• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH BRAND COMMUNITY TERHADAP WORD OF MOUTH (Studi pada Komunitas Jogja Beat Riders di Yogyakarta)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENGARUH BRAND COMMUNITY TERHADAP WORD OF MOUTH (Studi pada Komunitas Jogja Beat Riders di Yogyakarta)"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Oleh Afiyah NIM 112210071

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO

2015

(2)

i

SKRIPSI

Disusun sebagai salah satu syarat

Untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Oleh

Afiyah

NIM 112210071

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO

2015

(3)
(4)
(5)

i

 Kecerdasan tanpa ambisi bagaikan seekor burung tak

bersayap ( Salvador Dali).

 Wirausahawan adalah mereka yang memahami tipisnya

perbedaan antara peluang dan hambatan serta mampu

mengelolanya menjadi keuntungan (Niccolo Machiavelli).

 Seberapa besar kesuksesan anda bisa diukur dari seberapa

kuat keinginan anda, setinggi apa mimpi – mimpi anda,

dan bagaimana anda memperlakukan kekecewaan dalam

hidup anda (Robert Kiyosaki).

 Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton teori

(Friedrich Engels).

 Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah

bukan karena yang satu memiliki kemampuan dan ide

lebih baik, tapi karena dia berani mempertaruhkan ide,

menghitung risiko, dan bertindak cepat (Andre Malraux).

 Semua hal besar biasanya diawali oleh seorang wanita

(Alphonse de Lamartine)

(6)

i

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

Skripsi ini saya persembahkan untuk,

 Ayah dan Ibu yang tercinta, yang saya hormati dan sayangi, yang selalu memberikan motivasi, nasehat, serta doa untuk kebahagiaan dan kesuksesan masa depan saya dan yang selalu menemani saya dalam masa – masa sulit.

 Bapak Ridwan Baraba dan Bapak Murry Harmawan Saputra, selaku dosen Pembimbing yang baik hati dan selalu memberikan senyuman yang membuat saya lebih bersemangat.

 Rusmaidah adik saya, yang selalu memberikan warna dalam kehidupan saya.

 Trya, Dika, Lyan, Lely, Dewi, Intan, Ery, Mawar, Lita, Niken, Nana yang selalu menemaniku dan memberikan motivasi kepadaku.

 Novian Rudiarto yang selalu memberikan semangat dan warna dalam kehidupan saya.

 Bapak dan Ibu dosen keluarga besar program studi manajemen, yang telah memberikan motivasi, semangat, serta terimakasih atas ilmu yang telah diberikan.

 Teman-teman MANAJEMEN angkatan 2011 (Nita, Topik, Garda, Ratih, Rudy, Gigih, Kholid, Agung, Ena, Tri dll) terimakasih atas bantuan dan doanya, semoga pertemanan kita tidak akan pernah terputus.

(7)
(8)

i

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. Atas limpahan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat penyusun selesaikan. Skripsi ini penulis susun untuk menguji analisis pengaruh brand

community terhadap word of mouth.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini banyak mengalami kesulitan karena ketebatasan kemampuan dan pengetahuan. Keberhasilan pelaksanaan penelitian ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Drs. H. Supriyono, M.Pd. selaku rektor Universitas Muhammadiyah Purworejo.

2. Intan Puspita Sari S.E.,M.Sc. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Purworejo yang telah memberikan izin dan rekomendasi kepada penulis mengadakan penelitian untuk penyusunan skripsi ini.

3. Endah Pri Ariningsih, S.E.,M.Sc selaku Ketua Program Studi Manajemen, yang telah memberikan perhatian dan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Ridwan Baraba, S.E.,M.M selaku pembimbing I dan Bapak Murry Harmawan S., S.E.,M.Sc. selaku pembimbing II yang telah banyak membimbing, mengarahkan, memotivasi dengan penuh kesabaran dan tidak mengenal lelah, serta mengoreksi skripsi ini dengan penuh ketelitian, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh responden Komunitas Jogja Beat Riders (JBR) yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner yang telah penulis bagikan. 6. Berbagai pihak yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada

penulis dalam menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen ini.

(9)

i Purworejo, 14 September 2015 Penulis, Afiyah viii

(10)

i

Afiyah, Analisis Pengaruh Brand Community terhadap Word of Mouth (Studi pada Komunitas Honda Beat di Yogyakarta). Program Studi Manajemen.

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Perkembangan teknologi otomotif yang semakin pesat berimbas pada persaingan di pasar industri otomotif yang semakin ketat. Perusahaan menerapkan berbagai cara agar dapat mendapatkan dan mempertahankan konsumen. Salah satu cara tersebut ialah dengan meningkatkan word of mouth. Word of mouth adalah komunikasi mengenai produk dan jasa yang dibicarakan oleh orang-orang dan merupakan pusat dari dunia pemasaran dan metode pilihan untuk menjual produk. Word of mouth yang baik juga dapat diperoleh dari komunitas merek yang mendukungnya dari serangan pesaing.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji analisis pengaruh brand community terhadap word of mouth. Populasi penelitian ini adalah semua anggota komunitas

Jogja Beat Riders di Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 150

orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dinilai dengan skala Likert yang masing-masing sudah diuji cobakan dan telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan pengujian hipotesis.

Hasil analisis linier berganda menunjukkan bahwa customer-product

relationship, customer-brand relationship, customer-company relationship, dan customer-other customer relationship secara parsial dan simultan berpengaruh

positif dan signifikan terhadap word of mouth.

Kata kunci: Customer-product relationship, Customer-brand relationship,

Customer-company relationship, dan Customer-other customer relationship

dan Word of mouth.

(11)

i

Halaman HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Manfaat Penelitian ... 12

BAB II KAJIANTEORI, TINJAUAN PUSTAKA, DAN RUMUSAN HIPOTESIS A. Kajian Teori ... 14

B. Tinjauan Pustaka ... 31

C. Kerangka Pikir ... 33

D. Pengembangan Hipotesis ... 34

BAB III METODE PENELITIAN... 40

A. Desain Penelitian ... 40

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40

C. Populasi dan Sampel ... 40

1. Populasi ... 40 2. Sampel ... 41 D. Variabel Penelitian ... 41 E. Definisi Operasional ... 42 F. Pengumpulan Data ... 44 G. Instrumen Penelitian ... 44

H. Uji Instrumen Penelitian ... 45

1. Uji Validitas ... 45

2. Uji Reliabilitas ... 46

(12)

i

A. Data Penelitian ... 49

1. Pengumpulan Data ... 49

2. Deskripsi Karakteristik Responden ... 49

B. Uji Instrumen Penelitian ... 54

1. Uji Validitas ... 54

2. Uji Reliabilitas ... 56

C. Analisis Data dan Pembahasan Hasil Penelitian ... 60

1. Analisis Regresi Linier Berganda ... 60

2. Pengujian Signifikan Parsial ... 62

3. Uji F ... 63

4. Hasil Uji Hipotesis ... 64

BAB V PENUTUP ... 70 A. Simpulan ... 70 B. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xi

(13)

i

Halaman Tabel 1. Responden Berdasarkan Usia... 50

Tabel 2. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 51

Tabel 3. Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 51

Tabel 4. Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan Perbulan ... 52

Tabel 5. Responden berdasarkan Lama Menjadi Anggota Komunitas Jogja Beat Riders ... 53

Tabel 6. Hasil Pengujian Validitas Data Pre-Test ... 55

Tabel 7. Hasil Pengujian Validitas Data Akhir ... 56

Tabel 8. Hasil Pengujian Reliabilitas Data Pre-Test ... 58

Tabel 9. Hasil Pengujian Reliabilitas Data Akhir ... 59

Tabel 10. Hasil Pengujian Analisis Regresi Linier Berganda ... 60

Tabel 11. Hasil Uji Signifikansi ... 62

Tabel 12. Hasil Uji F ... 63

(14)

i

Gambar 1. Kerangka Pikir... 33

(15)

i

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

Lampiran 2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data Pre-Test Lampiran 3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data Besar Lampiran 4. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Lampiran 5. Surat Penetapan Dosen Pembimbing Skripsi

Lampiran 6. Kartu Bimbingan Skripsi

(16)

i

A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru

bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi

memperluas pasar produk perusahaan, di sisi lain juga memunculkan

persaingan yang ketat antar perusahaan domestik maupun asing. Kondisi

demikian akan memicu perusahaan untuk selalu berusaha merebut pangsa

pasar. Salah satu cara untuk mencapai keadaan tersebut adalah dengan

melakukan penguatan terhadap merek, karena merek suatu produk berfungsi

untuk membedakan produk perusahaan dengan produk yang ditawarkan

pesaing.

Dinamika dalam dunia usaha yang semakin menantang, membuat

pelaku usaha harus dapat menjawab tantangan pasar dan memanfaatkan

tantangan tersebut sebagai peluang untuk dapat bertahan di masa yang akan

datang. Dalam keadaan saat ini, pihak perusahaan harus lebih aktif dalam

mendistribusikan dan memperkenalkan produknya agar dapat terjual sesuai

dengan apa yang diharapkannya, dan dapat mempertahankan pangsa pasarnya.

Menurut Kotler (2000:61) para pesaing adalah perusahaan-perusahaan

yang memuaskan pelanggan yang sama. Begitu perusahaan mengidentifikasi

pesaingnya, maka harus mengetahui dengan pasti karakteristik, khususnya

(17)

i

strategi, tujuan, kelemahan, dan pola reaksi pesaing ketika mendapat ancaman

pasar. Persaingan yang semakin ketat saat ini untuk semua kategori produk

melahirkan berbagai macam merek yang semakin menjadi identitas

masing-masing produk tersebut. Peranan merek bukan lagi sekedar nama atau

pembeda dengan produk-produk pesaing, tetapi sudah menjadi salah satu

faktor penting dalam keunggulan bersaing. Merek memberikan konsumen

suatu sumber pilihan, menyederhanakan keputusan, menawarkan jaminan

mutu dan mengurangi resiko, membantu ekspresi diri, serta menawarkan

persahabatan dan kesenangan.

Durianto dkk., (2001) menyatakan bahwa fenomena persaingan yang

ada dalam era globalisasi akan semakin mengarahkan sistem perekonomian

Indonesia ke mekanisme pasar yang memposisikan pemasar untuk selalu

mengembangkan dan merebut pangsa pasar (market share). Hal ini dapat

terlihat pada persaingan produk sepeda motor di Indonesia. Seperti yang kita

tahu, bahwa sepeda motor sudah sangat familier dalam kehidupan kita.

Industri sepeda motor di Indonesia saat ini menunjukkan suatu fenomena yang

menarik. Saat perekonomian Indonesia terpuruk, industri sepeda motor

ternyata menunjukkan pertumbuhan yang mencengangkan. Pertumbuhan

penjualan sepeda motor yang tetap tinggi dikarenakan sepeda motor

merupakan salah satu alat transportasi yang murah dan terjangkau. Tingginya

pertumbuhan penjualan juga tercermin dari total produksi yang terus

(18)

i

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dunia otomotif hingga

saat ini masih mampu memikat perhatian. Kebutuhan akan sepeda motor tidak

hanya menjadi sekedar alat transportasi biasa tetapi bagi sebagian kalangan

masyarakat telah menjadi bagian dari gaya hidup. Seiring kemajuan yang ada,

baik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dilihat dari adanya

inovasi-inovasi baru telah menyebabkan konsumen melakukan tindakan

pengeluaran uang yang selektif dalam melakukan pembelian. Seorang

konsumen akan memilih produk atau merek tertentu berdasarkan kriteria yang

berlaku pada dirinya yang merupakan bentukan dari pengaruh faktor

lingkungan dan faktor individu. Dalam menentukan pilihan ini konsumen

melewati fase serta proses tertentu dan akan memilih produk atau merek yang

mempunyai kepuasan tertinggi menurutnya berdasarkan jangkauan

ekonominya. Demikian pula halnya untuk menggambarkan tentang apa yang

terjadi pada diri komunitas penggemar motor sport di tanah air.

Kotler (1996) mengatakan bahwa merek adalah suatu hal yang

mendasar, sama halnya dengan segmentasi dan positioning di dalam

pemasaran. Ini merupakan hal utama untuk masuk dan tinggal di benak

konsumen. Diperlukan strategi yang dapat menjadi alternatif bagi

pengembangan dan pembangunan sebuah merek yang bertujuan untuk

menarik perhatian dan mempertahankan konsumen. Seperti diketahui bahwa

PT. Astra Honda Indonesia yang merupakan perusahaan produsen kendaraan

bermotor dengan merek Honda telah banyak berhasil melekat di benak

(19)

i

telah banyak memproduksi kendaraan bermotor di Indonesia terhitung sejak

tahun 1961. Dengan mengedepankan pelayanan serta teknologi yang

berkembang PT. Astra Honda Indonesia berhasil mendapatkan kepercayaan

dari masyarakat Indonesia untuk pemilihan kendaraan bermotor.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa merek

mempunyai peranan penting dan merupakan asset terbesar bagi perusahaan.

Namun agar merek produk dapat bertahan lama dalam kondisi pasar yang

semakin kompetitif dan keluar sebagai pemenang, dibutuhkan konsumen yang

memiliki loyalitas merek tinggi (Durianto dkk., 2001). Sebuah merek dapat

memiliki beberapa asosiasi, satu atau lebih diantaranya dapat mendominasi

(Rosinta, 1996). Merek dapat menjadi sarana atau wahana untuk bertemu

dengan orang lain, membangun relationship, dan menemukan orang – orang

yang memiliki satu minat di mana konsumen saling berinteraksi (Yuswohady,

2004). Wahana tersebut dikenal dengan komunitas. Komunitas merek adalah

komunitas yang tidak terikat secara geografi dan mempunyai struktur sosial yang mengatur hubungan di antara pecinta merek (Muniz dan O’Guinn, 2001). Sementara menurut Mc Alexander et.al, (2002), komunitas merek merupakan

customer centric, keberadaan dan arti komunitas tidak terpisahkan dari

pengalaman konsumen daripada merek tersebut. Komunitas merek juga tidak

terlepas dari interaksi antar anggotanya agar memperkuat solidaritas

komunitas merek. Tumbuhnya berbagai komunitas pelanggan belakangan ini

(20)

i

Pasalnya, komunitas terbukti punya pengaruh yang sangat besar bagi

preferensi merek yang digunakan oleh anggota komunitasnya.

Perusahaan berusaha mensponsori dan mempromosikan suatu brand

community untuk mengetahui lebih jauh mengenai perilaku pelanggan dan

bagaimana mereka berinteraksi dengan produk mereka. Selain itu perusahaan

juga berusaha untuk mengelola komunitas mereka sendiri. Banyak kegiatan

yang sebelumnya diselenggarakan oleh pelanggan secara mandiri lalu

kemudian perusahaan bersedia mensponsori dengan tujuan untuk

mendapatkan kendali atas brand image dan brand mereka. Pada puncaknya

perusahaan sebenarnya ingin menanamkan ke dalam pikiran pelanggan hanya

untuk mempertimbangkan satu produk yaitu produk mereka yang bertujuan

untuk meningkatkan pangsa pasar, pangsa konsumen, dan profitabilitas.

Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah customer- centric

model of brand community dari Mc Alexander et.al, (2002). Model ini dipilih

karena paling sesuai dengan konsep komunitas merek yang diciptakan oleh

perusahaan, dimana perusahaan ikut andil dalam komunitas dan berhubungan

dengan anggota komunitas. Komunitas merek di Indonesia saat ini sangat

banyak. Bahkan tidak jarang satu merek memiliki komunitas lebih dari satu

dengan nama yang berbeda-beda. Berdasarkan customer-centric model of

brand community yang dikemukakan oleh Mc Alexander et.al, (2002) di

dalam suatu komunitas merek terdapat empat integrasi hubungan yang terdiri

dari customer-product relationship (hubungan antara konsumen dengan

(21)

i

merek), customer-company relationship (hubungan antara konsumen dengan

perusahaan), dan customer-other customer relationship (hubungan antara

konsumen dengan konsumen).

Strategi pemasaran berbasis komunitas memiliki keuntungan

tersendiri, perusahaan mendapatkan sarana promosi gratis yaitu word of mouth

dari anggota komunitas. Keuntungan lainnya adalah perusahaan bisa

mendapatkan masukan dari para konsumen mengenai produk yang akan

mereka luncurkan. Komunitas konsumen dapat berupa komunitas yang

terbentuk berdasarkan produk tertentu, seperti Bike to Work. Terdapat juga

komunitas yang terbentuk dari merek yang disebut dengan komunitas merek,

seperti Jogja Beat Riders. Komunitas merek terdiri dari konsumen yang

sangat loyal pada merek tertentu. Merek tersebut hanya memfasilitasi

terjadinya interaksi antar konsumen (Yuswohady, 2008). Semakin intens

interaksi antar anggota, semakin kuat basis konsumen dalam komunitas

merek. Anggota komunitas ini dihubungkan dengan merek yang

menghubungkannya dengan komunitas tersebut seperti Jogja Beat Riders

dengan merek Honda Beat. Kuatnya hubungan yang kuat antar anggota dalam

komunitas merek membuat anggota komunitas merek menjadi juru bicara

kepada orang lain.

Menurut Kartajaya (2008:212), untuk mengembangkan word of mouth

secara lebih ekstensif, dapat dilakukan dengan membuat sebuah komunitas.

Menurut Hartono (2008), dalam konteks komunitas konsumen, artikel

(22)

i

Brand Community” Mc Alexander et.al, (2002), dapat dijadikan acuan

mengenai definisi komunitas dalam konteks pemasaran dan merek. Mereka

menyebutnya sebagai brand community atau komunitas merek. Istilah komunitas merek pertama kali diperkenalkan oleh Muniz dan O’Guinn (2001). Menurut Muniz dan O’Guinn (2001), komunitas merek merupakan komunitas khusus yang tidak terikat secara geografis dan mempunyai struktur sosial yang

mengatur hubungan diantara pecinta merek. Komunitas merek memiliki

karakteristik yang sama dengan komunitas pada umumnya. Namun komunitas

merek secara spesifik dibuat untuk membedakan pengguna merek satu dengan

yang lain. Konsep komunitas merek tidak hanya sekedar klub yang terdiri dari

para pengguna merek, karena konsep komunitas merek diciptakan oleh

perusahaan, didesain dan dikendalikan untuk menjadi alat word of mouth yang

efektif (Ferrinadewi, 2008:176). Dalam komunitas, word of mouth terjadi baik

antar anggota maupun antara anggota dan yang bukan. WOM antar anggota

komunitas terjadi karena anggota suatu komunitas pada umumnya

mempercayai apa yang dikemukakan oleh anggota komunitas lainnya

(Kartajaya, 2006:188). Sedangkan WOM antara anggota komunitas dengan

yang bukan anggota komunitas terjadi karena para anggota komunitas akan

cenderung menjadi salesman perusahaan yang sangat fanatik. Mereka akan

bercerita kepada orang lain dan merekomendasikan merek dan produk

perusahaan (Kartajaya, 2006:190).

Anggota komunitas merek memberikan rekomendasi kepada calon

(23)

i

dapat menjadi juru bicara atau “papan iklan berjalan” yang efektif bagi perusahaan, seperti yang dikemukakan oleh Yuswohady (2008) bahwa

customer is the truly salesman. Konsumen yang puas akan merek yang

digunakannya akan memberitahukan kelebihan-kelebihan merek tersebut

kepada orang lain, dan selanjutnya konsumen akan merekomendasikannya

kepada orang lain. Rekomendasi pelanggan merupakan alat promosi dan

penjualan yang sangat efektif dalam mempengaruhi calon prospek (Silverman,

2001). Hal ini merupakan salah satu strategi komunikasi pemasaran yang

mendasar yang disebut dengan Word of Mouth. Lupiyoadi (2006) menyatakan

bahwa definisi Word of Mouth adalah suatu bentuk promosi yang berupa

rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan dalam suatu produk. Word

of mouth sendiri telah menjadi suatu fenomena yang menarik di dalam dunia

pemasaran dan komunikasi, dimana word of mouth menjadi salah satu

kekuatan dalam pasar (Kotler, 2000). Saat ini kekuatan word of mouth mulai

disadari dan dimanfaatkan oleh banyak perusahaan, mengingat iklan-iklan di

media massa tidak lagi efektif sebagai alat promosi karena konsumen hanya

bisa mengingat lima sampai tujuh iklan per hari (Schiffman dan Kanuk, 2000).

Word of mouth lebih dipercaya dibandingkan oleh seorang sales person, dan

dapat menjangkau konsumen lebih cepat daripada iklan maupun direct-mail,

karena kekuatan word of mouth terletak pada kemampuannya dalam

memberikan rekomendasi (referral).

Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan Dye (2000) bahwa dalam

(24)

i

tentang sesuatu. Bila pengalaman tersebut positif maka rekomendasi tersebut

bisa menjadi alat promosi yang efektif sehingga menghasilkan sukses bagi

produk tersebut, dan sebaliknya jika terjadi pengalaman negatif maka bisa

menghasilkan kehancuran bagi produk tersebut. Termasuk pada komunitas

pengguna motor Honda Beat.

Di sini peneliti ingin meneliti pada komunitas sepeda motor di kota

Yogyakarta. Di mana kota Yogyakarta terdapat berbagai macam komunitas

otomotif mulai dari mobil hingga sepeda motor dari berbagai merek dan tipe.

Peneliti mengambil objek penelitian pada komunitas motor Jogja Beat Riders

(JBR).

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk

menganalisis “Analisis Pengaruh Brand Community Terhadap Word of

Mouth (Studi pada Komunitas Jogja Beat Riders di Yogyakarta)”.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah berdasarkan latar belakang masalah yang

dikemukakan, muncul berbagai masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai

berikut :

1. Semakin banyak dan ketatnya persaingan industri sepeda motor

2. Pentingnya memahami strategi pemasaran untuk dapat bersaing dan

(25)

i

C. Batasan Masalah

Peneliti melakukan pembatasan masalah agar penelitian lebih terarah

dan tidak melebar pada masalah yang tidak relevan, sehingga ruang – ruang

penelitian terbatas pada :

1. Objek penelitian adalah perusahaan Honda Beat

2. Subjek adalah anggota komunitas JBR (Jogja Beat Riders)

3. Penelitian dilakukan pada variabel brand community yang terdiri dari :

product relationship, brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship sebagai

variabel bebas (X) dan word of mouth sebagai variabel terikat (Y)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diungkapkan di atas, peneliti

merumuskan permasalahan yang ingin diketahui dari penelitian ini, yaitu :

1. Apakah customer-product relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap word of mouth?

2. Apakah customer-brand relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap word of mouth?

3. Apakah customer-company relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap word of mouth?

4. Apakah customer-other customer relationship berpengaruh positif dan

(26)

i

5. Apakah customer-product relationship, customer-brand relationship,

customer-company relationship, dan customer-other customer relationship

secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of

mouth?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan pada subbab

sebelumnya, maka tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Menganalisis pengaruh customer-product relationship terhadap word of

mouth.

2. Menganalisis pengaruh customer-brand relationship terhadap word of

mouth.

3. Menganalisis pengaruh customer-company relationship terhadap word of

mouth.

4. Menganalisis pengaruh customer-other customer relationship terhadap

word of mouth.

5. Menganalisis pengaruh customer-product relationship, customer-brand

relationship, customer-company relationship, dan customer-other customer relationship secara simultan terhadap word of mouth.

(27)

i

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Sebagai salah satu bahan informasi atau bahan kajian dalam

menambah pengetahuan dalam bidang manajemen pemasaran khususnya

mengenai pengaruh brand community terhadap word of mouth.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti

Untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu yang telah

dipelajari selama berada di bangku kuliah yang berkaitan dengan Brand

Community dan Word of Mouth, serta memberi pengetahuan bagi

peneliti tentang pengaruh brand community terhadap word of mouth

pada motor merek Honda Beat di Yogyakarta.

b. Bagi perusahaan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi

dan masukan bagi pihak perusahaan untuk mengetahui seberapa besar

pengaruh strategi yang digunakan dalam pemasarannya sehingga

perusahaan bisa terus mengembangkan strategi pemasarannya untuk

(28)

i

c. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan untuk penelitian selanjutnya bagi yang ingin mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.

(29)

i

HIPOTESIS

A. Kajian Teori 1. Brand (merek)

Menurut Durianto dkk., (2004:2) merek adalah nama, istilah, tanda

simbol, rancangan, atau kombinasi hal-hal tersebut untuk mengidentifikasi

barang atau jasa seseorang atau sekelompok penjual dan untuk

membedakannya dari produk pesaing dan merek merupakan nilai tangible

dan intangible yang terwakili dalam sebuah merek dagang (trademark)

yang mampu menciptakan nilai dan pengaruh tersendiri di pasar bila

dikelola dengan tepat.

Menurut Tjiptono (2006:103) merek adalah nama, istilah, tanda,

simbol atau lambang, desain, warna yang diharapkan dapat memberikan

identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing. Pada dasarnya merek

merupakan suatu janji penjual untuk secara konsisten menyampaikan

serangkaian ciri - ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada para pembeli.

Merek yang baik juga menyampaikan jaminan tambahan berupa jaminan

kualitas.

Menurut American Marketing Association (dalam buku Keller,

2008) brand adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau

kombinasi dari mereka, dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan

(30)

i

jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya

dari para pesaing. Menurut Aaker (1991) brand adalah sebuah nama atau

simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, trademark atau

kemasan) yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi suatu produk atau

jasa dari seorang kelompok penjual dan membedakan produk atau jasa

tersebut dibandingkan dengan pesaingnya. Brand dapat memiliki enam

level pengertian (Kotler, 2000 dalam Kusuma, 2009) yaitu sebagai berikut:

a. Atribut Brand

Mengingatkan pada atribut tertentu. Misalnya Mercedes

memberikan kesan sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik,

dirancang dengan baik, tahan lama, dan bergengsi tinggi.

b. Manfaat

Bagi konsumen, kadang sebuah brand tidak sekadar menyatakan

atribut, tetapi manfaat. Mereka memberi produk tidak membeli atribut,

tetapi membeli manfaat. Atribut yang dimiliki oleh suatu produk dapat

terjemahkan menjadi manfaat fungsional dan atau emosional. Sebagai

contoh seperti atribut “tahan lama” diterjemahkan menjadi manfaat fungsional “tidak perlu cepat beli lagi, atribut mahal” diterjemahkan menjadi manfaat emosional “bergengsi” dan lain-lain.

c. Nilai

Brand juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Jadi,

(31)

i

d. Budaya

Brand juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili

budaya Jerman, terorganisasi, efisien dan bermutu tinggi.

e. Kepribadian

Brand mencerminkan kepribadian tertentu. Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang

memerintah (binatang), atau istana yang agung (objek).

f. Pemakai

Brand menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau

menggunakan produk tersebut. Mercedes menunjukkan pemakainya

seorang diplomat atau eksekutif.

2. Community

Menurut Suryani (2008) community adalah kumpulan dari dua

orang atau lebih yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang

bersama sehingga hubungan sosial yang terjadi diantara anggota saling

mempengaruhi. Sejalan dengan pendapat Williams (2005) community

adalah satu set dari interaksi, perilaku manusia yang memiliki makna dan

harapan sama diantara para anggotanya. Sebuah community terdiri dari

entitas anggotanya dan hubungan antara mereka. Community cenderung

diidentifikasi berdasarkan kesamaan atau identifikasi antara anggota

mereka berdasarkan lingkungan, pekerjaan, mengejar kesenangan atau

(32)

i

community adalah sejauh mana mereka berperan untuk kesejahteraan

manusia. Melalui community, orang-orang berbagi sumber daya yang

penting dapat besifat kognitif, emosional atau materi di alam. Semua hal

tersebut yang dapat memungkinkan atau tidaknya dipergunakan bersama

dalam suatu komunitas tertentu, satu hal yang tampaknya selalu untuk

dibagikan, penciptaan dan negosiasi terhadap makna (Mc Alexander et.al,

2002). Pembentukan community haruslah secara sukarela dan berlandaskan pada nilai-nilai, serta interaksi yang dilakukan bertujuan

untuk mencapai tujuan bersama dan dapat dijadikan sebagai salah satu

cara untuk mengangkat brand di pasar (Dewey, 1989). Suryani (2008) di

dalam bukunya mengemukakan faktor-faktor yang menjadikan pendukung

dan kekuatan dalam sebuah komunitas, sehingga komunitas tersebut terus

bertahan eksistensinya, diantaranya:

a. Menginformasikan atau membuat individu lebih menyadari produk atau

merek tertentu.

Komunitas memiliki informasi yang banyak dan lengkap tentang

berbagai brand sehingga di dalam interaksi komunikasinya lebih berisi

tentang pentingnya memilih brand atau informasi berbagai brand dan

kinerjanya sehingga akan menimbulkan kesadaran yang kuat pada

anggota komunitas tentang pentingnya melihat kinerja brand dan

(33)

i

b. Memberikan kesempatan untuk membandingkan.

Interaksi yang terjadi di dalam komunitas memiliki pengaruh

yang kuat jika di dalam komunitas tersebut terdapat suasana setiap

anggotanya saling berbagi pengalaman dan diskusi untuk

membandingkan berbagai pilihan, perilaku belanja dan perilaku

konsumen.

c. Mempengaruhi individu untuk mengadopsi sikap.

Kelompok yang memiliki pengaruh yang lebih kuat pada

anggotanya dalam menyesuaikan sikap dengan sikap yang dikembangkan

oleh kelompok itu sendiri akan lebih berdampak mempengaruhi perilaku

anggotanya.

d. Melegitamasi keputusan individu untuk menggunakan produk yang

sama dengan yang digunakan komunitas.

Komunitas yang memiliki kekuatan dalam memberikan

rekomendasi dan bahkan mengharuskan anggotanya dan luar

anggotanya untuk menggunakan suatu produk tertentu akan memiliki

pengaruh yang kuat terhadap perilaku konsumsi dan perilaku belanja

anggotanya sehingga secara langsung berpengaruh terhadap perilaku

(34)

i

3. Brand Community

Brand Community adalah suatu komunitas yang disusun atas

dasar kedekatan dengan suatu produk atau merek. Perkembangan terakhir

dalam pemasaran dan penelitian perilaku konsumen sebagai hasil dari

hubungan antara merek, identitas individu dan budaya. Di antara konsep

yang menjelaskan perilaku konsumen dengan suatu merek tertentu.

Istilah “Brand Community” pertama kali dikemukakan oleh Muniz dan

O’Guinn (1995) dalam Association for Consumer Research Annual

Conference in Minneapolis. Pada tahun 2001 artikel berjudul “Brand Community” dipublikasikan dalam jurnal penelitian konsumen (SSCI),

mereka menjelaskan konsep brand community sebagai “suatu bentuk

komunitas yang terspesialisasi, komunitas yang memiliki ikatan yang

tidak terbatas pada ikatan secara geografis, namun lebih didasarkan pada

seperangkat struktur hubungan sosial di antara penggemar merek

tertentu”. Penelitian Muniz Jr. and O’Guinn (2001) menemukan bahwa komunitas merek dapat terjadi secara langsung (bertatap muka) maupun

melalui lingkungan yang termediasi komputer. Komunitas merek

merupakan kumpulan individu yang disituasikan dalam konteks

pengonsumsian suatu merek. Berbeda kontras dengan bentuk kelompok

lainnya, komunitas merek bukan merupakan segmen dengan gaya hidup

yang homogen maupun rangkaian pengonsumsian beberapa merek.

(35)

i

komersil yang berpusat pada suatu merek. Merek tersebut mengikat

kesatuan jaringan sosial.

Sementara menurut Mc Alexander et.al, (2002), komunitas merek

merupakan customer centric, keberadaan dan arti dari komunitas tidak

terpisahkan dari pengalaman konsumen daripada merek tersebut.

Komunitas merek juga tidak terlepas dari interaksi antar anggotanya agar

memperkuat soliditas komunitas merek. Menurut Herek dan Glunt

(1995), kata komunitas merek memiliki beberapa pengertian seperti

adanya lokasi geografis, keanggotaan pada organisasi sosial tertentu dan

sekumpulan individu yang memiliki perasaan bersama dan karakteristik

sama.

Brand community dapat diartikan sebagai sekelompok konsumen

yang memiliki seperangkat hubungan sosial berdasarkan penggunaan

atau kepentingan dalam produk, serta tidak seperti masyarakat lainnya,

anggota komunitas biasanya tidak tinggal dekat satu sama lain kecuali

bila mereka dapat bertemu untuk suatu periode tertentu pada acara yang

diselenggarakan oleh komunitas mereka (Solomon, 2009).

Kotler (2003) dalam bukunya “Marketing Management” edisi 11

menyatakan bahwa, didalam brand community terdapat consumer

community atau komunitas konsumen yang merupakan salah satu alat

yang penting dalam membangun merek. Consumer community atau

(36)

i

membangun merek. Consumer community membuat konsumen

mencurahkan perhatiannya kepada merek yang mereka miliki. Dijelaskan

kembali oleh Kevin dan Keller dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Pemasaran” (2006), yang dikembangkan bersama Kotler dijelaskan bahwa komunitas merek atau klub merek dapat terbuka bagi

setiap orang yang membeli produk atau jasa. Selain itu dengan strategi

ini perusahaan membangun sebuah ikatan hubungan jangka panjang

dengan konsumen (Berry dan Parasuraman, 1991).

Ada beberapa kebutuhan konsumen yang dapat terpenuhi di

dalam suatu komunitas, diantaranya adalah:

a. Informasi

Konsumen diberikan kebebasan untuk membagikan informasi

mengenai pengalaman mereka bersama produk yang mereka miliki,

hal ini dapat membantu konsumen dalam menentukan produk mana

yang akan mereka beli. Adanya review dari anggota yang ahli (expert)

memberikan banyak informasi dan masukan bagi konsumen mengenai

bagaimana memaksimalkan penggunaan produk.

b. Komunikasi

Bukti nyata dari sebuah komunitas adalah adanya suatu

komunikasi dari setiap anggota. Berbagai aktivitas dapat menjadi

sangat bernilai bagi konsumen dan didalam aktivitas tersebut terjalin

(37)

i

informasi bagi konsumen untuk mengetahui lebih banyak mengenai

produk.

c. Entertainment

Komunitas menyediakan hiburan bagi konsumen yang menjadi

anggotanya. Konsumen dapat menikmati setiap aktivitas hiburan yang

disediakan oleh pemilik komunitas dengan mengikuti berbagai kegiatan

dalam komunitas.

d. Productivity

Melalui komunitas, konsumen dapat meningkatkan produktivitas

mereka dalam memberikan masukan dalam kemajuan produk atau

perusahaan. Komunitas menyediakan akses bagi konsumen untuk

menyalurkan berbagai macam informasi yang berguna bagi perusahaan

atau pihak lainnya yang berhubungan.

e. Feedback

Konsumen menggunakan fasilitas berbagi informasi di dalam

komunitas untuk memberikan feedback kepada perusahaan mengenai

kesukaan atau ketidaksukaan mereka terhadap produk yang telah

dikonsumsi. Selain itu feedback diberikan dalam bentuk solusi

pemecahan masalah serta product improvement.

Brand community berangkat dari essensinya yaitu merek itu sendiri

(38)

i

yang merupakan pengguna atau yang tertarik dengan merek tersebut. Mark

Resnick (2001) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa terdapat beberapa

manfaat dari keberadaan brand community :

a. Bagi konsumen

Bagi konsumen keberadaan brand community memberi banyak

keuntungan diantaranya informasi mengenai jenis produk yang akan

mereka beli.

b. Bagi produsen

Salah satu manfaat utama adanya suatu komunitas bagi

perusahaan adalah meningkatnya relasi antara perusahaan dengan

konsumen. Peningkatan hubungan dengan konsumen memberikan

keuntungan yang besar bagi perusahaan, yaitu memberikan kesempatan

bagi perusahaan untuk mengenal dan mempelajari lebih jauh

karakteristik konsumen (demografi, consumer preference, gaya hidup

konsumen), kebutuhan serta masukan produsen dari konsumen mengenai

berbagai aspek produk atau desain produk. Hal terpenting lainnya adalah

keberadaan komunitas merek (brand community) dapat menciptakan

hubungan jangka panjang dengan konsumen dengan tujuan untuk

mempertahankan kesetiaan konsumen.

Manfaat brand community menurut Mc Alexander et.al, (2002)

manfaat yang diperoleh dari adanya komunitas merek sangat banyak dan

(39)

i

membuat pelanggan setia terhadap suatu brand tertentu, pelanggan akan

membawa pesan pemasaran ke komunitas lainnya. Pelanggan yang

tergabung dalam komunitas akan lebih mentoleransi daripada konsumen

lain terhadap kegagalan produk atau tidak sempurnanya suatu kualitas

layanan (Berry, 1995). Keinginan untuk beralih merek sangat kecil,

bahkan ketika dihadapkan dengan performa lebih unggul terhadap

produk pesaing. Mereka biasanya akan termotivasi untuk memberikan

umpan balik dan masukan kepada perusahaan. Dalam banyak kasus, kita

bahkan menemukan pelanggan setia membuat keputusan jangka panjang

dalam investasi saham perusahaan. Pelanggan yang memiliki integrasi

tinggi dalam komunitas merek, secara emosional diinvestasikan dalam

kesejahteraan perusahaan dan memiliki keinginan untuk berkontribusi

tarhadap kesuksesan perusahaan.

Alat ukur brand community dapat diukur melalui 4 macam

hubungan (Mc Alexander et.al, 2002), yaitu :

a. Customer-Product Relationship

Hubungan antara pelanggan dengan produk adalah bagaimana

produk dapat memberikan apa yang diinginkan oleh pelanggan.

Customer – Product Relationship dapat dianggap sebagai pengalaman

konsumen dalam mengkonsumsi produk atau disebut product

experience. Terdapat empat indikator dalam variabel customer-product relationship yaitu:

(40)

i

1) Produk dari merek ini disukai

Menyenangi merek yang dimiliki karena merasa nyaman

saat menggunakannya.

2) Produk ini membuat bangga

Bangga terhadap kualitas dari merek produk yang mereka miliki

3) Produk ini adalah barang berharga

Selalu menjaga produk yang dimilikinya.

4) Produk ini sangat menyenangkan digunakan

b. Customer-Brand Relationship

Hubungan antara pelanggan dengan merek, di mana konsumen

loyal dengan merek tertentu. Konsumen yang loyal biasanya

disebabkan mereka menyukai merek tersebut karena kualitasnya yang

baik. Terdapat tiga indikator dalam variabel customer-brand

relationship yaitu:

1) Menghargai warisan dari merek ini

Selalu melakukan service dengan merek dan memecahkan

masalah yang berkaitan dengan merek.

2) Jika produk harus diganti, maka akan ganti dengan produk merek

(41)

i

3) Merek ini mempunyai kualitas terbaik

Kualitas produk yang baik akan membuat konsumen tidak

beralih ke merek lain.

c. Customer-Company Relationship

Hubungan antara pelanggan dengan perusahaan adalah

membangun koneksi yang dapat berkembang antara pelanggan dengan

representative perusahaan. Perusahaan melalui sebuah merek memiliki

citra yang baik di mata anggota komunitas merek yang menyebabkan

anggota komunitas membicarakan merek tersebut. Hal ini dikarenakan

perusahaan mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Citra perusahaan

dipersepsikan anggota komunitas melalui keramahan karyawan dalam

melayani keluhan konsumen serta tanggapan perusahaan terhadap

konsumen. Terdapat tiga indikator dalam variabel customer-company

relationship yaitu:

1) Perusahaan mengerti kebutuhan pelanggan

Perusahaan mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan

yang diharapkan oleh konsumen.

2) Perusahaan peduli terhadap opini dan keluhan pelanggan

Perusahaan memberikan layanan dengan keramahan

(42)

i

3) Perusahaan mempunyai citra yang baik di mata pelanggan

Perusahaan melalui mereknya memiliki citra yang baik di

mata anggota komunitas yang menyebabkan mereka membicarakan

merek dari perusahaan tersebut

d. Customer-Other Customer Relationship

Hubungan antara pelanggan dengan pelanggan lain, di mana

anggota sering kali berinteraksi dengan anggota lain. Terdapat tiga

indikator dalam variabel customer-other customer Relationship yaitu:

1) Bertemu dengan orang-orang luar biasa karena komunitas ini

Menciptakan suatu wadah untuk berbagi mengenai produk

dari suatu merek tertentu.

2) Merasa seperti keluarga dengan pemilik yang lain

Hubungan yang terjalin menjadi seperti keluarga sendiri,

anggota bersedia membantu sesama anggota dalam penggunaan

sebuah merek.

3) Mempunyai minat bergabung dengan komunitas karena pemilik

(43)

i

4. Word of Mouth

Menurut WOMMA (Word of Mouth Marketing Association), Word

of Mouth adalah suatu aktifitas di mana konsumen memberikan informasi

mengenai suatu merek atau produk kepada konsumen lain. Kotler dan

Keller (2007) mengemukakan bahwa Word of Mouth Communication

(WOM) atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses

komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu

maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk

memberikan informasi secara personal.

Menurut Lupiyoadi (2006) Word of Mouth adalah suatu bentuk

promosi yang berupa rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan

dalam suatu produk. Menurut Sumardy dkk., (2011:63) Word of Mouth

adalah kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh sebuah merek agar

konsumen membicarakan, mempromosikan, dan mau menjual merek kita

kepada orang lain. Sedangkan menurut Sernovitz (2006:5) adalah Word of

Mouth adalah pembicaraan yang secara alami terjadi antar orang – orang. Word of Mouth adalah pembicaraan konsumen asli.

Menurut Iput (2007), ketika seorang konsumen mengeluarkan uang

untuk mengkonsumsi suatu produk atau jasa, secara langsung juga

mengkonsumsi sebuah experience, yang kemudian memberikan efek

persepsi, dan berakhir pada suatu tingkat kepuasan emosional. Kepuasan

(44)

i

sering muncul tanpa sengaja, namun sebenarnya bisa direncanakan dengan

strategi yang tepat, dengan goal yang diinginkan perusahaan. Berdasarkan

pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa word of mouth

merupakan sebuah kegiatan pemasaran yang dalam memberikan informasi

suatu produk atau jasa dari satu konsumen ke konsumen lainnya untuk

membicarakan, mempromosikan, dan mau menjual suatu merek kepada

orang lain.

Lupiyoadi (2001:182) Word of Mouth dapat diukur dengan

menggunakan indikator sebagai berikut:

a. Membicarakan

Kemauan pemasar serta pelanggan dalam membicarakan hal – hal

positif suatu produk atau jasa kepada orang lain dapat memberikan kesan

yang baik sesuai pengalamannya terhadap produk atau perusahaan.

Dalam melakukan tindakan komunikasi lisan ada beberapa faktor yang

mendorong terjadinya pembicaraan, yaitu :

1) Kebutuhan dari si pemberi informasi

` (a) Untuk memperoleh perasaan prestise dan serba tahu

(b) Untuk menghilangkan keraguan tentang pembelian yang telah

dilakukan

(c) Untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang – orang yang

(45)

i

(d) Untuk memperoleh manfaat yang nyata

2) Kebutuhan dari si penerima informasi

(a) Untuk mencari informasi dari orang yang dipercaya daripada orang

yang menjual atau memakai produk

(b) Untuk mengurangi kekhawatiran tentang resiko pembelian

(c) Untuk mengurangi waktu dalam mencari informasi

b. Merekomendasikan

Rekomendasi pemasar dan konsumen kepada konsumen lain

dapat meningkatkan kepercayaan dan keinginan memilih suatu produk

atau jasa kepada orang lain. Dalam melakukan rekomendasi pelaku

WOM memiliki beberapa tipe dalam berkomunikasi, meliputi :

1) Produk baru, informasi tentang sebuah produk seperti

keistimewaan model sebuah smartphone, kemajuan baru dalam

teknologi alat komunikasi atau atribut penampilan

2) Pemberian berita, meliputi tanggapan atau mengenai alat

komunikasi dan model yang ingin dibeli

3) Pengalaman pribadi, berupa komentar tentang penampilan atau

kegunaan bahkan keuntungan alat komunikasi yang konsumen beli

(46)

i

c. Mendorong

Dorongan terhadap teman atau relasi untuk melakukan

pembelian produk atau jasa kepada orang lain, mereka dapat berusaha

untuk :

1) Mendorong untuk melakukan pembelian produk bebas

2) Mendorong memperlihatkan produk dengan menyatakan sesuatu

yang positif tentang produk

3) Menggambarkan komunikasi dari opini leader

B. Tinjauan Pustaka

1. Basalamah (2010)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Basalamah (2010) yang

berjudul Pengaruh Komunitas Merek terhadap Word of Mouth pada Honda

Vario Club Jakarta, Depok dan Bekasi. Sampel yang diambil yaitu

komunitas Honda Vario Club Jakarta, Depok, dan Bekasi sebanyak 100

orang. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linier berganda.

Menunjukkan bahwa variabel product relationship,

customer-brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel word of mouth.

(47)

i

2. Saputri dan Anjarwati (2013)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Anjarwati (2013)

yang berjudul Pengaruh Komunitas Merek terhadap Positive Word of

Mouth pada Komunitas Polygoners di Surabaya. Sampel yang diambil

yaitu komunitas polygoners Surabaya sebanyak 110 orang. Menggunakan

alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan

menggunakan PASW (Predictive Analytics Software) statistics 18.

Menunjukkan bahwa variabel product relationship,

customer-brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth.

3. Renata (2011)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Renata (2011) yang berjudul

Pengaruh Komunitas Merek Suzuki Shogun terhadap WOM di Surabaya.

Sampel yang diambil yaitu keseluruhan pengguna Suzuki Shogun

sebanyak 100 orang dengan alat analisis yang digunakan regresi linier

berganda pada progam SPSS 16. Menunjukkan bahwa variabel

customer-product relationship, customer-brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship berpengaruh positif

(48)

i C. Kerangka Pikir Brand Community : H1 (+) H2 (+) H3 (+) H4 (+) H5 (+)

Gambar 1 : Pengaruh Brand Community terhadap Word of Mouth

Keterangan : Hubungan secara simultan (bersama-sama)

Hubungan secara parsial (individu)

Berdasarkan gambar di atas dapat dirumuskan mengenai pengaruh

brand community terhadap word of mouth. Customer-product relationship

sebagai variabel X1, customer-brand relationship sebagai variabel X2,

customer-company relationship sebagai variabel X3, customer-other customer

Customer-Product Relationship (X1) Customer-Brand Relationship (X2) Customer-Company Relationship (X3) Customer-Other Customer Relationship (X4) Word of Mouth (Y)

(49)

i

relationship sebagai variabel X4. Sedangkan word of mouth sebagai variabel Y.

D. Rumusan Hipotesis

Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah

penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Menurut Sugiyono

(2005:70), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan

masalah, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

kalimat pernyataan. Dikatakan sementara, karena jawaban baru yang

didasarkan pada teori relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris

yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat

dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian,

belum jawaban empiris. Menurut Arikunto (2006:8) hipotesis merupakan

jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai

terbukti melalui data yang terkumpul.

Mengacu pada perumusan masalah dan tinjauan teoritis yang diuraikan

sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Pengaruh customer-product relationship terhadap word of mouth

Customer-product relationship dapat dianggap sebagai pengalaman

konsumen mengkonsumsi produk atau disebut product experience (Mc

Alexander et.al, 2002). Hal yang terkait antara word of mouth dengan

(50)

i

seorang konsumen yang memakai produk tersebut. Dalam penelitian

Basalamah (2010) menyatakan bahwa variabel customer-product

relationship memiliki hasil yang signifikan terhadap variabel word of mouth. Saputri dan Anjarwati (2013) menyatakan bahwa customer-product relationship mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth. Kemudian didukung penelitian oleh Renata (2011) yang juga

menyatakan bahwa customer-product relationship mempunyai pengaruh

positif dan signifikan terhadap word of mouth.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut:

H1 : customer-product relationship berpengaruh secara positif dan

signifikan terhadap word of mouth

2. Pengaruh customer-brand relationship terhadap word of mouth

Konsumen sangat merasakan hubungan dengan merek karena

mampu memberikan rasa nyaman saat menggunakannya yang akan

membuat anggota komunitas menyukai dan loyal pada merek

komunitasnya (Mc Alexander et.al, 2002). Konsumen yang loyal akan

merek tertentu akan membicarakan merek tersebut. Basalamah (2010)

menyatakan bahwa variabel customer-product relationship memiliki hasil

yang signifikan terhadap variabel word of mouth. Saputri dan Anjarwati

(2013) menyatakan bahwa customer-brand relationship mempunyai

(51)

i

(2011) menyatakan bahwa variabel customer-product relationship

berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth. Kemudian

didukung oleh penelitian Saputri dan Anjarwati (2013) yang menyatakan

bahwa customer-product relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap word of mouth.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut:

H2 : customer-brand relationship berpengaruh secara positif dan signifikan

terhadap word of mouth

3. Pengaruh customer-company relationship terhadap word of mouth

Customer-company relationship adalah hubungan antara pelanggan

dengan perusahaan. Hal yang mengaitkan hubungan perusahaan dengan

pelanggan adalah citra perusahaan yang baik di mata anggota komunitas,

yang menyebabkan anggota membicarakan tentang merek dari perusahaan

tersebut (Mc Alexander et.al, 2002). Citra perusahaan yang bagus akan

menimbulkan word of mouth yang positif. Sehingga konsumen dalam

komunitas dapat menjadi juru bicara atau “papan iklan berjalan” yang efektif bagi perusahaan. Basalamah (2010) dalam penelitiannya

menyatakan bahwa variabel customer-company relationship berpengaruh

positif dan signifikan terhadap variabel word of mouth. Menurut penelitian

Saputri dan Anjarwati (2013) customer-company relationship berpengaruh

(52)

i

Renata (2011) bahwa variabel customer-company relationship mempunyai

pengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth.

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut:

H3 : customer-company relationship berpengaruh secara positif dan

signifikan terhadap word of mouth.

4. Pengaruh customer-other customer relationship terhadap word of mouth

Customer-other customer relationship adalah hubungan pelanggan

dengan pelanggan lain, di mana di dalamnya terjadi suatu komunikasi

antar sesama anggota komunitas ataupun antar anggota kamunitas lain

yang berkaitan dengan word of mouth (Mc Alexander et.al, 2002).

Basalamah (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa variabel

customer-other customer relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap variabel word of mouth. Menurut penelitian Anjarwati (2013)

customer-other customer relationship berpengaruh positif dan signifikan

terhadap word of mouth. Didukung dari penelitian Renata (2011) bahwa

variabel customer-other customer relationship mempunyai pengaruh

positif dan signifikan terhadap word of mouth.

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

(53)

i

H4 : customer-other customer relationship berpengaruh secara positif dan

signifikan terhadap word of mouth.

5. Pengaruh customer-product relationship, customer-brand relationship,

customer-company relationship, customer-other customer relationship

secara simultan terhadap word of mouth

Word of mouth lebih dipercaya dibandingkan oleh seorang sales person, dan dapat menjangkau konsumen lebih cepat daripada iklan

maupun direct-mail, karena kekuatan word of mouth terletak pada

kemampuannya dalam memberikan rekomendasi. Sebuah perusahaan akan

memanfaatkan sebuah anggota komunitas sebagai alat promosi word of

mouth, karena dalam komunitas terdapat anggota komunitas yang akan

membicarakan merek dan kemudian merekomendasikan merek tersebut

kepada orang lain baik keluarga maupun kerabat kantornya (Mc Alexander

et.al, 2002). Basalamah (2010) menyatakan bahwa variabel dari dimensi brand community yang terdiri dari customer-product relationship, brand relationship, company relationship, customer-other customer relationship memiliki hasil yang secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap variabel word of mouth. Menurut Renata

(2011) menyatakan bahwa dari dimensi brand community yang terdiri dari

product relationship, brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship secara

simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth.

(54)

i

menyatakan bahwa variabel dari dimensi brand community yang terdiri

dari customer-product relationship, customer-brand relationship, customer-company relationship, customer-other customer relationship

secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of

mouth.

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut:

H5 : customer-product relationship, customer-brand relationship,

customer-company relationship, customer-other customer relationship

(55)

i

A. Desain Penelitian

Untuk mendapatkan data opini individu, penelitian ini menggunakan

metode survei. Metode survei adalah metode pengumpulan data primer

dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu

(Jogiyanto: 2010).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari Oktober 2014 sampai dengan Juli

2015 dan bertempat di Daerah Istimewa Yogyakarta.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya

berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk

mempelajarinya atau menjadi objek penelitian (Kuncoro, 2009). Dalam

penelitian ini, populasi yang digunakan adalah semua anggota komunitas

Jogja Beat Riders (JBR) yang berjumlah 172 orang.

(56)

i

2. Sampel

Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi

(Kuncoro, 2009). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah dengan non probability sampling yaitu teknik sampling

yang tidak memberikan kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota

populasi untuk dijadikan sampel. Sedangkan penentuan pengambilan jumlah

responden (sampel) dilakukan melalui metode purposive sampling, yaitu

teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil sampel dari

populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu (Jogiyanto, 2010). Kriteria yang

dapat dijadikan sampel adalah responden yang tergabung dengan komunitas

Jogja Beat Riders dengan responden berusia minimum 18 tahun karena dari

usia tersebut seseorang mulai bersikap kritis terhadap obyek-obyek di luar

dirinya, dan mampu mengambil sintesa antara tanggapan tentang dunia luar

dengan dunia intern atau kehidupan psikisnya sendiri (Kartono, 1995).

Menurut Roscoe ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah

30 sampai dengan 500 (Sugiyono, 2006). Berdasarkan pertimbangan

tersebut maka jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak

150 responden karena dianggap cukup memenuhi kecukupan sampel

minimum.

D. Variabel Penelitian

Menurut Sekaran (2003) variabel penelitian menunjukkan bahwa

(57)

i

yang digunakan adalah customer-product relationship, customer-company

relationship, customer-brand relationship, dan customer-other customer relationship sebagai variabel X dan word of mouth sebagai variabel Y.

E. Definisi Operasional

1. Variabel Terikat : Word of Mouth (Y)

Word of Mouth adalah suatu bentuk promosi yang berupa

rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan dalam suatu produk

(Lupiyoadi : 2006). Indikator dari Word of Mouth meliputi:

a. Membicarakan

b. Merekomendasikan

c. Mendorong

2. Variabel Bebas

a. Customer-Product Relationship (X1)

Hubungan antara pelanggan dengan produk adalah bagaimana

produk dapat memberikan apa yang diinginkan oleh pelanggan. Dalam

situasi ini, perusahaan dapat memasarkan produk dengan baik, packing

yang baik pula, serta menawarkan kebutuhan pelanggan dari produk

tersebut (Mc Alexander et.al, 2002). Indikator dari Customer-Product

Relationship meliputi:

1) Produk dari merek ini disukai

(58)

i

3) Produk ini adalah barang berharga

4) Produk ini sangat menyenangkan untuk digunakan

b. Customer-Brand Relationship (X2)

Hubungan antara pelanggan dengan merek, di mana konsumen

loyal dengan merek tertentu (Mc Alexander et.al, 2002). Indikator dari

Customer-Brand Relationship meliputi:

1) Menghargai warisan dari merek ini

2) Jika produk harus diganti, maka akan ganti dengan produk merek

yang sama

3) Merek ini mempunyai kualitas terbaik

c. Customer-Company Relationship (X3)

Hubungan antara pelanggan dengan perusahaan adalah dengan

membangun koneksi yang dapat berkembang antara pelanggan dengan

representative perusahaan (Mc Alexander et.al, 2002). Indikator dari

Customer-Company Relationship meliputi :

1) Perusahaan mengerti kebutuhan pelanggan

2) Perusahaan peduli terhadap opini dan keluhan pelanggan

3) Perusahaan mempunyai citra yang baik di mata pelanggan

d. Customer-Other Customer Relationship (X4)

Hubungan antara pelanggan dengan pelanggan lain, di mana

(59)

i

et.al, 2002). Indikator dari Customer-Other Customer Relationship

meliputi :

a) Bertemu dengan orang-orang luar biasa karena komunitas ini

b) Merasa seperti keluarga dengan pemilik lain

c) Mempunyai minat bergabung dengan komunitas karena pemilik

lain dari merek lain

F. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menyebarkan kuesioner. Menurut Kusumah (2011: 78) kuesioner

adalah daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada subyek yang diteliti

untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan peneliti.

G. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan instrument penelitian yaitu kuesioner.

Kuesioner merupakan daftar pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara

tertulis yang bertujuan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban para

responden (Kuncoro : 2009). Kuesioner yang didesain menggunakan skala

model likert, di mana responden tingkat setuju atau tidak setuju mengenai

berbagai pernyataan mengenai perilaku, objek, orang atau kejadian (Kuncoro:

2009). Skala yang diajukan dalam penelitian ini terdiri atas lima titik.

Skala-skala ini kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran mengenai

Gambar

Gambar 1 : Pengaruh Brand Community terhadap Word of Mouth
Tabel 11  Hasil Uji Signifikan
Tabel 12  Hasil Uji F

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian ini menunjukkan motif diversi/hiburan merupakan motif tertinggi dalam mendengarkan program radio Good Morning Hard Rockers, yang artinya masyarakat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kapasitas daya trafo karena pengaruh distorsi harmonik dengan cara melakukan pengukuran kandungan distorsi harmonik pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan menyerang dengan smash untuk smash open, smash semi, smash quick (pull), dan smash belakang (back attack) atlet

Desember 2016 Perihal Tindak lanjut Putusan Nomor: 25/G/Pilkada/2016/ PT.TUN MKS yang ditindak lanjuti oleh Surat KPU Provinsi Papua Nomor:

Namun sebagai salah satu lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna penegakan hukum dan keadilan, maka Mahkama

Manfaat yang diharapkan secara akademis dalam penelitian ini adalah memberikan sumbangan positif untuk penelitian selanjutnya mengenai motif dari pendengar program

Lot selanjutnya diterima hanya setelah setingkat mencapai nol, sehingga persediaan rata-rata adalah ( Q + 0 )/2 atau Q/2. Jika barang ini dipesan lebih sering dari

Hasil penemuan dalam penelitian ini adalah adanya faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi eksistensi Fēng Shuǐ; perbedaan sudut pandang di antara generasi tua dan generasi