Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 1 ARTIKEL ILMIAH
PENGGUNAAN APLIKASI PRESENTASI ONLINE POWTOON OLEH GURU MATEMATIKA NON DIGITAL NATIVE UNTUK MEMBUAT MEDIA
DAN DITERAPKAN PADA PROSES PEMBELAJARAN
OLEH
DICKY FERNANDA J NIM RSA1C211002
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 2 PENGGUNAAN APLIKASI PRESENTASI ONLINE POWTOON OLEH GURU
MATEMATIKA NON DIGITAL NATIVE UNTUK MEMBUAT MEDIA DAN DITERAPKAN PADA PROSES PEMBELAJARAN
Oleh :
Dicky Fernanda J1), Jefri Marzal2), Husni Sabil2)
1)
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi
2)
Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang, sehingga semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dari para guru non digital native ini, ada yang merasa media ICT ini terlalu sulit dipahami Oleh karena itu, peneliti berusaha memberikan opsi sebuah aplikasi presentasi online yang sangat mudah dipelajari oleh para guru non digital native ini. Aplikasi presentasi online ini bernama PowToon.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru matematika non digital native dalam proses mempelajari aplikasi PowToon, untuk mengetahui persepsi guru terhadap aplikasi PowToon dalam proses pembuatan media pembelajaran, serta untuk mengetahui persepsi siswa terhadap media pembelajaran yang dibuat dengan aplikasi PowToon oleh guru matematika non digital native.
Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif. Subjek penelitian adalah dua orang guru Matematika non digital natives di SMAN 11 Jambi. Instrumen dalam penelitian ini yaitu diary, pedoman wawancara, dan angket.
Hasil penelitian yang terlihat dari diary yang telah dibuat para guru tersebut menunjukkan persepsi guru matematika non digital native dalam proses mempelajari aplikasi PowToon adalah positif,. Sedangkan persepsi guru matematika non digital native yang disimpulkan berdasarkan data wawancara terhadap aplikasi PowToon dalam proses pembuatan media pembelajaran positif, dan berdasarkan analisa pengolahan data dari 70 siswa yang menjadi sampel penelitian diperoleh 12 orang siswa atau 17,14% yang berada dalam kategori sangat tinggi, 58 orang siswa atau 82,85% yang berada dalam kategori tinggi, dan 10 orang siswa atau 14,28% yang berada kategori sedang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA Negeri 11 Kota Jambi telah memiliki tingkat persepsi dan ketertarikan yang tinggi terhadap media pembelajaran yang telah dibuat oleh guru matematika non digital native.
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 3 PENGGUNAAN APLIKASI PRESENTASI ONLINE POWTOON OLEH GURU
MATEMATIKA NON DIGITAL NATIVE UNTUK MEMBUAT MEDIA DAN DITERAPKAN PADA PROSES PEMBELAJARAN
Oleh : Dicky Fernanda J
(Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi) Dosen Pembimbing I : Dr. Jefri Marzal, M.Sc
Dosen Pembimbing II : Drs. Husni Sabil, M.Pd I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas). Pada hakikatnya pendidikan disekolah tidak dapat dilepaskan dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru, akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar.
Proses belajar mengajar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, baik prestasi yang berhubungan dengan akademik maupun non akademik. Penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penggunaan media pembelajaran diharapkan membantu siswa dalam memahami dan menerima proses pembelajaran yang dilakukan guru.
Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar akan lebih menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa. Penggunaan media pembelajaran
mempunyai arti dan makna yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Kerumitan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan informasi atau materi pelajaran yang dianggap rumit bagi siswa. Dengan kata lain media pembelajaran dalam proses belajar mengajar adalah berkenaan dengan taraf berfikir siswa. Taraf berfikir siswa mengikuti taraf perkembangan siswa pada umumnya, dimulai dari taraf berfikir abstrak menjadi kongkrit, dimulai dari berfikir sederhana ke kompleks. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah mencerna materi pelajaran daripada tanpa bantuan media.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video dan sebagainya. Menurut National Education Associaton (1969), media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 4 Pada kenyataan dilapangan, masih
banyak ditemukan guru yang tergolong non digital native, atau guru yang tergolong digital immigrant. Digital immigrant tergolong pada non digital native yang berusaha pindah ke era digital. Guru non digital native sering sekali menggunakan bahasa lama atau istilah yang tidak sesuai dengan era digital saat ini. Para guru yang tergolong non digital native harus berhadapan langsung dengan siswa (digital native) yang “berbicara” bahasa baru yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang dipahami oleh para digital immigrant. Sehingga tidak jarang para digital immigrant tidak mengerti apa yang dibicaran oleh para digital native, begitu pula sebaliknya. Dan juga mereka harus berhadapan langsung dengan siswa (digital native) yang lebih menyukai pembelajaran yang menggunakan media dalam pembelajarannya. Sehingga pembelajaran akan menjadi menyenangkan bagi para siswa digital native.
Sebagian dari guru non digital native ini telah berusaha untuk mempelajari media ICT. Ada yang berhasil mengikuti dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Namun tak sedikit yang belum berhasil mempelajarinya dan guru tersebut hanya sebatas tahu sehingga pada akhirnya kembali ke zona “nyaman” mereka. Merekalah yang akhirnya “ditinggalkan” anak didik mereka dan menganggap mereka sebagai guru yang tidak tahu perkembangan zaman. Dari permasalahan tersebut, peneliti berusaha memberikan opsi sebuah aplikasi presentasi online yang sangat mudah di pelajari oleh para guru non digital native ini. Aplikasi presentasi online ini bernama PowToon.
PowToon merupakan sebuah software atau media presentasi dengan menggunakan layanan online untuk membuat sebuah paparan yang memiliki fitur animasi yang sangat menarik diantaranya animasi tulis tangan, animasi kartun, dan efek transisi yang lebih hidup serta pengaturan timeline yang sangat mudah. Penggunaan software PowToon
memerlukan koneksi internet. Perkembangan internet diindonesia sudah semakin maju dan akses internet bukanlah menjadi suatu masalah. Oleh karena itu, pembuatan media pembelajaran dengan menggunakan koneksi internet sangat mudah dilakukan dan dapat membantu guru dalam proses pembelajaran.
b. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui persepsi guru matematika non digital native dalam proses mempelajari aplikasi PowToon.
2. Untuk mengetahui persepsi guru terhadap aplikasi PowToon dalam proses pembuatan media pembelajaran.
3. Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap media pembelajaran yang dibuat dengan aplikasi PowToon oleh guru matematika non digital native.
II. METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative research). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati .Pendekatan ini diarahkan pada latar dari individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variable atau hipotesis, tapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitassosial, sikap,
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 5 kepercayaan, persepsi, pemikiran orang
secara individu maupun kelompok.
Pada dasarnya penelitian dengan jenis studi kasus bertujuan untuk mengetahui tentang sesuatu hal secara mendalam. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode studi kasus untuk memberikan pengenalan sekaligus pengajaran sebuah aplikasi presentasi online kepada seorang guru matematika non digital native, serta mengungkap tanggapan dan persepsi guru matematika non digital native tersebut mengenai aplikasi presentasi online PowToon ini.
Prosedur penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini mengacu pada tahap atau prosedur penelitian menurut Bogdan yang dimodifikasi oleh Moleong (2013:127). Tahap penelitian tersebut meliputi: (1) tahap pra-lapangan; (2) tahap pekerjaan lapangan; dan (3) tahap analisis data.
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, teknik yang akan peneliti gunakan adalah sebagai berikut : (1) Catatan Harian (Diary). Diary disini adalah sebuah dokumen berupa tulisan yang memaparkan setiap tanggapan dari guru matematika non digital native selama mempelajari aplikasi presentasi online PowToon. (2) Wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan pewawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (3) Angket. Kuesioner atau angket adalah alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden.
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Instrumen Penelitian
Hasil instrument pengumpulan data pada penelitian ini berupa diary, wawancara dan angket siswa. Diary ini disusun berdasarkan pengalaman dalam
proses mempelajarai serta pembuatan media pembelajaran menggunakan aplikasi presengtasi online Powtoon. Dan untuk instrument pedoman wawancara berdasarkan pengalaman guru matematika
Non Digital Native dalam proses
pembuatan media pembelajaran menggunakan aplikasi presentasi online Powtoon. Sedangkan angket siswa berupa pengamatan siswa dalam menerima pembelajaran hasil dari media pembelajaran yang telah di buatoleh guru matematika Non Digital Native.
Hasil Penilaian dan Perbaikan Validasi Instrument Pengumpulan Data
Instrument berbentuk panduan wawancara dan angket ini telah divalidasi oleh ahli, yang terdiri dari dua orang ahli pendidikan matematika atau ahli matematika dan dua orang guru matematika pada panduan wawancara. Instrument angket wawancara divalidasi oleh dua orang ahli yang terdiri dari dua orang ahli pendidikan matematika. Pada pedoman wawancara menurut validator pada penilaian terhadap konstruksi, kalimat yang dinyatakan masih kurang jelas. Selanjutnya, penilaian terhadap penggunaan bahasa yang sulit dipahami siswa dan rumusan pertanyaan yang sulit di mengerti. Setelah direvisi, maka instrument pedoman wawancara tersebut dinyatakan valid, dan dapat digunakan dalam penelitian.
Selanjutnya proses validasi angket terjadi dua kali perbaikan. Pada penilaian terhadap konstruksi pernyataan, menurut validator batasan masalah yang diberikan kurang jelas dan terlalu banyak sehingga menimbulkan penafsiran ganda. Selanjutnya pada penilaian terhadap bahasa pernyataan, menurut validator pernyataan yang diberikan pada lembar angket belum menggunakan kalimat yang komunikatif. Selain itu, menurut validator pernyataan yang diberikan masih menimbulkan penafsiran ganda. Namun setelah dilakukan revisi terhadap lembar
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 6 angket tersebut dinyatakan valid dan tepat
digunakan dalam penelitian oleh validator. Analisis Data Diary
Diary ini dibuat selama guru mempelajari dan mengerjakan media pembelajaran Powtoon. Diary ini dikerjakan oleh guru sebagai dokumen berupa tulisan yang memaparkan setiap tanggapan dari guru matematika non digital native selama mempelajari aplikasi presentasi online PowToon
Berdasarkan hasil dari diary oleh kedua guru matematika non digital native tersebut , peneliti menarik kesimpulan bahwa kedua guru matematika non digital native tersebut mampu membuat sebuah media menggunakan aplikasi presentasi online PowToon ini dengan sangat baik, dan mereka dengan senang hati bisa mempelajari dan menerapkan ilmu yang mereka telah pelajari tersebut, terlihat dari cara mereka menemui sedikit kendala, dan mencari cara alternatif untuk memecahkan kendala mereka masing-masing.
Analisis Data Wawancara
Wawancara dilakukan setelah guru menyelesaikan media pembelajaran Powtoon. Wawancara ini dilakukan pada subjek penelitian dengan mengacu pada pedoman wawancara yang telah divalidasi oleh ahli pendidikan matematika dan dinyatakan valid sesuai dengan saran dan perbaikan.
Setelah guru membuat media pembelajaran, peneliti melakukan wawancara kepada guru tersebut. dimulai dengan bertanya tanggapan guru terhadap media yang telah dibuat. Guru tersebut merasa terbantu dengan adanya media powtoon, guru juga terbantu dalam menjelaskan materi yang akan dijelaskan, sehingga siswa lebih bisa memahami materi yang akan di sampaikan.
Analisis Data Angket
Berdasarkan perhitungan tingkat sikap ilmiah dalam skala ordinal diperoleh 12 orang siswa atau 17,14% yang berada
dalam kategori sangat tinggi, 58 orang siswa atau 82,85% yang berada dalam kategori tinggi, dan 10 orang siswa atau 14,28% yang berada kategori sedang. IV. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa persepsi guru matematika non digital native dalam proses mempelajari aplikasi PowToon adalah positive. Dilihat dari hasil analisis diary yang telah dibuat oleh kedua guru matematika non digital native tersebut. 2. Pada penelitian ini, dapat disimpulkan
bahwa persepsi guru matematika non
digital native terhadap aplikasi
PowToon dalam proses pembuatan media pembelajaran adalah positive. Dapat dilihat dari jawaban – jawaban yang diperoleh dari pertanyaan – pertanyaan yang telah diajukan oleh peneliti kepada kedua guru matematika non digital native tersebut di dalam wawancara.
3. Pada penelitian ini , Berdasarkan analisa pengolahan data dari 70 siswa yang menjadi sampel penelitian diperoleh 12 orang siswa atau 17,14% yang berada dalam kategori sangat tinggi, 58 orang siswa atau 82,85% yang berada dalam kategori tinggi, dan 10 orang siswa atau 14,28% yang berada kategori sedang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA Negeri 11 Kota Jambi telah memiliki tingkat persepsi dan ketertarikan yang tinggi terhadap media pembelajaran yang telah dibuat oleh guru matematika non digital native.
b. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan beberapa hal yaitu:
1. Kepada guru matematika non digital native, hendaknya dapat terus melatih kemampuan dalam membuat media
Dicky Fernanda J : Mahasiswa FKIP Universitas Jambi Page 7 menggunakan aplikasi presentasi online
powtoon.
2. Setiap guru matematika hendaknya membiasakan pengajaran menggunakan media, sehingga pembelajaran akan terasa lebih menarik dari pada menggunakan metode konvensional. DAFTAR RUJUKAN
Arsyad, Azhar. (2014). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja grafindo Persada.
Briggs, J.L. (1997). Instruction Design; Principle and Aplication. New
York: Educational Tecnology
Publication inc.
Bogdan, Robert C. Dan Steven J. Taylor,(1992), Introduction to Qualitative Research Methotds : A Phenomenological Approach in the Social Sciences, alih bahasa Arief Furchan, John Wiley dan Sons, Surabaya, Usaha Nasional.
Dale, Edgar. (1969). Audio Visual Methods in Teaching. New York: Holt, Rinehart and Winston Inc. The Dryden Press.
Hamzah, H.M.A., dan Muhlisrarini. (2014). Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Rajawali Pers.
Harsono, Benidkk. (2009). Perbedaan hasil belajar antara metode ceramah konvensional dengan ceramah berbantuan media animasi pada pembelajaran kompetensi perakitan dan pemasangan sistem rem. Jurnal PTM, Vol. 9, No. 2.
Mesactl. (2014, Desember 17). PowToon
Basics. Retrieved from
https://bcpsodl.pbworks.com/cv/fil e/fetch/84354052/PowToonQuickR eference.pdf
Moleong. Lexy J. (2008).Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Cetakan Kedua puluh empat, Bandung: PT Remaja Rosda karya. Mulyana, Deddy (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu
sosial lainnya. Bandung : Remaja Rosdakarya
Nana, S. (2005). Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung; Remaja
Rosdakarya.
Nasution, S. (2003). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. Prensky, Marc. (2001). Digital Natives,
Digital Immigrants. Journal From On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5, October 2001) http://www.marcprensky.com/writi ng/prensky%20%20digital%20nati ves,%20digital%20immigrants%20 -%20part1.pdf (diakses pada 12 April 2013).
Riduwan. (2014).Dasar - Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta
Rusman. (2012). Pembelajaran Berbasis
Teknologi Informasi dan
Komunikasi. Jakarta: Rajawali
Pers.
Suprijanto. (2008). Pendidikan Orang
Dewasa Dari Teori Hingga
Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara. Undang - Undang Nomor 20 Tahun 2013 Republik Indonesia tentang Sistem