Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Komunikasi Interpersonal
Terhadap Kinerja Guru
Dwi Windu Satya Adriana (09110046) Mahasiswa PPKN IKIP Veteran Semarang
ABSTRAK
Penelitian ini dilatabelakangi oleh Gaya kepemimpinan kepala sekolah masih kurang melibatkan partisipasi guru dalam mengambil keputusan. Kemudian komunikasi interpersonal yang terjadi antara kepala sekolah dan guru masih kurang, sehingga terjadi kurangnya keterbukaan dan keharmonisan antara kepala sekolah dan guru, hal tersebut berpengaruh pada kinerja para guru. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1) pengaruh gaya kepemimpinan dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru di SMA Nasional Pati dan 2) besarnya pengaruh gaya kepemimpinan dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru di SMA Nasional Pati. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif verifikatif. Populasinya adalah guru SMA Nasional Pati sebanyak 57 orang, terdiri dari guru laki -laki sebanyak 23 orang dan guru perempuan sebanyak 34 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini Nonprobability Sampling.Adapun variabel bebas dalam penelitian ini yaitu gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan Komunikasi Interpersonal atau (X2) sedangkan
variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja guru (Y). Teknik Pengumpulan Data meliputi: Observasi (pengamatan), Interview (wawancara), Dokumentasi dan Metode Angket (Quesional). Teknik pengukuran dalam instrumen pada penelitian ini menggunakan skala likert yang yang terdiri dari lima skala yaitu: Sangat Setuju (SS) diberi skor 5, Setuju (S) diberi sko r 4, Ragu-ragu (R) diberi skor 3, Tidak Setuju (TS) diberi skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1 jika pernyataan bersifat positif. Sedangkan untuk skala negatif, kemungkinan skor tersebut menjadi sebaliknya tergantung arah pertanyaan yang diberikan. Uji validitas menggunakan tehnik korelasi product moment dari Pearson. Sedangkan uji relibialitas mengunakan tehnik Alpha dengan bantuan SPSS Versi 16.0 for Windows. Selanjutnya untuk mengetahui hasil data yang dikumpulkan dilakukan perhitungan dengan menggunakan tehnik regresi linier. Hasil olah data uji validitas pada variabel X1 diperoleh hasil dari 12 item pernyataan semuanya dinyatakan
valid, dan variabel X2 diperoleh hasil dari 15 item pernyataan semuanya dinyatakan valid,
dengan hasil ketiga variabel tersebut dinyatakan reliabel (X1 = 0,884, X2 = 0,890, Y = 0,885).
Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan tehnik regresi linier berganda bahwa sumbangan efektif penelitian sebesar (0,951 x 100% = 95,1 %) yang artinya 95,1% kinerja guru dipe ngaruhi oleh gaya kepemimpinan dan komunikasi interpersonal sedangkan sisanya yaitu 4,9% dipengaruhi oleh faktor lain di luar pembahasan dari penelitian ini.
Kata Kunci : gaya kepemimpinan, komunikasi interpersonal, kinerja guru
PENDAHULUAN
Kinerja guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 1 dan 2 berisi tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompeten si Guru dijelaskan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.
Kemampuan ataupun keterampilan mengajar guru merupakan komponen paling utama dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Setiap tenaga pendidik terutama guru, harus memahami tujuan pendidikan nasional agar setiap sikap dan tindakan dalam mengaja r diarahkan pada tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 Bab 2003 Bab II Pasal 3 menyatakan bahwa :
“Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Realisasi dari tujuan pendidikan nasional, pemerintah telah berupaya melaksanakan Pendidikan Nasional melalui jalur program pendidikan formal, pendidikan non formal dan informal. Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang dilakukan secara terstruktur, berjenjang dan berkesinambungan mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Tingkat Menengah sampai pada Perguruan Tinggi. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dimaksud dengan pengertian pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan yang menyediakan layanan pendidikan non-formal di Indonesia, yaitu: 1) Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP), 2) Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), 3) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), 4) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan 5) Lembaga PNF sejenis. Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan di lingkungan keluarga yang berupa ajaran tata-krama, sikap dan tingkah laku yang diajarkan pada keluarga semenjak peserta didik lahir. Pendidikan informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat, atau pendidikan yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya.
Pendapat di atas mengandung arti bahwa kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah, oleh karena itu kepala sekolah harus memiliki kemampuan administrasi, memiliki komitmen tinggi, dan luwes dalam melaksanakan tugasnya. Kepala Sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah adalah penanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga pendidik lainnya, pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana juga sebagai supervisor pada sekolah yang dipimpinnya.
Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya kepala sekolah harus melakukan pengelolaan dan pembinaan sekolah melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan kepemimpinan
atau manajemen dan kepemimpinan yang sangat tergantung pada kemampuannya. Sehubungan dengan itu, kepala sekolah sebagai supervisor berfungsi untuk mengawasi, membangun, mengkoreksi dan mencari inisiatif terhadap jalannya seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. Disamping itu kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan berfungsi mewujudkan hubungan manusiawi (human relationship) yang harmonis dalam rangka membina dan mengembangkan kerjasama antar personal, agar secara serempak bergerak ke arah pencapaian tujuan melalui kesediaan melaksanakan tugas masing-masing secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, segala penyelenggaraan pendidikan akan mengarah kepada usaha meningkatkan mutu pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh guru dalam melaksanakan tugasnya secara operasional.
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan maka diperlukan kerjasama yang baik antara kepala sekolah dan guru. Salah satunya dengan proses komunikasi yang baik. Komunikasi yang terjadi di sekolah terutama antara kepala sekolah dan guru, jika dilakukan secara baik dan intensif, maka akan mempengaruhi sikap guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yang berujung pada peningkatan kinerjanya di sekolah. Sebaliknya, apabila proses komunikasi yang terjadi di sekolah kurang baik, maka dapat menimbulkan sikap yang otoriter. Terutama ketika terjadi perbedaan pendapat yang berkepanjangan antara kepala sekolah dan guru. Jika hal itu terjadi, maka dapat berdampak pada kinerja guru yang kurang maksimal. Proses komunikasi diperlukan adanya keterbukaan dan kerjasama yang harmonis antara kepala sekolah dan guru, agar tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut dapat tercapai.
Salah satu faktor yang dipengaruhi gaya kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interpersonal adalah kinerja guru. Kinerja merupakan suatu kemampuan kerja atau prestasi kerja yang diperlihatkan oleh seorang pegawai untuk memperoleh hasil kerja yang optimal. Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan pada kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pendidikan/pembelajaran di sekolah. Kinerja guru tidak terlepas dari peran seorang kepala sekolah sebagai pimpinan dan inovator di sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengelola dan memberdayakan guru-guru agar terus meningkatkan kemampuan kerjanya. Dengan peningkatan kemampuan atas segala potensi yang dimilikinya itu, maka dipastikan guru-guru yang juga merupakan mitra kerja kepala sekolah dalam berbagai bidang kegiatan pendidikan dapat berupaya menampilkan sikap positif terhadap pekerjaannya dan meningkatkan kompetensi profesionalnya.
Fenomena yang terjadi di lapangan kenyataannya sekarang hubungan antar sesama guru dan kepala sekolah lebih banyak bersifat birokratis dan administratif sehingga tidak mendorong terbangunnya suasana dan budaya profesional akademik kalangan guru. Gaya kepemimpinan kepala sekolah masih kurang melibatkan partisipasi guru dalam mengambil keputusan. Kemudian
komunikasi interpersonal yang terjadi antara kepala sekolah dan guru masih kurang, sehingga terjadi kurangnya keterbukaan dan keharmonisan antara kepala sekolah dan guru, hal tersebut tentu saja dapat berpengaruh pada kinerja para guru. Dari faktor-faktor tersebut, dapat dilihat bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interpersonal kurang maksimal.
Bertitik tolak pada latar belakang di atas, maka peneliti mengambil penelitian dengan judul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja Guru di SMA Nasional Pati”.
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Pengertian Kinerja Guru
Kinerja adalah hasil prestasi yang telah dicapai oleh seorang pegawai dalam suatu bidang pekerjaan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Kinerja guru dapat diartikan sebagai tampilan prestasi kerja guru yang ditunjukkan atau hasil yang dicapai oleh guru atas pelaksanaan tugas profesional dan fungsional dalam pembelajaran yang telah ditentukan pada kurun waktu tertentu. Dengan mengacu pada Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja guru adalah prestasi mengajar yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara realisasi konkrit merupakan konsekuensi logis sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan. Kaitan dengan pengertian kinerja tersebut, dalam proses pembelajaran di kelas, kinerja guru dapat terlihat pada kegiatannya dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran yang intensitasnya dilandasi oleh sikap moral dan profesion al seorang guru.
METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Hal ini dikarenakan pendekatan kuantitatif dapat menguji korelasi yang signifikan dengan cara menggunakan metode statistik. Penelitian kuantitatif banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.
Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif verifikatif. Penelitian deskriptif ini ditujukan untuk memperoleh gambaran mengenai gaya kepemimpinan, komunikasi interpersonal dan kinerja guru SMA Nasional Pati. Penelitian verifikatif bertujuan menguji hubungan variabel dan kebenaran dari suatu hipotesis yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan. Dalam penelitian ini menghubungkan antara variabel gaya kepemimpinan dan komunikasi interpersonal serta bagaimana pengaruhnya dengan kinerja guru SMA Nasional Pati. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah guru SMA Nasional Pati sebanyak 57 orang, terdiri dari guru laki-laki sebanyak 23 orang dan guru perempuan sebanyak 34 orang.
Sampel
Sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilah dengan menggunakan pros edur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya.
Berdasarkan pada pengertian tersebut maka peneliti mengambil semua subyek dikarenakan populasi dalam penelitian kurang dari 100 responden. Jadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 57 siswa.
Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang/kesempatan bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Dari Nonprobability Sampling teknik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilahnya adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk melaksanakan penelitian dan memperoleh data, maka perlu ditentukan teknik pengumpulan data yang akan digunakan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a) Observasi (pengamatan)
Observasi sering kali diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematika berbagai fenomena yang diteliti. Metode observasi peneliti gunakan untuk memperoleh data tentang keadaan, sarana dan prasarana, serta kegiatan belajar mengajar yang ada di SMA Nasional Pati.
b) Interview (wawancara)
Interview merupakan cara yang digunakan untuk mengumpulkan data atau mencari keterangan secara lisan dengan melakukan tanya jawab dengan seseorang atau kelompok orang. Interview yang sering disebut wawancara atau quesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Teknik wawancara ini digunakan untuk menggali data penunjang yang ditujukan kepada kepala SMA Nasional Pati.
c) Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya. Dengan data ini peneliti mengumpulkan data tentang daftar guru dan pegawai, jumlah siswa, struktur organisasi sekolah, sarana dan prasarana, daftar nama guru yang akan digunakan sebagai sampel penelitian.
d) Metode Angket (Quesional)
Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk dapat mengungkapkan data dari variabel X dan Y. Teknik ini merupakan sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden. Angket dibuat berdasarkan kisi-kisi instrumen penelitian yang telah ditetapkan. Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, dalam arti alternatif jawaban sudah tersedia, dimana responden hanya memilih jawaban yang telah disediakan.
HASIL PENELITIAN
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal a. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMA Nasional Pati
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang ditunjukkan oleh pemimpin dan diketahui oleh pihak lain ketika pemimpin berusaha mempengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain. Gaya kepemimpinan juga merupakan pola tingkah laku seorang pemimpin dalam proses mengerahkan dan mempengaruhi para pekerja.
Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Pada dasarnya, ada tiga gaya
kepemimpinan seperti yang dikembangkan oleh Lippit, dan White yaitu: Otoriter, Demokratik, dan Laissez-faire.
Adapun instrumen angket tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah yang disebarkan oleh peneliti kepada 57 responden mencakup 12 item pertanyaan. Angket disusun berdasarkan skala Likert yang dimodifikasi dengan alternatif jawaban yaitu: sangat setuju, setuju, ragu -ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Cara penilaian dengan memberi kan nilai/skor antara satu sampai lima.
Berpijak dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa tanggapan guru terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah lebih setuju jika dalam kepemimpinannya Kepala SMA Nasional menerapkan gaya kepemimpinan tipe demokratis. Respon guru “tidak setuju dan tidak sangat setuju” jika di dalam kepemimpinannya kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan tipe otoriter maupun tipe Laissez Faire.
Analisis data dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson dengan bantuan program SPSS versi 16.0 for Windows. Setelah dianalisis diketahui bahwa dari 12 item pertanyaan semuanya dinyatakan valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0,884, yang berarti variabel gaya kepemimpinan dinyatakan reliabel.
b. Komunikasi Interpersonal antara Kepala Sekolah dan Guru di SMA Nasional Pati
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan berfungsi mewujudkan hubungan manusiawi (human relationship) yang harmonis dalam rangka membina dan mengembangkan kerjasama antar personal, agar secara serempak bergerak ke arah pencapaian tujuan melalui kesediaan melaksanakan tugas masing-masing secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, segala penyelenggaraan pendidikan akan mengarah kepada usaha meningkatkan mutu pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh guru dalam melaksanakan tugasnya secara operasional.
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan maka diperlukan kerjasama yang baik antara kepala sekolah dan guru. Salah satunya dengan proses komunikasi yang baik. Komunikasi yang terjadi di sekolah terutama antara kepala sekolah dan guru, jika dilakukan secara baik dan intensif, maka akan mempengaruhi sikap guru dalam menjalankan tugasnya sehari -hari, yang berujung pada peningkatan kinerjanya di sekolah. Oleh karena itu pentingnya komunikasi interpersonal yang efektif yang terjalin harmonis antara kepala sekolah dan guru. Ada lima hal yang harus dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif yaitu:
1) Keterbukaan, menunjukkan kualitas keterbukaan dari komunikasi antar pribadi.
2) Empati: Komunikasi merasakan sebagaimana yang dirasakan orang lain suatu perasaan bersama perasaan orang lain.
3) Dukungan, akan tercapai jika komunikasi interpersonal efektif.
5) Kesamaan, merupakan karakteristik yang teristimewa karena kenyataannya manusia tidak ada yang sama.
Berdasarkan pendapat di atas menunjukkan bahwa untuk menjalin komunikasi interpersonal yang efektif diperlukan adanya keterbukaan, empati, dukungan, kepositifan dan kesamaan.
Instrumen angket tentang komunikasi interpersonal yang disebarkan oleh peneliti kepada 57 responden mencakup 15 item pertanyaan. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa tanggapan guru terhadap komunikasi interpersonal rata-rata responden menjawab “setuju dan setuju sekali”. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh guru SMA Nasional Pati mendukung terwujudnya komunikasi interpersonal antara kepala sekolah dan guru.
Analisis data dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson dengan bantuan program SPSS versi 16.0 for Windows. Setelah dianalisis diketahui bahwa dari 15 item pertanyaan semuanya dinyatakan valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0 ,890, yang berarti variabel komunikasi interpersonal dinyatakan reliabel.
2. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja Guru di SMA Nasional Pati
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang ber pengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien.
Untuk meningkatkan kinerja guru tentu tidak lepas dari tanggung jawab seorang pemimpin yaitu kepala sekolah. Keterampilan dalam berkomunikasi yang harus dimiliki oleh seorang leader adalah keterampilan berkomunikasi secara interpersonal. Komunikasi interpersonal antara kepala sekolah dengan guru yang ditandai adanya pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap dan tindakan, dan hubungan yang semakin baik. Semakin baik komunikasi antara kepala sekolah dan guru diperkirakan dapat meningkatkan kinerja guru.
Kinerja memberikan dampak yang serius bagi suatu organisasi terutama sekolah. Kinerja yang dirasakan oleh guru akan menimbulkan semangat untuk bekerja lebih baik. Seorang guru mempunyai tingkat kinerja yang tinggi apabila banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dengan cara memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja diantaranya adalah kualitas dan kuantitas kerja, kehadiran/kedisiplinan, kreativitas dan kejujuran.
Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti di SMA Nasional Pati diperoleh data hasil temuan penelitian bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru di SMA Nasional Pati. Adapun besarnya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru di SMA Nasional Pati sebesar 95,1%. Sedangkan sisanya sebesar 4,9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang bukan menjadi fokus pembahasan dalam penelitian ini.
Berpijak pada hasil temuan penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Raph White dan Ronald Lippitt yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu gaya yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk dapat mengelola kekuasaan dan dapat mempengaruhi bawahannya.
Menurut peneliti berdasarkan hasil analisis tersebut bahwa gaya kepemimpinan masing-masing mempunyai efek bagi kelangsungan kerja guru. Kepala sekolah yang menerapkan gaya demokrasi cenderung membuat guru merasa dihargai dan diperhatikan dengan sering meminta pendapat para guru atau bahkan melibatkan para guru dalam menentukan kebijakan sekolah.
Baik di kalangan ilmuan maupun praktis bersepakat bahwa tipe kepemimpinan demokratis adalah paling ideal dan paling didambakan. Memang pemimpin yang demokratis tidak selalu pemimpin yang paling efektif dalam kehidupan organisasi, adakalanya dalam hal bertindak dan mengambil keputusan, bisa terjadi keterlambatan sebagai konsisten keterlibatan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Tetapi dengan kelemahannya, pemimpin demokrasi tetap dipandang sebagai pemimpin yang terbaik karena kelebihannya mengalahkan kekurangannya.
Sejalan dengan pendapat di atas, Wahab (2008: 135) mengatakan bahwa “Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin (kepala sekolah) mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran -saran dari kelompoknya. Juga kritik yang membangun dapat diterima sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan selanjutnya. Pemimpin selalu berusaha memupuk rasa kekeluargaan dan membangun semangat serta memotivasi para anggotanya dalam mengembangkan diri.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja Guru SMA Nasional Pati, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru SMA Nasional Pati, yang ditunjukkan Fhitung sebesar 543,062 dan Ftabel sebesar 3,17 dengan nilai signifikansi 0,000. Hasil ini menunjukkan (Fhitung = 543,062 > Ftabel = 3,17 atau p = 0,000 < α = 0,05).
2. Ada pengaruh positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SMA Nasional Pati, yang ditunjukkan thitung sebesar 4,625 dan ttabel sebesar 1,673
dengan nilai signifikansi 0,000. Hasil ini menunjukkan (thitung = 4,625 > ttabel = 1,673 atau p = 0,000 < α = 0,05).
3. Ada pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal terhadap kinerja guru SMA Nasional Pati, yang ditunjukkan thitung sebesar 2,653 dan ttabel sebesar 1,673 dengan nilai signifikansi 0,000. Hasil ini menunjukkan (thitung = 2,653 > ttabel = 1,673 atau p = 0,000 < α = 0,05).
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Revisi). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Cangara, Hafied. 1998. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Depdiknas. 2003. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI.
Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu Komunikasi, Teori dan Prakek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://meetabied.wordpress.com/2009/12/24/gaya-kepemimpinan/ diakses pada tanggal 13 Maret
2013.
Imam Ghozali. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Kartono, Kartini. 1998. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Press.
Kholis, Nur. 2010. Manajemen Berbasis Sekolah, Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo. Moeheriono. 2009. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Muhammad, Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyana, Deddy. 2010. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E, 2007, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009
tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. 2005. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: CV. Eka Jaya.
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona., Jakarta: Sinar Grafika.
P. H, Slamet. 2008. Karakteristik Kepala Sekolah Tangguh. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025 Tahun ke-6, September 2008.
Purwanto, Ngalim. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rifa’I M. Moh. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Jemmar.
Siagian, P. Sondang. 2008. Manajemen Sumberdaya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Susilawati. 2011. Pengaruh Kegiatan Pelatihan Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sekolah Menengah Atas Se-Kecamatan Tarogong Kidul Garut. Skripsi UPI Bandung Tidak Diterbitkan.
Sutarto. 1998. Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sutisna, Oteng. 2007. Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek Prof esional. Bandung: Angkasa.
Toha, Miftah. 2009. Kepemimpinan Dalam Manajemen Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta: Rajawali Pers.
Wahab, Abdul Aziz. 2008. Anatomi Organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta.