I. Bab I: Gereja Sebagai Umat Allah yang Baru
Bab ini mengkaji konsep gereja, bukan semata sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai komunitas orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari lingkungan mereka untuk membentuk sebuah persekutuan baru. Analisis dimulai dengan lagu 'Aku Gereja, Kau pun Gereja', yang menekankan sifat inklusif gereja. Bab ini selanjutnya mengkaji peristiwa Pentakosta, menyoroti keragaman budaya dan bahasa dalam gereja perdana sebagai model komunitas yang terbuka. Kemudian, bab ini menjelaskan arti kata 'gereja' dari perspektif etimologi dan teologi, menghubungkannya dengan perjanjian baru Allah dengan umat-Nya. Perjanjian baru ini menonjolkan perubahan dari hukum Taurat yang tertulis di loh batu kepada hukum kasih yang terukir di hati, membentuk identitas gereja sebagai 'Israel yang baru'. Diskusi tentang pergumulan gereja modern, termasuk eksklusivisme kesukuan dan pemahaman yang salah tentang ajaran agama, juga menjadi fokus utama. Bab ini diakhiri dengan refleksi atas pentingnya hidup saling berbagi, seperti yang dipraktikkan oleh gereja perdana, sebagai kontras terhadap materialisme modern.
1.1 Pendahuluan
Bagian ini menggunakan lagu pujian untuk memperkenalkan konsep utama bab ini, yaitu gereja sebagai komunitas orang-orang percaya yang beragam. Lagu tersebut mengundang pembaca untuk merenungkan arti gereja yang sesungguhnya, meletakkan dasar untuk diskusi lebih lanjut tentang gereja sebagai komunitas, bukan sekadar bangunan. Kegiatan 1 dan 2 yang disertakan mendorong partisipasi aktif siswa melalui diskusi dan refleksi pribadi, menghubungkan pengalaman mereka dengan pemahaman konseptual.
1.2 Gereja: Gedungnya atau Orangnya?
Bagian ini menganalisis peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul, mendemonstrasikan bahwa gereja awal terbentuk bukan dari bangunan fisik, melainkan dari komunitas orang percaya yang beragam. Penggunaan ilustrasi Hari Pentakosta menekankan keragaman budaya dan bahasa dalam gereja awal, melawan persepsi gereja sebagai entitas homogen. Diskusi tentang berbagai gereja yang ada di lingkungan siswa memperkuat pemahaman bahwa gereja adalah komunitas orang-orang percaya, bukan sekadar gedung.
1.3 Makna Gereja
Bagian ini menjelaskan etimologi kata 'gereja' dalam bahasa Yunani ('ekklesia'), menekankan arti 'dipanggil keluar'. Hal ini menjelaskan gereja bukan sebagai entitas terpisah dari dunia, tetapi sebagai komunitas yang aktif terlibat dalam dunia. Makna ini mempersiapkan pembaca untuk memahami peran gereja dalam masyarakat, melebihi aspek ritual semata.
1.4 Umat Allah yang Baru
Bagian ini menghubungkan gereja dengan perjanjian baru Allah dalam Kitab Yeremia, menunjukkan gereja sebagai penerus dan pembaruan perjanjian lama. Penggunaan kutipan dari Yeremia 31:31-33 menjelaskan bagaimana perjanjian baru menekankan hukum kasih yang tertulis di hati, berbeda dengan hukum Taurat yang tertulis di loh batu. Ini membentuk dasar teologi untuk memahami peran dan tanggung jawab gereja sebagai komunitas yang hidup sesuai hukum kasih.
1.5 Pergumulan Gereja
Bagian ini mengkaji tantangan dan pergumulan yang dihadapi gereja modern, termasuk eksklusivisme kesukuan, pemahaman ajaran yang salah, dan kegagalan dalam menjadi teladan Kristus. Contoh-contoh konkret seperti gereja yang mewah di tengah kemiskinan dan kisah Mahatma Gandhi digunakan untuk mengilustrasikan poin-poin ini, mendorong refleksi kritis atas peran gereja dalam masyarakat. Bagian ini juga menekankan pentingnya hidup saling berbagi sebagai praktik inti kehidupan orang Kristen.
1.6 Penilaian, Rangkuman, Nyanyian Penutup, Doa Penutup
Bagian ini menyediakan soal-soal evaluatif untuk menguji pemahaman siswa tentang materi yang dipelajari. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mendorong refleksi pribadi dan kritis, menghubungkan konsep-konsep teoritis dengan konteks kehidupan nyata. Rangkuman memberikan ringkasan poin-poin kunci, sementara nyanyian penutup dan doa penutup memberikan konteks spiritual dan emosional pada bab ini.
II. Bab II: Mengenal Gerejaku
Bab ini mengeksplorasi keragaman gereja-gereja di Indonesia dalam konteks sejarah dan perkembangannya. Dimulai dengan kegiatan yang mendorong siswa untuk mengidentifikasi berbagai gereja di sekitar mereka, bab ini kemudian menelusuri sejarah perpecahan dalam gereja Kristen, mulai dari perpecahan awal di gereja perdana hingga perpecahan-perpecahan yang terjadi di kemudian hari. Bab ini membahas Konsili Yerusalem sebagai upaya awal untuk mengatasi perpecahan, tetapi juga mengakui perpecahan yang berkelanjutan. Peran gereja di Indonesia, khususnya perkembangan berbagai denominasi dan organisasi gereja, juga dianalisis secara rinci. Bab ini juga mengeksplorasi peran gereja dalam mengusahakan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, menunjukkan bahwa gereja bukan hanya lembaga keagamaan tetapi juga agen perubahan sosial.
2.1 Pendahuluan
Bagian pendahuluan menuntun siswa untuk mengidentifikasi berbagai gereja di lingkungan sekitar mereka, memperkenalkan keragaman denominasi dan ajaran dalam Kekristenan Indonesia. Kegiatan 1 dan 2 dirancang untuk merangsang diskusi dan pemahaman awal tentang latar belakang sejarah dan keragaman gereja di Indonesia.
2.2 Gereja yang Terpecah-Pecah: Perpecahan Pertama
Bagian ini menjelaskan Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15, menunjukkan tantangan awal dalam persatuan gereja dan upaya untuk mencapai kesepakatan dalam menghadapi perbedaan pandangan. Diskusi tentang perdebatan antara kelompok yang dipimpin oleh Petrus dan Paulus memberikan wawasan tentang perdebatan teologi dan tantangan dalam membangun persatuan dalam gereja mula-mula.
2.3 Perpecahan-Perpecahan Berikutnya
Bagian ini menelusuri sejarah perpecahan dalam Gereja Kristen, dari perpecahan antara Gereja Timur dan Barat hingga Reformasi Protestan. Penjelasan tentang perpecahan ini menekankan pentingnya memahami perbedaan teologi dan sejarah untuk menghargai keragaman dalam Kekristenan. Peran tokoh-tokoh seperti Martin Luther disinggung sebagai konteks penting perkembangan gereja.
2.4 Gereja di Indonesia
Bagian ini meneliti sejarah perkembangan gereja di Indonesia, mulai dari kedatangan Kristen awal hingga munculnya berbagai denominasi dan organisasi gereja. Penekanan diberikan pada pengaruh kolonialisme dan misionaris dalam membentuk lanskap agama Indonesia. Analisis ini mendorong siswa untuk memahami konteks sejarah dan sosial budaya yang membentuk gereja-gereja di Indonesia.
2.5 Gereja Mengusahakan Kesejahteraan Kota
Bagian ini menghubungkan peran gereja dengan kesejahteraan masyarakat, dengan mengutip Yeremia 29:4-7 sebagai dasar teologi. Contoh-contoh gereja yang terlibat dalam pelestarian lingkungan hidup dan advokasi sosial ditampilkan, menunjukkan peran gereja sebagai agen perubahan sosial dan bukan sekadar lembaga keagamaan.
2.6 Penilaian
Bagian penilaian berisi pertanyaan-pertanyaan yang mendorong siswa untuk merefleksikan isi bab ini, menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi mereka dan konteks gerejawi mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk menguji pemahaman dan mendorong pembelajaran yang lebih dalam.