• Tidak ada hasil yang ditemukan

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 1 0 TAHUN 1 9 9 2

TENTANG

PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa hakikat pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila adalah pembangunan manusia Indonesia seut uhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia;

b. bahwa pembangunan nasional mencakup semua mat ra dan aspek kehidupan t ermasuk kuant it as penduduk, kualit as penduduk. dan kualit as keluarga sert a persebaran penduduk unt uk mewuj udkan suat u masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

c. bahwa j umlah penduduk yang besar dan kurang serasi, kurang selaras, sert a kurang seimbang dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan dapat mempengaruhi segala segi pembangunan dan kehidupan masyarakat , sedangkan j umlah penduduk yang besar dan berkualit as merupakan salah sat u modal dasar dan f akt or dominan bagi pembangunan nasional;

d. bahwa karena it u, kuant it as penduduk dikendalikan, kualit as penduduk dan kualit as keluarga dikembangkan, sert a mobilit as penduduk diarahkan agar menj adi sumber daya manusia yang t angguh bagi pembangunan dan ket ahanan nasional;

(2)

f. bahwa dalam upaya pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk dan kualit as keluarga, sert a pengarahan mobilit as penduduk t ersebut di at as dipandang perlu unt uk menet apkan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dengan Undang-undang;

Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;

Dengan perset uj uan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menet apkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Penduduk adalah orang dalam mat ranya sebagai diri pribadi, anggot a keluarga, anggot a masyarakat , warga negara, dan himpunan kuant it as yang bert empat t inggal di suat u t empat dalam bat as wilayah negara pada wakt u t ert ent u.

2. Kependudukan adalah hal ihwal yang berkait an dengan j umlah, ciri ut ama, pert umbuhan, persebaran, mobilit as, penyebaran, kualit as, kondisi kesej aht eraan yang menyangkut polit ik, ekonomi, sosial, budaya, agama sert a lingkungan penduduk t ersebut .

(3)

berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang meliput i kuant it as, kualit as, dan mobilit as yang mempunyai pengaruh t erhadap pembangunan dan lingkungan hidup.

4. Kualit as penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek f isik dan non f isik sert a ket aqwaan t erhadap Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan dasar unt uk mengembangkan kemampuan dan menikmat i kehidupan sebagai manusia yang berbudaya, berkepribadian, dan layak.

5. Kemandirian penduduk adalah sikap ment al penduduk dalam mendayagunakan kemampuan dan pot ensi diri yang sebesar-besarnya bagi dirinya dan pembangunan.

6. Masyarakat rent an adalah penduduk yang dalam berbagai mat ranya t idak at au kurang mendapat kesempat an unt uk mengembangkan pot ensinya sebagai akibat dari keadaan f isik dan non f isiknya.

7. Mobilit as penduduk adalah gerak keruangan penduduk dengan melewat i bat as administ rasi Daerah Tingkat II.

8. Persebaran penduduk adalah kondisi sebaran penduduk secara keruangan.

9. Penyebaran penduduk adalah upaya mengubah persebaran penduduk agar serasi, selaras, dan seimbang dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

10. Keluarga adalah unit t erkecil dalam masyarakat yang t erdiri dari suami-ist eri, at au suami-ist eri dan anaknya, at au ayah dan anaknya, at au ibu dan anaknya.

(4)

12. Keluarga berencana adalah upaya peningkat an kepedulian dan peran sert a masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengat uran kelahiran, pembinaan ket ahanan keluarga, peningkat an kesej aht eraan keluarga unt uk mewuj udkan keluarga kecil, bahagia, dan sej aht era.

13. Kualit as keluarga adalah kondisi keluarga yang mencakup aspek pendidikan, kesehat an, ekonomi, sosial budaya, kemandirian keluarga, dan ment al spirit ual sert a nilai-nilai agama yang merupakan dasar unt uk mencapai keluarga sej aht era.

14. Kemandirian keluarga adalah sikap ment al dalam hal berupaya meningkat kan kepedulian masyarakat dalam pembangunan, mendewasakan usia perkawinan, membina dan meningkat kan ket ahanan keluarga, mengat ur kelahiran dan mengembangkan kualit as dan kesej aht eraan keluarga, berdasarkan kesadaran dan t anggung j awab.

15. Ket ahanan keluarga adalah kondisi dinamik suat u keluarga yang memiliki keulet an dan ket angguhan sert a mengandung kemampuan f isik-mat eriil dan psikis-ment al spirit ual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya unt uk hidup harmonis dalam meningkat kan kesej aht eraan lahir dan kebahagiaan bat in.

16. Norma keluarga kecil, bahagia, dan sej aht era adalah suat u nilai yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang membudaya dalam diri pribadi, keluarga, dan masyarakat , yang berorient asi kepada kehidupan sej aht era dengan j umlah anak ideal unt uk mewuj udkan kesej aht eraan lahir dan kebahagiaan bat in.

(5)

18. Daya dukung alam adalah kemampuan lingkungan alam besert a segenap unsur dan sumbernya unt uk menunj ang perikehidupan manusia sert a makhluk lain secara berkelanj ut an.

19. Daya t ampung lingkungan binaan adalah kemampuan lingkungan hidup buat an manusia unt uk memenuhi perikehidupan penduduk. 20. Daya t ampung lingkungan sosial adalah kemampuan manusia dan

kelompok penduduk yang berbeda-beda unt uk hidup bersama-sama sebagai sat u masyarakat secara serasi, selaras, seimbang, rukun, t ert ib, dan aman.

BAB II

ASAS, ARAH, DAN TUJUAN

Pasal 2

Pengelolaan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era berasaskan perikehidupan dalam keseimbangan, manf aat , dan pembangunan berkelanj ut an unt uk mewuj udkan manusia Indonesia seut uhnya.

Pasal 3

(1) Perkembangan kependudukan diarahkan pada pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk sert a pengarahan mobilit as penduduk sebagai pot ensi sumber daya manusia agar menj adi kekuat an pembangunan bangsa dan ket ahanan nasional sert a dapat memberikan manf aat sebesar-besarnya bagi penduduk dan mengangkat harkat dan mart abat manusia dalam segala mat ra kependudukannya.

(6)

kualit as keluarga melalui upaya keluarga berencana dalam rangka membudayakan norma keluarga kecil, bahagia, dan sej aht era.

Pasal 4

(1) Perkembanan kependudukan bert uj uan unt uk mewuj udkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ant ara kuant it as, kualit as, persebaran penduduk dengan lingkungan hidup.

(2) Pembangunan keluarga sej aht era bert uj uan unt uk mengembangkan kualit as keluarga agar dapat t imbul rasa aman, t ent eram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewuj udkan kesej aht eraan lahir dan kebahagiaan bat in.

BAB III

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 5

(1) Set iap penduduk mempunyai hak dan kewaj iban yang sama dalam upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

(2) Hak dan kewaj iban set iap penduduk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliput i semua mat ra penduduk yang t erdiri dari mat ra diri pribadi, anggot a keluarga, anggot a masyarakat , warga negara, dan himpunan kuant it as.

Pasal 6

Hak penduduk yang dikait kan dengan mat ra penduduk meliput i:

(7)

membent uk keluarga, hak mengembangkan kualit as diri dan kualit as hidupnya, sert a hak unt uk bert empat t inggal dan pindah ke lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang dengan diri dan kemampuannya;

b. hak penduduk sebagai anggot a masyarakat yang meliput i hak unt uk mengembangkan kekayaan budaya, hak unt uk mengembangkan kemampuan bersama sebagai kelompok, hak at as pemanf aat an wilayah warisan adat , sert a hak unt uk melest arikan at au mengembangkan perilaku kehidupan budayanya;

c. hak penduduk sebagai warga negara yang meliput i pengakuan at as harkat dan mart abat yang sama, hak memperoleh dan mempert ahankan ruang hidupnya;

d. hak penduduk sebagai himpunan kuant it as yang meliput i hak unt uk diperhit ungkan dalam kebij aksanaan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dalam pembangunan nasional.

Pasal 7

Set iap penduduk sebagai anggot a keluarga mempunyai hak unt uk membangun keluarga sej aht era dengan mempunyai anak yang j umlahnya ideal, at au mengangkat anak, at au memberikan pendidikan kehidupan berkeluarga kepada anak-anak sert a hak lain guna mewuj udkan keluarga sej aht era.

Pasal 8

(1) Set iap penduduk berkewaj iban mewuj udkan dan memelihara keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ant ara kuant it as, kualit as, dan mobilit asnya dengan lingkungan hidup sert a memperhat ikan kemampuan ekonomi, nilai-nilai sosial budaya, dan agama.

(8)

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), set iap penduduk berkewaj iban mengembangkan kualit as diri melalui peningkat an kesehat an, pendidikan, dan kualit as lingkungan hidup.

(3) Unt uk pemant auan perkembangan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), set iap penduduk berkewaj iban at as pencat at an set iap kelahiran, kemat ian, dan perpindahan, sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

BAB IV

UPAYA PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA

Pasal 9

(1) Unt uk mewuj udkan arah dan t uj uan perkembangan kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (1) dilakukan upaya pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk, dan pengarahan mobilit as penduduk.

(2) Unt uk mewuj udkan arah dan t uj uan pembangunan keluarga sej aht era sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 ayat (2) dilakukan upaya pembinaan dan pengembangan kualit as keluarga.

(9)

BAB V

PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN Bagian Pert ama

Kuant it as Penduduk

Pasal 10

(1) Pemerint ah menct apkan kebij aksanaan pengendalian kuant it as penduduk yang diat ur dengan perat uran perundang-undangan. (2) Penet apan kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

didasarkan pada keserasian, keselarasan, dan kescimbangan ant ara j umlah penduduk dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan sert a kondisi perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya.

(3) Kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berhubungan dengan penet apan j umlah, st rukt ur, dan komposisi, pert umbuhan dan persebaran penduduk yang ideal, melalui upaya penurunan angka kemat ian, pengat uran kelahiran, dan pengarahan mobilit as penduduk yang sesuai dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

(4) Penet apan kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pada t ingkat nasional dan daerah sert a dit et apkan dari wakt u ke wakt u berdasarkan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

Bagian Kedua Kualit as Penduduk

Pasal 11

(10)

perundang-undangan.

(2) Penet apan kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diarahkan pada t erwuj udnya kualit as penduduk sebagai pot ensi sumber daya manusia, pengguna dan pemelihara lingkungan, dan pembina keserasian manusia dalam lingkungan hidup unt uk mewuj udkan pembangunan berkelanj ut an.

(3) Kebij aksanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan melalui pengembangan kualit as f isik dan nonf isik.

Pasal 12

(1) Pengembangan kualit as f isik, nonf isik, dan pembinaan penduduk sert a pelayanan t erhadap penduduk diselenggarakan unt uk meningkat kan kualit as set iap penduduk sesuai dengan harkat dan mart abat sert a pot ensi masing-masing secara opt imal.

(2) Upaya pengembangan kualit as sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui perbaikan kondisi penduduk dalam segala mat ranya dengan pengadaan sarana, f asilit as, sert a kesempat an unt uk memperoleh pendidikan, pelat ihan, dan konsult asi.

(3) Penyelenggaraan perbaikan kondisi penduduk dilakukan dengan memperhat ikan nilai-nilai agama, et ik, dan sosial budaya.

Pasal 13

(1) Unt uk mengembangkan pot ensi opt imal dari semua penduduk secara merat a, Pemerint ah memberikan kemudahan unt uk pembangunan kualit as masyarakat rent an.

(11)

Bagian Ket iga Mobilit as Penduduk

Pasal 14

(1) Pemerint ah menet apkan kebij aksanaan pengarahan mobilit as dan at au penyebaran penduduk unt uk mencapai persebaran penduduk yang opt imal, didasarkan pada keseimbangan ant ara j umlah penduduk dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan. (2) Kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan

pada t ingkat nasional dan daerah sert a dit et apkan dari wakt u ke wakt u.

(3) Ket ent uan mengenai kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

BAB VI

PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA Bagian Pert ama

Kualit as Keluarga

Pasal 15

(1) Pemerint ah menet apkan kebij aksanaan penyelenggaraan pengembangan kualit as keluarga yang diat ur dengan perat uran perundang-undangan.

(2) Penet apan kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diarahkan pada t erwuj udnya kualit as keluarga yang berciri kemandirian dan ket ahanan keluarga sebagai pot ensi sumber daya manusia, pengguna dan pemelihara lingkungan, dan pembina keserasian manusia dalam lingkungan hidup unt uk mewuj udkan pembangunan berkelanj ut an.

(12)

diselenggarakan mclalui pembinaan dan at au pelayanan keluarga.

Bagian Kedua Keluarga Berencana

Pasal 16

(1) Unt uk mewuj udkan pembangunan keluarga sej aht era, Pemerint ah menet apkan kebij aksanaan upaya penyelenggaraan keluarga berencana.

(2) Kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan upaya peningkat an ket erpaduan dan peran sert a masyarakat , pembinaan keluarga dan pengat uran kelahiran dengan memperhat ikan nilai-nilai agama, keserasian, keselarasan, dan kescimbangan ant ara j umlah penduduk dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan, kondisi perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya sert a t at a nilai yang hidup dalam masyarakat .

(3) Kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berhubungan dengan penet apan mengenai j umlah ideal anak, j arak kelahiran anak, usia ideal perkawinan, dan usia ideal int uk melahirkan.

(4) Penet apan kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dit et apkan dari wakt u ke wakt u berdasarkan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

Pasal 17

(13)

(2) Penyelenggaraan pengat uran kelahiran dilakukan dengan cara yang dapat dipert anggungj awabkan dari segi keschat an, et ik, dan agama yang dianut penduduk yang bersangkut an.

Pasal 18

Set iap pasangan suami-ist ri (dapat menent ukan pilihannya dalam merencanakan dan mengat ur j umlah anak dan j arak ant ara kelahiran anak yang berlandaskan pada kesadaran dan rasa t anggung j awab t erhadap generasi, sekarang maupun generasi mendat ang.

Pasal 19

Suami dan ist ri mempunyai hak dan kewaj iban yang sama sert a kedudukan yang sederaj at dalam menent ukan cara pengat uran kelahiran.

Pasal 20

(1) Penggunaan alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan yang menimbulkan risiko t erhadap kesehat an dilakukan at as pet unj uk dan at au oleh t enaga kesehat an yang berwenang unt uk it u.

(2) Tat a cara penggunaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan menurut st andar prof esi kesehat an sesuai ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 21

(14)

Pasal 22

(1) Pemerint ah mengat ur pengadaan dan at au penyebaran alat dan obat pengat uran kehamilan berdasarkan keseimbangan ant ara kebut uhan, penyediaan, dan pemerat aan pelayanan.

(2) Penelit ian dan pcngembangan t eknologi alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan dilakukan oleh Pemerint ah dan at au masyarakat berdasarkan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 23

(1) Unt uk membudayakan norma keluarga kecil, bahagia, dan sej aht era Pemerint ah melakukan upaya peningkat an :

a. penyuluhan, pembinaan, dan at au pelayanan pengat uran kelahiran;

b. penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan bagi pelayanan pengat uran kehamilan;

c. bimbingan t erhadap penent uan usia perkawinan dan usia melahirkan yang ideal.

(2) Ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur dengan perat uran perundang-undangan.

BAB VII

PERANSERTA MASYARAKAT

Pasal 24

(15)

(2) Peransert a sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui lembaga swadaya dan organisasi masyarakat , pihak swast a, dan perorangan, secara sukarela dan mandiri sert a sesuai dengan kemampuan masing-masing.

BAB VIII PEMBINAAN

Pasal 25

(1) Pemerint ah melakukan pembinaan t erhadap semua kegiat an yang berkait an dengan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

(2) Pembinaan yang dilakukan Pemerint ah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bert uj uan unt uk :

a. menj aga kelancaran pelaksanaan dan melakukan pengawasan agar upaya pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk, dan pengarahan mobilit as penduduk sesuai dengan t uj uan perkembangan kependudukan;

b. menj aga kelancaran pelaksanaan dan melakukan pengawasan agar penyelenggaraan keluarga berencana sert a upaya lainnya dapat mewuj udkan keluarga sej aht era.

(3) Dalam rangka melaksanakan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pemerint ah berkewaj iban melakukan :

a. pengumpulan, pengolahan, dan analisis inf ormal unt uk pemant auan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era;

b. perkiraan dari wakt u ke wakt u dan penet apan sasaran upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dalam perencanaan pembangunan nasional;

(16)

kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era, sert a dampak perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era t erhadap pembangunan dan lingkungan hidup;

d. upaya dan langkah-langkah guna mengat asi permasalahan yang berkait an dengan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

(4) Selain dari kegiat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pemerint ah dan at au masyarakat berkewaj iban melakukan :

a. komunikasi, inf ormasi, dan edukasi t erhadap penduduk t ent ang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era;

b. pembinaan yang mendorong kelancaran pelaksanaan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era;

c. penelit ian dan pengembangan di bidang kependudukan dan keluarga sej aht era;

d. kegiat an lain yang dipandang perlu.

(5) Kegiat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diat ur dengan perat uran perundang-undangan.

Pasal 26

(1) Unt uk menegakkan ket ent uan dalam Undang-undang ini, Pemerint ah mengambil t indakan dan langkah guna mendorong dit ingkat kannya upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

(17)

Pasal 27

Pelanggaran t erhadap ket ent uan Undang-undang ini dikenakan sanksi sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 28

Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, semua perat uran perundang-undangan yang berkait an dengan penyelenggaraan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan dengan Undang-undang ini.

Pasal 29

Undang-undang ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakart a

pada t anggal 16 April 1992

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

t t d

(18)

Diundangkan di Jakart a pada t anggal 16 April 1992

MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA

t t d

(19)

PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1992

TENTANG

PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA

UMUM

1. Sasaran ut ama Pembangunan Jangka Panj ang adalah t ercipt anya kualit as manusia dan kualit as masyarakat Indonesia yang maj u dalam suasana t ent eram dan sej aht era lahir dan bat in, dalam t at a kehidupan masyarakat , bangsa, dan negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dalam suasana kehidupan bangsa Indonesia yang serba serasi, selaras, dan berkeseimbangan dalam hubungan ant ara sesama manusia, manusia dengan masyarakat dan manusia dengan alam lingkungannya, sert a bert aqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Dalam rangka mencapai sasaran ut ama t ersebut di at as, perlu diadakan upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dengan t uj uan t erwuj udnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan kuant it as, kualit as, dan persebaran penduduk sert a t erwuj udnya kualit as keluarga sej aht era dalam rangka membangun manusia Indonesia seut uhnya.

Jumlah penduduk yang besar dan berkualit as merupakan modal pelaksanaan pembangunan dan pot ensi bagi peningkat an

(20)

penduduk yang besar, diperlukan upaya pengat uran pengembangan kualit as penduduk dan kualit as keluarga yang pelaksanaannya diselenggarakan secara menyeluruh dan t erpadu ant ar sekt or Pemerint ah, dan ant ara Pemerint ah dengan masyarakat .

3. Mengingat kebij aksanaan kependudukan dan keluarga sej aht era meliput i berbagai aspek, ant ara lain kewarganegaraan, sensus penduduk, kesehat an, t enaga kerj a, t ransmigrasi, perkawinan, kesej aht eraan sosial, kesej aht eraan anak, lingkungan hidup, yang t elah diat ur dalam berbagai undang-undang, maka dalam Undang-undang ini diat ur aspek perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

4. Kebij aksanaan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era diarahkan kepada pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk dan kualit as keluarga, dan pengarahan mobilit as penduduk sebagai sumber daya manusia agar menj adi kekuat an pembangunan bangsa yang ef ekt if dalam rangka mewuj udkan mut u kehidupan masyarakat yang senant iasa meningkat secara lebih t erpadu. Kebij aksanaan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era diselenggarakan unt uk mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ant ara kuant it as, kualit as, dan persebaran penduduk dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

(21)

Upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era t et ap didasarkan at as kesadaran, rasa t anggung-j awab, dan secara sukarela, dengan memperhat ikan nilai-nilai agama sert a norma sosial dan kesusilaan.

5. Lingkup pengat uran Undang-undang ini meliput i semua penduduk yang bert empat t inggal di wilayah negara Republik Indonesia. Berdasarkan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku, penduduk di Indonesia dibagi dalam warga negara Republik Indonesia, warga negara asing, dan diplomat perwakilan negara asing.

Undang-undang ini berlaku bagi warga negara Republik Indonesia dan warga negara asing yang menurut ket ent uan perat uran perundang-undangan dinyat akan sebagai penduduk Indonesia, sedangkan t erhadap diplomat warga negara asing sebagai penduduk Indonesia diberlakukan ket ent uan menurut perat uran perundang-undangan dan at au konvensi yang berlaku.

6. Sehubungan dengan hal t ersebut di at as, unt uk memberikan keluwesan pengat uran masalah-masalah yang berkait an dengan kependudukan, khususnya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dengan upaya penyelenggaraan keluarga berencana, dalam Undang-undang ini hanya dirumuskan hal-hal yang bersif at umum, sehingga memudahkan unt uk penyesuaiannya apabila t erj adi perkembangan keadaan di kemudian hari.

(22)

Pasal 1

Ist ilah-ist ilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar t erdapat keseragaman pengert ian at as Undang-undang ini sert a perat uran-perat uran pelaksanaannya :

1. Yang dimaksud dengan pada wakt u t ert ent u adalah sekurang kurangnya selama enam bulan menet ap (berdomisili) at au bert empat t inggal dengan maksud sengaj a unt uk menet ap di t empat t ersebut .

2. Ciri ut ama kependudukan meliput i di ant aranya st rukt ur, umur, j enis kelamin, pendidikan, pekerj aan, et nik, dan agama.

3. Cukup j elas 4. Cukup j elas 5. Cukup j elas 6. Cukup j elas

7. Ist ilah keruangan adalah sama dengan spasial, yait u berkenaan dengan ruang dan t empat .

Dalam pengert ian mobilit as t ermasuk migrasi yang merupakan perubahan t empat t inggal penduduk.

8. Cukup j elas 9. Cukup j elas

10. Dalam pengert ian ini yang dimaksud keluarga adalah keluarga int i at au keluarga bat ih. Dalam sist em kekerabat an di Indonesia keluarga it u menampung j uga kakek, nenek, dan anggot a keluarga yang mempunyai ikat an kekerabat an. Anggot a-anggot a keluarga t ersebut t et ap menj adi t anggungan keluarga yang bersangkut an.

(23)

12. Cukup j elas 13. Cukup j elas 14. Cukup j elas

15. Kemampuan psikis-ment al spirit ual meliput i penghayat an ideologi Pancasila, ket angguhan kult ural, dan keyakinan agama. 16. Pembudayaan norma keluarga kecil, bahagia, dan sej aht era

dalam diri pribadi, keluarga, dan masyarakat dilakukan

berdasarkan kesadaran, kesukarelaan, dan rasa t anggung j awab kepada generasi sekarang maupun mendat ang, dengan memperhat ikan nilai-nilai agama dan sosial budaya.

Keluarga kecil adalah keluarga yang j umlah anggot anya ideal, yang memungkinkan t erwuj udnya kesej aht eraan dan kebahagiaan, baik bagi keluarga maupun bagi masyarakat .

17. Dalam pengert ian lingkungan hidup t ermasuk lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan sosial.

Lingkungan binaan adalah lingkungan hidup buat an manusia at au lingkungan f isik yang t elah diubah unt uk kesej aht eraan penduduk dengan mempergunakan ilmu penget ahuan dan t eknologi.

Lingkungan sosial meliput i hubungan ant ara manusia dengan lembaga dan pranat a sosial, budaya sert a agama.

18. Cukup j elas 19. Cukup j elas 20. Cukup j elas

Pasal 2

(24)

yait u ant ara kepent ingan mat eriil dan spirit ual, dan ant ara kepent ingan dari masing-masing mat ra kependudukan dengan mat ra yang lain.

Asas manf aat merupakan dasar agar segala upaya yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini memberi manf aat sebesar-besarnya bagi penduduk dalam segala mat ra dirinya.

Asas pembangunan berkelanj ut an berhubungan dengan ket erkait an dan keberlanj ut an pembangunan ant argenerasi dalam segala aspeknya, t ermasuk keberlanj ut an asas-asas pembangunan nasional yang lain sepert i asas adil dan merat a, asas kesadaran hukum, dan asas kepercayaan pada diri sendiri. Pembangunan nasional, yang mencakup upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era, mempunyai pengaruh j angka panj ang pada generasi penduduk Indonesia masa depan sert a daya dukung dan daya t ampung lingkungan yang menunj ang kehidupan mereka.

Pembangunan berkelanj ut an adalah pembangunan yang menj amin keserasian, keselarasan, dan keseimbangan penduduk dengan lingkungan hidup, sehingga dapat menunj ang kehidupan bangsa dari generasi ke generasi sepanj ang masa. Pembangunan sepert i ini merupakan upaya sadar dan berencana dalam menggunakan dan mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia secara bij aksana.

Pasal 3 Ayat (1)

Penduduk dalam segala mat ranya merupakan salah sat u modal dasar dan sumber daya manusia yang produkt if bagi pembangunan nasional di segala bidang, apabila berkembang

dalam kuant it as yang memadai, kualit as yang t inggi, sert a persebaran yang sesuai dengan daya dukung dan daya t ampung

(25)

bagi ket ahanan nasional yang t angguh dan mampu menghadapi dan mengat asi segala ancaman, t ant angan, hambat an, dan gangguan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Oleh karena it u upaya perkembangan kependudukan perlu diarahkan pada pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk, dan pengarahan mobilit as penduduk, bersamaan dengan upaya pembangunan keluarga sej aht era melalui keluarga berencana yang diarahkan pada pengembangan kualit as keluarga.

Pengendalian kuant it as penduduk mencakup upaya yang berhubungan dengan pert umbuhan, j umlah, dan ciri-ciri ut ama penduduk. Di samping keluarga berencana, upaya pengendalian kuant it as penduduk dit unj ang pula oleh berbagai upaya di bidang lain, t ermasuk kesehat an, pendidikan, peningkat an peranan wanit a, dan penyebaran penduduk.

Ayat (2) Cukup j elas

Pasal 4 Ayat (1)

Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ant ara kuant it as penduduk dengan lingkungan menyangkut perbandingan ideal ant ara j umlah penduduk dengan daya t ampung dan daya dukung lingkungan.

(26)

t ampung lingkungan, sehingga memberi manf aat opt imal. Misalnya, dengan penerapan ilmu penget ahuan dan t eknologi, dapat dit ingkat kan produkt ivit as lahan guna keperluan pembangunan perumahan, pert anian, indust ri, dan lain-lain, sehingga mampu menghidupi lebih banyak penduduk.

Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ant ara persebaran penduduk dengan lingkungan menyangkut pembagian j umlah penduduk ant ar-daerah sesuai dengan daya t ampung dan daya dukung lingkungan sert a mobilit as penduduk.

Ayat (2) Cukup j elas

Pasal 5 Ayat (1)

Hak yang sama berart i bahwa set iap penduduk t anpa membedakan suku, agama, ras, dan et nik mempunyai hak dalam upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan

keluarga sej aht era sesuai dengan hak-hak penduduk yang dikait kan dengan mat ra penduduk sebagaimana diat ur dalam Undang-undang ini.

Ayat (2)

Himpunan kuant it as adalah penduduk sebagai j umlah makro, yang t erinci at as ciri-ciri demograf is, ant ara lain umur dan j enis kelamin.

Pasal 6

(27)

Huruf a

Dalam hak pengembangan kualit as diri pribadi t ermasuk memilih dan mengikut i pendidikan dan pelat ihan sepanj ang umur yang sesuai dengan bakat , kemampuan, dan cit a-cit a, memiliki lapangan kerj a, prof esi, dan bidang minat yang dit ekuni sesuai dengan kemampuannya, unt uk mewuj udkan aspirasi dan mencapai kepuasan lahir bat in dalam hidupnya.

Huruf b

Hak at as pemanf aat an wilayah warisan adat set empat memberi j aminan bahwa kelompok penduduk yang t elah t urun-t emurun mengembangkan suat u wilayah secara adat , t idak dikalahkan kepent ingannya oleh pendat ang baru. Jika wilayah warisan adat set empat t ersebut dikembangkan unt uk kegiat an pembangunan, maka penduduk semula diut amakan dalam menikmat i nilai t ambah wilayahnya, misalnya dalam kesempat an kerj a baru dan sebagainya.

Hak unt uk melest arikan dan mengembangkan perilaku kehidupan budaya, meliput i aspek f isik (hubungan dengan t anah) maupun aspek nonf isik, t ermasuk sosial-budaya sepert i kekhasan cara hidup. Sebagai cont oh, beberapa suku at au kelompok yang mempunyai perilaku kehidupan yang khas, t idak dapat dipaksakan mengubah cara hidupnya agar sama dengan yang lainnya. Perubahannya adalah sesuai dengan perkembangan yang diinginkannya sendiri.

Huruf c

Set iap warga negara mempunyai harkat dan mart abat yang sama, apa pun st at us, pendidikan, kemampuan ekonomi, sert a kondisinya, t ermasuk cacat , f isik at au nonf isik.

(28)

dilindungi.

Penduduk asli di sini bukan semat a-mat a diart ikan berdasarkan at as f akt or suku, ras, agama, t et api j uga f akt or lamanya penduduk t inggal dalam suat u wilayah t ert ent u sesuai dengan perikehidupan sosial budaya set empat .

Huruf d

Dalam perencanaan pembangunan, t ermasuk perencanaan perkembangan kependudukan, set iap kelompok demograf is harus masuk perhit ungan penduduk secara makro. Misalnya, dalam regist rasi dan sensus penduduk, pembagian wilayah, penet apan sasaran perkembangan kependudukan, penent uan j umlah wakil dalam pemilihan umum, pemberian bant uan pedesaan, dan sebagainya t anpa membedakan suku, agama, ras, umur, j enis kelamin. Pelaksanaan penggunaan hak sebagai himpunan kuant it as disesuaikan dengan ket ent uan perat uran perundang- undangan yang berlaku.

Pasal 7

Set iap keluarga dapat menent ukan apakah akan mempunyai anak dan dalam j umlah berapa, berdasarkan keadaan dan kemampuan masing-masing, dengan menyadari t anggung j awabnya t erhadap masyarakat dan perkembangan anak. Pelaksanaan pengangkat an anak sebagaimana dimaksud dalam pasal ini didasarkan at as ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

(29)

Pasal 8 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Pengat uran j umlah keluarga yang ideal, pendidikan keluarga, pengembangan kualit as lingkungan permukiman merupakan suat u kebut uhan dalam upaya mengembangkan kualit asnya. Oleh karena it u kewaj iban t ersebut merupakan suat u kewaj iban yang t idak t erpisahkan dengan pengembangan kualit as penduduk dalam segala mat ranya.

Ayat (3)

Selain kewaj iban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), unt uk kepent ingan pendat aan dan perencanaan pengembangan kualit as penduduk, maka set iap penduduk j uga berkewaj iban melakukan pencat at an at as kelahiran, kemat ian, perpindahan, perkawinan, dan kewaj iban lainnya sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku bagi pencat at an set iap kegiat an yang berkait an dengan kependudukan.

Pasal 9 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Upaya pembangunan keluarga sej aht era dilaksanakan melalui peningkat an penget ahuan sert a perubahan sikap dan perilaku, dengan memperhat ikan kemaj emukan masyarakat Indonesia. Ayat (3)

(30)

kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era yang dilaksanakan oleh Pemerint ah dan masyarakat perlu diat ur unt uk mencapai hasil yang opt imal.

Ket erpaduan t ersebut bersif at horizont al ant arsekt or maupun bersif at vert ikal ant ara lembaga pusat dengan daerah.

Ket erpaduan t ersebut meliput i pula koordinasi ant ara kegiat an Pemerint ah dengan kegiat an masyarakat .

Daya dukung lingkungan alam t ercermin pada j umlah penduduk yang dapat dicukupi kehidupan pokoknya oleh sumber alam yang dapat dimanf aat kannya t anpa mengganggu keseimbangan sert a f ungsi ekosist em di wilayah yang bersangkut an.

Daya t ampung lingkungan binaan suat u wilayah t ercermin pada kepadat an f isik penduduk, yait u j umlah manusia yang dapat dilayani keperluan hidupnya secara layak oleh ruang, prasarana, sarana, permukiman, f asilit as, dan pelayanan yang t ersedia. Daya t ampung lingkungan sosial t ercermin pada keseimbangan

dan keserasian sosial, yait u kemampuan unt uk mengelola kepadat an sosial dan sumber kehidupan bersama, sert a mengat asi perbedaan-perbedaan ant arkelompok penduduk, misalnya ant ar kelompok et nik, agama, ekonomi, wilayah hunian, dan sebagainya.

Pasal 10 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Cukup j elas Ayat (3)

(31)

Ayat (4) Cukup j elas

Pasal 11 Ayat (1)

Pengembangan kualit as penduduk pada prinsipnya t elah diat ur dalam berbagai perat uran perundang-undangan, misalnya Undang-undang Pendidikan, Undang-undang Kesehat an, Undang-undang Transmigrasi, Undang-undang Tenaga Kerj a, dan sebagainya. Oleh karena it u dalam penet apan kebij aksanaan pengembangan kualit as penduduk, maka ket ent uan-ket ent uan t ersebut yang saling berkait an sat u sama lain, pelaksanaannya harus dilakukan secara t erpadu dan menyeluruh.

Ayat (2) Cukup j elas Ayat (3)

Kualit as f isik meliput i kebugaran yang dikait kan dengan kesegaran j asmani, kesehat an, sert a daya t ahan f isik sehingga dapat melakukan kegiat an yang produkt if .

Kualit as nonf isik meliput i kualit as kepribadian: kecerdasan, ket ahanan ment al, dan kemandirian; kualit as bermasyarakat : keset iakawanan sosial dan kemampuan bermasyarakat ; kualit as kekaryaan: produkt ivit as, ket ekunan, dan prest asi kerj a; kualit as wawasan lingkungan; sert a kualit as spirit ual keagamaan: iman, ket eguhan et ik, dan moral.

(32)

Pot ensi penduduk berbeda dari orang ke orang. Ada yang mempunyai pot ensi lebih t inggi pada segi-segi kualit as f isik, sement ara yang lain mempunyai pot ensi lebih pada segi kualit as nonf isik.

Namun set iap orang mempunyai pot ensinya sendiri, misalnya seorang but a mungkin mempunyai pendengaran yang j auh lebih t aj am, rasa seni yang lebih peka at au kemampuan abst raksi yang lebih t inggi. Karena it u pengembangan kualit as perlu dilakukan pada set iap orang ke arah pot ensi kualit asnya yang opt imal. Ayat (2)

Yang dimaksud dengan pendidikan pada ayat ini adalah dalam art i kat a luas, t ermasuk pendidikan seumur hidup unt uk meningkat kan kemampuan dan memenuhi aspirasi masyarakat . Sarana dan f asilit as t ermasuk misalnya media inf ormasi, kemudahan paj ak buku dan kert as, perpust akaan, akses bagi masyarakat t erhadap pangkalan dat a, dan adanya lapangan olahraga umum di set iap lokasi permukiman at au unt uk set iap j umlah penduduk t ert ent u.

Ayat (3)

Nilai et ik dan agama harus menj adi penapis sebelum menerapkan at au menerima t eknologi pengembangan kualit as, sepert i penggunaan obat unt uk membent uk kemampuan ot ak dan ot ot at au unt uk memacu prest asi olahraga.

Pasal 13 Ayat (1)

(33)

hidup yang krit is, wanit a pekerj a dalam posisi rawan, anak-anak t erlant ar, dan penyandang cacat .

Ayat (2),

Bent uk kemudahan misalnya pengadaan t angga khusus bagi kursi roda pada gedung, sekolah, dan alat angkut an umum; bahasa isyarat sebagai pelengkap dalam acara pendidikan di t elevisi; keharusan pengadaan kamar kecil wanit a yang sebanding dengan j umlah wanit a pekerj a dalam pabrik.

Jenis kemudahan berhubungan dengan j enis hambat an yang diat asinya.

Sif at kemudahan t ermasuk subsidi, keringanan persyarat an sepert i dalam memasuki sekolah bagi anak dari daerah yang perlu dipacu kualit asnya, dan sebagainya.

Pasal 14 Ayat (1)

Mobilit as penduduk dan at au penyebaran penduduk dapat berbent uk migrasi, baik melalui kebij aksanaan Pemerint ah sepert i t ransmigrasi maupun at as keinginan sendiri.

Kebij aksanaan pengarahan mobilit as penduduk dan at au penyebaran penduduk berkait an erat dengan kebij aksanaan penyebaran kegiat an pembangunan yang mendorong t erj adinya gerak keruangan ant ar daerah. Dengan demikian, kebij aksanaan pembangunan perlu mempert imbangkan konsekuensi persebaran penduduk yang opt imal.

Pemerint ah dapat menet apkan suat u daerah sebagai daerah t ert ut up j ika migrasi masuk t idak seimbang dengan daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

(34)

Kebij aksanaan pada t ingkat nasional meliput i pengarahan mobilit as penduduk dan at au penyebaran penduduk ant arpropinsi, sedangkan kebij aksanaan pada t ingkat daerah meliput i mobilit as dan at au penyebaran penduduk ant arkabupat en dan kot amadya.

Kebij aksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bukan bersif at t et ap melainkan dapat di ubah set iap wakt u bila dianggap perlu, sesuai dengan perkembangan daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

Ayat (3) Cukup j elas

Pasal 15 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Cukup j elas Ayat (3)

Cukup j elas

Pasal 16 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan upaya penyelenggaraan keluarga berencana adalah upaya unt uk membent uk keluarga kecil sej aht era.

(35)

Ayat (2) Cukup j elas Ayat (3)

Cukup j elas Ayat (4)

Cukup j elas

Pasal 17 Ayat (1)

Pelaksanaan pengat uran kelahiran harus selalu memperhat ikan harkat dan mart abat manusia sert a mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat .

Ayat (2)

Unt uk menghindarkan hal yang berakibat negat if , set iap alat , obat , dan cara yang dipakai sebagai pengat ur kehamilan harus aman dari segi medik dan dibenarkan oleh agama, moral, dan et ika.

Pasal 18 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 19

(36)

cara yang akan dipakai agar t uj uannya t ercapai dengan baik. Keput usan at au t indakan sepihak dapat menimbulkan kegagalan at au masalah di kemudian hari. Kewaj iban yang sama ant ara keduanya berart i j uga, bahwa apabila ist eri t idak dapat memakai alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan, misalnya karena alasan kesehat an, maka suami mempergunakan alat , obat , dan cara yang diperunt ukkan bagi laki-laki.

Pasal 20 Ayat (1)

Mengingat dalam pelaksanaan penggunaan alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan berkait an erat dengan masalah kesehat an, agar penggunaan alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan t ersebut t idak menimbulkan bahaya bagi kesehat an, maka cara penggunaan at au met ode pelaksanaan t ersebut dilakukan at as pet unj uk dan at au oleh t enaga kesehat an.

Dengan demikian hak asasi pesert a keluarga berencana t et ap t erj amin dengan pelaksanaan t indakan yang baik dan prof esional oleh t enaga kesehat an.

Tenaga kesehat an di sini adalah sebagaimana dimaksud dalam perat uran perundang-undangan di bidang kesehat an dan oleh karenanya t enaga kesehat an dalam melakukan kewenangannya harus t et ap berlandaskan pada st andar prof esi kesehat an yang berlaku.

Tenaga kesehat an yang memberi pelayanan keluarga berencana memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan t ugasnya sesuai dengan st andar prof esi yang t elah dit ent ukan.

(37)

Ayat (2) Cukup j elas

Pasal 21

Pasal ini dimaksudkan unt uk melindungi masyarakat dari t indakan yang dapat menurunkan moral bangsa Indonesia. Meskipun dalam Undang-undang ini diperbolehkan unt uk mempert unj ukkan dan at au memperagakan alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan, namun dalam pelaksanaannya hanya t erbat as pada t uj uan keluarga berencana yang dilakukan oleh t enaga yang berwenang unt uk it u, dan t et ap memperhat ikan t at a nilai kehidupan bangsa Indonesia. Tempat dan dengan cara yang layak art inya dalam

mempert unj ukkan at au memperagakan alat t idak hanya dilakukan di t empat yang pat ut at au diduga pat ut unt uk mempert unj ukkan dan at au memperagakan unt uk t uj uan keluarga berencana, t et api t ermasuk pesert anya j uga harus dapat menduga at au pat ut menget ahui at au melaksanakan keluarga berencana dengan menggunakan alat , obat , dan cara pengat uran kehamilan.

Pasal 22 Ayat (1)

Pengat uran di sini dimaksudkan agar kebut uhan akan alat dan obat pengat uran kehamilan t erpenuhi, baik secara kualit as maupun kuant it asnya, sehingga t uj uan keluarga berencana dapat t ercapai.

Pengadaan mencakup j uga produksi alat dan obat pengat uran kehamilan, sehingga persediaan dapat memenuhi kebut uhan masyarakat secara merat a.

(38)

Cukup j elas

Pasal 23 Ayat (1)

Pelayanan yang diberikan meliput i pula penanggulangan kesalahan at au komplikasi yang t imbul dari pelayanan yang t elah diberikan.

Ayat (2) Cukup j elas

Pasal 24 Ayat (1)

Peransert a masyarakat dalam perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era adalah sangat perlu, mengingat upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era t idak mungkin hanya diselenggarakan oleh Pemerint ah. Unt uk it u peran sert a masyarakat diperlukan sehingga beban t ugas pelaksanaan pembangunan dapat dipikul bersama ant ara Pemerint ah dan masyarakat . Perlu dicipt akan suasana yang makin membangkit kan peran akt if dan dinamis dari seluruh penduduk dalam upaya pelaksanaan pembangunan nasional.

Peransert a masyarakat dapat dilakukan secara sukarela dan mandiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Ayat (2)

(39)

a. kelompok prof esi, yang berdasarkan prof esinya t ergerak menangani masalah kependudukan dan keluarga sej aht era; b. kelompok minat , yang berminat berbuat sesuat u bagi

perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

Dalam menj alankan peranannya sebagai penunj ang, lembaga swadaya dan organisasi masyarakat mendayagunakan dirinya sebagai sarana unt uk mengikut sert akan sebanyak mungkin anggot a masyarakat dalam mencapai t uj uan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

Pasal 25 Ayat (1)

Cukup j elas Ayat (2)

Yang dimaksud dengan upaya lain adalah ant ara lain pendidikan unt uk para ibu, peningkat an penggunaan air susu ibu, peningkat an pembinaan kesej aht eraan bayi dan anak balit a, peningkat an pendapat an keluarga, dan peningkat an peranan wanit a pada umumnya.

Ayat (3)

(40)

keseimbangan yang dicapai secara berkala.

Pengembangan pelayanan kependudukan dan keluarga sej aht era meliput i di ant aranya klinik, klinik dampak, konsult asi ket ahanan ment al, dan sebagainya.

Tindakan (int ervensi) dilakukan secara prevent if apabila ada gej ala yang menuj u t imbulnya suat u keadaan yang t idak menopang pelaksanaan t uj uan perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, maupun secara represif apabila t elah t erdapat penyimpangan dari t uj uan t ersebut .

Pengendalian dampak t idak hanya mengenai dampak t erhadap lingkungan f isik, akan t et api j uga dampak t erhadap lingkungan nonf isik, t ermasuk sosial budaya.

Ayat (4)

Upaya komunikasi, inf ormasi, dan edukasi bagi penduduk t ent ang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era meliput i pula inf ormal t ent ang t eknologi yang t ersedia bagi masyarakat , pendidikan dan konsult asi pembinaan kehidupan berkeluarga, t ermasuk pendidikan masalah seks dan pelayanan pemenuhan kebut uhan penduduk dan at au keluarga. Pendidikan t ersebut meliput i peningkat an penget ahuan,

perubahan sikap dan perilaku t erhadap keluarga dan masyarakat t ent ang pent ingnya reproduksi sehat sehingga merupakan bagian cara hidup yang layak. Pelayanan pemenuhan kebut uhan penduduk dan at au keluarga meliput i ant ara lain pelayanan inf ormasi, pelayanan alat konst rasepsi t ermasuk pelayanan ruj ukan unt uk menanggulangi akibat samping, komplikasi kegagalan, pengayoman medis, bina keluarga balit a, dan sebagainya.

(41)

Pasal 26 Ayat (1)

Tindakan dan langkah guna merangsang dan mendorong upaya perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era dilaksanakan dengan sist em insent if dan pemberian penghargaan.

Insent if merupakan rangsangan bagi masyarakat unt uk melaksanakan upaya at au perilaku kependudukan yang sesuai dengan arah kebij aksanaan, seraya mencegah perilaku yang t idak sesuai. Rangsangan dapat diberikan dalam berbagai bent uk, t ermasuk keringanan paj ak kemudahan kredit , dan perizinan bagi kegiat an yang menunj ang kebij aksanaan pengendalian kuant it as penduduk, pengembangan kualit as penduduk, dan at au pengarahan mobilit as penduduk; misalnya bagi pembukaan usaha baru di daerah yang mempunyai pot ensi daya dukung yang t inggi, sehingga mendorong mobilit as penduduk dari daerah yang mempunyai daya dukung yang rendah.

Tindakan dan langkah sebagaimana t ersebut dalam pasal ini dapat pula diarahkan kepada pemberian penghargaan bagi set iap orang yang berj asa dalam perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sej aht era.

Ayat (2) Cukup j elas

Pasal 27

Cukup j elas

(42)

Cukup j elas Pasal 29

Referensi

Dokumen terkait

Kebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan upaya peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat, pembinaan keluarga dan pengaturan kelahiran

(2)Kebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan upaya peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat, pembinaan keluarga dan pengaturan kelahiran

(2) Kebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan upaya peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat, pembinaan keluarga dan pengaturan kelahiran

(2) Perat uran dal am ayat 1 t idak berl aku j ika perbuat an yang merupakan kej ahat an at au cara mel akukan perbuat an it u at au akibat dari perbuat an t adi adal ah

(1) Dengan memperhatikan peraturan-peraturan pada ayat (1) pasal 6, tiap negara pantai boleh, dengan maksud pemeliharaan produktivitas sumber hayati laut, mengadakan peraturan

(2) Dengan t idak mengurangi ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maka dalam keadaan dan persyarat an t ert ent u, Pemerint ah dapat menct apkan penggunaan

(4) Tim pengembangan dan Pemberdayaan Pesantren sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai tugas sebagai mitra Pemerintah Daerah Provinsi dalam Pembinaan,

Karena intinya dari revisi ini kan Pasal 27 itu Pak, khususnya ayat (3). Sebenarnya ini menurut saya, saya pribadi ya Pak. Ini juga sebetulnya Pemerintah tidak boleh serta merta