• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENATAAN RUANG KAWASAN DAS BERBASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PENATAAN RUANG KAWASAN DAS BERBASI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PENATAAN RUANG KAWASAN DAS

BERBASIS KONSERVASI

(STUDI KASUS DAS BANGO KOTA MALANG)

Azizah Rachmawati

1

.Warsito

2 1

Azizah Rachmawati,

Universitas Islam Malang, Email:

[email protected]

2

Warsito,

Universitas Islam Malang

, Email :

[email protected]

ABSTRAK

Dari penelitian tahap I telah didapatkan hasil sebaran tata guna lahan di Sub DAS Bango sebesar 23.251 Ha yang terdiri dari semak: 175. 5500 Ha (0,82 %) , tegalan 8011.2769 Ha (37,33 %), hutan 2857.4174 Ha (13.31 %), sawah 4910,3461 Ha (22.88 %), pemukiman 4367.5796 Ha (20.35%) dan kebun campuran 158.1539 Ha (0.74 %). Sebaran tersebut menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan di Sub DAS Bango sangat berpengaruh kepada kondisi hidrogeologi , jenis tanah dan kualitas air sungai di di DAS tersebut. Ekosistem di DAS Bango harus tetap memperhatikan perlindungan terhadap jenis tanah dan kualitas Air sungai. Hasil penelitian tahap II ini meliputi kondisi hidrogeologi, nilai erosi dan kualitas air. Kondisi hidrologi yang berkaitan dengan data hujan meliputi stasiun hujan Blimbing, Karangploso dan Singosari. Jenis tanah yang ada didaerah Sub DAS Bango termasuk tanah berjenis regrosol kelabu, andosol coklat, aluvial kelabu tua mediteran coklat kemerahan dan brown forest soil. Dan faktor erodibilitas tanah bervariasi yakni 0.178, 0.163, 0.173.0.187 dan 0.100. Hasil analisa erosi yang terjadi di Sub DAS Bango menunjukkan nilai erosi sedang dan tinggi. Erosi yang melebihi nilai izin terjadi di Kali Sumber awan 85.843 ton/ha/thun, Kali Klampok 102.260 ton/ha/thun, Kali Bodo 161.406 ton/ha/thun, Kali Genitring 107.512 ton/ha/thun, Kali Jurang tamu 118.161 ton/ha/thun dan Kali Mati 61.416 ton/ha/thun. Sedang sungai lainnya erosi yang terjadi masih di bawah nilai yang diizinkan meliputi Kali Mewek, Kali Sumpil, Kali Bango dan Kali Sari. Kualitas air di Sub DAS Bango telah menunjukkan tingkat pencemaran air yang tinggi, indikasi kerusakan Sub DAS Bango yakni parameter PH, BOD, COD dan TSS yang melebihi dari ambang batas yakni 50.

Kata Kunci : Konservasi/hidrogeologi, TSS (Total Suspended Solid), kekeruhan , Sub DAS Bango.

1. PENDAHULUAN

LatarBelakang

(2)

Pengelolaan sumber daya alam dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai harus senantiasa memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan sumber daya alam dan keseimbangan ekosistem. Manusia merupakan salah salah satu komponen ekosistem. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia melakukan berbagai bentuk aktivitas. Aktivitas manusia yang begitu dinamis mengakibatkan dampak pada suatu komponen lingkungan lainnya. Hal ini menunjukkan suatu hubungan timbal balik yang seharusnya seimbang, jika tidak terjadi keseimbangan maka akan menimbulkan permasalahan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dengan mempertimbangkan adanya pencemaran yang berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama tentu dapat mengganggu keseimbangan daya dukung yang ada di sungai. Apabila daya dukung yang ada di sungai sudah terlampaui, maka sungai tersebut dapat dikatakan tercemar. Kondisi ini dapat terjadi secara terus-menerus sehingga dibutuhkan suatu cara untuk mengantisipasi semenjak dini dengan melakukan suatu pemodelan kualitas air sungai.

Sungai Bango adalah anak sungai dari sungai Brantas. Sungai bango ini berfungsi sebagai penyedia air baku bagi PDAM, pertanian, dan juga merupakan tempat pembuangan limbah cair, baik pertanian, peternakan maupun rumah tangga. Sungai ini juga berperan dalam usaha pengendalian banjir. Sebagian besar air sungai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi bagi lahan-lahan pertanian yang berada di sekitar aliran sepanjang Sungai Bango

Sungai utama pada DAS Bango adalah Sungai Bango dimana pada sungai Bango tersebut terdapat beberapa anak sungai yaitu, Kali Kajar, Kali Sumpil dan Kali Mewek, sera saluran Lowokwaru . Sedang DAS Bango terdiri dari beberapa Sub DAS yaitu: Sub DAS Bango, Sub DAS Lowokwaru, Sub DAS Sawojajar, Sub DAS Purwantoro, Sub DAS Sumpil, Sub DAS Kajar dan Sub DAS Mewek.

Dari hasil penelitian tahap I, tataguna lahan di Sub DAS Bango adalah sebesar 23.251 Ha yang terdiri dari semak 178,051 Ha, tegalan 8.014,7213 Ha, hutan 2.859,5174 Ha, sawah 4.912,3561 Ha, pemukiman 4.370,6896 Ha, dan kebun campuran 159,2594 Ha, DAS Bango kerap sekali menjadi tempat kembalinya air yang dibuang dari berbagai lahan pertanian, pemukiman, dari daerah disekitarnya.

Identifikasi Masalah

Fungsi DAS dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sisi ketersediaan (supply) yang mencakup kuantitas aliran sungai (debit), waktu, kualitas aliran sungai, dan sisi permintaan

(demand) yang mencakup tersedianya air bersih,

terjadinya bencana banjir, tanah longsor serta genangan lumpur Sulitnya mendapatkan air

bersih merupakan faktor penentu utama

kemiskinan dan buruknya kesehatan. Hal ini juga tertera dalam 'TujuanPembangunan Milenium' (Millenium Development Goals).

Masalah persediaan air yang tidak mencukupi dan tidak tepat waktu bagi masyarakat di daerah hilir dapat ditangani dengan beberapa pendekatan, antara lain :

1). Pendekatan teknis, biasanya diterapkan pada badan sungai di bagian tengah DAS, antara lain dengan meningkatkan kecepatan aliran sungai untuk mengurangi banjir di tempat-tempat yang rawan; membuat waduk atau dam sebagai tempat penampungan air sementara;membuat pipa atau penampung air (embung, menara air) untukmendistribusikan air minum dari sumber di hulu ke konsumen di hilir.

(3)

3) Perencanaan tata ruang, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak kerusakandialami oleh masyarakat akibat banjir karena masyarakat tersebut 'tinggal pada tempat dan waktu yang salah'.Upaya-upaya perencanaan tata ruang yang bertujuan untuk menghindari atau menurunkan kerusakan di hilir perlu dilakukan 4) Pembayaran dan imbal jasa lingkungan, pendekatan ini dapat menjadi pelengkap berbagai peraturan yang ada yang bersifat mengikat. Insentif berupa imbal jasa lingkungan sudah cukup dikenal dan menjadi topik hangat di setiap dialog dan debat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. Namun demikian masih perlu diuji keberhasilannya dalam penerapan di lapangan.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian tahap II ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kondisi hidrogeologi di sub DAS Bango Kota Malang ?

2. Berapakah nilai erosi yang terjadi di sub DAS Bango kota Malang ?

3. Bagaimanakah analisa kualitas air yang terjadi di sub DAS Bango kota Malang ?

Tujuan Khusus

Penelitian tahap II yang akan dilaksanakan bertujuan khusus untuk :

1. Menganalisa hasil penelitian tahap I mengenai kondisi hidrogeologi, tata guna lahan dan pengelolaan tanaman di sub DAS Bango Kota Malang.

2. Menganalisa hasil erosi yang terjadi di sub DAS Bango, kemudian mengelompokkan atau menggolongkan penggunaan lahan sesuai dengan sifat yang dimiliknya disebut ‘Klasifikasi kemampuan lahan’ (Land Capability Classification).

3. Menganalisa kualitas air di Sub DAS Bango dengan menggunakan analisa TSS (Total Suspended Solid) dan kekeruhan , sehingga dapat diketahui seberapa jauh kualitas air di wilayah sungai DAS Bango

Urgensi (Keutamaan) Penelitian

Salah satu awal penyebab terjadinya suatu bencana alam seperti bencana banjir, longsor, kekeringan, serta pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim adalah terjadinya kerusakan hutan. Hutan yang merupakan salah satu bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) berfungsi sebagai pelindung mata air dan sebagai daerah resapan air. Beberapa penyebab rusaknya hutan adalah penebangan komersial, kebakaran hutan, dan pembukaan hutan untuk aktivitas usaha tani.Hal tersebut seiring dengan pernyataan Departemen Kehutanan (Dephut) yang mengindikasikan kondisi DAS di Indonesia pada umumnya sudah mengalami kerusakan berat sampai sangat berat.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Erosi

(4)

mempengaruhi karakteristik fisik, biologi, dan kimia. Terjadinya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim (intensitas hujan), topografi, karakteristik tanah, vegetasi penutup tanah, dan tata guna lahan

Proses Erosi

Proses erosi bermula dengan terjadinya penghancuran agregat tanah sebagai akibat pukulan air hujan yang mempunyai energi lebih besar daripada daya tahan tanah. Pada saat hujan mengenai kulit bumi, maka secara langsung akan menyebabkan hancurnya agregat tanah. Penghancuran dari agregat tanah dipercepat dengan adanya daya penghancuran dan daya urai dari air itu sendiri. Hancuran agregat tanah ini akan menyumbat pori-pori tanah, kemudian kapasitas infiltrasi tanah akan menurun dan mengakibatkan air mengalir dipermukaan dan disebut sebagai limpasan permukaan. Limpasan permukaan mempunyai energi untuk mengikis dan mengangkut partikel tanah yang telah hancur. Selanjutnya jika tenaga limpasan permukaan sudah tidak mampu lagi mengangkut bahan-bahan hancuran tersebut, maka bahan-bahan ini akan diendapkan. Dengan demikian 3 bagian yang berurutan, yaitu :

1. Pengelupasan (detachment)

2. Pengangkutan (transportation)

3.Pengendapan(sedimentati)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erosi

Erosi terjadi melalui proses penghancuran/pengikisan, pengangkutan dan pengendapan. Dengan demikian intensitas erosi ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi ketiga proses tersebut. Hudson (1976) melihat erosi dari dua segi yaitu faktor penyebab, yang dinyatakan dalam erosivitas, dan faktor tanah yang dinyatakan dalam erodibilitas. Jadi kalau dinyatakan dalam fungsi maka :

E = f { Erosivitas , Erodibilitas} ...(2 - 1)

Di alam, proses erosi tidak sederhana hasil kali erosivitas dan erodibilitas saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kedua variabel tersebut. Erosivitas dalam erosi air merupakan manivestasi hujan, dipengaruhi oleh adanya vegetasi dan kemiringan, dan erodibilitas juga dipengaruhi oleh adanya vegetasi. Dan akhirnya aktivitas manusia tentunya juga sangat mempengaruhi faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu dapat dikemukakan pula bahwa erosi adalah fungsi dari hujan (H), Tanah (T), Kemiringan (K), Vegetasi (V), dan Manusia (M). Jadi apabila dinyatakan dalam fungsi, maka :

E = f {H,T,K,V,M} ...(2 - 2)

Artinya erosi akan dipengaruhi oleh sifat hujan, tanah, derajat dan panjang lereng, adanya penutup tanah yang berupa vegetasi dan aktivitas manusia dalam hubungannya dengan pemakaian tanah.

Pendugaan Laju Erosi

(5)

Dalam studi ini, dalam menentukan besarnya laju erosi menggunakan metode MUSLE (Modified Universal Soil Loss Equation)..

Pendugaan Erosi metode

MUSLE

(

Modified Universal Soil Loss Equation

)

Metode Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE) merupakan modifikasi dari metode Universal Soil Loss Equation (USLE) yang dikembangkan oleh Williams (1978). Pada metode MUSLE faktor energi curah hujan digantikan dengan faktor limpasan permukaan, sehingga besarnya perkiraan hasil sedimen menjadi lebih besar. Pada daerah yang cukup luas, selama erosi juga terjadi pengendapan dalam proses pengangkutan. Oleh karena itu, Williams (1978) mengadakan modifikasi terhadap metode USLE untuk menduga hasil endapan dari setiap kejadian limpasan permukaan, dengan mengganti indeks erosivitas hujan, dengan limpasan permukaan (Utomo, 1994 : 154). Metode MUSLE, dapat dirumuskan :

A = Rw. K. LS. C. P ...(2 - 3)

dengan :

A = Besarnya kehilangan tanah per satuan luas lahan (ton/ha/th)

Rw = Faktor erosivitas limpasan permukaan menurut Williams

K = Faktor erodibilitas tanah

Hasil endapan dipengaruhi oleh limpasan permukaan. Dalam rumus ini, William mengadakan modifikasi USLE untuk menduga hasil endapan dari setiap kejadian limpasan permukaan dengan cara mengganti indeks erosivitas (R) dengan erosivitas limpasan permukaan (Rw). Rumus indeks erosifitas menurut Williams, sebagai berikut (Utomo, 1994: 154) :

Rw = 9,05 . (Vo. Qp)0,56 ...(2 - 4)

dengan :

Vo = Volume limpasan permukaan (m3)

Qp = Debit aliran puncak (m3/det)

Volume limpasan permukaan, dirumuskan :

Vo = R . exp (-Rc / Ro) ...(2 - 5)

dimana :

Rc = 1000 . MS . ρb . RD . (Et/Eo)0,50 (2 - 6)

Ro = R / Rn (2 - 7)

dengan :

R = Hujan tahunan (mm)

Rc = Kapasitas penyimpangan lengas tanah

MS = Kandungan lengas pada kapasitas lapang (%) (Tabel 2.1)

ρb = Berat jenis volume lapisan tanah atas (Mg/m3) (Tabel 2.2)

(6)

Besarnya ditentukan sebagai berikut :

- Untuk tanaman pohon, tanaman kayu = 0,10

- Untuk tanaman semusim dan rumput = 0.05

Et/Eto = Perbandingan evapotranspirasi aktual (Et) dengan Evapotraspirasi

potensial (Eto)

Arahan Fungsi Kawasan

Menurut Asdak (2004) analisis fungsi kawasan ditetapkan berdasarkan kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi yang berkaitan dengan SK Menteri Pertanian No. 387 dan karakteristik fisik DAS yaitu kemiringan lereng, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi, dan curah hujan harian rata-rata.

Untuk karakteristik DAS yang terdiri dari kemiringan lereng, jenis tanah dan curah hujan harian rata-rata pada setiap satuan lahan diklasifikasikan dan diberi skor sebagai berikut :

Tabel 3. Skor kemiringan lereng Arahan RLKT

Kemiringan lereng Nilai skor

Tabel 4. Skor tanah menurut kepekaannya terhadap erosi Arahan RLKT

Tanah menurut kepekaannya terhadap erosi Nilai skor

Kelas 1 : Aluvial, Planosol, Hidromorf kelabu, Laterik (tidak peka) Kelas 2 : Latosol (agak peka)

Kelas 3 : Tanah hutan coklat, tanah medeteran (kepekaan sedang) Kelas 4 : Andosol, Laterik, Grumosol, Podsol, Podsolic (peka) Kelas 5 : Regosol, Litosol, Organosol, Renzina (sangat peka)

15

Tabel 5. Skor intensitas hujan harian rata-rata Arahan RLKT

Intensitas hujan harian rata-rata Nilai skor

(7)

Penetapan penggunaan lahan setiap satuan lahan kedalam suatu kawasan fungsional dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor ketiga faktor di atas dengan mempertimbangkan keadaan setempat.

Parameter Kualitas Air

Akhir-akhir ini, penurunan kualitas air sungai tidak hanya terjadi di daerah hilir, tetapi juga di daerah hulu. Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman merupakan faktor utama penyebab terjadinya penurunan kualitas air sungai di daerah hulu melalui sedimentasi, penumpukan hara dan pencemaran bahan-bahan kimia pestisida. Penurunan kualitas air sungai berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan keberadaan makhluk hidup yang ada di perairan. Penumpukan unsur hara diperairan memicu pertumbuhan alga dan jenis tumbuhan air lainnya secaratak terkendali, sehingga menyebabkan matinya beberapa jenis makhluk hidup air yang merupakan sumber makanan bagi ikan. Akumulasi racun yang berasal dari pestisida, tidak hanya mengakibatkan kematian hewan air, tetapi juga membahayakan kehidupan manusia karena dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit. Sementara itu, sedimentasi yang terjadi pada sungai mengakibatkan pendangkalan sehingga memicu terjadinya banjir.

Kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan, sebagai contoh, air yang digunakan untuk irigasi memiliki standar mutu yang berbeda dengan air untuk dikonsumsi. Kualitas air dapat diketahui nilainya dengan mengukur peubah fisika, kimia dan biologi. Klasifikasi dan kriteria kualitas air di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut, kualitas air diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu:

Kelas I : dapat digunakan sebagai air minum atau untuk keperluan konsumsi lainnya.

Kelas II : dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan mengairi tanaman.

Kelas III : dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan mengairi tanaman.

Kelas IV : dapat digunakan untuk mengairi tanaman

Secara sederhana, kualitas air dapat diduga dengan melihat kejernihannya dan mencium baunya. Namun ada bahan-bahan pencemar yang tidak dapat hanya dari bau dan warna, melainkan harus dilakukan serangkaian pengujian. Hingga saat ini, dikenal ada dua jenis pendugaan kualitas air yaitu fisik-kima dan biologi.

Turbiditas / Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat didalam air. Kekeruhan dapat disebabkan oleh tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang berasal dari erosi tanah, industri serta pembuangan limbah maupun sampah yang berbentuk partikel-partikel kecil yang tersuspensi. Kadar kekeruhan maksimum yang diperbolehkan untuk kualitas air bersih dapat dilihat pada PERMNKES Republik Indonesia Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990.

(8)

berkurang. Bahan-bahan terlarut dalam air juga menyerap panas yang mengakibatkan suhu air meningkat, sehingga jumlah oksigen terlarut dalam air berkurang.

(

Total Suspended Solid

)

Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2pm atau lebih besar dari ukuran pertikel koloid. TSS menyebababkan kekeruhan pada air akibat padatan tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. TSS terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen , misalnya tanah liat, bahan-bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme,dan sebagainya (Nasution,2008). Ambang batas kadar TSS yang diperbolehkan untuk kualitas air bersih dapat dilihat dalam PP Republik Indonesia Nomor : 82 tahun 2001. TSS memberi konstribusi untuk kekeruhan dengan membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintetis dan visibilitas di air sungai.

Pengukuran total bahan terlarut perlu dilakukan dalam pengujian kualitas air. Rendahnya konsentrasi bahan terlarut mengakibatkan pertumbuhan organisme air terhambat karena kekurangan nutrisi. Namun, tingginya konsentrasi bahan terlarut dapat menyebabkan eutrofikasi atau matinya jenis-jenis organisme air.

3. METODE PENELITIAN

Tahap Penelitian

Penelitian akan dilakukan dalam 2 (dua) tahap selama 2 tahun. Tahap I akan dilakukan pembuatan model Penataan Ruang kawasan DAS berbasis konservasi. Tahap II akan dilakukan penerapan (aplikasi) model berupa parameter hidrogeologi, analisa perhitungan erosi dan kelas kemampuan lahan serta tinjauan kualitas air yang meliputi

turbiditas/kekeurhan dan TSS (Total Suspended Solid) untuk wilayah Sub DAS Bango kota Malang.

Tahap I/ Tahun I :

Pembuatan Model Penataan Ruang Kawasan DAS Berbasis Konservasi.

Tujuan Penelitian dalam tahap pertama ini adalah membuat model Penataan ruang yang tidak hanya meninjau aspek tata ruang, melainkan juga aspek hidrogeologi. Penelitian akan dilakukan di laboratorium, dengan ketersediaan alat dan prasarana serta dilakukan pengamatan yang intensif.

Tahap II / Tahun ke II :

Aplikasi Model Penataan Ruang Kawasan DAS Berbasis Konservasi di Sub DAS Bango Kota Malang

Tujuan penelitian pada tahap ke dua adalah berdasarkan model tersebut, dapat diketahui parameter apa saja yang mempengaruhi terjadinya banjir, kondisi struktur tanah baik dilihat dari tekstur tanah, permeabilitas ,maupun bahan organik. Dari tataguna lahan yang telah diperoleh dalam penelitian Tahap I akan dapat diketahui arahan dan fungsi kawasan di sub DAS bango yang sesuai dengan konservasi lahan. maupun kerusakan / alih fungsi tata guna lahan di Sub DAS Bango. Kondisi kualitas air juga ditinjau dari parameter

(9)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Hidrologi.

Data hujan dipergunakan dalam analisa hidrologi, Di lokasi penelitian terdapat 3 stasiun hujan yang berpengaruh terhadap wilayah DAS Bango. Oleh karena itu, data hujan yang dipergunakan dalam analisa hidrologi dan perhitungan indeks erosivitas hujan, diambil dari tiga stasiun penakar hujan tersebut yaitu Stasiun Karangploso, Singosari dan Stasiun Blimbing. Satu stasiun hujan terletak di Kota Malang dan dua stasiun hujan lainnya terletak di Kabupaten Malang. Data hujan yang digunakan dalam analisa tersebut meliputi data curah hujan harian dengan periode pengamatan tahun 2005 sampai dengan tahun 2015

Keempat stasiun hujan itu adalah :

1. Stasiun Blimbing ± 455dpl.

2. Stasiun Karangploso ± 575dpl.

3. Stasiun Singosari ± 635dpl.

Data-data hujan harian tiap-tiap stasiun selama 10 tahun terlebih dahulu diuji kekonsistenen datanya dengan teknik lengkung massa ganda , bertujuan untuk membandingkan data dari stasiun yang diamati dengan stasiun sekitarnya. Adapun stasiun pengamatan hujan yang digunakan untuk mengambil data hujan dari Sub DAS Bango meliputi tiga stasiun hujan. Sebaran lokasi dan pengaruh masing-masing stasiun hujan dijelaskan pada tabel 4.1.

Tabel 6. Lokasi stasiun hujan di Sub DAS Bango

No Nama

Koordinat Elevasi

(dpl) XPR YPR

1 Sta. Singosari 683113 9127034 635 2 Sta.

Karangploso

676443 9126479 575 3 Sta.Blimbing 680340 9120659 455

Perhitungan Faktor Erodibilitas Tanah

Faktor erodibilitas tanah dalam menentukan besarnya laju erosi metode PUKT (Persamaan Umum Kehilangan Tanah) ditentukan dengan menggunakan nilai K. Besarnya nilai K didasarkan atas data jenis tanah yang terdapat pada daerah yang ditinjau. Data berasal dari peta jenis tanah di DAS Bango. Jenis tanah yang ada didaerah DAS termasuk tanah berjenis regrosol kelabu, andosol coklat, aluvial kelabu tua mediteran coklat kemerahan dan brown forest soil. Kelima jenis tanah ini memiliki faktor erodibilitas tanah yang berbeda, masing–masing memiliki faktor sebesar 0.27, 0.2, 0.05, 0.22 dan 0.15. Nilai ini didapat dari rata-rata nilai faktor K tiap masing-masing jenis tanah yang ada di DAS Bango. Hasil perhitungan factor erodibilitas ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 7. Faktor Erodibilitas Tanahdi Sub DAS Bango

No Sub DAS Luas (ha) Nilai K

1 Kali Sumber Awan 2478.632 0.178

(10)

No Sub DAS Luas (ha) Nilai K

3 Kali Bodo 2869.228 0.173

4 Kali Genitring 1874.205 0.173 5 Kali Jurang Tamu 2041.201 0.213

6 Kali Mewek 1179.906 0.173

7 Kali Sumpil 451.895 0.187

8 Kali Bango 1741.951 0.188

9 Kali Lahor 940.673 0.187

10 Kali Wendit 1522.358 0.100

11 Kali Sari 456.472 0.100

12 Kali Mati 5260.610 0.115

Sumber : Hasil Perhitungan

Perhitungan Faktor Panjang (L) dan Kemiringan Lereng (S) di Sub DAS Bango Kota Malang

Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S) mempengaruhi besarnya erosi yang terjadi. Kemiringan mempengaruhi kecepatan dan volume limpasan permukaan. Pada dasarnya makin curam suatu lereng, maka persentase kemiringan lereng semakin besar, sehingga semakin cepat laju limpasan permukaan. Perhitungan faktor panjang lereng (L) dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai (Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai, Departemen Kehutanan 1998 : 49) :

L = 22 Lo

dengan :

L = Nilai faktor panjang lereng

Lo = Panjang lereng (diperoleh dari pengukuran panjang lereng dengan menumpukkan peta kontur, peta aliran sungai dan peta sub-sub DAS pada

softwareArcGIS 9.3, dengan meninjau beberapa titik lalu direrata).

Penentuan faktor kemiringan ditentukan berdasarkan tabel Nilai Faktor Kemiringan Lereng (S) pada Bab II yang bersumber dari Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai, Departemen Kehutanan 1998 : 50. Besarnya kemiringan lereng dikawasan DAS Bango ditentukan berdasarkan kondisi lahan tersebut. Hasil perhitungan faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel. 8. Faktor Panjang dan Kemiringan (LS) di Sub DAS Bango

No Sub DAS Luas (ha) Nilai LS

1 Kali Sumber Awan 2478.632 2.56983

2 Kali Klampok 2525.824 3.37616

3 Kali Bodo 2869.228 4.33792

4 Kali Genitring 1874.205 2.97019

5 Kali Jurang Tamu 2041.201. 2.67359

6 Kali Mewek 1179.906 0.28949

7 Kali Sumpil 451.895 0.17336

(11)

9 Kali Lahor 940.673. 0.15384

10 Kali Wendit 1522.358 0.14282

11 Kali Sari 456.472 0.08388

12 Kali Mati 5260.610 2.31792

Sumber : Hasil Perhitungan

Analisa Faktor Pengelolaan Tanaman (C) di Sub DAS Bango kota Malang

Faktor pengelolaan tanaman merupakan faktor yang menggambarkan nisbah antara besarnya erosi dari lahan yang bertanaman tertentu dan dengan pengelolaan tertentu terhadap besarnya erosi tanah yang tidak ditanami dan diolah bersih (Suripin, 2004 : 79). Pada kondisi penggunaan lahan, penentuan besarnya faktor pengelolaan tanaman (C) dan faktor tindakan konservasi tanah (P) digabung dan ditentukan berdasarkan tabel nilai faktor CP beberapa tanaman dan pengelolaan tanam (modifikasi Wischmeier dan Arnoldus oleh Boediono, 1982) dalam Utomo 1994. Faktor Tata Guna Lahan Faktor tanaman dalam perhitungan laju erosi dengan metode PUKT tergantung juga jenis tanaman yang ditanam maupun tata guna lahan pada daerah tersebut. Untuk menentukan besarnya faktor tata guna lahan (faktor C) maka digunakan data tata guna lahan yang ada didaerah penelitiani. Tata guna lahan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bahaya erosi, sedimentasi dan limpasan permukaan yang terjadi. Rata– rata pemanfatan lahan dikawasan DAS Bango digunakan sebagai lahan persawahan, hutan, kebun, tegalan, tanah terbuka dan semak belukar. Besarnya nilai faktor pengelolaan tanaman dan faktor tindakan konservasi tanah (CP) untuk penggunaan lahan DAS Bango Hulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini,

Tabel 9. Faktor Pengelolaan Tanaman (Cp) di Sub DAS Bango

No Sub DAS Luas (ha) Nilai C

1 Kali Sumber Awan 2478.632 0.3187

2 Kali Klampok 2525.824 0.3822

3 Kali Bodo 2869.228 0.3822

4 Kali Genitring 1874.205 0.3822

5 Kali Jurang Tamu 2041.201. 0.3187

6 Kali Mewek 1179.906 0.3822

7 Kali Sumpil 451.895 0.0055

8 Kali Bango 1741.951 0.3822

9 Kali Lahor 940.673. 0.3788

10 Kali Wendit 1522.358 0.3822

11 Kali Sari 456.472 0.3033

12 Kali Mati 5260.610 0.3822

Sumber : Hasil

Perhitungan Besarnya Erosi di Sub DAS Bango Kota Malang

(12)

Tabel 10. Hasil Analisa perhitungan Erosi di Sub DAS Bango Kota Malang

Erosi yang terjadi rata-rata lebih besar dari pada erosi yang diijinkan, erosi yang diijinkan antara 2.5 – 12.5 ton/ha/th (Suripin, 2000 : 61). Erosi yang terjadi di sub DAS Bango yang melebihi nilai erosi yang diizinkan yakni Kali Sumber awan, Kali Klampok, Kali Bodo, Kali Genitring, Kali Jurang Tamu dan kali Mati. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor yang telah disebutkan sebelumnya, untuk itu diperlukan suatu usaha penanggulangan erosi, dikarenakan erosi dapat menimbulkan permasalahan yang cukup besar terhadap suatu area DAS.

Kualitas Air di Sub DAS Bango kota Malang

Peningkatan jumlah penduduk yang tinggi menimbulkan berbagai permasalahan terutama permasalahan lingkungan, salah satunya adalah munculnya permukiman-permukiman di sepanjang sungai aliran Sub DAS Bango. Aliran Sungai Bango membentang di sepanjangn sungai yang melintasi kota Malang dan Kabupaten Malang. Permukiman padat di sepanjang bantaran tersebut muncul dikarenakan peningkatan jumlah penduduk yang tidak diikuti dengan peningkatan daya tampung lingkungan dan juga keterbatasan ekonomi. Permukiman tersebut berada pada kawasan rawan banjir, dan cenderung menjadi kumuh. Hal ini akibat ketidakmampuan penduduk golongan berpendapatan rendah untuk membeli rumah.

Sebagai alternatif untuk mendapatkan tempat berlindung yang dekat dengan tempat kerja, maka2 permukiman dibangun di kawasan marginal seperti lahan di bantaran sungai (Wicaksono,2011). Munculnya permukiman di sepanjang bantaran Sungai Bango di Kota Malang tentunya tidak lepas dari penurunan kualitas air sungai akibat aktivitas penduduk sekitar. Penduduk di sekitar Sungai cenderung memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus tanpa melalui sanitasi pembuangan limbah rumah tangga yang teratur. Tingkat pencemaran sungai ini diduga telah melewati daya tampung sungai dan berpengaruh negatif terhadap kehidupan biota perairan, serta kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai. Bahan pencemar berasal dari limbah domestik, limbah pertanian, limbah taman rekreasi, limbah pasar,limbah hotel, limbah rumah sakit, dan limbah industri.

Parameter Kualitas Air

Sub DAS Luas (ha) C LS K R Ea

ton/ha/tah

Kali S.Awan 2478.632 0.3187 2.56983 0.178 1226.88 85.843

Kali Klampok 2525.824 0.3822 3.37616 0.163 1226.88 102.260

Kali Bodo 2869.228 0.3822 4.33792 0.173 1226.88 161.406

Kali Genitring 1874.205 0.3822 2.97019 0.173 1226.88 107.512

Kali J. Tamu 2041.201. 0.3187 2.67359 0.213 1452.75 118.161

Kali Mewek 1179.906 0.3822 0.28949 0.173 1217.54 9.237

Kali Sumpil 451.895 0.0055 0.17336 0.187 1217.54 0.009

Kali Bango 1741.951 0.3822 0.22695 0.188 1202.39 7.794

Kali Lahor 940.673. 0.3788 0.15384 0.187 1407.49 7.329

Kali Wendit 1522.358 0.3822 0.14282 0.100 1311.49 2.846

Kali Sari 456.472 0.3033 0.08388 0.100 1349.30 0.676

(13)

Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran menyatakan bahwa untuk menjamin kualitas air yang dinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan kualitas air. Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada :

- Sumber yang terdapat di dalam hutan lindung; - Mata air yang terdapat di luar hutan lindung; dan - Akuifer air tanah dalam.

Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya.

Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD, COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan sebagainya.

Parameter mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air, seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran atau pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar. Sebagai acuan dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001.

Penelitian Kualitas air di Sub DAS Bango meliputi parameter fisik antaralain : temperatur, Ph, kekeruhan , BOD, COD dan TSS (Total

Suspended Solid dan parameter kimia . Dalam penelitian lebih mendalam mengenai kekeruhan dan TSS, karena parameter yang sangat mempengaruhi kondisi erosi dan arahan konservasi lahan suatu DAS.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut :

1. Kondisi hidrogeologi di Sub DAS Bango, yakni hidrologi yang berkaitan dengan data hujan meliputi stasiun hujan Blimbing, Karangploso dan Singosari. Jenis tanah yang ada didaerah Sub DAS Bango termasuk tanah berjenis regrosol kelabu, andosol coklat, aluvial kelabu tua mediteran coklat kemerahan dan brown forest soil. Dan faktor erodibilitas tanah bervariasi yakni 0.178, 0.163, 0.173.0.187 dan 0.100.

(14)

3. Kualitas air di Sub DAS Bango telah menunjukkan tingkat pencemaran air yang tinggi, indikasi kerusakan Sub DAS Bango yakni parameter PH, BOD, COD dan TSS yang melebihi dari ambang batas yakni 50.

Saran

1. Dari hasil penelitian masih perlu adanya analisa lebih lanjut untuk mendapatkan hasil model penataan tata ruang berbasis konservasi dengan analisa kualitas air dan aplikasi di areal penggunaan lahan yang ada di sub DAS Bango.

2. Di perlukan analisa lebih lanjut mengenai hubungan kondisi jenis tanah dengan pola tanam tertentu , mengingat daerah penelitian adalah lebig banyak tegalan dan sawah.

3. Diperlukan model penataan DAS pada sesuai dengan temuan

6. DAFTAR PUSTAKA

1. Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air.IPB. Bogor.

2. Asdak, C. (2004). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

(edisiketiga).

3. Anonim,1998.“Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS”,Jakarta :DepartemenKehutanan (Dirjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan).

4. ESRI (Environmental System Research Institute, Inc). 1996. ArcView GIS, The Geographic Information System for Everyone. New York : ESRI.

5. Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

6. Junaidi, Rahmad. 2006. “Studi Perencanaan Fungsi Kawasan dan Arahan Konservasi Lahan dan Tanah di DAS Brantas Bagian Hulu dengan Menggunakan SIG”, Unibraw Malang :Skripsi Tidak diterbitkan.

7. Kodoatie, Robert J dan Roestam Sjaief.2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu.Andi.Yogyakarta.

8. Nemec, Jaromir, 1973. Engineering Hydrology.New Delhi : Tata McGraw Hill Publishing Company Ltd.

9. Prahasta, Eddy. 2005. Sistem Informasi Geografis. Bandung : CV Informatika.

10. Prahasta, Eddy. 2011. ArcGIS Desktop. Bandung : CV Informatika.

11. Rayes, Luthfi. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Andi.Yogyakarta.

12. Soemarto, CD. (1993). Hidrologi Teknik.Usaha Nasional. Surabaya.

13. Suripin.(2002). Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.Andi.Yogyakarta.

14. Utomo, Hadi, Wani. 1994. Erosi dan Konservasi Tanah.IKIP. Malang.

Gambar

Tabel  3. Skor kemiringan lereng Arahan RLKT
Tabel 6. Lokasi stasiun hujan di Sub DAS Bango
Tabel. 8. Faktor Panjang dan Kemiringan (LS) di Sub DAS Bango
Tabel 9. Faktor Pengelolaan Tanaman (Cp) di Sub DAS Bango
+2

Referensi

Dokumen terkait

analisis banjir yang diolah oleh IFAS menggunakan data hujan satelit GSMaP_NRT dengan panjang data dalam dua kondisi pada tahap tanpa kalibrasi. Simulasi Awal

Pada perencanaan dari dinding penahan tanah vertikal, perlu diketahui beban apa saja yang berkerja di struktur tersebut, yaitu, Tekanan lateral tanah. Tekanan lateral

Dengan demikian, akan menjadi hal yang cukup menarik dan fundamental untuk melihat faktor-faktor dan karakteristik apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya kondisi unmet need di

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya banjir atau genangan yang

analisis banjir yang diolah oleh IFAS menggunakan data hujan satelit GSMaP_NRT dengan panjang data dalam dua kondisi pada tahap tanpa kalibrasi. Simulasi Awal

Mengacu pada gambar 2-1 dapat diketahui bahwa tekstur tanah merupakan salah satu bagian dari faktor kontrol yang mempengaruhi terjadinya longsor, dan laju infiltrasi air berperan

Apa saja kendala atau kekurangan yang dirasakan dalam membuat kebijakan terkait pembangunan JPM dalam relokasi PKL sebagai upaya penataan Kawasan Pasar Tanah

Parameter Evaluasi Kondisi Simulasi Curah Hujan Satelit Modifikasi Pada Tahap Setelah Kalibrasi Tahun 2004 Hasil evaluasi yang ditunjukkan pada Tabel 4, terlihat bahwa hasil model