EFEKTIFITAS WAKTU BELAJAR SISWA SMA
EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS BELAJAR
BAB IPENDAHULUAN
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah atau dirumah. Untuk memperoleh hasil yang maksimal didalam proses belajar hendaklah kita memperhatikan hal-hal yang menjadikan suksesnya suatu proses belajar, salah satunya ialah efisiensi dan efektifitas pelajar.
Maka dari itu kami akan menyajikan makalah dengan judul efisiensi dan efektifitas belajar, untuk kita diskusikan bersama.
BAB II
PERMASALAHAN
Didalam makalah ini kami akan menyajikan tentang : 1. Pengertian dari efisiensi dan efektifitas belajar.
2. Beberapa cara untuk memperoleh efisiensi dan efektifitas belajar. 3. Manfaat yang diperoleh dari metode belajar yang efektif dan efisien.
BAB III
EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS BELAJAR
A. PENGERTIAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS BELAJAR
Efisiensi adalah sebuah konsep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dan hasilnya ( Gie, 1985 ). Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien apabila prestasi belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha yang minimal dan dengan usaha tersebut dapat memberikan prestasi belajar yang tinggi .
( 1981 ) dalam Efektivienes Means Different to Different People .
Jadi dapat disimpulkan bahwa efisiensi dan efektifitas belajar adalah metode belajar siswa dengan usaha yang minimal dan memanfaatkan metode-metode belajar tertentu untuk menghasilkan prestasi siswa yang maksimal.
B. BEBERAPA CARA UNTUK MEMPEROLEH EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS BELAJAR 1. Ragam Pendekatan Belajar
a. Pendekatan hukum Jost.
Menurut Reber ( 1988 ), salah satu asumsi penting yang mendasari hukum Jost adalah siswa yang lebih sering mempraktekan meteri pelajaran akan mudah mngingat kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni, maksudnya adalah ketika siswa mempelajari materi tersebut yang panjang dan kompleks dengan alokasi waktu dua jam perhari selama empat hari akan lebih efektif dari pada mempelajari materi tersebut dengan alokasi waktu empat jam sehari tetapi hanya selama dua hari, perumpamaan dengan cara mencicil tersebut hingga kini masih dipandang cukup berhasil terutama untuk materi-meteri yang bersifat hafalan. b. Pendekatan Ballard dan Clanchy
Menurut Ballard dan Clanchy ( 1990 ) ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan yaitu sikap melestarikan apa yang sudah ada Conserving dan sikap memperluas Extending. Siswa yang conserving umumnya mengunakan pendekatan belajar dengan Reproduktif yaitu belajar dengan menghafal, menjelaskan, meringkas yang tujuannya untuk menyebutkan kembali materi-materi yang sudah disampaikan. Sedangkan siswa yang extending umumnya
menggunakan pendekatan Analitis yaitu belajar dengan berfikir kritis, berargumen yang tujuannya pembentukan kembali materi kedalam pola baru atau berbeda.
Diantara mereka ( siswa ) yang bersifat extending cukup banyak yang menggunakan pendekatan belajar yang lebih ideal yaitu pendekatan Spekulatif yaitu belajar dengan mencari kemungkinan dan penjelasan baru yang tujuannya menciptakan atau mengembangkan materi pengetahuan. c. Pendekatan Biggs.
Menurut hasil penelitian Biggs ( 1991 ), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga prototype ( bentuk dasar ) yakni :
Pendekatan surface ( pendekatan permukaan )
Yaitu siswa belajar karena dorongan dari luar Ekstrinsik antara lain takut tidak lulus yang mengakibatkan dia malu, gaya belajarnya pun santai, asal hafal dan tidak secara mendalam dalam memahami materi, pendekatan ini tidak baik digunakan untuk siswa karena siswa tidak sungguh-sungguh dalam belajar.
Pendekatan deep ( mendalam )
Yaitu siswa dalam mempelajari materi sungguh-sungguh, serius, lulus dengan nilai baik adalah penting bagi siswa ini tetapi yang paling penting adalah memiliki pengetahuan yang cukup banyak dan bermanfaat bagi kehidupannya .
Pendekatan achieving ( pencapaian prestasi tinggi )
Yaitu siswa belajar karena memiliki ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi setinggi-tingginya, gaya belajarnya serius dan dia sangat cerdik serta efisien dalam mengatur waktu, dia sangat disiplin dan berjiwa kompetisi untuk meraih nilai yang paling tinggi disbanding denganteman-temannya.
Metode ini dikembangkan oleh Francis P.Robinson untuk mempelajari teks yang terdapat dalam buku, artikel ilmiah dan laporan penelitian. Metode 5Q3R meliputi :
Survey ;Memeriksa atau mengidentifikasi seluruh teks.
Question ;Menyusun daftar pertanyaan yang relefan dengan teks.
Read ;Membaca teks secara ektif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun.
Recite ;Menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan.
Review ;Meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tersusun pada langkah ke dua dan ke tiga.
b. Metode PQ4R
Metode belajar lain yang dipandang dapat meningkatkan kinerja memori dalam memahami teks adalah metode ciptaan Thomas dan Robinson ( 1972 ) yaitu PQ4R, metode tersebut terdiri atas enam langkah pendukung upaya pembelajaran materi bab dalam teks atau buku, enam langkah tersebut merupakan singkatan dari PQ4R, yaitu :
Preview ; Bab yang akan dipelajari hendaknya disurvei terlebih dahulu untuk menemukan topic umum yang terdapat didalamnya, kemudian sub bab yang ada didalam bab tersebut hendaknya diidentifikasi sebagai unit-unit yang akan dibaca.
Question ; Pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan sub bab hendanya disusun misalnya dengan cara mengubah judul sub bab yang bersangkutan kedalam bentuk kalimat bertanya. Read ; Isi sub bab hendaknya dibaca secara cermat sambil mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan yang telah disusun tadi.
Reflect ; Selama membaca isi sub bab hendaknya dikenang secara mendalam dalam pikiran dengan berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Recite ; Setelah sebuah sub bab dibaca informasi yang terdapat didalamnya hendaknya diingat-ingat lalu semua pertanyaan mengenai sub bab tersebut dijawab. Jika ada jawaban yang kurang memuaskan maka bagian yang sulit diingat dan menyebabkan kesalahan jawaban itu hendaknya dibaca lagi.
Review ; Setelah menyelesaikan satu bab tanamkanlah materi bab tersebut kedalam memori sambil mengingat intisarinya kemudian jawablah sekali lagi seluruh pertanyaan yang
berhubungan dengan sub-sub bab dari bab tersebut .
C. MANFAAT YANG DIPEROLEH DARI METODE BELAJAR YANG EFEKTIF DAN EFISIEN
Dengan menggunakan metode belajar yang efektif dan efisien, siswa dapat memperoleh manfaat diantaranya :
1. Hemat waktu dan tenaga.
2. Siswa lebih mudah dalam mempelajari materi. 3. Peluang dalam keberhasilan belajar lebih besar. 4. Meningkatkan motifasi belajar.
BAB IV PENUTUP
Berdasarkan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan efisien dan efektifitas belajar ialah metode belajar siswa dengan usaha yang minimal dan memanfaatkan metode-metode belajar tertentu untuk menghasilkan prestasi siswa yang maksimal. Untuk mendapatkan hasil belajar atau prestasi yang baik dan maksimal siswa diharapkan dapat belajar secara efektif dan efisien, diantaranya yaitu dengan berbagai pendekatan dan metode dalam belajar. Terlepas dari semua itu siswa juga diharapkan lebih optimis dan sadar akan pentingnya belajar untuk mendapatkan prestasi yang baik.
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kami menyadari bahwa susunan makalah ini masih jauh untuk mencapai kesempurnaan, dalam arti yang sebenarnya dengan maksud
peningkatan. Kami mengharap saran dan kritik yang membangun. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua Amin……….
B. REFERENSI
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002. Muhibbin Syach, Psikologi Belajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003.
Imadudin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1980.
Efektifitas Waktu Belajar Pelajar
Topik Kebudayaan : Efektifitas Waktu Belajar Pelajar
Judul : Kualitas waktu belajar pelajar di Indonesia
1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Mendapatkan pendidikan adalah hak semua anak-anak Indonesia, dengan adanya pendidikan tersebut, diharapkan munculnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas sehingga dapat memajukkan setiap aspek-aspek yang ada dalam Negara Indonesia.
Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat memperhatikan pendidikan, kita bisa lihat dari adanya system belajar Sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Didirikannya sekolah-sekolah, bahkan diadakan beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu. Tetapi coba kita lihat system belajar yang ada.
II. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merumuskan masalah, yaitu:
Apakah dampak yang ditimbulkan dari panjangnya waktu belajar di sekolah bagi para siswa/I di Indonesia?
III. Pembahasan
Efektifitas Belajar di SMA Dwiwarna
10 Mei 2009 oleh tantrapuan
oleh Fitrian Muhammad Oddang, Kevin Pradana dan Brama Putra Sriyatno
Ketika kita mendengar kata belajar mungkin sosok pelajarlah yang terbersit di benak kita semua. Seperti apa belajar menurut Anda? Tentunya kita semua memiliki persepsi yang berbeda entah menyenangkan atau mungkin menyebalkan.
Begitu pentingnya belajar bagi kita, di mana pun dan kapan pun. Banyak sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas pendidikan formal baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Salah satu dari penyedia fasilitas itu adalah SMA Dwiwarna. Seperti apa nuansa belajar di sana dan sudahkah belajar dengan efektif semua akan dibahas di sini.
Berkenaan dengan hal tersebut kami berhasil mewawancarai beberapa narasumber yaitu Ibu Euis Tresna sebagai salah satu staf pendidik dan Rini Mayasari selaku siswa. Berikut adalah kutipan wawancara dengan Ibu Euis.
1. Menurut Anda seperti apa belajar efektif itu?
Belajar yang efektif adalah belajar yang mampu mengoptimalkan pencapaian target belajar, baik akademis maupun kepribadian. Jadi, dengan waktu yang ada dan tersedia, target-target itu harus bias dicapai dengn memaksimalkan segala instrumen-instrumen pendidikan dan belajar.
2. Apa saja yang harus dioptimalkan dan dimaksimalkan dalam belajar?
Pertama adalah persiapan guru pengajar dan siswa itu sendiri. Jadi, untuk setiap guru yang akan mengajar sebaiknya telah menyiapkan dan menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik, sehingga apa yang disampaikan pada siswa menjadi lebih focus, terarah, dan mudah dipahami. Kemudian untuk siswa harus bisa mengoptimalkan segala alat Bantu belajar sehingga apa yang telah disampaikan oleh para pengajar dapat dengan mudah dicerna dan diingat.
3. Adakah perubahan yang Anda rasakan di semester 2 ini pada kegiatan belajar mengajar? Sebenarnya ada perubahan yang mungkin ada kaitannya dengan kegiatan Festival Dwiwarna (FDW) 2009 ini yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Hal ini jelas mengganggu, menurut saya pribadi terutama sangat mengganggu dan merugikan waktu belajar siswa.
4. Perubahan seperti apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya?
5. Jadi menurut Anda kegiatan FDW mengganggu efektivitas belajar siswa?
Iya, benar sekali. Dengan banyaknya siswa yang keluar jam pelajaran terutama kelas 2 tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran namun di satu sisi dengan adanya kegiatan FDW siswa bisa memperoleh pengalaman berorganisasi yang sangat bermanfaat. Sebagai pelajar, prestasi akademik memang sangat penting namun sebuah pengalaman organisasi seperti ini tidakklah kalah penting. Kemampuan organisasi dan prestasi akademik harus seimbang jadi pintar saja tidaklah cukup, harus diimbangi dengan kemampuan leadership sehingga akan lebih leluasa dalam mengimplementasikan ide-ide yang ada.
6. Bagaimana perbandingan kurva prestasi akademik siswa pada semester 1 dan 2?
Secara umum mgrafik prestasi akademik siswa di semester 2 untuk kelas 1 dan 2 memang agak menurun bila dibandingkan dengan semester sebelumnya walaupun ada juga beberapa siswa yang menunjukkan grafik yang tetap stabil. Intinya walau banyak aktivitas prestasi belajar siswa haruslah tetap dijaga.
7. Apa saran Anda agar belajar tetap efektif walau penuh aktivitas?
Sebagai seorang siswa tentunya skala prioritas sangatlah penting, setiap siswa harus memiliki skala prioritas yang baik untu belajar. Selain itu pengaturan konsentrasi juga sangat penting apa lagi bagi para siswa yang telah menginjak remaja. Karena perasaan suka terhadap lawan jenis biasanya bisa mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Intinya jadikanlah belajar pada skala prioritas yang paling atas.
Demikianlah hasil wawancara dengan Ibu Euis Tresna, cukup banyak informasi yang bisa kita ambil dari wawancara tersebut mengenai belajar mengajar di SMA Dwiwarna. Berikut adalah hasil wawancara kepada salah satu siswa yaitu Rini Mayasari siwa kelas 2.
1. Apakah menurut Anda proses belajar mengajar di semester 2 ini sudah efektif? Menurut saya pembagian jadwalnya masih belum efektif terutama waktu hari Jum’at. Hari Jum’at itu jam olahraga paginya sangat membuang waktu, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk belajar. Tentunya hal itu akan lebih baik bila dibandingkan berolahraga berlama-lama namun pada akhirnya banyak siswa yang tidak hadir pada jam olahragaitu. Sebaiknya jam olahraga pagi ditiadakan saja atau dikurangi waktunya.
2. Menurut Anda apakah dengan adanya kegiatan FDW di semester 2 ini mengganggu kegiatan belajar?
Menurut saya pribadi tidak terlalu mengganggu untuk saya karena saya sendiri jarang untuk keluar kelas dan meninggalkan jam pelajaran. Mungkin karena jabatan kepanitiaan saya tidak terlalu sibuk bekerja sehingga tak terlalu mengganggu untuk saya. Tetapi saya merasa belajar jadi kurang efektif karena walau hanya sebentar meninggalkan jam belajar, sangat berpengaruh sekali. Selain itu akibat banyak siswa lain yang keluar jam pelajaran gurupun jadi agak tak bersemangat dalam belajar sehingga belajar jadi kurang efektif.
3. Apa saran Anda agar belajar menjadi lebih efektif?
menambah keefektifan dalam belajar mengajar dengan demikian materi yang diajarkan akan efektif diserap siswa karena siswa twlah dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing.
Sungguh luar biasa apa yang diuraikan dan dijelaskan oleh para narasumber kita. Banyak manfaat dan informasi yang bisa kita ambil darinya, terutama bagi kami sebagai tim
pewawancara. Masih banyak kekurangan di sana sini dalam teknik wawancara dan penyusunan laporan, kami harus lebih banyak belajar lagi dan dimohon saran dari Anda sekalian yang telah membaca hasil laporan kami ini. Terimakasih kami ucapkan kepada guru pembimbing dan narasumber yang telah banyak membantu demi kerampungan laporan ini.
Pengertian Belajar & Pengertian Pembelajaran
Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting
dalam keseluruhan proses pendidikan.
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely dalam bukunya teaching & Media-A systematic Approach (1971) dalam Arsyad (2011: 3) mengemukakan bahwa “belajar adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati”.
Sedangkan Menurut Gagne dalam Whandi (2007) belajar di definisikan sebagai “suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman”. Slameto (2003: 5) menyatakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya”.
Lebih lanjut Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2010 :35) menyimpulkan bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu”. Dengan demikian dapat disimpulkan Belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan
pribadi manusia seutuhnya.
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar, di pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut :
Trebuchet MS, sans-serif;">Teori Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran
sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan).
Teori Kognitif, menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
Teori Humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Arikunto (1993: 12) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut Arikunto (1993: 4) mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap”.
Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang
memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar.
sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.
Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru
sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah, maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut keaktifan guru dan siswa.
Referensi
Arsyad, A. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Arikunto, Suharsimi. (1993). Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Aunurrahman. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit
AlfabetaSlameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Wandi, (2007). Pengertian Belajar Menurut Ahli.
Belajar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ada usul agar artikel atau bagian ini digabungkan dengan
Pembelajaran. (Diskusikan)
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.[1] Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respons, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur.
Daftar isi
1 Penjelasan dari perubahan dalam definisi belajar
2 Empat tahapan belajar
o 2.1 Inkompetensi bawah sadar
o 2.2 Inkompetensi sadar
o 2.3 Kompetensi sadar
o 2.4 Kompetensi bawah sadar
3 Lihat pula
4 Referensi
5 Prana Luar
Penjelasan dari perubahan dalam definisi belajar
Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari
ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya
Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan
semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Proses perubahan tingkah laku dinyatakan dalam bentuk penguasaan,
penggunaan, dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai pengetahuan yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai
aspek kehidupan[2].
Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar.
Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku.
Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman, praktik[2] atau latihan.
Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang
bersifat naluriah.
Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa
ganjaran yang diterima - hadiah atau hukuman - sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.
Proses perubahan dalam belajar menuju ke arah tujuan yang lebih baik dan
bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain[3].
perasaan bangga dalam diri karena dapat mengerti dan paham akan apa
yang di pelajari.
Empat tahapan belajar
Ada empat tahapan belajar manusia, yaitu:
Inkompetensi bawah sadar, yaitu tidak sadar bahwa ia tidak tahu.
Inkompetensi sadar, yaitu sadar bahwa ia tidak tahu.
Kompetensi sadar, yaitu sadar bahwa ia tahu.
Kompetensi bawah sadar, yaitu tidak sadar bahwa ia tahu.
Inkompetensi bawah sadar
Kondisi di saat kita tidak mengetahui kalau ternyata kita tidak tahu. Contohnya adalah keadaan pikiran banyak pengemudi muda saat mulai belajar mengemudi. Itulah mengapa pengemudi muda mengalami lebih banyak kecelakaan ketimbang pengemudi yang lebih tua dan
kemungkinan besar akan mengambil risiko, memapar diri pada bahaya atau kerugian, untuk alasan sederhana yang sama sekali tidak mereka sadari bahwa itulah yang mereka lakukan.
Inkompetensi sadar
Pengakuan sadar pada diri sendiri bahwa kita tidak tahu, dan penerimaan penuh atas kebodohan kita.
Kompetensi sadar
Sadar bahwa kita tahu, yaitu ketika kita mulai memiliki keahlian atas sebuah subjek, tetapi tindakan kita belum berjalan otomatis. Pada belajar yang ini, kita harus melaksanakan semua tindakan dalam level sadar. Saat belajar mengemudi, misalnya, kita harus secara sadar tahu di mana tangan dan kaki kita, berpikir dalam setiap pengambilan keputusan apakah akan menginjak rem, berbelok, atau ganti gigi. Saat kita melakukannya, kita berpikir dengan sadar tentang bagaimana melakukannya. Pada tahap ini, reaksi kita jauh lebih lamban ketimbang reaksi para pakar.
Kompetensi bawah sadar
Tahapan seorang ahli yang sekadar melakukannya, dan bahkan mungkin tidak tahu bagaimana ia melakukannya secara terperinci. Ia tahu apa yang ia lakukan, dengan kata lain, ada sesuatu yang ia lakukan di hidup ini yang bagi orang lain tampak penuh risiko tetapi bagi dia bebas risiko. Ini terjadi karena ia telah membangun pengalaman dan mencapai kompetensi bawah sadar pada aktivitas itu selama beberapa tahun. Ia tahu apa yang ia lakukan, dan ia juga tahu apa yang tidak dapat ia lakukan. Bagi seseorang yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalamannya, apa yang ia lakukan tampak penuh risiko.
Lihat pula
Pembelajaran
Pendidikan
(http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar)
Pembelajaran
Kota Nagasaki 1945 sebelum dan sesudah di jatuhkan bom atom, merupakan bentuk pembelajaran akibat dari Perang Dunia
Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.[1]
Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri.[2] Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak
secara langsung dapat diamati:
“
Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individuberperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku
sebelumnya[3].
”
Daftar isi
1 Pembelajaran dalam dunia pendidikan
o 2.1 Pengondisian klasik
o 2.2 Pengondisian operant
o 2.3 Pembelajaran sosial
3 Prinsip-prinsip pembelajaran
o 3.1 Perhatian dan Motivasi
o 3.2 Keaktifan
o 3.3 Keterlibatan Langsung/Pengalaman
o 3.4 Pengulangan
o 3.5 Tantangan
o 3.6 Balikan dan Penguatan
o 3.7 Perbedaan Individual
4 Metode pembentukan perilaku
5 Lihat pula
6 Referensi
Pembelajaran dalam dunia pendidikan
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi
sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan
pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Teori pembelajaran
Tiga teori telah ditawarkan untuk menjelaskan proses di mana seseorang memperoleh pola perilaku, yaitu teori pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan pembelajaran sosial.[2]
Pengondisian klasik
Ivan Pavlov, ahli fisiolog dari Rusia yang memperkenalkan Teori Pengkondisian Klasik
Pengkondisian klasik adalah jenis pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru.[2] Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen
untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov[4].
Pengondisian operant
Pengkondisian operan adalah jenis penglondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman.[2] Kecenderungan untuk mengulang
perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku.[2] Dengan demikian, penegasan akan memperkuat sebuah perilaku
dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi.[2]
yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut[5].
Pembelajaran sosial
Pembelajaran sosial adalah pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan
pengalaman langsung.[6] Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari pengkondisian
operan, teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi. Teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam
pembelajaran.[6]
Prinsip-prinsip pembelajaran
Berikut ini adalah prinsip umum pembelajaran yang penulis rangkum dari beberapa pakar pembelajaran yang meliputi:
Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan perhatian dan juga motivasi untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri siswa tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut perlu dibangkitkan perhatiannya. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya, kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar mengenai apa yang dipelajari peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan; melihat masalah-masalah yang akan diberikan; memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan. Di samping perhatian, motivasi
mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik
perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasi untuk mempelajarinya. Misalnya, siswa yang menyukai pelajaran matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan
bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa
berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan
kegiatan tersebut;
Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Motivasi dapat bersifat internal, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri peserta didik dan juga eksternal baik dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Berkenaan dengan prinsip motivasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan
pembelajaran, yaitu: memberikan dorongan, memberikan insentif dan juga motivasi berprestasi.
Keaktifan
Menurut pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah. Menurut teori
kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak hanya menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Thordike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat jika sering dipakai dan akan berkurang bahkan lenyap jika tidak pernah digunakan. Artinya dalam kegiatan belajar diperlukan adanya latihan-latihan dan pembiasaan agar apa yang dipelajari dapat diingat lebih lama. Semakin sering berlatih maka akan semakin paham. Hal ini juga sebagaimana yang dikemukakan oleh Mc.Keachie bahwa individu merupakan "manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu". Dalam proses belajar, siswa harus menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik yang mudah diamati maupun kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan dan sebaginya. Kegiatan psikis misalnya menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan suatu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan lain sebagainya.
Keterlibatan Langsung/Pengalaman
Belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar
sendiri. Dalam konteks ini, siswa belajar sambil bekerja, karena dengan bekerja mereka
memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman serta dapat mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Hal ini juga sebagaimana yang di ungkapkan Jean Jacques Rousseau bahwa anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Pembelajaran itu akan lebih bermakna jika siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukan "mengetahui" dari informasi yang disampaikan guru, sebagaimana yang dikemukakan Nurhadi bahwa siswa akan belajar dngan baik apabila yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Dari berbagai pandangan para ahli tersebut menunjukkan berapa pentingnya keterlibatan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan "learning by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung dan harus dilakukan oleh siswa secara aktif. Prinsip ini didasarkan pada asumsi bahwa para siswa dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dengan cara keterlibatan secara aktif dan
proporsional, dibandingkan dengan bila mereka hanya melihat materi/konsep. Modus
Pengalaman belajar adalah sebagai berikut: kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Hal ini
menunjukkan bahwa jika guru mengajar dengan banyak ceramah, maka peserta didik akan mengingat hanya 20% karena mereka hanya mendengarkan. Sebaliknya, jika guru meminta peserta didik untuk melakukan sesuatu dan melaporkan nya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%. Hal ini ada kaitannya dengan pendapat yang dikemukakan oleh seorang filsof Cina Confocius, bahwa:
“
apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apayang saya lakukan saya paham. Dari kata-kata bijak ini kita dapat mengetahui betapa pentingnya keterlibatan langsung dalam
pembelajaran.
”
Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya
dikuasai serta mudah terlupakan" akan tetap tertanam dalam otak seseorang. Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca, tetapi juga bahkan lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari misalnya dengan membuat ringkasan. Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori koneksionisme-nya Thordike. Dalam teori koneksionisme, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon benar.
Tantangan
Teori medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam belajar berada dalam suatu medan. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan dalam mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuman yang tidak menyenangkan.
Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaiatan dengan balikan dan penguatan adalah teori belajar operant conditioning dari B.F. Skinner.Kunci dari teori ini adalah hukum effeknya Thordike, hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat, jika disertai perasaan senang atau puas dan sebaliknya bisa lenyap jika disertai perasaan tidak senang. Artinya jika suatu perbuatan itu menimbulkan efek baik, maka perbuatan itu cenderung diulangi. Sebaliknya jika perbuatan itu menimbulkan efek negatif, maka cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi. Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apabila hasilnya baik akan menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja dari penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan, atau dengan kata lain adanya penguatan positif maupun negatif dapat
memperkuat belajar. Siswa yang belajar sungguh-sungguh akan mendapat nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operan conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar yang lebih giat. Di sini nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat, inilah yang disebut penguatan negatif.
Siswa merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya. Guru harus memahami perbedaan siswa secara individu, agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu. Siswa akan berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Setiap siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dapat memberi pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini
berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan kalsik yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Metode pembentukan perilaku
Ketika seseorang mencoba untuk membentuk individu deng
an membimbingnya selama pembelajaran yang dilakukan secara bertahap, orang tersebut sedang melakukan pembentukan perilaku.[2] Pembentukan perilaku adalah secara sistematis menegaskan
setiap urutan langkah yang menggerakkan seorang individu lebih dekat terhadap respons yang diharapkan.[2] Terdapat empat cara pembentukan perilaku: melalui penegasan positif, penegasan
negatif, hukuman, dan peniadaan.[2]
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran)
Pendidikan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Rangkaian dari
Sains
Sains formal [tampilkan]
Sains fisik [tampilkan]
Sains kehidupan [tampilkan]
Ilmu terapan [tampilkan]
Interdisipliner [tampilkan]
Portal
Kategori
v
t
e
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau
penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.[1] Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir,
merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan.[2] Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai
usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka.
Daftar isi
1 Filosofi pendidikan
2 Fungsi pendidikan
3 Ekonomi
4 Referensi
6 Pranala luar
Filosofi pendidikan
Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."[butuh rujukan]
Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.
Fungsi pendidikan
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:
Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi
kepentingan masyarakat.
Melestarikan kebudayaan.
Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Fungsi lain dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.
Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua
melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk
menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat
mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan
Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat
masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
Menjamin integrasi sosial.
Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
Sumber inovasi sosial.
Ekonomi
Telah dikemukakan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi sangat penting bagi negara-negara untuk dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.[3] Analisis empiris cenderung
mendukung prediksi teoritis bahwa negara miskin harus tumbuh lebih cepat dari negara-negara kaya karena mereka dapat mengadopsi teknologi yang sudah dicoba dan diuji oleh negara-negara kaya. Namun, transfer teknologi memerlukan manajer berpengetahuan dan insinyur yang mampu mengoperasikan mesin-mesin baru atau praktek produksi yang dipinjam dari pemimpin dalam rangka untuk menutup kesenjangan melalui peniruan. Oleh karena itu, kemampuan suatu negara untuk belajar dari pemimpin adalah fungsi dari efek "human capital". Studi terbaru dari faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi agregat telah menekankan pentingnya lembaga ekonomi fundamental[4] dan peran keterampilan kognitif.[5]
Pada tingkat individu, ada banyak literatur, umumnya terkait dengan karya Jacob Mincer,[6]
tentang bagaimana laba berkaitan dengan pendidikan dan modal manusia lainnya. Karya ini telah memotivasi sejumlah besar studi, tetapi juga kontroversial. Kontroversi utama berkisar
bagaimana menafsirkan dampak sekolah.[7][8] Beberapa siswa yang telah menunjukkan potensi
yang tinggi untuk belajar, dengan menguji dengan intelligence quotient yang tinggi, mungkin tidak mencapai potensi penuh akademis mereka, karena kesulitan keuangan.[reason-actually some students at the low end get better treatment than those in the middle with grants, etc. needs RS]
Ekonom Samuel Bowles dan Herbert Gintis berpendapat pada tahun 1976 bahwa ada konflik mendasar dalam pendidikan Amerika antara tujuan egaliter partisipasi demokratis dan
ketidaksetaraan tersirat oleh profitabilitas terus dari produksi kapitalis di sisi lain.[9]
Sekolah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Untuk kegunaan lain dari Sekolah, lihat Sekolah (disambiguasi).
Sekolah partikelir untuk anak-anak pribumi di masa Hindia Belanda
Sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa .Sekolah adalah sebuah
lembaga yang dirancang untuk pengajaransiswa / murid di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistempendidikanformal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa kemajuan melalui serangkaian sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini bervariasi
menurut negara (dibahas pada bagian Daerah di bawah), tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anakmuda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan
pendidikan dasar.
Selain sekolah-sekolah inti, siswa di negara tertentu juga mungkin memiliki akses dan mengikuti sekolah-sekolah baik sebelum dan sesudah pendidikan dasar dan menengah. TK atau pra-sekolah menyediakan sekolah beberapa anak-anak yang sangat muda (biasanya umur 3-5 tahun).
Universitas, sekolah kejuruan, perguruan tinggi atau seminari mungkin tersedia setelah sekolah menengah. Sebuah sekolah mungkin juga didedikasikan untuk satu bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tari. Alternatif sekolah dapat menyediakan kurikulum dan metode
non-tradisional.
Ada juga sekolah non-pemerintah, yang disebut sekolah swasta. Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhankhusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka; keagamaan, seperti sekolah Islam, sekolah Kristen, hawzas, yeshivas dan lain-lain, atau sekolah yang memiliki standar pendidikan yang lebih tinggi atau berusaha untuk
Dalam homeschooling dan sekolah online, pengajaran dan pembelajaran berlangsung di luar
gedung sek Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan
menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari caraberhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orangahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran di atas.
Saat ini, kata sekolah berubah arti menjadi: merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan
mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.Sekolah dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah. Kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah.Jumlah wakil kepala sekolah di setiap sekolah berbeda, tergantung dengan kebutuhannya. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memanfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengan fasilitas yang lain.
Ketersediaan sarana dalam suatu sekolah mempunyai peran penting dalam terlaksananya proses
pendidikan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah)
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah dapat dirumuskan seperti berikut ini.
1. Mengapa jam belajar untuk mata pelajaran yang diujikan secara nasional ditambah?
2. Apa pengaruh adanya penambahan jam belajar?
3. Apa manfaat penambahan jam belajar pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional?
C.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas,tujuan yang dicapai dalam penelitian sebagai berikut.
1. Mengetahui alasan ditambahnya jam belajar untuk mata pelajaran yang diujikan secara nasional.
2. Mengetahui pengaruh penambahan jam belajar untuk siswa.
3. Mengetahui manfaat bertambahnya jam belajar.
D.Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1. Bagi siswa, agar mengetahui pengaruh bertambahnya jam belajar pada mata pelajaran yang di
ujikan secara nasional dan mengetahui manfaat penambahan jam belajar.
2. Bagi peneliti, dapat dijadikan acuan dalam pembelajaran di sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.Pengertian Belajar
Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir,dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi belajar menurut beberapa ahli : NASUTION
Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
ERNEST H. HILGARD
NOTOATMODJO
Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup
AHMADI A
Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia
OEMAR H.
Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan
CRONBACH
Belajar sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu menggunakan panca indranya
WINKEL
Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap
B.Pengertian Waktu Belajar
Dalam belajar, setiap individu membutuhkan waktu untuk menyerap materi yang akan dipelajari, waktu belajar adalah waktu yang digunakan siswa untuk belajar yang baik dan tepat sesuai dengan situasi dirinya. Maka waktu dalam belajar perlu disesuaikan khusus untuk lebih efesien dalam pencapaian target belajar. Keteraturan belajar adalah pangkal utama dari belajar yang baik untuk disiplin pribadi yang tinggi siswa dapat menjahui godaan dan gangguan-gangguan yang mendorong siswa malas belajar.
dengan minat, rencana dan tujuan yang jelas tanpa harus mengabaikan atau mengesampingkan waktu istirahat yang semestinya lebih mudah dalam penyerapan materi pelajaran dari pada belajar yang dilakukan secara mendadak.
BAB III
METODE PENELITIAN A.Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1 Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Praya, Karena SMA Negeri 1 Praya merupakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSMABI)
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini kami lakukan dari bulan Januari sampai bulan Februari 2013. B. Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi diambil dari kelas X, XI, dan XII 3.2.2 Sampel
Sampel diambil dari 11 orang kelas X, 12 orang kelas XI, dan 13 orang kelas XII. C.Tehnik Pengumpulan Data
` 1. Metode interview
Metode ini berupa Tanya-jawab yang dilakukan dengan narasumber. Interview dilakukan dengan Wakasek Kurikulum.
2. Metode Kusioner
Metode ini kami lakukan dengan meminta para siswa untuk mengisi angket dimana pada angket tersebut berisi beberapa pertanyaan yang mengarah kepada pengaruh bertambahnya jam belajar pada siswa SMAN 1 Praya.
BAB IV PEMBAHASAN
Awalnya, sekolah ini menempati sebuah gedung sekolah Tionghoa (Sekolah Cina) yang telah dibubarkan pada tahun 1966. Pada masa tersebut, SMA Negeri 1 Praya merupakan Sekolah Menengah Atas (SMA) pertama di daerah Praya, Kabupaten Lombok Tengah.
Seiring dengan berkembangnya zaman, maka ada banyak perbaharuan pula yang dilakukan oleh pihak SMA Negeri 1 Praya, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas. Salah satu kualitas SMA Negeri 1 Praya adalah jam belajar yang lebih banyak dari sekolah lain.
A. Jam Belajar
Setiap hari siswa SMA Negeri 1 Praya menghabiskan rata-rata 9 jam waktunya untuk di sekolah, dimana 9 jam tersebut sudah dipilah-pilah menjadi beberapa kegiatan seperti, belajar aktif di ruang kelas, jam istirahat, sholat dzuhur berjamaah, dan juga kegiatan olahraga yang dilaksanakan sekali dalam seminggu.
Dalam satu tahun ajaran terdapat 2 caturwulan yang harus dilewati oleh para siswa untuk mencapai nilai yang baik sebagai bahan pertimbangan naik kelas di caturwulan pertama dan juga sebagai penentu kenaikan kelas di caturwulan kedua. Di setiap caturwulan, para siswa harus menjalani proses belajar selama 6 bulan dan menjalani Ujian di setiap caturwulan. Pada setiap pergantian semester selalu ada mata pelajaran yang jamnya ditambah. Biasanya mata pelajaran yang diujikan secara Nasional.
B.Pengaruh Penambahan Jam Belajar Bagi Prestasi Siswa
Berdasarkan data yang kami dapat, tanggapan para siswa terhadap penambahan jam belajar:
No Kelas
Tanggapan siswa
Alasan Setuju Alasan Tidak Setuju Setuju Tidak
Setuju
1. Kelas X 11
2. Kelas XI 11 1
C.Manfaat Bertambahnya Jam Belajar Yang Diujikan Secara Nasional
Berdasarkan data yang kami dapat, manfaat bertambahnya jam belajar menurut siswa SMAN 1 Praya :
1. Sebanyak 36,6 % siswa menjawab agar lebih fokus dalam mempelajari pelajaran yang diujikan secara Nasional
2. Sebanyak 33,3 % siswa menjawab agar lebih menambah wawasan dan pemahaman terhadap mata pelajaran yang diujikan secara nasional.
3. Sebanyak 30% siswa menjawab agar lebih siap menghadapi Ujian Nasional.
BAB V PENUTUP A.Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik simpulan :
2. Siswa SMAN 1 Praya memberikan respon positif terhadap adanya penambahan jam belajar yang diujikan secara nasional.
B.Saran
Melalui penelitian ini, diharapkan siswa SMAN 1 Praya dapat menambah kualitas dan kuantitasnya di dalam belajar.
DAFTAR REFERENSI
http://sumber-mu.blogspot.com/2012/05/pengertian-serta-definisi-belajar-di.html#ixzz2KBzkE1HC
Intensitas dalam belajar siswa
01 Des
8 Votes
A. Pengertian Intensitas
Kata intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat (John M. Echols, 1993: 326). Sedangkan menutrut Nurkholif Hazim (t.t: 191), bahwa: “Intensitas adalah kebulatan tenaga yang dikerahkan untuk suatu usaha”. Jadi intensitas secara sederhana dapat dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan.
Seseorang yang belajar dengan semangat yang tinggi, maka akan menunjukan hasil yang baik, sebagaimana pendapat Sadirman A.M.(1996: 85), yang menyatakan bahwa intensitas belajar siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian tujuan belajarnya yakni meningkatkan prestasinya.
Perkataan intensitas sangat erat kaitannya dengan motvasi, antara keduanya tidak dapat dipisahkan sebab untuk terjadinya itensitas belajar atau semangat belajar harus didahului dengan adanya motivasi dai siswa itu sendiri. Sebagaimana Sardiman AM.(1996: 84), Menyatakan: Belajar diperlukan adanya intensitas atau semangat yang tinggi terutama didasarkan adanya motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas balajar siswa.
Intensitas merupakan realitas dari motivasi dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu peningkatan prestasi, sebab seseorang melakukan usaha dengan penuh semangat karena adanya motivasi sebagai pendorong pencapaian prestasi.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Intensitas dalam belajar siswa
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas balajar siswa, adalah:
2. Harus mempertimbangkan minat pribadi si murid
3. Memberikan kepercayaan pada murid untuk giat sendiri
4. Materi yang diberikan harus bersifat praktis
5. Adanya peran serta dan keterlibatan siswa, (Kurt Singers,1987: 92)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa intensitas atau semangat yang tinggi yang dilakukan siswa untuk belajar baik dikelas atau dalam kegiatan belajar privat Pendidikan Agama Islam akan sangan berpengaruh terhadap presatasi kognitif mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
C. Indikator Intensitas dalam belajar siswa
a. Motivasi
Menurut Gletmen dan Reber yang dikutip Muhibbin Syah (1994: 136) bahwa pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme (baik manusia maupun hewan) yang mendorongnya untiuk melakukan sesuatu. Disini motivasi berarti pemasok daya untuk berbuat atau bertingkah laku secara terarah. Hal ini sejalan dengan pendapat M.C. Donal yang memberikan pengertian bahwa “Motivasi adalah perubahan energi di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya reaksi untuk mencapai tujuan”. (Sardiman A.M 1992: 173).
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri individu yang dapat melakukan tindakan belajar, termasuk didalamnyan adalah perasaan menyukai materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang mendorong untuk melakukan tindakan karena adanya rangsangan dari luar individu, pujian , dan hadiah atau peraturan sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan seterusnya, merupakan contoh konkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam hal ini Sadirman A.M. (1990: 84-85), mengemukakan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah untuk mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dicapai;
Jadi, fungsi motivasi dalam belajar dalah:
1. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai;
2. Mendorong manusia untuk berbuat.
Dengan demikian, cukup jelaslah bahwa motivasi itu akan mendorong seseorang yang belajar untuk memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun yang terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat mencapai prestasi yang baik. Intensitas meotivasi seseorang peserta didik/mahasiswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar.
b. Durasi kegiatan
Durasi kegiatan yaitu berapa lamanya kemampuan penggunaan untuk melakukan kegiatan. Dari indicator ini dapat dipahami bahwa motivasi akan terlihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan. Yaitu dengan lamanya siswa menyediakan waktu untuk belajar setiap harinya.
c. Frekuensi kegiatan
Frekuensi dapat diartikan dengan kekerapan atau kejarangan kerapnya (Porwadarminta, 1984: 283), frekuensi yang dimaksud adalah seringnya kegiatan itu dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Misalnya dengan seringnya siswa melakukan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
d. Presentasi
Presentasi yang dimaksud adalah gairah, keinginan atau harapan yang keras yaitu maksud, rencana, cita-cita atau sasaran, target dan idolanya yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Ini bsia dilihat dari keinginan yang kuat bagi siswa untuk belajar.
e. Arah sikap
Sikap sebagai suatu kesiapan pada diri seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal yang bersifat positif ataupun negative. Dalam bentuknya yang negativ akan terdapat kecendrungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, bahkan tidak menyukai objek tertentu. Sedangkan dalam bentuknya yang positif kecendrungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Contohnya, apabila siswa menyenangi materi tertentu maka dengan sedirinya siswa akan mempekajari dengan baik. Sedangkan apabila tidak menyukai materi tertentu maka siswa tidak akan mempelajari kesan acuh tak acuh.
f. Minat
Minat timbul apabila individu tertari pada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan bahwa sesuatu yang akan digeluti memiliki makna bagi dirinya, Slamteo (1998: 182) mengatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penermiaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya.
ini erat kaitannya dengan kepribadian dan selalu mengandung unsur afektif, kognitif, dan kemauan. Ini memberikan pengertian bahwa individu tertarik dan kecendrungan pada suatu objek secara terus menerus, hingga pengalaman psikisnya lainnya terabaikan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Usman Efendi (1985: 122) menyatakan bahwa minat timbul apabila individu tertarik kepada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya.
Minat juga dapat diartikan sebagai kecendrungan jiwa kepada sesuatu, karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu (Ahmad D. Marimba, 1989: 79). Hal ini senada dengan pendapat Muhibbin Syah (1995: 136) yang menyatakan bahwa minat adalah kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
W.S. Winkel (1991: 105), mendefinisikan minat sebagai kecendrungan subjek yang menetap untuk merasa tertarik pada mata pelajaran atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang. Disamping adanya ketertarikan yang disadari individu, minat juga ditunjukkan oleh adanya rasa lebih suka pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 1998: 180), seseorang memiliki minat terhadap sesuatu akan merasa senang dan cenderung memusatkan perhatian terhadap objek atau kegiatan yang diminatinya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat adalah kemauan, perhatian, hasrat dan kecenderungan individu untuk aktif melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan. Minat erat kaitannya dengan merasa senang seseorang terhadap sesuatu. Minat juga merupakan hasrat atau keinginan individu terhadap sesuatu objek untuk memenuhi kebutuhan psikis maupun fisik, sehingga individu dapat menikmati hal yang diinginkan.
Adapun ciri-ciri siswa yang mempunyai minat tinggi adalah :
1. Pemusatan perhatian
Pemusatan perhatian dapat mempengaruhi terhadap prestasi. Sebab dengan perhatian siswa terhadap materi dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa yang menaruh perhatian besar terhadap matematika akan meusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang meingkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
2. Keingintahuan
Kadar keingintahuan siswa dalam belajar dapat terlihat dari partisipasinya ketika kegiatan itu berlangsung. Misalnya ketika kegiatan itu berlangsung, siswa aktif untuk berperan dalam latihan dengan selalu mengikuti kegiatan tersebut atau bertanya. Ketika dalam suatu hal yang belum dipahami dan juga mampu mengomentari terhadap suatu permasalahan.
Siswa yang merasa butuh dan tertarik atau menaruh minat pada suatu kegiatan atau pelajaran maka ia akan selalu menekuni kegiatan itu dengan giat belajar baik pada waktu acara formal maupun diluar acara formal. Misalnya apabila siswa merasa butuh pada pelajaran maka, siswa itu akan berusaha dengan cara apapun juga.
g. Aktivitas
Aktivitas diartikan sebagai suatu kegiatan yang mendorong atau membangkitkan potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang anak. Sertiap gerak yang dilakukan secara sadar oleh seorang dapat dikatakan sebagai aktivitas. Aktivitas merupakan cirri dari manusia, demikian pula dalam proses belajar mengajar itu sendiri merupakan sejumlah aktivitas yang sedang berlangsung. Itulah sebabnya prinsip atau azas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar aktivitas W.J Poerdarminta (1985: 26) bahwa aktivitas sebagai atau kesibukan.
Pada dasarnya aktivitas dipandang sebagai sarana kelangsungan pengajaran, memiliki bobot dan kualitas dalam proses belajar mengajar, sehingga mempengaruhi keberhasilan belajarnya serta dapat membangkitkan potensi-pontensi anak dalam berbagai pekerjaan yang mereka senangi dan mewujudkan kecendrungan kepribadian mereka sesuai dengan kesiapannya, membangkitkan kesenangan, gairah dan optimisme.
J.J Rouseau yang dikutif oleh Sadirman A.M (2001: 94) memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, dengan faslitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani maupun takhnis. Ini menunjukkan setiap orang yang belajar harus aktif sendiri, tanpa ada aktifitas maka proses belajar mengajar tidak mungkin terjadi.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dalam kegiatan belajar mengajar subjek didik atau siswa harus aktif berbuat dengan kata lain bahwa belajar sangat diperlukan adanya aktifitas karena tanpa adanya aktifitas belajar itu tidak mungkin berlangsung dengan baik.
Ada beberapa aktifitas siswa sewaktu berlangsungnya suatu kegiatan yaitu:
1. Membaca
Membaca merupakan aktifitas belajar. Belajar merupakan set maka belajar atau membaca untuk keperluan belajar harus menggunakan set, maka belajar atau membaca untuk keperluan belajar harus menggunakan set. Misalnya dengan mulai memperhatikan judul bab, topic-topik utama, dengan berorientasi kepada tujuan dan keperluan (Wasty Sumanto, 1990: 110).
2. Bertanya
3. Mencatat
Mencatat erat kaitannya sebagai aktivitas belajar adalah mencatat yang didorong oleh kebutuhan dan tujuan, dengan menggunakan set tertentu agar catatannya itu berguna.
4. Mengignat
Mengingat yang termasuk aktivitas belajar adalah mengingat yang didadasari untuk suatu tujuan, misalnya menghafal suatu materi
5. Latihan
Latihan termasuk aktivitas belajar, orang yang melaksanakan latihan tentunya mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan suatu aspek pada dirinya. Dalam latihan terjadi interaksi yang interaktif antara subjek dengan lingkungannya hasil belajar akan berupa pengalamannya yang dapat mengubah dirinya yang kemudian akan mempengaruhi terhadap lingkungan sekitarnya.
6. Mendengarkan