NAMA : Wihda Adiba Nuradzkia
NIM : 041411331198
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Kelas : N- Kamis jam 15.30
Dosen Pengajar : Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono
Topik : Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Terhadap PSAK
Judul : Meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Unair Tingkat Akhir terhadap PSAK
Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada stakeholder yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, perubahan ekuitas, arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. IAI sebagai badan otoritas pembuat standar laporan keuangan di Indonesia telah menerbitkan PSAK (IFRS adopted) sebagai bentuk pernyataan standar akuntansi berterima umum.
memahami aturan – aturan yang berkembang, mahasiswa sebagai generasi muda, generasi yang mampu membuat sebuah perubahan- “Agen of Change”, akan mampu mengembangkan sistem ataupun aturan – aturan tersebut menjadi lebih baik, atau paling tidak mahasiswa mampu berperan dalam perkembangan sistem tersebut. Jadi mahasiswa tidak hanya terpaku menjadi penikmat sistem ataupun aturan yang ada. Selain itu,pemahaman PSAK dengan peraturan-peraturan yang baru sangat penting bagi mahasiswa agar setelah lulus nanti mahasiswa menjadi lulusan yang kompeten dan siap saat memasuki dunia kerja yang akan menerapkan PSAK sebagai standar pelaporan keuangannya tanpa mengalami suatu kesulitan yang berarti. Namun bagaimana mahasiwa dapat memperoleh pemahaman PSAK secara komprehensif dan menyusun laporan keuangan secara benar dengan dasar PSAK sedangkan mereka sendiri tidak cakap dalam memahami standar akuntansi keuangan itu sendiri?
Berdasarkan fenomena tersebut, Penulis akan melakukan penelitian terhadap pemahaman mahasiswa tingkat akhir di Universitas Airlangga (UNAIR) terhadap PSAK. Alasan penulis memilih mahasiswa tingkat akhir di UNAIR adalah mahasiswa pada nyatanya dalam proses pembelajaran terhadap materi akuntansi,hanya terbatas kepada apa yang diajarkan sesuai dengan materi yang ada di silabus dalam hal ini bersifat teknis dan tidak komprehensif hal ini terbukti dengan kontrak perkuliahan mata kuliah akuntansi utama di UNAIR yang hanya membuat materi standar sebagai “additional materi” bukan materi inti sehingga mahasiswa hanya paham bagaimana cara menjurnal transaksi-transaksi dan menyajikan nya dalam laporan keuangan sesuai apa yang diajarkan pada satu textbook (yang berbasis IFRS) saja tanpa memahami PSAK dari setiap tahapan penyusunan dan penyajian dari laporan keuangan itu sendiri. Bahkan menurut pengalaman penulis, dalam kegiatan belajar-mengajar pun dosen jarang menyinggung mengenai PSAK yang mengatur materi yang sedang dipelajari. Dan berdasarkan yang dialami oleh penulis, proses belajar mahasiswa sekarang cenderung mengambil jalan “potong kompas” yang artinya mereka hanya belajar dari tutor sebaya atau asistensi dan terbatas pada latihan soal-soal tahun lalu sehingga berpotensi mengurangi logika penalaran mereka terhadap akuntansi itu sendiri.
Rumusan Masalah
Bagaimana meningkatkan pemahaman mahasiswa akuntansi tingkat akhir di UNAIR terhadap PSAK?
Pada penelitian ini, penulis ingin mengkaji secara mendalam apa saja kendala-kendala yang dialami dalam proses pemahaman PSAK dari sisi pengalaman mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan dan dari sisi dosen sebagai pengajar. Penulis juga mengamati sistem pembelajaran akuntansi yang berlaku saat ini dan apa saja kelemahan yang harus diperbaiki dari sistem tersebut dan juga mengamati pola belajar mahasiswa secara individu apakah mereka berpacu pada satu text book saja atau juga menghubungkannya dengan PSAK. Penulis juga mengamati kegiatan-kegiatan non-akademis mahasiswa seperti seminar atau HIMA dan magang di KAP dan apakah kegiatan tersebut berpengaruh terhadap pemahaman mahasisa terhadap PSAK. Sehingga berdasarkan alasan yang dikemukakan akan dapat ditemukan solusi untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap PSAK.
Pada penelitian ini penulis menetapkan batasan penelitian yaitu penelitian hanya meliputi pemahaman mahasiswa semester 6 terhadap PSAK karena menurut penulis mereka sudah mendapatkan pembelajaran mengenai mata kuliah akuntansi utama yaitu (PA1,PA2,AKM1,AKM2,AKL1,dan AKL2) dan PSAK umum yang dimaksud adalah PSAK (IFRS adopted yang efektif semenjak 2012) dan perubahan yang terjadi pada produk PSAK umum non IFRS sampai tahun 2017
Metode Penelitian
menghasilkan bukti-bukti yang relevan,memadai, dan meyakinkan mengenai kenda-kendala yang dihadapi oleh partisipan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana meningkatkan pemahaman terhadap PSAK” dengan menggunakan narasumber yaitu 2 informan dari mahasiswa yang satu kelas dengan penulis dalam mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 1 yaitu Damarsasi Elsa dan Febrian Maulana. Penulis juga memilih Bapak Made Narsa selaku dosen pengajar mata kuliah akuntansi utama dan Teori Akuntansi.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan yang dikemukakakan, penelitian itu bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman mahasiswa akuntansi UNAIR terhadap PSAK dan perkembangannya. Serta untuk mengetahui alternatif metode pembelajaran apa saja yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam mendalami PSAK secara keseluruhan. Dalam penelitian ini penulis ingin memberikan argumen mengenai seberapa efektif sistem pembelajaran yang menekankan PSAK di Unair dikaji dari sisi mahasiswa dan sisi pengajar serta kegiatan apa saja yang dapat membantu untuk memahami PSAK baik kegiatan eksternal maupun internal kampus
Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini penulis berharap dapat memberikan manfaat bagi pembaca khususnya bagi mahasiswa akuntansi dan memberikan kontribusi dalam penerapan perkembangan PSAK pada tingkat universitas di Indonesia
Kerangka Pemikiran merupakan konsep yang menggambarkan hubungan antara teori dengan berbagai faktor yang teridentifikasi sebagai masalah riset, Sugiyono (2014:127). Mahasiswa sebagai akademisi hendaknya mampu memahami teori yang diajarkan secara komprehensif dan mampu menerapkannya secara nyata. Belski et al. (2008) juga mengatakan bahwa mahasiswa merupakan representasi pimpinan perusahaan di masa mendatang, sehingga penggunaan mahasiswa harus dapat diandalkan. Dan juga dosen sebagai pengajar mata kuliah dapat menekankan poin-poin penting dalam pembelajaran kepada mahasiswa. Oleh karena itu perlunya dilakukan pengkajian secara mendalam agar ditemukannya hal-hal alternatif yang dapat membantu pemahaman mahasiswa atas apa yang dipelajari. Termasuk dalam penelitian ini pemahaman terhadap PSAK oleh mahasiswa.
Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dijadikan perbandingan dan referensi dari penelitian ini adalah : 1. Riyanda Efritania (2012) dengan penelitiannya yang berjudul “Tingkat Pengetahuan
menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa menganggap penting mengenai konvergensi IFRS ke PSAK di Indonesia, namun belum mempunyai pengetahuan yang cukup karena mereka menganggap dosen atau pengajar mata kuliah akuntansi keuangan masih memiliki skill atau kemampuan yang rendah dalam hal memberikan pembelajaran akuntansi keuangan dengan mengikuti perkembangan standar akuntansi yang berlaku saat ini. Mahasiswa juga berpendapat bahwa dosen atau pengajar mata kuliah akuntansi keuangan masih kurang dalam hal memberikan tugas lapangan kepada mahasiswa terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan penerapan PSAK dalam laporan keuangan
2. Arnike Amisye Manansal (2013) dengan penelitiannya yang berjudul “Kecerdasan Emosi Mahasiswa Akuntansi dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi” yang menghasilkan kesimpulan bahwa kecerdasan emosional dalam hal ini motivasi dan keterampilan sosial berpengaruh signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi pada Fakultas Ekonomi Unsrat. Hal ini dibuktikan dengan mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi lebih cenderung dapat memahami akuntansi secara menyeluruh dengan menggunakan metode yang salah satunya adalah metode skala likert untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial maka akan dapat diketahui seberapa penting pengaruh kecerdasan emosional terhadap tingkat pemahaman akunatnsi. Penelitian ini juga ditunjang oleh teori Goleman (2002:513-514), dimana ia mengatakan bahwa motivasi adalah menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun seseorang menuju
sasaran. Motivasi membantu seseorang mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
organisasi/badan yang menaungi akuntan di Indonesia. Di saat ditanya apa yang kalian ketahui tentang IFRS, mereka menjawab IFRS adalah standar akuntansi internasional yang dipergunakan sebagai pedoman untuk pembuatan laporan keuangan yang akan diterapkan di Indonesia pada tahun 2012 lewat proses konvergensi yang pengukurannya menggunakan nilai wajar.
Tinjauan Pustaka
Teori Atribusi
Teori atribusi mempelajari proses bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu peristiwa, alasan, atau sebab perilakunya. Teori ini dikembangkan oleh Heider (1958) yang berargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan atau usaha dan kekuatan eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar, seperti kesulitan dalam pekerjaan atau keberuntungan. Berdasarkan hal-hal tersebut seseorang akan termotivasi untuk memahami lingkungannya dan sebab-sebab kejadian tertentu. Peran teori atribusi dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan upaya-upaya yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap PSAK
Pemahaman dan Meningkatkan Pemahaman
Pemahaman berasal dari kata “paham” dalam kamus bahasa Indonesia diartikan menjadi benar. Seseorang dikatakan paham terhadap sesuatu hal, apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskannya. Menurut Sudaryono (2012:44) pemahaman yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain.
dimiliki seseorang. Menurut Suryabrata dalam Astuti (2013:8), pemahaman sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Menurut terjadinya, pemahaman dapat dibedakan menjadi dua macam:
a) Dengan sengaja ialah dengan sadar dan sungguh-sungguh memahami, hasilnya akan lebih mendalam.
b) Tidak sengaja ialah dengan tidak sadar ia memperoleh suatu pengetahuan, hasilnya tidak mendalam dan tidak teratur.
Menurut cara memahaminya, pemahaman dapat dibedakan menjadi dua macam:
a) Secara mekanis ialah menghafal secara mesin dengan tidak menghiraukan apa artinya, hasil dari pemahaman ini biasanya tidak akan tahan lama dan akan cepat lupa.
b) Secara logis ialah menghafal dan mengenal artinya, hasil dari pemahaman ini akan lebih bertahan lama dan tidak akan cepat lupa.
Dalam mengevaluasi tingkat keberhasilan atau pemahaman belajar antara lain:
1. Tes formatif adalah suatu tes untuk memantau kemajuan belajar siswa selama proses belajar berlangsung, dan untuk memberikan bagi penyempurnaan program belajar mengajar, serta untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan sehingga hasil belajar mengajar tercapai.
2. Tes subjektif/sub sumatif meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa serta meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes ini dimanfaatkan
untuk memperbaiki proses belajar
mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai.
3. Tes sumatif digunakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam satu periode belajar.
Menurut Slameto (2010) dalam “Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya” (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), faktor mempengaruhi pemahan atau keberhasilan belajar siswa yaitu :
Faktor kesehatan dan cacat tubuh, sakit atau perkembangan yang tidak sempurna. 2) Faktor psikologis :
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong dan faktor dalam psikologi yang mempengaruhi belajar, yaitu: intelegensi, perhatian, minat, bakat, kematangan dan kesiapan.
3) Faktor kelelahan :
Kelelahan jasmani apabila seseorang terlihat lemas lunglai tubuhnya, sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
b. Faktor eksternal, 1) Faktor keluarga :
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
2) Faktor sekolah :
Mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran, dan tugas rumah.
3) Faktor masyarakat
Masyarakat sangat berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat. Faktor ini meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media, teman bergaul, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
a. Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif Dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dapat dilakukan oleh seorang guru dengan kegiatan, diantaranya yaitu :
1) Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan pembelajaran. 2) Menunjukkan empati dan penghargaan kepada peserta didik.
3) Mendengarkan dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara.
b. Mengembangkan Strategi dan Manajemen Pembelajaran Dalam hal ini dapat dilakukan dengan kemampuan menghadapi dan menangani peserta didik yang bermasalah, kemampuan memberikan transisi substansial bahan ajar dalam pembelajaran.
c. Memberikan Umpan Balik dan Penguatan Dapat dilakukan dengan cara memberikan respon yang bersifat membantu siswa yang lamban dalam belajar, memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan.
Pekembagan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (PSAK IFRS ADOPTED)
Empat Standar Akuntansi yang Berlaku Di Indonesia
Menurut Martani (2012 : 16) Standar akuntansi yang berlaku di Indonesia terdiri empat standar (empat pilar standar akuntansi) yaitu :
1. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Standar Akuntansi Keuangan (SAK) digunakan untuk entitas yang memiliki akuntabilitas publik yaitu entitas atau dalam proses pendaftaran di pasar modal atau entitas fidusia (yang menggunakan dana masyarakat seperti asuransi, perbankan, dan dana pensiun).
2. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) digunakan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan dalam menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement).
4. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) Standar akuntansi pemerintah (SAP) adalah standar akuntansi yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan instansi pemerintahan bai pusat maupun daerah.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan pedoman dalam melakukan praktik akuntansi dimana uraian materi di dalamnya mencakup hampir semua aspek yang berkaitan dengan akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan sekumpulan orang dengan kemampuan dalam bidang akuntansi yang tergabung dalam suatu lembaga yang dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Tujuan dibuatkannya PSAK adalah agar dalam prosedur pembuatan laporan keuangan terjadi keseragaman. Selain itu, PSAK juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor, serta memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.
Di Indonesia, penerapan PSAK berbasis IFRS diterapkan pada tahun 2012. Terdapat tiga tonggak sejarah dalam pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia. Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun 1973, pertama kalinya IAI melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam suatu buku “Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI)”. Lalu, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada saat itu, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkodifikasikannya dalam buku “Prinsip Akuntansi Indonesia 1984” dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia usaha (Ikatan Akuntan Indonesia, 2008). Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku “Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994”.
konvergensi dengan IFRS. Standar akuntansi keuangan terus direvisi secara berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan enam kali, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, dan 1 September 2007. Dan pada akhirnya, setelah direvisi nama buku tersebut menjadi “Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007”. Di dalamnya sudah bertambah jika dibandingkan dengan revisi sebelumnya yaitu tambahan Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) Syariah, 6 PSAK baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar, saat ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7 Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK).
PSAK Berbasis IFRS PSAK yang berbasis IFRS diterapkan pada 2012. PSAK tersebut wajib diterapkan umtuk entitas dengan akuntabilitas publik seperti emiten, perusahaan publik, perbankan, asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan. Karakter IFRS International Financial Reporting Standards (IFRS) menggunakan “Principle Base”, dimana principle base ini lebih menekankan pada interpretasi dan aplikasi atas standar dan berdasarkan judgement pihak yang menyiapkan laporan keuangan. Sedangkan semula yang mengacu pada US GAAP berdasarkan“Rule Base” dimana semua praktik akuntansi terdapat aturan atau perlakuan akuntansinya. International Financial Reporting Standards (IFRS) juga menggunakan fair value dalam penilaian. Fair value accounting merupakan pendekatan yang menilai aset berdasarkan nilai yang berlaku saat ini, dimana perusahaan yang menyiapkan laporan keuangan harus melakukan revaluasi terhadap aset non moneter yang dimilikinya sehingga investor atau pengguna laporan keuangan akan dapat melihat perubahan nilai yang berlaku saat ini. Sebelumnya mengacu pada US GAAP, menggunakan historical cost accounting yang menekankan pada pengukuran berdasarkan harga perolehan yang tidak dapat mencerminkan perubahan nilai pada aset non moneter yang dimiliki oleh perusahaan karena historical cost accounting mengasumsikan kondisi ekonomi yang selalu stabil, sedangkan pada kenyataan kondisi ekonomi tidak pernah stabil (Handayani, 2011).
Revisi PSAK yang Mengacu pada IFRS
Revisi tersebut dilakukan dalam rangka konvergensi dengan International Accounting Standards (IAS) dan International
Financial Reporting Standards (IFRS). 5 butir PSAK yang telah direvisi tersebut antara lain : PSAK No. 13, No. 16, No. 30 (ketiganya revisi tahun 2007, yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2008), PSAK No. 50 dan No. 55 (keduanya revisi tahun 2006 yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2009).
1. PSAK No. 13 (revisi 2007) tentang Properti Investasi yang menggantikan PSAK No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi (disahkan 1994).
2. PSAK No. 16 (revisi 2007) tentang Aset Tetap yang menggantikan PSAK 16 (1994): Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-Lain dan PSAK 17 (1994) Akuntansi Penyusutan.
3. PSAK No. 30 (revisi 2007) tentang Sewa menggantikan PSAK 30 (1994) tentang Sewa Guna Usaha.
4. PSAK No. 50 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan yang menggantikan Akuntansi Investasi Efek Tertentu.
5. PSAK No. 55 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran yang menggantikan Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai.
Kelima PSAK tersebut dalam revisi terakhirnya sebagian besar sudah mengacu pada IAS/IFRS, walaupun terdapat sedikit perbedaan terkait dengan belum diadopsinya PSAK lain yang terkait dengan kelima PSAK lain yang terkait dengan kelima PSAK tersebut (IAI, 2008). Adanya penyempurnaan dan pengembangan PSAK secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, saat ini terdapat tiga PSAK yang pengaturannya sudah disatukan dengan PSAK terkait yang terbaru sehingga nomor PSAK tersebut tidak berlaku lagi, yaitu:
1. PSAK No. 9 (Revisi 1994) tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 1 (Revisi 1998) tentang Penyajian Laporan Keuangan.
3. PSAK No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan (1994) pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 19 (Revisi 2000) tentang Aset Tidak Berwujud.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian Data yang diperlukan Teknik pengambilan data Mengidentifikasi
kendala-kendala yang dialami mahasiswa
dalam proses
memahami PSAK
Pendapat atau
pemikiran mahasiswa
dalam proses
memahami PSAK selama kegiatan perkuliahan
Wawancara mendalam dengan informan Damarsasi Elsa dan Febrian Maulana (Dilakukan pada hari Senin,8 mei 2017 setelah kegiatan perkuliahan AKL )
Dokumentasi :
Transkrip
pembicaraan peneliti dengan informan
Alasan penulis
memilih Elsa adalah bahwa Elsa sudah memenuhi
persyaratan dalam penelitian penulis
karena sudah
menyimak masalah yang telah diuraikan di atas melalui :
Wawancara
mengalami proses pendidikan secara logis sehingga berdampak pada pemahaman dan pengasahan kecerdasan mereka tentang akuntansi dan telah mendapatkan pengetahuan dasar mengenai akuntansi utama dan telah mampu untuk menyusun laporan keuangan secara komprehensif.
Daftar pertanyaan yang disiapkan oleh penulis untuk informan pertama adalah : 1. Apakah anda mengetahui 4 pilar utama Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia? 2. Apakah anda memahami perbedaan dan poin-poin dari setiap PSAK? (referensi menurut
yang dibuat IAI)
3. Apakah anda mengetahui perkembangan PSAK terbaru (Sampai dengan tahun 2017)? 4. Apakah anda dapat memahami dan melakukan dengan benar penyusunan dan penyajian
laporan keuangan yang sesuai standar dan prosedur akuntansi di Indonesia?
5. Bagaimana pola belajar anda dalam memahami mata kuliah akuntansi utama? Apakah anda hanya mengandalkan tutor atau asistensi atau anda memahami secara mendalam dengan membaca buku dan bahan ajar terkait mata kuliah tersebut?
6. Apa kendala-kendala yang anda hadapi dalam memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia?
7. Bagaimana menurut Anda, cara mengajar yang diterapkan dosen akuntansi saat ini terhadap 7 mata kuliah diatas? Apakah dosen sering memberikan penekanan tertentu terhada PSAK terkait mata kuliah tersebut?
8. Bagaimana menurut anda cara mengajar seharusnya oleh dosen akuntansi yang dapat efektif untuk membantu mahasiswa tingkat akhir dalam memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia?
9. Bagaimana menurut anda tentang fenomena yang terjadi mahasiswa akuntansi tingkat akhir di unair tidak memahami standar akuntasi keuangan di Indonesia dan berpegaruh pada menurunnya kompetensi mereka pada saat interview perusahaan setelah lulus? 10. Bagaimana menurut anda, sikap yang seharusnya dilakukan mahasiswa dalam
mengembangkan pemahaman akan standar akuntansi keuangan di Indonesia
11. Menurut anda, apakah materi akuntansi yang diujikan juga harus disisipkan pertanyaan tentang standar akuntansi keuangan terkait dengan materi akuntansi tersebut?
13. Darimana biasanya sumber yang anda dapatkan untuk memperluas wawasan anda terhadap PSAK dan perubahan-perubahannya?
Informan kedua yang dipilih penulis adalah Febrian Maulana yang merupakan mahasiswa semester 6 yang sedang menjalani masa magang di salah satu KAP di Surabaya dan juga aktif sebagai anggota IAI Muda di Jawa Timur. Alasan penulis memilih informan tersebut penulis ingin mengetahui apakah pengalaman magang tersebut berpengaruh signifikan terhadap pemahaman terhadap Standar Akuntansi Keuangan yang diterapkan karena tentu informan 1 dan informan 2 mempunyai pemikiran yang unik dan berbeda-beda dilihat dari pengalaman mereka. Daftar Pertanyaan yang diajukan penulis yaitu :
1. Apakah anda mengetahui 4 pilar utama Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia? 2. Apakah anda memahami perbedaan dan poin-poin dari setiap PSAK? (referensi
menurut yang dibuat IAI)
3. Apakah anda mengetahui perkembangan terbaru (Sampai dengan tahun 2017) mengenai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia-PSAK terbaru?
4. Apakah anda dapat memahami dan melakukan dengan benar penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang sesuai standar dan prosedur akuntansi di Indonesia? 5. Bagaimana pola belajar anda dalam memahami mata kuliah akuntansi utama? Apakah anda hanya mengandalkan tutor atau asistensi atau anda memahami secara mendalam dengan membaca buku dan bahan ajar terkait mata kuliah tersebut?
6. Apa kendala-kendala yang anda hadapi dalam memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia?
7. Bagaimana menurut Anda, cara mengajar yang diterapkan dosen akuntansi saat ini terhadap 7 mata kuliah diatas?
8. Bagaimana menurut anda cara mengajar seharusnya oleh dosen akuntansi yang dapat efektif untuk membantu mahasiswa tingkat akhir dalam memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia?
9. Bagaimana menurut anda tentang fenomena yang terjadi mahasiswa akuntansi tingkat akhir di unair tidak memahami standar akuntasi keuangan di Indonesia dan berpegaruh pada menurunnya kompetensi mereka pada saat interview perusahaan setelah lulus?
Informan ketiga yaitu Bapak I made Narsa sebagai dosen pengajar mata kuliah Teori Akuntansi untuk mahasiswa Semester 6. Alasan penulis memilih informan adalah karena menurut penulis dibutuhkan pendapat dari dosen pengajar akuntansi tentang kendala-kendala yang dihadapi dalam mengajarkan standar akuntansi keuangan dari sisi seorang dosen untuk dicari solusi dalam rangka meningatkan pemahaman mahasiswa terhadap standar akuntansi keuangan itu sendiri.
Teori Akuntansi mengajarkan sejarah dan awal mula terbentuknya Akuntansi dan adopsi standar-standar Internasional serta pengadopsiannya ke dalam PSAK di Indonesia dan menekankan poin-poin yang ada pada Standar Akuntansi Keuangan itu sendiri. Dan penulis ingin mengetahui apakah ada kriteria tertentu bagi para dosen yang menggambarkan mahasiswa sudah dapat memahami dan menerapkan standar akuntansi keuangan yang sesuai. Daftar pertanyaan yang dijakuan oleh penulis adalah :
1. Bagaimana menurut bapak tentang fenomena yang terjadi pada mahasiswa akuntansi tingkat akhir di unair tidak memahami standar akuntasi keuangan di Indonesia dan berpegaruh pada menurunnya kompetensi mereka pada saat interview perusahaan setelah lulus?
2. Apa kendala-kendala yang bapak hadapi dalam menjelaskan tentang standar akuntansi keuangan di Indonesia kepada mahasiswa tingkat akhir?
3. Apa menurut bapak kriteria mahasiswa yang dikatakan sudah memahami standar akuntansi keuangan di Indonesia
4. Bagaimana menurut bapak, sikap yang seharusnya dilakukan mahasiswa dalam mengembangkan pemahaman akan standar akuntansi keuangan di Indonesia
5. Bagaimana menurut bapak, sikap yang seharusnya dilakukan mahasiswa dalam proses belajar mengajar di kelas?
Unit Analisis
berorganisasi intra maupun ekstra kampus dan juga mengetahui cara pengajaran dari dosen akuntansi. Untuk itu unit analisis penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi dan dosen akuntansi Proposisi
Menurut (Basuki,2016) Proposisi dapat merupakan hasil akhir dari sebuah penelitian atau sebagi tahap setelah perumusan masalah. Dalam studi kasus eksplanatoris, proposisi sama dengan hipotesis untuk menguji teori dengan hubungan sebab-akibat dalam suatu fenomena yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis melakukan proposisi dengan menguji Teori Atribusi yang dikembangkan oleh Heider (1958) yang berargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan atau usaha dan kekuatan eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar, seperti kesulitan dalam pekerjaan atau keberuntungan dengan membandingkan data-data dan kriteria yang ditetapkan penulis berdasarkan fenomena yang ada di Unair seperti data hasil wawancara dan observasi terhadap partisipan untuk menguji kebenaran bahwa apakah faktor-faktor internal dan eksternal dari perilaku mahasiswa terhadap pembelajaran akuntansi dan terhadap dosen sebagai pengajar dapat mempengaruhi pemahaman mereka terhadap PSAK dan termotivasi untuk terus mengikuti perkembangannya. Serta peneliti melakukan triangulasi atas data-data tersebut agar dapat memberikan kesimpulan berupa solusi cara yang efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa.
Analisis dan Intrepretasi Data Analisis Data
Pada penelitian eksplanatoris peneliti menyiapkan kriteria untuk menentukan hasil penelitian. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara induktif, di mana peneliti mempelajari, menganalisis, serta menginterpretasikan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang sedang diteliti serta mengaitkannya dengan Teori Atribusi. Oleh sebab itu, peneliti akan berusaha untuk menggali informasi selengkap dan serelevan mungkin dengan teori tersebut.
Langkah-Langkah dalam analisis data adalah :
1. Membandingkan data hasil observasi penulis pada saat jam belajar mengajar di kelas akuntansi terhadap partisipasi mahasiswa dan hubungan interaktif mahaiswa dan dosen di kelass AKL 2 dan Teori Akuntansi
2. Membuat transkrip dari hasil dept interview terhadap narasumber A,B,dan C yang telah direkam untuk menghasilkan temuan akan kendala-kendala yang dihadapi secara keseluruhan dari pengalaman partisipan
3. Membandingkan hasil dokumentansi yang berupa kontrak perkuliahan dan kesesuaian dengan apa yang terjadi saat kegiatan mengajar akan penekanan PSAK sebagai additional materi
4. Mengkaji PSAK terbaru yang dikeluarkan IAI dan tinjauan pustaka terkait atas permasalahan yang diteliti sebagai referensi analisis data
5. Membangun narasi dengan cara menggabungkan informasi-informasi yang telah dikumpulkan
6. Membuat laporan atas hasil data wawancara yang diperoleh dan observasi secara mendalam
Uji validitas argumentasi peneliti dilakukan dengan model triangulasi data (data triangulation). Tujuan triangulasi data adalah mengecek derajat kepercayaan suatu informasi (Basuki, 2016). Triangulasi yang dilakukan penulis adalah membandingkan hasil wawancara dan observasi perilaku untuk menguji kebeneran yang relevan dari Teori Atribusi (Matching Concept)
Menurut (Basuki,2016) Intrepretasi data dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara,hasil observasi dan hasil dokumentasi dengan pattern matching concept. Kriteria dari intrepretasi dapat dilihat dari proposisi,hasil penelitian lain,pendapat lain, dan teori terkait. Penulis melakukan matching concept dengan mengkaitkan hasil dari analisis data wawancara,observasi dan dokumentasi untuk menguji teori atribusi untuk menjelaskan apakah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan atau usaha dan kekuatan eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar, seperti kesulitan dalam pekerjaan atau keberuntungan dapat mempengaruhi mahasiswa dalam memahami PSAK. Intrepretasi data dilakukan dengan cara :
1. Reduksi Data
Dilakukan dengan cara memilih dan memfokuskan penelitian terhadap hal-hal utama dan relevan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini hal-hal utama tersebut yaitu sikap mahasiswa selama kegiatan belajar dan diluar kampus dalam memahami PSAK dan cara mengajar dosen di kelas serta pendapat yang terkait rumusan masalah melalui pertanyaan yang diajukan kepada informan kemudian mrangkum data yang sudah dipilih dalam bentuk narasi. Tujuan dari tahap ini adalah menghasilkan (highlight) dari data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan
2. Penyajian data
Penulis menyajikan informasi-informasi yang terkumpul dan sudah direduksi, kemudian disusun dalam bentuk narasi dengan penyederhanaan tanpa mengurangi isi dan keandalan infromasi yang disajikan agar dapat dipahami oleh pembaca. Tujuan dari tahap ini adalah untuk melihat fenomena secara utuh dan holistik untuk menarik kesimpulan
3. Verifikasi data