BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kondisi Geografi
Sumber: Bappeda Kab. Semarang (2013b) Regunung
Regunung merupakan sebuah desa di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, yang memiliki luas wilayah 347,2 Ha terdiri dari 7 dusun, dengan jumlah penduduk 4.432. Terletak pada ketinggian 650 mdpl, sedangkan topografi wilayah Desa Regunung terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Suhu udara di Desa Regunung mencapai 27 derajat celcius dan minimum 15 derajat celcius (Data Kelurahan Regunung).
2. Sejarah Desa Regunung
Sejarah Desa Regunung menurut Bapak Ahmad Syaidhu (85tahun) dan Bapak Marjoko (70 tahun), yang merupakan sesepuh Desa mempercayai bahwa Desa Regunung pertama kali di huni oleh Nyai Wono Kasian, yang sampai saat ini masyarakat percaya bahwa makam Nyai Wono Kasian ini berada di Desa Regunung
tepatnya di pemakaman yang di beri nama pemakaman Wono Kasian. Tetapi makam Nyai Wono Kasian ini tidak di beri tanda, namun masyarakat meyakini bahwa letak pemakamannya tepat di bawah pohon Jambe. Dari keterangan salah satu narasumber yaitu Bapak Ihsan Nudin (58tahun) yang merupakan mantan lurah Desa Regunung, beliau berkata bahwa asal usul nama Desa Regunung, yaitu karena desa ini terletak di antara pegunungan dan bukit. Lalu Nyai Wono Kasian memberi nama desa ini dengan nama Regunung.
3. Kependudukan
Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari arsip data kelurahan Desa Regunung berupa data kependudukan pada tahun 2019. Total jumlah penduduk Desa Regunung 4.432 orang. Kepadatan penduduk berdasarkan jenis kelamin, kepercayaan, pendidikan, pekerjaan dapat dilihat sebagai berikut:
a. Jumlah penduduk Desa Regunung berdasar kelamin tahun 2019:
Laki-laki Perempuan
2.227 orang 2.205 orang
Sumber: arsip data keluraham Desa Regunung b. Jumlah penduduk Desa Regunung berdasar agama/kepercayaan tahun
2019:
Berdasarkan agama Laki-laki Perempuan
Islam 2.171 2.149
Kristen 20 19
Budha 36 37
Sumber: data keluraham Desa Regunung c. Jumlah penduduk Desa Regunung berdasarkan pendidikan tahun 2019:
Berdasarkan pendidikan Jumlah Tidak/belum sekolah 920 orang Belum tamat SD/Sederajat 278 orang Tamat SD/Sederajat 1.859 orang
SLTP/Sederajat 811 orang
SLTA/Sederajat 489 orang
Diploma I/II 2 orang
Diploma IV/Strata I 52 orang
Strata II 3 orang
Sumber: data keluraham Desa Regunung d. Jumlah penduduk Desa Regunung berdasarkan pekerjaan tahun 2019:
Berdasar pekerjaan Jumlah Belum/tidak bekerja 829 orang Mengurus rumah tangga 321 orang
Perdagangan 39 orang
Petani/pekebun 575 orang
Karyawan swasta 1.552 orang
Karyawan BUMN 3 orang
Buruh harian lepas 156 orang Buruh tani/pekerbunan 5 orang Pembantu rumah tangga 15 orang
Tukang kayu 1 orang
Tukang jahit 2 orang
Mekanik 1 orang
Guru 9 orang
Bidan 1 orang
Sopir 2 orang
Pedagang 11 orang
Perangkat desa 8 orang
Kepala desa 1 orang
Wiraswasta 346 orang
Sumber: data keluraham Desa Regunung
B. Mitos Keharusan Bayi Digendong Saat Sebelum Sampai Sesudah Magrib di Desa Regunung
Mitos ini berkembang sudah sejak dahulu Bapak Suwarno (74 tahun). Menurut seorang tokoh masyarakat yaitu Bapak Rosyid Alwi (45 tahun) mitos keharusan bayi digendong saat sebelum sampai, sesudah Magrib ini di percaya atau dilakukan sudah sejak jaman leluhur kita. Beliau berkata bahwa naluri ibu saat perubahan terjadi dari terang menjadi gelap atau saat sebelum sampai sesudah Magrib, sang lemah
membutuhkan pelukan, sentuhan dan seorang bayi masih sangat bergantung pada ibunya. Naluri ibu, saat itu melindungi bahkan hampir semua mahkluk hidup saat pergantian terang ke gelap ibu/induknya pasti mendekap anaknya untuk melindungnya, karena selain terjadi perubahan alam yang terang menjadi gelap, terjadi perubahan suhu, terlebih jaman dulu belum ada listrik, agar terhindar dari bahaya malam, dan hewan buas, rumah-rumah pada jaman dulu tidak seperti rumah bangunan sekarang. Dibandingkan jaman sekarang dengan jaman dulu kondisinya sudah berbeda. Yang dulunya tidak ada listrik sekarang sudah ada listrik, yang dulunya rumah-rumah hanya berdiri seadanya atau dapat dikatakan tidak aman karena bangunan yang tidak rapat atau tidak kokoh, saat ini mayoritas rumah-rumah sudah berdiri layak, nyaman dan aman terlebih sekarang ini hampir tidak ada hewan buas yang berkeliaran bebas dan dapat masuk ke dalam rumah. Masyarakat jaman dulu atau leluhur kita dulu percaya dengan hal-hal spiritual atau mahluk-mahluk gaib dan ada cara-cara bagaimana kita dapat hidup selamat dari gangguan mereka. Walaupun sekarang sudah tidak se-ekstrim dahulu, tetapi sedikit banyak di jaman yang modern ini masyarakat masih percaya dengan hal-hal spiritual atau mahluk-mahluk gaib yang berada disekitarnya. Tradisi-tradisi yang diwariskan turun-temurun melalui lisan masih di percaya dan diterapkan oleh masyarakat. Tradisi yang diwariskan salah satunya keharusan bayi digendong saat sebelum, sampai sesudah Magrib.
Salah satu narasumber dari seorang dukun bayi yaitu Ibu Suparti (75 tahun) seorang bayi bila waktu Magrib akan tiba harus digendong atau dipangku dan boleh diletakkan bila waktu Magrib sudah berlalu supaya bayi terhindar dari hal-hal buruk dan selamat. Dengan syarat jika bayi sedang tidur saat itu harus dibangunkan. Sejak kapan tradisi ini dilakukan, Ibu Suparti tidak mengetahuinya, tetapi pertama kali beliau mengetahui informasi ini dari simbah atau neneknya. Ibu Suparti sebagai seorang dukun bayi yang membantu proses ibu-ibu melahirkan, merawat bayi yang baru lahir, mendem ari-ari, dan memijat bayi beliau selalu memberikan informasi atau tradisi tentang mitos keharusan bayi digendong saat sebelum, sampai sesudah Magrib kepada ibu-ibu yang beliau bantu, dan tak jarang orang yang di beri informasi tentang mitos tersebut sudah mengetahui mitos tersebut. Ibu Suparti bukan satu-satunya dukun bayi di Desa Regunung. Narasumber yang juga merupakan seorang dukun bayi yaitu Ibu Parmi (62 tahun) mengatakan hal yang sama seperti Ibu Suparti, beliau menceritakan selama beliau menjadi dukun bayi pada tahun 19-an pernah ada kejadian bayi yang meninggal, saat Magrib akan tiba bayi itu tidak digendong atau dipangku oleh ibu atau keluarga bayi tersebut karena lupa. Saat itu, menjelang Magrib bayi itu rewel atau terus menerus
menangis dan tidak lama kemudian bayi itu meninggal dan warna kulitnya berubah menjadi hitam. Saat pergantian terang ke gelap masyarakat percaya bahwa mahkluk-mahkluk gaib keluar dari dunianya. Bayi di percaya bisa merasakan adanya mahluk-mahluk gaib tersebut, dan seorang bayi perlu perlindungan. Perlindungan itu tidak terkhusus dari ibu tetapi anggota keluarga lain juga. Sejak lima tahun yang lalu pemerintah daerah Tengaran mengumpulkan semua dukun bayi di daerah Tengaran, untuk di beri bekal serta pelatihan jika dibutuhkan untuk membantu bidan dan diberi informasi jika tidak diijinkan lagi dukun bayi membantu persalinan tanpa bidan atau dokter. Dukun bayi hanya diperbolehkan untuk memotong tali pusar bayi, mengganti perban, memandikan bayi dan memijat bayi. Ibu Parmi berprofesi sebagai dukun bayi sudah 35 tahun selama itu beliau selalu mengingatkan dan memberi informasi tentang keharusan bayi digendong saat sebelum, sampai sesudah Magrib kepada ibu-ibu yang baru memiliki bayi. Jika ada bayi yang mengalami musibah atau gangguan dan yang mengalami percaya bahwa gangguan itu dari mahluk-mahluk gaib sebagian masyarakat ada yang meminta tolong kepada dukun atau yang sering di sebut orang pintar, adalah penganut Islam kejawen. Sebagian lainnya kepada kyai atau orang yang mendalami agama Islam, mereka adalah golongan Islam santri.
Salah satu narasumber yang saat ini memiliki bayi, yaitu Ibu Lina (32 tahun) berkata bahwa beliau mengetahui dan percaya dengan mitos keharusan bayi digendong saat sebelum, sampai sesudah Magrib yang beliau dengar dari ibunya.Ibu Lina juga berkata bahwa dukun bayinya juga memberikan informasi dan mengingatkan, bahwa saat sebelum Magrib bayi tidak boleh diletakkan di tempat tidur dan di tinggal sendiri sampai sesudah Magrib. Saat ini usia bayi Ibu Lina belum genap lima bulan. Dari lahir hingga saat ini beliau selalu menggendong bayinya ketika waktu Magrib akan tiba, dan jika beliau sedang mengerjakan sesuatu, bayi Ibu Lina digendong atau dipangku oleh ayah atau nenek bayi tersebut. Keterangan lain dari narasumber Ibu Tutik Nur S. (40 tahun) yang memiliki 2 anak dan Ibu Nur Khamaliyah (66 tahun) yang memiliki 4 anak, beliau juga mempercayai mitos keharusan bayi digendong saat sebelum sampai sesudah Magrib. Dahulu waktu anak-anak Ibu Tutik dan Ibu Nur masih bayi, beliau selalu menggendong atau memangku bayi mereka saat sebelum sampai sesudah Magrib. Karena beliau percaya bahwa apa yang diberikan atau diturunkan oleh leluhur mereka untuk tujuan yang baik.
Sumber dari internet memberikan informasi bahwa menjelang Magrib, warna alam berubah menjadi merah. Pada waktu itu, kita kerap mendengar nasehat orang-orang tua agar kita tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut benar karena saat Magrib tiba,
spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu menjelang Magrib jin dan iblis amat bertenaga karena mereka beresonasi atau ikut bergetar dengan warna alam. Orang-orang tua juga bernasehat bila sedang berada dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan solat Magrib. Menjelang waktu Magrib banyak interferens atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama (https://www.hipwee.com/list/waktu-salat-dan-energi-alam).
Dari hasil wawancara dan keterangan narasumber dapat disimpulkan bahwa, masyarakat Desa Regunung percaya dengan mitos keharusan bayi digendong saat sebelum, sampai sesudah Magrib. Mulai dari masyarakat yang sudah berusia lanjut sampai masyarakat yang masih berusia muda. Mereka mendengar atau mengetahui mitos tersebut dari orang tua mereka, atau dari dukun bayi yang membantu persalinan dan memijit bayi mereka yang selalu mengingatkan bahwa saat sebelum Magrib tiba sampai sesudah Magrib bayi harus digendong atau dipangku. Mereka percaya bahwa tradisi yang diturunkan oleh leluhur mereka itu, memiliki tujuan yang baik. Demikian juga dengan mitos ini, yang diyakini untuk menjaga keselamatan bayi. Walaupun saat ini sudah jaman modern tetapi tradisi lama itu masih terus dilakukan atau dilestarikan.