Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Ekologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juni 2005 sampai dengan Juni 2006.
Persiapan Penelitian Perbanyakan Mangsa
Penelitian ini menggunakan tiga jenis mangsa, yaitu C. cephalonica, T. molitor, dan S. litura. Serangga mangsa yang diperoleh dari habitat aslinya selanjutnya diperbanyak di laboratorium.
Larva dan imago C. cephalonica diperoleh dari daerah Cianjur. Larva C. cephalonica diperbanyak di dalam kotak plastik berisi beras menir steril. Imago yang diperoleh dari lapang ditempatkan di dalam kurungan dari karton dan berbentuk silinder dengan diameter 10,5 cm dan tinggi 12,5 cm. Bagian atas dan bawah silinder diberi saringan kawat untuk ventilasi. Pada bagian bawah diletakkan kertas berwarna gelap untuk menampung telur yang diletakkan. Telur yang terkumpul disebarkan secara merata pada kotak plastik yang berisi beras menir steril dan dibiarkan menetas sampai menjadi larva (Gambar 1).
a b
Gambar 1 Perbanyakan C. cephalonica (a) beras menir steril sebagai pakan dan tempat pembiakan larva, (b) kurungan karton tempat imago berkopulasi
Larva T. molitor diperoleh dari pasar lokal di sekitar wilayah Bogor. Larva T. molitor banyak dijual sebagai pakan burung. Perbanyakan T. molitor dilakukan di dalam kotak plastik berisi pur jagung yang merupakan pakan imago dan sebagai media untuk bertelur. Setelah imago melakukan kopulasi dan menghasilkan telur, imago dipindah ke tempat biakan lainnya (Gambar 2).
a b
Gambar 2 Perbanyakan T. molitor (a) pur jagung sebagai pakan dan tempat pembiakan larva T. molitor, (b) larva T. molitor yang berhasil menjadi imago
Larva S. litura berasal dari pertanaman kedelai yang ada disekitar Kampus IPB Dramaga, yaitu Bubulak dan Situgede. Larva S. litura yang diperoleh, dipelihara di dalam kotak plastik berventilasi.
Setiap hari larva diberi pakan daun tanaman kedelai segar. Tanaman kedelai tersebut ditanam dalam polibag dengan media tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:5. Tanaman diberi pupuk NPK (16:16:16) dengan bobot 2,5 g per polibag.
Setelah fase prapupa, larva dipindahkan ke kotak plastik yang berisi serbuk gergaji sebagai media berpupa. Pupa yang terbentuk kemudian dipindahkan ke dalam kurungan dan dibiarkan menjadi imago. Imago yang keluar diberi pakan madu yang diteteskan pada kapas dan digantungkan di bagian atas kurungan. Untuk tempat peletakan telur, digunakan potongan daun kedelai yang ujung tangkainya diberi kapas basah agar daun kedelai tetap segar (Gambar 3).
b a
c
Gambar 3 Perbanyakan S. litura (a) daun kedelai sebagai pakan dan tempat pembiakan larva S. litura, (b) serbuk gergaji sebagai tempat berpupa, (c) kurungan plastik sebagai tempat imago berkopulasi Pemeliharaan S. annulicornis
Predator S. annulicornis diperoleh dari daerah Bubulak, Situgede dan Sawah Baru, Kabupaten Bogor. Setiap pasang imago yang diperoleh dari lapang ditempatkan di dalam wadah plastik yang berdiameter 6,5 cm. Pasangan imago tersebut terus dipelihara hingga berkopulasi dan meletakkan telur. Telur yang diletakkan oleh imago dipindahkan ke wadah lain agar tidak terganggu oleh imago.
Nimfa instar pertama tidak diberi mangsa selama tiga hari, tetapi nimfa tersebut hanya diberi kapas lembab. Selama fase nimfa instar pertama, tidak dilakukan pemisahan per individu predator karena nimfa instar pertama masih bergerombol dan memakan sisa-sisa paket telur. Setelah memasuki instar kedua,
nimfa dipindahkan satu per satu ke dalam wadah plastik yang berdiameter 4 cm (Gambar 4).
a b
d c
Gambar 4 Perbanyakan S. annulicornis (a) wadah plastik tempat imago berkopulasi, (b) paket telur, (c) telur yang baru menetas, (d) wadah plastik tempat pemeliharaan nimfa
Perlakuan Penelitian
Studi Pengaruh Tiga Jenis Mangsa terhadap Biologi S. annulicornis
Studi ini dilakukan untuk melihat pengaruh tiga jenis mangsa terhadap S. annulicornis. Mangsa yang diberikan adalah larva C. cephalonica, T. molitor, dan S. litura. Dalam studi ini, mangsa yang diberikan dalam 2 status, yaitu status mati (larva dibekukan dalam lemari pendingin) dan status hidup.
Jumlah dan tahapan instar mangsa yang diberikan pada setiap tahapan
instar predator terdapat pada Tabel 1. Untuk mematikan mangsa, larva C. cephalonica dan S. litura dibekukan selama 1 jam sedangkan larva T. molitor
Untuk mengetahui banyaknya kebutuhan konsumsi harian predator, pada setiap pergantian mangsa dilakukan penimbangan bobot tubuh mangsa sebelum dan setelah dimangsa. Penimbangan bobot tubuh predator dilakukan saat predator berganti kulit menjadi imago. Parameter yang diamati adalah mortalitas nimfa dan imago, lama stadium tiap instar nimfa, lama hidup imago, jumlah biomassa (cairan) yang diisap oleh predator selama fase nimfa dan imago, dan bobot tubuh imago. Masing-masing perlakuan diulang 20 kali.
Studi Efisiensi Penyerapan Makanan Predator S. annulicornis
Besarnya cairan tubuh mangsa yang diserap dan kemudian diubah menjadi komponen tubuh disebut dengan Efisiensi Penyerapan Makanan atau Efficiency of Conversion of Ingested Food (ECI). Nilai ECI merupakan suatu parameter efisiensi penyerapan makanan oleh predator yang mampu diubah menjadi komponen tubuh. Semakin tinggi nilai ECI maka semakin efisien penyerapan kandungan nutrisi mangsa oleh predator.
E.C.I = Pertambahan bobot predator = Bobot akhir - Bobot awal x100% Bobot mangsa yang diisap Bobot mangsa yang diisap
x100%
Bobot awal predator, yaitu nimfa instar I hanya memiliki rata-rata bobot tubuh 0,0001±0,0002 g maka bobot awal tersebut diabaikan.
Tabel 1 Jumlah dan tahapan instar mangsa yang diberikan pada setiap tahapan instar predator S. annulicornis untuk perlakuan pemberian mangsa dalam status mati dan hidup
Jenis mangsa Tahapan instar predator
Jumlah mangsa yang diberikan (ekor) Tahapan instar mangsa C. cephalonica I 15 II II 2 II III 2 III IV 3 IV V 3 IV Imago 3 IV T. molitor I 15 II II 2 II III 2 II IV 2 III V 2 III Imago 2 III S. litura I 15 II II 2 II III 2 II IV 2 III V 2 III Imago 2 III Studi Rasio Betina dan Jantan terhadap Karakteristik Reproduksi Predator
S. annulicornis
Studi ini dilakukan dengan dasar 1) pengamatan di lapangan imago jantan lebih sering ditemukan dibanding imago betina, 2) pengamatan di laboratorium menunjukkan fertilitas telur predator yang bervariasi. Dalam studi ini mangsa yang digunakan adalah mangsa yang sesuai untuk predator yang didasarkan hasil Studi “Pengaruh Tiga Jenis Mangsa terhadap Biologi Predator S. annulicornis”.
Predator dimasukkan ke dalam wadah dengan rasio betina terhadap jantan sebagai berikut: a) 1:1, b) 1:2, c) 1:3, dan d) 1:4. Perlakuan rasio 1:1 ditempatkan dalam wadah yang berdiameter 6,5 cm sedangkan rasio 1:2 sampai 1:4 ditempatkan dalam wadah berdiameter 10,5 cm. Masing-masing perlakuan diulang 5 kali.
Parameter yang diamati adalah lama praoviposisi, lama oviposisi, frekuensi peneluran, keperidian, lama stadium telur, dan persen penetasan telur.
Studi Status Mangsa terhadap Perilaku Predator
Studi ini dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian mangsa dalam status mati terhadap sifat-sifat alami predator yaitu agresifitas yang dicerminkan dengan : 1) masa pencarian, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mencari dan menemukan mangsa, 2) masa penanganan, yaitu total waktu yang diperlukan untuk menangani dan membunuh mangsa, 3) masa pengisapan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengkonsumsi satu ekor mangsa, dan 4) jumlah mangsa yang dikonsumsi per hari. Predator yang digunakan adalah keturunan kedua dari predator yang diperoleh dari lapangan. Dalam studi ini mangsa yang digunakan adalah mangsa yang sesuai untuk predator yang didasarkan pada hasil Studi “Pengaruh Tiga Jenis Mangsa terhadap Biologi S. annulicornis “ dan diberikan dalam status hidup.
Selama fase nimfa instar pertama tidak dilakukan pemisahan serangga uji. Setelah instar kedua serangga uji dipisahkan satu per satu ke dalam wadah plastik berdiameter 4 cm. Pengamatan dilakukan selama 4 jam. Perlakuan diulang 5 kali.
Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji dua nilai tengah dilakukan dengan menggunakan Uji-t. Uji lanjutan antar perlakuan dilakukan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dan Uji Tukey pada taraf nyata 5%.