• Tidak ada hasil yang ditemukan

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Silabus

Nama Mata Kuliah : Pengantar Ortopedagogik Kode Mata Kuliah :

SKS : 3,5 Teori 0,5 Lapangan Dosen : Heri Purwanto

Program Studi : Pend. Luar Biasa Prasyarat :

---Waktu Perkuliahan : Semester Gasal

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini menjelaskan tentang konsep dasar ilmu pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang meliputi obyek formal, material dan metode

pengembangan orped serta implikasi praktek pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Pengalaman Belajar : Kegiatan belajar dalam perkuliahaan ini dilakukan dengan pendekatan ceramah, diskusi kelompok, tugas individu telaah pustaka dan studi lapangan

Uraian Pokok Bahasan Tiap Pertemuan

Pertemuan Tujuan Perkuliahan Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1

2

3

4 - 5

6

7

a. Menjelaskan arti orthopaedagogiek

b. Menjelaskan obyek formal orped

c. Menjelaskan obyek material orped

d. Menjelaskan metode atau cara pegembangan orped

e. Menjelaskan manfaat atau pentingnya orped dalam masyarakat

f. Menjelaskan kedudukan Orthopaedagogiek terhadap

Pengertian orped

Obyek formal orped

Obyek material orped

Metode pengembangan ilmu melalui berfikir: Induktif

Deduktif Case study

Peran orped dalam pendidikan anak

(2)

8 - 9

ilmu-ilmu lain

g. Peran ilmu lain dalam praktek pendidikan khusus (multi disipline)

Peran berbagai ilmu dalam praktek PKh Otonomi masing-masing ilmu dalam praktek Pkh 10 - 11

12 - 13

14

15 - 16

17

a. Menjelaskan Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus b. Menerangkan Klasifikasi

Anak berkebutuhan Khusus c. Menjelaskan prevalensi

ABK

d. Menjelaskan faktor penyebab terjadinya kelainan

e. Mendeskripsikan dampak yang terjadi akibat kelainan f. Menjelaskan hak-hak yang

dimiliki ABK Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Jenis-jenis Anak berkebutuhan khusus Populasi anak berkebutuhan khusus Faktor penyebab terjadinya kelainan Dampak terjadinya kelaianan

Hak-hak yang dimiliki anak berkebutuhan khusus

18 - 20

21 - 22

23 - 25

26 - 29

a. Menjelaskan Pengertian Pendidikan Khusus

b. Menjelaskan Sejarah Pendidikan Khusus

c. Menjelaskan Landasan Pendidikan Khusus

d. Menjelaskan

 Pengertian PKh.

 Komparasi PKh dan PU.

 Pengertian PLK

 Perkembangan sikap masyarakat terhadap ABK

 Sejarah PKh di Dunia dan di Indonesia

 Landasan Agama

 Sosio-ekonomis

 Psikologis

 Yuridis formal

(3)

30 - 32

Mainstreaming Pendidikan Khusus

e. Menjelaskan Bentuk Layanan Pendidikan khusus

 Deinstitutionalisasi  Nonlabeling  Inklusi  Segregasi  Integrasi  Panti

Evaluasi Hasil Belajar :

• PRESENSI KEHADIRAN/NILAI HARIAN (N1)

• TUGAS (N2)

• MID SEMESTER (N3)

• UJIAN AKHIR SEMESTER (N4)

1N1 + 1N2 + 1N3 + 2N4

• NILAI AKHIR : 5

Daftar Literatur/Referensi

Adrian Ashman & John Elkins (1994), Educating Children with Special Needs, New York: Prentice Hall.

Barbara K. Keogh, (1980), Advances in Special Education, Connecticut: Little, JAI Press Inc.

Blackhurst, A. E & Berdine, HW (1981), An Intruduction to Special Education, Boston: Little, Brown & Co.

Hallahan, DP & Kauffman, JM (1988), Exceptional Children, Introduction to Spesial education, 4 th edition, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Hardman, ML, et .al (1990), Human Exceptionality, Boston: Allyn and Bacon, Inc. Heri Purwanto (1998), Ortopedagogik Umum (Diktat Kuliah), Yogyakarta: FIP IKIP

(Tidak diterbitkan).

IGAK Wardani, dkk (2002), Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Johnson, BH & Skjorten, D Miriam (2004), Pendidikan Kebutuhan Khusus, Sebuah Pengantar, terjemahan, Bandung: Program Pascasarjana UPI

Jujun S Suriasumantri (1987), Filsafat Ilmu,Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Kirk, Samuel A & Gallagher (1989), Educating Exceptional Children, Boston: Houghton Mifflin company.

Polloway, EA & Patto, JR (1993), Strategies For Teaching Learners With Special Needs, New York: McMillan Publishing Co.

(4)

Dosen dapat dihubungi di: 1. Jurusan PLB FIP UNY. 2. Hp. 081804238261

Yogyakarta,..September 2008. Mengetahui,

Ketua Jurusan

(---) NIP:

Dosen Pengampu Mata Kuliah

(5)

HANDOUT

Handout 1: Pertemuan 1 - 6

Pokok Bahasan : Pengertian Orped

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan arti orthopaedagogiek Menjelaskan obyek formal orped Menjelaskan obyek material orped

Menjelaskan metode atau cara pegembangan orped

Menjelaskan manfaat atau pentingnya orped dalam masyarakat

Uraian :

Ortopedagogik terdiri dari 2 kata ortho = menyimpang paedagogiek = pendidikan anak

ortopedagogik adalah cabang dari ilmu pendidikan, dan merupakan dasar filosofis dari berbagai praktek PKh. sehingga orped merupakan sebuah gambaran komprehenship dari semua aktivitas praktek PKh dengan kajian yang mendalam ada beberapa istilah yang sering dianggap memiliki arti sama dengan ortopedagogik yaitu pendidikan khusus (special education), pendidikan luar biasa, atau pendidikan khusus. mungkinkah ortopedagogik menjadi ilmu yang mandiri? apa syaratnya?

Syarat suatu ilmu antara lain: Ontologi:

obyek formal : semua anak berkebutuhan khusus, yang semakin berkembang jenis dan jumlahnya

obyek material : pendikan dan pengajaran, therapi, rehabilitasi dan validasi. Epistemologi:

metodologi : seperti pada bidang-bidang ilmu sosial (moral philosofis) orped

menggunakan pola induktif dan deduktif dalam pengembangannya, serta pendekatan rasional maupun empiris.

interaksi antar disiplin: dalam kepentingan praksis orped tidak dapat lepas dari ilmu-ilmu lain sebagai ilmu-ilmu bantu

Aksiologi:

kebermanfaatan orped dalam kehidupan masyarakat tertuju pada pemecahan permasalahan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki perbedaan dengan anak normal

Tugas : 1. Telaah Pustaka dan diskusi kelompok 2. Buat kajian pola pikir induktif dan deduktif 3. Batasan disiplin orped

Yogyakarta,

(6)

Penulis Handout

(Heri Purwanto.)

Handout 2: Pertemuan 7

Pokok Bahasan : Kedudukan orped pada pohon keilmuan

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan kedudukan Orthopaedagogiek terhadap ilmu-ilmu lain

Uraian :

Yogyakarta,

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(7)

Handout 3: Pertemuan 8 - 9

Pokok Bahasan : Peran berbagai ilmu dalam praktek PKh

Otonomi masing-masing ilmu dalam praktek Pkh

Tujuan Perkuliahan : Peran ilmu lain dalam praktek pendidikan khusus (multi disipline)

Uraian :

Yogyakarta,

(8)

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 4: Pertemuan 10 -11

Pokok Bahasan : Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Uraian :

ISTILAH  cacat

 luar biasa

 menyimpang

 berkelainan

 tuna

 difabel

 berkebutuhan khusus

CARA PANDANG

Lama

 Istilah luar biasa (exceptional)

 Orientasi pada kondisi

 Terkotak-kotak karena label

Baru

 Istilah berkebutuhan khusus (special needs)

 Orientasi pada kebutuhan dan prestasi

 Cenderung menyatu non-label

PERBEDAAN

Inter-Individual

membandingkan dengan individu lain. perbedaan meliputi:

fisik sensori, motoris, tubuh, mental, inteligensi, motivasi.sosial-emosional perilaku

Intra-Individual

membandingkan antar potensi/kemampu-an yang ada dalam individu, perbedaan meliputi:

multiple intelgen (lihat gardner)

verbal/linguistic, logical/mathematical, visual/spatial, musical/rhithmic, bodily/kinestetic, interpersonal, intrapersonal, naturalisic

(9)

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 5: Pertemuan 12 - 13

Pokok Bahasan : Jenis-jenis Anak berkebutuhan khusus

Tujuan Perkuliahan : Menerangkan Klasifikasi Anak berkebutuhan Khusus

(10)

Yogyakarta,

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 6: Pertemuan 14

Pokok Bahasan : Populasi Anak Berkebutuhan Khusus

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan prevalensi ABK Uraian :

(11)

DATA SEKOLAH DAN PESERTA DIDIK

(12)

L E M B A G A

SLB 498 1.176 521 433 2.627

SEKOLAH INKLUSIF

KEBUTUHAN

KHUSUS - 548 52 40 640

CERDAS ISTIMEWA

(“Akselerasi”) - 25 49 61 135

S I S W A

SLB 7.982 44.724 9.381 4.338 66.425

SEKOLAH INKLUSIF

KEBUTUHAN

KHUSUS - 9.264 879 195 10.338 CERDAS

ISTIMEWA (“Akselerasi”)

- 441 1.969 2.261 4.671

REKAPITULASI KEADAAN PESERTA DIDIK BERDASARKAN JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS, 2005/2006

A. SLB

PESERTA DIDIK

1 TUNANETRA 3,218

2 TUNARUNGU 19,199

3 TUNAGRAHITA RINGAN 27,998 4 TUNAGRAHITA SEDANG 10,547 5 TUNADAKSA RINGAN 1,920 6 TUNADAKSA SEDANG 553

7 TUNALARAS 788

8 TUNAGANDA 450

9 AUTIS 1,752

JUMLAH 66,425

B. INKLUSIF

1 BERKEBUTUHAN KHUSUS 10,338 2 PROGRAM PERCEPATAN BELAJAR 4.671 TOTAL 81,434

Yogyakarta,

(13)

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 7: Pertemuan 15 - 17

Pokok Bahasan : Faktor penyebab terjadinya ABK

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan faktor penyebab terjadinya kelainan

Uraian :

FAKTOR PENYEBAB KELAINAN

Ada berbagai faktor yang menyumbang terjadinya anak berkebutuhan khusus. Adapun faktor-faktor tersebut meliputi:

1. Heriditer

Faktor penyebab yang berdasarkan keturunan atau sering dikenal dengan genetik, yaitu kelainan kromosome, pada kelompok faktor penyebab heriditer masih ada kelainan bawaan non genetik, seperti kelahiran pre-mature dan BBLR (berat bayi lahir rendah) yaitu berat bayi lahir kurang dari 2.500 gram, merupakan resiko terjadinya anak berkebutuhan khusus. Demikian juga usia ibu sewaktu hamil di atas 35 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi untuk melahirkan anak berkebutuhan khusus seperti terlihat pada tabel berikut.

(14)

20 TAHUN 25 TAHUN 30 TAHUN 35 TAHUN 40 TAHUN 45 TAHUN 49 TAHUN

1 DALAM 2000 1 DALAM 1200 1 DALAM 1000 1 DALAM 660 1 DALAM 80 1 DALAM 17 1 DALAM 10

AndrianAshman (1994:454) .

2. Infeksi

Merupakan suatu penyebab dikarenakan adanya berbagai serangan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan baik langsung maupun tidak langsung terjadinya kelainan seperti infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes), polio, meningitis, dsb. Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

3. Keracunan

Keracunan merupakan penyebab yang cukup banyak ditemukan karena seperti pola hidup masyarakat, keracunan dapat secara langsung pada anak, maupun melalui ibu hamil. Munculnya FAS (fetal alchohol syndrome) adalah keracunan janin yang disebabkan ibu mengkonsumsi alkohol yang berlebihan, kebiasaan kaum ibu mengkonsumsi obat bebas tanpa pengawasan dokter merupakan potensi keracunan pada janin. Jenis makanan yang dikonsumsi bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebab. Adanya polusi pada berbagai sarana kehidupan terutama pencemaran udara dan air, seperti peristiwa Bhopal dan Chernobil sebagai gambarannya.

4. Trauma

Kejadian yang tak terduga dan menimpa langsung pada anak, seperti proses kelahiran yang sulit sehingga memerlukan pertolongan yang mengandung resiko tinggi, atau kejadian saat kelahiran saluran pernafasan anak tersumbat sehingga menimbulkan kekurangan oksigen pada otak (asfeksia), terjadinya kecelakaan yang menimpa pada organ tubuh anak terutama bagian kepala. Bencana alam seperti gempa bumi sering menyebabkan kejadian trauma. Ada seorang anak usia 4 tahun mengalami peristiwa gempa bumi yang menguncang daerah Yogyakarta tahun 2006. Anak tersebut mengalami fraktur pada tulang belakang, yang akhirnya menyebabkan anak tersebut mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya secara permanen. Hal ini dimungkinkan karena adanya syaraf motorik anggota gerak bawah anak tersebut yang mengalami kerusakan, karena pada sumsum tulang belakang (medula spinalis) merupakan pusat syaraf otonom dan motorik.

5. Kekurangan gizi

(15)

anak seperti cacingan. Hal ini mengingat Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak memunculkan atau tempat tumbuh-kembangnya penyakit parasit dan juga karena kurangnya asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada masa tumbuh kembang. Hal ini di dukung oleh kondisi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

Jika dipandang dari sudut waktu terjadinya kelainan dapat di bagi menjadi: a. Pre-natal,

Terjadinya kelainan anak semasa dalam kandungan atau sebelum proses kelahiran. Misalnya seorang ibu yang tengah hamil muda > 3 bulan keracunan olkhohol.

b. Peri-natal,

Sering juga disebut natal waktu terjadinya kelainan pada saat proses kelahiran dan menjelang serta sesaat setelah proses kelahiran.

c. Pasca-natal,

Terjadinya kelainan setelah anak dilahirkan sampai dengan sebelum usia perkembangan selesai (kurang lebih usia 18 tahun).

Yogyakarta,

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 8: Pertemuan 18 - 20

Pokok Bahasan : Pengertian PKh.

Komparasi PKh dan PU. Pengertian PLK

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan Pengertian Pendidikan Khusus

Uraian :

ISTILAH

 Pendidikan khusus

 Pendidikan luar biasa Plb/pkh?

TUJUAN PENDIDIKAN?

Lihat Pada UUSisdiknas

PKH

 Orientasi pada anak (child oriented)

(16)

 Individualisasi pengajaran

PEND. UMUM

 Orientasi pada materi dan waktu

 Kenaikan tingkat berjangka

 Universal

PENGERTIAN

 Lihat ps. 32 ayat 1, 2, uu sisdiknas

 PKh bukan lembaga

 PKh sebuah konsep penambahan program dan sumber belajar yang dibutuhkan untuk pengembangan abk

 PKh merupakan istilah umum yang merupakan serangkaian program dan layanan pendidikan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan abk.

 PKhmerupakan bentuk pengujian utama pengembangan strategi dan teknik mengajar.

 PKh memiliki karakteristik unik dalam bidang ekonomi dan politik.

Pengembangan Program Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK)

SENTRA PK dan PLK :

1. SLB (d/h TKLB, SDLB, SMPLB, SMLB) 2. Kelas Inklusif (TK, SD, SMP, SMA, SMK)

3. Sekolah Olympiade (Kelas Cerdas Istimewa dan Kelas Bakat Istimewa) 4. Kelas PLK (Pendidikan Layanan Khusus)

5. Kelas Keterampilan, Unit Produksi dan Kios Pemasaran

6. Guru (akademik dan keterampilan dan/atau orang tua/masyarakat) 7. TIK / ICT

(17)

Yogyakarta,

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 9: Pertemuan 18 - 20

Pokok Bahasan : Landasan PKh

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan Landasan Pendidikan Khusus

(18)

1 YURIDIS FORMAL 1.1 UUD 45 AMANDEMEN

UUD 1945 (amandemen) pasal 31

ayat (1) : “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”

ayat (2) : “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”

1.1.1 UU NO 20 TH 2003 SPN

Pasal 3

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. .

Pasal 5

(19)

ayat (2): Warga negara yang mempunyai kelainan fisik ,emosional, mental, dan/atau sosialberhak memperoleh pendidikan khusus

ayat (3): Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus

ayat (4): Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus

Pasal 32

ayat (1) : Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

ayat (2): Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi..

1.1.2 UU NO 4 TH 1997 PENCA

Pasal (5 )

“ Setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan”..

1.1.3 UU NO 23 TH 2002 PERLINDUNGAN ANAK

Pasal 48

Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak.

Pasal 49

Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas- luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.

Pasal 50

Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 diarahkan pada :

a. Pengembangan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, kemampuan mental dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang optimal.

b. Pengembangan penghormatan atas hak asasi manusia dan kebebasan asasi;

c. Pengembangan rasa hormat terhadap orang tua, identitas budaya, bahasa dan nilai-nilainya sendiri, nilai-nilai nasional dimana anak bertempat tinggal, dari mana anak berasal, dan peradabanperadaban yang berbeda-beda dari peradaban sendiri;

(20)

Pasal 51

Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa. Pasal 52

Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus.

Pasal 53

1. Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak

terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.

2. Pertanggungjawaban pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pula mendorong masyarakat untuk berperan aktif.

Yogyakarta,

Pengembang Mata Kuliah Penulis Handout

(.Heri Purwanto.) NIP: 131764495

Handout 10: Pertemuan 30 - 32 Pokok Bahasan : Layanan PKh

Tujuan Perkuliahan : Menjelaskan Bentuk Layanan Pendidikan khusus

(21)

ABK berasal dari masarakat yang nantinya akan dikembalikan ke masyarakat. proses penanganan ABK berdasar pada tujuan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Non Labeling

tidak memberikan label atau sebutan kepada abk, label memberikan stigma negatif terhadap abk. label cenderung memisahkan antara abk dengan lingkungan normal.

Deinstitusionalisasi

(22)

1. PENDIDIKAN KHUSUS

Satuan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus :

• Sekolah Khusus Penyandang Cacat : (d/h TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, SMKLB)

• Sekolah Khusus Cerdas Istimewa (d/h Program Akselerasi) • Sekolah Khusus Bakat Istimewa

2. PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

 Bagi anak-anak pada daerah terbelakang/terpencil/pulau-pulau kecil

 Bagi anak-anak masyarakat etnis minoritas

 Bagi anak-anak jalanan, pekerja anak/TKI anak, anak-anak lapas/bapas

 Bagi anak-anak pengungsi

3. SEKOLAH INKLUSIF

 Sekolah Biasa Penyelenggara Pendidikan Inklusif, yang mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus

(Sekolah Inklusif adalah Sekolah biasa yang terpilih melalui seleksi dan memiliki kesiapan baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, Peserta Didik, Tenaga Administrasi dan Lingkungan Sekolah/ Masyarakat).

Yogyakarta,

(23)

Penulis Handout

Referensi

Dokumen terkait

Demi pengembangan ilmu pengetalnrar5 menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Esa Unggul Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exclusif Free Right) atas karya saya

 pertumbuhan ekonomi berpengaruh dan dapat memoderasi hubungan DAK pada belanja modal dengan intensitas dan arah yang berlawanan 5 Sri Cahyaning, Puspita Sari

“Mekanisme Pembentukan Komite Reviewer Dan Tata Cara Penilaian Usulan Dana Bantuan Penelitian Dan Publikasi Ilmiah.” Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Sunan Gunung Djati

4 Nilai korelasi yang ditunjukkan adalah 0,989 yang artinya kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang kuat, dan semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun jambu

Software tersebut yang akan memodelkan hidrodinamika berupa arus dan sedimentasi yang terjadi pada alternatif alur yang telah direncanakan, sehingga setelah

daerah daerah yang sangat jauh letaknya dari awal agama islam diajarkan, sedangkan dari sisi keburukannya adalah, dalam penaklukan yang dilakukan dinasti umayah,

Penyewa akan lebih tertarik untuk bekerja sama jika karyawan yang memberikan pelayanan jasa tersebut menunjukan rasa empati yang tinggi dalam melayani, sikap dari

Dalam konteks organisasi kajian, kebanyakan responden berpendapat bahawa keupayaan para pengurus mereka bentuk kandungan kursus yang menepati keperluan pelatih, dan kesediaan