MASYKUR KHAIR
Aktivitas tubuh merupakan kegiatan at kerja
yg dilakukan oleh bagian-bagian tubuh
Umumnya tk. Kesehatan seseorg dinilai dr
kemampuan org tsb u/ melakukan aktivitas
sehar-hari, mis. berdiri, berjalan, bekerja,
makan, & minum.
Dgn beraktivitas, sistem organ d dlm tubuh
diharapkan
dpt
berfungsi
dgn
baik
&
metabolisme tubuh meningkat
Sistem Muskuloskeletal
Tulang
Otot
Ligamen
Sendi
Sistem Saraf
Mobilisasi
adalah
kemampuan
seseorang
untuk bergerak secara bebas, mudah dan
teratur
yg
bertujuan
untuk
memenuhi
kebutuhan hidup sehat
Mobilisasi
diperlukan
tuk
meningkatkan
kemandirian diri, meningkatkan kesehatan,
memperlambat proses penyakit, khususnya
penyakit degeneratif, dan untuk aktualisasi
diri (harga diri dan citra diri)
Mobilitas Penuh
Kemampuan seseorg u/
bergerak secara
penuh & bebas sehingga dpt melakukan
interaksi sosial & menjalankan peran
sehari-hari. Mobilitas ini dipengaruhi oleh saraf
motorik
volinter
&
sensorik
u/
mengendalikan seluruh area tubuh
Mobilitas Sebagian
Keadaan ketika gerakan seseorg memiliki batasan yg jelas & gerakan tsb tdk dpt dilakukan dgn bebas krn ggg pd saraf motorik & sensorik area
tubuhnya. Dibagi atas :
1. Mobilitas sebagian temporer → mobilitas
sebagian yg sifatnya sementara. Hal ini dpt disebabkan oleh trauma reversibel pd sistem musculoskeletal, mis. Dislokasi sendi & tulang
2. Mobilitas sebagian permanen → mobilitas
sebagian yg menetap. Hal ini dpt disebabkan oleh kerusakan sistem saraf yg ireversibel, contoh hemiplegia (paralisis pd salah satu sisi
tubuh) krn stroke, paraplegia (paralisis badan &
anggota gerak bagian bawah) krn cedera tulang belakang
Gaya hidup & kebiasaan
Ketidakmampuan
(keadaan
Sakit
atau Cedera)
Tingkat energi
Usia & Status Perkembangan
Imobilitas
merupakan
keadaan
ketika
seseorg tdk dpt bergerak dgn bebas krn
kondisi yg mengganggu pergerakan.
Imobilitas merupakan suatu kondisi relatif,
dimana
individu
tidak
saja
kehilangan
kemampuan geraknya secara total tetapi jg
mengalami
penurunan
aktivitas
dari
kebiasaan normalnya
Ada beberapa alasan dilakukan imobilisasi :
Pengobatan atau terapi Keharusan
Pembatasan secara otomatis sampai dengan gaya hidup
Imobilitas fisik : disebabkan oleh keterbatasan
fisik, mis. Pd pasien hemiplegia
Imobilitas
intelektual
:
disebabkan
oleh
keterbatasan pengetahuan at/ daya pikir, mis.
Kasus pasien menderita krusakan otak
Imobilitas
emosional
:
disebabkan
oleh
perubahan mendadak dlm menyesuaikan diri,
mis. Pd pasien stress krn kehilangan salah satu
ekstremitas, at sesuatu, at org yg dicintai
Imobilitas sosial : ketika sesorg mengalami
hambatan dlm melakukan interaksi sos shgg
mempengaruhi perannya dlm kehidupan sos.
Dampak Fisik & Psikologis dari
Imobilitation
Sistem
Muskuloskeletal
Eliminasi Urine
Gastrointestinal
Respirasi
• Osteoporosis • Atrofi otot • Kontraktur• Kekakuan dan nyeri sendi • Statis urine
• Batu ginjal • Retensi urin • Infeksi perkemihan
• Konstipasi
• Penurunan gerak pernapasan • Penumpukan sekret • Atelektasis
Sistem
Kardiovaskular
Metabolisme
dan Nutrisi
Sistem
Integumen
Sistem
Neurosensorik
•Hipotensi ortostatik •Pembentukan trombus •Edema dependen•Penurunan laju metabolisme •Balans nitrogen negatif •Anoreksi
•Turgor kulit menurun •Kerusakan kulit/Ulkus
dekubitus
•Penurunan gerak pernapasan •Penumpukan sekret •Atelektasis (pengempisan
• Gangguan tingkat kesadaran
Imobilitas
komplit
• Klien frakturImobilitas
parsial
• Gangguan pernapasan/jantungImobilitas
karena alasan
pengobatan
Pengkajian
Riwayat Keperawatan : peny. Ggg mobilitas
fisik, riwayat penyakit
Kemampuan fingsi motorik
Kemampuan imobilisasi
Kemampuan rentang gerak (ROM)
Perubahan intoleransi aktivitas
Menggunakan
metode
inspeksi,
palpasi,
perkusi dan auskultasi
Perawat jg memeriksa hasil tes laboratorium
serta mengukur berat badan, asupan cairan,
dan haluaran cairan klien
• Keterbatasan dalam pergerakan fisik pd bagian tubuh tertentu atau pd satu atau lebih ekstremitas
Gangguan mobilitas fisik
• Penurunan curah jantung • Resiko cidera (jatuh) • Intoleransi aktivitas • Pola napas tidak efektif • Gangguan pertukaran gas
• Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
• Defisit volume cairan • Defisit perawatan diri
Label diagnosis dgn imobilitas sbg etilogi u/ setiap sistem tubuh :
Risiko tinggi kerusakan integritas kulit
Ansietas
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang
dari kebutuhan tubuh
Kerusakan mobilitas fisik
Risiko harga diri rendah
Menurut Kozier (2004), bertujuan untuk :
Meningkatkan toleransi klien untuk melakukan aktivitas fisik
Mengembalikan atau memulihkan kemampuannya untuk bergerak / atau berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari Mencegah terjadinya cedera akibat jatuh atau akibat penggunaan mekanisme tubuh yg salah
Meningkatkan kebugaran fisik
Mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilitas
Meningkatkan kesejahteraan sosial, emosional dan intelektual
Hambatan mobilitas fisik
Kaji faktor penyebab :
Trauma (mis. Robekan kartilago, fraktur, amputasi) Pembedahan
Penyakit yg melemahkan (mis. Diabetes, kanker, stroke, dll)
Tingkatkan mobilitas dan pergerakan optimal
Tingkatkan mobilitas ekstremitas, tentukan tipe
Latihan ROM
yg sesuai untuk klien (aktif atau
pasif)
Posisikan
tubuh
sejajar
untuk
mencegah
komplikasi
Hambatan mobilitas fisik (cont…)
Pertahan kesejajaran tubuh pada saat
menggunakan alat bantu (mis, gips,
traksi, dll)
Anjurkan
penggunaan
lengan
sakit
apabila memungkinkan
Beri
penyuluhan
kesehatan,
sesuai
indikasi
Ajarkan metode berpindah dari tempat tidur
ke kursi roda
Ajarkan cara melakukan ambulasi dengan
memakai alat adaptif (kruk, walker, tongkat)
RANGE OF MOTION
ROM adalah suatu latihan gerakan pada sendi
yang
memungkinkan
kontraksi
dan
pergerakan pada otot
Range of Motion (ROM) adalah suatu teknik
dasar yang digunakan untuk menilai gerakan
dan untuk gerakan awal kedalam suatu
program intervensi terapeutik
Bila terjadi gerakan, maka seluruh struktur yang
terdapat
pada
persendian
tersebut
akan
terpengaruh, yaitu: otot, permukaan sendi,
kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf
Why range of motion is important?
Karena dpt mencegah
:
Mencegah
terjadinya
gangguan
pada system metabolic, respirasi,
cardiovascular,
musculoskeletal,
integumentary dan elemination.
Tujuan dari ROM
Mempertahankan mobilisasi dari fungsi
persendian.
Meningkatkan fungsi persendian.
Meningklatkan efisiensi otot.
Meningkatkan koordinasi.
Meningkatkan efisiensi transmisi dari
implus saraf.
Tulang Osteoporosis Tulang
Normal
Indication
a.
Immobilisasi
(Tirah
baring/bedrest
total, penurunan tingkat kesadaran)
b.
Fraktur (post operasi)
c.
Nyeri
d.
Ketidakmampuan (kelumpuhan atau
Contra indications
Kelainan tulang / sendi (
Pembengkakan &
inflamasi
sendi,
kerusakan
sistem
muskuloskeletal disekitar sendi
)
Gangguan jantung
Trombus atau emboli pada pembuluh darah
Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila
gerakan
dapat
mengganggu
proses
penyembuhan cedera
ROM tidak boleh dilakukan bila respon
pasien atau kondisinya membahayakan (life
threatening)
Types of ROM
ROM Aktif
Pasien dapat melakukan pergerakan
secara
mandiri,
perawat
hanya
memberikan edukasi
ROM Pasif
Pasien
tidak
mampu
melakukan
pergerakan secara mandiri dan dibantu
secara keseluruhan oleh perawat
Fleksi
: gerakan menekuk sendi
Ekstensi
: gerakan meluruskan sendi
Hyperextensi
: gerakan meluruskan sendi
melebihi posisi anatomis.
Dorsifleksi
: gerakan fleksi pada tumit,
gerakan kaki ditekuk kearah lutut
Flantar fleksi
: gerakan extensi pada tumit.
Telapak kaki diluruskan sehingga jari-jari
menghadap ke arah bawah
Abduksi
:
gerakan
anggota
gerak
menjauhi garis tengah tubuh.
Cont…..
Adduksi
: gerakan anggota gerak mendekati
garis tengah tubuh.
Rotasi
: gerakan tulang memutar
aksis/sumbu longitudinalnya.
Rotasi external
: gerakan memutar menjauhi
garis tengah tubuh.
Rotasi internal
: gerakan memutar ke arah
garis tengah tubuh.
Sirkumduksi
: gerakan melingkar pada ujung
distal tulang sementara ujung proximal
stabil.
Cont…..
Supinasi
: gerakan telapak tangan kearah
anterior atau superior.
Pronasi
: gerakan telapak tangan kearah
posterior atau inferior.
Eversi
: gerakan tumit ke arah lateral
sumbu tubuh.
Inversi
: gerakan tumit ke arah garis
tengah tubuh.
Oposisi
: gerakan mempertemukan ibu
Lakukan secara berurutan mulai dari leher kekaki dan lakukan secara teratur
Jangan memegang sendi secara langsung, tetapi pegang extremitas secara lembut pada bagian distal atau proximal sendi. Bila perlu memegang sendi, buatlah telapak tangan seperti mangkuk dan letakkan dibawah sendi.
Jangan memegang ekstremitas pada kuku kaki atau kuku tangan.
Bekerja mulai dari arah proximal kearah distal Aman
Nyaman
Latihan dapat diintegrasikan dengan aktivitas keperawatan lainnya, seperti memandikan, memberikan pendidikan kesehatan dan lain-lain.