• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENVIPLAST : STARCH BASED BIOPLASTIK COMPOUND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ENVIPLAST : STARCH BASED BIOPLASTIK COMPOUND"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ENVIPLAST :

STARCH

BASED BIOPLASTIK COMPOUND

Asmuwahyu Saptorahardjo PT Inter Aneka Lestari Kimia

ABSTRAK

Tinjauan dilakukan terhadap latar belakang tumbuhnya indsutri Bioplastik termauk masalah mikroplastic. Pemahaman pengertian Bioplastik dan tatacara standard pengujiannya diuraikan dari sudut praktis industri. Proses compounding sebagai satu dari proses produksi campuran biopolimer dengan polimer sintetis diuraikan dengan mempergunakan kasus bahan baku starch cassava. Enviplast sebagai resin bioplastik produk compounding diuraikan sifat mekanis, hasil biodegradasinya maupun aplikasinya.

(2)

dapat dibuat banyak sekali tipe produk, dipakai di transportasi, telekomunikasi, pakaian, kemasan, sekaligus mendorong kemajuan teknologi, penanganan kesehatan, penghematan energi dan berbagai kemaslahatan sosial seperti pemakaian kemasan untuk penyimpanan sumber makanan makanan jangka panjang. Plastik film untuk meningkatkan panen (Andrady dan Neal, 2009). Tak heran produksi plastik bertambah secara signifikan selama 60 tahun terakhir dari 0.5 ton di 1950 sampai lebih dari 260 juta ton di 2008 (Thompson et al, 2008).

Pada umumnya, untuk meningkatkan kemampuan proses maupun unjuk kerjanya, resin polimer dibubuhi berbagai additive. Additive ini termasuk filer anorganik, dan kadang untuk reinorcement, plasticizer, antioxydant, UV stabilizer, Fleme Retardant sampai pigment pewarna. Berbagai additive dibubuhkan dalam jumlah besar, seperti plasticizer di PVC sampai puluhan persen, namun antioxydan pada polyolefin dibubuhkan kurang dari 1% (Saptorahardjo, 2010). Riset masih harus dilakukan antara tipe dan jumlah additive di plastik dihubungkan dengan uptake dan akumulasinya pada organisme (Andrady dan Neal, 2009).

Bersama dengan berbagai material konsumer, berakumulasinya bekas kemasan berkontribusi pada berakumulasinya sampah yang perlu dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir. Sampah yang tak tertangani tersebar di berbagai lokasi daerah urban. Sampah di daerah urban bertambah dan terdiri atas berbagai materi, termasuk diantaranya produk thermoplastik. Thermoplastik tidak dapat terbiodegradasi secepat material berasal usul biologis (Andrady, 2003). Seberapa lama plastik bertahan di tempat pembuangannya, tergantung pada struktur, perilaku kimia material dan karakteristik lingkungannya. Sebagian besar dari kemasan dari plastik terbuat dari Polyethylene, Polypropylene, Polystyrene dan Pethylene Terpthalate. Polimer-polimer tersebut bersifat hidrofobik dan praktis tak mengalami penguraian di pembuangannya.

Masalah sampah plastik, meskipun konsumsi plastik di Indonesia masih rendah 17 kg/kapita/tahun, namun karena masalah tanah utk TPA, masalah budaya dan tata kelola sampah, tak terdaur ulang plastik kemasan flexible multilayer yang tipis, maka akumulasi, utamanya plastik kemasan tipis, menjadi masalah lingkungan.

Suatu publikasi besarnya run off sampah plastik dari daerah daratan padat penduduk ke laut (Jambeck et al, 2015) dengan pendekatan perhitungan yang masih meragukan, namun telah terlanjur menjadi persepsi pembuat keputusan sehingga Indonesia dianggap sebagai satu dari pengotor plastik di lautan yang cukup dominan.

(3)

Gambar 1. Zooplankton dengan mikcoplastik Cole M, Lindeque P, Fileman E, Halsband C, Goodhead RM, et al. (2013) Microplastic ingestion by zooplankton. Environmental Science & Technology 47: 6646–6655. doi:10.1021/es400663f

Starch merupakan campuran makro molekul amylosa dan amylopectin, biopolimer tersusun dari molekul glukosa. Amylosa berstruktur linear, sampai 2000 sambungan 1,4 C gugusan glukosa dan sedikitnya 1,6 C titik cabang. Sedang amylosapectin justru 1,6 C titik cabangnya lebih utama. Dalam tanaman starch berada sebagai granul tuber atau granul roots. Rerata rasio amylosa 20-30% dan 70-80% amylosa pectin. Dan dapat berasosiasi dengan makro molekul lain dalam tanaman seperti protein dan lipda.

Sifat starch seperti gelatinisasi, retrogradasi, viskositas, kemudahan terfermentasi bervariasi pada rasio amylosa terhadap amylosa pectin, derajat substitusi, asosisasinya dengan komponen lipid dan protein dalam starch pada tanaman.

Ukuran granul starch heterogen, berkisar antara, dalam diemeternya: 5 - 100 pm.

Untuk menjadikan strach menjadi Bioplastik Enviplast dan Cassaplast diperlukan formulasi yang akurat dengan asam lemak dari tanaman, bidegradable sintetik plastik, additive lain sebagai suatu compound dengan tujuan menjadikannya dapat diproses dengan alat pemroses plastik namun dapat mengalami biodegradasi dalam proses composting.

Teknologi compound didasari pada formulasi kombinasi antara biopolymer seperti amylosa/amylosa pectin maupun polysacharida lain yang umumnya sudah tersedia di berbagai biomasa dengan biopolymer biodegradable dengan sifat viscoelastis yang sama dengan polymer synthetic, memerlukan takaran yang tepat dengan kadar air, plasticizer, compatibilizer-nya. Dan diproses dengan fasilitas compounder seperti Twin Screw Extruder.

BIOPLASTIK, BIODEGRADABLE DAN COMPOSTABLE

(4)

karena aktifitas mikroorganisme, sehingga dapat terurai menjadi CO2, air dan biomassa maka dinyatakan di

lingkungan disposalnya plastik tersebut mengalami biodegradasi. Berbagai standard internasional dapat digunakan untuk menguji secara simulatif, di lingkungan disposal komposting yang terkendali yang spesifik, apakah suatu plastik mengalami biodegradasi seperti ASTM D5538, ASTM 5988, ISO 17556, ISO 14851. Biodegradability merupakan satu dari syarat suatu kemasan plastik berperilaku sebagai kompos pada lingkungannya. Syarat-syarat spesifik lainnya tercantum pada standar composting untuk kemasan pada EN 13432, atau pada ASTM D6400.

STARCH

BASED BIOPLASTIC

(5)

Amylosa

Amylopectin

Gambar 2. Struktur Amylosa dan amylopectin

STARCH

COMPOUND DENGAN BIODEGRADABLE POLIMER

Masalah utama untuk menghomogenkan campuran starch dengan polimer lain seperti PLA (PolyLactic Acid) yang bersifat hidrofobik adalah interaksi antar-muka yang rendah. Mereka tidak kompatibel, dan ini ditunjukkan dengan rendahnya sifat mekanik campuran (Wang N.et al, 2008). Gliserol, sorbitol, urea, formamida dan air digunakan sebagai plasticizer, dan ini menurunkan interaksi intermolekular maupun intramolekuler, ikatan hidrogen untuk menurunkan Tg dan meningkatkan pproses dispersi Starch-PLA. Untuk memperbaiki kompatibilitas antara PLA dengan starch, kompatibliser yang tepat harus ditambahkan. Demikian pula proses blending harus menjamin bahwa starch bergabung dengan air yang cukup menghasilkan gelatin untuk meningkatkan afinitas interaksi dengan PLA, melalui pembentukan TPS, thermoplastic Starch.

Tabel 1. Memperlihatkan suhu ransisi gelas dan sifat mekanik TPS/PLA, (Martin and Averous 2001)

Content of TPS (wt %

Tg (C) Tensile Strength (Mpa)

Elongation at Break (%)

PLA TPS

100 (TPS1) - 10 3.4 152.0

90 (TPS1) 47 NF 2.9 48.8

75 (TPS1) 53 NF 4.8 5.7

100 (TPS2) - 43 19.5 2.8

90 (TPS2) NF NF 14.1 1.3

75 (TPS2) NF NF 12.0 2.4

(6)

Tabel 2. Blending TPS/PCL (Martin dan Averous, 2001)

Content of TPS (wt %

Tg (C) Tensile Strength (Mpa)

Elongation at Break (%)

PCL TPS

100 (TPS1) - 8.4 3.3 126.0

75 (TPS1) 31.0 5.9 62.6

100 (TPS2) - 43.4 21.4 3.8

75 (TPS2) 41.0 10.5 2.0

60 (TPS2) NF 9.0 1.3

0 -61.5 - 14.2 0.9

Masalah utama blending starch dengan biopolimer lainya adalah kompatibilitas, hal ini karena sifat hidrofilik starch, oleh karena itu diperlukan strategi menggunakan kompatibiliser dari starch yang dimodifikasi secara kimia. Modifikasi kimia umumnya dilakukan melalui reaksi kimia pada gugusan hidroksil. Dan teknik yang dilakukan adalah pencangkokan kopolimerisasi, atau graft copolymerization. Dengan cara ini PCL atau PLA dicangkokkan pada starch melalui substitusi H, pada gugusan –OH di makromolekul starch. Untuk menempelkan secara cangkok PLA, melalui pembukaan cincin L-lactida lansung pada substrat starch (Chois et al, 1999; Dubois et al 1999; Luu et al, 2009). Starch-g-poly (vinyl alcohol) dibuat dengan kopolimerisasi pencangkokan vinylasetat melalui pencangkokan dengan tehnik radiasi berkas elektron (Chen et al, 2008; Xu et al, 2008).

Compounding starch based dengan biodegradable plastik dilakukan dengan memplastisasi campuran tersebut dengan mengekstrudenya mempergunakan baik extruder twincrew maupun single screw.

(7)

Extruder screw tunggal terdiri atas satu screw yang berputar dalam rongga suatu barel. Friksi yang terjadi antara material dan material dengan dinding barel maupun sisi screw terdekat dengan barel merupakan dasar mekanisme proses extrusinya. Jika material licin terhadap dinding barel, maka putaran screw tidak menghasilkan dorongan maju pada material. Matarial hanya berputar ditempat mengikuti putaran screw. Fungsi dari alat pemroses ini sangat tergantung pada variasi yang dapat dilakukan terhadap perubahan friksi material terhadap dinding barel. Polimer pada umumnya berubah cukup significant koefisien friksinya terhadap suhu. Sedang starch karena banyak mengandung air, dan keberadaan air diperlukan sebagai plastiziser, koefisien friksinya sulit untuk diatur dengan perubahan suhu yang terbatas. Sehingga tipe extruder screw tunggal tipe normal ini tdak bisa digunakan untuk memproses starch. Tipe Screw tunggal dengan pin yang terdapat sepanjang dinding barel daerah mizing, dan kemampuan menggerakkan screw secara horizontal maju mundur (reciprocating) dapat memproses starch. Lihat Gambar 3 desain pin di dinding barel meningkatkan friksi. Selain itu juga meningkatnya kemampuan mixing saat screw dapat bergerak maju mundur selain berputar. Akibatnya aliran dari material berlangsung lebih stabil dibanding tipe screw tunggal normal. Tekanan extruder screw tunggal yang dilengkapi pin ini lebih kecil, karena membesarnya volume antara screw dan dinding barel. Tipe extruder ini dikenal sebagai kokneader.

Sedangkan screw ganda intermeshing corotting sebagai komponen utama Extruder Twin Screw, seperti terlihat di Gambar 4. Untuk memproses material seperti starch kenaikan search perlu dihindarkan, sehingga dibutuhkan screw dengan karakter conveying. Namun diperlukan tekanan untuk mengkompensasi masalah viskositas yang cukup besar dibanding plastik, sehingga tekanan perlu diberikan dalam bentuk ulir ganda maupun ulir multiple.

Gambar 4.Screw Ganda pada Extruder

ENVIPLAST,

STARCH

BASED BIOPLASTIK DARI CASSAVA

Pelet Resin yang terdiri atas Starch dari cassava, plasticiser dari jenis poliol, polimer non konvensional serta compatibiliser hasil compounding dalam Extruder Screw ganda, kemudian diproses dengan mesin blown film. Kantong film yang dihasilkan kemudian diuji sifat mekanik, kemampuan sealing, sifat bariernya sebagai kemasan, toksisitas dan sifat biodegradabilitasnya.

Satu dari keistimewaan kantong ini sebagai kemasan adalah laju transmisi oxygennya yang sangat rendah sekitar 0,024 ml/100 in2 hari (Saptorahardjo, A, 2014) dibanding BOPP (Bioriented Polypropylena), plastik

konvensional sering digunakan saat ini sekitar 103 ml/100 in2 hari. Sebagai film kekuatan tarik Enviplast

(8)

Density (g/cm³) 1.27 – 1.32 0.95

Tensile strength (MPa) 12 – 18 25

Elongation at break (%) 225 – 300 500 - 600

Surface resistivity (ohm/cm2) 10 7.5– 1010 1014 - 1015

Berdasar pada metode uji oral akut OECD no 423 dari komisi regulasi eropa (EC) no 440/2008, Kantong Enviplast tidak punya potensi toksisitas akut. Pengujian biodegradabilitasnya dengan mengacu pada EN 13432, Enviplast menunjukkan tingkat biodgredabilitas diatas 90%, sehngga lolos untuk uji biodegradablitas yang mensyaratkan tercapainya biodegradablitas 90% tidak lebih dari 180 hari pada uji komposting tersebut. Hasil dari uji respirometrik ini dapat dilihat pada Gambar 5. Harga resistivitas permukaan yang cukup rendah mengindikasikan bahwa material ini dapat digunakan pada situasi dimana sifat antistatic

bahkan sampai sifat disipatif muatan listrik dibutuhkan misal pada kemasan material elektronik.

Gambar 5. Hasil pengukuran % biodegradation Enviplast dibanding reference Selulosa secara respirometrik

Masalah yang perlu diperbaiki adalah sensitivitas sifat mekanisnya pada perubahan kelembaban, masalah retrogradasi, yakni kembalinya fasa kristal dari starch pada kelembaban rendah dan suhu relatif rendah.

(9)

KESIMPULAN

Pemakaian bioplastik mengacu pada pengertian sumber bahan baku yang didasari pada sumber biologis, dan diukur dengan kandungan biobasenya. Sedangkan ukuran biodegradable adalah seberapa besar kemampuanya terkonversi menjadi CO2, oleh proses degradasi akibat aktifitas mikroorganisme pada selang waktu yang dibakukan.

Komparteman lingkungan saat menyatakan suatu bioplastik mengalami biodegradabilitas perlu dinyatakan, karena suatu bioplastik yang terbiodegradasi pada kompartemen tanah, dapat sama sekali tak terbiodegradasi dalam lingkungan aquatik. Proses produksi bioplastik dengan compounding, mengandalkan pada kemampuan bioplastik engalami proses plastisasi pada mesin extruder. Proses lanjutan dari konversi bioplastik menjadi kemasan seperti Enviplast ditentukan oleh formulasi starch dan komponen plasticiser, compatibiliser dan hadirnya bidegradable material lainya.

DAFTAR PUSTAKA

Andrady, A.L. (2003). In Plastic and the environment (ed. A.L. Andradiy) West Sussex, England: John Wiley and Sons Andrady, A.L. (2011), Micriplastics in the marine environment, J.marpolbull.62, 1596-1605

Andrady, A.L. and Neal, M.A. 2009).Applications and societal benefits of Plastic. Phil.Trans. R.Soc.B.364

Chen L., Xie Z.G. Zhuang X.L., Chen X.S.,Jing X.B (2008): Controlled Released of urea encapsulated by starch g-poly(L-Lactide), Carbohydrate Polymer, 72,

Choi E-J., Kim C-H., Park J-K (1999). Structure-property relationship in PCL/starch blend compatibilized with starch-g- PCL copolymer. Journal of Polymer Science Part B; Polymer Physics, 37

Cole M, Lindeque P, Fileman E, Halsband C, Goodhead RM, et al. (2013) Microplastic ingestion by zooplankton. Environmental Science & Technology47: 6646–6655. doi:10.1021/es400663f

Dubois P., Krishna M.,Narayan R (1999).: Aliphatic polyesther grafted starch-like polysacharide by ring-opening polymerization. CarbohydratPolymer40

Jambeck J.R.Gryer R., Wilcox C., Siegler T.R., Perryman M., Andrady A., Narayan R., Law K.L. (2015) Plastic waste input from land into the ocean. Science 347, No 6223.

Lu, D.R., Xiao, C.M. dan Xu, S.J. (2009): Starch- based completely Biodegradable polymer material, eXPRESS Polymer Letter, 3, No 6

Martin O., Averous L. : Poly(lactic acid) (2001): Plastication and properties of biodegradable multiphase syatem. Polymer, 42,

Wang N., Yu J.G., Chang, P.R., Ma X (2008)..:Influence of formamide and water on the properties of thermoplastic starch/poly(lacyic acid) blend. Carbohydratre Polymer 71

Saptorahardjo A. (2016) : Masterbatch additive in thin walled thermoforming cups., Ami Plastic Asia Masterbatch Conference Singapore.

Saptorahardjo A., (2015), Cassava Starch-based Bioplastic, Conference In a Potential Solution for Microplastic Problem, Microplastic in the Environment, Source, Impact &Solution, Cologne.

(10)

Gambar

Gambar 1. Zooplankton dengan mikcoplastik Cole M, Lindeque P, Fileman E, Halsband C, Goodhead RM, et al
Tabel 1. Memperlihatkan suhu ransisi gelas dan sifat mekanik TPS/PLA, (Martin and Averous 2001)
Tabel 2. Blending TPS/PCL (Martin dan Averous, 2001)
Gambar 4. Screw Ganda pada Extruder
+2

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,