• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya

Oleh: Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn Dosen Program Studi Desain Interior

Desain interior berarti rancangan ruang dalam. Tetapi dalam konsep arsitektur tradisional Bali Madya konsep desain interior, juga dapat berarti rancangan “ruang di dalam ruang” (space ini space) pada area rumah tinggal. Berdasarkan data yang kami peroleh dan bahas, maka hasil penelitian dapat kami jelaskan sebagai berikut.

1. Pola Zonasi

Pola zonasi rumah tinggal era Bali Madya memiliki pola teratur, dengan konsep ruang sanga mandala, yang membagi pekarangan menjadi 9 bagian area (pah pinara sanga sesa besik). Tata nilai ruangnya ditata dari area atau zona Utamaning utama sampai zona Nistaning nista untuk bangunan paling provan. Jadi konsep zonasi unit bangunan di dalam pekarangan rumah tradisional Bali Madya, ditata sesuai dengan fungsi dan nilai kesakralan dari unit bangunannya. Zona parahyangan untuk tempat suci, zona pawongan untuk bangunan rumah dan zona

palemahan untuk kandang ternak, teba dan tempat servis/ pelayanan. Filosofi Trihitakarana

sangat jelas diterapkan pada sonasi ruang rumah tinggal era Bali Madya, karena zona ruangnya telah didesain agar keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama dan ala lingkungan tetap terjaga, sehingga pemilik dan pemakai bangunan memperoleh keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan.

2. Pola Sirkulasi

[image:1.612.82.455.486.634.2]

Desain pola sirkulasi pada rumah tinggal tradisional Bali Madya adalah dari pintu masuk/ angkul-angkul menuju dapur (paon), yang memiliki makna sebagai tempat untuk membersihkan segala hal buruk yang terbawa dari luar rumah, kemudian baru dapat memasuki bangunan-bangunan lainnya, seperti ke Bale Dauh, Bale Gede/Dangin, Meten/Gedong dan bangunan lainnya. Sedangkan pola religiusnya dimulai dari Sanggah/Merajan, baru kemudian ke Bale Meten/Bale Daja, Bale Gede/dangin, Bale Dauh, Paon, Jineng, Penunggun Karang, Angkul-angkul dan bangunan tambahan lainnya. Proses aktivitas yang dimulai dari tempat suci ini dilakukan pada saat upacara secara tradisional Bali.

Gambar 1 : Konsep Sirkulasi Religius pada Rumah Tradisional Bali Madya

3. Orientasi

Sirkulasi Religius

Sirkulasi Masuk

(2)

Orientasi bangunan rumah tradisional Bali Madya adalah menghadap ke ruang tengah (natah), yang memiliki makna tempat bertemunya langit dan bumi, sehingga tercipta kehidupan di bumi. Langit (akasa) adalah purusa, sebagai simbol unsur laki-laki dan bumi (pertiwi) adalah

[image:2.612.208.369.151.273.2]

pradana, yang merupakan simbol unsur perempuan. Unsur purusa dan predana inilah bertemu pada natah, sehingga tercipta kehidupan di rumah tinggal tradisional Bali Madya.

Gambar 2 : Orientasi ke Natah (halaman Tengah)

Pada rumah tradisional Bali Madya, bangunan tempat tidur (Bale Meten) berorientasi ke Selatan, bangunan tempat anak muda/ tamu (Bale Dauh) berorientasi ke Timur, bangunan tempat upacara (Bale Gede/Dangin) berorientasi ke Barat, sedangkan dapur (Paon) berorientasi ke utara. Keempat unit bangunan pokok tersebut berorientasi ke tengah/natah sebagai halaman pusat aktivitas rumah tinggal. Orientasi pintu masuk tempat suci keluarga (Sanggah/ merajan) ke arah Selatan atau ke arah Barat.

4. Lay Out Ruang

Maksud dari lay out ruang adalah perencanaan, rancangan, desain, susunan, tata letak tentang ruang-ruang yang terdapat pada desain interior rumah tinggal tradisional Bali Madya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa desain interior tradisional Bali Madya adalah seluruh

compound bangunan yang terdapat di dalam tembok penyengker, sehingga ruang kosong di tengah yang disebut natah adalah termasuk ruang keluarga sebagai tempat bermain dan berkumpulnya keluarga. Lebih jelasnya lay out ruang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

[image:2.612.175.388.540.692.2]

Gambar

Gambar 1 : Konsep Sirkulasi Religius pada Rumah Tradisional Bali Madya
Gambar 3 : Lay Out Ruang Dalam  (Interior) Bali Madya

Referensi

Dokumen terkait

Dekonstruksi dan rekonstruksi kultural karya desain pertamanan tradisional Bali, khususnya taman peninggalan kerajaan pada masa Bali kuno, dimaksudkan untuk

Dari dapur ini terdapat pintu ke ruang makan (sebelah selatannya) di bagian paling belakang bangunan utama. Dari dapur ini terdapat pintu keluar menghadap ke timur menuju

Dari analisa dan uraian tentang ‘Makna Dan Konsep Arsitektur Tradisional Bali Serta Aplikasinya Dalam Arsitektur Bali’ dapat disimpulkan sebagai berikut : (a) Arsitektur

Pembahasan menunjukkan bahwa terjadi perubahan secara fisik terhadap bentuk dan fungsi bangunan rumah tinggal tradisional di Desa Pedawa yang disebabkan oleh empat faktor

Sirkulasi pada bangunan rumah tinggal bergaya kolonial di Kampung Kauman Kota Malang memiliki dua macam sirkulasi yaitu sirkulasi utama dari pintu masuk utama

Makna-makna simbolis yang terkandung pada penataan interior rumah tradisional Jawa juga tercermin dalam berbagai bentuk ragam hiasnya.. Ragam hias bermakna simbolis dimaksudkan

Pembahasan menunjukkan bahwa terjadi perubahan secara fisik terhadap bentuk dan fungsi bangunan rumah tinggal tradisional di Desa Pedawa yang disebabkan oleh empat

Penelitian difokuskan pada studi tentang gubahan bentuk dan ruang dari desain taman peninggalan kerajaan-kerajaan di Zaman Bali Kuna dan Zaman Bali Madya,