• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Kehilangan Penerimaan Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Potensi Kehilangan Penerimaan Negara"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Potensi

Kehilangan

Penerimaan Negara

dari

PNBP

Kayu

Legal

di

Indonesia

Sonny

Mumbunan

PusatEisetPerubahanIklim, UniversitasIndonesia

(E-mail:

[email protected])

Riko

Wahyudi

(2)

ABSTRAKSI

Hu(an tropismerupakan sumberpentingpenerimaan keuanganpublik. Risetjangmelihat potensipenerimaan

darirenteekonomi kayulegal, celahantarapotensidanrealisastpenerimaan,danpadasaatbersamaan mengaitkan pokok-pokokini dengan administrasi rantaipenerimaan sektorkehutanan, belum ada. Kajianinimerupakan

salah satu kajianpertamayangsecara sistematis melihatpada hubungan tersebut. Menggunakan data resmi,

kajianinimengevaluasiProvisiSumber

Daya Hutan

(PSDH)

dan

Dana

Reboifosi(DR), duadariPenerimaan

Negara

Bukan

Pajak

(PNBP)

Kehutanan terpenting di Indonesia.

Hutan

tropis Indonesia terancam tingkat

deforestasiyangtinggi,salah satupenyebabutamanyadaripemanfaatankayukomersial,danIndonesiamerupakan salah satu karbon emitter terbesardidunia darideforestasi dan deg-adasi hutan. Hasilkajian menunjukkan

bahwa realisasipenerimaan

PNBP

Kehutanan tidak mencerminkanpotensinya, dengan dua temuan menarik. Pertama, rata-rata tertimbangpenerimaan

PSDH

hanya

47%

daripotensinya dan akan lebih rendah la^ manakalamenggunakanasumsi hargapasar.Kedua,penerimaan

DR.

menunjukkanpolayangkontra-intuitif—

rata-ratatertimbangrealisasipenerimaanadalah

133%

dari potensinya. Kemungkinanpenjelasan dari

temuan-temuaninidiberikan

dabm

kaitannya dengan aspek-aspek penagihan,pembayaran danpelaporan. Padakajian

inididiskusikanjugarelevansikebijakanberkenaan denganadministrasipenerimaan kehutanandanpenggunaan

instrumen

PNBP

dalammitigasiperubahaniklimberbasishutan

(REDD+).

Kata

kunci:

PNBP

Kehutanan;

PSDH;

Dana

Reboisasi; DistribusiManfaat;

REDD+.

ABSTRACT

Tropicalforestisanimportantsourceofpublicrevenues. Researchthat looksatthepotential revenuesjromrentsof

legaltimberanditsgap to collected revenues, whilemakingspeaftcreference totheadministration offorest revenue

chain, hasbeenmissing. Thisis one ofthe first studies thatsystematicallylookatsuch arelation. Usingofficial data,itassessestimberroyaltyfee

(PSDH)

andreforestationfund(DR),twomostimportantforestnon-taxrevenues

in Indonesia. The country's tropicalforestis underthreatofextensive deforestationparticularlyfrom commercial timberlogginganditisone oftheworld'slargestcarbonemittersfromdeforestationandforestdegradation. Result showsthat revenue realisationsdo notreflecttheirpotentialswith twointriguingjindings. First,

PSDH

revenues

representonly

47%

ofitspotential (weighted average) andare even much lowerwithmarketprice assumptions.

S

econd,

DR

revenueshowsacounter-intuitivepattern

itsrevenuerealisationis

133%

ofitspotential

We

provide

plausible explanationsforthesefindingsrelatingtoaspectsofbilling,paymentandreporting. Thispaperdiscusses

policyrelevance in terms offorestrevenue administration andtheuseofrevenue instrument in forest-based climate

change mitigation

(REDD+).

Keywords:

ForestRevenues,

Timber

Royalty,BenefitSharing,

REDD+,

Indonesia.

(3)

1. Pengantar

Hutan tropis memainkanperanpenting sebagaisumberpenerimaannegara(N)Chiteman dan

Lebedys, 2008). Penerimaan negara dari rente ekonomi sumberdaya hutan digunakan untuk

pembiayaan

pembangunan

dan pendanaan program publik di bidang kehutanan

maupun

non-kehutanan (Searle, 2007).

Di

Indonesia, secara

umum

penerimaan negara belum mencerminkan

potensipenerimaan (Kelly,2012).Penerimaan darihasilkayulegalhutantropis tergolongrendah dan jauh dari potensinya (Handadhari, 2005). Selain itu, negara kehilangan

Rp

2,5 trilyun dari

penerimaanbukanpajak(PNBP) Kehutananpertahun(KPK, 2013).

Penerimaan yang rendah turut

menyumbang

pada rendahnya

kemampuan

negara

menjalankan agenda publik. Pada era awal desentralisasi satu dekade lampau, besaran public

expendituresmisalnya untuk agenda lingkungan hidup

menurun

(Vincent dkk, 2002). Belakangan

ini, anggaran publik untuk aksi mitigasi perubahan iklim cenderung meningkat; sekitar

Rp

7,7 triliim tahun 2012, naik empat kaliHpat dibanding tahun 2009 (MoF, 2012). Kendati demikian, kapasitasnyamasih terbatas.Bila tingkatexpendituresepertipadasaatini(tahun 2010)

maka

hanya

sekitar

15%

penurunan emisiyangbisa dicapai dari targetrencana aksinasional emisigasrumah

kaca (ElAN

GRK),

termasukdidalamnyaemisi sektorkehutanan, (MoF,2012).

Infonnasi tepat dan

pemahaman memadai

tentang penerimaan sektor kehutanan

mudak

diperiukan untuk

pembenahan

tatakelola dan manajemen sektor kehutanan. Seberapa besar

potensidanrealisasipenerimaandarikayusertacelah(gaj})diantarakeduanya?

Apa

penjelasandari

celahpenerimaantersebut?Kajianinihendakmelihatrealisasidanpotensi

PNBP

kehutanandari dua kontributor terpenting sektor ini, yakni Provisi

Sumber Daya

Hutan (PSDPl) dan

Dana

Reboisasi (DR). Kajian inijugahendakmelihatdanmenjelaskan celah tersebutdalam tautannya dengansistemadministrasipenerimaan

PSDH

dan

DR.

Kajian ini merupakan salah satu studi pertama yang secara sistematis

mencoba

menjawab

pertanyaan-pertanyaan di atas baik di dalam literatur ilmiah

maupun

\mtukkonteks Indonesia. Sejauh ini, riset serupa yang ada sebatas melakukan estimasi potensi penerimaan kehutanan (misalnya

Kim

dkk, 2006) atau menyorot potensi kehilangan penerimaan kehutanan akibat

pembalakan^a.t/illegallosing(misalnya

Human

RightsWatch,2013)danbelummelihatkayulegal.

Kemungkinanpenyebab daricelah penerimaanpunhanya disinggungsekadamya.

Dalam

kajianinikami menunjukkan bahwa dengandataresmiKementerianKehutanandan

Kementerian Keuangan, nilairealisasi

PSDH

dan

DR

tidak mencerminkan potensipenerimaan.

Untuk

PSDH,

capaianrealisasipungutanlebihrendah, rata-ratatertimbanghanyasebesar

47%

dari potensipenerimaan. Kesenjangan realisasidanpotensiiniakanlebih besarlagimanakalapotensi

PSDH

dihitung berdasarkan harga pasaryang berlaku. Sebaliknya, penerimaan

DR

menunjukan

(4)

konfigurasiyang lebih kompleks dan bertentangan secara intxiisi: capaian realisasinya

malah

jauh

lebih titi^i, yaitu rata-rata tertimbang sebesar

133%

dari potensinya. Kecuali itu, kami juga

menunjuldtan bahwa, berbeda dengan fokus kajian-kajian penerimaan industri ekstraktif yang

cenderung hanya

menekankan

korupsi sebagaipenjelas (misalnya Carrdan Konstantinidou, 2012;

Tacconi dkk, 2009), hal

mana

merupakan

satu faktoryang

kami

anggap penting,

temuan-temuan

kajian ini juga

menyentuh

dimensi administratifyang lebih lebar berkenaan dengan penagihan,

pembayaran

danpelaporan dalamrantaipenerimaan kehutanan ditingkat alokasipenerimaan.

Tulisanini dimulai dengan paparan tentangkonteks penerimaan dari rente

ekonomi

hutan

di Indonesia (Bagian 2).

Kemudian

dilanjutkan dengan metodologipenelitian (Bagian 3).

Dalam

bagian anaHsis (Bagian4), hasil

temuan

terkaitpenerimaan dari

PSDH

dan

DR

dikupas satu

demi

satu. Hasil

temuan

tersebut lantas dikaitkan

dengan

diskusi seputarimplikasi kebijakanlebih luas

terkait administrasi penerimaan sektor kehutanan dan relevansi instrumen penerimaan dalam

upaya pengurangan emisidari deforestasi

dan

degradasihutan,

REDD+

(Bagian 5).

2.

Manajemen

penerimaan

darirente

ekonomi

hutan

di

Indonesia

Sebagaimana lazimnya dibanyaknegara tropis, pemilikresmi hutanadalah negara sehingga

pemerintah berusaha

memperoleh

bagian dari rente

ekonomi

dari pemanfaatan hutan melalui

sejumlah

skema

dan instrumen fiskal (Karsenty, 2010).

Dalam manajemen

penerimaan negara

(revenues) diIndonesia, renteyang bisa direalisasikan dari sektorkehutanan digolongkan ke

dalam

penerimaan pajak dan penerimaan non-pajak atau

PNBP

(Penerimaan

Negara

Bukan

Pajak).

Penerimaan darirentekehutanan digunakan

untuk

membiayai

expendituresdarifungsi-fungsipublik

yang terkaitsektorkehutanan

maupun

sektorini (Krott, 2005).

Penerimaan

negara dalam bentuk

PNBP

menjadifokus darikajianini.

Di

Indonesia,

PNBP

merupakan

sebuah

mekanisme

fiskal

yang

penting

untuk mendapatkan

rente dari pengusahaan

dan

pemanfaatan hasil hutan.

PNBP

Sumberdaya

Alam

Kehutanan

dikategorikankedalam duabentuk: (1)

PNBP

Kayu

dan

(2)

PNBP

Non

Kayu.

PNBP

PCayuterdiri

dari

empat

jenis pungutan

yang

meUputi penerimaan

bukan

pajak untuk reboisasi

(Dana

Reboisasi/DR),provisi

sumber

dayahutan

(PSDH),

izinusahapemanfaatanhasilhutan,dan

untuk

ganti rugi nilai tegakan. Sementara itu,

PNBP

Non

Kayu mencakup

objek

pungutan

lebih luas

(total 9 jenis pungutan) seperti

penggunaan kawasan

hutan

untuk

kepentingan non-kehutanan,

pelanggaran eksploitasihutan, pengangkutan

tumbuhan

alam,

dan

pengusahaanwisata alam atau

taman

buru.

Secara ideal, koleksi rente

ekonomi

dari pemanfaatan hutan dipungut pada setiap tahap

dalam rantai komoditi kayu yang meliputi pungutan area izin,

pungutan

jatah tebang tahunan.

(5)

pungutannilaivolumetegakan,pungutanvolumekayu yangditebang,pungutanvolumekayu yang sampaike logpond, pungutan volumekayu yangmasuk industri dan pungutan produk kayu yang diekspor(Karsenty, 2010).DiIndonesia,renteyangdikoleksiolehKementerian Kehutanan hanya

berlaku pada lahan konsesi dan volumehasil tebangan yang masukke tempat penimbunankayu

{logpond). Renteberbasislahan adalah luranIzin UsahaPemanfaatanHutan (IIUPH),sedangkan renteberbasisvolumekayuadalahProvisi

Sumber

Daya Hutan(PSDf-I) dan

Dana

Reboisasi (DR).

DR

sendirihanya dikenakan khusus untukpenebangan kayudihutan alam.

Dengan

rejimseperti

ini, pemerintah tak bisa sepenuhnya merealisasikan rente pemanfaatan hutan dari potensi seharusnya (Brown, 1999).

PSDH

dan

DR

merupakanfokusdaripenerimaan kehutanan yanghendakdilihatkajian im.

Dua

instrumenexpostyang

memungut

renteaktual/ terealisasidanpascapemanfaatanhasilhutan

(Brosio, 2006).

DR

dan

PSDH

merupakan

penyumbang

penerimaan yang signifikan di sektor kehutanan(Tabel1).

Tahun

2011,

DR

(56%) dan

PSDH

(27%)sama-sama

menyumbang

83%

dari

seluruhpenerimaan

PNBP

baikkayu

maupun

non-ka)ai

(Mumbunan

dan Wahyudi,2012).

Tabel 1.

PNBP

Kayu

dan

Non-Kayu

tahun2011.

Instrumen

PNBP

Target (milyarRp)

%

Realisasi (milyarRp)

%

PNBP

Kavu DanaReboisasi(DR) 1.279,18 43,51 1.822,92 55,95 ProvisiSumber Daya Hutan(PSDII) 1.359,05 46,23 868,55 26,66

luranIzinUsahaPemanfaatanHasilHutan(IIUPPI) 94,89 3,23 119;26 3,66

GantiRugiNilaiTegakan(GRNT) 0 0,00 97,29 2,99

PNBP

Non

Kayu

PenggunaanKawasan Hutan(PKH) 175,02 5,95 315,67 9,69 DendaPelanggaran EksploitasiHutan(DPEH) 0 0,00 4,25 0,13

luranMcngangkut/TumbuhanalamHidupatauMati(lASL/TA) 10,04 0,34 5,41 0,17 PungutanIzinPengusahaanPatiwisataAJam(PIPPA) 1,06 0,04 0,10 0,00 PungutanMasukObyekWisataAlam

(PMOWA)

17,15 0,58 24,56 0,75

luranHasilUsahaPengusahaanPariwisataAlam(IHUPA) 0,64 0,02 0,12 0,00

luranHasilUsahaPerburuandiTamanBuru(IHUPTB) 3,01 0,10 0 0,00

Total 2.940,04 100.00 3.258,16 100,00

Sumber: DataBiroKcuangan,SekertarisJcnderalKementerian Kehutanan(Mumbunandan Wahyudi,2012).

Di bawahsistemdesentralisasifiskalIndonesia, renteyangdikoleksinegaramelaluibeberapa

instrumen

PNBP

terpilih kemudian dibagiliasilkan kepada pemerintahan pusat, provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan skema dana bagi hasil sumberdaya alam

(DBH

SDA)

kehutanan.

PSDH

dan

DR

merupakandua

PNBP

yangdibagiliasilkan.

(6)

3. Aliran

penerimaan

dari

kayu

legal

Koleksi

PNBP

Kayu

meliputiserangkaian proses yang meticakupaliranpenerimaandanaliran

informasi. Proses bertahapinimeliputiaktivitaspenagihan,

pembayaran

danpelaporan

(Gambar

1).

Di

tahap penagihan, perusahaan

pemegang

izin pemanfaatan hutan

mengajukan

usulan

Laporan

HasU

Produksi

(LHP)

kepada pejabat pengesah laporan hasil produksi.

Yang

disebut

belakangan ini akan

mengesahkan

usulan tersebut serta

memberikan

dokumen

LHP

kepada perusahaan dansalinan

LHP

pada pejabat penagih. Selanjutnya, suratperintah

pembayaran

untuk

PSDH/DR

akan dikeluarkan oleh pejabat penagih

dan

menjadi dasar

pembayaran

PNBP.

Surat

ini ditembuskan kepadainstitusi-institusi kehutanan terkait di kabupaten/kota

dan

provinsi, unit

teknis Kementerian Kehutanan, serta pejabat penagih. Berdasarkan surat ini, perusahaan

membayar

PNBP

kepada

bendaharawan Kementerian Kehutanan yang kemudian menyetorkan

kepadakas negara.

Dari sisi informasi penerimaan, perusahaan

menyampaikan

laporan

pembayaran

iuran

kehutanan (LPIK) kepada dinas kehutanan kabupaten/kota,

dengan tembusan

kepada dinas

kehutanan provinsi dan unit teknis

Kementerian

Kehutanan. Dinas kehutanan kabupaten/kota

kemudian

menyampaikan

realisasi laporan

pembayaran

iuran kehutanan ini kepada dinas

kehutananprovinsi,

dengan

tembusan

kepada Sekjen, Ditjen

BUK

dan

Kepala

UPT

Kemenhut.

Laporan

gabungan

dari

semua

laporanini selanjutnya disampaikankepadaDirjen

BPK

Kemenhut

dengan

tembusan

kepada Sekjen

Kemenhut

dan dilaporkan kepada Menteri Kehutanan. Secara

institutional,

dalam

keseluruhan proses ini

yakni,

dalam

aktivitas penagihan,

pembayaran

dan

pelaporan

aliran penerimaan dan aliran informasi hanya melibatkan lembaga-lembaga

yang

terkait

dengan

kehutanan.

(7)

L

5. S.

a

CD

s

(8)

3.

Metodologi

Simulasi perhitungan potensi nilai Provisi

Sumber Daya

Hutan

(I'SDH) dan

Dana

Reboisasi

(DR)

dariproduksikayu tahun 2007-2012

menggunakan

fonnula dantarifyangberlaku

disektorkehutanan.

Data

simulasi

menggunakan

datasekunderyangditerbitkan secararesmi oleh

lembaga pemerintah terkait.

Dalam

proses simulasi digunakan beberapa asumsi karena

keterbatasan dan ketidakselarasan data antar lembaga pemerintah. Hasil simulasi selanjutnya

dibandingkan dengan nilai

PSDH

dan

DR

pada perkiraan alokasi

dan

alokasi dana bagi hasil

sumber

daya alam kehutanan yang diterbitkan oleh Menteri

Keuangan

pada tahun kajian

untuk

melihat kesenjangan antara potensi dan realisasinilai

PSDH

dan

DR.

Berikutasumsi-asumsi

dan

formula dalamperhitungan

PSDH

dan

DR.

a.

Asumsi-asumsi

Simiolasi perhitungan

PSDH

dan

DR

dari kayu bulat tahun 2007-2012 dilakukan dengan

menggunakan

datadan asumsi-asumsiberikut

Produksikayu

Data

produksikayubulat 2007-2012diperolehdariStatistik

Kehutanan

2012.

Data

produksi

kayu yang tercantum padaStatistik

Kehutanan

2012adalahdatarealisasiproduksikayu pada tahun

2007-2012 (lihatTabel2).Berdasarkanukuran,kayubulatdibedakan menjadi kayubulat (diameter

>

30

cm)

dan kayubulatkecil(diamater

<

30cm).Berdasarkan

sumber

produksikayubulat berasal

dari:

(1)Izin

Usaha Pemanfaatan

Hasil

Hutan

Kayu Hutan

Alam

(lUPPIHK-HA).

(2)IzinPemanfaatan

Kayu

(TPK) dan IzinLain

yang

Sah(DLS).

(3)

Perum

Perhutani.

(4)Izin

Usaha

PemanfaatanHasil

Hutan

Kayu Hutan

Tanaman

(lUPHHK-HT).

(5)

Sumber

Lainnya (termasuk kayu rakyat dari

Hutan

Tanaman

Rakyat/HTR,

Hutan

Kemasyarakatan/HKm,

dan kajmIain-lain).

Tabel2.Rekapitulasiproduksikayubulatberdasarkan

sumber

produksitahvin 2007-2012.

SumberProduksi

Tahun HutanAlam HutanTanaman Sumber Jumlah

lUPHHK-HA

IPK/ELS Perhutani

rUPHHK-HT

Lainnya Qutam^)

yutam^) Quta m') (ribum^) (jutam') (jutam')

2007 6,44 4,39 48,03 20,61 0,71 32,20 2008 4,63 2,76 97,48 22.32 2,19 32,00 2009 4,86 6,62 87,83 18,95 3.80 34,32 2010 5,25 14,49 98,00 18,56 3,72 42,11 2011 5,09 0,60 112,86 19,84 21,79 47,43 2012 5,14 0,75 142,46 26,13 17,10 49,26

(9)

Sumber:DircktoratBPPHH,DitjenBinaUsahaKchutanan(2012).

Padapenelitian ini, kayu bulatkedl diasumsikan hanya berasal dariIPK/ILS. Sementara, kayu bulat berasal dari

lUPHHK-HA, lUPHHK-HT,

Perhutani,

Sumber

Lainnya (HTR,

HKm

dan Iain-lain), termasuk pula dari IPK/ILS. Bobot kayu per jenis untuk kayu yang berasal dari

lUPI-IHK-HA

diperoleh daridataBadanPusatStatistik(2012).

Dejinisikayu

Dalam

simulasi

PSDH,

kayumerujukpadasemuakayu yang menjadi obyekpungutan,yaitu

kayu darihutan alam,hutan tanaman, dan hutan tanamanrakyat

maupun

kawasan hutanlainnya

yangtnana wajibkena pungutan

PSDH.

Dalam

simulasi

DR,

kayumerujukpadasemuakayu yang

diambil ataudipunguthanyadarihutanalam.

Ven^olongankayu,harga, dantarif

Pungutan

PSDH

mengacu

padaPeraturanMenteriPerdagangantentang hargapatokankayu perjenis.'Hargapatokan kayuyangdigunakanuntuk masing-masingsumbersebagai berikut •

Kayu

dari

lUPHHK-HA

men^;unakan hargapatokan kayu bulatperjenis untuk kawasan I

(Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Maluku).

Kayu

bulat per jenis diperoleh dengan mentransformasi produksi kayu secara keseluruhan dikalikan dengan bobot kayu per jenis

tersebutmenurutpangsanyadalam produksi kayukeseluruhantahunkajian.

Kayu

dari

IPK/ILS

berdasarkanukurannyadibagimenjadidua,yaitukayubulat(diameter

>

30

cm) dankayubulatkedl(diameter

<

30cm) denganproporsi50:50.

Kayu

bulatkedliniberasal

daripenebangankayuvmtukpersiapanlahanHutan

Tanaman

Industri(HIT)dan pembersihan lahanimtukkegiatanpertambangan dikawasanhutan. Selanjutnya,kayubulat (diameter

>

30 cm) dikelompokkan lagimenjadijenis Meranti dan

Rimba Campuran

dengan proporsi 50:50.

Kayu

bulat menggunakan harga patokan kayu bulat Meranti dan

Rimba Campuran

untuk

kawasanIdan kayubulatkecilmenggunakanhargakayudiameterkurangdari30 cm.

Kayu

dariPerhutani berdasarkanjeniskayuyangdiproduksidibagimenjadidua kelompok,yaitu

Kayu

Jati dan

Kayu Rimba

dengan proporsi 50:50.

Kayu

Jati (Tectonagrandi^) adalahproduk

utama Perhutani yang berkontribusi sebesar

50%

dari total produksi kayu. Sementara,

50%

produksi kayu lagi berasal dari kayu rimba, seperti Mahoni {Smietenia macropjhlld), Rasamala

(Aldnffaexelsd),Sonokeling (Dalbergialatifolid),Pinus {Pinusmerkusit),

Damar

(/{gathisdammard), Akasia {Acaciamangium),Sengon {Paraserianthes falcatarid), dan Johar {Cassiasiamea).

Kelompok

'I,ampiran Peraturan McntcriPerdagangan RcpublikIndonesiano.8/M-DAG/PliR/2007tentangPcnctapan Haiga PatokanUntukPcthitunganProvisiSumber Daya Hutan (PSDH) KayudanBukanKayu.

(10)

Kayu

Jati

menggunakan

harga patokan

Kayu

Jati Perhutani dan

kelompok

Kayu Rimba

menggunakan

hargapatokan rata-ratadari

kelompok

Kayu Rimba

Perhutani.

Kayu

dari

lUPHHK-HT

dan

Sumber

Lainnya

dikelompokkan

menjadi

Kayu

Meranti dan

Rimba Campuran

dengan proporsi 50:50.

Harga

patokan

menggunakan

harga patokan kajni

Meranti dan

Rimba Campuran

untukkawasanI.

Pada

Bagian 5, simulasi

PSDH

menggunakan

harga pasar kayu domestik

dan

intemasional untuk kurun 2008-2012 dari data Global

Wood

Trade Network.

Harga

rata-rata kayu Merantidi pasar

dalam

negerimenjadiacuan hargapasardomestik. Merantidipilihkarenamewakilijeniskayu

yangtersebar luas di Indonesia dan

produk

utama

pengelolaan hutan produksialam.

Harga

kayu

intemasional

menggunakan

pendekatan harga ekspor rata-rata kayu bulat Meranti di

Serawak

(FOB)

mengingattidakada hargakayubulatintemasionalIndonesia (karena laranganekspor kayu

bulat).

Tarif

DR

mengacu

PeraturanPemerintahtentangtarifjenis

PNBP

kehutanan

dan

dikenakan

pada

kayu dari

lUPHHK-HA

dan

IPK/ILS."Tarif

untuk

lUPHHK-HA

menggunakan

jeniskayu

untuk

Kalimantan

dan

Maluku.Sementara,kayudari

IPK/ILS

dibagi

dua

kelompok

(1)kayubulat

dan (2) kajm bulat kecil,

dengan

proporsi 50:50.

Kayu

bulat lalu

dikelompokkan

menjadi jenis

Meranti

dan

Rimba Campuran

(keduanya

menggunakan

tarif

untuk

wilayah Kalimantan

dan

Maluku)

dengan

proporsi 50:50.

Kayu

bulat kecil

men^;unakan

rata-rata tarif

DR

untuk kayu berdiameterkurangdari30 cm.

Nilaiperkiraan

Nilai

PSDH

dan

DR

perkiraan

mengacu

pada

PeraturanMenteri

Keuangan

(PMK)

tentang perkiraanalokasidanabagihasil

sumber

dayaalamkehutanan.

PMK

perkiraan ditetapkan

dengan

mempertimbangkan

realisasi penerimaan

sumber

daya alam kehutanan per daerah selama tiga

tahun

an^aran

terakhir.

Pada

peneUtianini,

kami

men^;unakan

nilai

PMK

perkiraan sebagainilai

perkiraan.

Nilairealisasi

Nilai

PSDH

dan

DR

alokasi

mengacu

pada

Peraturan Menteri

Keuangan

(PMK)

tentang alokasi dana bagi hasil

sumber

daya alam kehutanan.

PMK

alokasi -adalah realisasi penerimaan periodeJanuari-Oktobertahunbersangkutan.

Untuk

menentukan

penerimaanperiode

November-Desember

digunakan nilai dana cadangan

PSDH

dan

DR

yatig tercantum

dalam

PMK

alokasi

tersebut

Pada

penelitianini,

kami

menggunakan

nilai

pada

PMK

alokasi sebagainilairealisasi Nilaipotensi

2Lampiran PeraturanPemerintah no.92 tahun 1999 tentang Tarif AtasJenLs

PNBP

yangBeriakuPada Departcmcn Kehutanan danPerkcbunan.

(11)

Nilaipotensi

PSDH

dan

DR

adalahtiilaihasilperhitungan (simulasi)

PSDH

dan

DR

pada tahun kajian dengan mengacu pada data produksikayu bulat dan formula pungutan

PSDH

dan

DR

yangditerbidcanolehKementerian Kehutanan. Kurs

USS

terhadapRupiah

Tarif

DR

menggunakan

US$

bilamerujuk padaperaturanyangberlaku.Padapenelitian ini,

kurs

US$

terhadap rupiah diperolehdenganmerata-ratanilai kurs selama 6 (lima) tahunterakhir. Kurs

US$

terhadap rupiahdiasumsikansamauntuksetiap tahunkajian,yaitu

US$

1

=

Rp

9.900.

a.

Formula

Definisidan formula dalam pengenaan

PSDH

dan

DR

dari produksi kayumengacupada PeraturanMenteriKehutanan.Berikut penjelasandan formula dari

PSDH

dan

DR.

Provisi

S

umberDaya Hutan

(PSDH)

PSDH

adalah pungutan yang dikenakan sebagai penggantinilaiintrinstik dari hasil hutan,

balkkayu danbukan kayu,yangdipungutdari kawasanhutan. Formulapengenaan

PSDH

untuk

hasilhutankayu:^

PSDH

=

Volumekayupada

LHP

x

tingkatpungutan

x

harga

Hargapatokan kayuyangmenjadidasarpimgutan

PSDH

mengacu

padaPeraturanMenteri Perdagangan (Permendag) RINo.

08/M-DAG/PER/

2007 yangberlakuselamatahunkajian.

DanaReboisasi(DR)

Dana

Reboisasi adalah dana untuk reboisasi dan rehabiEtasi hutan serta kegiatan

pendukungnya yang dipungut dari

pemegang

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan

Kayu

(lUPHHK)

darihutanalam."*Formulapenerimaan

DR:

DR

Volumekajiu

x

tarif

Volume

kayumengacupada

LHP

untukizindengan sistemTebangPilih

Tanam

Indonesia

(TPTI) dan mengacu pada Laporan HasLl Cruising(LHC) untukizin selain dengansistemTPTI.

JKcputusanMenteriKehutanan No. 124/Kpts-II/2003tentang PctunjukTcknis Tata Cara Pengenaan, Pcmungutan,

Pembayaran dan Penyttoran PSDII,Pasal 1.

'Keputusan

MenteriKehutananNo.128/Kpts-II/2003tentangPctunjuk TcknisTataCara Pengenaan, Pcmungutan, Pembayaran,dan Penyetoran DanaReboisasi,Pasal 1

.

(12)

TPn

adalah sistem

penebangan

dengan memilih kayu-kayu yang berdimater besar (> 50

cm)

berdasarkan hasilinventore kawasanhutan.

Dalam

sistem

TPTI

hanya 6-8

pohon

sajaper hektar

yangditebang (Primack danCorlett, 2005).Sementara,

Laporan

HasilCruising

(LHC)

adalahhasil

inventore tegakan hutan sebelum hutan tersebut ditebang.

4. Analisis

4.1.

Penerimaan

Provisi

Sumbet Daya Hutan

(PSDH)

a.

Temuan

Hasil simulasi

menunjukkan

bahwa

nilai perkiraan

dan

realisasi

PSDH

yang

mengacu

pada Peraturan Menteri

Keuangan

(PMK)

masih jauh dari nilai potensi penerimaan yang seharusnya.

Perkiraan penerimaan

PSDH

dari 2007-2012 hanya sebesar

57%

pada

rata-rata capaiannya terhadap nilaipotensi

PSDH.

Adapun

untukrealisasipenerimaan

PSDH

lebihtimpanglagi,yaitu sebesar

47%

pada rata-rata capaiannya terhadap nilai potensi

PSDH

yang

seharusnya diperoleh negara (Tabel3).

Tabel3.Perbandingannilai

PSDH

perkiraan

dan

realisasi

dengan

nilai

PSDH

potensi 2007-2012

PSDH

kayu dan non-kayu Selisih Selisih

PSDH

PSDH

PSDH

realisasi (milyar Rp)

PSDH

PSDH

PSDH

perkiraan realisasi

,

PSDH

lahun , . perkiraan

potensi perkiraan realisasi terhadap terhadap

(milyar dengan dengan

PSDH

PSDH

(tnilyarRp) Rp) potensi potensi potensi potensi

(milyarRp) (milyarRp) (%) (%) 2007 1.217 1.500 283 81 2008 1.499 969 1.520 21 551 99 64 2009 1.249 833 1.546 297 713 81 54 2010 597 799 1.748 1.151 949 34 46 2011 893 856 2.324 1.431 1.468 38 37 2012 791 999 2.363 1.572 1.364 33 42 Rata-ratatertimbang 57 47 Keterangan: Nilai

PSDH

perkiraandanrealisasiadalahnilai

PSDH

kayudannon-kayu.Nilai

PSDH

potensiadalah

nilai

PSDH

kayasaja.

Capaian realisasi

PSDH

tertinggi terjadipada 2008,yaitu

64%

daripotensi

PSDH

dengan

selisih nominalsebesar

Rp

551 milyar. Capaianrealisasi

PSDH

terendah terjadi

pada

2011, yaitu

hanya

37%

dari nilaipotensi

PSDH

dengan

selisih nominal

mencapai

Rp

1,4 triliun. Perlu dicatat

bahwa

nUai

PSDH

pada

PMK

adalahnilai

gabungan

PSDH

Kayu

cian

PSDH

Non-kayu. Sementara

nilai

PSDH

dalam

simulasihanya

menunjukkan

nilai

PSDH

Kayu

saja.Nilaikesenjanganinitentu

akanlebih besarlagi manakala dalamsimulasi

men^unakan

nilai

PSDH

Ka)ai dan

Non-Kayu.

Tren

kesenjangan realisasi penerimaan

PSDH

terhadap potensi penerimaan

PSDH

terus

meningkat dari 2008-2011.

Tren

ini diikuti juga dengan tren produksi kayu bulat

yang

terus

(13)

47 juta m-*. Pack tahun 2011 ini pula terjadi kesenjangan terbesar realisasi penemnaan

PSDH

terhadap potensipenerimaan

PSDH

(Gambar2).Namiin,trenkesenjanganinimenurunpada 2012 yangdiikutipuladenganpenurunan produksikayubulatpada tahun tersebutPada2012capaian

realisasi

PSDH

terhadap potensi

PSDH

naiksebesar 5%,yaitu mencapai

42%

(37%pada 2011). Sementara,kesenjanganterkecil realisasipenerimaan

PSDH

terhadap potensipenerimaan

PSDH

terjadipada tahun 2008, saat prodiaksikayu hanya 32 juta

m^

atauproduksiyangterkecil selama tahun kajian.

Dengan

kata lain, selama durasi 2008-2011, semakin meningkat produksi kayu semakinbesar juga potensi kehilangan negaradariinstumen

PSDH.

Gambar

2.Grafikperbandingannilai perkiraandanrealisasi

PSDH

kayu dan non-kayu dengan

ni1aipotensi

PSDH

kayu (hasilsimulas^tahun 2007-2012

2.500

PSDH

Potensi Pi 2.000 1.500 1.000 500

PSDH

Realisasi

PSDH

Perkiraan 2007 2008 2009 2010 2011 2012

b. Penjelasanhasil

temuan

Terdapat beberapa kemungkinan untuk menjelaskan temuan di atas. Penjelasan di sini

mengacu

padacelahyang munculdalamsetiap tahapdalamaliranpenerimaan daninformasidan

ektraksisumberdayahutankayu,sepertidiuraikan sebelumnya dalam Bagian4.

Tahappenagihanfbillingj

Pertama, penagihankewajiban

PSDH

untuk kayulelangdibawahhatga patokan.

Kayu

lelang adalahkayuhasil temuanatau sitaan tanpaizinyanglegal.Sejauh ini, tidakada besaranpungutan

PSDH

yang pasti untuk kayu lelang temuan dan sitaan (Kementerian Kehutanan, 2005). Total

(14)

pungutan rata-rata

PSDH,

DR

dan retribusi daerah,

menurut

Kementerian

Kehutanan

(2005)

hanya

Rp

161.850/m^ kayu. Pungutan ini tergolongrendah dan jauh dari yangsepatutnya, untuk

palingkurang duaalasan: (1) pungutan

PSDH

dan

DR

sajauntuk kayujenisMerantibila

mengacu

ke harga patokan yang berlaku mencapai sebesar

Rp

218.400/m'

kayu (nilai ini

belum

termasuk

pungutanretribusi daerah);dan(2) potensi

mendapatkan

rente

ekonomi

lebihbesarbilapungutan

merujuk pada harga pasar (liliat Bagian 5).

Menurut

APHI

(2012), kayu lelanghasil

temuan

dan

sitaaninidapatsaja

masuk

dalam

laporanproduksikayu

Kementerian

Kehutanan dalam

kategori

kayu dari

Sumber

Lainnya. Tetapi, darilaporan resmi

Kementerian

Kehutanan

tidak disebutkan

secara pasti berapa jumlah (m^) dan porsentase kayu lelang tersebut ImpUkasi bagi simulasi,

perhitungannilai

PSDH

Kayu

mungkin

menjadilebilibesardarirealisasikarena

untuk

kayu

dalam

kategori

Sumber

Lainnya tetap

menggunakan

tarifuntuk kayulegalsesuaiperaturan.

Implikasilaindiluar simulasi,pertama, pihakperusahaan

menghemat

biayaproduksikarena

tidak perlu

membayar

biayainventore hutan. Kedua,proses kayulelangini bisamenjadi sebentuk

mekanismeformalisasinntok kayu"non-formal".

Dalam

ekonomi

informal,legalitas

merupakan

salah

satu definingcriteriauntuk

memisahkan

mana

yang

formal

mana

yang

tidak

(Mead dan

Mortisson,

1996).

Pembayaran

PSDH

dan

DR

untuk kayu-kayuilegal(yangdisitalantas dilelang)bisamenjadi jalanmengatasimasalahlegalitas.Iniagakserupa

dengan

pembayaran

retribusikayuoleh

pembalak

liardiKalimantan

untuk

menjadi"legal" (Casson

dan

Obidzinski, 2002).

Kedua,tidakadapungutan

PSDH

bagikayuyangterdapatpadaareal

IPK/ELS

kategoritidak

ekonomis, yakni areal di

mana

volume

tegakan atau kayu berdiameter

>

30

cm

yang ada di dalamnyatidak lebih dari 50 m^.^

Meskipun

kayu tersebutbemilaiekonomi, tetapikarena berada

padaareal

EPK/ELS

yang

tidakekonomis,

maka

tidakdikenakanpvingutan

PSDH.

Di

sisilain,kayu

bulat kedl (diameter

<

30

cm)

dari

IPK/ILS

yang

masuk

kategori

ekonomis

pun, dikenakan pungutan

PSDH

hanya

1%

dariharga patokan.*

Pada

simulasiini,perhitunganntlaipotensi

PSDH

berasumsi

bahwa

semua

kayudari

IPK/ILS

adalahkayudari

IPK/ILS

kategoriekonomis,

sehin^a

nilaipotensi

mungkin

lebihbesardarinilairealisasi

Ketiga,penghitungan kewajiban

PSDH

mengacu

padahargajualke perusahaanpengolahan kayu hulu yangberasal dari

kelompok

usaha

yang

sama,

bukan

pada harga patokan

Kementerian

Perdagangan. Praktik seperti ini

masih

dilakukan oleh beberapa

HPH,

misalnya di provinsi SumateraSelatandan Riau (Ginogadkk,2001).

Harga

jualdari

HPH

keindustripengelolaan kayu hulu dibuat lebih rendah dari harga patokan {benchmarkprice). Praktik ini

merupakan

sebentuk

transferpricingyang merugikan negara dari sisipenerimaan. Terkait simulasi, apabila (a) harga jual

5Peraturan MentcriKehutanan no.P14/Mcnhut-II/2011 tentangIzinPcmanfaatan Kayu,Pasal 21.

^'I^mpiranPeraturanPemcrintah

no.59 tahun 1998tentangTarif AtasJcnLs

PNBP

yangBerlakuPadaDcpartcmcn Kehutanan danPcrkcbunan.

(15)

berfluktxiasi tetapi tetap di bawah harga patokan dan (b) rincian kayu, seperti dalam kasus

di

SumateraSelatandanRiau,ddakdiketahui secarapasti,

maka

akanmenyulitkan perhitungan

PSDH

secara tepat.Seliingga,nilaipotensi

PSDH

dalamsimulasiakan lebihtinggi.

Tahappemhayaran

Pelanggaranpengusahaan hutan lumrahterjadi disektorkehutanan, termasuk pembayaran

PSDH

oleh perusahaan yanglebihrendah dibandinghasil produksi. Penyogokanbisa dilakukan untuk menutupi pelanggaran tersebut (Til, 2011). Pembayaran

PSDH

tidak langsung ke kas negara, melainkan lebih dahulu disetor ke rekening bendaharawan Kementerian Kehutanan dengantembusanke DinasKehutananProvinsidan Kabupaten/Kota. Halinimungkin mengarah

padapelaporannilai

PSDH

olehpemerintah berbeda denganpembayaran

PSDH

sebenamyaoleh perusahaan.

Dalam

kajian ini, nilai potensi

PSDH

yang menggunakan data produksi kayu menunjukkan hasil yang jauh berbeda dengan nilai realisasi

PSDH

berdasarkan laporan baik KementerianKehutanan

maupun

KementerianKeuangan.

Tahappelaporan

Pertama, pencatatan data pelaporanpembayaran dan produksidari pemerintah tidakrinci.

Secarajelasini dapatdilihatdaripublikasiresmiyangditerbitkan Kementerian Kehutanan.Data produksikayupadalaporan resmiStatistik Kehutanan 2007-2012, tidakmerindjenis kayu yang

-diproduksi. Setali tiga uang dengan data produksi, nQai

PSDH

kayu juga tidak dikategorisasi berdasarkan svimber kayunya. Rincian data tidak bisa ditemukanbalk melalui akses datalangsung

maupun

melalui websiteKementerian Kehutanan. Pencatatan data yangtidakterinci denganbaik

menyebabkan simulasi penghitungan nilai potensi

PSDH

memiliki akurasi terbatas mengingat

hargapatokan setiapjeniskayuberbeda-beda.

Kedua, koordinasi antarkementerian tidak berjalan optimal. Nilai perkitaan dan reaHsasi

PSDH

antara laporan resmi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Keuangan tentang danabagihasilsumberdayaalam kehutananselama2007-2012memilikiselisih (Tabel4).Initerjadi

nyaris setiap tahun dengan nilai seUsih yang lumayan besar. Selisih terbesar terjadi pada 2008 sebesar

Rp

350milyar.Selisihangkainibolehjadikarena(1)KementerianKehutananmelaporkan

datayang berbedake KementerianKeuangan dan/atau(2) KementerianKeuanganmemilikidata

dan perhitungan

PSDH

sendiri.

Di

luar itu, apabila koordinasi birokrasi berjalan benar,

maka

Peraturan Menteri Keuangan

(PMK)

tentang dana bagi hasilkehutanan akan terbit berdasarkan

laporan pencatatanKementerianKehutanan sehin^adatapaduserasi(BiroKeuanganKemcnliut,

(16)

2012).

Dalam

simulasi,dataproduksikayu

mengacu

padadataKementerian Kehutanan, sedangkan

dataperkiraan danrealisasi

PSDH

mengacu

pada dataKementerian Keuangan.

Tabel4.Selisih pencatatan perkiraan danrealisasinilai

PSDH

antara

Kementerian

Kehutanan

dengan Kementerian

Keuangan

2007-2012.

Nilai

PSDH

Kayu Selisihperkiraan Seli.sihrealisasi

Tahun Perkiraan nilai

PSDH

pada

PMK

(milyarRp) Realisasi nilai PSDIIpada

PMK

(milyarRp) Perkiraannilai

PSDH

laporan Kcmcnhut (rrulyarRp) Realisasinilai

PSDH

laporan Kcmcnhut (milyarRp)

PSDH

PMK

daritarget Kcmcnhut (milyarRp)

PSDH

PMK

darirealisasi Kemenhut (milyarRp) 2007 1.217 972 670 245 2008 1.499 969 1.499 618 0 350 2009 1.249 833 428 674 822 159 2010 597 799 1.123 797 -526 2 2011 893 856 1.359 869 -466 -12 2012 791 999 1.305 986 -514 13

Keterangan: (-)menunjukkanbahwatarget/realisasiKemenhutlebihbesardariperkiraandanalokasiKcmenkeu.

4.2.

Penerimaan

Dana

Reboisasi

(DR)

a.

Temuan

HasH

simulasiperhitungannilai

DR

yang

dibandingkan

dengan

nilaiperkiraan

dan

realisasi

DR

pada

PMK

menunjukkan

pola yang berbeda denganpolapada perhitungan

PSDH

(Tabel 5).

Realisasi nilai

DR

justru

menunjukkan

hasil yang lebih besar dari potensi penerimaan yang seharusnya,yaitu

133%

padarata-ratacapaiannya terhadap potensi. Selisihterbesarantararealisasi

DR

daripotensinyaterjadipada 2011

dengan

selisihnominal

mencapai

Rp

861 milyar. Sementara, seUsih terkecilantararealisasi

DR

daripotensinyaterjadi

pada

tahun

2009

dengan selisih nominal sebesar

Rp

136milyar. Realisasinilai

DR

yang

lebihkedldaripotensipenerimaan

yang

seharusnya hanya terjadi pada tahun 2010. Realisasi

DR

pada

tahun

2010

hanya

mencapai

85%

dari potensi penerimaan yangseharusnya

dengan

selisihnominalsebesar

Rp

306milyar.

Sementara, porsentase perkiraan nilai

DR

sebesar

98%

pada rata-rata capaiannya terhadap potensi nilai

DR

dengan

menggunakan

rata-rata tertimbang. Meskipun, capaian perkiraan

DR

terhadap potensi

DR

selama2008-2012sangatfluktuatif,

yaim

beradadi

bawah

potensipada2007, 2009, 2010,dan beradadiatas potensipada 2008, 2011, dan 2012. Selisih terbesaruntukkondisi

perkiraan di atas potensi

DR

terjadi pada 2008, di

mana

perkiraan nilai

DR

lebili besar

Rp

339 milyar dari potensinya.

Adapun

selisih terbesar

untuk

untuk kondisi perkiraan berada di

bawah

potensi

DR

terjadi pada 2010, di

mana

perkiraan nilai

DR

lebih kecil sebesar

Rp

640 milyar dari potensinya.

(17)

Tabel5.Perbandingannilai

DR

perkiraancknrealisasidengan nilai

DR

hasilsimulasi (potensi) pada tahun2007-2012

DR

untuk

PNBP

Kayu Sclisih

DR

Sclisih

DR

DR

DR

alokasi tcrhadap

DR

potensi (%) Tahun

DR

perkiraan

DR

realisasi (milyarRp)

DR

potensi pcrkiraan dengan realisasi dcngan pcrkiraan tcrhadap (milyar Rp) (milyarRp) potensi (milyarRp) potensi (milyarRp)

DR

potensi (%) 2007 1.302 1.341 39 97 2008 1.271 1.391 932 -339 -459 136 149 2009 1.236 1.423 1.284 48 -136 96 111 2010 1.354 1.688 1.994 640 306 68 85 2011 978 1.700 839 -139 -861 117 203 2012 847 1.545 766 -81 -779 111 202 Rata-ratatcrtimbang 98 133

Ketetangan: (-)menunjukkanbahwanilai

DR

perkiraandanrealisasilebihbesardaripotensinya.

Jika

mengacu

pada

PMK

terkaitdanabagihasil

DR,

trennilai

DR

menunjukkan

bahwa

nilai

realisasi selalulebihbesardarinilaiperkiraan

DR

(Gambar3).Halinimenunjukkan bahwarealisasi

tebangan kayu di hutan alam selalau lebih besar dari yang ditargetkan oleh Kementerian

Kehutanan.

Gambar

3. Grafikperbandingannilai

DR

perkiraandanrealisasidengannilai

DR

potensi(hasil

simulasi)pada tahun2007-2012.

2500

\

DR

Realisasi

DR

Potensi

500

2007 2008 2009 2010 2011 2012

Hasil simulasi perhitungan

DR

yangdilakukan berdasarpada data resmi produksi kayu di

hutanalamjugamenunjukkan nilaipotensi

DR

yanglebihrendah darinilaircalisasinyapada

PMK

17

(18)

selama tahun kajian, kecuali pada tahun 2010.

Pada

tahun 2010, hasil simulasi perhitungan

DR

lebihbesardari realisasinya, di

mana

pada tahuntersebutproduksikayudarihutanalammeningkat

tajam, yaitu sebesar 19,7 juta terutama kontribusi dari

IPK/ILS

yang

mencapai

14,5 juta

m^

PadahaL, rata-rata produksi kayu dari hutan alam tahun 2007-2009 hanya pada kisaran 9 juta

denganproduksikayudari

IPK/ILS

rata-rataberkisar 4,5juta m'' (KementerianKehutanan,2012).

b. Penjelasanhasil

temuan

Terdapat beberapa

argumen

yang

mungkin

menjelaskan realisasinHai

DR

yanglebih tinggi dari potensinya.

Argumen

ini dapat

dikelompokkan

dengan

mengacu

pada

tahapan aliran

penerimaan ekstraksi

sumber

dayahutan k&ju.

Tahappenagihan(billing^

Pertama, tarif

pungutan

DR

yang

menggunakan

US$. Tarif

pungutan

DR

yang

menggunakan

US$

telah

menyebabkan

tarif

DR

fluktuatifsetiap tahun mengikuti perubahan kurs

rupiahterhadapUS$.Tarifpungutan

DR

yang menggunakan

US$

dikritikkarenakayubulathanya untuk dijual di dalam negeri

dan

tidak boleh diekspor (Barr dkk, 2011).

Pada

penelitian ini tarif

pungutan

DR

men^unakan

rata-ratakursrupiahterhadap

US$

selama tahunkajian(2007—2012), sehingga ada

kemungkinan pada

tahun-tahun tertentu atau

pada

saat dikenakan

pembayaran

DR

kurs rupiah terhadap

US$

lebih tinggi dari kurs rata-rata selama tahun kajian. Implikasinya, bila

kurs rupiah terhadap

US$

pada

tahun tertentu lebih

tin^

darikurs rata-rata,

maka

perhitungan

simulasiakanlebihkecildarirealisasipenerimaanyang sebenamya.

Khusus

pada 2010, simulasi menghasilkan potensi

DR

lebih tinggi dari realisasi.

Ada

dua

kemungkinan. Pertama,

penebangan

kajm

yang

tinggi di areal

IPK/ILS

(cf. Tabel2).

Penebangan

skalabesariniterjadisebelumInstruksiPresiden no. 10 tahim 2011 tentang

Moratorium

Peri2inan

Pada

Hutan

Alam

Primer dan

Lahan

Gambut

keluar. Inpres ini bertujuan

untuk

menunda

pemberian izin

HPH

dan izin pinjam pakai

kawasan

hutan baru selama 2 (dua) tahun

dengan

harapantatakelolahutanlebihbaik(Murdiyarso dkk, 2011).

Sebelum

Inpresini terbit,eksploitasi

skala besar terjadi di hutan alam

(HPH

dan

pemegang

izin pinjam pakai

kawasan

hutan).

Pada

tahun 2010

penebangan

kayu oleh

HPH

dihutan alam

mencapai

5,2jutam^,lebihbesar dari dua tahun sebelumnya yang rata-rata 4,7 juta

m^

(Kementerian Kehutanan, 2012). Lebih dramatis

adalah

penebangan

di areal

IPK/ILS

yang

dilakukan olehperusahaan

pemegang

izinpinjampakai,

terutama perusahaan tambang.

Pada 2010 mencapai

tingkat

penebangan

kayu tertinggi di areal

IPK/ILS,

yaitu sebesar 14,5 juta

m^

Menurut

Murdiyarso

dkk

(2011),

penebangan

yangtinggi ini

karenabanyaknya izinpinjam pakai

kawasan

hutan yangdikeluarkan sebelum Inpres

moratorium

(19)

diundangkan. Misalnya di Kalimantan Tengah, sebagian besar izin pinjam pakai kawasan hutan

(Han" total39izin) diterbitkansebelumInpres berlaku (Kementerian Kehutanan,2012).

Kedua, masalah pungiitan yang terkaitdua hal.Satu,

DR

tidak dipungutuntuk kayu yang berada di areal

IPK/ELS

yang dikategorikan tidak ekonomis, yakni, potensi tegakan dari kayu berdiameter

>

30

cm

diareal tersebut tidak lebih dari 50 m^. Meskipunkayu tersebut tergolong

jeniskayubemilaiekonomitingglDua,kayubuktkecil di arealIPK/ILSyangdianggapekonomis oleh Kementerian Kehutanan hanya dikenakan tarif

DRnya

pun

sangat kecdl (US$ 2). Sebagai

konsekuensi,penerimaan

DR

akanmengalamipenurunan yangsignifikansepanjangporsiproduksi kayu hutanalam

IPK/ILS

lebih besardari totalproduksikayu

lUPHHK-HA.

Hasilnya, simulasi perhitungan nilai

DR

yang mengacu pada produksi kayu di hutan alam

(lUPHHK-HA

dan IPK/ILS) pada 2010 menjadi sangattinggi. Padahal, sebagian besarkayubolehjadi berasal dari

areal

IPK/ILS

tidak ekonocttisyangtidakkenapungutan

DR.

Tahappembayaran

Sementara, pada tahap pembayaran yangmungkin menyebabkan realisasi

DR

lebih

tin^

daripotensinya adalahpembayaran

DR

yangdilakukanolehindustripengolahankayuhulu,bukan

HPH.

MenurutpenelitianGinoga dkk(2001),bila

HPH

menjualkayu keindustripengolahan kayu diluargmpnya,

maka

HPH

tersebutyang akan

membayar

DR.

Sementara,bila

HPH

menjualkayu ke industripengolahan kayu dalam gtup yang sama,

maka

industripengolahan kayu yang akan

'membayar

DR

sesuai harga juaL Penjualaa ke industri pengolahan kayu dalam satu grup

perusahaanyangsamadilakukandengantujuanuntukmenutupbiayaproduksidi

HPH.

Akibatnya,

ada kemungkinanproduksikayu

HPH

yangdibayarkan olehindustripengolahan kayuhulu tidak

masuk

dalam data pencatatan produksi

HPH,

tetapi penerimaan

DR-nya

kemungkinan dicatat

Halam penerimaan

PNBP

kehutanan. Implikasihalinibagisimulasiadalahrulai

DR

potensilebih kedldarinilairealisasinya(2007-2009 dan 2011-2012)karena perhitungannilai

DR

mengacupada produksikayuyangtercatat di

HPH

yangmemilikiizinpemanfaatan hutanalam.

Tahappelaporan

Pertama,pendataan kayudari kategori

Sumber

LainnyabelummenjadifokusKementerian

Kehutanan, baikjeniskayu alam di luar

maupun

didalam kawasanhutan.Jenisinikena pungutan

DR

namun

hanya sebagian prodviksi kayu jenis ini yang didata. Produksi kayu yang

masuk

pendataanadalahproduksi yangdilaporkanpemegangizinsecara sukarela.

Adapun

kayu yangtidak

masuk

pendataan cenderung merupakan kayu yang izin pemanfaataimya dikeluarkan oleh

Gubemur

atauBupatitanpakeharusanpersetujuanMenteri Kehutanan,hal

mana

dimungkinkan

(20)

untxik

unmk

izinpemanfaatan skayu alamdiluarkawasan hutan

maupun

didalam kawasan hutan dengan luas tidak lebih dari

100%.

Sebagai akibat, data prodiaksi dari kategori

Sumber

Lainnya

dalam

Data

Statistik

Kehutanan belum

menggambarkan

produksiyang sesungguhnya.

Di

titik ini,

realisasi

DR

lebih besar dibanding potensi karena

pemegang

izin

membayar

DR

atas kayu yang ditebang

namun

produksikayu dari

pemegang

izintidakseluruhnya terdata.

Kedua, tidakditemukandata produksi kayu

yang

masuk

keindustri penggergajian kecildan

menengah,

yaitu kapasitas industri di

bawah

6.000

m^

(lihat

Mumbunan

dan

Wahyudi,

2012).

Data

ini tidakdicantumkan, baik di data online

maupun

data statistik kehutanan sampai

dengan

tahun 2012.

Ada

kemungkinan

nilai

DR

dari kayuini tetap dihitung, sehingga nilai

DR

dari 2007-2009

maupun

2011 dan 2012

cukup

tinggi dibandingkanpotensi penerimaan yang seharusnya.

Hal

ini

karena pada produksi kayu yang dikeluarkan

Kemenhut,

sebagai dasar

untuk

simulasi nilai

DR,

tidak

mencantumkan

datatersebut.

Ketiga,

lemahnya pengawasan dan

pencatatan pemerintah terhadap pelanggaran

yang

dilakukan oleh

HPH.

Sebagaimana diutarakan oleh

APHI

(2012),

HPH-HPH

tertenm bisa

melakukan penebangan

melebihi jatah tebang dan di luar areal konsesi mereka.

HPH-PIPH

tersebut dapat

melakukan

ini karena

pengawasan

yang

lemah

daripemerintah.^

Kayu

dUuarjatah

tebangini bisa sajadikenakan

DR,

tetapi dataproduksikajm tersebut tidak

dimasukkan

ke

dalam

pencatatan

Laporan

HasilProduksi

HPH

(APHI,

2012).^

Hal

ini

penyebab

perbedaandataantara

kayu yang diproduksi

dengan

DR

yang dibayar kepada pemerintah oleh

HPH,

sehin^a

simulasi perhitungan

DR

yang

mengacu

pada

data produksi kayu akan lebih kecil dad.

pembayaran yang

sebenamya.

5. Relevansikebijakan

SekarangkitaberaUh padadiskusitentangrelevansikebijakandari

temuan dan

penjelasandi

atas.

Dalam

bagian ini, secara khusus fokus diskusi akan terkait

dengan

(a) sistem administrasi

PNBP

kehutanan

dan

(b)penerimaan negara sebagaiperangkatmitigasi

perubahan

iklimberbasis hutan.

Mcskipunpelanggaranini diketahui, seringkali tidakdikenakan sanksi(lihatTransparencyInternational Indonesia,

2011).

*Pcrlu disebutkan di sini bahwa hasilaudit

BPK

mcmbcrikan status WajarTanpaPcngecualian {unqualified opinion)

padaLaporanKcuangan Kcmcntcrian Kehutanantahun2011 dan2012.

(21)

5.1. Sistemadministrasi

PNBP

kehutanan

Bagian-bagian fundamental dari administrasi penerimaan negara di sektor kehutanan mencakupantaralaindatapungutan penerimaan,hargadantarif,sertapengawasan dan kepatuhan (Kimdkk,2006).

Datapungutan

PNBP

Secara

umum

DinasKehutanandidaerahdan KementerianKehutanan belummemilikidata yang lengkap dan akurat serta sistem manajemen data yang

memadai

dan terintegrasi untuk

mendukung

penentuan basis pungutan

PNBP.

Data dimaksud terkait jiunlah Izin Usaha

Pemanfaatan Hasil Hutan

Kayu

(lUPHHK)

di daerah, target atau kuota produksi kayu, dan

realisasiproduksi. Tetapi, pemerintah pusatcenderungmemiliki data

PNBP

lengkap ketimbang pemecbtah daerah.

Dengan

strukturrelasiadministrasipenerimaanseperti saatini(Uhat

Gambar

1),informasi

PNBP

palinglengkapberadapadabendaharawan

Kemenhut

meskipun

LPIK

wajib

dHaporkan perusahaan ke Dinas Kehutanan di kabupaten/kota. Sehingga, dalam kondisi ketimpanganinformasisepertiini,dataKementerianKehutanankerapkalimenjadipatokan.

Mekanismepenagihan kewajiban

PSDH/DR

pun

masih berbentuk semiofficial-assessmentdi

mana

tenaga teknis untuk menghitung Laporan Hasil Produksi masih disediakan perusahaan.

PejabatpengawasdariDinasKehutanandilapanganpada

umumnya

hanyamenerimalaporandari

tenaga teknis saja. Tanpa data pegangan yang valid, pemerintah svJit untuk secara akurat

menentukanbesaran potensipenerimaan

PSDH

dan

DR. Di

sisilain,kondisisepertiinimemberi

peluang

memungkinkan

collusivecorruption antaraperusahaan dan

oknum

di lembaga pemerintah agarpembayaran

PSDH

dan

DR

lebihrendahdaribesaran semestinya (Smith dkk,2003).

Hargadantarif

PNBP

Hargapasarkayu domestik danintemasionalmencapai3-4kalilebihtinggidibanding harga

kayu patokan Kementerian Perdagangan yang dijadikan dasar pungutan

PSDH

(Tabel 6). Ini

membatasi kesempatan negara memperoleh rente ekonomi lebih besar. Selebihnya, bila

pemerintahhanya

memungut

PSDH

menggunakanharga patokan,kemudianperusahaan menjual kayu dengan harga pasar,

maka

semakin besar potensi rente ekonomiyang hilang. Secara tidak

langsung, pemerintah telah mensubsidi perusahaan dengan menetapkan harga yang jauh lebih rendahdarihargapasar.

(22)

Tabel6. Perbandingan hargadan tarif

PSDH

Ilarga(Rp) 'larifPSDII(Rp)

Tahun Mcncacu pada Permcndag Pasar dalam ncgcri Pasar intcrnasional Mcnggunakan liargadari I'crmcndag Mcngj^unakan harga pasar dalamncgcri Mcnggunakan harga intcrnasional 2008 600.000 2.103.750 2.425.500 60.000 210.375 242.550 2009 600.000 2.024.550 2.376.000 60.000 202.455 237.600 2010 600.000 2.113.650 2.415.600 60.000 211.365 241.560 2011 600.000 2.385.900 2.668.050 60.000 238.590 266.805 2012 600.000 2.267.100 2.475.000 60.000 226.710 247.500

Catatan: (1) Tarif

PSDH

10%

dari harga; (2) Kurs USf terhadap rupiahmengacupada hasilrata-rata tahunkajian,

yaitu1 USS= Rp9.900.

Gambaran

potensi kerugian negata bila

pungutan

PSDH

metigacu pada harga pasar, baik dengan harga domestik

maupun

intemasional, diilustrasikan

dalam

Gambar

4 (kerugian negara

apabila tidak

menggunakan

hargaintemasionalhanyaterjadi

dengan

asumsilarangan eksporkayu

bulat dicabut).

Untuk

alasan-alasan tersebut, perlu dipertimbangkan

penggunaan

harga pasar

sebagaiacuan.

Pengaivasan dankepatuhan

Dibanding

lembaga di sektor ekstraktiflain, sepertipertambangan, tugas

pokok

dan fungsi

(tupoksi) dilembaga kehutanan untxik

pengawasan

dan penegakan kepatuhan antara pemerintah

pusat

dan

daerah relatiflebih jelas. Tetapi kapasitas untuk menjalankan

mandat

tersebut adalah

terbatas,misalnya keterbatasan

pembiayaan

dan

sumberdaya

manusia.

Pengawasan dan

penegakan

kepatuhan

pembayaran

pungutan

PNBP

menjadi kurang optimal

bahkan

diabaikan. Hasilnya, rente

ekonomi

hutan

belum

terpungutsecarabaik.

Menautkan pembayaran dengan

proses legalisasi kayu, bisa menjadi jalan meningkatkan

kepatuhan pembayaran.

Dalam

Sistem Vetifikasi Legalitas

Kayu

(SVLK),

salah satu kriteria

verifikasi legalitas kayu

meminta

pemegang

izin untuk telah melunasi kewajiban

pungutan

kayu

(Kementerian Kehutanan, 2010). Indikatorverifikasi

SVLK

adalah bukti pelunasan

PSDH

dan

DR.

Metode

verifikasinya

mencakup

dokumen

Surat Pertntah

Pembayaran

(yang merinci

kelompok

jeniskayu,

volume

dantarif) danbuktisetor

PSDH.

Gambar

4.Perbandingannilai

PSDH

kayuberdasarkan hargapatokan

dan

harga pasar

(23)

12000 HaigaPasar 10000

^

*» International "~

^

y

8000 .••** HargaPasar

^

.* Domestik <t

t

6000 ra 111

=

>• 4000

5.2. Koleksipeneiimaan negatadanmitigasiperubahaniklim berbasishutan

Skema

Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation

(REDD+)

merupakanupayaglobaluntukmengurangi emisi gas

rumah

kacadnri deforestasidan degradasi

hutandinegara-negaraberkembang.Salahsatu

komponen

utamaskema

REDD+

adalahdistribusi

manfaat atau benefitsharing

(UNFCCC,

2012; Luttrell dkk, 2012).

Di

aras sains dan diskursus kebijakandiIndonesia,mekanismedistribusimanfaat

REDD+

yangmunculadalah melaluirevenue

sharing dari penerimaan kehutanan. Penerimaan kehutanan, menggunakan klasifikasi rente Angelsen dan Rudel (2013), bisa diperoleh dari rente yang terkait hasil produksi kehutanan

{extractive rent) seperti hasilkayu,

maupun

darirenteyang terkaitprovisi jasalingkungan {protective rent) seperti peningkatan stok karbon.

Dalam

konteks keuangan publik, klasifikasi rente dalam pengertianinibisa dipertajam: di titikkoleksipenerimaan,baik penerimaan

PSDH

maupun

DR

merupakanbagianextractiverent?Sementaradititikdistribusipenerimaan,pen^;unaan

DR

terkait protective rent. Bagaimana

Dana

BagiHasilpenerimaan dari

REDD+

dibagikan(Busch dkk, 2012; Irawan dkk, 2012; Kementerian Kehutanan RI, 2009) ataupun pHihan instrumen

PNBP

sebagai

sumberpungutanseperti

DR

(Indartik dkk, 2010),telahmulaidieksplorasidan diajukan.

Pemahaman

yang

memadai

tentang status pengelolaan penerimaan sektor kehutanan di

Indonesia,besaran potensidan besaranrealisasinya,berikut kesenjangankedua besaran tersebut, dan penjelasan kesenjangan di rantai penerimaan, menjadi kritis diperiukan.

Skema

REDD+

'PcntingdicatatbahwaPSDI

Imcmungutrentedaripcmanfaatankayu danpcmanfaatannon-kayu.Pcmanfaatan

non-kayu mcliputi misalnya kegiatan

RHDD+,

rcstorasi ekosistem,dst. Dari sisipcmanfaatan non-kayu dandi tingkat

koleksipenerimaan,PSDIIdapatdikaitkandcnganprotectiverent.

(24)

merupakan skema

yangberbasispositiveincentive.

Untuk

itu,baikjasa

REDD+

maupun

pihak

yang

terkaitlangsung dcngan provisi dan faedah dari kegiatan

REDD+,

seperti para penyeliamanfaat (provider/seller) yang

mendapat

kompensasi dan

pengguna

manfaat {userjbuyer) dari pengurangan

emisi deforestasi dan

penambahan

stok karbon hutan, harus didefinisikan dan diberi demarkasi

jelas.

Mekanisme

distribusimanfaatantar pihak,manakala dilakukandalam konteks desentralisasi

fiskal dan

menggunakan

kanal

Dana

Bagi Hasil (revenue sharing, akan bersinggungan

dengan

sejumlah dimensi penerimaan di tingkat koleksi, alokasi dan distribusi. Kajian ini telah

menunjukkan

sejumlah dimensi penting,

utamanya

di tingkat koleksi penerimaan. Rantai

penerimaan ditingkat koleksimeUputibagianpenagihan,

pembayaran

dan pelaporan penerimaan.

Sebuah

sistem administrasi penerimaan

dengan

tatakelola yang baik

dan

kuat, transparan

dan

akuntabel, adalah kunci bagi

mekanisme

distribusi manfaat

REDD+.

Hasil kajian ini,

bersama

dengan

pengalaman

berhargadari tatakelola

DR

baiksebelum

maupun

setelah desentralisasi

2002

(25)

Ucapan

terima kasih

Sebagiankajian ini dibkyai oleh KedutaanBesar KerajaanNonvegiadiJakarta(GrantINS-2134 11/0073) kepada siapa para penulis mengucapkan terima kasih. Masukan dari Listya Kusiimawardhani (Direktorat Bina Usaha Kehutanan Kemenhut) dan Triyono (Direktorat

Planologi Kemenhut) telah memperbaikikajianinikendati tanggungjawabatas hasil kajian tetap berada ditangan parapenulis.

Kepustakaan

AsosiasiPengusahaHutanIndonesia(APHI).2012.TataKelolaPengusahaanHutandiIndonesia.

Bahanpresentasi. SeminarTransparansiPenerimaan Negara Sektor Kehutanan.Article33

Indonesia.Jakarta,22Januari 2012.

Angelsen, Arild, dan

Thomas

K, RudeL 2013. Designing and implementingeffective

REDD+

policies:

A

forest transition approach. Review ofB-nvironmentalEconomicsandPolicy7 (1),haL

91-113.

BadanPusatStatistik.2012.Proporsi

Kayu

PerJenis untuk

Kayu

yangBerasaldari

lUPHHK-HA.

BadanPusatStatistik:Jakarta.

Barr, Christopher.,

Ahmad

Dermawan,

Herry

Poemomo,

dan

Heru

Komarudin,2011. Financial Governance andIndonesia's Reforestation

Fund

During

The

Soeharto andPost-Soeharto

Periods, 1989-2009. Occasional Paper 52. Center for International Forestry Research: Bogor.

Biro KeuanganKementerian Kehutanan, 2012.

PNBP

diSektor Kehutanan. Bahan presentasi Focus

Group

DiscussionArticle33Indonesia.Jakarta, 8Maret2012.

Brosio, Giorgio. 2006.

The

assignment of revenue from natural resources.

Dalam

Ehtisham

Ahmad

andGiorgio Brosio (Eds.), Handbook offiscalfederalism,

Edward

Elgar Cheltenham

UK

andMassachusettsUS,hal. 431-458.

Brown, D.W.,1999.AddictedtoRent:Corporate andspatialdistributioninIndonesia; Implication

for forest sustainability and government policy. Report No:

PFM/EC/99/06,

Indonesia-UK

Tropical Forestry

Management

Programme,Jakarta.

Busch, Jonah,

Ruben

N. Lubowski, Fabiano Godoya, Marc Stcininger,AriefA. Yusuf,

Kemen

Austin, Jenny Hewsona, Daniel Juhn,

Muhammad

Farid, and Frederick Boltz. 2012.

(26)

Structuring

economic

incentives to reduce emissions

from

deforestation within Indonesia.

ProceedingoftheNationalAcademicofSciences,doi:10.1073/pnas.l109034109.

Carr,Indira; dan Elina Konstantinidou. 2012. Extractiveindustries, corruption

and

transparency.

In Elene Blanco

and Jona Ra2zaque

(Eds.), Naturalresourcesandthegreen economy

^defining

the challengesforpeople, states andcorporates. Leiden

and

Boston: Martinus NijhoffPublishers,

hal. 245-271.

Casson, Anne.,dan KrystofObid2inski(2002).

From

New

Order

toRegional

Autonomy:

shifting

dynamics of"illegal"logginginKalimantan, Indonesia. WorldDevelopment"hQ(12),haL

2133-2151.

Geist,

Helmut

J., dan Eric F. Lambin. 2002. Proximate causes

and

underlying driving forces of tropicaldeforestation.Bioscience52 (2),hal. 143-150.

Ginoga,KicsfiantiL.,

Mega

Lugina, dan Erwidodo. 2001.Analisis Instrumen Kebijakan

DR

dan

PSDH

dan Peluang

Penyempumaannya,

jarwa/Jox/iz/jB^owo/w/2 (2),haL151-171.

Handadhari, Transtoto. 2005. Evaluasi perolehan rente

ekonomi pengusahaan

hasil hutan kayu

bulatdiIndonesia.DisertasidoktoraLUniversitas

Gadjah Mada,

Yogyakarta.

Human

Rights Watch. 2013.

The

dark side of green growth:

Human

rights impacts

of

weak

governanceinIndonesia's forestrysector.Juli.

Intergovernmental Panel

on

Climate

Change

(IPCC). 2007. Climate

Change

2007:

The

Physical

ScienceBasis. Contribution of

Working Group

I to the Fourth

Assessment

Report

of

the

IPCC

[Solomon, S.,

D.

Qin,

M.

Manning, Z. Chen,

M.

Marquis,

KLB.MTignor

and

H.L.

Miller (eds.)].

Cambridge

UniversityPress: Cambridge,United

Kingdom

and

New

YorL

Irawan, Silvia,

Luca

Tacconi

dan

Irene Ring. 2012.Designing Intergovernmental FiscalTransfers

for Conservation:

The

case of

REDD+

revenue distribution to local

governments

in Indonesia.

Working

Paper

No

3.AsiaPacific

Network

forEnvironmental

Governance

Indartik, Fitri Nurfatriani dan Kirsfianti Ginoga. 2010. Altematif

mekanisme

distribusi insentif

REDD

melaluidana

perimbangan

pusatdaerah.

Jumal

PenelitianSosialdan

Ekonomi

Kehutanan

7 (3),haL 179-196.

Karsenty, A. 2010. Forest taxation regime for tropical forest: lessons

from

Central Afidca.

International Forestry Revieiv12(2),hal. 121-129.

Kelly, Roy. 2012. Strengthening the revenue side. In Directorate General

of

Fiscal Balance,

MinistryofFinance,Republic ofIndonesia (Ed.), Fiscaldecentrali:(ation inIndonesia

-A

decade

after bigbang.UniversityofIndonesiaPress: Jakarta, haL 173-204.

Kementerian

Kehutanan

RepubUk

Indonesia. 2012.Statistik

Kehutanan

Tahun

2011.

Kementerian

(27)

Kementemn

Kehutanan Republik Indonesia. 2011. Evaluasi TarifProvisi

Sumber

Daya Hutan

Kayu

Hutan Alam. Policy Brief 5 (5). Bogor: Badan Penelitdan dan Pengembangan

Kementerian Kehutanan.

Kementemn

Kehutanan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Direktur JenderalBina Produksi

Kehutanan

no

P.02/VI-BPPHH/2010

tentang

Pedoman

Pelaksanaan Kinerja Pengelolaan

HutanProduksiLestaridanVerifikasiLegalitasKayu.

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Republik

Indonesia

no

P.36/Menhut-II2009 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfiaatan

Penyerapan dan/atauPenyimpanan

Karbon

padaHutanProduksidanHutanLindung.

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2005. Siaran Pers Kementerian Kehutanan no.

S33/n/PIK-I/2005tentang

Kayu

Lelang.Kementerian Kehutanan:Jakarta.

Kim, Sphanarith,

Nophea

Kim

Phat,

Masao

Koike, dan Hiromichi HayashL 2006. Estimating

actualandpotentialgovernmentrevenues fromtimber harvestinginCambodia.Forest Policy

andEconomics8,haL 625-635.

KomisiPemberantasan Korupsi (KPK).2013. Upaya pencegahan korupsidi sektorsvimberdaya

alam.

Bahan

Presentasi.TropicalForest Alliance2010Workshop.Jakarta,28Juni 2013.

Krott,Max.2005.Forestpolicyanalysis.Dordrecht,theNetherlands:Springer.

Luttrell,Cecilia,LassesLoft,Maria Fernanda Gebara andDemetrius Kweka. 2012.

Who

should benefit and

why?

Discourses

on

REDD+

benefit sharing.

Dalam

Arild Angelsen, Maria Brockhaus, William SunderlinandLouisVerchot (Eds.),Analysing

REDD+:

Challengesand

choices.Bogor,Indonesia:CenterforInternationalForestryResearch,hal.129-151.

Mead,DonaldD.,danChristianMorrison. 1996.

The

informalsectorelephant WorldDevelopment

24 (10),haL 1611-1619.

Ministry of Finance, Republic of Indonesia (MoF). 2012. Indonesia's first mitigation fiscal

framework in support of the national action plan to reduce greenhouse gas emissions.

Jakarta.

Murdiyarso, Daniel., Sonya Dewi, Deborah Lawrence dan Frances Seymour. 2011. Indonesia's

ForestMoratorium:

A

steppingstoneto better forestgovernance? Centerfor International Forestry Research:Bogor.

Mumbunan,

Sonny, dan Riko

WahyudL

2012. Transparansipenerimaanindustri ekstraktif sektor

kehutanandiIndonesia. Scoping Note.Article33Indonesia:Jakarta.

PelangiEnergiAbadiCitraEnviro(PEACE).2007. Indonesiaandclimate change: Currentstatus

and policies.Jakarta,Indonesia:

PEACE.

(28)

Primack, Richard.,

and

Richard Corlett. 2005. Tropical Rain Forest:

An

ecological and biogeographical comparison. Centerfor International ForestryResearch: Bogor.

Searle, Bob. 2007.

Revenue

sharing, natural resources

and

fiscalequalization. In Jorge

Martinez-Vazquez and

Bob

Searle (Eds.), Fiscalequali^tion

Challenges inthe design ofintergovernmental

transfers.

New

York: Springer. Hal.371-401.

Smith,J.,K. Obidzinski, Subarudi,

dan

I.Suramenggala. 2003. Illegallogging, collusivecorruption

and

fragmented governmentsinICalimantan, Indonesia.International ForestryReview 5 (3), hal.

293-302.

Tacconi, Luca, Fiona

Downs

dan

Peter Larmour. 2009. Anti-corruption policies in the forest-sector

and

REDD+.

Dalam

ArildAngelsen(ed.),Realising

REDD+:

Nationalstrategyandpolig

options. CenterforInternationalForestryReview: Bogor,hal.163-174.

TransparencyInternationalIndonesia (Til).2011. Forest

Governance

IntegrityReportIndonesia.

TransparencyInternationalIndonesia:Jakarta.

United Nations

Framework

Convention

on CUmate Change

(UNFCCC).

2012. Financingoptions

for the full implementation ofresults-based actions relating to the activities referred to in

decision 1/CP.16, paragraph 70, including related modalities

and

procedures. Technical

Paper.

FCCC/TP/2012/3.

26July 2012.

Vincent,J.,J.

Aden,

G. Dore,

M.

Adriani,V.

Rambe

andT. Walton

(2002). Publicenvironmental expendituresinIndonesia. Bulletin ofIndonesianEconomicStudies38 (1),hal. 61-74.

Whiteman,

Adrian,dan ArvydasLebedys. 2006.

The

contributionofthe forestry sector toAfrican

Gambar

Tabel 2. Rekapitulasi produksi kayu bulat berdasarkan sumber produksi tahvin 2007-2012.
Tabel 3. Perbandingan nilai PSDH perkiraan dan realisasi dengan nilai PSDH potensi 2007-2012
Gambar 2. Grafik perbandingan nilai perkiraan dan realisasi PSDH kayu dan non-kayu dengan
Tabel 4. Selisih pencatatan perkiraan dan realisasi nilai PSDH antara Kementerian Kehutanan dengan Kementerian Keuangan 2007-2012.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat selisih lebih 5% (lima persen) jumlah kayu bulan dan/atau Bahan Baku Seih yang dilaporkan dan/atau mempunyai kekurangan pembayaran PSDH. Penerimaan dari pengambilan

Penggantian Nilai Tegakan yang selanjutnya disebut PNT adalah salah satu kewajiban selain PSDH dan DR yang harus dibayar kepada Negara akibat dari izin pemanfaatan kayu,

Potensi PNBP di sini didefinsikan sebagai PNBP potensial yang baru akan diperoleh jika volume limbah kayu dari pemanenan hutan alam dan dari pemanenan hutan tanaman

Simulasi menunjukkan bahwa jumlah potensi penerimaan pajak dari emisi karbon perusahaan emiten di 14 industri di IDX jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan

Target Realisasi penerimaan cukai sesuai perhitungan potensi penerimaan produk cukai (HT, MMEA, EA) Realisasi penerimaan cukai sesuai perhitungan potensi penerimaan

Lingkup kajian supply kayu bulat yaitu berasal dari hutan alam produksi dan HTI, yang digunakan untuk bahan baku industri kayu lapis, kayu gergaji dan pulp.. Menurut

Selain potensi peningkatan penerimaan negara, penerapan pajak karbon juga dapat mengurangi produksi emisi karbon, khususnya emisi karbon yang dihasilkan dari sektor energi sebagai salah

Mempertimbangkan hanya limbah kayu dengan kualitas mulus layak sebagai bahan baku yang dimanfaatkan, dari Tabel 1 diketahui bahwa volume limbah kayu tingkat pohon jenis terapung yang