• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah tentang Hutan bakau Dalam P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah tentang Hutan bakau Dalam P"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

TENTANG KLASIFIKASI, MANFAAT DAN FAKTOR PENYEBAB

KERUSAKAN KAWASAN HUTAN BAKAU

D

I

S

U

S

U

N

OLEH

:

MARJANI HARIANTO

Dosen pembimbing

: Arman SPD.MPD

Mata kuliah

: Pengetahuan lingkungan

(2)

Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Hutan Bakau ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Arman selaku Dosen mata kuliah Pengetahuan Lingkungan, yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari kerusakan hutan Mangrove, juga bagaimana tekhnik perehabilitasian nya. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bagan batu , Juni 2015

Marjani harianto

Daftar isi

(3)

Daftar isi………ii

BAB I Pendahuluan………3

Rumusan masalah……….3

Tujuan penulisan………3

BAB II Hutan Bakau……….4

Pengertian hutan bakau………4

Klasifikasi hutan mangrove………..5

Jenis tumbuhan bakau………..6

Luas penyebaran………8

Fungsi hutan bakau………..9

Manfaat hutan bakau………11

Faktor penyebab Kerusakan kawasan mangrove……...12

Dampak lanjutan akibat pencemaran………14

Tekhnik rehabilitasi ……….15

BAB III Kesimpulan………17

Saran……….17

BAB I

(4)

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Berdasarkan keadaan tanahnya, hutan terbagi menjadi hutan rawa air-tawar atau hutan rawa (freshwater swamp-forest), hutan rawa gambut (peat swamp-forest), hutan rawa bakau atau hutan bakau (mangrove forest), hutan kerangas (heath forest), hutan tanah kapur

(limestone forest).

Dalam beberapa dekade keberadaan berbagai jenis hutan di Indonesia semakin terancam baik oleh bencana alam maupun aktivitas manusia.Hutan Bakau (mangrove) ikut terdegradasi. Meski kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai Indonesia tidak secepat hutan tropis, keberadaan bakau cukup memprihatinkan. Luas hutan bakau Indonesia pada tahun 1997 antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar. Kini hanya tersisa 40% hutan bakau yang masih baik di seluruh Indonesia.

Hutan bakau memiliki berbagai manfaat baik bagi alam itu sendiri maupun manusia. Karena pentingnya manfaat hutan bakau, maka penulis menyajikan pengetahuan mengenai kondisi hutan bakau saat ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak hutan bakau. Selain itu juga disampaikan cara melestarikan populasi hutan bakau.

1.2 Rumusan Masalah

Makalah ini akan memberikan penjelasan mengenai : 1. Pengertian hutan bakau

Tujuan penulisan makalah ini memberikan pengetahuan tentang pengertian hutah bakau, luas penyebaran hutan bakau, jenis tumbuhan bakau, manfaat hutan bakau, penyebab kerusakan, dan cara rehabilitasi hutan bakau.

BAB II

(5)

1.1.Pengertian Hutan Bakau

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu utmbuh danberkembangbiak di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.

Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Pada kawasan yang memiliki ombak yang kuat, benih tidak dapat tertanam dengan baik sehingga tidak dapat tumbuh akar.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

(6)

1.2.Klasifikasi Hutan Mangrove Berdasarkan Geomorfologi dan Jenis

tumbuhan Bakau

A.Klasifikasi Hutan Mangrove Berdasarkan Geomorfologi

Ada enam jenis hutan bakau berdasarkan geomorfologi. Jenis-jenis tersebut ialah:

1. Overwash mangrove forest

Mangrove merah merupakan jenis yang dominan di pulau ini yang sering dibanjiri dan dibilas oleh pasang, menghasilkan ekspor bahan organik dengan tingkat yang tinggi. Tinggi pohon maksimum adalah sekitar 7 meter.

2. Fringe mangrove forest

Mangrove fringe ini ditemukan sepanjang terusan air, digambarkan sepanjang garis pantai yang tingginya lebih dari rata-rata pasang naik. Ketinggian mangrove maksimum adalah sekitar 10 meter.

3. Riverine mangrove forest

Kelompok ini mungkin adalah hutan yang tinggi letaknya sepanjang daerah pasang surut sungai dan teluk, merupakan daerah pembilasan reguler. Ketiga jenis bakau, yaitu putih

(Laguncularia racemosa), hitam (Avicennia germinans) dan mangrove merah (Rhizophora

mangle) adalah terdapat di dalamnya. Tingginya rata- rata dapat mencapai 18-20 meter.

4. Basin mangrove forest

Kelompok ini biasanya adalah jenis yang kerdil terletak di bagian dalam rawa Karena tekanan runoff terestrial yang menyebabkan terbentuknya cekungan atau terusan ke arah pantai. Bakau merah terdapat dimana ada pasang surut yang membilas tetapi ke arah yang lebih dekat pulau, mangrove putih dan hitam lebih mendominasi. Pohon dapat mencapai tinggi 15 meter. 5. Hammock forest

(7)

Jenis komunitas ini secara khas ditemukan di pinggiran yang rendah. Semua dari tiga jenis ditemukan tetapi jarang melebihi 1.5 m ( 4.9 kaki). Nutrient merupakan faktor pembatas.

1.3.

Jenis Tumbuhan Bakau

Ada tiga jenis bakau yang biasa dijumpai di hutan-hutan bakau di Indonesia. Jenis-jenis tersebut ialah:

1. Bakau minyak

Memiliki nama ilmiah Rhizophora apiculata Bl. (atau sering pula disebut R. conjugata L.), bakau minyak juga disebut dengan nama bakau tandok, bakau akik, bakau kacang dan lain-lain. Tandanya, dengan warna kemerahan pada tangkai daun dan sisi bawah daun.

Bunga biasanya berkelompok dua-dua, dengan daun mahkota gundul dan kekuningan. Buah kecil, coklat, panjangnya 2 – 3,5 cm. Hipokotil dengan warna kemerahan atau jingga, dan merah pada leher kotiledon bila sudah matang. Panjang hipokotil sekitar 18 – 38 cm.

Menyukai tanah berlumpur halus dan dalam, yang tergenang jika pasang serta terkena pengaruh masukan air tawar yang tetap dan kuat. Menyebar mulai dari Sri Lanka, Semenanjung Malaya, seluruh Indonesia, sampai ke Australia tropis dan pulau-pulau di Pasifik.

2. Bakau kurap

Nama ilmiahnya adalah Rhizophora mucronata Poir. Juga disebut dengan nama-nama lain seperti bakau betul, bakau hitam dan lain-lain. Kulit batang hitam, memecah datar.

Bunga berkelompok, 4-8 kuntum. Daun mahkota putih, berambut panjang hingga 9 mm. Buah bentuk telur, hijau kecoklatan, 5 – 7 cm. Hipokotil besar, kasar dan berbintil, panjang 36 – 70 cm. Leher kotiledon kuning jika matang.

(8)

3. Bakau kecil

Pohon dengan satu atau banyak batang. Tidak seperti dua kerabatnya terdahulu yang dapat mencapai 30 m, bakau kecil hanya tumbuh sampai dengan tinggi sekitar 10 m. Nama ilmiahnya adalah Rhizophora stylosa Griff.

Bunga dalam kelompok besar, 8-16 kuntum, kecil-kecil. Daun mahkota putih, berambut panjang hingga 8 mm. Buah coklat kecil, panjang s/d 4 cm. Hipokotil berbintil agak halus, 20-35 cm (kadang-kadang 50 cm); leher kotiledon kuning kehijauan ketika matang.

Bakau ini menempati habitat yang paling beragam. Mulai dari lumpur, pasir sampai pecahan batu atau karang. Mulai dari tepi pantai hingga daratan yang mengering. Terutama di tepian pulau yang berkarang. Diketahui menyebar di Taiwan, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, dan Australia tropis. Di Indonesia didapati mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Menurut Tomlinson (1986) jenis tanaman bakau dapat dibagi ke dalam lima keluarga dengan genus yang berbeda-beda di setiapnya.

1. Acanthaceae, Avicenniaceae atau Verbenaceae (black mangrove)

Avicennia adalah sebuah genus pohon bakau. Jenis ini muncul di daerah muara, dan memiliki

akar napas. Jenis-jenis avicennia banyak terdapat di sebelah selatan Garis Balik Utara. Avicennia

dalam bahasa Indonesia disebut juga api-api. 2. Combretaceae (white mangrove)

Combretaceae adalah suatu keluarga dari tanaman berbunga. Keluarga ini mencakup sekitar 600 jenis pohon, shrubs, dan liana dalam 20 genera. Keluarga ini meliputi pohon Leadwood,

Combretum imberbe. Tiga genera, yaitu Conocarpus, Laguncularia dan Lumnitzera, tumbuh di

habitat mangrove. Combretaceae tersebar luas di daerah subtropis dan tropis. Beberapa anggota keluarga ini berguna konstruksi kayu, seperti idigbo dari Terminalia ivorensis.

3. Arecaceae (mangrove palm)

(9)

palem yang tidak memenuhi karakteristik di atas. Selain beragam secara morfologi, pohon kelapa juga mendiami hampir setiap habitat selain di pantai, dari hutan hujan sampai gurun.

4. Rhizoporaceae (red mangrove)

Rhizophoraceae merupakan sebuauh keluarga bakau yang terdiri dari tanaman-tanaman berbunga daerah tropis dan subtropis. Pohon bakau merupakan anggota yang paling terkenal, dari genus Rhizophora. Terdapat sekitar 120 spesies tersebar dalam 16 genera, kebanyakan di Asia dan Afrika.

5. Lythraceae (mangrove apple)

Lythraceae adalah sebuah keluarga tanaman yang terdiri tanaman berbunga. Keluarga ini beranggotakan 500-600 spesies kebanyakan jenis tumbuhan, dengan pohon dan beberapa shrubs, dalam 32 genera. Lythraceae memiliki persebaran di seluruh dunia, dengan sebagian besar spesies di daerah tropis tetapi di daerah beriklim sedang juga. Tanaman delima juga termasuk keluarga ini.

1.4.Luas dan Penyebaran

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia, dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia yang jumlahnya mencapai 18 juta hectare. Jumlah itu, setara dengan 3,8% dari total luas hutan di Indonesia secara keseluruhan, melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

(10)

1.5.Fungsi Hutan Bakau

Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut :

1. Habitat satwa langka

Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia

(Limnodrumus semipalmatus)

2. Pelindung terhadap bencana alam

Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.

3. Pengendapan lumpur

Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.

4. Penambah unsur hara

Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.

5. Penambat racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif

6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)

(11)

kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.

7. Sumber plasma nutfah

Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.

8. Rekreasi dan pariwisata

Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi obyek wisata alam antara lain di Sinjai (Sulawesi Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Pantai Padang, Sumatera Barat yang memiliki areal mangrove seluas 43,80 ha dalam kawasan hutan, memiliki peluang untuk dijadikan areal wisata mangrove.

Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.

9. Sarana pendidikan dan penelitian

Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.

10.Memelihara proses-proses dan sistem alami

Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.

11.Penyerapan karbon

(12)

bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.

12.Memelihara iklim mikro

Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.

1.6.Manfaat Hutan Bakau

A.Manfaat Hutan Bakau Bagi Perikanan

(13)

B.Manfaat Hutan Bakau Bagi Perekonomian

Berdasarkan kajian ekonomi terhadap hasil analisa biaya dan manfaat ekosistem hutan mangrove (bakau) ternyata sangat mengejutkan, di beberapa daerah seperti Madura dan Irian Jaya dapat mencapai triliunan rupiah, kata Asisten Deputi Urusan Eksosistem Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup, Dr LH Sudharyono.

Pada Workshop Perencanaan Strategis Pengendalian Kerusakan Hutan Mangrove se-Sumatera di Bandar Lampung terungkap bahwa hasil penelitian Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB-Bogor dengan Kantor Menteri Negara LH (1995) tentang hasil analisa biaya dan manfaat ekosistem hutan mangrove Hasilnya ternyata sangat mencengangkan, di Pulau Madura, diperoleh Total Economic Value (TEV) sebesar Rp 49 trilyun, untuk Irian Jaya Rp. 329 trilyun, Kalimantan Timur sebesar Rp. 178 trilyun dan Jabar Rp. 1,357 trilyun. Total TEV untuk seluruh Indonesia mencapai Rp. 820 trilyun.

Kayu bakau memiliki kegunaan yang baik sebagai bahan bangunan, kayu bakar, dan terutama sebagai bahan pembuat arang. Kulit kayu menghasilkan tanin yang digunakan sebagai bahan penyamak.

Sebagai kayu bakar, secara tradisional masyarakat biasa memakai jenis Xylocarpus (Nirih atau Nyirih). Sedangkan untuk bahan baku pembuat arang biasa dipakai Rhizophora sp., sedangkan penggunaan kulit kayu bakau untuk diambil tanninnya, hampir-hampir tidak terdengar lagi.

Satu lagi kegunaan kayu bakau, adalah untuk bahan kertas. Kayu bakau biasa dicincang dengan mesin potong menghasilkan serpihan kayu / wood chips. Menurut berita, jenis kertas yang dibuat dari kayu bakau adalah termasuk kertas kualitas tinggi.

(14)

1.7.Faktor Penyebab Kerusakan Kawasan Mangrove

Akar Permasalahan

 Kependudukan dan Kemiskinan

 Tingkat Konsumsi Berlebihan dan Kesenjangan Sumberdaya Alam

 Kelembagaan dan Penegakan Hukum

 Rendahnya Pemahaman tentang Ekosistem

 Kegagalan sistem Ekonomi dan Kebijakan dalam Penilaian Ekosistem

Penyebab rusaknya ekosistem mangrove antara lain :

1. Over eksploitasi

2. Penggunaan Teknik dan Peralatan Penangkapan Ikan yang merusak Lingkungan

 Alat Pengumpul Ikan: Harus dibatasi baik jumlah maupun ukuran agar tidak terjadi tangkap lebih dan

mengganggu daur hidup

 Bahan Peledak, Beracun, dan Pukat Harimau: Mematikan organisme lain yang bukan target,

Penggunaan bom 0,5 kg menghancurkan tk pd radius 3 m dan pd radius lbh dr 3 m Acropora patah-patah

3. Degradasi Fisik Habitat Hayati

4. Konversi Kawasan Perlindungan Laut

Pembangunan kawasan pemukiman

 Kegiatan rekreasi dan pariwisata

 Konversi mangrove untuk berbagai peruntukan

 Pembangunan berbagai industri

5. Perubahan Iklim Global dan Bencana Alam

 Bleaching

 Tsunami

(15)

7. penebangan kayu dan logging

8. penambangan minyak lepas pantai

9. pencemaran bibir pantai

10. urbanisasi dan perluasan wilayah

11. pembangunan jalan dan infrastruktur

1.8.Dampak Lanjutan akibat pencemaran

Pencemaran pada hutan bakau dapat menimbulkan dampak lanjutan sebagai berikut : 1. Sedimentasi

Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan.

2. Eutrofikasi

Eutrofikasi merupakan problem lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja.

3. Kekurangan Oksigen

4. Masalah Kesehatan Umum

(16)

1.9.Teknik Rehabilitasi

Secara garis besar alternatif rehabilitasi kawasan mangrove terbagi ke dalam dua lokasi sasaran, yakni (1) rehabilitasi pada areal jalur hijau mangrove dan (2) rehabilitasi pada areal di luar jalur hijau mangrove. Bentuk dan teknik rehabilitasi pada setiap daerah sasaran didasarkan kepada fungsi kawasan, kondisi biofisik sumberdaya mangrove dan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan mangrove.

1.Rehabilitasi pada Areal Jalur Hijau Mangrove

Areal jalur hijau mangrove berdasarkan Keppres No. 32 tahun 1990 berfungsi sebagai kawasan lindung, sehingga bentuk kegiatan rehabilitasi yang dilakukan pada areal jalur hijau mangrove ini harus mendukung fungsi lindung kawasan mangrove tersebut.

Bentuk kegiatan rehabilitasi pada jalur hijau mangrove yang mendukung fungsi lindungnya adalah kegiatan reboisasi (pada areal berstatus sebagai kawasan hutan) dan kegiatan penghijauan (pada areal berstatus sebagai kawasan non hutan/tanah milik) dengan jarak yang cukup rapat (1 x 1 m) dan dengan jenis pohon mangrove yang sesuai dengan kondisi biofisik areal jalur hijau mangrove pada masing-masing land system, seperti yang tertera pada Tabel 5.2. di atas.

Pada areal jalur hijau mangrove ini tidak dibenarkan adanya kegiatan selain dari kegiatan yang berhubungan dengan penanaman (reboisasi atau penghijauan), kecuali areal jalur hijau mangrove tersebut termasuk ke dalam kawasan hutan wisata. Untuk areal jalur hijau mangrove yang dikelola sebagai hutan wisata, bentuk kegiatan yang dibenarkan selain kegiatan penanaman adalah terbatas hanya pada pembuatan koridor yang berfungsi sebagai lalu lintas perahu atau

(17)

2.Rehabilitasi pada Areal di Luar Jalur Hijau Mangrove

Berdasarkan fungsinya, areal di luar jalur hijau mangrove terbagi atas (a) hutan lindung dan (b) hutan produksi/budidaya. Bentuk kegiatan rehabilitasi terhadap areal di luar jalur hijau ini harus disesuaikan dengan fungsi masing-masing lokasi sasaran.

a. Rehabilitasi pada Hutan Lindung

Pada areal di luar jalur hijau mangrove yang berfungsi sebagai hutan lindung bentuk kegiatan rehabilitasinya adalah kegiatan reboisasi pada kawasan yang kritis dengan jenis pohon mangrove yang sesuai dan dengan jarak tanam yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi sasaran. Pada kawasan hutan lindung ini, seperti halnya pada areal jalur hijau mangrove, tidak diperbolehkan adanya aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan reboisasi, kecuali kawasan hutan lindung tersebut termasuk areal yang dikelola sebagai hutan wisata. Untuk kawasan hutan lindung yang dikelola sebagai hutan wisata ini, aktivitas lain yang diperbolehkan terbatas hanya pada kegiatan pembuatan koridor yang berfungsi sebagai lalu lintas baik untuk perahu, speed boat, maupun untuk pejalan kaki.

b. Rehabilitasi pada Hutan Produksi/Budidaya

Status areal di luar jalur hijau mangrove yang berfungsi sebagai hutan produksi/ budidaya dapat berupa (1) kawasan hutan dan (2) kawasan non hutan/tanah milik. Oleh karenanya, rehabilitasi terhadap lokasi ini selain harus memperhatikan kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan, juga harus memperhatikan status kawasan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadinya tumpang tindih pihak yang berwenang melakukan pengelolaan terhadap suatu kawasan. Walaupun demikian, faktor yang sangat penting dalam penentuan bentuk kegiatan rehabilitasi kawasan mangrove yang berfungsi sebagai hutan produksi/budidaya ini adalah faktor kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.

(18)

kawasan mangrove, seperti Jakarta dan ibu kota propinsi. Oleh karena itu, pola rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak tersebut harus dapat mengkombinasikan kelestarian sumberdaya mangrove dan ekosistemnya dengan usaha pertambakan. Untuk saat ini, pola rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak tersebut yang memenuhi persyaratan di atas adalah pola pengelolaan dengan sistem sylvofishery, baik dengan model empang parit, model komplangan maupun model jalur tanaman dalam tambak.

Perbandingan luas antara hutan mangrove dan tambak pada sistem sylvofishery didasarkan pada status kawasan mangrove, kondisi tegakan dan tujuan pengelolaan. Untuk menentukan perbandingan luas antara hutan mangrove dan tambak yang optimal sangat diperlukan pengkajian lebih lanjut. Walaupun demikian, untuk saat ini, berdasarkan uji coba yang telah dilakukan Perum Perhutani, ada 2 (dua) macam perbandingan hutan mangrove dengan tambak yang dianggap dapat menjamin kelestarian sumberdaya mangrove dan ekosistemnya serta kelangsungan usaha pertambakan, yakni (1) 80 : 20, dimana 80 % luas areal yang dikelola harus tetap berupa hutan mangrove dan 20 % berupa tambak dan (2) 30 : 70, dimana 30 % dari luas areal yang dikelola berupa hutan mangrove dan 70 % berupa tambak.

Perbandingan hutan mangrove dan tambak sebesar 80 : 20 diterapkan pada hutan mangrove yang masih utuh , baik yang berada di dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan/tanah milik. Perbandingan ini lebih menekankan kepada aspek kelestarian sumberdaya mangrove dan ekosistemnya daripada hasil tambak, berupa ikan atau udang.

(19)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1.Kesimpulan

Alam memiliki siklus regenerasi yang seimbang. Adanya campur tangan manusia menyebabkan percepatan kerusakan lingkungan. Terdapat berbagai cara untuk merehabilitasi lingkungan yang telah rusak, namun dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengembalikan lingkungan seperti sedia kala. Selain itu kondisinya tidak akan lebih baik dibandingkan apa yang dikerjakan alam secara alami.

Contohnya adalah hutan bakau di Indonesia yang hanya dalam 13 tahun luasnya berkurang mencapai 60%. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena hutan bakau memiliki peranan penting bagi ekosistem maupun manusia.

Oleh karena itu sebagai generasi pewaris bumi kita perlu melestarikan keberadaan hutan bakau untuk kehidupan manusia yang akan datang. Cara-cara tersebut antara lain dengan menghentikan segala bentuk aktivitas yang dapat merusak hutan bakau dan melakukan usaha rehabilitasi.

1.2.Saran

(20)

DAFTAR PUSTAKA

http://acehpedia.org/Klasifikasi_Hutan_Mangrove_Berdasarkan_Geomorfologi (28 Desember 2010)

http://ajiputrap.blogspot.com/2010/12/mangrove-di-indonesia-yang-kaya.html (27 Desember 2010)

http://forum.detik.com/nasib-hutan-mangroove-di-indonesia-t89301.html (27 Desember 2010) http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan (27 Desember 2010)

http://matanews.com/2010/12/21/berwisata-sambil-melestarikan-lingkungan/ (27 Desember 2010)

http://purboari.blogspot.com/2009/10/hutan-mangrove.html (27 Desember 2010) http://sovia-rini-biologi.blogspot.com/ (27 Desember 2010)

http://stuffsandhopes.blogspot.com/2009/05/bakau-dan-persebarannya-di-indonesia.html (27 Desember 2010)

http://web.ipb.ac.id/~mujizat/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=40 (27 Desember 2010)

http://www.epa.qld.gov.au/wetlandinfo/site/SupportTools/MonitoringExtentAndCondition/ Stressormodeloverview/OrganicMatter/Condition.html (27 Desember 2010)

http://www.jochemnet.de/fiu/OCB3043_37.html (27 Desember 2010)

http://www.oceanclimatechange.org.au/content/index.php/site/background_extended/ australias_marine_life/ (27 Desember 2010)

http://www.proseanet.org/florakita/browser.php?docsid=745 (27 Desember 2010)

Referensi

Dokumen terkait

Toru Blok Barat terdapat stasiun penelitian yang termasuk dalam kawasan hutan.. lindung dengan luas areal sekitar 2.400

Penunjukan kawasan hutan adalah penunjukan suatu kawasan/wilayah/areal tertentu baik secara parsial atau dalam wilayah provinsi dengan Keputusan Menteri Kehutanan

Persepsi masayarakat tentang pemanfaatan hutan mangrove yakni : : sebagian besar konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan; , dari segi ekonomi tidak mempunyai

Dari kedua propinsi ini, propinsi Gorontalo lebih memiliki karakteristik wilayah sebagai kawasan lindung, karena dalam propinsi ini, hutan lindung, hutan suaka alam dan

Hasil tersebut tidak dapat dikategorikan besar, namun lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan di kawasan hutan mangrove Subelen, Siberut

MJR tidak terletak pada areal Hutan Tanaman Hasil Reboisasi (HTHR), tetapi terletak pada areal kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) yang telah dilepaskan

MJR tidak terletak pada areal Hutan Tanaman Hasil Reboisasi (HTHR), tetapi terletak pada areal kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) yang telah dilepaskan untuk

rusakan hutan saat ini tidak hanya terjadi di kawasan hutan produksi dan hutan konservasi tetapi juga sudah merambah pada kawasan hutan lindung. Pada hal, hu­ tan lindung