• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SOLUSI BISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III SOLUSI BISNIS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

33

BAB III

SOLUSI BISNIS

Untuk membantu perusahaan dalam mempersiapkan diri mengimplementasikan MBCfPE di dalam organisasi, maka penulis mencoba untuk membuat suatu model yang bertujuan:

- Mengidentifikasi kesenjangan dalam proses bisnis perusahaan secara keseluruhan.

- Melihat seberapa jauh kemajuan perusahaan ditinjau dari kategori-kategori MBCfPE.

- Melihat seberapa jauh perhatian dan pengertian karyawan tentang MBCfPE.

- Membuat pre-scoring berdasarkan model pra-penilaian MBCfPE yang disusun oleh penulis.

3.1. Preliminary Assessment

Proses pembuatan penilaian ini, mengikuti kategori-kategori yang diberikan dalam penunjuk penulisan Malcolm Baldrige National Quality Award tahun 2008. Dimana pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, terbagi dalam 7 kategori dan 18 item sesuai kriteria Baldrige, kemudian di buat jawaban berdasarkan kriteria Likert yaitu: a. Tidak pernah b. Sangat jarang c. Kadang-kadang d. Sering e. Hampir selalu

(2)

34 Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan tindakan (action) yang harus ada dalam setiap kegiatan organisasi, yang dibuat mengikuti esensi yang ada dalam tiap-tiap kategori dan item dalam Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence. Prelimunary assessment ini disebarkan kepada 50 orang responden dari top management, namun yang mengembalikan hanya 22 responden. Contoh hasilnya bisa di lihat dalam tabel berikut.

Tabel 3.1. Contoh pertanyaan dari kriteria Baldrige 2008 yang dirubah menjadi preliminary assessment MBCfPE

No. Pertanyaan Tidak

Pernah Sangat Jarang Kadang-kadang Sering Hampir Selalu Petunjuk : Yang dimaksudkan sebagai Top Management di sini adalah Direksi dan pegawai Perusahaan yang bekerja dan bertanggung jawab kepada Jajaran Direksi

1.1 Kepemimpinan Senior a. Visi dan Nilai-nilai

(1) Bagaimana Para Pemimpin Senior menetapkan visi dan nilai-nilai organisasi? Bagaimana Senior Leader menerapkan visi dan nilai-nilai organisasi anda melalui sistem kepemimpinan, kepada karyawan, kepada pemasok dan mitra utama, dan kepada para pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya? Bagaiman tindakan pribadi para Pemimpin Senior merefleksikan sebuah komitmen terhadap nilai-nilai oragnisasi?

(2) Bagaimana Para Pemimpin Senior secara pribadi mempromosikan lingkungan organisasi yang membentuk, mensyaratkan dan menghasilkan perilaku yang etis dan mematuhi hukum dan aturan (legal)?

(3) Bagaimana Para Pemimpin Senior menciptakan sebuah organisasi yang

berkesinambungan? Bagaimana Para Pemimpin Senior menciptakan lingkungan untuk peningkatan kinerja, pencapaian misi dan sasaran-sasaran strategis, innovasi, kompetitif atau panutan kinerja kepemimpinan, dan kelincahan organisasi?

Bagaimana mereka menciptakan lingkungan untuk pembelajaran level organisasi dan karyawan? Bagaimana mereka secara pribadi berperan dalam perencanaan suksesi dan pengembangan dari pimpinan-pimpinan masa depan organisasi? b. Komunikasi dan Kinerja Organisasi

1) Bagaimana Para Pemimpin Senior komunikasi dengan dan memberdayakan semua karyawan? Bagaimana Para Pemimpin Senior mendorong komunikasi dua arah yang frank diseluruh organisasi? Bagaimana para Pemimpin Senior

mengkomunikasikan keputusan-keputusan penting?Bagaimana Para Pemimpin Senior berperan aktif dalam memberikan hadiah dan penghargaan kepada karyawan untuk memperkuat berkinerja yang tinggi dan usaha-usaha yang fokus

(3)

35 pada pelanggan?

2) Bagaimana Para Pemimpin Senior menciptakan sebuah fokus dan aksi untuk mencapai sasaran organisasi, meningkatkan kinerja, dan mencapai visi? Apa saja ukuran kinerja yang di review para Pemimpin Senior untuk memberitahu mereka akan perlunya tindakan? Bagaimana Para Pemimpin Senior memasukkan sebuah fokus yang membalance nilai para pelanggan dan stakeholder didalam harapan kinerja organisasi?

No. Pertanyaan Tidak

Pernah Sangat Jarang Kadang-kadang Sering Hampir Selalu 1. Apakah top management

menetapkan sasaran jangka pendek maupun jangka panjang agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan?

2. Apakah top management membuat perencanaan untuk mencapai sasaran Ȯ sasaran diatas? 3. Apakah top management

membahas dan

mengkomunikasikan perencanaan tersebut dengan karyawan? 4. Apakah ada prosedur bagi

karyawan untuk turut memberikan saran/kritik atas produk atau jasa perusahaan? 5. Apakah top management

membuat laporan pertanggungjawaban atas departemen atau bagian yang dipimpinnya?

6. Apakah dalam membuat perencanaan tersebut top management memasukkan pendapat dari konsumen perusahaan?

7. Mengenai sasaran yang ditetapkan, apakah top management mengevaluasi pencapaian dari sasaran atau target tersebut pada suatu periode tertentu?

8. Apakah top management

menekankan pentingnya kepuasan konsumen kepada seluruh

karyawan perusahaan? 9. Apakah top management

(4)

36 10. Apakah top management

perusahaan mengevaluasi gaya dan keberhasilan

kepemimpinannya di perusahaan? 11. Apakah top management pernah

mengkomunikasikan perihal inovasi dan perbaikan yang dilakukan perusahaan kepada supplier dan partner perusahaan? 12. Apakah tiap departemen dalam

perusahaan memiliki laporan pertanggungjawaban atas kinerja departemennya?

13. Apakah sering diadakan pertemuan bulanan/mingguan antara top management dengan para manager masing Ȯ masing departemen?

Untuk proses penilaian digunakan metode pembobotan, dimana dalam hal ini penulis melakukan pembobotan 0%, 25%, 50%, 70%, 90% di bagi dalam 5 bagian nilai di dalam skala likert. Kemudian di kalikan dengan jumlah jawaban-jawaban yang diisi oleh responden. Hasil presentase tersebut kemudian dikonversi kedalam skor yang telah di tentukan dalam MBCfPE, seperti dilihat dalam tabel di bawah.

(5)

37 Tabel 3.2. Contoh perhitungan persentase dan skor hasil preliminary assessment MBCfPE

No. Pertanyaan Tidak Pernah (0%) Sangat Jarang (25%) Kadang-kadang (50%) Sering (70%) Hampir Selalu (90%) 1 1 5 11 5 2 9 9 4 3 1 4 8 7 2 4 5 3 10 3 1 5 1 6 8 7 6 3 4 7 6 2 7 1 3 13 5 8 1 3 5 10 3 9 3 10 9 10 4 8 2 7 1 11 2 4 9 6 1 12 2 5 11 4 13 1 5 12 4 Jumlah 1.1 16 32 77 113 48 Presentase 0.00% 2.80% 13.46% 27.66% 15.10%

Total 59.02% Skor (max. 70

poin) 41.31

3.2. Analisa Hasil Preliminary Assessment

Seperti kita ketahui sebelumnya, hasil dari proses preliminary assessment adalah persentase jawaban dari tiap-tiap kategori, yang kemudian di analisa untuk dihitung pre-scoring dan analisa untuk mencari opportunity for improvement dari tiap-tiap kategori yang terlihat masih kurang nilainya.

Dari hasil analisa pre-scoring, terlihat bahwa skor yang dihasilkan adalah 549,06. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah memiliki kualitas sistem kerja kuat, sistemastis, dan efektif, tidak ada celah masalah dalam perjalanan kegiatan organisasinya (Good Performance).

Interpretasi Baldrige skor menurut NIST, skor 549,06 menyatakan bahwa organisasi memperlihatkan pendekatan (approach) yang efektif, sistematis dan responsif terhadap semua persyaratan, penjabarannya beragam di beberapa

(6)

38 area atau unit kerja. Proses-proses utama membutuhkan evaluasi dan perbaikan dilihat dari fakta-fakta yang ada, dan pendekatan yang ada diselaraskan dengan kebutuhan organisasi. Hasil-hasil bisnis yang mengacu pada persyaratan-persyaratan pelanggan/stakeholder, pasar, dan proses utama, menunjukkan kinerja dan keunggulan yang lebih baik dibandingkan dengan pembanding yang relevan. Tidak ada pola trend yang menurun atau kinerja buruk pada hal-hal yang penting bagi kebutuhan organisasi.

Untuk analisa akademis dalam mencari opportunity for improvement (OFI) dapat kita lihat berdasarkan persentase tiap kategori yang memiliki nilai paling kecil, kemudian di buat solusi untuk implementasi peningkatan kinerja dari tiap-tiap kategori yang dirasakan kurang nilainya.

Di PT. Indonesia Power ada aspek-aspek yang mampu terkontrol, sehingga tidak sesuai dengan beberapa pertanyaan didalam kriteria Baldrige, contohnya yaitu seperti aspek pelanggan dan produk. Pelanggan di PT. Indonesia Power hanyalah PT. PLN jadi tidak dapat dimungkinkan untuk mencari tingkat kepuasan pelanggan bila pelanggan hanyalah satu dengan satu buah produk yaitu listrik. Jadi untuk penilaian kategori fokus pelanggan dan pasar, bisa jadi para juri menilai rendah ataupun menilai tinggi, karena pelanggan selalu puas dengan semua layanan yang ada. Namun di masa mendatang PT. Indonesia Power diharapkan dapat mencari solusi yang tepat untuk menilai kepuasan pelanggan, terutama bila terdapat regulasi baru yang mengharuskan perusahaan bersaing dalam industri ketenagalistrikan.

(7)

39 Gambar 3.1. Komposisi responden berdasarkan unit kerja

Gambar 3.2. Komposisi responden berdasarkan jabatan Produksi 18% Pengembangan Niaga 4% SDM 27% Keuangan 9% Sekretariat Perusahaan 14% Audit Internal 9% Hukum, Sistem Informasi, Manajemen Resiko 14% Pemeliharaan 5% Eksekutif Senior 50% Eksekutif 25% Penyelia 25%

(8)

40 Gambar 3.3. Hasil perhitungan skor preliminary assessment MBCfPE

Gambar 3.4. Grafik perbandingan skor antar kategori (1-6) Leadership, 71.78 Strategic Planning, 47.81 Costumer and Market Focus, 42.78 Measurement, Analysis, and Knowledge Mgmt., 49.98 Workforce Focus, 52.63 Process Management, 34.05 Product & Service, 59.59 Costumer Focus, 32.59

Financial & Market,

44.07 Workforce Focus, 30.26 Process Effectiveness, 40.57 Leadership Outcomes, 42.95 Result, 262.61

Total Score = 549.06

71.78 47.81 42.78 49.98 52.63 34.05 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 Category Leadership Strategic Planning

Costumer and Market Focus

Measurement, Analysis, and Knowledge Mgmt.

Workforce Focus

(9)

41

3.2.1. Kategori Kepemimpinan

Dalam kategori ini PT. Indonesia Power memiliki kekurangan dalam hal evaluasi gaya kepemimpinan dari top management, dan tidak pernah dilihat keberhasilan dari gaya kepemimpinanya tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tidak pernah ada feedback dari para karyawan tentang seberapa efektif kepemimpinan dari top management untuk memotivasi kinerja para karyawannya. Selain itu kurangnya acara untuk memupuk kebersamaan antara atasan dan bawahan, dapat mengurangi semangat dan rasa hormat kepada top management.

3.2.2. Kategori Perencanaan Strategis

Dalam kategori ini, tindakan-tindakan yang ditanyakan dalam preliminary assessment memiliki penilaian yang baik di mata top management. Hanya terdapat sedikit kekurangan dalam hal proses penyebarluasan rencana-rencana strategis yang telah ditetapkan.

3.2.3. Kategori Fokus Pasar dan Konsumen

Dalam hal penilaian fokus pasar dan konsumen, PT. Indonesia Power memiliki banyak kelemahan. Hal ini di sebabkan karena pada saat ini konsumen yang dilayaninya tunggal, yaitu PT. PLN yang juga merupakan pemegang saham dari PT. Indonesia Power. Dengan sistem pembayaran kontrak PPA (power purchase agreement) dari PLN, PT. Indonesia Power tidak pernah mempelajari pola perilaku konsumen, atau keluhan konsumen karena dirasakan tidak perlu dengan hanya memiliki konsumen tunggal.

Namun, seiring dengan berkembangnya berbagai unit bisnis di bawah PT. Indonesia Power yang makin maju seperti misalnya Unit Jasa Pemeliharaan, bisa mulai dibuat data-data kepuasan pelanggan dan pola perilaku pelanggan

(10)

42 yang menggunakan jasa tersebut, sehingga nilai kinerja di kategori ini dapat meningkat.

3.2.4. Kategori Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan

Secara umum proses pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan di PT. Indonesia Power telah dilaksanakan dengan baik, namun perusahaan ini belum pernah melakukan perbandingan kinerja dan manajemen pengetahuan dengan perusahaan lain sejenis. Diharapkan dengan mengimplementasikan MBCfPE ini di perusahaan, dapat menjadi alat pembanding internal perusahaan. Atau mungkin dapat dilakukan perbandingan dengan perusahaan pembangkit yang dimiliki oleh PT. PLN lainnya seperti PT. PJB, PLN BATAM, dan sebagainya.

3.2.5. Kategori Fokus Sumber Daya Manusia

Dalam kategori fokus sumber daya manusia, PT. Indonesia Power memiliki kelemahan dalam mengevaluasi peningkatan dan penurunan kinerja setelah diadakan proses pelatihan dan pembelajaran kepada karyawan. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana keefektifan dari proses pelatihan dan pembelajaran itu dalam mendongkrak kinerja perusahaan. Dalam hal ini seharusnya top management meluangkan waktu untuk menilai karyawan mana yang memiliki perubahan kinerja terbaik, dan memotivasi karyawan yang memiliki penurunan kinerja agar meningkatkan semangat dan kinerja mereka demi kesukesan perusahaan.

3.2.6. Kategori Manajemen Proses

Di kategori ini, PT. Indonesia Power memiliki kelemahan dalam membuat desain proses kerja yang berhubungan dengan produk dan layanan kepada konsumen sehingga membuat proses tersebut menjadi efektif dan efisien. Untuk meningkatkan kinerja di kategori ini, seharusnya dilakukan proses pembelajaran lebih lanjut dan mencari praktek-praktek terbaik tentang desain

(11)

43 proses kerja ke perusahaan lain sejenis yang telah sukses seperti misalnya Tata Power India yang telah berhasil mengimplementasikan Baldrige Criteria di perusahaannya.

3.2.7. Kategori Hasil-hasil

Dalam kategori ini, proses penilaian yang dilakukan sebaiknya di barengi dengan bukti-bukti yang dapat menguatkan hasil dari kinerja tiap item yang ditanyakan. Namun karena model ini hanya preliminary assessment, maka jawaban yang diberikan responden hanya sesuai dengan persepsi dan pengetahuan mereka sendiri.

Para responden menilai perusahaan mereka memiliki hasil-hasil kinerja yang baik, namun mereka tetap mengakui tidak pernah melakukan pengukuran keberhasilan dan kepuasan konsumen dalam menggunakan produk mereka, karena hanya memiliki konsumen tunggal.

(12)

Gambar

Tabel 3.1. Contoh pertanyaan dari kriteria Baldrige 2008 yang dirubah menjadi preliminary  assessment MBCfPE
Gambar 3.2. Komposisi responden berdasarkan jabatan  Produksi18% Pengembangan Niaga4%SDM27%Keuangan9%Sekretariat Perusahaan14%Audit Internal9%Hukum, Sistem Informasi, Manajemen Resiko14%Pemeliharaan5%Eksekutif Senior50%Eksekutif25%Penyelia25%
Gambar 3.4. Grafik perbandingan skor antar kategori (1-6) Leadership, 71.78Strategic Planning, 47.81Costumer and Market Focus, 42.78Measurement, Analysis, and Knowledge Mgmt., 49.98Workforce Focus, 52.63Process Management, 34.05Product & Service, 59.59

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi yang menunjukan bahwa mutu layanan akademik Program Studi yang diberikan kepada mahasiswa di Sekolah Pascasarjana

Dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS, kita mendapatkan hasil perhitungan uji F sebesar 3,271 (F hitung > F tabel atau 3,271 > 3,2317) dengan

biopsikososial harusnya digunakan dalam melakukan penanganan LBP kronis dan pemberian latihan pada pasien merupakan rekomendasi terbaik, akan tetapi pada prakteknya

Selain itu persepsi pendengar ini juga menjadi bahan pertimbangan dan masukkan bagi radio Swaragama FM sebagai media massa yang memiliki fungsi sosial dengan

Percobaan ini bertujuan untuk meneliti kemampuan pembentukan buah dan biji, termasuk kecocokan persilangan ( compatible mating ) pada tiga varietas/klon ubijalar (Sari, Beta-1 dan

Metode ini memanfaatkan arus listrik bervoltase kecil yang dihubungkan ke benda yang akan dites, dengan memindahkan secara elektrolisis sejumlah kecil sampel ke kertas

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang perawatan terapi intravena terhadap kejadian phlebitis di bangsal

Data yang dikumpulkan diperoleh dari citra landsat tahun 1981, 1994, 1999, 2004, 2009, dan 2014 dengan menggunakan landsat 1-3 Multispectral Scanner (MSS), landsat