Proposal
Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Sumbawa Dialek
Semawa Yang Berasal Dari Bahasa Arab
Tugas Ini Diajukan Guna Memenuhi Tugas Akhir Matakuliah Metode Penelitian Bahasa
Dosen Pengampu : Dr. Hisyam Zaini, M. A
State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta
Oleh :
Muhammad Dedad Bisaraguna (1420510069)
FAKULTAS PASCASARJANA
PRODI AGAMA DAN FILSAFAT
KONSENTRASI ILMU BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Sumbawa Dialek Semawa Yang Berasal Dari Bahasa Arab
A. Latar Belakang Masalah
Suku Sumbawa (Tau Samawa) adalah suku yang terdapat di bagian barat Pulau Sumbawa di provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Populasi suku Sumbawa ± 500.000-an orang. Di Pulau ini didiami oleh dua Suku besar, Suku Sumbawa (Samawa), dan Suku Bima (Mbojo), tiap-tiap Suku tersebut memiliki bahasa komunikasi yang berbeda-beda, Suku Bima (Mbojo), menggunakan bahasa Bima sebagai bahasa pengantar dalam berinteraksi satu sama lain, sedangkan Suku Sumbawa (Samawa), menggunakan bahasa Samawa dalam komunikasi sehari-hari. Tau samawa (orang Samawa) adalah penduduk asli Tana Samawa (tanah Sumbawa) yang wilayahnya meliputi kabupaten Sumbawa sekarang. Dari Empang di Timur sampai Sekongkang yang berada di ujung barat dan selatan pulau, termasuk 38 pulau kecil di sekitarnya. Tersebar dari pesisir utara membentuk desa-desa pantai sampai ke puncak pegunungan Batu Lanteh membentuk desa-desa pedalaman dan terus ke pantai di Lunyuk.
Asal usul Tau Samawa (orang Sumbawa) pada awalnya adalah bangsa-bangsa Negroid, kemudian Veddoid dan bangsa Potro Malay. Mereka berasal dari berbagai tempat. Mereka datang ke Tana Samawa (Pulau Sumbawa) dan tinggal bersama kaum pribumi. Pada abad ke-15 dan 16 Tana Samawa dikenal dengan “ Pulau Nasi “. Hal ini mendorong para pendatang dari berbagai suku bangsa ke daerah ini, seperti : orang Bali, Bugis, Makasar, Banjar, Jawa, dan Melayu, serta Lombok. Para pendatang ini membawa pengaruh terhadap bahasa dan budaya. Hal ini dapat dibuktikan dari bahasa, budaya, bentuk tubuh dan warna kulitnya, bahwa Tau Samawa (orang Sumbawa) yang saat ini mendiami pulau Sumbawa merupakan percampuran dari banyak suku bangsa selama berabad-abad.
oleh sebagian besar pemakainya, dan dipakai sebagai bahasa percakapan sehari-hari dalam kalangan elit politik, sosial, dan ekonomi, akibatnya Basa Samawa
berkembang dengan mendapat kata-kata serapan dari bahasa asal etnik para penuturnya, yakni etnik Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bima, Sulawesi (Bugis,
Makassar, Mandar), Sumatera (Padang dan Palembang), Kalimantan (Banjarmasin), Cina (Tolkin dan Tartar) serta Arab, bahkan pada masa penjajahan Basa Samawa juga menyerap kosa kata asing yang berasal dari Portugis, Belanda, dan Jepang sehingga Bahasa Sumbawa kini telah diterima sebagai bahasa yang menunjukkan tingkat kemapanan yang relatif tinggi dalam pembahasan bahasa-bahasa daerah.1
Dalam bahasa Sumbawa sekarang dikenal beberapa dialek bahasa berdasarkan daerah penyebarannya, yaitu dialek Samawa, Baturotok (Batulante) dan dialek-dialek lain yang dipakai di daerah pegunungan Ropang seperti Labangka, Lawen (Selesek), serta penduduk di sebelah selatan Lunyuk, selain itu juga terdapat dialek Taliwang, Jereweh dan dialek Tongo.2Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pembahasan
pada bahasa Sumbawa yang menggunakan dialek Semawa.
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa bahasa Sumbawa tumbuh berkembang karena mendapat kata-kata serapan dari bahasa asal etnik para
penuturnya, salah satunya adalah bahasa Arab. Peneliti melihat bahwa dalam bahasa Sumbawa dialek Semawa terdapat beberapa kosa kata yang diserap dari bahasa asal etnik penuturnya yaitu salah satunya bahasa Arab, dari pengamatan selintas peneliti menemukan beberapa macam kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Sumbawa dialek Semawa yang terbagi menjadi empat segi yaitu, Pertama dari segi lafal dan arti sesuai dengan aslinya » kata “ahad” = “
دحلا
“ yang berarti hari minggu, kata “Bakhil” = “ليخب
” yang berarti pelit atau kikir. Kedua dari segi lafalnya berubah artinya tetap » kata “Rezeki =قزر
” dalam bahasa Sumbawa dilafalakan dengan kata “Riski”, kata “Ziarah =ةرايز
” dalam bahasa Sumbawa dilafalkan dengan kata “Siara”. Ketiga dari segi lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula » kata1 http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sumbawa, diakses pada tgl 23-12-2014
“Keparat” yaitu kata makian yang maknanya sepadan dengan kata sialan, dalam bahasa arab dilafalkan “
ةرفك
” berbentuk jamak yang berarti orang kafir, kata “bada” dalam bahasa Sumbawa berarti memberitahu, menceritakan atau mengabarkan, sedangkan dalam bahasa Arab dilafalkan dengan kata “دعب
” berarti setelah. Keempat dari segi lafalnya tetap artinya berubah » kata “انأ
” dalam bahasa Arab berarti “saya” sedangkan dalam bahasa Sumbawa berarti “itu”, kata “و
” dalam bahasa Arab berarti “dan” sedangkan dalam bahasa Sumbawa berarti “kata depan untuk ungkapan takjub » seperti pada kalimat “Wa gera pee” yang berarti “Wow cantik sekali atau wow indah sekali”.Dari sedikit paparan diatas, alasan yang melatar belakangi pemilihan penelitian tersebut, bahwa keberadaan bahasa daerah sebagai identitas suatu Suku harus tetap di pertahankan, kemudian untuk mengetahui kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab secara keseluruhan. Pemilihan topik ini bukanlah tanpa alasan, keberadaan bahasa Sumbawa dialek Semawa merupakan kebanggaan tersendiri bagi penduduk pulau Sumbawa, khususnya yang menggunakan dialek Semawa, didapati beberapa kosa kata bahasa Sumbawa yang menyerap dari bahasa Arab yang menarik dan patut untuk diteliti serta di pelajari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti membatasi permasalahan yang akan diungkapkan dalam penelitian ini ,secara spesifik, dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk perubahan makna kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab?
C. Tujuan dan Manfaat penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan makna kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab.
2. Mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna pada kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab.
Adapun manfaat dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis:
1. Manfaat teoritis: penelitian ini diharapkan mampu menambah kekayaan intelektual dan juga dapat menambah pengetahuan kita tentang kedinamisan bahasa : dalam hal ini terkait perkembangan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang menyerap kosa kata dari bahasa Arab. Sehingga penelitian ini
diharapkan bisa menjadi acuan dalam bidang semantik Sumbawa maupun yang bergerak dalam bidang linguistik Sumbawa.
2. Manfaat praktis : penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat bagi perkembangan linguistik Sumbawa dan para penggiat Bahasa Sumbawa.
D. Tinjauan Pustaka
Secara teoritis, Bahasa Sumbawa hampir-hampir telah menjadi sebuah pengetahuan yang sangat normatif. Perkembangan linguistik Sumbawa tampaknya berhenti pada tahap yang memprihatinkan. Hal ini juga karena bidang ini sudah kehilangan para peminatnya. Berdasarkan informasi baik melalui jurnal, makalah-makalah, peneliti tidak menemukan penelitian yang membahas kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Sumbawa dialek Semawa, tetapi peneliti mendapatkan beberapa judul yang kajian objeknya mirip atau bahkan berbeda meskipun teori yang
digunakan sama yaitu :
mengkaji tentang perubahan fonologi yang terjadi dari bahasa Arab dalam Bahasa Jawa dengan pisau analisis kontrastif. Seperti kata kusuk yang diambil dari kata عوشخatau yang seharusnya ditulis dengan Khusyu’.
2. Pergeseran makna serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia, tinjauan Sosio-Semantik, yang ditulis oleh Imam Saeful Bahri tahun 2009. Seperti kata rukuh, yang diserap dari Bahasa Arab rukhun yang memiliki makna keleluasan. Diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi rukuh, yang berarti kain longgar penutup aurat wanita, kecuali mata kaki dan kedua ttelapak tangan, biasanya dipakai untuk shalat; Mukena, Telekung.
E. Kerangka Teori
Menurut Abdul Chaer, kajian tentang makna (Semantik) secara umum diantaranya yaitu: (1) Jenis makna, (2) Relasi makna, (3) Perubahan makna, dan (4) Medan makna. Memang sangat luas cakupan makna dari kajian semantik, akan tetapi teori yang cocok untuk digunakan dalam penelitian ini adalah teori perubahan
makna.3
Hal yang harus diketahui adalah adanya perbedaan antara perubahan makna dan pergeseran makna. Dalam beberapa literatur ada yang membedakan ada juga yang menyamakan, karena asumsi dasarnya bila pergeseran maknaya itu berupa gejala perluasan, penyempitan, pengonotasian (konotasi), penyinestesian (sinestesia), dan pengasosiasian makna kata yang masih dalam satu medan makna. Dalam
pergeseran makna rujukan awal tidak berubah atau diganti, tetapi rujukan awal mengalami perluasan atau penyempitan rujukan. Sedangkan perubahan makna yaitu gejala pergantian rujukan dari symbol bunyi yang sama. Dalam perubahan makna terjadi perubahan pada rujukan yang berbeda dengan rujukan awal.4
Pateda, secara terang tidak membedakan antara perubahan dan pergeseran makna, tetapi memasukkannya dalam sub-bahasan perubahan makna yaitu bahwa perubahan makna meliputi : Pelemahan, pembatasan, pergantian, pergeseran, perluasan makna, dan juga kekaburan makna.5 Sedangkan menurut Abdul Chaer, perubahan makna kata atau satuan ujaran ada beberapa macam diantaranya,
3 Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta : Rineka Cipta, 2007), hlm. 289-318. 4 J.D. Parera, Teori Semantik (Jakarta : Erlangga, 2004), hlm. 107.
perubahan makna meluas, menyempit, perubahan total, penghalusan, dan pengasaran.6
Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau laksem yang pada mulanya hanya memiliki satu makna, tetapi kemudian karena banyak faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Perubahan makna menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dan makna
asalnya. Penghalusan adalah usaha untuk menggantikan makna yang maknanya kasar dengan makna yang lebih halus. Kebalikan dari penghalusan adalah pengasaran (disfemia), yaitu usaha untuk menggantikan kata yang maknanya halus atau biasa dengan kata yang maknanya kasar.7
Dengan demikian yang di maksud perubahan makna dalam penelitian ini yaitu memfokuskan kajian pada kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab, yang mengalami perluasan makna, penyempitan makna, dan perubahan makna total.
F. Metode Penelitian
Hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sasaran penelitian, bentuk dan strategi penelitian, teknik
penyediaan data, klasifikasi data, teknik analisis data, serta penyajian hasil analisis data.
1. Sasaran Penelitian
Sasaran dalam penelitian ini adalah tuturan masyarakat penutur bahasa Sumbawa dialek Semawa dalam penggunaan kosa kata yang mengandung kata serapan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari di Sumbawa Besar dialek Semawa. Kata serapan tersebut dapat berupa kata, frase maupun kalimat.
2. Bentuk dan Strategi Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif karena penelitian berusaha mendeskripsikan bentuk-bentuk kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Sumbawa dialek Semawa pada percakapan sehari-hari di Sumbawa Besar.
3. Teknik Penyediaan Data
Adapun teknik penyediaan data dalam penelitian ini terbagi menjadi beberapa sub-bahasan antara lain :
a. Teknik simak dan catat
Yaitu mengadakan penyimakan dan terhadap pemakai bahasa lisan yang bersifat spontan dan mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai sasaran dan tujuan penelitian.8 Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan terarah dimanapun terdapat tuturan kata Serapan kemudian melakukan penyimakan terhadap pemakai bahasa lisan yang mengandung kata serapan bahasa Arab. Setelah itu dilakukan pencatatan dengan menyertakan latar dan konteksnya, peneliti mendeskripsikan siapa penutur, mitra tutur, lokasi tuturan, situasi tuturan (formal atau informal), hubungan penutur dan mitra tutur.
b. Teknik sadap dan rekam
Pada praktiknya, penyimakan atau metode simak diwujudkan dengan penyadapan. Si peneliti untuk mendapatkan data pertama-tama dengan segenap kecerdikan dan kemauannya harus menyadap pembicaraan
(penggunaan bahasa) seseorang atau beberapa orang. Kegiatan menyadap itu dapat dipandang sebagai teknik dasarnya dan dapat disebut “teknik sadap”.9 Sebelum melakukan penyadapan, dilakukan pengamatan atau obsevasi terlebih dahulu. Dalam menggunakan teknik rekam, penutur kata serapan tidak mengetahui jika dirinya sedang disadap pembicaraannya. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan bentuk-bentuk kata serapan secara wajar dan alamiah. Untuk mendapatkan data secara wajar dan alamiah, teknik sadap ini dilakukan dengan cara merekam tuturan melalui handphone yang mempunyai fasilitas rekam. Dengan menggunakan handphone, penutur kata serapan tidak sadar kalau disadap pembicaraannya karena penggunaan handphone sudah
8 Edi Subroto, Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural (Surakarta : UNS Press. 2007), hlm. 47.
tidak asing lagi bagi masyarakat. Dalam melakukan teknik sadap, peneliti berpura-pura menggunakan handphone untuk SMS atau menelepon dengan tetap memperhatikan pembicaraan penutur kata serapan. Setelah data
diperoleh, dilakukan pentranskripan secara tertulis dan transkrip fonetis pada kata-kata tertentu.
c. Teknik Kerja Sama dengan Informan (in Depth Interview)
Seperti halnya dengan teknik wawancara, teknik ini juga menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kebahasaan tertentu yang dijawab oleh informan.10 Dilihat dari bahan yang diwawancarakan, teknik kerja sama dengan informan dapat digolongkan wawancara tak berencana atau tidak terstruktur.
Wawancara tak berencana dalam arti pertanyaan yang hendak disampaikan tidak tersusun secara tetap dan tertentu urutannya. Sekalipun demikian, termasuk berstruktur longgar karena ada pola bertanya yang mengikuti strategi tertentu. Maksudnya, pertanyaan tersebut sudah berada di benak peneliti sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara yang tidak formal dan bisa dilakukan secara berulang pada informan yang sama. Yang ingin digali dari wawancara mendalam dengan informan dalam penelitian ini adalah kejujuran informan untuk memberikan informasi yang sebenarnya tentang penggunaan kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Sumbawa dialek Semawa.
4. Klasifikasi Data
Pengaturan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara memilah dan mengatur secara fisik semua data ke dalam kelompok, folder, atau kartu sesuai dengan rumusan masalah penelitian agar mudah digunakan untuk proses selanjutnya.11 Data yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi catatan penyimakan, hasil wawancara, rekaman, memo yang dibuat peneliti, potongan pikiran-pikiran peneliti yang muncul dalam proses pengumpulan data, dan juga catatan semua pandangan yang diperoleh dari mana pun.
Dalam klasifikasi data ini, data yang diperoleh diklasifikasikan
berdasarkan : (1) bentuk kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab berdasarkan lafal dan arti sesuai dengan bahasa aslinya.
10 Edi Subroto, Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural (Surakarta : UNS Press, 2007), hlm. 42.
(2) klasifikasi data berdasarkan kata-kata serapan yang lafalnya berubah namun artinya tetap. (3) klasifikasi data berdasarkan kata serapan yang lafalnya tetap namun artinya berubah. (4) klasifikasi data berdasarkan lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula, sehingga didapatkan data yang berupa kata, frasa, dan klausa. Langkah selanjutnya adalah memasukkan data-data tersebut ke dalam map khusus sesuai dengan kelompoknya.
5. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode padan dan agih dalam menganalisis data.
Metode padan adalah metode yang alat penentunya adalah unsur di luar bahasa atau sesuatu yang ditunjuk bahasa (referent), alat ucap pembentuk bunyi bahasa, bahasa lain, dan lawan bicara yang disesuaikan dengan kebutuhan. Alat penentu dari luar bahasa maksudnya adalah latar belakang penutur, misalnya siapa yang bertutur, dari mana asal penutur, penutur memiliki peran apa pada saat bertutur. Teknik dasar dari metode padan adalah teknik pilah unsur penentu, sedangkan alatnya adalah daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh peneliti.
Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentu unsurnya berasal dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri.12 Metode agih dalam penelitian ini hanya menggunakan teknik dasar bagi unsur langsung. Teknik ini digunakan untuk membagi satuan lingual data, menjadi unsur-unsur yang bersangkutan dengan pembentuk satuan lingual. Metode agih dengan teknik dasar bagi unsur langsung hanya diterapkan untuk mengetahui bentuk-bentuk kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab.
6. Penyajian Hasil Analisis Data
Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode informal. Metode informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya.13 Dengan kata lain metode ini
menggunakan kata-kata sederhana agar mudah dipahami. Metode informal digunakan untuk mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan
12 Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa (Duta Wacana University Press, 1993), hlm. 15.
dalam penelitian ini. Permasalahan tersebut berupa bentuk kata-kata serapan bahasa Sumbawa dialek Semawa yang berasal dari bahasa Arab.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul, Linguistik Umum (Jakarta : Rineka Cipta, 2007).
__________ , Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta : Rineka Cipta, 2009). J.D. Parera, Teori Semantik (Jakarta : Erlangga, 2004).
Pateda, Mansoer, Semantik Leksikal (Jakarta : Rineka Cipta, 2010).
Subroto, Edi, Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural (Surakarta : UNS Press. 2007).
Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa (Duta Wacana University Press, 1993).
Prof. Dr. Daru Suprapta ‘Relevansi bahasa dan sastra daerah dalam pembentukan dan pembinaan kebudayaan’, Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Universitas Gajah Mada pada tgl 13 juli 1996 di Yogyakarta.