• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

2.1.1 Konsep Sistem Pendukung Keputusan

Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support Systems (DSS) pertama kali diperkenalkan oleh Michael S. Scott Morton pada awal tahun 1970-an, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Management Decision Systems. Konsep SPK ditandai dengan sistem interaktif berbasis komputer yang membantu pengambilan keputusan dengan memanfaatkan data dan model untuk menyelesaikan masalah yang bersifat tidak terstruktur dan semi terstruktur.

Pada proses pengambilan keputusan, pengolahan data dan informasi yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan berbagai alternatif keputusan yang dapat diambil. SPK yang merupakan penerapan dari sistem informasi ditujukan hanya sebagai alat bantu manajemen dalam pengambilan keputusan. SPK tidak dimaksudkan untuk menggantikan fungsi pengambil keputusan dalam membuat keputusan, melainkan hanyalah sebagai alat bantu pengambil keputusan dalam melaksanakan tugasnya. SPK dirancang untuk menghasilkan berbagai alternatif yang ditawarkan kepada para pengambil keputusan dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa SPK memberikan manfaat bagi manajemen dalam hal meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerjanya terutama dalam proses pengambilan keputusan. Di samping itu, SPK menyatukan kemampuan komputer dalam pelayanan interaktif terhadap penggunanya dengan adanya proses pengolahan atau pemanipulasian data yang memanfaatkan model atau aturan yang tidak terstruktur sehingga menghasilkan alternatif keputusan yang situasional.

(2)

2.1.2 Pengertian Sistem Pendukung Keputusan

Beberapa pengertian sistem pendukung keputusan yang dikemukakan para ahli dijelaskan sebagai berikut [3] :

1. Menurut Man dan Watson

Sistem Pendukung Keputusan merupakan suatu sistem interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak terstruktur.

2. Menurut Maryan Alavi dan H. Albet Napier

Sistem Pendukung Keputusan merupakan suatu kumpulan prosedur pemrosesan data dan informasi yang berorientasi pada penggunaan model untuk menghasilkan berbagai jawaban yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. Sistem ini harus sederhana, mudah dan adaptif.

3. Menurut Litlle

Sistem Pendukung Keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model.

4. Menurut Raymond McLeod, Jr

Sistem Pendukung Keputusan merupakan sistem penghasil informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan.

Dari berbagai pengertian Sistem Pendukung Keputusan di atas, dapat disimpulkan bahwa Sistem Pendukung Keputusan adalah sebuah sistem yang berbasis komputer yang dapat membantu pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah tertentu dengan memanfaatkan data dan model tertentu.

(3)

2.1.3 Komponen Sistem Pendukung Keputusan

Adapun komponen-komponen dari Sistem Pendukung Keputusan adalah sebagai berikut[14]:

1. Manajemen Data, mencakup database yang mengandung data yang relevan dan diatur oleh sistem yang disebut Database Management System (DBMS).

2. Manajemen Model, merupakan paket perangkat lunak yang memasukkan model-model finansial, statistik, ilmu manajemen, atau model kuantitatif yang lain yang menyediakan kemampuan analisis sistem dan management software yang terkait.

3. Antarmuka Pengguna, media interaksi antara sistem dengan pengguna, sehingga pengguna dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada SPK melalui subsistem ini.

4. Subsistem Berbasis Pengetahuan, subsistem yang dapat mendukung subsistem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri.

Untuk dapat lebih jelas memahami model konseptual SPK, perhatikan gambar di bawah ini:

Gambar 2.1. Model Konseptual SPK

System lainnya yang berbasis komputer

Manajemen data Manajemen model Subsistem berbasis pengetahuan Antarmuka pengguna Manager (pengguna) Data eksternal dan internal

(4)

2.1.4 Proses Pengambilan Keputusan

Menurut Simon, proses pengambilan keputusan meliputi tiga tahapan utama yaitu tahap inteligensi, desain, dan pemilihan. Namun kemudian ditambahkan dengan tahap keempat yaitu tahap implementasi [14]. Keempat tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahap Penelusuran (Intelligence)

Merupakan tahap pendefinisian masalah serta identifikasi informasi yang dibutuhkan yang berkaitan dengan persoalan yang dihadapi serta keputusan yang akan diambil. Langkah ini sangat penting karena sebelum suatu tindakan diambil, tentunya persoalan yang dihadapi harus dirumuskan secara jelas terlebih dahulu.

2. Perancangan (Design)

Merupakan tahap analisa dalam kaitan mencari atau merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Setelah permasalahan dirumuskan dengan baik, maka tahap berikutnya adalah merancang atau membangun model pemecahan masalahnya dan menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah.

3. Pemilihan (Choice)

Dengan mengacu pada rumusan tujuan serta hasil yang diharapkan, selanjutnya manajemen memilih alternatif solusi yang diperkirakan paling sesuai. Pemilihan alternatif ini akan mudah dilakukan kalau hasil yang diinginkan terukur atau memilki nilai kuantitas tertentu.

4. Implementasi (Implementation)

Merupakan tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini perlu disusun serangkaian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan-perbaikan.

(5)

2.1.5 Karakteristik dan Nilai Guna Sistem Pendukung Keputusan

Beberapa karakteristik dari Sistem Pendukung Keputusan menurut Turban adalah sebagai berikut [3]:

1. Sistem Pendukung Keputusan dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur ataupun tidak terstruktur.

2. Dalam proses pengolahannya, sistem pendukung keputusan mengombinasikan penggunaan model-model/teknik-teknik analisis dengan teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi informasi.

3. Sistem Pendukung Keputusan, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunaka/dioperasikan dengan mudah oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar kemampuan yang tinggi. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan biasanya model interaktif.

4. Sistem Pendukung Keputusan dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi. Sehingga mudah disesuaikan dengan berbagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pemakai.

Dengan berbagai karakter khusus seperti yang dikemukakan di atas, sistem pendukung keputusan dapat memberikan berbagai manfaat atau keuntungan bagi pemakainya. Keuntungan yang dimaksud di antaranya meliputi:

1. Sistem Pendukung Keputusan memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya.

2. Sistem Pendukung Keputusan membantu pengambil keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.

3. Sistem Pendukung Keputusan dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.

4. Walaupun suatu Sistem Pendukung Keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun dapat

(6)

dijadikan stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya. Karena sistem ini mampu menyajikan berbagai alternatif.

5. Sistem Pendukung Keputusan dapat menyediakan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran sehingga dapat memperkuat posisi pengambil keputusan.

Di samping berbagai keuntungan dan manfaat yang dikemukakan di atas, Sistem Pendukung Kepututsan juga memiliki keterbatasan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.

2. Kemampuan suatu SPK terbatas pada pembendaharaan pengetahuan yang dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar).

3. Proses-proses yang dapat dilakukan oleh SPK biasanya tergantung juga pada kemampuan perangkat lunak yang digunakannya.

4. SPK tidak memiliki kemampuan intuisi seperti yang dimiliki oleh manusia. Karena walau bagaimanapun canggihnya suatu SPK, tetap saja berupa kumpulan dari perangkat keras, perangkat lunak dan sistem operasi yang tidak dilengkapi dengan kemampuan berpikir.

2.2 Fuzzy

2.2.1 Logika Fuzzy

Konsep logika fuzzy pertama kali diperkenalkan pada tahun 1965 oleh Prof. Lotfi A. Zadeh, seorang professor dari University of California di Berkly. Dasar logika fuzzy adalah teori himpunan fuzzy. Pada teori himpunan fuzzy, peranan derajat keanggotaan sebagai penentu keberadaan elemen dalam suatu himpunan sangatlah penting. Nilai keanggotaan atau derajat keanggotaan (membership values) yang nilainya terletak di antara selang [0,1] menjadi ciri utama dari penalaran dengan logika fuzzy tersebut.

(7)

Logika fuzzy adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan permasalahan dari

input menuju output yang diharapkan. Beberapa contoh yang dapat di ambil antara

lain [8]:

1. Manajer pergudangan mengatakan pada manajer produksi seberapa banyak perseddiaan barang pada akhir minggu ini, kemudian manajer produksi akan menetapkan jumlah barang yang harus diproduksi esok hari.

2. Seorang pegawai melakukan tugasnya dengan kinerja yang sangat baik, kemudian atasan akan memberikan reward yang sesuai dengan kinerja pegawai tersebut.

Menurut Cox, ada beberapa alasan mengapa orang menggunakan logika fuzzy, antara lain [9] :

1. Konsep logika fuzzy mudah dimengerti. Karena konsep matematis yang mendasari penalaran fuzzy cukup mudah dimengerti.

2. Logika fuzzy sangat fleksibel, artinya mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan, dan ketidakpastian yang menyertai permasalahan.

3. Logika fuzzy memiliki toleransi terhadap data yang tidak tepat.

4. Logika fuzzy mampu memodelkan fungsi-fungsi nonlinier yang sangat kompleks.

5. Logika fuzzy dapat membangun dan mengaplikasikan pengalaman-pengalaman para pakar secara langsung tanpa harus pelatihan.

6. Logika fuzzy dapat bekerjasama dengan teknik-teknik kendali konvensional. 7. Logika fuzzy didasarkan pada bahasa alami.

2.2.2 Himpunan Fuzzy

Pada himpunan tegas(crisp), nilai keanggotaan suatu item x dalam suatu himpunan A, yang sering ditulis dengan µA[x], memiliki 2 kemungkinan, yaitu :

(8)

1. satu (1), yang berarti bahwa suatu item menjadi anggota dalam suatu himpunan, atau

2. nol (0), yang berarti bahwa suatu item tidak menjadi anggota dalam suatu himpunan.

Prinsip dasar dan persamaan matematika dari teori himpunan fuzzy adalah pengelompokkan objek dalam batas yang samar. Himpunan fuzzy merupakan sebuah generalisasi dari himpunan crisp. Kalau pada himpunan crisp, nilai keanggotaan hanya ada 2 kemungkinan, yaiu 0 atau 1. Sedangkan himpunan fuzzy didasarkan pada gagasan untuk memperluas jangkauan fungsi karakteristik sedemikian hingga fungsi tersebut akan mencakup bilangan real pada interval [0,1]. Nilai keanggotaan pada himpunan fuzzy menunjukkan bahwa suatu item dalam semesta pembicaraan tidak hanya berada pada 0 atau 1, melainkan juga nilai yang terletak diantaranya. Dengan kata lain, nilai kebenaran dari suatu item tidak hanya benar atau salah..

Pada himpunan fuzzy terdapat 2 atribut, yaitu [9] :

a. Linguistik, yaitu penamaan suatu grup yang mewakili suatu keadaan atau kondisi tertentu dengan menggunakan bahasa alami, seperti : MUDA, PAROBAYA, TUA.

b. Numeris, yaitu suatu nilai (angka) yang menunjukkan ukuran dari suatu variabel, seperti : 40, 25, 50,dsb.

2.2.3 Fungsi Keanggotaan Fuzzy

Fungsi keanggotaan fuzzy (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukkan pemetaan titik-titik input data ke dalam nilai keanggotaannya (derajat keanggotaan) yang memiliki interval antara 0 sampai 1. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai keanggotaan adalah dengan melalui pendekatan fungsi. Ada beberapa fungsi yang bisa digunakan, diantaranya sebagai berikut :

(9)

a. Representasi Linier

Pada representasi linier, pemetaan input ke derajat keanggotaannya digambarkan sebagai garis lurus. Ada 2 keadaan himpunan fuzzy yang linier.

1. Kenaikan himpunan dimulai pada nilai domain yang memiliki derajat keanggotaan nol [0] bergerak ke kanan menuju nilai domain yang memiliki derajat keanggotaan lebih tinggi.

Gambar 2.2. Representasi Linear Naik

Fungsi Keanggotaan :

0 ; x < a

µA[x]= (x – a) / (b – a) ; a ≤ x ≤ b (1)

1 ; x > b

2. Garis lurus dimulai dari nilai domain dengan derajat keanggotaan tertinggi pada sisi kiri, kemudian begerak menurun ke nilai domain yang memiliki derajat keanggotaan lebih rendah.

Gambar 2.3. Representasi Linear Turun

a domain b 1 0 derajat keanggotaan µA[x] a domain b 1 0 derajat keanggotaan µA[x]

(10)

Fungsi Keanggotaan :

(b – x) / (b – a) ; a ≤ x ≤ b µA[x]=

0 ; x > b (2)

b. Representasi Kurva Segitiga

Kurva Segitiga pada dasarnya merupakan gabungan antara 2 garis (linear).

Gambar 2.4. Representasi Kurva Segitiga Fungsi Keanggotaan :

0 ; x < a atau x > c

µA[x]= (b – a) / (x – a) ; a ≤ x ≤ b (3)

(b - x) / (c – b) ; b ≤ x ≤ c c. Representasi Kurva Bentuk Bahu

Pada representasi kurva bahu, daerah yang terletak ditengah-tengah suatu variabel yang direpresentasikan dalam bentuk segitiga, pada sisi kanan dan kirinya akan naik dan turun (misalkan: DINGIN bergerak ke SEJUK bergerak ke HANGAT dan bergerak ke PANAS). Tapi terkadang, salah satu sisi dari variabel tersebut tidak mengalami perubahan. Sebagai contoh, apabila telah mencapai kondisi PANAS, kenaikan temperatur akan tetap pada kondisi PANAS. Himpunan fuzzy ’bahu’, bukan segitiga, digunakan untuk mengakhiri variabel suatu daerah fuzzy. Bahu kiri bergerak dari benar ke salah, sebaliknya bahu kanan bergerak dari salah ke benar.

a b c domain 1 0 derajat keanggotaan µA[x]

(11)

KECIL BESAR

Gambar 2.5. Representasi Kurva Bahu

Fungsi Keanggotaan : 0 ; x > b µAKECIL [x] = (b – x) / (b – a) ; a ≤ x ≤ b (4) 1 ; x < a 0 ; x < a µABESAR [x] = (x – a) / (b – a) ; a ≤ x ≤ b (5) 1 ; x > b

2.2.4 Operasi Aljabar Bilangan Segitiga Fuzzy

Menurut Tang dan Beynon, jika didefinisikan 2 bilangan segitiga fuzzy A dan B dengan A= (x1, y1, z1) dan B= (x2, y2, z2), maka operasi aljabarnya adalah sebagai

berikut[10]: Penjumlahan: A + B= (x1, y1, z1) + (x2, y2, z2) (6) = (x1 + x2, y1 + y2, z1 + z2) Perkalian: A . B= (x1, y1, z1) . (x2, y2, z2) (7) = (x1 . x2, y1 . y2, z1 . z2) 1 derajat keanggotaan µA[x] 0 a b Domain Bahu Kiri Bahu Kanan

(12)

Invers: (x1, y1, z1)-1 = (1/z1, 1/y1, 1/x1) (8)

2.2.5 Fuzzy Multi Criteria Decision Making (MCDM)

Multi Criteria Decision Making (MCDM) adalah sebuah metode yang mengacu pada

proses screening, prioritizing, ranking, atau memilih himpunan alternatif (dalam hal ini berupa “candidate” atau “action”) [15]. MCDM sangat tepat diimplementasikan pada kasus untuk alternatif yang memiliki sejumlah kriteria dengan bobot nominal. Namun kesadaran akan tidak semua alternatif memiliki kriteria yang berbobot nominal untuk kasus-kasus tertentu, maka diusulkan penggunaan konsep fuzzy dalam MCDM yang kemudian dikenal dengan Fuzzy Multi Criteria Decision Making (MCDM).

Fuzzy Multi Criteria Decision Making (MCDM) adalah salah satu metode

yang bisa membantu pengambil keputusan dalam pengambilan keputusan terhadap beberapa alternatif keputusan yang harus diambil dengan beberapa kriteria yang akan menjadi bahan pertimbangan [2]. Biasanya penilaian yang diberikan oleh pengambil keputusan terhadap bobot kepentingan dari setiap kriteria dan derajat kecocokan setiap alternatif terhadap setiap kriteria direpresentasikan secara linguistik [16]. Literatur mengindikasikan bahwa terdapat sejumlah langkah yang harus ditempuh untuk mengaplikasikan fuzzy MCDM. Secara umum, pada fuzzy MCDM terdapat 3 langkah penting yang harus dikerjakan, yaitu : representasi masalah, evaluasi himpunan fuzzy pada setiap alternatif keputusan dan melakukan seleksi terhadap alternatif yang optimal [6].

1. Representasi masalah

Pada bagian ini, terdapat 3 tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

1. Identifikasi tujuan dan kumpulan alternatif keputusan. Jika ada n alternatif keputusan dari suatu masalah, maka dapat ditulis sebagai :

(13)

2. Identifikasi kumpulan kriteria. Jika ada k kriteria, maka dapat dituliskan : C = { Ct | t=1, , ...,k}.

3. Membangun struktur hirarki dari masalah tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Gambar 2.6. Struktur hirarki masalah

2. Evaluasi himpunan fuzzy

Pada bagian ini, ada 4 aktivitas yang harus dilakukan, yaitu :

1. Memilih himpunan rating untuk derajat kepentingan dari setiap kriteria dan derajat kecocokan setiap alternatif dengan kriterianya.

Himpunan rating biasanya direpresentasikan dalam bentuk variabel linguistik (x). Misalkan untuk himpunan rating pada variabel penting didefinisikan sebagai : T(penting) = {SANGAT RENDAH, RENDAH, CUKUP, TINGGI, SANGAT TINGGI}.

2. Menentukan bobot-bobot setiap rating dari himpunan rating derajat kepentingan setiap kriteria dan derajat kecocokan setiap alternatif dengan kriterianya.

Bobot untuk setiap rating ditentukan dengan menggunakan fungsi keanggotaan bilangan fuzzy. Dalam skripsi ini, adapun fungsi keanggotaan bilangan fuzzy yang digunakan adalah fungsi bilangan fuzzy segitiga.

A1 A2 A3 An

C1 C2 Ck

Tujuan dari permasalahan

. . .

(14)

Gambar 2.7. Fungsi keanggotaan untuk bobot setiap rating dengan himpunan bilangan fuzzy segitiga

Dengan asumsi rentang yang digunakan adalah: Sangat Rendah = SR = (0, 0, 0.25)

Rendah = R = (0, 0.25, 0.5) Sedang = S = (0.25, 0.5, 0.75) Tinggi = T = (0.5, 0.75, 1) Sangat Tinggi = ST = (0.75, 1, 1)

3. Mengevaluasi derajat kecocokan setiap alternatif dengan kriterianya.

4. Mengagregasikan bobot-bobot setiap rating dari himpunan rating derajat kecocokan setiap alternatif dengan kriterianya terhadap derajat kepentingan setiap kriteria.

Operator yang digunakan pada metode agregasi umumnya berupa penjumlahan dan perkalian fuzzy. Kebanyakan metode agregrasi yang digunakan adalah metode agregasi mean.

Fi = [ (Sit . Wt) + (Sit . Wt) + . . . + (Sit . Wt) ] (9)

i = 1, 2, 3, ..., n t = 1, 2, 3, ..., n keterangan :

Fi : indeks kecocokan fuzzy dari alternatif Ai yang mempresentasikan

derajat kecocokan alternatif keputusan dengan kriteria keputusan yang diperoleh dari hasil agregasi Sit dan Wt

1

k

1

0.5

0 0.25 0.5 0.75 1 X sangat rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi

(15)

α T

Sit : bobot rating fuzzy untuk derajat kecocokan alternatif keputusan Ai

dengan kriteria Ct

Wt : bobot rating fuzzy untuk derajat kepentingan kriteria Ct

k : banyaknya kriteria

Jika direpresentasikan ke dalam bilangan fuzzy segitiga, Sit = (oit, pit, qit) dan

Wt = (at, bt, ct), maka Fi = (Xi, Yi, Zi) menjadi :

Xi = (10)

Yi = (11)

Zi = (12)

3. Seleksi alternatif yang optimal

Pada bagian ini, ada 2 aktivitas yang dilakukan, yaitu :

1. Memprioritaskan alternatif keputusan berdasarkan hasil agregasi.

Nilai prioritas dari hasil agregasi dibutuhkan dalam rangka proses penentuan tingkat performance dari alternatif (sekolah). Karena hasil agregasi dalam hal ini direpresentasikan dengan menggunakan bilangan fuzzy segitiga, maka dibutuhkan metode untuk memperoleh nilai prioritas dari bilangan fuzzy segitiga. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode nilai total integral.

I

(Fi) = (α Zi + Yi + (1 - α) Xi) (13)

keterangan : I : nilai integral

Fi : bilangan fuzzy segitiga hasil agregasi, Fi = (Xi, Yi, Zi)

1 k k ∑ (pit. bt) t=1 1 k k ∑ (qit. ct) t=1 1 k k ∑ (oit. at) t=1 1 2

(16)

α : indeks keoptimisan (1)

2. Memilih alternatif keputusan dengan nilai prioritas terbaik sebagai alternatif keputusan yang optimal. Namun dalam hal penentuan tingkat performance sekolah nilai prioritas yang dihasilkan akan dibandingkan terhadap nilai prioritas maksimal.

Langkah-langkah pemecahan masalah penentuan performance sekolah dengan menggunakan metode fuzzy MCDM dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Menentukan kriteria yang digunakan dalam penentuan performance sekolah. 2. Menentukan alternatif keputusan berupa kandidat yaitu sekolah.

3. Menyusun struktur hirarki permasalahan dari alternatif keputusan (sekolah) terhadap kriteria yang digunakan.

4. Menentukan variabel linguistik yang digunakan serta bobot tiap rating derajat kepentingan tiap kriteria dan derajat kecocokan alternatif keputusan (sekolah) terhadap kriteria.

5. Menentukan derajat kepentingan tiap kriteria beserta bobotnya kemudian menagregasikannya dengan metode agregasi mean terhadap bobot raing maksimal sehingga diperoleh nilai prioritas maksimal dengan metode nilai total integral yang kemudian diasumsikan sebagai nilai standar yang digunakan untuk menentukan tingkat performance sekolah.

6. Mengevaluasi bobot nilai yang diperolah dari alternatif keputusan (sekolah) terhadap tiap kriteria yang digunakan berdasarkan data-data tertentu dari alternatif keputusan (sekolah) tersebut.

7. Menentukan derajat kecocokan alternatif keputusan (sekolah) terhadap tiap kriteria yang digunakan beserta bobotnya berdasarkan hasil evaluasi pada langkah no.6.

8. Mengagregasikan bobot rating derajat kecocokan alternatif keputusan (sekolah) terhadap tiap kriteria pada langkah no.7 dengan rating derajat kepentingan kriteria pada langkah no.5 menggunakan metode agregasi mean. 9. Menentukan nilai prioritas kandidat atau alternatif (sekolah) berdasarkan hasil

(17)

10. Menentukan tingkat performance sekolah berdasarkan nilai prioritas yang diperoleh pada langkah no.9, kemudian dibandingkan terhadap interval nilai standar (nilai prioritas maksimal) yang ditetapkan pada langkah no.5.

2.3. Performance

Menurut Sjafri Mangkuprawira yang dikutip dari Veithzal Rivai (2005) mengemukakan beberapa pengertian performance atau kinerja sebagai berikut[17]: 1. Performance atau kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk

pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch dan Keeps: 1992).

2. Performance atau kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Donnelly, Gibson, dan Ivancevich: 1994).

3. Performance atau kinerja merujuk sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun perusahaan (Schermerhom, Hunt dan Osborn: 1991).

Selain definisi-definisi diatas, masih banyak lagi orang yang memiliki pendapat sendiri tentang definisi dari performance. Namun, dapat disimpulkan

performance atau kinerja adalah hasil kerja seseorang, sebuah proses manajemen atau

suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar tertentu).

Namun berbicara tentang performance atau kinerja, maka erat kaitannya dengan pendapat yang menyatakan bahwa untuk mengetahui hasil kerja yang dicapai seseorang, sebuah proses manajemen atau suatu organisasi maka perlu dilaksanakan penilaian performance atau kinerja. Begitu juga yang penulis lakukan dalam skripsi ini dalam menentukan performance sekolah, maka tidak terlepas dari penilaian

performance dari sekolah tersebut melalui data-data tertentu yang dapat menunjang

(18)

Berdasarkan hasil analisis pada saat pengumpulan data di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DIKPORA) kabupaten Aceh Tenggara, maka adapun hasil yang diperoleh berupa data kriteria dan data subkriteria yang dapat digunakan dalam mengukur atau menilai performance sekolah yang nantinya digunakan sebagai data pendukung pengambilan keputusan dalam sistem yang akan dibangun.

Adapun data kriteria yang digunakan dalam menentukan performance sekolah berdasarkan hasil pengumpulan data pada DIKPORA kabupaten Aceh Tenggara, adalah sebagai berikut:

1. Standar Isi (Kurikulum) 5. Standar Sarana dan Prasarana 2. Standar Proses Belajar Mengajar 6. Standar Pengelolaan

3. Standar Kompetensi Kelulusan 7. Standar Pembiayaan 4. Standar Pendidik dan Kependidikan 8. Standar Penilaian

Sedangkan data subkriteria yang dijadikan sebagai data yang dinilai dari sekolah untuk digunakan sebagai data penunjang dalam menentukan performance dari sekolah tersebut yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data pada DIKPORA kabupaten Aceh Tenggara adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Data Subkriteria dalam Menentukan Performance Sekolah Berdasarkan Penenlitian di DIKPORA Aceh Tenggara

No. Kriteria Subkriteria

1. Standar Isi (Kurikulum)

A. Dokumen Kurikulum Sekolah

1. Keberadaan dokumen kurikulum sekolah (panduan pengembangan KTSP)

2. Keberadaan dokumen kurikulum sekolah (KTSP) yang meliputi semua mapel

3. Keberadaan dokumen pendukung pengembangan KTSP (referensi, bahan ajar, buku-buku, jurnal, dan lain-lain untuk tiap mapel)

B. Dokumen Perangkat Kurikulum Sekolah 1. Dokumen silabus untuk semua mata pelajaran

(19)

2. Dokumen panduan umum sistem penilaian dari semua mata pelajaran

3. Dokumen panduan umum pembelajaran dari semua mata pelajaran

4. Dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dari semua mata pelajaran

C. Dokumen Pendukung Perangkat Kurikulum Sekolah

1. Dokumen kalender akademik sekolah

2. Dokumen pembagian tugas mengajar guru di sekolah dengan bukti SK Kepala Sekolah

3. Kurikulum (mapel) muatan lokal di sekolah 2. Standar

Proses Belajar Mengajar

A. Kesiapan Guru

1. Rata-rata kepemilikan dokumen guru berupa silabus sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar 2. Rata-rata kepemilikan dokumen guru berupa RPP

sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar

B. Metodologi Pengajaran

1. Rata-rata variasi guru dalam penggunaan metode pembelajaran di kelas (seperti ceramah, tanya jawab, penugasan, diskusi)

2. Kesesuaian penggunaan metode pembelajaran terhadap karakteristik dari mata pelajaran (sesuai tuntutan kompetensi)

3. Frekuensi penerapan lebih dari tiga metode pembelajaran

C. Penggunaan Media Pembelajaran

1. Kelengkapan media pembelajaran (seperti OHP, laptop, LCD, tape, wall chart, clip chart) yang ada di sekolah

(20)

2. Penggunaan media elektronik oleh guru dalam mengajar (seperti LCD, OHP, tape recorder, laptop) 3. Frekuensi penggunaan media pembelajaran dalam

proses belajar mengajar oleh guru 3. Standar

Kompetensi Kelulusan

A. Prestasi Akademik dan Kelulusan yang telah dicapai

1. Ketercapaian rata-rata KKM semua mata pelajaran yang tidak di UN-kan pada tahun terakhir

2. Ketercapaian rata-rata KKM semua mata pelajaran yang di UN-kan pada tahun terakhir

3. Rata-rata hasil UN yang dicapai pada tahun terakhir 4. Rata-rata hasil Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang

dicapai pada tahun terakhir

5. Ranking 1-10 hasil rata-rata nilai UN yang dicapai pada tahun terakhir dari semua sekolah negeri dan swasta pada tingkat

6. Prestasi Kejuaraan olimpiade/lomba (ranking 1-5) dari suatu bidang ilmu atau mata pelajaran pada tahun terakhir pada tingkat

7. Jumlah siswa yang lulus pada tahun terakhir

8. Banyaknya lulusan yang melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi

B. Prestasi Non Akademik (pada tahun terakhir) 1. Prestasi olahraga pada tahun terakhir meraih

kejuaraan (ranking 1-5) pada tingkat

2. Prestasi bidang lingkungan dan kesehatan sekolah pada tahun terakhir meraih kejuaraan (ranking 1-5) pada tingkat

3. Prestasi bidang kesenian pada tahun terakhir meraih kejuaraan (ranking 1-5) pada tingkat

4. Prestasi bidang keagamaan pada tahun terakhir meraih kejuaraan (ranking 1-5) pada tingkat

(21)

5. Prestasi bidang lainnya pada tahun terakhir meraih kejuaraan (ranking 1-5) pada tingkat

C. Kesiswaan / Kepribadian siswa

1. Kesan umum kedisiplinan siswa (seperti cara berpakaian, kehadiran, ketertiban)

2. Kepedulian dan keterlibatan secara aktif siswa terhadap lingkungan sekolah

3. Pembinaan kesenian/keterampilan siswa 4. Pembinaan karya tulis/mengarang siswa 5. Pembinaan sosial dan keagamaan bagi siswa 6. Pembinaan olahraga dan kesehatan bagi siswa 7. Pembinaan kepramukaan bagi siswa

8. Pembinaan bidang lain bagi siswa 4. Standar

Pendidik dan Kependidikan

A. Guru

1. Tingkat kelayakan (kualifikasi) pendidikan guru dari perguruan tinggi yang terakreditasi

2. Kesesuaian bidang keahlian guru dengan mata pelajaran yang diajarkan

3. Jumlah guru yang menetapkan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) seperti komputer/laptop, LCD atau internet dalam proses belajar mengajar 4. Jumlah guru yang mampu mengoperasikan komputer 5. Rata-rata jumlah jam mengajar guru per minggu 6. Kedisiplinan dari semua guru yang ada di sekolah

(seperti kehadiran, ketertiban, penyelesaian tugas) 7. jumlah guru yang mengikuti penataran KTSP

8. Kepemilikan kelengkapan administrasi/perangkat pembelajran yang dimiliki guru (seperti buku presensi siswa, buku nilai siswa)

9. Rata-rata kepemilikan buku referensi/bacaan/pegangan yang dimiliki guru

(22)

B. Kepala Sekolah

1. Masa kerja sebagai kepala sekolah (dihitung dari SK pertama sebagai kepala sekolah)

2. Kepemilikan sertifikasi kursus/pendidikan komputer 3. Pelatihan KTSP

4. Kepemilikan sertifikasi pelatihan calon kepala sekolah

5. Jenjang pendidikan terakhir kepala sekolah 6. Pengalaman pelatihan lainnya

C. Tenaga Pendukung

1. Jumlah karyawan/tenaga pendukung yang mampu mengoperasionalkan komputer

2. Presentase kepemilikan sertifikasi kursus/pendidikan komputer/TIK karyawan/tenaga pendukung

3. Rata-rata kualifikasi pendidikan karyawan/tenaga pendukung

4. Tingkat kedisiplinan karyawan/ tenaga pendukung (seperti kehadiran, ketertiban, penyelesaian tugas) pada tiga bulan terakhir

5. Standar

Sarana dan Prasarana

A. Ruang Kelas

1. Rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar

2. Jumlah mebelair (seperti meja, kursi, almari, papan tulis) dalam ruang kelas terhadap kebutuhan/jumlah siswa dan guru telah terpenuhi

3. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara ruang kelas pada umumnya

4. Kelengkapan keamanan ruang kelas pada umumnya 5. Kelengkapan sarana TIK untuk pembelajaran di

dalam ruang kelas

B. Laboratorium

(23)

2. Ketercukupan bangunan ruang laboratorium IPA (Fisika, Biologi, Kimia) terhadap jumlah rombongan belajar

3. Kelengkapan bahan-bahan praktikum sesuai dengan topik dalam materi IPA

4. Kelengkapan peralatan praktikum sesuai dengan topik dalam materi IPA

5. Kelengkapan sarana TIK untuk pembelajaran di dalam laboratorium IPA

6. Keberadaan ruangan laboratorium Komputer

7. Jumlah komputer terhadap jumlah siswa per rombongan belajar

8. Keberadaan jaringan internet

9. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara pada umumnya

10. Kelengkapan pengamanan pada umumnya

C. Perpustakaan

1. Rasio buku bacaan terhadap jumlah siswa 2. Keberadaan rak buku

3. Jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan setiap hari 4. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan

sirkulasi udara pada umumnya

5. Kelengkapan pengamanan pada umumnya 6. Jumlah judul buku yang tersedia

7. Keberadaan majalah, jurnal atau koran dalam perpustakaan

D. Ruang Pimpinan Sekolah (Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah) dan Guru

1. Kelengkapan/keberadaan fasilitas mebelair (seperti meja, kursi, almari buku, almari piala) ruang kepala sekolah

(24)

2. Kelengkapan fasilitas multimedia seperti : TV, CCTV, tape atau komputer

3. Keberadaan jaringan internet

4. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara pada umumnya

5. Kelengkapan pengamanan pada umumnya 6. Keberadaan kamar kecil

E. Ruang Guru

1. Kelengkapan/keberadaan fasilitas mebelair (seperti meja, kursi, almari buku)

2. Kelengkapan fasilitas multimedia seperti : TV, CCTV, tape atau komputer

3. Keberadaan jaringan internet

4. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara pada umumnya

5. Kelengkapan pengamanan pada umumnya 6. Keberadaan kamar kecil

F. Ruang Tata Usaha

1. Kelengkapan/keberadaan fasilitas mebelair (seperti meja, kursi, almari, brankas, mesin tik manual) 2. Kelengkapan fasilitas multimedia seperti : TV, tape

atau komputer

3. Keberadaan jaringan internet

4. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara pada umumnya

5. Kelengkapan pengamanan pada umumnya

G. Ruang OSIS

1. Kelengkapan/keberadaan fasilitas mebelair (meja, kursi, almari)

(25)

komputer

3. Keberadaan jaringan internet

4. Kelengkapan sarana penerangan, pencahayaan dan sirkulasi udara pada umumnya

5. Kelengkapan pengamanan pada umumnya 6. Keberadaan kamar kecil

H. Ruang lain

1. Keberadaan ruang kantin 2. Keberadaan tempat ibadah

3. Keberadaan tempat parkir kendaraan siswa, karyawan, dan guru

4. Keberadaan ruang keterampilan 5. Keberadaan ruang kesenian sekolah 6. Keberadaan lapangan upacara 7. Keberadaan lapangan olahraga 8. Keberadaan Pos Jaga sekolah

I. Lingkungan Sekolah

1. Kesan umum lingkungan sekolah (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kerindangan = 6K)

2. Tamanisasi lingkungan sekolah 6. Standar

Pengelolaan

A. Perencanaan Sekolah

1. Kelengkapan dokumen Renop (Rencana Operasional) dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS)

2. Keterlibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan kebijakan dan program sekolah

3. Keterlibatan warga sekolah dalam pelaksaan program sekolah

(26)

1. Tingkat kedisiplinan kepala sekolah (seperti kehadiran, ketertiban, penyelesaian tugas) dalam tiga bulan terakhir

2. Frekuensi melakukan pertemuan/rapat antara pimpinan dengan dewan guru dan karyawan

3. Pemberian penghargaan/sanksi oleh kepala sekolah 7. Standar

Pembiayaan

A. Sumber Dana

1. Total anggaran belanja sekolah pada tahun terakhir 2. Jumlah sumber pendanaan sekolah

B. Alokasi dan Penggunaan Dana

1. Alokasi anggaran untuk pengembangan KTSP

2. Alokasi anggaran untuk pencapaian standar ketuntasan belajar minimal dan nilai UN

3. Alokasi anggaran dalam program untuk pencapaian standar manajemen

4. Alokasi anggaran dalam program untuk pencapaian standar sarana dan prasarana serta fasilitas lainnya 5. Alokasi anggaran dalam program untuk pencapaian

standar penilaian

6. Alokasi anggaran dalam program untuk pencapaian standar tenaga pendidik dan kependidikan

7. Alokasi anggaran untuk pencapaian prestasi non akademik

8. Tingkat kepatutan/kelayakan dalam penggunaan dana terhadap ketentuan yang ada

C. Akuntabilitas Penggunaan Dana

1. Pertanggungjawaban administrasi (pelaporan-pelaporan) sekolah dalam penggunaan dana

2. Kelengkapan bukti fisik administrasi penggunaan dana

(27)

8. Standar Penilaian

A. Kesiapan Guru dalam Penilaian

1. Keberadaan kelengkapan dokumen perangkat/instrumen penilaian/evaluasi belajar siswa

(seperti perangkat soal-soal, perangkat penugasan, bank soal)

2. Keberadaan kelengkapan dokumen/buku/perangkat lunak analisis nilai untuk evaluasi belajar siswa

3. Keberadaan kelengkapan perencanaan pelaksanaan (schedule, bentuk atau jenis) penilaian belajar siswa

B. Pelaksanaan Penilaian

1. Rata-rata variasi metode /strategi penilaian yang diterapkan oleh guru (seperti tanya jawab, ulangan harian, quiz, tugas, proyek, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester)

2. Rata-rata frekuensi penilaian/evaluasi belajar siswa yang dilaksanakan oleh guru

3. Keterlibatan pihak lain dalam pelaksanaan penilaian/evaluasi

C. Pemanfaatan Hasil Penilaian

1. Rata-rata perekomendasian hasil belajar/nilai siswa oleh guru

2. Pemanfaatan hasil belajar/nilai siswa untuk program remedial

3. Pemanfaatan hasil belajar/nilai siswa untuk program pembinaan bakat/prestasi

4. Pemanfaatan hasil belajar/nilai siswa untuk kepentingan lain

Data-data tersebut di atas berupa data pertanyaan sebagai data yang ditujukan kepada sekolah sehingga hasil dari data tersebut dapat dijadikan sebagai data yang dinilai dalam menentukan performance dari sekolah tersebut. Adapun setiap butir

(28)

pertanyaan memiliki alternatif jawaban. Setiap alternatif jawaban memiliki bobot nilai yang diambil dari sistem nilai fuzzy yang digunakan dalam skripsi ini, yaitu [0,1]. “1” untuk bobot nilai tertinggi dan “0” untuk bobot nilai terendah. Sedangkan untuk pertanyaan dengan alternatif jawaban lebih dari 2 alternatif jawaban, maka sistem bobot nilai yang diberikan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy.

Dengan demikian jumlah dari bobot nilai yang di peroleh dari setiap subkriteria tersebut di atas akan menentukan rating derajat kecocokan sekolah terhadap tiap kriteria yang digunakan. Sedangkan untuk menentukan tingkat

performance yang didapat atau diperoleh sekolah, ditentukan berdasarkan nilai

prioritas yang diperoleh sekolah, yang kemudian dibandingkan terhadap nilai standar (nilai prioritas maksimal) yang ditetapkan. Adapun ketetapan pembagian interval nilai dalam menentukan tingkat performance sekolah dan penentuan rating derajat kecocokan sekolah terhadap kriteria yang digunakan berdasarkan ketetapan dari DIKPORA kabupaten Aceh Tenggara adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Interval Nilai dalam Penentuan Tingkat Performance Sekolah dan Rating Derajat Kecocokan Sekolah Terhadap Tiap Kriteria Berdasarkan

Ketetapan DIKPORA Aceh Tenggara Tingkat Performance /

Rating Derajat Kecocokan

Interval Nilai (%) Terhadap Nilai Prioritas Max/ Jumlah Bobot Max Sangat Baik (SB) nilai prioritas / jumlah bobot > 90% Baik (B) 75% < nilai prioritas / jumlah bobot < 90% Cukup (C) 60% < nilai prioritas / jumlah bobot < 75% Kurang (K) 40% < nilai prioritas / jumlah bobot < 60% Sangat Kurang (SK) nilai prioritas / jumlah bobot < 40%

Gambar

Gambar 2.2. Representasi Linear Naik
Gambar 2.5. Representasi Kurva Bahu
Gambar 2.6. Struktur hirarki masalah
Gambar 2.7.  Fungsi keanggotaan untuk bobot setiap rating dengan himpunan  bilangan fuzzy segitiga
+3

Referensi

Dokumen terkait

Lokasi Penelitian berada daerah tangkapan hujan ( Catchment Area ) Waduk Way Rarem dengan luas 32.864 ha (328,64 km 2 ) yang merupakan bagian dari DAS Way Tulang Bawang,

(10) Ruptur ekstraperitoneal kompleks pada seorang pria 38 tahun yang terluka karena jatuh dari bangunan, (a) CT cystogram menunjukkan beberapa fraktur tulang pelvis ( tanda panah)

Pelanggar tersebut diberikan sanksi tilang dengan E-Tilang oleh anggota di jalan yang bernama Briptu Anton Suparto dengan harapan pelanggar tersebut tidak mengulangi

Hasil pengujian secara normalitas dimana ternyata data yang digunakan terdistribusi normal maka hipotesi untuk menguji ada tidaknya perbedaan risiko dan return

menunjukkan adanya peristiwa pautan kromosom sehingga gen-gen yang mengendalikan karakter pada strain Drosophila yang disilangkan tidak melakukan pemisahan bebas

Berdasarkan tahapan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Integrasi sistem basis aturan ( rule based ) dan basis kasus ( case based ) dapat

Seperti umum dijumpai pada jenis ikan lain, ikan jantan mempunyai pola warna yang jauh lebih menarik serta bentuk tubuh yang lebih indah dibanding betinanya.. Sirip ikan jantan

Lisensi-wajib dilaksanakan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal HKI atas dasar permohonan dari setiap pihak kepada Direktorat Jenderal untuk melaksanakan Paten