• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikeluarkan oleh pohon karet. Lateks terdapat pada bagian kulit, daun dan biji

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikeluarkan oleh pohon karet. Lateks terdapat pada bagian kulit, daun dan biji"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karet Alam (Lateks)

2.1.1 Sejarah Karet (Lateks)

Lateks adalah suatu istilah yang dipakai untuk menyebut getah yang dikeluarkan oleh pohon karet. Lateks terdapat pada bagian kulit, daun dan biji karet. Lateks diperoleh dari tanaman Hevea brasiliensis, diolah dan diperdagangkan sebagai bahan industri dalam bentuk karet sheet, crepe, lateks pekat dan karet remah (Crumb rubber) (Tim Penulis PS, 1999).

Lateks dalam getah yang dikeluarkan oleh pohon karet, warnanya putih susu sampai kuning. Lateks mengandung 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-77 % serum (air dan zat yang larut). Karet mentah mengandung 90-95 % karet murni, 2-3 % protein, 1-2 % asam lemak, 0,2 % gula, 0,5 % garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe (Wikipedia).

Saat ini Asia menjadi sumber karet alami. Awal mulanya karet hanya hidup di Amerika Selatan, namun sekarang sudah berhasil dikembangkan di Asia Tenggara. Kehadiran karet di Asia Tenggara berkat jasa dari Henry Wickham. saat ini, negara-negara Asia menghasilkan 93% produksi karet alam, yang terbesar adalah Thailand, diikuti oleh Indonesia, dan Malaysia. Karet sintetik berkembang pesat sejak berakhirnya perang dunia kedua tahun 1945. Saat ini lebih dari 20 jenis karet sintetik terdapat di pasaran dunia.

(2)

Sebelum perang dunia kedua, hanya karet alam tersedia dalam jumlah besar di pasaran dunia. Dengan berkembangnya kebutuhan manusia seiiring dengan berkembangnya pengetahuan, sangat dirasakan keterbatasan dari karet alam, antara lain tidak tahan pada suhu tinggi. Pengembangan karet sintetik sesudah perang dunia kedua lebih banyak ditujukan untuk memperoleh karet yang sifat-sifatnya tidak dimiliki oleh karet alam, antara lain karet tahan minyak, karet tahan panas, dan lain-lain.

Karet alam adalah jenis karet pertama yang dibuat sepatu. Sesudah penemuan proses vulkanisasi yang membuat karet menjadi tahan terhadap cuaca dan tidak larut dalam minyak, maka karet mulai digemari sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai macam alat untuk keperluan dalam rumah ataupun pemakaian di luar rumah seperti sol sepatu.

2.1.2 Lateks Pekat

Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat. Lateks dari kebun atau disebut lateks kebun dapat diolah lebih lanjut menjadi lateks pekat untuk pembuatan barang celup (balon, sarung tangan, kondom). Lateks pekat merupakan lateks dari karet alam yang sekurang-kurangnya mengandung 60% kadar karet kering. Untuk membuat jadi lateks pekat , maka terlebih dahulu lateks harus dipekatkan. Pemekatan lateks bertujuan untuk,

- Memperoleh kadar karet kering 60% - Mengurangi kenaikan biaya produksi

(3)

Beberapa cara pemekatan lateks yang sering digunakan adalah dengan cara pemusingan (centrifuging). Proses pemusingan adalah proses pemekatan lateks dengan menggunakan centrifuge, lateks diberi amoniak dicentrifuge dengan kecepatan ± 6000-7000 rpm. Biasanya lateks pekat digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet yang tipis dan bermutu tinggi (Zuhra, 2006).

2.2 Tempat Kerja

Menurut UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 1 ayat 1, yang dimaksud tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Oleh karena pada tiap tempat kerja terdapat sumber bahaya maka pemerintah mengatur keselamatan kerja baik di darat, di tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Tempat kerja sangat mendukung adanya suatu pekerjaan, tempat kerja yang buruk dapat menurunkan derajat kesehatan dan juga daya kerja para pekerja. Menurut UU No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja pengurus perusahaan mempunyai kewajiban untuk menyediakan tenpat kerja yang memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan.

(4)

2.3 Bahaya Di Tempat Kerja

Bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya (Ramli, 2010). Menurut ILO (1986) yang dikutip Arif (2014), mendefenisikan potensi bahaya atau bahaya kerja adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungan dengan pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan/kerugian.

Bahaya di tempat kerja timbul atau terjadi ketika ada interaksi antara unsur-unsur produksi yaitu manusia, peralatan, material, proses atau metoda kerja. Dalam proses produksi tersebut terjadi kontak antara manusia dengan mesin, material, lingkungan kerja yang diakomodir oleh proses atau prosedur kerja. Karena itu, sumber bahaya dapat berasal dari unsur-unsur produksi tersebut, yaitu manusia, peralatan, material, proses serta sistem dan prosedur. Potensi bahaya merupakan segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan maupun manusia. Ditempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber risiko keselamatan dan kesehatan akan selalu dijumpai.

Sumber bahaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Manusia

Menurut Suma’mur (1996) yang dikutip Nindya (2010) bahwa dari penyidikan, ternyata faktor manusia dalam timbulnya kecelakaan sangatlah penting. Selalu ditemui, dari hasil penelitian bahwa 80-85% kecelakaan

(5)

bahwa akhirnya langsung atau tidak langsung, semua kecelakaan adalah dikarenakan faktor manusia. Kesalahan tersebut mungkin disebabkan oleh perancang pabrik, kontraktor yang membangun, pimpinan kelompok, pelaksana atau petugas yang melakukan penalitian mesin dan peralatan.

b. Peralatan

Dalam industri digunakan berbagai peralatan yang mengandung bahaya apabila tidak digunakan dengan semestinya, tidak ada latihan tentang penggunaan alat tersebut, tidak dilengkapi dengan perlindungan dan pengamanan, serta tidak ada perawatan atau pemeriksaan. Perawatan dan pemeriksaan diadakan menurut kondisi agar bagian-bagian mesin atau alat-alat yang berbahaya dapat dideteksi sedini mungkin. Bahaya yang mungkin timbul antara lain :

1. Kebakaran 2. Sengatan listrik 3. Ledakan

4. Luka atau cidera c. Bahan atau material

Karakteristik bahan yang ditimbulkan dari suatu bahan tergantung dari sifat bahan, antara lain:

1. Mudah terbakar 2. Mudah meledak 3. Menimbulkan energ

4. Menimbulkan kerusakaan pada kulit dan jaringan tubuh 5. Menyebabkan kanker

(6)

6. Menyebabkan kelainan pada janin 7. Bersifat racun

8. Radioaktif d. Lingkungan

1. Faktor-faktor bahaya lingkungan menurut beberapa sumber, antara lain : Faktor fisik, meliputi penerangan, suhu udara, kelembaban, cepat rambat udara, suara, vibrasi mekanis, radiasi, tekanan udara, dll.

2. Faktor kimia, meliputi gas,uap, debu, kabut, asap, awan, cairan, dan benda-benda padat.

3. Faktor biologi, baik golongan hewan maupun tumbuhan.

4. Faktor fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, dan cara kerja.

5. Faktor mental-psikologis, yaitu susunan kerja, hubungan di antara pekerja atau dengan pengusaha, pemeliharaan kerja dan sebagainya.

e. Cara Atau Sikap Kerja

1. Cara mengangkat dan mengangkut yang salah 2. Posisi tubuh yang tidak benar

3. Tidak menggunakan alat pelindung diri 4. Lingkungan kerja yang terlalu panas

5. Menggunakan alat atau mesin yang tidak sesuai dengan peraturan

6. Keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja serta bahan-bahan.

(7)

2.4 Kecelakaan Kerja

2.4.1 Definisi Kecelakaan Kerja

Menurut Suma’mur (1996) yang dikutip Nindya (2010) kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Tidak diharapkan karena peristiwa kecelakaan tidak disertai kerugian material maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat.

Menurut Tarwaka (2008) yang dikutip Nindya (2010), kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya.

Adapun syarat-syarat keselamatan kerja yang diatur dalam Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja yang dibuat untuk ( Undang-Undang-Undang-Undang K3 pasal 3 ayat 1, tahun 1970) :

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan;

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran; c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;

e. Memberi pertolongan kecelakaan;

(8)

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran;

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan;

i. Menyelanggarakan suhu dan lembab udara yang baik; j. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai; k. Menyelanggarakan udara yang cukup;

l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya;

n. Mengamankan dan mempelancar pengangkutan orang, binatang, tanaman dan barang;

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

p. Mengamankan dan mempelancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang;

q. Mencegah terkena aliran listrik berbahaya;

r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

2.4.2 Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena ada penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk selanjutnya dengan tindakan korektif yang ditujukan kepada penyebab itu serta

(9)

dengan upaya preventif lebih lanjut kecelakaan dapat dicegah dan kecelakaan serupa tidak terulang kembali (Suma’mur, 2009).

Menurut Suma’mur (1986) yang dikutip Nindya (2010) bahwa pada dasarnya kecelakaan disebabkan oleh dua hal yaitu tindakan manusia yang tidak aman (unsafe act) dan keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition). Dari data kecelakaan didapatkan bahwa 85% sebab kecelakaan adalah faktor manusia. Oleh karena itu sumber daya manusia dalam hal ini memegang peranan penting dalam penciptaan keselamatan dan kesehatan kerja. Tenaga kerja yang mau membiasakan dirinya dalam keadaan yang aman akan sangat membantu dalam memperkecil angka kecelakaan kerja.

Adapun menurut H.W. Heinrich (1930) yang dikutip Ramli (2010) dengan teori dominonya yang menggolongkan faktor penyebab kecelakaan terdiri dari :

1. Tindakan tidak aman dari manusia (unsafe act), misalnya tidak mau menggunakan alat keselamatan dalam bekerja. Tindakan ini dapat membahayakan dirinya atau orang lain yang dapat berakhir dengan kecelakaan.

2. Kondisi tidak aman (uncafe condition) yaitu kondisi di lingkungan kerja baik alat, material atau lingkungan yang tidak aman dan membahayakan.

2.5 Kerugian

Setiap kecelakaan adalah malapetaka, kerugian, dan kerusakan kepada manusia, harta benda atau properti dan proses produksi. Implikasi yang berhubungan dengan kecelakaan sekurang-kurangnya berupa gangguan kinerja perusahaan dan penurunan keuntungan perusahaan. Pada umumnya kerugian akibat kecelakaan kerja cukup besar dan dapat mempengaruhi upaya peningkatan

(10)

produktivitas kerja perusahaan. Menurut Ramli (2010), secara garis besar kerugian akibat kecelakaan kerja dapat di kelompokkan menjadi :

1. Kerugian atau biaya langsung (Direct Costs)

Kerugian langsung yaitu kerugian akibat kecelakaan yang langsung dirasakan dan membawa dampak terhadap organisai seperti berikut :

a. Biaya pengobatan dan kompensasi

Kecelakaan menyebabkan cedera, baik cedera ringan, berat cicada atau menimbulkan kematian. Cedera ini akan mengakibatkan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga mempengaruhi produktivitas. Jika kecelakaan terjadi perusahaan harus mengeluarkan biaya pengobatan dan tunjangan kecelakaan sesuai dengan ketentuan berlaku.

b. Kerusakan sarana produksi

Kerugian langsung lainnya adalah kerusakan sarana produksi akibat kecelakaan seperti kebakaran, peledakan, dan kerusakan. Perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan kerusakan.

2. Kerugian atau biaya tidak langsung atau terselubung (Inderect Costs) Disamping kerugian langsung, kecelakaan juga menimbulkan kerugian tidak langsung antara lain :

a. Kerugian jam kerja

Jika terjadi kecelakaan, kegiatan pasti akan terhenti sementara untuk membantu korban yang cedera, penanggulangan kejadian, perbaikan kerusakan atau penyelidikan kejadian. Kerugian jam kerja yang hilang akibat kecelakaan jumlahnya cukup besar dapat mempengaruhi produktivitas.

(11)

b. Kerugian produktivitas

Kecelakaan juga membawa kerugian terhadap proses produksi akibat kerusakan atau cedera pada pekerja. Perusahaan tidak bisa berproduksi sementara waktu sehingga kehilangan peluang untuk mendapat keuntungan.

c. Kerugian sosial

Apabila seorang pekerja mendapat kecelakaan, keluarganya akan turut menderita karena kehilangan sumber kehidupan. Selain itu, jika kecelakan besar seperti peledakan, kecelakaan juga dapat membawa dampak terhadap lingkungan sekitarnya, warga kan akan menjadi panik atau menjadi korban.

d. Citra dan kepercayaan konsumen

Kecelakaan menimbulkan citra negatif bgi organisasi karena dinilai tidak peduli keselamatan, tidak aman dan merusak lingkingan. Citra organisasi sangat penting dan menentukan kemajuan suatu usaha. Sebaliknya perusahaan yang peduli K3 akan dihargai dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat dan penanam modal.

Pada umumnya kita hanya terfokus pada kerugian atau biaya langsung, padahal pada kenyataannya, kerugian atau biaya-biaya yang tidak langsung dan terselubung jauh lebih besar dan mempunyai dampak yang lebih luas. Hal ini dapat dilihat dari fenomena gunung es dimana puncak gunung es yang Nampak hanya sebagian kecil dibandingkan dengan bagian gunung es yang terdalam di dalamnya dan belum kelihatan pada saat kejadian. Dengan demikian jelas bahwa di samping kerugian langsung akibat kejadian kecelakaan, kerugian yang tidak

(12)

langsung harus mendapatkan perhatian yang serius karena sangat mempengaruhi kelangsungan proses produksi perusahaan secara keseluruhan.

2.6 Manajemen Risiko 2.6.1 Pengertian Risiko

Menurut OHSAS 18001 yang dikutip Ramli (2010), risiko adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian berbahaya atau paparan dengan keparahan dari cidera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut. Besarnya risiko tersebut ditentukan oleh besarnya paparan, lokasi, pengguna, kuantiti serta kerentanan unsur yang terlibat.

Risiko adalah menifestasi atau perwujudan potensi bahaya (hazard event) yang mengakibatkan kemungkinan kerugian menjadi lebih besar. Tergantung dari cara pengelolaannya, tingkat risiko mungkin berbeda dari yang paling ringan atau rendag sampai ke tahap yang peling berat atau tinggi. Melalui analisis dan evaluasi semua potensi bahaya dan risiko, diupayakan tindakan minimalisasi atau pengendalian agar tidak terjadi bencana atau kerugian lainnya ( Sugandi, 2003).

Risiko diukur dalam kaitannya dengan kecenderungan terjadinya suatu kejadian dan konsekuensi atau akibat yang dapat ditimbulkannya. Dari definisi tersebut maka diperoleh pengertian bahwa suatu risiko diperhitungakan menurut kemungkinan terjadinya suatu kejadian serta konsekuensi yang ditimbulkan. Tidak selamanya risiko diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Contohnya adalah seseorang harus berani mengambil risiko untuk melakukan suatu perubahan.

(13)

2.6.2 Manajemen Risiko

Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara kompeherensif, terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik (Ramli, 2010).

Manajemen risiko adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui (melalui rencana analisis risiko atau bentuk observasi lain) untuk meminimalisasi konsekuensi buruk yang mungkin muncul. Salah satu manajemen K3 yang berlaku global adalah OHSAS 18001.

Menurut OHSAS 18001 dalam Ramli (2010) bahwa sesuai persyaratan OHSAS 18001, organisasi harus menetapkan prosedur mengenai Identifikasi Bahaya ( Hazards Identification), Penilaian Risiko ( Risk Assessment) dan menentukan Pengendaliannya ( Risk Control) atau disingkat HIRARC.

2.6.3 Tujuan Manajemen Risiko

Tujuan manajemen risiko menurut Australian Standart / New Zealand Standart 4360 (1999) yang dikutip Muhammad (2013) , yaitu :

1. Membantu meminimalisasi meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. 2. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan

kerugian.

3. Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian.

4. Melakukan peningkatan pengambilan keputusan pada semua level.

5. Menyusun program yang tepat untuk meminimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan.

(14)

6. Menciptakan manajemen yang bersifat proaktif bukan bersifat reaktif. 2.6.4 Manfaat Manajemen Risiko

Manajemen risiko sangat penting begi keberlangsungan suatu usaha atau kegiatan dan merupakan alat untuk melindungi perusahaan dari setiap kemungkinan yang merugikan. Manajemen tidak cukup melakukan langkah-langkah pengamanan yang memadai sehingga peluang terjadinya bencana semakin besar. Dengan melaksanakan manajemen risiko diperoleh berbagai manfaat antara lain (Ramli, 2010) :

1. Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya.

2. Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan. 3. Menimbulkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai

kelangsungan dan keamanan investasinya.

4. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsur dalam organisasi/perusahaan.

5. Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.

2.7 HIRARC (Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control)

HIRARC adalah serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin di perusahaan kemudian melakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut lalu membuat program pengendalian bahaya tersebut agar dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan dengan tujuan mencegah terjadi kecelakaan. Implementasi K3 dimulai

(15)

HIRARC inilah yang menentukan arah penerapan K3 dalam perusahaan sehingga perusahaan nantinya akan menyelesaikan masalahnya sendiri terutama masalah manajemen (Ramli, 2010). Menurut OHSAS 18001, HIRARC harus dilakukan di seluruh aktivitas organisasi untuk menentukan kegiatan organisasi yang mengandung potensi bahaya dan menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

2.7.1 Tujuan HIRARC

HIRARC merupakan suatu pedoman dalam mengidentifikasi bahaya, menilai risiko dan mengendalikan risiko memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengidentifikasi semua faktor yang dapat menyebabkan kerugian kepada karyawan dan lain-lain (yang bahaya);

2. Untuk mempertimbangkan kemungkinan besar risiko yang membahayakan siapa pun di lingkungan kerja, dan

3. Untuk memungkinkan pengusaha untuk merencanakan, memperkenalkan dan memantau tindakan pencegahan untuk memastikan bahwa risiko tersebut cukup dikendalikan setiap saat.

Dalam melakukan perencanaan kegiatan HIRARC kegiatan harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Melihat kondisi

(16)

4. Dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan perbaikan atau pencegahan.

2.7.2 Langkah-Langkah HIRARC

Berikut ini merupakan langkah-langkah manajemen risiko dengan menggunakan HIRARC :

1. Identifikasi Bahaya (Hazard Identification)

Menurut Ramli (2010), bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya. Bahaya merupakan sifat yang melekat dan menjadi bagian dari suatu zat, sistem, kondisi atau peralatan. Macam macam kategori bahaya adalah bahaya mekanis, bahaya listrik, bahaya fisis, bahaya biologis dan bahaya kimia.

Identifkasi bahaya merupakan langkah awal dalam mengembangkan manajemen risiko K3. Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui adanya bahaya dalam aktivitas organisasi. Identifikasi risiko merupakan landasan melakukan pengelolaan risiko dengan baik. Langkah sederhana adalah dengan melakukan pengamatan. Melalui pengamatan maka kita sebenarnya telah melakukan suatu identifikasi bahaya.

Identifikasi bahaya merupakan landasan dari program pencegahan kecelakaan atau pengendalian risiko. Tanpa mengenal bahaya, maka risiko tidak dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan dan pengendalian risiko tidak dapat dijalankan (Ramli, 2010)

(17)

Berdasarkan pendapat Ramli (2010), identifikasi bahaya memberikan berbagai manfaat antara lain :

a) Mengurangi peluang kecelakaan

Identifkasi bahaya dapat mengurangi terjadinya kecelakaan, karena identifikasi bahaya berkaitan dengan faktor penyebab kecelakaan. b) Untuk memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai potensi

bahaya dari aktivitas perusahaan sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan operasi perusahaan.

c) Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan pengamanan yang tepat dan efektif. Dengan mengenal bahaya yang ada, manajemen dapat menentukan skala prioritas penanganannya sesuai dengan tingkat risikonya sehingga diharapkan hasilnya akan lebih efektif.

d) Memberikan informasi yang terdokumentasi mengenai sumber bahaya dalam perusahaan. Dengan begitu mereka dapat memperoleh gambaran mengenai risiko suatu usaha yang akan dilakukan.

Sumber identifikasi bahaya dapat diketahui dengan peristiwa atau kecelakaan yang pernah terjadi, pemeriksaan tempat kerja, melakukan wawancara dengan pekerja di lokasi kerja, data keselamatan bahan ( material safety data sheet )dan lainnya.

2. Penilaian Risiko (Risk Assessment)

Setelah melakukan identifikasi bahaya dilanjutkan dengan penilaian risiko yang bertujuan untuk mengevaluasi besarnya risiko serta dampak yang akan

(18)

ditimbulkan. Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu risiko dan menetapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadinya (likehood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (severity) (Ramli,2010).

Menurut AS/NZS yang dikutip Albert Wijaya, dkk (2015) bahwa tujuan dari risk assessment adalah memastikan kontrol resiko dari proses, operasi atau aktivitas yang dilakukan berada pada tingkat yang dapat diterima. Penilaian dalam risk assessment yaitu likelihood dan severity. Likelihood menunjukkan seberapa mungkin kecelakaan itu terjadi, severity menunjukkan seberapa parah dampak dari kecelakaan tersebut. Nilai dari likelihood dan severity akan digunakan untuk menentukan risk rating. Risk rating adalah nilai yang menunjukkan resiko yang ada berada pada tingkat rendah, menengah, tinggi, atau ekstrim. Acuan yang digunakan untuk melakukan penilaian resiko dapat dilihat pada tabel , tabel 2.1 dan tabel 2.2

Tabel 2.1. Skala likehood pada standar AS/NZS 4360-2004 Tingkat Deskripsi Keterangan

5 Almost

certain

Terdapat ≥ 1 kejadian dalam setiap shift 4 Likely Terdapat ≥ 1 kejadian setiap hari

3 Possible Terdapat ≥ 1 kejadian setiap minggu 2 Unlikely Terdapat ≥ 1 kejadian setiap bulan

1 Rare Terdapat ≥ 1 kejadian setiap setahun atau lebih

(19)

Tabel 2.2 Skala severity pada standar AS/NZS 4360-2004 Tingkat Deskripsi Keterangan

1 Insignificant Tidak terjadi cidera, kerugian financial sedikit 2 Minor Cidera Ringan, kerugian financial sedikit

3 Moderate Cidera sedang, perlu penanganan medis, kerugian financial besar

4 Major Cidera berat ≥ 1 orang, kerugian besar, gangguan produksi

5 Catastrophic Fatal ≥ 1 orang, kerugian sangat besar dan dampak sangat luas, terhentinya seluruh kegiatan

(Sumber : AS/ANZ 4360-2004)

Tabel 2.3 Skala risk rating pada standar AS/NZS 4360-2004

Frekuensi risiko Dampak risiko

1 2 3 4 5 5 H H E E E 4 M H E E E 3 L M H E E 2 L L M H E 1 L L M H H (Sumber : AS/ANZ 4360-2004) Keterangan :

1. E : Extreme Risk ( kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan dan pengendalian )

2. H : High Risk ( kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan dan pengendalian )

3. M : Moderat Risk ( perlu tindakan untuk mengurangi risiko)

(20)

3. Pengendalian Risiko (Risk Control)

Pengendalian risiko adalah langkah penting dan menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Risiko yang telah diketahui besar dan potensi akibatnya harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi perusahaan. OHSAS 18001 dalam Ramli (2010) memberikan pedoman pengendalian risiko yang lebih spesifik untuk bahaya K3 dengan pendekatan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Hirarki pengendalian bahaya 1) Eliminasi

Eliminasi adalah teknik pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya. Eliminasi merupakan langkah ideal yang dapat dilakukan dan harus menjadi pilihan utama dalam melakukan pengendalian risiko

Eliminasi

Substitusi

Engineering

Administratif

(21)

bahaya yang bersifat permanen. Misalnya, lobang dijalan ditutup, ceceran minyak dilantai dibersihkan, mesin yang bising dimatikan (Ramli,2010). 2) Substitusi

Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih dapat diterima. Teknik ini banyak digunakan, misalnya bahan kimia berbahaya dalam proses produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman. Bahan kimia CFC untuk AC yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan bahan lain yang lebih ramah terhadap lingkungan (Ramli,2010).

3) Pengendalian Teknis (Engineering)

Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana teknis yang ada di lingkungan kerja. Oleh karena itu, pengendalian bahaya yang dapat dilakukan melalui perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman. Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis dengan memasang peredam suara sehingga tingkat kebisingan dapat ditekan. Pencemaran diruang kerja dpat diatasi dengan memasang sistem ventilasi yang baik. Bahaya pada mesin dapat dikurangi dengan memasang pagar pengaman.

(22)

Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara administratif misalnya dengan mengatur jadwal kerja, istirahat, cara kerja atau prosedur kerja yang lebih aman, rotasi kerja atau pemeriksaaan kesehatan.

5) Alat Pelindung Diri (APD)

Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat, mesin, peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan. Namun kadang-kadang risiko terjadinya kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan Alat Pelindung Diri (APD). Jadi, penggunaan APD adalah alternative terakhir yaitu kelengkapan dari segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan. APD harus memenuhi persyaratan (Suma’mur, 2009) :

a. Enak (nyaman) dipakai

b. Tidak menganggu pelaksanaan pekerjaan

c. Memberikan perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi

Alat proteksi diri beraneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian tubuh yang dilindunginya, maka jenis alat pelindung diri tersebut adalah :

1. Kepala : Pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis topi yaitu topi pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, tutup kepala

2. Mata : Kacamata pelindung ( protective goggles) 3. Muka : Pelindung muka (face shield)

(23)

4. Tangan dan jari : Sarung tangan (sarung tangan dengan ibu jari terpisah), sarung tangan biasa (gloves), pelindung telapak tangan (hand pad), dan sarung tangan yang menutupi pergelangan tangan sampai lengan (sleeve)

5. Kaki : Sepatu pengaman (safety shoes)

6. Alat pernafasan : Respirator, masker, alat bantu penafasan 7. Telinga : Sumbat telinga, tutup telinga

8. Tubuh : Pakaian kerja menurut keperluan yaitu pakaian kerja tahan panas, pakaian kerja tahan dingin, pakaian kerja lainnya 9. Lainnya : Sabuk pengaman.

Alat pelindung diri dikenakan oleh pekerja sebagai pelindung terhadap bahaya. Dengan memberikan alat pengaman ini dapat mengurangi keparahan risiko yang timbul. Keberhasilan pengendalian ini tergantung dari alat yang dikenakan sendiri, artinya alat yang digunakan haruslah sesuai dan dipilih dengan benar sesuai dengan potensi bahaya dan jenis pekerjaan yang ada.

Dalam melakukan pengendalian risiko kecelakaan ini, maka dapat ditentukan jenis pengendalian tersebut dengan mempertimbangkan tingkat paling atas dari hirarki pengendalian, jika tingkat atas tidak dapat dipenuhi maka melakukan upaya tingkat pengendalian selanjutnya, demikian seterusnya sehingga pengendalian risiko kecelakakan dilakukan berdasarkan hirarki pengendalian. Akan tetapi mungkin juga dapat dilakukan upaya-upaya gabungan dari

(24)

pengendalian tersebut untuk mencapai tingkat pengendalian risiko yang diinginkan.

2.8 Kerangka Pikir

Gambar 2.2 Kerangka Pikir Tempat Kerja

Aktivitas Kerja Rutin / Non Rutin

Identifikasi Bahaya Sumber Bahaya

Gambar

Gambar 2.1 Hirarki pengendalian bahaya  1)  Eliminasi
Gambar 2.2 Kerangka Pikir Tempat Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dilakukan penelitian terhadap 64 responden tentang gambaran pengetahuan perawat tentang interpretasi hasil EKG di Instalasi Rawat Inap Medikal (IRNA MEDIKAL) RSUD

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana gambaran atau profil kemampuan penalaran, spasial dan koneksi matematis mahasiswa calon guru matematika..

Pada penelitian ini, peneliti membuat judul “ Pembangunan Aplikasi Penjualan Online pada Toko Jam Tangan AMPM Watch” penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan website yang

Catatan tentang proses menjadi diri seseorang seperti yang disebutkan di atas sengaja ditampilkan karena menurut Taufan Abdul Salam HS Daeng Gassing (Wawancara, 10 Sep- tember 2014)

Dapat disimpulkan bahwa pembahasan penentuan nilai kalor briket batubara berstimulan penyalaan merupakan salah satu bentuk pembelajaran kimia yang menggunakan

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) masyarakat Baduy yang selalu melakukan tebang-bakar hutan untuk membuat ladang (huma), tidak terjadi bencana kebakaran hutan atau tanah longsor

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan naskah skripsi ini dengan judul “Analisis