• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK PERSEDIAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK PERSEDIAAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SEMINAR

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

PERSEDIAAN

MADE GDE SATRIA BELA

A31115753

S1 STAR-BPKP BATCH 2

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan

karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan modul akuntansi forensik ini. Terima kasih

sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Bapak Dosen Dr. H. Arifuddin, S.E., M.Si., Ak.

CA yang telah memberikan bimbingan dan pembelajaran komprehensif kepada penulis.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat menambah wawasan dan memperluas ilmu

tentang akuntansi sektor publik yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai

sumber, khususnya akuntansi pemerintahan. Kami berharap makalah ini dapat membantu

mahasiswa dalam mempelajari dan memahami konsep dan implementasi dari akuntansi

sektor publik secara lebih mendalam sehingga memberikan manfaat dan kontribusi bagi

perkembangan ilmu akuntansi sektor publik.

Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan

jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi

perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada

sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Makassar, September 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ...ii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. LATAR BELAKANG... 1

B. RUANG LINGKUP... 1

C. TUJUAN ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. GAMBARAN UMUM... 3

1. Definisi Persediaan ... 3

2. Klasifikasi... 3

B. PENGAKUAN... 4

1. Pengakuan Persediaan... 4

2. Pengakuan Beban Persediaan... 4

3. Selisih Persediaan ... 5

C. PENGUKURAN ... 5

D. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN ... 6

1. Metode Perpetual ... 6

2. Metode Periodik... 6

E. SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN ... 7

1. Pihak-Pihak Yang Terkait... 7

2. Dokumen Yang Digunakan ... 8

3. Jurnal Standar ... 8

F. PENYAJIAN ... 12

G. PENGUNGKAPAN ... 12

BAB III PENUTUP... 13

A. KESIMPULAN ... 13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan,

yang berbasis akrual, mengatur bahwa pendapatan diakui pada saat timbulnya hak atas

pendapatan tersebut atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi dan beban diakui pada

saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi aset atau terjadinya penurunan manfaat

ekonomi atau potensi jasa sedangkan belanja diakui berdasarkan terjadinya pengeluaran dari

rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan.

Definisi aset menurut PSAP 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan, adalah sumber

daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa

masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat

diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang,

termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi

masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan

budaya.

Paragraf 90 Kerangka Konseptual SAP menjelaskan bahwa aset diakui pada saat

potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau

biaya yang dapat diukur dengan andal. Sejalan dengan penerapan basis akrual, Paragraf 91

menjelaskan bahwa aset dalam bentuk piutang atau beban dibayar di muka diakui ketika hak

klaim untuk mendapatkan arus kas masuk atau manfaat ekonomi lainnya dari entitas lain telah

atau tetap masih terpenuhi, dan nilai klaim tersebut dapat diukur atau diestimasi.

Salah satu aset yang ada di dalam neraca adalah persediaan. Persediaan adalah aset

lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung

kegiatan operasional pemerintah, dan barang barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau

diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Dengan memperhatikan latar belakang di atas, maka dirasakan perlunya makalah

tentang Persediaan, untuk memberikan panduan agar terdapat kesamaan pemahaman

tentang cara mengindentifikasi, mengukur, dan menyajikan pos persediaan, baik oleh

penyusun laporan, pengguna laporan, dan institusi yang melakukan audit atas Laporan

Keuangan Pemerintah.

B. RUANG LINGKUP

Makalah Akuntansi Persediaan ini secara khusus mempelajari akuntansi persediaan

(5)

persediaan dalam laporan keuangan untuk tujuan umum, serta untuk seluruh entitas

pemerintah pusat dan daerah tidak termasuk perusahaan negara/daerah.

C. TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran

mengenai akuntansi persediaan pada umumnya, khususnya dalam proses mengakui,

mengukur, menyajikan, dan mengungkapkan persediaan dan peristiwa/kejadian/transaksi

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM

1. Definisi Persediaan

PSAP Nomor 05 Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 menyatakan bahwa

persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan

untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan

untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

2. Klasifikasi

Suatu aset dapat diklasifikasikan sebagai persediaan manakala aset tersebut

memenuhi salah satu kriteria yang disebutkan dalam PSAP Nomor 05, yaitu:

a. Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah. Termasuk dalam kelompok ini adalah barang pakai habis seperti alat tulis

kantor, barang tak pakai habis seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas

pakai seperti komponen bekas;

b. Bahan atau perlengkapan (supplies) yang akan digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam kelompok ini meliputi bahan yang digunakan dalam proses produksi

seperti bahan baku pembuatan alat-alat pertanian, dan lain-lain;

c. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada

masyarakat. Contoh persediaan yang termasuk dalam kelompok ini adalah alat-alat

pertanian setengah jadi;

d. Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka

kegiatan pemerintahan. Contohnya adalah hewan/tanaman.

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk

digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak habis pakai

seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas.

Dalam hal pemerintah memproduksi sendiri, persediaan juga meliputi bahan yang

digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku pembuatan alat-alat pertanian. Barang

hasil proses produksi yang belum selesai dicatat sebagai persediaan, contohnya alat-alat

pertanian setengah jadi.

Dalam hal pemerintah menyimpan barang untuk tujuan cadangan strategis seperti

cadangan energi (misalnya minyak) atau untuk tujuan berjaga-jaga seperti cadangan pangan

(7)

Persediaan dalam kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca, tetapi

diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Dalam Bagan Akun Standar Permendagri Nomor 64 Tahun 2013, persediaan

diklasifikasikan sebagai berikut:

B. PENGAKUAN

1. Pengakuan Persediaan

Persediaan diakui (a) pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh

pemerintah daerah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal, (b) pada

saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

Pada akhir periode akuntansi catatan persediaan disesuaikan dengan hasil

inventarisasi fisik.

2. Pengakuan Beban Persediaan

Terdapat dua pendekatan pengakuan beban persediaan, yaitu pendekatan aset dan

(8)

1) Dalam pendekatan aset, pengakuan beban persediaan diakui ketika persediaan telah

dipakai atau dikonsumsi. Pendekatan aset digunakan untuk persediaan-persediaan yang

maksudpenggunaannya untuk selama satu periode akuntansi, atau untuk maksud

berjaga-jaga. Contohnya antara lain adalah persediaan obat di rumah sakit, persediaan di

sekretariat SKPD.

2) Dalam pendekatan beban, setiap pembelian persediaan akan langsung dicatat sebagai

beban persediaan. Pendekatan beban digunakan untuk persediaan-persediaan yang

maksud penggunaannya untuk waktu yang segera/tidak dimaksudkan untuk sepanjang

satu periode. Contohnya adalah persediaan untuk suatu kegiatan.

3. Selisih Persediaan

Sering kali terjadi selisih persediaan antara catatan persediaan menurut bendahara

barang/pengurus barang atau catatan persediaan menurut fungsi akuntansi dengan hasil

stock opname. Selisihpersediaan dapat disebabkan karena persediaan hilang, usang,

kadaluarsa, atau rusak.

Jika selisih persediaan dipertimbangkan sebagai suatu jumlah yang normal, maka

selisih persediaan ini diperlakukan sebagai beban.

Jika selisih persediaan dipertimbangkan sebagai suatu jumlah yang abnormal, maka

selisih persediaan ini diperlakukan sebagai kerugian daerah.

C. PENGUKURAN

Persediaan disajikan sebesar:

1) Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian. Biaya perolehan persediaan

meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang

secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat,

dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan.

2) Harga pokok produksi apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri. Harga pokok

produksi persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang

diproduksi dan biaya tidak langsung yang dialokasikan secara sistematis.

3) Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi. Harga/nilai wajar

persediaan meliputi nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar pihak yang

memahami dan berkeinginan melakukan transaksi wajar (arm length transaction).

Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan dinilai dengan menggunakan

nilai wajar.

Persediaan dinilai dengan menggunakan (Metode Masuk Pertama Keluar

(9)

persediaan nilainya tidak material dan bermacam-macam jenis). Harga pembelian terakhir

(nilai sesuai dengan barang persediaan yang dibeli terakhir kali) jika persediaan dicatat secara

periodik berdasarkan hasil inventarisasi. Metode FIFO (Fisrt In First Out) jika persediaan dicatat secara perpetual. Metode FIFO adalah metode pengukuran nilai persediaan dimana

persediaan yang pertama kali masuk itulah yang pertama kali dicatat sebagai barang yang

digunakan.

D. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN

Persediaan dicatat dengan metode perpetual/periodik.

1. Metode Perpetual

Dalam metode perpetual, fungsi akuntansi selalu mengkinikan nilai persediaan setiap

ada persediaan yang masuk maupun keluar. Metode ini digunakan untuk jenis persediaan

yang berkaitan dengan operasional utama di SKPD dan membutuhkan pengendalian yang

kuat. Contohnya adalah persediaan obat-obatan di RSUD, persediaan pupuk di dinas

pertanian, dan lain sebagainya. Dalam metode perpetual, pengukuran pemakaian persediaan

dihitung berdasarkan catatan jumlah unit yang dipakai dikalikan dengan nilai per unit sesuai

metode penilaian yang digunakan. Prosedur akuntansi metode periodik adalah sebagai

berikut.

1) Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD atas pembelian barang persediaan, PPK

SKPD akan mencatat Belanja Bahan Habis Pakai.

2) Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK SKPD akan mencatat Perseidaan dan RK PPKD pengakuan Piutang.

3) Berdasarkan bukti memorial, pada saat penggunaan/pemakaian persediaan, PPK

SKPD akan mencatat pengakuan Beban Persediaan dan pengurangan Persediaan.

4) Persediaan akhir merupakan saldo Persediaan awal ditambah pembelian dikurangi

pemakaian Persediaan selama tahun berjalan.

2. Metode Periodik

Dalam metode periodik, fungsi akuntansi tidak langsung mengkinikan nilai persediaan

ketika terjadi pemakaian. Jumlah persediaan akhir diketahui dengan melakukan perhitungan

fisik (stock opname) pada akhir periode. Pada akhir periode inilah dibuat jurnal penyesuaian

untuk mengkinikan nilai persediaan. Metode ini dapat digunakan untuk persediaan yang

sifatnya sebagai pendukung kegiatan SKPD, contohnya adalah persediaan ATK di sekretariat

SKPD. Dalam metode ini, pengukuran pemakaian persediaan dihitung berdasarkan

inventarisasi fisik, yaitu dengan cara saldo awal persediaan ditambah pembelian atau

(10)

dengan metode penilaian yang digunakan. Prosedur akuntansi metode periodik adalah

sebagai berikut.

1) Pada awal tahun, berdasarkan Bukti Memorial, PPK-SKPD mencatat pengakuan

Beban Perseidaan dan pengurangan Persediaan atas persediaan awal pada

neraca.

2) Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK-SKPD akan mencatat pengakuan Beban Persediaan dan RK PPKD pengakuan Utang. Berdasarkan

tembusan SP2D tersebut, PPK SKPD juga akan mencatat Belanja Bahan Habis

Pakai.

3) Pemakaikan persediaan pada periode berjalan tidak dibukukan.

4) Pada akhir tahun, berdasarkan tembusan berita acara hasil opname fisik persediaan

dari bagian gudang, PPK SKPD akan melakukan pencatatan Persediaan (akhir) dan

pengurangan Beban Persediaan.

E. SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN

Akuntasi Persediaan pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaoran atas

transaksi-transaksi yang terkait dengan Persediaan. Terdapat dua metode yang mempengaruhi sistem

dan prosedur akuntansi persediaan seperti yang di jelaskan pada subbab sebelumnya, yaitu

metode perpetual dan periodik.

1. Pihak-Pihak Yang Terkait

Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi persediaan antara lain adalah:

a. Bendahara Barang atau Pengurus Barang

Dalam sistem akuntansi persediaan, bendahara barang/pengurus barang bertugas

untuk menyiapkan dan menyampaikan dokumendokumen atas pengelolaan persediaan.

b. Bendahara Pengeluaran

Dalam sistem akuntansi persediaan, bendahara pengeluaran bertugas untuk

menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas transaksi tunai yang berkaitan

dengan persediaan.

c. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat pelaksana teknis kegiatan bertugas untuk

menyiapkan dokumen atas beban pengeluaran pelaksanaan pengadaan persediaan.

d. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD

Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat penatausahaan keuangan SKPD bertugas

untuk melakukan proses akuntansi persediaan yang dimulai dari jurnal hingga penyajian

(11)

2. Dokumen Yang Digunakan

Dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi persediaan antara lain

adalah:

a. Bukti Belanja Persediaan

Dokumen ini merupakan dokumen sumber untuk melakukan jurnal pengakuan beban

persediaan dan belanja persediaan dengan cara pembayaran UP.

b. Berita Acara Serah Terima Barang

Dokumen ini merupakan dokumen sumber untuk melakukan jurnal atas pengakuan

beban persediaan dengan cara pembayaran LS.

c. Berita Acara Pemeriksaan Persediaan

Dokumen ini merupakan dokumen sumber untuk melakukan jurnal penyesuaian untuk

pengakuan beban persediaan setelah dilakukannyastock opname. d. SP2D LS

Dokumen ini merupakan dokumen sumber untuk pengakuan belanja persediaan

dengan cara pembayaran LS.

3. Jurnal Standar

a. Pencatatan Persediaan dengan Metode Periodik

Pembelian persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan UP (Uang Persediaan)

maupun LS (Langsung). Ketika SKPD melakukan pembelian persediaan dengan

menggunakan UP, bendahara pengeluaran SKPD akan menyerahkan bukti belanja

persediaan kepada PPK SKPD. Bukti transaksi ini akan menjadi dasar bagi PPK SKPD untuk

melakukan pengakuan persediaan. PPK SKPD akan mencatat jurnal:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Persediaan xxx

xxx Kas Di Bendahara Pengeluaran xxx

Jurnal LRA

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Belanja Persediaan xxx

(12)

Jika SKPD melakukan pembelian persediaan dengan menggunakan LS, pengakuan

persediaan dilakukan berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang. Berita Acara Serah

Terima Barang tersebut menjadi dasar bagi PPK-SKPD untuk menjurnal:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Persediaan xxx

xxx Utang Belanja Barang dan Jasa xxx

Ketika SP2D LS untuk pembayaran persediaan telah terbit, PPK-SKPD akan

menghapus utang belanja dengan menjurnal:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Utang Belanja Barang dan Jasa xxx

xxx RK PPKD xxx

xxx xxx xxx Belanja Persediaan xxx

xxx Perubahan SAL xxx

Pada akhir periode (bulanan, triwulanan, semesteran), sebelum menyusun laporan

keuangan, bagian gudang akan melakukan stock opname untuk mengetahui sisa persediaan

yang dimiliki. Berdasarkan berita acara hasil perhitungan persediaan akhir tahun (stock opname), PPK-SKPD akan menjurnal sebagai berikut:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Beban Persediaan xxx

xxx Persediaan xxx

*Sebesar persediaan yang dipakai

b. Pencatatan Persediaan dengan Metode Perpetual

Ketika SKPD melakukan pembelian persediaan dengan menggunakan UP, bendahara

pengeluaran SKPD akan menyerahkan bukti belanja persediaan kepada PPK SKPD. Bukti

(13)

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Persediaan xxx

xxx Kas Di Bendahara Pengeluaran xxx

Jurnal LRA

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Belanja Persediaan xxx

xxx Perubahan SAL xxx

Jika SKPD melakukan pembelian persediaan dengan menggunakan LS, pengakuan

persediaan dilakukan berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang. Berita Acara Serah

Terima Barang tersebut menjadi dasar bagi PPK-SKPD untuk menjurnal:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Persediaan xxx

xxx Utang Belanja Barang dan Jasa xxx

Ketika SP2D LS untuk pembayaran persediaan terbit, PPK-SKPD akan menjurnal:

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Utang Belanja Barang dan Jasa xxx

xxx RK PPKD xxx

xxx xxx xxx Belanja Persediaan xxx

xxx Perubahan SAL xxx

Berdasarkan dokumen yang menjelaskan penggunaan/pemakaian persediaan (untuk

metode perpetual), seperti Kartu Inventaris Barang (KIB), Buku Inventaris (BI), dan kartu

(14)

Jurnal LO dan Neraca

Tanggal Nomor Bukti

Kode

Rekening Uraian Debet Kredit

xxx xxx xxx Beban Persediaan xxx

xxx Persediaan xxx

Jurnal standar dari setiap jenis transaksi terkait persediaan tersebut secara ringkas

dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Jurnal Standar Persediaan dengan Sistem Pencatatan Periodik

(15)

F. PENYAJIAN

Persediaan disajikan sebagai bagian dari aset lancar. Berikut ini adalah contoh

penyajian persediaan dalam Neraca Pemerintah Daerah.

G. PENGUNGKAPAN

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah mengungkapkan:

1) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;

2) penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan

dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses

produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan

barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau

diserahkan kepada masyarakat; dan

3) jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang.

Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca, tetapi

diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Persediaan bahan baku dan

perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola untuk membangun aset tetap dibebankan ke

(16)

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Aset dalam bentuk barang atau perlengkapan (supplies) yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah atau barang-barang yang dimaksudkan

untuk dijual dan atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat dalam kurun

waktu 12 bulan dari tanggal pelaporan. Persediaan dapat terdiri dari:

a. Barang konsumsi;

b. Amunisi;

c. Bahan untuk pemeliharaan;

d. Suku cadang;

e. Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga;

f. Pita cukai dan leges;

g. Bahan baku;

h. Barang dalam proses/setengah jadi;

i. Tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;

j. Hewan dan tanaman, untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.

Prinsip Pengakuan dan Pengukuran:

1) Persediaan dinilai dengan perhitungan fisik pada akhir periode.

2) Persediaan yang berasal dari pembelian, maka di nilai berdasarkan Biaya perolehan.

3) Persediaan yang diperoleh dengan memproduksi sendiri maka dinilai berdasarkan biaya

Standar.

4) Persediaan yang diperoleh dengan cara lain seperti hibah atu rampasan dinilai sebesar

Nilai wajar.

5) Saldo persediaan tersebut dihitung berdasarkan harga pembelian terakhir.

Sistem dan prosedur akuntansi persediaan terdiri dari metode periodik dan metode

perpetual. Dalam metode perpetual, fungsi akuntansi selalu mengkinikan nilai persediaan

setiap ada persediaan yang masuk maupun keluar. Dalam metode periodik, fungsi akuntansi

tidak langsung mengkinikan nilai persediaan ketika terjadi pemakaian. Jumlah persediaan

akhir diketahui dengan melakukan perhitungan fisik (stock opname) pada akhir periode. Penyajian Persediaan dilaporkan dalam Neraca dan diungkapkan dalam Catatan atas

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Buku II Sistem Dan Prosedur Akuntansi Pemerintah Daerah Berbasis Akrual. 2014. Deputi

Pengawasan Bidang Penyelengkaraan Keuangan Daerah. BPKP

Lampiran I Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Modul Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah dan SKPD. 2014. Direktorat Jenderal

Perimbangan Keuangan. Kementerian Keuangan.

Modul 1 Konsep Dan Siklus Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian Dalam Negeri.

Modul 2 pengantar Ilustrasi Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian

Dalam Negeri.

Modul 3 Pengantar Modul Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian Dalam

Negeri.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Sistem

Akuntansi Pemerintahan.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar

Referensi

Dokumen terkait

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yg dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yg dimaksudkan

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah$ dan barang#barang yang dimaksudkan untuk

Dan Rp.236.000,00 Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau perlengkapan (supplies) pada tanggal neraca yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung

Bahan/ perlengkapan (Supplies) yang akan digunakan dalam proses produksi;.. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;

Dan menurut Meneg PPPA nomor 17 tahun 2012, persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang diperoleh, disimpan, dan didistribusikan untuk

Bahan/ perlengkapan (Supplies) yang akan digunakan dalam proses produksi;.. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang

PERSEDIAAN YANG DIAKUI ASET PEMERINTAH INGOUDE COMPANY 1.Barang atau perlengkapan supplies yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah 2.Bahan atau perlengkapan