendapatan Daerah di Kota Solo, mempunyai nilai tertinggi dibanding daerah lain di kawasan Soloraya, dan masih memungkinkan untuk berkembang di masa-masa mampu bertahan dalam menciptakan lapangan kerja sektor informal secara mandiri dan bertahan dari krisis ekonomi.

5. Adanya 5 (lima) sektor yang menjadi sektor unggulan di kota Solo sekor (1) Pertambangan dan Penggalian, (2) Konstruksi, (3) Transportasi dan Pergudangan, (4) Jasa Keuangan dan Asuransi, dan (5) Jasa Pendidikan.

6. Situasi kondisi ketertiban dan keamanan di Kota Solo relatif cukup aman dan kondusif dari gangguan dan ancaman, sehingga mampu menjadi daya tarik para investor.

KELEMAHAN

1. Pengelolaan obyek wisata di beberapa lokasi masih belum optimal, sehingga belum mampu menjadi penggerak kegiatan ekonomi kota.

2. Terbatasnya lahan di Kota Solo menjadi kendala dalam pengembangan sektor pertanian non tanaman bahan makanan, seperti untuk kegiatan peternakan dan perikanan.

3. Tidak memiliki natural resources (sumber daya alam, dalam arti komoditas), di mana 61% penggunaan lahan didominasi daerah permukiman.

4. Terdapatnya sektor yang sulit untuk dikembangkan seperti (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Pengadaan Listrik dan Gas, (3) Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, (4) Informasi dan Komunikasi, dan (5) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib.

(30)

PELUANG

1. Munculnya UU No.28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang memungkinkan Kota Solo untuk mendapatkan peluang perolehan PAD yang lebih tinggi dibanding pada masa sebelumnya, karena adanya pengalihan beberapa pos Pajak Daerah yang dulunya masuk dalam kategori Pajak Bagi Hasil dengan Pemerintah Pusat.

2. Perluasan Bandara Adisumarmo sebagai bandara internasional. Peningkatan bagi daya dukung, lalu lintas penerbangan internasional.

3. Terdapatnya lembaga keuangan (Bank dan Non Bank) seperti Bank Umum, BPR, Koperasi/BMT yang cukup banyak tersebar dan relatif merata, sehingga mampu menjadi penggerak dan tumbuhnya ekonomi masyarakat.

4. Terdapat 9 sektor perekonomian yang berpeluang untuk dikembangkan dan mendapat perhatian dari pemerintah yaitu (1) sektor Pengadaan Air, (2) Pengelolaan Sampah, (3) Limbah dan Daur Ulang, (4) Real Estate, (5) Jasa lainnya (6) Industri Pengolahan, (7) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, (8) Jasa Perusahaan, (9) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.

ANCAMAN

1. Adanya kebijakan yang memungkinkan masuknya barang-barang impor dengan kualitas dan harga yang kompetitif, sehingga bisa mengurangi daya saing produk lokal. 2. Fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar, yang sulit diprediksi

(31)

Tabel. Matriks EFAS-IFAS 2. PAD tertinggi se Solo Raya

3. Kota Sola sudah dikenal baik lokal maupun mancanegara

4. Atmosfir berwirausaha SDM kota Solo

5. Terdapat 5 sektor unggulan yaitu (1) Pertambangan dan Penggalian, (2) Konstruksi, (3) Transportasi dan

Pergudangan, (4) Jasa Keuangan dan Asuransi, dan (5) Jasa Pendidikan

6. Kondisi Kota Solo yang aman

Weakness (W)

1. Objek wisata belum dikelola dengan optimal 2. Lahan terbatas dan Sepeda Motor, (4) Informasi dan Komunikasi, dan (5) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib.

5. Jumlah penduduk miskin relatif tinggi

Opportunity (O)

1. UU No.28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

2. Perluasan Bandara Adisumarmo sebagai bandara internasional 3. Terdapatnya lembaga keuangan

yang tersebar merata

4. Terdapat 9 sektor perekonomian yang berpeluang untuk dikembangkan dan mendapat perhatian dari pemerintah

2. S1+S2+S3+S4+S5+S6+O2 (optimalisasi jalur perhubungan sebagai salah satu akses untuk mendistribusikan hasil produksi masyrakat, dan sebagai pintu gerbang untunk wisatawan) 3. S6+O4 (optimalisasi sistem investasi untuk

internal maupun eksternal kawasan)

Strategi W-O

1. S1+S2+S3+S5+O2 (optimalisasi kegiatan pariwisata di lahan yang tersedia dengan memanfaatkan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat)

Threat (T) 1. Pasar global

Strategi S-T

(32)

4.2 KONSEP PENANGANAN PERSOALAN EKONOMI WILAYAH

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya, maka konsep penanganan persoalan ekonomi yang disarankan adalah sebagai berikut:

1. Maka untuk masing-masing Kabupaten dan Kota di sekitar kawasan Solo Raya seharusnya bisa mengambil kebijakan untuk lebih memperkecil tingkat Disparitas Perekonomiannya dengan memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki. Khususnya untuk Kota Solo yang memiliki tingkat Disparitas yang tinggi dibanding dengan Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri bisa mengambil langkah kebijakan kerjasama yang saling menguntungkan dengan Kabupaten tersebut, supaya bisa bersama-sama memperkecil angka disparitas. Misalnya :

 Meningkatkan akses perekonomian yang memadai.

 Membentuk kerjasama regional yang saling sinergi dan berkelanjutan.

2. Dan bagi pemerintah daerah se-eks Karisidenan Solo (Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, dan Solo) untuk melakukan pembangunan ekonomi yang lebih merata. Yang mengacu pada kondisi dan potensi daerah se-eks Karisidenan (Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, dan Solo). Dan meminimalisir disparitas dengan cara :

 Menciptakan dan mengembangkan ekonomi kreatif, sehingga mampu mendukung peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto.

 Meningkatkan kemampuan kerja dengan mengikuti pelatihan-pelatihan kerja, sehingga mampu memperkuat sektor tenaga kerja.

(33)

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan analisa dan pembahasan makalah yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil perhitungan indeks Williamson diketahui bahwa Kota Surakarta memiliki indeks Williamson yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lain seperti Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, dan Klaten. Hal ini menjelaskan bahwa Kota Surakarta memiliki tingkat kesenjangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

2. Berdasarkan hasil analisis gabungan LQ yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sektor-sektor yang termasuk kedalam sektor unggulan adalah adalah (1) Pengadaan Listrik dan Gas, (2) Jasa Keuangan dan Asuransi, (3) Jasa Perusahaan, (4) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, serta (5) Jasa Pendidikan. Sedangkan sektor-sektor yang tergolong dalam sektor prospektif adalah sektor (1) Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang, (2) Konstruksi, (3) Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, (4) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, (5) Informasi dan Komunikasi, (6) Real Estate, dan (7) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.

3. Berdasarkan hasil analisis dengan metode Shift Share di Kota Solo diketahui bahwa sektor yang memilki keunggulan dan pertumbuhan yang cepat adalah sekor (1) Pertambangan dan Penggalian, (2) Konstruksi, (3) Transportasi dan Pergudangan, (4) Jasa Keuangan dan Asuransi, dan (5) Jasa Pendidikan. Sedangkan sektor yang masuk kedalam sektor yang tumbuh secara ceat dan tidak memiliki keunggulan adalah (1) sektor Pengadaan Air, (2) Pengelolaan Sampah, (3) Limbah dan Daur Ulang, (4) Real Estate, (5) Jasa lainnya. Sektor yang berkembang lambat tetapi memiliki keunggulan komparatif adalah sektor (1) Industri Pengolahan, (2) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, (3) Jasa Perusahaan, (4) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Sedangkan sektor yang termasuk dalam pertumbuhan yang lambat dan tidak memiliki keunggulan adalah sektor (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Pengadaan Listrik dan Gas, (3) Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, (4) Informasi dan Komunikasi, dan (5) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib.

(34)

(4) menciptakan peluang pengembangan ekonomi wilayah dengan melakukan kerjasama atau mitra yang berada di sekitar kota Solo, (5) optimalisasi kegiatan pariwisata di lahan yang tersedia dengan memanfaatkan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat, dan (6) pengembangan kualitas SDM dengan melakukan benchmark atau kerjasama dengan wilayah lain sehingga bisa bersaing di pasar global.

5. Menilik dari konsep penanganan persoalan ekonomi wilayah yang ditawarkan maka konsep yang dirasa tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut dapat dilakukan dengan membentuk kerjasama antar daerah terutama untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi. Yang kedua adalah dengan pembangunan ekonomi dengan mengacu kepada potensi daerah dan juga kondisi daerah tersebut.

5.2 LESSON LEARNED

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka lesson learned yang dapat diambil dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Dalam melakukan sebuah penelitian terkait ekonomi wilayah, alangkah baiknya menggunakan lebih dari 1 (satu) macam metode perhitungan, misal menggunakan perhitungan analisis IDW (indeks Williamson) dan LQ-Shift Share untuk meneliti kesenjangan atau disparitas di wilayah penelitian.

2. Indeks Williamson (IDW) atau tingkat ketimpangan pendapatan antar

kabupaten dan kota se- Eks karisidenan Surakarta atau sering

disebut dengan “Solo Raya” di Propinsi Jawa Tengah, untuk

masing-masin Kabupaten dan Kota seharusnya bisa mengambil kebijakan

untuk lebih memperkecil tingkat Disparitas Perekonomiannya

dengan memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki. Khususnya

untuk Kota Surakarta yang memiliki tingkat Disparitas yang tinggi

dibanding dengan Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen,

Karanganyar, dan Wonogiri bisa mengambil langkah kebijakan

kerjasama.

3.

Pemerintah wilayah KAD (Kerjasama Antar Daerah) dapat

melakukan pembangunan ekonomi yang lebih merata dengan

adanya kerjasama ini. Dengan mengacu pada kondisi dan potensi

daerah daerah yang dimilki oleh Subosukawono Sraten (Surakarta,

Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri).

4.

Kemudian untuk warga masyarakat sebisa mungkin diharapkan

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Adisasmita, Rahardjo. 2008. Pengembangan Wilayah Konsep dan Teori. Garaha Ilmu: Yogyakarta.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2006. Pengembangan Ekonomi Daerah Berbasis Kawasan Andalan: Membangun Model Pengelolaan dan Pengembangan Keterkaitan Program. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal Deputi Bidang Otonomi Daerah dan Pengembangan Regional BAPPENAS, Jakarta.

Boediono. 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4761).

Rustiadi, Ernan. 2009. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Yayasan Pustaka Obor. Jakarta.

Sabana, Choliq. 2011. Analisa Pengembangan Kota Pekalongan sebagai Salah Satu Kawasan Andalan di Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol 09, No 01. Pekalongan.

Samuelson, Paul A dan Nordhaus, William D. 1995. Makro Ekonomi. IKAPI: Jakarta.

Setiyanto, Adi., Irawan, Bambang. Pembangunan Berbasis Wilayah: Dasar Teori, Konsep Operasional dan Implemetasinya di Sektor Pertanian. Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion.

Tarigan, Robinson. 2007. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Todaro, Michael. 1995. Ekonomi Untuk Negara Berkembang. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Tabel. Matriks EFAS-IFAS.....................................................................................21
Gambar 1. Peta administrasi Subosukawonosraten
Tabel 1. PDRB Kota solo menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku (Juta Rupiah)tahun 2011-2014
Tabel 3. PDRB Provinsi Jawa Tengah menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku(Juta Rupiah) tahun 2011-2014
+4

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Provinsi Nusa

Penelitian ini dengan judul analisis disparitas perkembangan wilayah antar fungsi pusat pelayanan dalam rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Boyolali, provinsi Jawa

Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta Tahun 2010-2029 ”,. 2010,

Di antara kedua pengaturan tersebut terjadi kontradiksi, yakni Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun

KEDUNGSEPUR merupakan satu dari delapan kawasan strategis yang tercantum di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah No 21 Tahun 2003 dan direncanakan

KEDUNGSAPUR merupakan satu dari delapan kawasan strategis yang tercantum di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah No 21 Tahun 2003 dan

BIJB Bandara Internasional Jawa Barat Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Tahun 2011-2031 tidak ada mengatur tentang kawasan sempadan rel kereta api5, namun