• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

J.Analisis. Hlm.

KEMENTERIAN KEHUTANAN

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN Ministry of Forestry

Centre for Climate Change and Policy Research and Development BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN

BOGOR INDONESIA

Forestry Research and Development Agency

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

Vol. 10 No. 1, April 2013

Journal of Forestry Policy Analysis

Bogor ISSN

(2)

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan

telah akreditasi No. 629/D/ 2011 dengan

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Ketua ( ), merangkap anggota : Prof. Dr. Ir. Djaban Tinambunan, MS (Keteknikan Hutan) Anggota ( ) : 1. Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Konservasi Tanah dan Air)

2. Dr. Ir. Hariyatno Dwiprabowo, M.Sc (Ekonomi Kehutanan)

3. Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS (Kebijakan Kehutanan)

4. Ir. Ari Wibowo, M.Sc (Perlindungan Hutan)

Ketua ( ) : Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian memuat karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, pemikiran/tinjauan ilmiah mengenai kebijakan kehutanan atau bahan masukan bagi kebijakan kehutanan; terbit secara serial tiap

empat bulan; dan di oleh LIPI )

5. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc (Politik Ekonomi Kehutanan)

6. Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS (Ekonomi Kelembagaan Kehutanan)

7. Dr. Ir. Dede Rohadi, M.Sc (Analis Kebijakan Kehutanan) 8. Dr. Ir. Sulistya Ekawati, M.Si (Sosiologi)

Anggota ( ) : 1. Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi 2. Bayu Subekti, SIP, M.Hum

3. Leni Wulandari, S.Hut 4. Ratna Widyaningsih, S.Kom

Mitra Bestari ( ) : 1. Prof. Dr. Dudung Darusman (Kebijakan Kehutanan) 2. Prof. Dr. Mustofa Agung Sardjono (Perhutanan Sosial)

Diterbitkan oleh ( ) :

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

( )

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

( )

Alamat ( ) : Jalan Gunung Batu No. 5, PO. BOX 272 Bogor 16610, Indonesia Telepon ( ) : 62-0251-8633944

Fax ( ) : 62-0251-8634924

Email : [email protected]

predikat B.

Penanggung jawab ( ) :

Dewan Redaksi ( ) :

Sekretariat Redaksi

( ) :

Journal of Forestry Policy Analysis is a scientific publication reporting research findings and forestry policy reviews or forestry policy recommendation; published serially every 4 months; and has been accredited by LIPI No. 629/D/2011) as

Members

Peer reviewers

Published by

Centre for Climate Change and Policy Research and Development Forestry Research and Development Agency

Address Phone Fax

Good Category (B-grade).

Editorial in chief

Editoral Board

Editorial Secretariat Chairman

Members

Chairman

(3)

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

Vol. 10 No. 1, April 2013

Journal of Forestry Policy Analysis

KEMENTERIAN KEHUTANAN

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERUBAHAN IKLIM DAN KEBIJAKAN Ministry of Forestry

Centre for and Development

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN

BOGOR INDONESIA

Forestry Research and Development Agency Climate Change and Policy Research

(4)

PERSEPSI DAN SIKAP PARA PIHAK TERHADAP LANSKAP BERHUTAN DI KOTA PAGARALAM, DAS MUSI HULU SUMATERA SELATAN

(

)

Edwin Martin, Bambang Tejo Premono & Ari Nurlia ...

DAMPAK KEBIJAKAN PROVISI SUMBERDAYA HUTAN DAN DANA REBOISASI TERHADAP KESEJAHTERAAN

( )

Erwinsyah, Harianto, Bonar M. Sinaga & Bintang C.H. Simangunsong ...

KAJIAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KOLABORATIF TAMAN NASIONAL KUTAI

( )

Faiqotul Falah ...

KAJIAN JENIS POHON POTENSIAL UNTUK HUTAN KOTA DI BANDUNG, JAWA BARAT

( )

Soleh Mulyana ...

KONDISI TATA KELOLA HUTAN UNTUK IMPLEMENTASI PENGURANGAN EMISI DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN (REDD+) DI INDONESIA

(

)

Sulistya Ekawati, Kirsfianti L Ginoga & Mega Lugina ...

Stakeholder's Perception and Attitude Toward Forested Landscape at Kota Pagaralam, The Upper Musi Watershed, South Sumatra

Impact of Forest Royalties and Reforestation Fund to the Welfare

Study on the Effectiveness of Collaborative Management of Kutai National Park

Study of Tree Species Potential for Urban Forest in Bandung City, West Java

Governance Strengthening for Reduce Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus ( REDD+) Implementation in Indonesia

1 - 14

15 - 36

37 - 57

58 - 71

72 - 87

DAFTAR ISI ( CONTENTS )

(5)

UDC (OSDCF) 630*61

Erwinsyah, Harianto, Bonar M. Sinaga & Bintang C.H.

Simangunsong

Dampak Kebijakan Provisi Sumberdaya Hutan dan Dana Reboisasi terhadap Kesejahteraan

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 10 No. 1, hal. 15 - 36

Dalam tiga dasawarsa terakhir sektor kehutanan memberikan penerimaan negara, antara lain dari Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR). Untuk mengetahui dampak penerapan kebijakan PSDH dan DR terhadap kesejahteraan maka digunakan pendugaan elastisitas penawaran dan permintaan pasar kayu bulat dan pasar kayu olahan, yang digunakan atas dasar penelitian yang dilakukan sebelumnya.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

dari tahun 1995 sampai dengan 2009. Hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan PSDH dan DR secara terpisah akan meningkatkan harga kayu bulat, kecuali harga kayu bulat HTI , dan meningkatkan harga produk kayu olahan.

Kenaikan PSDH dan DR secara bersamaan akan meningkatkan harga kayu bulat dan kayu olahan. Kenaikan PSDH akan time series

pulp

Kata kunci yang dicantumkan adalah istilah bebas. Lembar abstrak ini boleh diperbanyak tanpa ijin dan biaya.

UDC (OSDCF) 630*116

Edwin Martin, Bambang Tejo Premono & Ari Nurlia

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 10 No. 1, hal. 1 - 14

Masalah deforestasi di DAS bagian hulu tidak dapat dihentikan atau diperlambat oleh kebijakan dan program yang berlaku saat ini, sehingga masih diperlukan pendekatan lain yang sesuai dengan dinamika sosial-ekonomi kondisi masyarakat lokal.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana memulai manajemen lanskap hutan di daerah dataran tinggi, melalui studi kasus di Pagaralam, Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui survei terhadap para pihak yang memiliki kepentingan dan kewenangan pada lanskap hutan di Pagaralam. Data hasil survei dianalisis dengan statistik non parametrik, kemudian dibahas dengan para pihak melalui FGD.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para aktor pemerintah dan pengguna lahan memiliki persepsi dan sikap yang berbeda dalam menilai lanskap berhutan. Selain pentingnya peningkatan kesadaran bagi pengguna lahan melalui media yang mengangkat isu-isu lingkungan, prioritas program untuk memulai pengelolaan lanskap hutan adalah penanaman kembali dan melindungi daerah sekitar mata air dan kanan kiri sisi sungai.

Kata kunci: Lanskap berhutan, dataran tinggi, DAS hulu, persepsi

Persepsi dan Sikap para Pihak terhadap Lanskap Berhutan di Kota Pagaralam, DAS Musi Hulu Sumatera Selatan

meningkatkan produksi kayu bulat dan kayu olahan, kecuali kayu lapis yang tidak didukung oleh kenaikan harga pasar.

Kenaikan DR akan meningkatkan produksi kayu bulat, kecuali dari HTI yang hampir tidak terpengaruh. Kenaikan DR akan meningkatkan produksi kayu gergajian, sedangkan kenaikan PSDH dan DR bersamaan akan meningkatkan produksi kayu bulat hutan alam, HTI perkakas dan HTI , serta kayu gergajian dan . Kenaikan PSDH dan DR akan meningkatkan kesejahteraan produsen serta menurunkan kesejahteraan konsumen kayu bulat.

Kata kunci: Kayu bulat, produk kayu, penawaran, permintaan, elastisitas, kesejahteraan

pulp

pulp pulp

UDC (OSDCF) 630*907 Faiqotul Falah

Kajian Efektivitas Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional Kutai

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 10 No. 1, hal. 37 - 57

Kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) mengalami defragmentasi dan degradasi habitat akibat perambahan, penebangan liar, serta kebakaran hutan. Kemitraan pengelolaan TNK terbentuk sejak 1994 dengan adanya Mitra Kutai. Namun berbagai permasalahan yang muncul mengindikasikan bahwa pengelolaan kawasan TNK belum efektif. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai efektivitas kelembagaan pengelolaan kolaboratif di TNK. Penelitian dilakukan dengan cara : 1) identifikasi kebijakankesepakatan yang berlaku, 2) analisis isi kebijakan, 3) identifikasi persepsi dan peran pemangku kepentingan; 4) analisis kualitatif terhadap persepsi dan peran pemangku kepentingan 5) analisis SWOT, dilanjutkan 6) rekomendasi penyempurnaan kelembagaan kolaborasi Mitra Kutai. Disimpulkan bahwa pengelolaan kolaborasi di TNK ternyata belum efektif, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah berikut : 1) Penelitian potensi dan kondisi terkini TNK; 2) publikasi hasil penelitian serta mengangkat isu permasalahan dan nilai penting TNK melalui media; 3)Penguatan jejaring kerja dengan lembaga donor internasional; 4) Penetapan/zonasi kawasan; 5) Rekonfigurasi lembaga kolaborasi pengelolaan TNK serta penyusunan program dan skema pendanaan yang disepakati semua pihak; 6) Kolaborasi dalam Pembangunan model Desa Konservasi; dan 7) Kolaborasi dalam program pemanfaatan ekonomi kawasan, seperti pembangunan kawasan agrowisata, pusat pendidikan lingkungan, taman safari dan kawasan ekowisata serta areal riset/penelitian.

Kata kunci : Kolaborasi, kelembagaan, pengelolaan kawasan berbasis ekosistem, peran pemangku kepentingan

(6)

hal. 58 - 71

Pembangunan dan perkembangan ekonomi di suatu perkotaan cenderung dapat meminimalkan ruang terbuka hijau (RTH) yang berdampak terganggunya keseimbangan ekosistem seperti:

perubahan suhu, polusi udara, pencemaran air, permukaan tanah menurun dan bahaya banjir. Upaya dalam mengurangi dampak negatif tersebut dapat dilakukan dengan cara pembangunan atau pengembangan hutan kota dengan memilih jenis pohon potensial yang sesuai dengan tipe kawasan dan peruntukannya.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji sejauhmana PP No.

63 Tahun 2002 tentang hutan kota dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Lokasi penelitian kajian jenis pohon Potensial untuk Pengembangan Hutan Kota ditetapkan adalah kota Bandung yang telah memiliki Perda No. 25 tahun 2009 tentang hutan kota. Berdasarkan Perda tersebut Kota Bandung telah menetapkan 9 lokasi kawasan hutan kota, yaitu Taman Tegalega, Taman Pramuka, Taman Lantas, Taman Cilaki, Taman Maluku, Eks-TPA Cicabe, Eks-TPA Pasir Impun, Kebun Binatang Tamansari dan kawasan hutan PT Pindad. Metode yang digunakan adalah sensus melalui pengukuran luas kawasan, pengamatan struktur, pencacahan populasi, pengukuran dimensi pohon (diameter, tinggi total, tinggi bebas cabang, lebar dan tinggi tajuk) dan mengidentifikasi ( jenis, genera dan suku setiap pohon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan kota terdiri dari 8 lokasi hutan kota digunakan sebagai sarana olah raga dan rekreasi/wisata untuk umum dan 1 lokasi merupakan tempat industri persenjataan sehingga tertutup bagi umum.

Keanekaragaman jenis tertinggi terdapat di Kebun Binatang Tamansari dan terendah di kawasan Eks-TPA Pasir Impun, sedangkan untuk populasi terbanyak terdapat di PT Pindad, dan yang paling sedikit di kawasan Eks-TPA Pasir Impun. Jenis pohon yang ada sebagai vegetasi hutan kota umumnya merupakan jenis eksotik, dari hasil kegiatan penelitian ini disusun suatu matriks kesesuaian jenis pohon berdasarkan deskripsi (karakteristik dan fungsi) dari setiap jenis pohon yang sesuai dengan peruntukannya untuk setiap tipe kawasan hutan kota. Matriks kesesuaian jenis pohon potensial ini dapat digunakan sebagai acuan para pihak pengguna (Dinas instansi terkait dan swasta) dalam memilih suatu jenis pohon sebagai vegetasi hutan kota sesuai tipe kawasan dan peruntukannya.

Meskipun demikian pemilihan jenis pohon sebaiknya mempertimbangkan kearifan lokal dengan memperhatikan jenis lokal (endemic) yang langka atau hampir punah untuk dipertahankan.

Kata kunci : Hutan kota, tipe kawasan, struktur vegetasi, dan jenis pohon potensial.

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 10 No. 1, hal. 72 - 87 Salah satu elemen kritis untuk mendukung keberhaslan REDD+ adalah melalui upaya meningkatkan tata kelola kepemerintahan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis upaya kondisi tatakelola lembaga REDD+ sudah ada. Penelitian dilakukan pada tahun 2011 di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Berau.

Pemilihan kedua lokasi ini didasarkan pada keberadaan kegiatan percontohan (Demonstration Activities) di lokasi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga REDD+ yang ada belum sepenuhnya mencerminkan tiga pilar dalam good governance, keterwakilan unsur masyarakat masih kurang.

Indikator profesionalisme menduduki nilai tertinggi, sedangkan indikator partisipasi menduduki nilai terendah. Lembaga yang dapat berpotensi untuk menjadi lembaga REDD+ tersebut juga belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip good governance, hal ini karena baru dalam tahap awal operasional.

Lembaga REDD+ yang ada semuanya merupakan lembaga ad hoc sehingga bersifat sementara, ada kecenderungan tidak adanya learning organization dan mengarah ke overlapping fungsi. Penelitian menyarankan beberapa hal: (i) penguatan tata kelola hutan pada lembaga REDD+ yang sudah ada bisa dilakukan melalui penguatan pilar masyarakat dan penguatan prinsip partisipasi, (ii) masyarakat atau pihak yang mewakili masyarakat perlu dilibatkan dalam struktur kelembagaan REDD+, (iii) Penilaian prinsip-prinsip good governance dalam institusi REDD+ akan lebih komprehensif jika dilakukan pada kondisi implementasi, dimana mekanisme distribusi pembayaran dari kegiatan penurunan emisi sudah berjalan, (iv) Fungsi fasilitas perlu terus diperkuat sebagai penggerak mekanisme REDD+ agar dapat terimplementasikan dan (iv) Struktur organisasi yang terbaik mengikuti strategi REDD+

yang ditetapkan.

Kata kunci: tata kelola, hutan, pilar, prinsip dan indikator, REDD+

(7)

UDC (OSDCF) 630*61

Erwinsyah, Harianto, Bonar M. Sinaga & Bintang C.H.

Simangunsong

Impact of Forest Royalties and Reforestation Fund to the Welfare Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 10 No. 1, p. 15 - 36 In the last three decades the forestry sector has given important contribution to the government revenues, among others are recieved from forest royalty (PSDH) and reforestation fund (DR). To determine the impact of implementation of PSDH and DR policy on welfare then elasticity of supply and demand of roundwood market and wood products market were determined, and use from previous study. Data used in this study was time series from year 1995 to year 2009. This study was concluded that increasing PSDH and DR separately will increase the price of roundwood, except the price of pulp wood of HTI, and will increase the price of wood products. An increased DR and PSDH at the sametime will increase the price of roundwood and wood products. Increased PSDH will encourage higher production of roundwood and wood products, except of plywood which was not much influenced by increased market prices.

Increased DR will increase roundwood production, except the pulp wood of HTI. Increased DR will increase production of sawn timber.

While increased DR and PSDH will simultaneously increase the

The discriptors given are keywords. The abstract sheet may be reproduced without permission or charge.

UDC (OSDCF) 630*116

Edwin Martin, Bambang Tejo Premono & Ari Nurlia

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 10 No. 1, p. 1 - 14

Problems of deforestation in the upstream watershed site can not be stopped or slowed down by current policies and programs, therefore other approaches are still required in accordance with the dynamics of socio-economics condition of local communities. This study was intended to answer questions about how to start a forest landscape management in upland areas, through case study in the Pagaralam, South Sumatra. Research is done by a survey of stakeholders who have interests and power on the forested landscape in Pagaralam.

Data were analyzed with nonparametric statistics, and then discussed with the parties through FGD. The results showed that the actors in the goverment and land users have different perceptions and attitudes in assesing forested landscape. In addition to the importance of awareness-raising for land users through the media that raise enviromental issues, program priorities to initiate the management of forest landscapes in the upper basin include replanting and protecting springs and along side of the river.

Keyword: Forested landscape, upland, upper watershed, perception Stakeholder’s Perception and Attitude Toward Forested Landscape at Kota Pagaralam, The Upper Musi Watershed, South Sumatera

production of roundwood from natural forest, construction wood and pulp wood from HTI as well as sawntimber and pulp product.

Increased PSDH and DR will increase producer welfare and reduce consumer welfare of roundwood.

Keywords: Roundwood, wood products, supply, demand, elasticity, welfare

UDC (OSDCF) 630*907 Faiqotul Falah

tudy on the Effectiveness of Collaborative Management of Kutai National Park

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 10 No. 1, p. 37 - 57 Kutai National Park ) area has been defragmented and degraded due to illegal logging, forest fire, and land occupation.

Collaborative management of TNK has been exists with the establishment of Mitra Kutai However various problems occur in TNK as indication that the collaborative management has not yet effective. This paper aims to describe information regarding the institutional effectiveness of collaborative management in TNK.

This research was conducted by : 1) identification of related policies;

2) policy content analysis; 3) identification of stakeholders' perception and roles, 4) qualitative analysis on stakeholders' perception and roles, 5) SWOT analysis, and 6) formulation of recommendation on improvement steps of collaborative management of TNK. It was concluded that collaborative management of TNK was ineffective in solving various problems occurred, and therefore it is necessary to make improvement by the following steps : 1) Study the potential and current conditions of TNK; 2) Publish research results and raise issues on the problems and important values of TNK; 3) Strengthen networking with funding organizations; 4) Establish zonation area; 5) Reconfigure collaboration management organization and arrange programmes and scheme on budget agreed by all stakeholders; 6) Make collaboration on the development of model of conservation village;

and 7) Collaboration in the economic utilization programmes in TNK, such as development of agro-tourism area, the environmental education center, safari-park and eco-tourism areas and research area

Keywords : Collaboration, institution, ecosystem based forest management, stakeholders' roles

S

(TNK

(8)

Economic growth and development in urban area tend to reduce green open space that has impact on the disruption of ecosystem balance, such as temperature increase, air and water pollution, soil surface decrease and flood risk. Efforts to eliminate those negative impact can be conducted by the development of urban forest by using potential tree species. This study was aimed to investigate, how far the PP No. 63 / 2002 on urban forest has been accommodated by local gaverment. Location for this study was the City of Bandung, that has issued local regulation (Perda) No. 25 / 2009 on urban forest that identifies nine urban forests in Bandung namely. Taman Tegalega, Taman Pramuka, Taman Lantas, Taman Cilaki, Taman Maluku, TPA Pasir Impun, Kebun Binatang Tamansari, and PT Pindad urban Forest. Census method was applied in this study in order to identify urban forest coverage, tree structure, tree population, tree dimension (diameter, total height, branch-free height, canopy height and width) and tree identification (genus, species, and family) This study indicated that all urban forests, except PT Pindad urban Forest, were utilized as sport and recreation facilites. PT Pindad urban forest was restricted as it is located inside the army industry. The highest tree diversity was at the Kebun Binatang Tamansari while the lowest was at TPA Pasir Impun.

Largest tree population was found at PT Pindad forest, while the lowest one was found at TPA Pasir Impun. Almost all of tree population composing urban forests in Bandung wereexotic species.

Results of this study were used to program tree species suitability matrix based on tree description (characteristics and functions) of all suitable tree species for urban forest. This potential tree matrix is, therefore recommended be used by stakeholders as a reference to determine particular tree species for urban forest development.However,, selection of tree species should consider the balance with endemic, rare and endanger species.

Keywords: Urban forest, area type, vegetation structure, and potential tree species

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 10 No. 1, p. 72 - 87 In order to support development and management efforts of urban forest, a measure of legal control is necessary. Government has supported the efforts by enacting Government Regulation No.63/2002 regarding urban forest and technical policy from Ministry of Forestry Regulation No.P.71/2009 regarding the implementation of urban forest. Based on a research conducted in four cities (Samarinda, Balikpapan, Bontang and Tarakan) of East Kalimantan province, the legal basis (comprehensiveness and enforcement of laws) are more about spatial planning as a strategic issue. As derivation of national regulation, local regulations are expected to support in development and management efforts of regional level of urban forests. Local governments can enact local regulations for technical guidelines in short term strategy. Until 2011, only Tarakan municipality has enacted local regulation of urban forest, however all the cities have established urban forest in the city areas although still below the target of 10%. Moreover, most local regulations from these four cities have relatively paid little attention particularly to private property policy. Some of the major players may be involved in urban forest in developing towns. In this review, urban forest local regulations that exist in East Kalimantan are discussed, including legal issues, key players and their roles in urban forests management.

Keywords: Urban forest, policy, East Kalimantan

(9)

(Stakeholder's Perception and Attitude Toward Forested Landscape at Kota Pagaralam, The Upper Musi Watershed, South Sumatera)

Edwin Martin , Bambang Tejo Premono & Ari Nurlia1 2 3

1,2,3

Balai Penelitian Kehutanan Palembang, Jl. Kol. H. Burlian Punti Kayu Km 6,5. Telp/Fax 414864 Palembang, E-mail : [email protected]

Masalah deforestasi di DAS bagian hulu tidak dapat dihentikan atau diperlambat oleh kebijakan dan program yang berlaku saat ini, sehingga masih diperlukan pendekatan lain yang sesuai dengan dinamika sosial-ekonomi kondisi masyarakat lokal. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana memulai manajemen lanskap hutan di daerah dataran tinggi, melalui studi kasus di Pagaralam, Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui survei terhadap para pihak yang memiliki kepentingan dan kewenangan pada lanskap hutan di Pagaralam. Data hasil survei dianalisis dengan statistik non parametrik, kemudian dibahas dengan para pihak melalui FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para aktor pemerintah dan pengguna lahan memiliki persepsi dan sikap yang berbeda dalam menilai lanskap berhutan. Selain pentingnya peningkatan kesadaran bagi pengguna lahan melalui media yang mengangkat isu-isu lingkungan, prioritas program untuk memulai pengelolaan lanskap hutan adalah penanaman kembali dan melindungi daerah sekitar mata air dan kanan kiri sisi sungai.

Kata kunci : Lanskap berhutan, dataran tinggi, DAS hulu, persepsi

Diterima 18 Juli 2012, disetujui 1 Agustus 2012

ABSTRACT

Problems of deforestation in the upstream watershed site can not be stopped or slowed down by current policies and programs, therefore other approaches are still required in accordance with the dynamics of socio- economics condition of local communities. This study was intended to answer questions about how to start a forest landscape management in upland areas, through case study in the Pagaralam, South Sumatra. Research is done by a survey of stakeholders who have interests and power on the forested landscape in Pagaralam. Data were analyzed with nonparametric statistics, and then discussed with the parties through FGD. The results showed that the actors in the goverment and land users have different perceptions and attitudes in assesing forested landscape. In addition to the importance of awareness-raising for land users through the media that raise enviromental issues, program priorities to initiate the management of forest landscapes in the upper basin include replanting and protecting springs and along side of the river.

Keyword : Forested landscape, upland, upper watershed, perception.

ABSTRAK

(10)

I. PENDAHULUAN

Saat ini, agen utama penyebab deforestasi tidak lagi hanya oleh peladang berpindah dan petani skala kecil saja, namun oleh usaha-usaha berbasis kapital (Boucher, 2010; Rudel , 2009). Karenanya, konsentrasi penanganan masalah-masalah deforestasi dalam kerangka perubahan iklim lebih banyak diarahkan di daerah dataran rendah seperti lahan gambut, yang berpotensi besar sebagai wilayah pertumbuhan ekonomi, sementara di wilayah dataran tinggi dan pegunungan sebagai hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) sedikit terabaikan. Padahal, di Pulau Sumatera, tutupan hutan yang tersisa lebih terkonsentrasi di area sepanjang Bukit Barisan, sebagai bagian hulu DAS-DAS di Sumatera.

Salah satu contoh DAS bagian hulu yang kini masih berkutat pada persoalan deforestasi adalah Sub DAS Lematang yang terletak di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. Meskipun sejak tahun 2003 Pemerintah Kota Pagaralam telah menggalakkan program penanaman pohon yang bersifat wajib bagi Pegawai Negeri Sipil, namun, sampai sekarang dampak lingkungan kerusakan hutan masih tetap dikeluhkan para pihak. Pada musim kemarau sawah dan air terjun sebagai objek wisata seringkali mengalami kekeringan, sementara banjir bandang selalu menghantui pada saat datangnya hujan (Sumeks, 13 September 2011, 31 Oktober 2011, 17 November 2011). Seluas 7.950 ha dari 8.740 ha jumlah total hutan lindung telah mengalami kerusakan dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau lahan kritis (Sindo, 10 Februari 2011). Situasi ini makin diperparah oleh meluasnya alih guna lahan hutan di daerah perbukitan dan sekitar Gunung Dempo menjadi kebun-kebun sayur (Sumeks, 27 Agustus 2011; Republika, 21 November 2011). Keadaan ini menunjukkan et al.

bahwa masalah deforestasi pada taraf tapak atau mikro DAS hulu belum dapat dihentikan atau diperlambat melalui pendekatan struktural kebijakan dan program yang berlaku sekarang, sehingga masih diperlukan pendekatan lain yang sesuai dengan dinamika kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal.

Teori transisi hutan menyebutkan bahwa deforestasi di suatu wilayah akan terus terjadi sebagai akibat urbanisasi dan industrialisasi, kemudian suatu waktu akan mengalami pemulihan lagi atau reforestasi (Rudel , 2005; Mather, 2007). Menurut Angelsen (1999) deforestasi untuk membuka lahan pertanian seringkali menjadi satu- satunya pilihan yang tersedia bagi kehidupan petani yang hidup di sekitar hutan. Jika demikian, maka deforestasi yang masih terjadi sebagaimana kasus di Pagaralam adalah sesuatu yang tak terelakkan. Pada situasi ini, tugas pemerintah adalah mempertahankan tutupan hutan yang tersisa dan mendorong reforestasi pada bentang lahan (lanskap) yang memiliki nilai konservasi tinggi. Bagaimana, dimana dan bersama siapa kebijakan konservasi dan penanaman kembali lanskap hutan tersebut akan dilakukan bergantung kepada status perilaku para pihak yang berinteraksi dengan lanskap. Persepsi dan sikap para pihak menggambarkan perilaku yang telah, sedang dan akan mereka lakukan.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana memulai pengelolaan lanskap hutan di daerah dataran tinggi yang masih mengalami deforestasi, melalui contoh kasus di Kota Pagaralam. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi dan sikap para pihak terhadap nilai penting hutan dalam skala lanskap sub DAS Lematang Kota Pagaralam, Sumatera Selatan.

et al.

(11)

II. METODE PENELITIAN

A. Konteks dan Penentuan Para Pihak Kota Pagaralam mulai berdiri sendiri sebagai daerah otonom dan terpisah dari Kabupaten Lahat sejak tahun 2001. Sebagai salah satu kota di Provinsi Sumatera Selatan, Pagaralam terletak sekitar 298 km dari Palembang (Ibukota Provinsi) serta berjarak 60 km di sebelah barat daya Lahat (Ibukota Kabupaten Lahat). Kota Pagaralam memiliki luas wilayah ± 63.366 ha, yang terbagi menjadi lima kecamatan yaitu Dempo Selatan, Dempo

Tengah, Dempo Utara, Pagaralam Selatan dan Pagaralam Utara. Kota ini memiliki tingkat kepadatan penduduk 195 jiwa/km .

Sebagian besar keadaan tanah di Pagaralam berasal dari jenis latosol dan andosol dengan bentuk permukaan bergelombang sampai berbukit (Gambar 1). Tipologi tanah di Pagaralam tergolong subur. Sebagian besar areal yang berada tidak jauh dari pemukiman dijadikan lahan usahatani, seperti sayur mayur, kopi, coklat dan buah-buahan, terutama di areal yang bergelombang dan berbukit. Desa- desa tertentu di sisi utara merupakan areal penghasil beras dengan persawahan yang luas.

2

Gambar 1. Citra lanskap Kota Pagaralam sebagai lokasi penelitian Figure 1. Image of Pagaralam landscape as case study site

(12)

Kota Pagaralam temasuk ke dalam hulu Sub DAS Lematang, DAS Musi. Sebagai hulu DAS, wilayah Kota Pagaralam dipenuhi oleh sungai-sungai kecil dan ratusan mata air, serta didominasi lahan dengan kemiringan lebih dari 40%. Selain Sungai Lematang yang berada di sisi tengah wilayahnya, terdapat sungai-sungai lain seperti Selangis Besar, Selangis Kecil, Air Kundur, Air Perikan, Endikat dan puluhan sungai-sungai lainnya yang berperan sebagai penyokong kehidupan masyarakat di Pagaralam dan sekitarnya. Deskripsi Kota Pagaralam ini berimplikasi pada kebutuhan untuk mengelola lanskapnya sebagai areal yang selayaknya didominasi oleh vegetasi hutan.

Meskipun secara lanskap wilayah Pagaralam idealnya didominasi oleh vegetasi hutan, namun pada kenyataannya areal yang masih berhutan kian hari makin menyempit.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam melaporkan telah terjadi deforestasi seluas 7.950 ha dari 28.740 ha keseluruhan areal kawasan hutan lindung (Sindo, 10 Februari 2011). Deforestasi ini dilakukan oleh petani untuk membuka kebun kopi atau sayur. Selain hutan yang terletak di areal kawasan hutan lindung, deforestasi juga terjadi pada hutan- hutan di perbukitan, sepanjang aliran sungai dan mata air yang berada di luar kawasan hutan. Hal ini terindikasi dari luasnya lahan kritis dan sangat kritis yang dilaporkan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan (2009) untuk areal di luar kawasan hutan di Kota Pagaralam, yaitu 13.070,36 ha, sementara di dalam kawasan hutan mencapai 11.554,60 ha. Secara total, lahan yang tergolong kritis dan sangat kritis mencapai 24.625,16 ha atau hampir 40% dari total keseluruhan wilayah Kota Pagaralam.

Dalam konteks kesatuan wilayah DAS, area administrasi Kota Pagaralam meliputi lanskap hulu yang berbukit sampai bergunung dan hilir yang relatif datar sampai

bergelombang. Wilayah hulu adalah hutan lindung Bukit Jambul sebagai daerah sumber mata air dan ratusan anak sungai. Tutupan lahan di wilayah hulu kini adalah hutan primer, hutan sekunder, semak belukar, kebun ladang masyarakat dan beberapa kantong pemukiman masyarakat. Tata guna lahan usahatani di wilayah hulu didominasi oleh kebun kopi dan sayur. Wilayah hilir pada umumnya merupakan pusat pemukiman penduduk/perkampungan, sawah, tegalan dan kebun masyarakat. Masyarakat di hilir mengandalkan sawah sebagai sumber nafkah keluarga, namun biasanya tetap mengusaha- kan kebun kopi.

Para pihak ( ) didefinisikan oleh Freeman (1984 Ramirez 1999) sebagai setiap kelompok atau individu yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi pencapaian tujuan bersama. Namun, menurut Ramirez (1999), dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, definisi Rolling dan Wagemakers (1998) lebih mengena, yakni kelompok atau individu yang menggunakan dan mengelola sumberdaya alam. Oleh karena itu, selain pemerintah kota sebagai pihak yang berpengaruh, para pihak dalam penelitian ini adalah mereka yang menggunakan lahan di wilayah hulu (petani kopi dan sayur) dan hilir (petani sawah).

Pengumpulan data persepsi para pihak terhadap nilai penting lanskap berhutan di Kota Pagaralam dilakukan dengan cara survei yang dilengkapi dengan

(FGD). Unit analisis dalam penelitian ini adalah lanskap di sekitar Sungai Lematang yang termasuk dalam wilayah administrasi Kota Pagaralam, sehingga pewakil para pihak ditentukan secara sengaja berdasarkan posisi sentral suatu komunitas sebagai pengguna lahan. Petani kopi diwakili oleh masyarakat Dusun Tebat Benawa dan Tanjung Taring

stakeholders dalam

Focus Group Discussion B. Pengumpulan Data

(13)

yang berada di sisi selatan lanskap Pagaralam dan berbatasan langsung dengan kawasan

berhutan ( ). Petani padi

direpresentasi oleh masyarakat Dusun Jangga dan Bandar, tempat yang dikenal sebagai penghasil beras. Petani sayur diwakili masyarakat Dusun Kerinjing, sebagai sentra perkebunan sayur. Ketiga pihak ini disebut sebagai kelompok masyarakat. Pihak pemerintah kota diwakili oleh aktor-aktor yang berasal dari dinas instansi yang terkait langsung dengan lanskap, yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH), Dinas Pertanian dan Hortikultura (Distan), Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) dan camat.

Pihak lain yang memiliki kepentingan dan pengaruh baik terhadap lanskap maupun para pihak adalah para ketua RW. Mereka adalah warga dusun yang dipilih oleh masyarakat

forest frontier

sebagai pemimpin dusun, menggantikan peran kepala desa pada era sebelum Pagaralam memisahkan diri dari Kabupaten Lahat.

Survei dilakukan terhadap petani dan aktor pada setiap kelompok pihak dengan cara wawancara. Partisipan kelompok petani dipilih secara insidentil pada setiap dusun terpilih. Partisipan adalah kepala keluarga petani yang pada saat penelitian berlangsung sedang berada di rumah dan bersedia untuk melakukan wawancara. Karena keterbatasan sumberdaya (waktu dan dana), jumlah partisipan di setiap dusun dibatasi sebanyak 30 kepala keluarga. Wawancara dibantu oleh enumerator lokal yang mentranslasi bahasa di kuesioner ke dalam bahasa yang mudah dipahami partisipan. Wawancara terhadap kelompok pemerintah kota, termasuk dengan ketua RW, dilakukan sendiri oleh tim peneliti.

Wawancara terhadap para pihak ini meng- gunakan satu dokumen kuesioner. Jumlah dan asal partisipan penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah dan asal partisipan penelitian

Table 1. The amount and origin of research participants

No. Unsur pihak

(Group of party)

Asal pihak (Origin)

Jumlah partisipan (Amount of participant) 1. Petani kopi (kebun

campuran)

Dusun Tebat Benawa, Dusun Tanjung Taring

60 orang 2. Petani padi sawah Dusun Jangga, Dusun Bandar 60 orang

3. Petani sayur Dusun Kerinjing 30 0rang

4. Ketua RW (mantan kepala desa)

Dusun Tebat Benawa, Dusun Tanjung Taring, Dusun Jangga, Dusun Bandar, Dusun Kerinjing, Dusun Benua Keling, dan Dusun Semidang Alas

7 orang

5. Camat Pagaralam Selatan, Dempo Tengah, Dempo Utara

3 orang 6. SKPD (Satuan Kerja

Perangkat Daerah)

Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas Pertanian dan Hortikultura, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan.

5 orang

(14)

Kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini berisi daftar pernyataan tentang nilai penting keberadaan hutan dan sikap para pihak terhadap lanskap berhutan. Daftar pernyataan nilai penting keberadaan hutan disusun berdasarkan manfaat ekonomis, ekologis dan sosial hutan yang disebut dalam penelitian Dolisca . (2007). Partisipan meng- ungkapkan keyakinan terhadap pernyataan nilai penting hutan dengan memilih enam pilihan tanggapan, yaitu tidak tahu, sangat salah, salah, ragu-ragu, benar dan sangat benar.

Daftar pernyataan tentang idealisme konservasi hutan pada lanskap tertentu disusun secara normatif dengan mengacu kepada Keputusan Presiden RI No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Partisipan menunjukkan sikapnya terhadap pernyataan normatif nilai penting hutan pada lanskap tertentu dengan memilih salah satu dari enam jawaban, yaitu tidak mengerti, sangat tidak setuju, setuju, ragu-ragu, setuju dan sangat setuju.

Persepsi dan sikap masyarakat terhadap nilai penting hutan pada lanskap tertentu didiskusikan secara formal dalam forum FGD, guna melengkapi data dan informasi yang diperoleh dari wawancara. FGD dilakukan bersama masyarakat Dusun Semidang Alas, di mana sebagian warganya merupakan petani kopi dan sebagian lain adalah petani sayur, sehingga dapat dianggap mewakili dua kelompok dominan pengguna lanskap. Dusun ini merupakan salah satu pintu masuk ke arah kawasan hutan lindung Bukit Jambul.

Tanggapan partisipan penelitian terhadap pernyataan yang diajukan dalam wawancara dikuantifikasi melalui skala Likert, dimulai dari angka 1 untuk tidak tahu/mengerti, 2 untuk sangat salah/sangat tidak setuju, 3 untuk jawaban salah/tidak setuju, 4 untuk respon ragu-ragu, 5 untuk benar/setuju dan 6 untuk

et al

C. Analisis Data

respon sangat benar/setuju. Hasil kuantifikasi dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh pemusatan jawaban (rerata) setiap pernyataan yang diajukan dan setiap kelompok pihak.

Perbedaan nilai persepsi antarpihak terhadap nilai penting hutan dianalisis melalui uji beda Mann-Whitney. Perbedaan sikap antarpihak terhadap konservasi hutan pada lanskap tertentu dianalisis melalui uji beda Kruskal- Wallis (Santoso, 2001).

Hubungan antara atribut partisipan penelitian dari kelompok masyarakat dengan sikapnya terhadap hutan pada lanskap tertentu dianalisis menggunakan korelasi Spearman dan Cramer. Penjelasan mengenai alasan- alasan dibalik persepsi para pihak dianalisis secara deskriptif kualitatif sebagai hasil dari FGD.

Manusia menilai apakah suatu hutan penting atau tidak bagi diri dan lingkungannya berdasarkan informasi, pengalaman dan kepentingan masing-masing yang tidak selalu sama. Nilai penting hutan selalu dilihat dari 3 (tiga) fungsi, yaitu ekologi, ekonomi dan sosial.

Penelitian ini mendefinisikan hutan sebagai areal yang didominasi vegetasi berkayu atau pepohonan. Tabel 2 menampilkan nilai persepsi setiap kelompok kepentingan terhadap nilai penting eksistensi hutan di wilayah administrasi Kota Pagaralam.

Nilai penting hutan dari sisi ekologi direpresentasikan oleh peran ekosistem hutan, konservasi tanah dan air, suplai air dan udara bersih. Peran ekosistem hutan sebagai habitat flora fauna dibenarkan para pihak (nilai rerata lebih dari 5), meskipun kelompok petani sayur tidak terlalu meyakininya. Seluruh kelompok kepentingan meyakini peran hutan dalam III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Persepsi terhadap nilai penting hutan

(15)

mencegah terjadinya banjir, namun peran mengurangi bahaya erosi tidak terlalu diyakini oleh kelompok petani kopi. Petani sayur dan kopi juga tidak terlalu yakin jika hutan memiliki peran dalam penyuplai air bersih, air bagi persawahan serta udara bersih. Keraguan

terhadap peran-peran ekologis hutan ini disampaikan paling sering oleh kelompok petani sayur. Kelompok pemerintah sangat meyakini semua atribut peran ekologis hutan.

Nilai persepsi kelompok pemerintah tersebut berbeda nyata dengan nilai persepsi kelompok kepentingan lainnya.

Tabel 2. Nilai persepsi para pihak terhadap nilai penting hutan Table 2. Score of stakeholders perception toward forests roles

Rataan nilai persepsi kelompok kepentingan (Mean score of stakeholders perception)

No. Pernyataan

(Statements) Kopi

(K)

Padi (P)

Sayur (S)

RW (R)

PEMDA (M)

Signifikansi perbedaan (Significance of

difference) 1. Hutan menyediakan tempat bagi

banyak tumbuhan dan hewan 5,02 5,16 4,83 5,25 5,88 M > R, P, K, S 2. Hutan adalah tempat yang baik bagi

anda untuk mengamati alam 4,62 4,95 4,07 5,00 5,25 M, R, P, K > S 3. Hutan meningkatkan kualitas tanah 4,60 4,90 4,43 5,00 5,50 M > K, S

4. Hutan mencegah banjir 5,05 5,21 5,07 5,25 5,75 M > P, S, K

5. Hutan mengurangi erosi tanah 4,84 5,19 5,03 5,25 5,88 M > R, P, S, K 6. Hutan meningkatkan ketersediaan

air minum 4,75 5,14 4,63 5,00 5,75 M > P, R, K, S

7. Hutan menjaga ketersediaan air

sawah 4,90 5,04 4,77 4,75 5,63 M > P, K, S, R

8. Hutan meningkatkan kualitas udara 4,75 5,04 4,47 5,00 5,75 M > P, R, K, S 9. Menanam pohon menambah nilai

kekayaan anda 4,60 4,80 4,4 4,25 5,50 M > P, K, S, R

10. Hutan menarik kedatangan

wisatawan 3,70 4,14 4,3 4,75 5,25 M > S, P, K

11. Hutan meningkatkan hasil usaha

pertanian 4,39 4,85 4,4 4,50 5,25 M > R, S, K

12. Hasil hutan bukan kayu menambah

penghasilan 4,73 4,92 4,17 5,00 5,38 M > K > S

13. Hasil hutan kayu menambah

penghasilan 4,19 4,06 4,23 4,50 4,88 M > S, K, P

14. Hutan menyediakan sumber mata

pencarian 4,54 4,47 4,23 4,00 5,13 M > K, P, S, R

15. Menanam pohon meningkatkan

peluang pendidikan anak-anak 4,70 4,98 4,3 4,75 5,50 M > P, R, K, S 16. Menanam pohon berarti

menyediakan kayu bangunan 5,00 5,02 4,93 5,00 5,25 M > P, K, R, S 17. Menanam pohon berarti

memperkuat masyarakat perdesaan 4,14 4,66 3,77 4,75 5,25 M > P, K, S 18. Menanam pohon mendukung

tanggung jawab lingkungan 4,70 5,16 4,17 5,00 5,50 M > K, S

19 Pohon-pohon menciptakan damai

bagi kehidupan 4,28 4,86 4,2 4,75 5,38 M > P, R, K, S

20. Pejabat dan tokoh masyarakat menjadi contoh dalam menjaga dan membangun hutan.

4,87 4,69 5,03 5,00 5,63 M > S, R, K, P Rataan per kelompok kepentingan 4,62 4,86 4,47 4,84 5,46

(16)

Peran ekonomi lanskap berhutan secara umum dipandang dari nilai ekonomi kayu, hasil hutan bukan kayu dan jasa-jasa lingkungan. Para pihak meragukan hasil kayu dari hutan dapat menambah penghasilan masyarakat (Rerata nilai persepsi mendekati 4). Semua kelompok kepentingan kecuali pemerintah daerah juga meragukan usaha tanaman dan ekowisata hutan sebagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan di Pagaralam.

Bagi kelompok petani sayur, hasil hutan bukan kayu tidak bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Hutan menurut semua kelompok kepentingan selain pemerintah daerah tidak dapat menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Namun demikian, semua kelompok kepentingan memiliki persepsi yang sama bahwa menanam pohon dapat menyediakan kayu bangunan.

Petani sayur merupakan kelompok kepentingan yang paling meragukan nilai penting peran sosial eksistensi hutan di Kota

Pagaralam. Peran sosial hutan, seperti terciptanya kedamaian relasional, peningkatan status sosial desa hutan, kebanggaan terhadap citra penyelamat lingkungan diragukan oleh kelompok-kelompok pengguna lahan namun dibenarkan oleh kelompok pemerintah (Pemda dan ketua RW). Kelompok pemerintah daerah secara umum memiliki persepsi positif terhadap nilai penting fungsi hutan. Persepsi pemerintah daerah ini berbeda secara nyata dengan para pihak lainnya.

Gambar 2 menunjukkan sebaran nilai persepsi para pihak di Kota Pagaralam terhadap nilai penting hutan. Secara umum terlihat bahwa para pihak paling mengapresiasi fungsi ekologi dari eksistensi hutan. Ini berarti, pendekatan nilai-nilai ekologi hutan lebih tepat untuk menjadi pintu masuk pengelolaan hutan di Kota Pagaralam. Gambar ini juga memperlihatkan terjadinya kesenjangan persepsi yang luar biasa antara kelompok pemerintah daerah dengan kelompok petani sayur dan kopi.

Ragu-ragu Sangat penting

Penting

Ekologi Ekonomi Sosial

Gambar 2. Posisi nilai persepsi para pihak terhadap nilai penting hutan Figure 2. Mapping of stakeholders perception scores toward forests roles

(17)

2. Sikap terhadap lanskap berhutan

Lanskap atau bentang lahan merupakan konfigurasi khusus dari topografi, penutupan vegetasi, tata guna lahan dan pola pemukiman yang membatasi beberapa ide aktivitas- aktivitas dan proses-proses alam dan budaya (Green ., 1996 Arifin ., 2009).

L a n s k a p b e r h u t a n m e n g a c u k e p a d a penampakan di atas permukaan bumi yang didominasi vegetasi pohon atau tanaman berkayu lainnya. Undang-Undang No. 41 tahun 1999 dan Keputusan Presiden RI Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung telah mengatur hubungan antara masyarakat dengan lanskap tertentu yang berhutan. Tabel 3 menyajikan sikap kelompok pengguna lahan di Pagaralam terhadap lanskap tertentu yang berdasarkan peraturan per- undangan merupakan kawasan dilindungi.

et al dalam et al

Penelitian ini menunjukkan bahwa tiga kelompok dominan pengguna lahan di Pagaralam memiliki kesamaan sikap terhadap hutan yang berada di kawasan hutan lindung, namun berbeda sikap terhadap lanskap dilindungi lainnya yang berada di kawasan budidaya. Kelompok petani sayur cenderung bersikap tidak setuju jika hutan yang berada di atas lahan-lahan miring tidak boleh ditebangi.

Sikap tersebut juga diikuti oleh petani kopi meskipun menunjukkan gejala keragu-raguan.

Sikap ragu-ragu ditunjukkan pula oleh petani sayur tentang pentingnya mempertahankan hutan yang berada di kanan kiri sungai dan sekitar mata air. Perbedaan sikap yang mencolok umumnya terjadi antara petani sayur dan petani padi. Petani padi, meskipun tidak mutlak, cenderung setuju dengan perlindungan hutan pada lanskap tertentu.

Secara umum, lanskap berhutan kurang disukai oleh kelompok petani sayur.

Tabel 3. Rataan nilai sikap kelompok pengguna lahan terhadap lanskap berhutan Table 3. Mean score of land users attitude toward forested landscape

Rataan nilai sikap kelompok kepentingan (Mean score of land users attitude)

No. Pernyataan sikap

(Statements of attitude)

Kopi Padi Sayur

Probabilitas (Probability) 1. Hutan yang berada di kawasan hutan lindung tidak

boleh ditebang. 5,17 5,285 5,07 0,97ns

2. Hutan yang berada di atas lahan yang kemiringannya lebih dari 45 derajat tidak boleh ditebangi, meskipun pada lahan milik.

4,345 4,71 3,73 0,000

3. Lahan yang berada 50 meter dari kanan kiri sungai tidak boleh menjadi kebun dan tetap dibiarkan menjadi hutan.

4,52 4,915 4 0,000

4. Lahan yang berada 200 meter di sekitar mata air

tidak boleh diganggu dan dibiarkan sebagai hutan. 4,91 4,905 4,13 0,000 5. Orang yang berkebun di sekitar aliran sungai (50

meter) dan sumber mata air (200 meter) adalah penjahat lingkungan.

4,38 4,615 3,83 0,001

6. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bangunan yang makin mahal dan sulit diperoleh, masyarakat harus menanam sendiri pohon-pohon di kebun.

5 5,105 5 0,102ns

7. Setiap jiwa yang tinggal di wilayah Pagaralam wajib

untuk menanam pohon penghijauan. 4,74 4,985 5 0,002

Keterangan: ns = berarti sikap para pihak tidak berbeda secara nyata; angka probabilitas kurang dari 0,05 berarti ada perbedaan sikap antarpihak.

non-significant

Remark: ns = non-significant means attitude among stakeholders is not different significantly; Probability value less than 0,05 meant attitude among stakeholders is different significantly

(18)

Para pihak pengguna lahan di Pagaralam memiliki sikap yang sama terhadap tindakan penanaman pohon-pohon penghasil kayu bangunan di kebun. Menurut mereka, penanaman pohon dalam jumlah terbatas yang tidak mengganggu tanaman pokok adalah tindakan yang dapat diterima. Hasil penelitian yang menarik adalah bahwa ternyata petani sayur setuju dengan kewajiban penanaman pohon untuk penghijauan, sementara petani kopi sedikit meragukannya. Pohon peng- hijauan dirasakan perlu keberadaannya oleh petani sayur karena lingkungan sekitar mereka yang kini terbuka dan terasa panas pada siang hari.

Petani kopi adalah pengguna lahan utama dalam lanskap Kota Pagaralam. Tabel 4

menampilkan perbedaan nilai sikap antara kelompok petani kopi dengan kelompok pemerintah. Lanskap tertentu sangat disetujui oleh kelompok pemerintah daerah untuk dipertahankan sebagai hutan, namun kelompok petani kopi dan ketua RW menunjukkan sikap yang cenderung ragu-ragu.

Perbedaan sikap tersebut sangat mencolok terutama untuk perlindungan hutan di lanskap berbukit dan kanan kiri sungai. Bagi petani kopi, perbukitan dan kanan-kiri sungai adalah tempat favorit untuk berkebun kopi. Namun demikian, petani kopi setuju dengan tindakan penanaman pohon-pohon penghasil kayu bangunan pada lanskap-lanskap yang mereka usahakan sebagai kebun kopi.

Tabel 4. Rataan nilai sikap kelompok petani kopi dan pemerintah terhadap lanskap berhutan Table 4. Mean score of attitude of coffee growers and government officials toward forested landscape

Rataan nilai sikap kelompok kepentingan (Mean score of major stakeholder

attitude)

No. Pernyataan sikap

(Statements of attitude)

Kopi RW Pemda

Probabilitas (Probality)

1. Hutan yang berada di kawasan hutan lindung tidak

boleh ditebang. 5,17 5,25 5,88 0,005

2. Hutan yang berada di atas lahan yang kemiringannya lebih dari 45 derajat tidak boleh ditebangi, meskipun pada lahan milik.

4,345 4,75 5,63 0,000

3. Lahan yang berada 50 meter dari kanan kiri sungai tidak boleh menjadi kebun dan tetap dibiarkan menjadi hutan.

4,52 4,25 5,50 0,001

4. Lahan yang berada 200 meter di sekitar mata air

tidak boleh diganggu dan dibiarkan sebagai hutan. 4,91 4,00 5,63 0,000 5. Orang yang berkebun di sekitar aliran sungai (50

meter) dan sumber mata air (200 meter) adalah penjahat lingkungan.

4,38 4,25 5,50 0,002

6. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bangunan yang makin mahal dan sulit diperoleh, masyarakat harus menanam sendiri pohon-pohon di kebun.

5 4,00 3,25 0,003

7. Setiap jiwa yang tinggal di wilayah Pagaralam wajib

untuk menanam pohon penghijauan. 4.74 4,75 5,38 0,000

Keterangan: angka probabilitas kurang dari 0,05 berarti ada perbedaan sikap antarpihak.

Remark : Probability value less than 0,05 meant attitude among stakeholders is different significantly

(19)

Tabel 5 memperlihatkan korelasi antara sikap kelompok pengguna lahan, yakni petani kopi, padi dan sayur terhadap lanskap berhutan dengan atribut pribadi mereka.

Perbedaan sikap terhadap semua pernyataan tentang lanskap berhutan antar partisipan penelitian dari kelompok pengguna lahan ini secara umum hanya berkorelasi dengan atribut

pilihan usahatani, tidak dipengaruhi oleh perbedaan tingkat pendidikan, pendapatan dan luas lahan usahatani. Atribut luas lahan usahatani hanya berkorelasi secara negatif dengan sikap terhadap kewajiban menanam pohon penghijauan, di mana pemilik lahan sempit cenderung tidak setuju dengan kewajiban tersebut.

Tabel 5. Hubungan antara atribut partisipan penelitian dari kelompok pengguna lahan dengan sikap terhadap lanskap berhutan

Table 5. Correlation between attitude toward forested landscape and land users personal attributes

Atribut partisipan kelompok pengguna lahan (Land users personal attributes) No. Sikap terhadap pernyataan...

(Attitude toward statements...) Usahatani (Farming)

Pendidikan (Education)

Pendapatan (Income)

Luas lahan usahatani

(Wide of farming land) 1. Hutan yang berada di kawasan hutan

lindung tidak boleh ditebang. 0,218* 0,133 - 0,136 - 0,123

2. Hutan yang berada di atas lahan yang kemiringannya lebih dari 45 derajat tidak boleh ditebangi, meskipun pada lahan milik.

0,288** 0,086 - 0,078 0,04

3. Lahan yang berada 50 meter dari kanan kiri sungai tidak boleh menjadi kebun dan tetap dibiarkan menjadi hutan.

0,322** 0,069- - 0,104 - 0,029

4. Lahan yang berada 200 meter di sekitar mata air tidak boleh diganggu dan dibiarkan sebagai hutan.

0,305** - 0,036 0,087 - 0,076

5. Orang yang berkebun di sekitar aliran sungai (50 meter) dan sumber mata air (200 meter) adalah penjahat lingkungan.

0,27** 0,07 - 0,087 - 0,01

6. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bangunan yang makin mahal dan sulit diperoleh, masyarakat harus menanam sendiri pohon-pohon di kebun.

0,209* 0,112 - 0,013 - 0,128

7. Setiap jiwa yang tinggal di wilayah Pagaralam wajib untuk menanam pohon penghijauan.

0,309** 0,027 0,014 - 0,167*

Keterangan:

1. Kecuali usahatani, korelasi antara karakteristik responden dan sikapnya dianalisis menggunakan Metode Spearman. Usahatani merupakan kategorisasi (nominal) sehingga menggunakan analisis korelasi Cramer.

2. ** dan * berarti secara berturut-turut korelasi signifikan untuk tingkat kepercayaan 99% dan 95%

Remarks:

1. Except for farming, the correlation between respondent characteristics and his/her attitudes were analyzed using the Spearman method. Farming score is categorization, so that analyzed by Cramer correlation.

2. ** and * meant significant correlation in 99% and 95% level of confidence respectively

(20)

B. Pembahasan

Temuan pertama penelitian ini adalah terjadi kesenjangan persepsi yang lebar antara pemerintah dengan masyarakat lokal pengguna lahan, terutama kelompok petani sayur, dalam menilai penting atau tidaknya lanskap berhutan. Ini mengindikasikan bahwa gerakan pencegahan deforestasi dan peng- hijauan kembali yang didengung-dengungkan pemerintah belum membumi dan cenderung tertuju untuk masyarakat kota/hilir saja.

Ketidakefektifan implementasi kebijakan pemerintah ini menyebabkan deforestasi di daerah-daerah yang jauh dari kota masih tetap berlangsung dan upaya penanaman kembali (rehabilitasi) kurang mendapat dukungan, sebagaimana juga terjadi pada kasus deforestasi di dataran tinggi Filipina (Jensen, 2003).

Kebijakan hanya menyentuh aspek teknis kewajiban larangan menebangi hutan pada lanskap tertentu dan penanaman saja, tidak memperhatikan aspek institusi yang men- cakup pengetahuan dan norma-norma yang diyakini masyarakat.

Meskipun hasil penelitian Verbist (2005) dalam kasus sistem agroforestri kopi di Lampung menyebutkan bahwa deforestasi hanya merupakan fase awal perubahan tata guna lahan di hulu DAS dan setelah itu akan terjadi “penanaman pohon kembali”, tetapi lanskap yang mulai berhutan dalam kasus di Kota Pagaralam tidak terjamin untuk makin berhutan atau bertahan lama. Masyarakat lokal menilai peran ekonomi hutan hanya dari penyediaan kayu bangunan untuk keperluan rumah tangga saja. Nilai ekonomi lahan akan didapatkan apabila lanskapnya berubah menjadi pertanian. Perbedaan persepsi yang lebar antara pemerintah dan pengguna lahan ini akan memunculkan ketidakpastian keadaan lanskap, sehingga keberlanjutan nilai penting hutan tidak dapat dipertahankan.

Dibandingkan nilai ekonomi, nilai ekologi hutan lebih dihargai masyarakat. Karenanya, et al.

pintu masuk untuk memulai pengelolaan lanskap hutan di daerah hulu DAS seperti Pagaralam adalah lebih tepat melalui isu-isu lingkungan. Menurut Frost (2006), tindakan pertama yang penting dalam program penghutanan kembali lanskap tertentu yang seharusnya berhutan adalah mengelola interseksi kepentingan dan memberdayakan masyarakat lokal untuk terlibat secara aktif.

Keterlibatan masyarakat dapat terjadi apabila kepentingan perlindungan lingkungan yang mereka butuhkan, seperti banjir dan kekeringan, dihubungkan dengan nilai penting lanskap berhutan.

Masyarakat lokal pengguna lahan ternyata memiliki sikap yang berbeda untuk hutan pada lanskap tertentu. Sikap paling positif mereka tujukan bagi hutan di sekitar mata air, diikuti hutan di kanan kiri sungai. Sementara itu, mereka menunjukkan ketidaksetujuan dan keraguan terhadap larangan merusak hutan di perbukitan yang memiliki kemiringan curam.

Sikap pada penelitian ini menunjukkan nilai- nilai yang dipegang oleh para pihak. Menurut Hermans dan Thissen (2008), nilai-nilai menyediakan arah kemana aktor-aktor akan melangkah. Nilai-nilai berhubungan dengan apa yang dianggap baik atau lebih disukai untuk dilakukan oleh aktor. Ini berhubungan dengan tujuan dan sasaran dari tindakan aktor, dalam hal ini pemenuhan nafkah keluarga. Ini berarti, kebijakan pengurangan deforestasi dan penanaman kembali di daerah hulu sungai lebih sesuai untuk diprioritaskan bagi lanskap sekitar mata air dan kanan kiri sungai, di mana resistensi masyarakat paling minim.

Temuan akhir yang penting dalam penelitian ini adalah bahwa sikap pengguna lahan terhadap lanskap berhutan dipengaruhi oleh faktor pilihan usahatani. Petani sayur secara umum memiliki sikap negatif terhadap lanskap berhutan. Sistem pertanian sayur diyakini membutuhkan sinar matahari secara langsung, sehingga keberadaan pohon tidak diperlukan. Pertanian sayur yang diusahakan

et al.

Gambar

Gambar 1. Citra lanskap Kota Pagaralam sebagai lokasi penelitian Figure 1. Image of Pagaralam landscape as case study site
Tabel 1. Jumlah dan asal partisipan penelitian
Tabel 2. Nilai persepsi para pihak terhadap nilai penting hutan Table 2. Score of stakeholders perception toward forests roles
Gambar 2 menunjukkan sebaran nilai persepsi para pihak di Kota Pagaralam terhadap nilai penting hutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini akan membahas mengenai elastisitas penawaran dan elastisitas permintaan pasar input kayu bulat yang berasal dari hutan alam dan hutan tanaman, dan pasar output

PERKEMBANGAN PENERIMAAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) DAN DANA REBOISASI (DR) 3 TAHUN TERAKHIR.

Format blanko ini digunakan untuk DLPHH kayu bulat, kayu olahan, hasil hutan bukan kayu dan hasil hutan bukan kayu olahan.

Format blanko ini digunakan untuk DLPHH kayu bulat, kayu olahan, hasil hutan bukan kayu dan hasil hutan bukan kayu olahan.

Kebijakan yang mengatur tentang Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Dana Reboisasi (DR) dan Penggantian Nilai Tegakan (PNT) antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 12

Lingkup kajian supply kayu bulat yaitu berasal dari hutan alam produksi dan HTI, yang digunakan untuk bahan baku industri kayu lapis, kayu gergaji dan pulp.. Menurut

REALISASI PRODUKSI KAYU BULAT PER JENIS IUPHHK/HPH HUTAN ALAM PROVINSI SULAWESI UTARA TAHUN

Daftar Pemeriksaan Kayu Bulat DPKB Non Aplicable CV Decorus tidak menerima bahan baku kayu bulat yang berasal dari hutan Negara/Hutan Alam, seluruh bahan bakunya berupa kayu gergajian