• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kuliah 9 Aspek Kualitas Rumput Laut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kuliah 9 Aspek Kualitas Rumput Laut"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pemanenan

 Rumput laut dikatakan bermutu baik, jika

mempunyai rendemen serta kekuatan gel yang tinggi Salah satu parameter yang

sangat menentukan mutu rumput laut adalah umur panen

Pengeringan

 Setelah dipanen rumput laut harus segera

(3)

 Waktu pengeringan selama 2-3 hari atau

kadar air mencapai standar kekeringan untuk rumput laut yang telah ditetapkan SNI yaitu untuk jenis Eucheuma 32 %, Gracilaria 25% dan untuk Sargassum dan Turbinaria sebesar 20%.

 Segera setelah kering rumput laut dibersihkan

dari kristal-kristal garam yang berwarna putih yang terdapat pada permukaan rumput laut. Adanya kristal garam yang bersifat

higroskopis dapat berakibat meningkatkan kadar air rumput laut selama penyimpanan. Yang perlu diperhatikan adalah selama

(4)

Pengemasan dan Penyimpanan

Rumput laut yang telah kering

selanjutnya dikemas dengan

menggunakan kemasan berupa

karung plastik atau goni yang bersih

dan bebas dari bahan yang

berbahaya. Oleh karena rumput laut

merupakan bahan yang bersifat

mengembang, maka untuk

(5)

Teknologi Penanganan Rumput Laut Kering Alkali

 Rumput laut yang telah mendapat proses alkali mempunyai mutu yang lebih baik dibandingkan dengan rumput laut kering biasa. Perendaman dalam larutan alkali dimaksudkan untuk

meningkatkan kekuatan gel pikokoloid yang diperoleh Alkali Treated Seaweed.

 Perendaman dilakukan segera setelah rumput laut dipanen dan dibersihkan. dengan

menggunakan larutan KOH 1.5 – 3 % dalam bak plastik atau bak semen selama 2 – 3 jam.

(6)

 Perendaman dalam larutan alkali selain

dapat meningkatkan gel pikokoloid yang diperoleh, juga diperoleh warna rumput laut yang lebih kering serta sifat fisiko kimia karaginan yang dihasilkan lebih baik dan karaginan yang dihasilkan

lebih putih.

 Untuk rumput laut jenis Sargassum atau

Turbinaria perendaman dilakukan

dengan menggunakan larutan KOH 0.1 – 0.2 % selama 60 menit. Perendaman

dalam larutan tersebut selain dapat menghindari terjadinya degradasi

(7)

Teknologi Penanganan Rumput Laut Kering Tawar.

Karung yang berisi rumput laut

kemudian direndam dengan

menggunakan air tawar. Apabila

didekat tempat budidaya rumput laut

terdapat sungai, maka perendaman

dengan menggunakan air mengalir

akan menghasilkan rumput laut

(8)

No. Parameter Satuan Hasil Uji Metode Uji Asin Tawar Alkali

1. Air % 26,77 18,62 21,75 SNI.

01-2891-1992 Butir 5.1

2. Abu % 34,38 15,13 15,77 SNI.

01-2891-1992 Butir 6.1

3. Lemak % 0,51 0,58 0,55 SNI.

01-2891-1992 Butir 8.2

4. Protein % 1,87 2,09 1,71 Kjeldahl

5. Serat Kasar % 0,90 5,29 19,64 SNI.

01-2891-1992 Butir 11

6. Karbohidrat % 35,57 58,29 40,58 Perhitungan

7. Energi Kkal/100gr 154,4 246,7 174,1 Perhitungan

(9)
(10)

 Rumput Laut yang dikeringkan dengan

proses yang berbeda-beda mempunyai komposisi nutrisi yang berbeda pula.

 Rumput laut yang dikeringkan dengan

proses yang berbeda dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang berbeda, misal : rumput laut kering asin cocok untuk

diambil karagenannya, rumput laut

(11)

Indonesia memiliki 249 produk

rumput laut dan produk rasa rumput

laut yang terdaftar di Badan

Pengawasan Obat dan Makanan

sehingga layak dikonsumsi.

”Produk itu berbentuk rumput laut

kering, minuman, kreker,

(12)

 rumput laut merupakan komoditas

penting untuk dikembangkan namun perlu ada peningkatan mutu agar

disukai konsumen dari berbagai kalangan.

sesuai Standar Nasional Indonesia

(SNI), regulasi kategori pangan, Kodeks Makanan Indonesia (KMI), dan regulasi terkait keamanan pangan.

 sanitasi (cara pengolahan pangan dan

(13)

 SNI atau Rumput Laut (Euchema cottoni)

basah kelas konsumsi diberi kode SNI 01-6492-2000, Rumput Laut Kering untuk

Spesifikasi (SNI 2690.1:2009), Persyaratan Bahan Baku (SNI 2690.2:2009),

Penanganan dan Pengolahan (SNI

2690.3:2009) dan Manisan Rumput Laut dalam Kemasan (SNI 01-6236-2000).

 Pengujian KMI dilakukan dalam bentuk

pengamatan terhadap bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai

(14)

 Penambahan bahan itu untuk tujuan

teknologi (termasuk organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyediaan, perlakuan, pewadahan,

pembungkusan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk

menghasilkan atau diharapkan

menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu komponen atau

mempengaruhi sifat khas makanan.

 AcuanPeraturan Menteri Kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian pembuatan kerupuk rumput laut dengan kondisi basah dan kering pada penambahan tepung tapioka analisa kimia terjadi interaksi terhadap kadar air,

 Mempelajari pengaruh variabel konsentrasi NaOH dan konsentrasi rumput laut terhadap rendemen karaginan pada ekstraksi basa rumput laut..  Mempelajari pengaruh variabel suhu

Hasil penelitian pembuatan kerupuk rumput laut dengan kondisi basah dan kering pada penambahan tepung tapioka analisa kimia terjadi interaksi terhadap kadar air,

Anis, M.Y., 2016, Pembuatan dan Karakterisasi Komposit Sodium Alginat- Karaginan dari Rumput Laut Coklat (Sargassum sp.) dan Rumput Laut Merah (Eucheuma

Sedangkan Nilai bobot (ßi) ( Tabel 1 kolom 3) diperoleh dari hasil perkalian antara produksi biomass dan karaginan rumput laut hasil pengukuran di Teluk Waworada

Hasil yang diperoleh pada pembuatan mie rumput laut adalah pada kelompok 1 sampai 4 perlakuan mie rumput laut basah atau sebelum dikasih bumbu mie masih memiliki warna putih

Sedangkan Nilai bobot (ßi) (Tabel 1 kolom 3) diperoleh dari hasil perkalian antara produksi biomass dan karaginan rumput laut hasil pengukuran di Teluk Waworada

Optimasi Pengeringan pada Pembuatan Karaginan Dengan Proses Ekstraksi dari Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii.. Jurnal Teknik Kimia