Kawasan perluasan TNGGP berada disebelah luar mengelilingi kawasan TNGGP lama sehingga secara keseluruhan menyatu membentuk satu kesatuan dengan kawasan TNGGP lama sebagai kawasan TNGGP baru. Berdasarkan data statistik BBBTNGGP (2009) panjang Batas Luar ± 375.198 Km dengan jumlah pal batas ± 7.278 Buah. Secara geografis terletak antara 106o 51’ -107o 02’ BT dan 06o 41’ - 06o
Secara administratif pemerintahan TNGGP terletak di wlayah provinsi Jawa Barat, meliputi 3 (tiga) wilayah kabupaten, yaitu yaitu Kabupaten Sukabumi (9.356,10 ha), Bogor (7.155,00 ha) dan Cianjur (5.463,90 ha). Berdasarkan data statistik BBBTNGGP (2009) batas kawasan TNGGP ini adalah :
51’ LS.
Sebelah Utara : Wilayah Kabupaten Cianjur dan Bogor;
Sebelah Barat : Wilayah Kabupaten Sukabumi dan Bogor; Sebelah Selatan : Wilayah Kabupaten Sukabumi;
Sebelah Timur : Wilayah Kabupaten Cianjur.
Hasil analisis data sekunder (BBTNGGP, 2009) menunjukkan bahwa jumlah desa penyangga yang ada disekitar kawasan TNGGP adalah 72 desa yang tersebar dalam tiga wilayah Bidang PTN. Secara administratif desa-desa penyangga tersebut masuk dalam 16 wilayah kecamatan dari 4 wilayah kabupaten/kota.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 status Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berubah menjadi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP). Dalam pengelolaannya kawasan TNGGP dibagi ke dalam 3 Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (Bidang PTN Wilayah) yaitu Bidang PTN Wilayah I Cianjur, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dan Bidang PTN Wilayah III Bogor dan dibagi ke dalam 6 Seksi PTN serta dibagi ke dalam 13 Resort Pemangkuan taman nasional. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor : SK. 79/11/TU/2009 tanggal 01 Agustus 2009, telah ditetapkan 6 (enam) Resort Model, yaitu: Resort Mandalawangi, Resort Sarongge (Bidang PTN Wialyah I-Cianjur); Resort Selabintana, Resort
Situgunung (Bidang PTN Wialayah II-Sukabumi); Resort PPKAB, Resort Cimande (Bidang PTN Wilayah III- Bogor) (BB TNGGP, 2011). Setelah reorganisasi maka Resort Pemangkuan Bodogol ditetapkan sebagai Resort Model yang wilayahnya mencakup wilayah Resort Pemangkuan PPKAB.
Pembagian resort berdasarkan tipologi: ancaman, potensi kehati (tumbuhan & satwa liar, air, objek wisata), dan kemitraan. Mandalawangi dan Situgunung berdasarkan tipologi ekowisata, Nagrak dan Pasirhantap berdasarkan tipologi ancaman, Bodogol dan Sarongge berdasarkan kemitraan. Penetapan Resort Model juga berdasarkan kriteria sosial dan ekologi. Khusus untuk Resort Bodogol terdapat desa Ciwaluh eks program ESP & USAID telah terbangun kemitraan dengan bidang pemberdayaan masyarakat melalui produk teh kumis kucing, dan PPKAB dengan kemitraan di bidang pendidikan lingkungan.
5.2. Aspek Biofisik Kawasan Restorasi
5.2.1. Karakteristik Kondisi Lahan Kawasan Restorasi Luas Kawasan Perluasan TNGGP
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 174 tahun 2003 terdapat kawasan perluasan TNGGP seluas hampir tujuh ribu hektar (6.779 ha); berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pengelolaan (BAST-P) Nomor : 002/BAST-HUKAMAS/III/2009 Nomor : 1237/11-TU/2/2009 tanggal 06 Agustus 2009 dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten kepada BBTNGGP, luas yang diserahkan adalah ± 7.655 ha; berdasarkan data dari Perum Perhutani total luas kawasan perluasan 7.655 ha tersebut terinci kedalam kawasan wanawisata seluas 573,23 ha dan eks kawasan Hutan Produksi, Hutan Produksi terbatas, dan lain-lain seluas 7.081,76 ha (BBTNGGP, 2009 - diolah)
Hasil analisis citra landsat (tahun 2011) luas kawasan perluasan adalah 7355,214 ha. Perhitungan analisis citra landsat ini lebih rendah dari data Perhutani /BAST-P. Kepastian luas kawasan perluasan akan ditentukan oleh hasil perhitungan BAPLAN KEMENHUT namun deliniasi batas kawasan TNGGP terbaru oleh BAPLAN KEMENHUT secara definitif sebenarnya belum selesai, karena masih terdapat beberapa vertex yang meragukan2.
________________________
2
Kondisi Ekologis kawasan TNGGP
Berdasarkan data statistik BBBTNGGP (2009) TNGGP merupakan kawasan perwakilan ekosistem hutan hujan pegunungan di Pulau Jawa. Kelembaban udara 80-90 % memungkinkan tumbuhnya jenis-jenis lumut pada batang, ranting, dan dedauanan pepohonan yang ada. Pada ketinggian 1500-2000 m dpl terdapat tanah ‘peaty soil’ akibat terhambatnya aktivitas biologi dan pelapukan kimiawi.
Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, di kawasan TNGGP secara umum terdapat tipe ekosistem sebagai berikut: a) ekosistem hutan pegunungan bawah (Sub Montana, ≤1.500 m dpl), b) ekosistem hutan pegunungan atas (Montana, 1.500-2.400 m dpl), c) ekosistem sub alpin (>2.400 m dpl). Selain tiga tipe ekosistem utama tersebut ditemukan beberapa tipe ekosistem khas yang tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat antara lain: a) ekosistem rawa, b) ekosistem kawah, c) ekosistem alun-alun, d) ekosistem danau, dan e) ekosistem hutan tanaman (Data statistik BBTNGGP, 2009).
Ekosistem hutan Sub Montana dan Montana memiliki keanekaragaman hayati vegetasi yang tinggi dengan pohon-pohon besar, tinggi dan memiliki 3 strata tajuk. Strata paling tinggi (30 – 40 m) didominasi oleh jenis litsea spp. (Data statistik BBTNGGP, 2009)
Berdasarkan data statistik BBTNGGP (2009) dan hasil interpretasi citra landsat 2011 dapat disimpulkan bahwa pada kawasan perluasan TNGGP terdapat 3 (tiga) tipe ekosistem: a) ekosistem hutan pegunungan bawah atau sub montana, b) ekosistem danau, dan c) ekosistem hutan tanaman.
Tanah dan Topografi
Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Provinsi Jawa Barat (PUSLITTAN Agroklimat, 1966 dalam Ditjen PHKA, 2008) jenis-jenis tanah yang mendominasi kawasan TNGGP terdiri dari:
a) Latosol coklat tuff volkan intermedier, terdapat pada lereng paling bawah, di bagian dataran rendah.
b) Asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, terdapat pada lereng yang lebih tinggi.
c) Kompleks regosol kelabu dan litosol, abu pasir, tuff, dan batuan vulkan intermedier sampai dengan basis, terdapat di kawasan Gunung Gede –Gunung Pangrango yang berasal dari lava dan batuan hasil kegiatan gunung berapi.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kondisi topografi kawasan perluasan tidak berbeda dengan topografi yang secara umum ada di kawasan TNGGP, mulai dari topografi datar sampai bergunung.
Kawasan TNGGP merupakan rangkaian gunung berapi, terutama Gunung Gede (2.958 m dpl) dan Gunung Pangrango (3.019 m dpl). Topografi kawasan bervariasi, mulai dari topografi landai hingga bergunung mulai ketinggian 700 m hingga 3000 m dpl, banyak terdapat jurang dengan kedalaman hingga 70 m. Sebagian besar kawasan TNGGP merupakan dataran tinggi tanah kering dan sebagian kecil lagi merupakan daerah rawa, terutama di daerah sekitar Cibeureum yaitu Rawa Gayonggong. Pada bagian Selatan kawasan yaitu daerah Situgunung, memiliki kondisi lapangan yang berat karena terdapatnya bukit-bukit (seperti bukit Masigit) dengan kelerengan 20-80 %. Kawasan Gunung Gede yang terletak di bagian Timur dihubungkan Gunung Pangrango oleh punggung bukit yang berbentuk tapal kuda, sepanjang ± 2.500 meter dengan sisi-sisinya yang membentuk lereng-lereng curam berlembah menuju dataran Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Data kelas lereng kawasan TNGGP seperti pada Tabel 10.
Tabel 10 Data Kelas Lereng Kawasan TNGGP Simbol Kelas Lereng
(%) Luas (ha) Persentase (%) Keterangan A 0-3 3.543,75 15,51 Datar B 3-8 1.675,50 7,33 Landai C 8-15 1.502,35 6,57 Berombak D 15-25 2.365,15 10,35 Bergelombang E 25-40 6.292,75 27,54 Berbukit F >40 7.471,50 32,70 Bergunung
Jumlah 22.851 100 Luas Total TNGGP
Iklim
Berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson, iklim di kawasan TNGGP termasuk dalam Tipe A (Nilai Q = 5-9 %). Suhu udara rata-rata di puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada siang hari berkisar 10 oC dan di Cibodas berkisar 18 oC dan pada malam hari berkisar 5 oC. Pada musim kering atau kemarau suhu udara bisa mencapai 0 o
Pohon rasamala terbesar dengan diameter batang 150 cm dan tinggi 40 m dapat ditemukan di sekitar jalur pendidikan wilayah Resort Mandalawangi. Jenis puspa terbesar dengan diameter 149 cm ditemukan di jalur pendakian Selabintana – Gunung Gede dan pohon jamuju terbesar di wilayah Pos
C. Rata-rata curah hujan tahunan 3000-4200 mm sehingga merupakan salah satu daerah terbasah di Pulau Jawa. Angin Muson pada bulan Desember – Maret (musim penghujan) bertiup dari arah Barat Daya dengan kecepatan tinggi, pada musim kemarau angin bertiup dari arah Timur Laut dengan kecepatan rendah.
5.2.2. Biodiversitas TNGGP
Kawasan TNGGP mempunyai keanekaragaman jenis burung terbanyak di Pulau Jawa. Potensi fauna berupa 300 spesies insekta, 250 spesies aves (burung),
75 spesies reptilia, 20 spesies amphibia, dan >110 spesies mamalia. Kawasan TNGGP juga memiliki potensi kekayaan flora yang tinggi, terdapat
berbagai macam jenis tumbuhan antara lain: tumbuhan berbunga (>1500 spesies), paku-pakuan (400 spesies), lumut (>120 spesies), dan telah teridentifikasi 300 spesies tumbuhan obat (diantaranya disajikan 108 jenis tanaman obat dalam Lampiran 1), dan 10 spesies berstatus dilindungi. Biodeversitas TNGGP tercermin dalam daftar-daftar flora dan fauna TNGGP.
Flora Endemik TNGGP
Kawasan TNGGP memiliki potensi kekayaan flora yang tinggi, terdapat 43 spesies flora endemik Gede Pangrango. Lebih kurang 1.000 jenis flora dengan 57 famili ditemukan di kawasan ini, yang tergolong tumbuhan berbunga (Spermatophyta) 925 jenis, tumbuhan paku 250 jenis, lumut 123 jenis, dan jenis ganggang, Spagnum, jamur dan jenis-jenis Thalophyta lainnya (BBTNGGP, 2009).
Bodogol. Kawasan ini juga memiliki jenis-jenis unik dan menarik, diantaranya “si pembunuh berdarah dingin” Kantong Semar (Nephentes gymnamphora); “saudara si Bunga Bangkai” (Rafflesia rochusseni); “si Bunga Sembilan Tahun” (Strobilanthus cernua). Kawasan TNGGP kaya dengan jenis anggrek, tercatat 199 jenis anggrek di kawasan ini (BBTNGGP, 2009). Daftar jenis flora dan jenis anggrek TNGGP tertuang dalam Lampiran 2 dan Lampiran 3.
Fauna Endemik TNGGP
Berdasarkan data statistik BBTNGGP (2009) disebutkan bahwa potensi fauna endemik adalah 5 jenis primata, yaitu : Owa, Surili, Lutung, Monyet Ekor Panjang, dan Kukang. Ekosistem kawasan TNGGP menyediakan habitat bagi beranekaragam fauna, antara lain Mammalia, Reptilia, Amphibia, Aves, Insekta dan kelompok satwa tidak bertulang belakang. Terdapat burung (Aves) 251 jenis atau lebih dari 50 % jenis burung yang hidup di Jawa. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ditetapkan sebagai “Satwa Dirgantara“ melalui Keputusan Presiden No. 4 tanggal 9 Januari 1993. Kawasan TNGGP juga merupakan habitat bagi 110 jenis Mamalia, diantaranya Owa Jawa (Hylobates moloch) yang langka, endemik dan unik; Anjing Hutan (Cuon alpinus) yang sudah semakin langka dan Kijang (Muntiacus muntjak). Selain itu terdapat serangga (Insecta) lebih dari 300 jenis, Reptilia sekitar 75 jenis, Katak sekitar 20 jenis dan berbagai jenis binatang lunak (Molusca). Jenis satwa yang dilindungi di Kawasan TNGGP tertuang dalam Lampiran 4. Jenis Reptilia dan Amphibia dan Lokasi Penyebaranya di Kawasan TNGGP tertuang dalam Lampiran 5
Pada beeberapa areal zona rehabilitasi di kawasan perluasan TNGGP masih memiliki keanekaragaman yang cukup baik. Berbagai jenis fauna pun dapat ditemui seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Surili (Presbbytis comata) dan Owa Jawa (Hylobates moloch), 80% jenis aves dan juga sebagai home range dari Macan Tutul (Panthera pardus melas) (BBTNGGP, 2009).
Vegetasi Eksotik Anthropogenik
Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau BBTNGGP (1999) diacu dalam Basuni (2003) telah menemukan 42 jenis tumbuhan eksot anthropogenik didalam kawasan TNGGP, dan hasil penelitian LIPI (2006) menemukan 75 jenis tumbuhan eksot antropogenik. Dari 35 jenis tumbuhan alien
atau eksotik yang sudah diidentifikasi oleh BBTNGGP terdapat 7 (tujuh) jenis tumbuhan yang bersifat invasif. Daftar Jenis-jenis Alien species / tumbuhan eksotik yang ada di kawasan TNGGP disajikan dalam Lampiran 6.
5.2.3. Sejarah Kawasan Perluasan TNGGP (Kawasan Restorasi)
Kawasan perluasan TNGGP merupakan eks kawasan hutan Perum Perhutani yang terdiri dari hutan alam primer dan sekunder, hutan tanaman, tanah kosong/semak belukar, dan lahan pertanian. Hutan tanaman berupa tegakan hutan bukan jenis asli antara lain eukaliptus, pinus, damar, kayu putih. tanaman pertanian. Hasil interpretasi citra landsat 2011 menunjukkan luasan dan persentase variasi tutupan lahan di kawasan TNGGP yang cukup beragam sebagaimana tertuang dalam Tabel 11.
Tabel 11 Variasi jenis tutupan lahan kawasan TNGGP hasil interpretasi citra landsat tahun 2011
No. Jenis Penutupan Lahan Luas
(ha)
Persentase (%) 1 Hutan Alam Primer 585,480 7,960 2 Hutan Alam Sekunder 2852,941 38,788
3 Hutan Tanaman 2870,563 39,028
4 Tanah Kosong/Terbuka 27,783 0,378
5 Semak / Belukar 89,055 1,211
6 Pertanian Lahan Kering Bercampur
Semak 715,314 9,725
7 Pertanian Lahan Kering 150,060 2,040
8 Sawah 63,983 0,870
9 Danau 0,034 0,000
Jumlah 7355,214 100,000
Kawasan TNGGP dikelola berdasarkan sistem zonasi yang sesuai dengan fungsi dan peruntukannya sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari. Penataan zonasi kawasan taman nasional bersifat dinamis dan merupakan perangkat pengelolaan taman nasional yang dapat mencegah konflik/tumpang tindih antara kepentingan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan, bahkan dapat mengoptimalkan manfaat dan fungsi kawasan taman nasional. (BBTNGGP. 2009, 2010). Hasil Revisi Zonasi TNGGP
terdapat 7 (tujuh) zonasi yakni: 1) Zona Inti, 2) Zona Rimba, 3) Zona Pemanfaatan, 4) Zona Rehabilitasi, 5) Zona Tradisional, 6) Zona Konservasi Owa Jawa, dan 7). Zona Khusus. Dalam kawasan perluasan TNGGP terdapat Zona Pemanfaatan, Zona Tradisional, Zona Rehabilitasi, Zona Konservasi Owa Jawa dan Zona Khusus. Pengertian jenis-jenis zona yang dimaksud dalam klasifikasi zonasi TNGGP berdasarkan SK Dirjen PHKA NO. 39/IV-KKBHL/2011 Tanggal 22 Februari 2011 tentang Zonasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP, 2011) sebagai berikut:.
1) Zona Inti, adalah merupakan ciri khas baik biofisik dan keanekaragaman hayati dari suatu kawasan, memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi yang mutlak dilindungi dalam fungsinya untuk perlindungan dan pelestarian TNGGP secara keseluruhan.
2) Zona Rimba, adalah bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan, pada dasarnya zona ini ditetapkan sebagai rembesan (refuge) dari sumber daya alam baik flora maupun fauna yang sekaligus juga berfungsi sebagai penyangga (buffer) zona inti terhadap kerusakan yang mungkin terjadi dari zona pemanfaatan.
3) Zona Pemanfaatan, adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya. Zona ini untuk menunjang fungsi-fungsi yang tidak diperkenankan untuk diakomodasikan pada zona lain, karena alasan kepekaan ekologis yang tinggi dan meningkatkan nilai tambah dari kegiatan konservasi sumber daya alam, sebagai tempat pariwisata alam, pendidikan konservasi maupun sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemanfaatan yang dimaksud disini, adalah pemanfaatan dari segi jasa lingkungan untuk manusia, berupa daya tarik alami/phenomena beserta potensi pendukung lainnya.
4) Zona Tradisional, adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam, guna keperluan masyarakat dengan pemanfaatan yang dilaksanakan secara tradisional,
misalnya dengan menanam jenis-jenis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan makanan, obat-obatan, bahan baku kerajinan atau Hasil Hutan Non Kayu lainnya.
5) Zona Rehabilitasi, adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan, areal dimaksud perlu dilakukan rehabilitasi dengan menanam tanaman endemik agar kawasan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
6) Zona Konservasi Owa Jawa, adalah bagian taman nasional yang memiliki potensi, daya dukung, dan aman untuk pelepasliaran Owa Jawa, zona ini sangat dibutuhkan mengingat kawasan TNGGP merupakan salah satu wilayah yang memiliki daya dukung yang baik dalam pelestarian owa jawa.
7) Zona Khusus, adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi, makam dan listrik.
Pada kawasan perluasan yang diakses oleh masyarakat petani penggarap lahan hutan seluas 905 ha tingkat kerapatan tegakan utama sangat rendah dan kondisi lantai hutan dari mulai terbuka hingga ditutupi tanaman pertanian dan perkebunan seperti padi, singkong dan sayuran. Jumlah total luasan zona rehabilitasi adalah ± 4.367,192 ha dengan perincian wilayah Cianjur seluas 1.298,54 ha, wilayah Sukabumi 1.823,575 ha dan wilayah Bogor seluas 1.245,077 ha. Tegakan utama yang mendominasi Zona Rehabilitasi adalah tanaman pinus (Pinus merkusii), damar (Agathis lorantifolia) dan ekaliptus (Eucalyptus alba). Pada beeberapa areal lainnya dari Zona Rehabilitasi masih memiliki keanekaragaman yang cukup baik seperti kondisi lantai hutan yang ditutupi kelas perdu, liana maupun jenis rotan-rotanan. Apabila kawasan sudah mengalami suksesi /direstorasi secara sempurna dan atau sudah menjadi hutan primer kembali maka zona rehabilitasi ini dapat dirubah menjadi zona rimba atau zona lain sesuai dengan kondisi kawasannya. (BBTNGGP 2010).
Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di zona tradisional telah ada sejak lama seperti penyadapan baik berupa getah pinus maupun damar, pemanenan bambu, lebah madu dan kopi. (BBTNGGP 2011). Zona Tradisional seluas ± 312,136 ha tersebar di wilayah Bidang PTNGGP I Cianjur 12,018 ha, wilayah Bidang PTNGGP II Sukabumi 229,9 ha dan wilayah Bidang PTNGGP III Bogor seluas 70,218 ha dengan vegetasi utama adalah Pinus (Pinus merkusii) dan Damar (Agathis lorantifolia). Tegakan utama Zona Tradisional yakni pinus dan damar. Total luas tegakan pinus berada di Cianjur dan Bogor adalah 82,236 ha, sedangkan tegakan damar seluas 229,9 ha di wilayah Sukabumi. Berdasarkan Kelas Umur (KU) pinus rata-rata di Bogor KU V dan KU X di Cianjur. Sedangkan Kelas Umur Damar bervariasi antara KU III hingga KU XIII dengan rata-rata KU V. Terkait dengan perubahan fungsi kawasan yang semula kawasan hutan produksi menjadi kawasan konservasi, penghentian kegiatan pemanfaata HHBK oleh masyarakat perlu penanganan khusus agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat yang berdampak buruk bagi kawasan. Oleh karena itu kebijakan yang ditempuh oleh pengelola adalah dengan memberikan ijin pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan diimbangi oleh proses rehabilitasi, pengamanan hutan dan program penghentian kegiatan dengan alih mata pencarian diluar kawasan hutan. (BBTNGGP 2011). Rincian luas dan tegakan pada Zona Tradisional dapat diperiksa pada Lampiran 7.