KEMENTERIAN DALAM NEGERI
Drs. Hamdani, MM, M.Si, Ak, CA
Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Pembangunan
Disampaikan pada acara Rapat Koordinasi Nasional
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2016
Pekanbaru , 25 Agustus 2016
PENINGKATAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN BARANG MILIK NEGARA (BMN) PADA
SATKER DK/TP
DITJEN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PENCATATAN
SIPIL KEMENDAGRI
S U M A T ER A KA L I M A N T A N
J A V A
DASAR HUKUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAN
BMN DANA DEKON & TP
•
UU Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan•
PP No. 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah;PP No. 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;•
PP No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.•
PP No. 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewengan serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi yang disempurnakan dengan PP 23 Tahun 2011•
PP No. 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah•
PMK 156 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan yang disempurnakan dengan PMK 248 Tahun 2010•
PMK Nomor PMK 213/PMK.05/2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.•
PMK Nomor PMK 50/PMK.06/2014 tentangTata Cara Pelaksanaan Penghapusan Barang Milik Negara.•
PMK Nomor PMK 246/PMK.06/2014 tentangTata Cara Pelaksanaan Penggunaan Barang Milik Negara.•
PMK Nomor PMK 4/PMK.06/2015 tentang Pendelegasian Kewenangan dan Tanggung Jawab tertentu dari Pengelola Barang kepada Pengguna Barang.•
PMK Nomor PMK 177/PMK.05/2015 tentang Pedoman Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga.IMPLEMENTASI PELAKSANAAN UU NOMOR 24 TAHUN 2013
Pendanaan untuk program dan
kegiatan administrasi
kependudukan dibebankan pada
APBN
Ps. 87A.
dialokasikan melalui dana dekonsentrasi
untuk provinsi, dan dana tugas
pembantuan (TP) untuk Kabupaten/Kota
LAPORAN
Kepala
Satker
Kepala
Satker
Kuasa BUN Kuasa BUN Pengguna Anggaran (PA) Pengguna Anggaran (PA)Kuasa
PA
Kuasa
PA
BENDAHAR A BENDAHARA PPKPPK PPSPMPPSPM
delegatif
Perintah
bayar
Tanggungjawab Fungsionaldelega
tif
penugasanPRESIDEN
PRESIDEN
Mente
ri
Mente
ri
Perintah bayar Menteri Keuangan KPPNEx Officio
Bendahara Umum Negara (BUN)
BUN BUN
KUASA BUN KUASA
BUN
PA PA
KUASA PA KUASA PA
BENDAHAR A
BENDAHAR
A PPSPMPPSPM PPKPPK
delegatif
Perintah bayar Fungsional
PEJABAT PERBENDAHARAAN
delegati f
penugasan
PRESIDEN PRESIDEN
Ka Satker
PENGUJIAN TAGIHAN ATAS BEBAN APBN
•Wetmatigheid (Sah Menurut Aturan), , Pengujian wetmatigheid dilakukan untuk mencari tahu terhadap jawaban atas pertanyaan, apakah tagihan atas beban anggaran belanja negara itu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku atau tidak, dan apakah dana yang digunakan untuk membayar tagihan atas beban anggaran belanja negara itu tersedia dalam DIPA/DPA atau tidak.
•Rechtmatigheid (Sah Menurut Administrasi), , Pengujian rechmatigheid dilakukan untuk mencari tahu terhadap jawaban atas pertanyaan, apakah para pihak yang mengajukan tagihan atas beban anggaran belanja negara itu secara formal adalah sah. Untuk keperluan pengujian rechmatigheid ini, maka kepada para pihak penagih diminta untuk menunjukkan adanya surat-surat bukti, sehingga tagihan dapat dipertanggungjawabkan. Surat-surat bukti ini antara lain meliputi Surat Perintah Kerja, Surat Perjanjian/Kontrak, Kuitansi, Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan dan lain sebagainya
•Doelmatigheid (Sah Menurut Fisik/Material) , Pengujian Doelmatigheid dilakukan untuk mencari tahu terhadap jawaban atas pertanyaan, apakah maksud/tujuan (output) dari suatu pekerjaan sebagai pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan itu sesuai dengan sasaran/keluaran kegiatan dan indikator keluaran Sub Kegiatan yang tertuang dalam DPA atau tidak. Sebagai contoh, apabila ada pekerjaan pengadaan barang/jasa, maka hasil pengadaan berupa sejumlah (satuan) barang/jasa memang nyata-nyata ada sesuai dengan spesifikasi yang diminta dalam SPK/Kontrak. Termasuk juga pengujian adanya pemborosan atau tidak, sebagai contoh untuk perjalanan dinas yang tidak terlalu prioritas, dan atau pembelian/penggantian ban kendaraan yang masih baru/layak digunakan.
•Pengujian Rechmatigheid dan Wetmatigheid PPSPM dan Bendahara kebenaran formiil atau secara administrasi .
PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN
DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN
Pertanggungjawaban
dan Pelaporan DK/TP
Aspek Manajerial
Aspek AkuntabilitasRealisasi Penyerapan Dana
Pencapaian Target Keluaran
Kendala yang dihadapi
Saran tindak lanjut
Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Operasional
Catatan atas Laporan Keuangan
Laporan Barang Milik Negara
Neraca
SISTEM AKUNTANSI INSTANSI BERBASIS
AKRUAL (SAIBA
Prosedur dalam siklus akuntansi
yang dilaksanakan pada lingkup
K/L yang dalam pelaksanaannya
memproses transaksi keuangan,
barang, dan transaksi lainnya
untuk
menghasilkan
laporan
keuangan yang dapat bermanfaat
bagi pengguna laporan keuangan
Formulir
Dokumen
Sumber
Formulir
Dokumen
Sumber
Jurnal
Jurnal
Buku
Besar
Buku
Besar
Buku
Pembant
u
Buku
Pembant
u
Laporan
Laporan
LR
A
LR
A
LO
LO
LP
E
LP
E
Nerac
a
Nerac
STRUKTUR SAIBA
Diselenggarakan
oleh
Kementerian
Negara/Lembaga menggunakan Sistem
Aplikasi Terintegrasi
SAIB
A
SAIB
A
Akuntansi dan
Pelaporan
Keuangan
Akuntansi dan
Pelaporan
Keuangan
Akuntansi dan
Pelaporan
Barang Milik Negara
Akuntansi dan
Pelaporan
Barang Milik Negara
KELUARAN
KELUARAN
Laporan Keuangan dan laporan
barang
kementerian
negara/lembaga
Laporan Keuangan dan laporan
barang
kementerian
PENGELOLAAN BMN DALAM SIKLUS KEUANGAN
NEGARA
PENGANGGA RAN
PENGELOL AAN
BMN
Perencanaan
Kebutuhan dan
penganggaran
Pengadaan
Penggunaan
Pengamanan dan
pemeliharaan
Penghapusan
Pemusnahan
Pembinaa n,
pengawas an, dan pengenda
DEFINISI DAN JENIS-JENIS PERSEDIAAN
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau
perlengkapan yg dimaksudkan untuk mendukung kegiatan
operasional
pemerintah,
dan
barang-barang
yg
dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat
PENYAMPAIAN DATA LBP (
audited)
KEPADA SATKER
1. Sesuai koreksi hasil pemeriksaan BPK per eselon I,
Koordinator
Eselon
I
berkoordinasi
dan
menyampaikan koreksi BPK dimaksud kepada
satker
dibawahnya
sebagai
bahan/dasar
penyesuaian/perbaikan atas data LBKP (
unaudited
)
menjadi data LBKP (
audited)
;
2. Setelah adanya koreksi hasil pemeriksaan BPK,
satker WAJIB melakukan penyesuaian/perbaikan
data sesuai koreksi BPK dan menyusun LBKP
(
audited);
3. Data LBKP (
audited)
tersebut secara berjenjang
disampaikan kepada Koordinator Eselon I sebagai
bahan penyusunan LBP-E1 (
audited);
4. Koordinator Eselon I menyampaikan data LBP-E1
(
audited)
kepada kooridnator K/L sebagai bahan
penyusunan LBP (
audited).
MITIGASI RISIKO
Dalam hal terdapat kondisi khusus (misalnya waktu yang
sempit dan satker yang banyak) maka Eselon I kiranya
mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar K/L
dapat menyajikan LBP (
audited
) tepat waktu, antara lain
sebagai berikut:
1.
Bertindak
sebagai
satker
melakukan
penyesuaian/perbaikan atas data LBKP (
unaudited
)
menjadi LBKP (
audited),
untuk selanjutnya data LBKP
(
audited
) tersebut didistribusikan kepada satker dan
satker WAJIB menggunakan data dimaksud dalam
menatausahakan BMN selanjutnya; atau
2.
Koordinator Eselon I memanggil dan mengumpulkan
seluruh satker untuk melakukan penyesuaian/perbaikan
atas data LBKP (
unaudited
) menjadi data LBKP
(
audited)
di tempat dan waktu yang sama (serentak);
PEMUTAKHIRAN DATA LBKP (
audited
) KE KPKNL
1.
Ketentuan PMK 69/PMK.06/2016 Pasal 10 ayat (2)
menentukan
bahwa
K/L
dapat
melakukan
perubahan/koreksi Saldo Awal BMN dalam rangka
penyesuaian data BMN dengan data BMN yang
tercantum dalam LKPP (
audited
) periode sebelumnya.
2.
Selaras dengan ketentuan tersebut di atas, setelah
Satker menyusun LBKP (
audited
), maka Satker
melakukan
rekonsiliasi
data
BMN
(perbaikan)/pemutakhiran data BMN ke KPKNL
setempat dalam hal terdapat pergerakan data LBKP
akibat dari koreksi BPK.
3. Upaya-upaya sebagaimana tersebut di atas
dilaksanakan guna menjamin akuntabilitas dan
konsistensi data pada seluruh jenjang pelaporan pada
K/L (Pengguna Barang);
DEFINISI DAN JENIS-JENIS
ASET TETAP
Aset Tetap adalah aset berwujud yg mempunyai masa
manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan utk
digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan,
dalam kegiatan pemerintah dan/atau dimanfaatkan
oleh masyarakat umum.
Aset Tetap adalah aset berwujud yg mempunyai masa
manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan utk
digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan,
dalam kegiatan pemerintah dan/atau dimanfaatkan
DEFINISI DAN JENIS-JENIS ASET LAINNYA
Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain
aset lancar, investasi jangka panjang, aset
tetap dan dana cadangan.
Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain
aset lancar, investasi jangka panjang, aset
24
Rekonsiliasi internal antara unit pelaporan keuangan dg unit pelaporan barang:
•
UAKPA dg UAKPB sebelum L/K disampaikan kepada KPPN dan UAPPA-W;•
UAKPA d UAKPB dg jenis kw kantor pusat, sebelum L/K disampaikankepada KPPN dan UAPPA-E1
•
UAPPA-W dg UAPPB-W, sebelum L/K disampaiakan Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan UAPPA-E1;•
UAPPA-E1 dg UAPPB-E1 sebelum L/K disampaiakan ke UAPA;•
UAPA dg UAPB, sebelum L/K disampaikan ke Ditjen Perbend c.q Dit. Akuntansi dan Pelaporan KeuanganRekonsiliasi internal antara unit pelaporan keuangan dg unit pelaporan barang:
•
UAKPA dg UAKPB sebelum L/K disampaikan kepada KPPN dan UAPPA-W;•
UAKPA d UAKPB dg jenis kw kantor pusat, sebelum L/K disampaikankepada KPPN dan UAPPA-E1
•
UAPPA-W dg UAPPB-W, sebelum L/K disampaiakan Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan UAPPA-E1;•
UAPPA-E1 dg UAPPB-E1 sebelum L/K disampaiakan ke UAPA;•
UAPA dg UAPB, sebelum L/K disampaikan ke Ditjen Perbend c.q Dit. Akuntansi dan Pelaporan KeuanganRekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan
yang diproses dengan beberapa sistem/sub sistem yang berbeda
Rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan
yang diproses dengan beberapa sistem/sub sistem yang berbeda
25
Rekonsiliasi pelaporan keuangan antara pengguna anggaran dg BUN:
•
UAKPA dan UAKPA BUN dengan KPPN selaku UAKBUN- Daerah.•
UAKPA dan UAKPA BUN dengan dg Dit. PKN selaku UAKBUN-Pusat•
UAPPA W dg Kanwil Ditjen. Perbend selaku UAKKBUN-Kanwil•
UAPPA E1 dg UAPBUN AP•
UAPABUN lain dg UAPBUN AP dan•
UAPA dg UAPBUN APRekonsiliasi pelaporan keuangan antara pengguna anggaran dg BUN:
•
UAKPA dan UAKPA BUN dengan KPPN selaku UAKBUN- Daerah.•
UAKPA dan UAKPA BUN dengan dg Dit. PKN selaku UAKBUN-Pusat•
UAPPA W dg Kanwil Ditjen. Perbend selaku UAKKBUN-Kanwil•
UAPPA E1 dg UAPBUN AP•
UAPABUN lain dg UAPBUN AP dan•
UAPA dg UAPBUN APREKONSILIASI (2)
Rekonsiliasi pelaporan barang antara pengguna barang dg pengelola barang:
•
UAKPB melakukan rekonsiliasi dengan KPKNL setiap semester.•
UAPPB W melakukan rekonsiliasi dengan Kanwil Ditjen Kekayaan Negara setiap Semester•
UAPPA E1 melakukan rekonsiliasi dengan Ditjen Kekyaan Negara setiap semester•
UAPB melakukan rekonsiliasi dengan Ditjen Kekayaan NegaraRekonsiliasi pelaporan barang antara pengguna barang dg pengelola barang:
•
UAKPB melakukan rekonsiliasi dengan KPKNL setiap semester.•
UAPPB W melakukan rekonsiliasi dengan Kanwil Ditjen Kekayaan Negara setiap Semester•
UAPPA E1 melakukan rekonsiliasi dengan Ditjen Kekyaan Negara setiap semester1. MENTERI KEUANGAN SBG
PENGELOLA BARANG.
2. MENTERI/PIMPINAN
LEMBAGA
SBG
PENGGUNA BARANG
3. KEPALA
KANTOR
DI
LINGKUNGAN
KEMENTERIAN/LEMBAGA
SBG KUASA PENGGUNA
BARANG
1. MENTERI KEUANGAN SBG
PENGELOLA BARANG.
2. MENTERI/PIMPINAN
LEMBAGA
SBG
PENGGUNA BARANG
3. KEPALA
KANTOR
DI
LINGKUNGAN
KEMENTERIAN/LEMBAGA
SBG KUASA PENGGUNA
BARANG
1. GUBERNUR/BUPATI/WA
LIKOTA SBG PEMEGANG
KEKUASAAN
PENGELOLAAN
BARANG
2. SEKRETARIS DAERAH
SBG
PENGLOLA
BARANG
3. KEPALA
SKPD
SBG
PENGUNA BARANG
1. GUBERNUR/BUPATI/WA
LIKOTA SBG PEMEGANG
KEKUASAAN
PENGELOLAAN
BARANG
2. SEKRETARIS DAERAH
SBG
PENGLOLA
BARANG
3. KEPALA
SKPD
SBG
PENGUNA BARANG
PEJABAT PENGELOLAAN BMN
PEJABAT PENGELOLAAN BMN
PEMERINTAH
PEMERINTAH
Permasalahan Belanja Barang Yang Menghasilkan
Persediaan Terkait Nilai Persediaan Dan Beban
Persediaan
•
Permasalahan koreksi terhadap akun belanja barang yang
menghasilkan persediaan (5218XX) yang seharusnya bukan
merupakan belanja yang menghasilkan persediaan (5211XX)
masih belum selesai dan belum valid sehingga masih ada
beberapa satker yang dalam neraca masih muncul adanya pos
aset (persediaan) yang belum diregister.
•
Data transaksi dan nilai aset dari Ditjen Dukcapil yang belum
lengkap, dimana sebagian besar nilai asetnya adalah
persediaan mengakibatkan nilai persediaan dalam LK
Kemendagri menjadi tidak akurat.
•
Permasalahan tersebut di atas berakibat terhadap pos-pos
dalam laporan keuangan menjadi tidak valid, yaitu :
–
Nilai Persediaan dalam Neraca
–
Beban persediaan dalam LO
–
Beban barang dalam LO
–
Nilai surplus defisit LO dalam LPE
–
Nilai Ekuitas akhir menurut LPE dan Neraca
Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan
urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi
atau kabupaten/kota
KLASIFIKASI BELANJA
DUKUNGAN APBD
Penganggaran Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta
Catatan Sipil tidak diperkenankan untuk dianggarkan dalam
APBD TA 2017 sesuai maksud Pasal 79A UU 24/2013 tentang
Perubahan Atas UU 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan
diatur
bahwa
pengurusan
dan
penerbitan
dokumen
kependudukan tidak dipungut biaya. Berkaitan dengan hal
tersebut, pemerintah daerah harus segera menyesuaikan perda
sesuai UU 24/2013.
Penganggaran Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta
Catatan Sipil tidak diperkenankan untuk dianggarkan dalam
APBD TA 2017 sesuai maksud Pasal 79A UU 24/2013 tentang
Perubahan Atas UU 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan
diatur
bahwa
pengurusan
dan
penerbitan
dokumen
kependudukan tidak dipungut biaya. Berkaitan dengan hal
tersebut, pemerintah daerah harus segera menyesuaikan perda
sesuai UU 24/2013.
30
Pendanaan penyelenggaraan program dan kegiatan
administrasi kependudukan yang meliputi kegiatan fisik
dan non fisik, baik di provinsi maupun kabupaten/kota
bersumber dari dan atas beban APBN sesuai maksud Pasal
87A UU 24/2013.
Pendanaan penyelenggaraan program dan kegiatan
administrasi kependudukan yang meliputi kegiatan fisik
dan non fisik, baik di provinsi maupun kabupaten/kota
bersumber dari dan atas beban APBN sesuai maksud Pasal
87A UU 24/2013.
Terhadap program dan kegiatan administrasi kependudukan yang
menjadi kewenangan pemerintah daerah dibebankan pada APBD
dengan mempedomani Pasal 6 dan Pasal 7 UU 24/2013 dan UU
23/2014.
a. Koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
b. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil;
c. Pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
d. Pemanfaatan dan penyajian Data Kependudukan berskala provinsi berasal dari Data Kependudukan yang telah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri;
e. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
f. Penyusunan profile kependudukan provinsi.
a. Koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
b. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil;
c. Pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
d. Pemanfaatan dan penyajian Data Kependudukan berskala provinsi berasal dari Data Kependudukan yang telah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri;
e. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Administrasi Kependudukan;
f. Penyusunan profile kependudukan provinsi. 31
Lanjutan ....
Kewenangan Provinsi (Pasal 6 UU 24/2013) a. Koordinasi penyelenggaraan Adminduk;b. Pembentukan Instansi Pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang Adminduk;
c. Pengaturan teknis penyelenggaraan Adminduk sesuai dengan ketentuan Peraturan PerUUan; d. Pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan
Adminduk;
e. Pelaksanaan kegiatan pelayanan masyarakat di bidang Adminduk;
f. Penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan Adminduk berdasarkan asas tugas pembantuan;
g. Pemanfaatan dan penyajian Data Kependudukan berskala kab/kota berasal dari Data Kependudukan yang telah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri;
h. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Adminduk;
i. Penyusunan profile kependudukan kabupaten/kota.
a. Koordinasi penyelenggaraan Adminduk;
b. Pembentukan Instansi Pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang Adminduk;
c. Pengaturan teknis penyelenggaraan Adminduk sesuai dengan ketentuan Peraturan PerUUan; d. Pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan
Adminduk;
e. Pelaksanaan kegiatan pelayanan masyarakat di bidang Adminduk;
f. Penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan Adminduk berdasarkan asas tugas pembantuan;
g. Pemanfaatan dan penyajian Data Kependudukan berskala kab/kota berasal dari Data Kependudukan yang telah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri;
h. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Adminduk;
i. Penyusunan profile kependudukan kabupaten/kota.
Kewenangan Kab/Kota (Pasal 7 UU 24/2013) Kewenangan Kab/Kota
32
Terima Kasih
SEMOGA PERTEMUAN INI DAPAT BERMANFAAT
BAGI KITA SEMUA