• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN MANAJEMEN PELAYANAN KELUARGA BER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEDOMAN MANAJEMEN PELAYANAN KELUARGA BER"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Ibu
    • BKKBN
    • Ikatan Bidan Indonesia
  • Pengajar:
    • dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA
    • dr. Anung Sugihantono, MKes
  • Sekolah: Kementerian Kesehatan RI
  • Mata Pelajaran: Pelayanan Keluarga Berencana
  • Topik: Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga Berencana
  • Tipe: pedoman
  • Tahun: 2014
  • Kota: Jakarta

I. Pendahuluan

Pendahuluan ini menjelaskan latar belakang pentingnya manajemen pelayanan keluarga berencana (KB) dalam konteks kesehatan masyarakat. Dengan mengacu pada prinsip-prinsip hak asasi manusia, pelayanan KB di Indonesia bertujuan untuk memberikan kebebasan yang bertanggung jawab bagi pasangan dalam menentukan jumlah dan jarak kehamilan. Terdapat tantangan dalam menyediakan akses yang memadai terhadap alat dan obat kontrasepsi, yang menjadi fokus utama dalam revisi pedoman ini.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang menjelaskan bahwa meskipun ada upaya dalam program KB, capaian indikator seperti Contraceptive Prevalence Rate (CPR) dan Angka Kematian Ibu (AKI) masih menunjukkan hasil yang kurang optimal. Dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pelayanan KB diharapkan dapat diakses lebih luas, sehingga meningkatkan kesehatan reproduksi dan mengurangi kematian ibu.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pedoman ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pengelola program Keluarga Berencana dalam hal manajemen pelayanan KB, yang mencakup pengorganisasian, perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi. Hal ini bertujuan untuk mendukung pencapaian target penurunan AKI dan Angka Kematian Bayi.

1.3 Manfaat dan Sasaran

Pedoman ini diharapkan menjadi acuan bagi pengelola program KB di berbagai tingkat administrasi, termasuk pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, serta petugas kesehatan di Puskesmas. Manfaatnya terletak pada peningkatan kemampuan manajemen pelayanan KB untuk mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik.

1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup pedoman ini mencakup pengorganisasian, perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi pelayanan KB. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua aspek manajemen pelayanan KB dijalankan secara efektif dan efisien.

1.5 Landasan Hukum

Pedoman ini didasarkan pada berbagai undang-undang dan peraturan yang mengatur pelayanan kesehatan dan keluarga berencana, termasuk Undang-Undang Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional. Ini memberikan dasar hukum yang kuat untuk pelaksanaan program KB.

II. Integrasi Pelayanan KB Dalam Sistem Kesehatan Nasional

Bagian ini membahas tentang pentingnya integrasi pelayanan KB dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). SKN bertujuan untuk menjamin derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pendekatan yang terpadu dan sistematis. Pelayanan KB menjadi salah satu komponen kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

2.1 Sistem Kesehatan Nasional

Sistem Kesehatan Nasional diselenggarakan secara terpadu untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Ini melibatkan berbagai komponen, termasuk upaya kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, dan pembiayaan. Optimalisasi komponen SKN sangat penting untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB.

2.2 Pelayanan Keluarga Berencana

Pelayanan KB merupakan strategi penting dalam menurunkan Angka Kematian Ibu. Ini mencakup pengaturan waktu dan jarak kehamilan serta pencegahan komplikasi. Pelayanan KB juga berfungsi untuk memenuhi hak reproduksi klien dan harus diselenggarakan di semua fasilitas kesehatan.

III. Pengorganisasian Pelayanan KB

Pengorganisasian dalam pelayanan KB melibatkan pengaturan sumber daya manusia dan fisik untuk mencapai tujuan program secara efektif. Ini mencakup ketersediaan alat dan obat kontrasepsi, sarana penunjang, serta pembiayaan pelayanan KB.

3.1 Ketersediaan Alat dan Obat Kontrasepsi

Ketersediaan alat kontrasepsi harus dijamin oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Pengelolaan alat kesehatan dan obat dilakukan melalui sistem yang terintegrasi, termasuk mekanisme distribusi yang jelas dari pusat hingga ke fasilitas pelayanan.

3.2 Sarana Penunjang Pelayanan KB

Sarana penunjang, seperti alat kesehatan dan media informasi, harus tersedia untuk mendukung pelayanan KB. Pengelola program perlu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan semua kebutuhan pelayanan terpenuhi.

IV. Perencanaan Pelayanan Keluarga Berencana

Perencanaan pelayanan KB merupakan langkah krusial untuk mencapai hasil yang optimal. Ini melibatkan pengumpulan data dan analisis situasi untuk menentukan kebutuhan pelayanan dan sumber daya yang diperlukan.

4.1 Perencanaan di Puskesmas

Data yang perlu dikumpulkan di Puskesmas mencakup jumlah pasangan usia subur (PUS), stok alat kontrasepsi, dan tenaga kesehatan yang tersedia. Perencanaan ini harus didasarkan pada analisis yang komprehensif untuk memastikan pelayanan yang berkualitas.

4.2 Perencanaan di Tingkat Manajemen

Perencanaan di tingkat manajemen mencakup pengorganisasian sumber daya di semua tingkatan, dari kabupaten/kota hingga pusat. Ini penting untuk memastikan bahwa semua aspek pelayanan KB terkoordinasi dengan baik dan sesuai dengan kebijakan yang berlaku.

Referensi Dokumen

  • Buku Pedoman Revisi ( BKKBN )
  • Direktur Bina Kesehatan Ibu ( dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA )
  • Direktur Kesehatan Reproduksi ( dr. Wicaksono, MKes. )
  • P2JK, Kemenkes ( dr. Christian Sukarno Mamahit, MKes. )
  • Dit. BUKD, Kemenkes ( dr. Kamba Mohamad Taufiq, MKes. )

Gambar

Gambar 1.1. Pendekatan Sistem Kesehatan Nasional Gambar 1.1. Pendekatan Sistem Kesehatan Nasional
Gambar 3.1. Mekanisme distribusi alokon
Gambar 4.1. Alur Pelaksanaan Advokasi
Gambar 5.1. Mekanisme Pengelolaan Alat dan Obat Kontrasepsi
+6

Referensi

Dokumen terkait

Pada bab ini akan dibahas tentang kesenjangan antara teori dan hasil studi pelaksanaan dan penerapan asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny “M” akseptor KB

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana tersaji pada Tabel 2., maka diperoleh hasil penelitian bahwa secara simultan maupun parsial, implementasi kebijakan Keluarga

Kepuasan masyarakat dalam pelayanan pada Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (Keluarga Berencana) Kota Makassar, khususnya pada kesehatan masyarakat sebelum

Strategi yang dapat ditempuh melalui pengaturan akses serta penyelenggaraan pelayanan dan pembiayaan Keluarga Berencana MOP dan MOW, yaitu dengan penerbitan Petunjuk Teknis

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa yang menjadi faktor penghambat pelayanan program keluarga berencana adalah letak lokasi Puskesmas Air Putih yang

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana tersaji pada Tabel 2., maka diperoleh hasil penelitian bahwa secara simultan maupun parsial, implementasi kebijakan Keluarga

KESATU : Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab Tim Ponek dan Pelayanan Keluarga Berencana RS Islam Zam-Zam Muhammadiyah Jatibarang dengan susunan nama-nama dan uraian tugas

Implikasi pada penelitian ini yaitu BKKBN, OPD-KB Organisasi Perangkat Daerah Keluarga Berencana di tingkat Kabupaten, dan Penyuluh KB selaku Pembina Kader IMP di tingkat Kecamatan