BAB 3. Metode Penelitian

16 

Teks penuh

(1)

15

Metode Penelitian

3.1. Variabel Penelitian dan Hipotesis

Menurut Kumar (1999), definisi operasional variabel adalah bagaimana semua orang memiliki pengertian yang sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti, sehingga tidak ada pengertian yang berbeda-beda dan ada pengukuran dari variabel tersebut. Sedangkan hipotesis adalah asumsi sementara peneliti terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

3.1.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan tiga variabel, yaitu: 1. IV 1: Tipe Kepribadian A

Tipe kepribadian A segala bentuk mengenai, pikiran, emosi, dan perilaku.

2. IV 2: Preference For Consisstency

Preference for Consisstency (PFC) perbedaan individu dalam preferensi untuk konsistensi.

3. DV 3: Rasa bersalah (guilt)

Perilaku yang tidak etis, dapat ditinjau dari perilaku rasa bersalah (guilt). Terdapat 2 sub skala pada rasa bersalah (guilt) yaitu;

1. Negative Behavior evaluation (NBE) menggambarkan perasaan buruk tentang bagaimana seseorang bertindak

2. Repair action (REP) berfokus pada memperbaiki atau mengatasi pelanggaran yang telah dilakukan (Cohen, Wolf, Panter, & Insko, 2011

(2)

3.1.2 Hipotesis

Hipotesis null dari penelitian ini adalah;

1. Tipe Kepribadian A tidak mampu memprediksi negative behavior evaluation pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta..

2. Preferensi terhadap konsistensi tidak mampu memprediksi negative behavior evaluation pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

3. Tipe Kepribadian A, dan Preferensi terhadap konsistensi tidak mampu memprediksi negative behavior evaluation pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta

4. Tipe Kepribadian A tidak mampu memprediksi repair action pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

5. Preferensi terhadap konsistensi tidak mampu memprediksi repair action pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

6. Tipe Kepribadian A dan Preferensi terhadap konsistensi mampu memprediksi repair action pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta

Hipotesis alternatif dari penelitian ini adalah;

1. Tipe Kepribadian A mampu memprediksi negative behavior evaluation pada arah yang negatif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

2. Preferensi terhadap konsistensi mampu memprediksi negative behavior evaluation pada arah yang positif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

3. Tipe Kepribadian A dan Preferensi terhadap konsistensi mampu memprediksi negative behavior evaluation pada arah yang negatif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

4. Tipe Kepribadian A mampu memprediksi repair action pada arah yang negatif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

5. Preferensi terhadap konsistensi mampu memprediksi repair action pada arah yang positif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

(3)

6. Tipe Kepribadian A dan Preferensi terhadap konsistensi mampu memprediksi repair action pada arah yang negatif pada dewasa muda di wilayah DKI Jakarta.

3.2. Subyek Penelitian dan Teknik Sampling 3.2.1. Karakteristik Subyek Penelitian

Karakteristik subjek penelitian yang akan digunakan oleh penulis adalah dewasa muda yang tinggal di wilayah DKI Jakarta, berusia 20 -40 tahun. 3.2.2. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan teknik Puprosive Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara mempertimbangkan kriteria-keriteria tertentu yang telah dibuat sesuai dengan tujuan penelitian dalam hal ini adalah dewasa muda di wilayah DKI Jakarta yang berusia dewasa muda.

3.3 Desain Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan dapat diklasifikasikan sebagai penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berisikan tentang keterkaitan antar variabel dan dapat diukur melalui formula matematis (Bordens & Abbott, 2008).

Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan desain penelitian berupa penelitian korelasional prediktif. Yang dimaksud dengan penelitian korelasional prediktif adalah hubungan prediktif dua atau lebih prediktor (Kepribadian, Sikap terhadap penggunaan doping, dan Preferensi terhadap konsistensi) terhadap satu kriteria (dua dimensi emosi moral-rasa bersalah).

3.4. Alat Ukur Penelitian 3.4.1 Alat Ukur

1. Tipe Kepribadian A

Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur Tipe

Kepribadian A Dikembangkan oleh Dr. Howard Glazer. Bentuk dari instrumen ini adalah kuesioner. Instruksi dalam kuesioner ini adalah terdpat 2 kolom yang

(4)

berlawanan, partisipan diminta untuk membaca dan memilih 1 dari 7 pilihan yang tersedia. Yaitu; 1-7, contoh instruksinya adalah;

Pada bagian ini anda diminta untuk menentukan sejauh mana anda sesuai dengan pernyataan tersebut. Pernyataan ini terdiri dari dua pernyataan yang berlawanan. Anda diminta untuk memilih kesesuaian pernyataan tersebut dengan diri anda, pilihlah dengan cara silang nomer 1 hingga 7 yang mendekati dengan kesesuaian pernyataan yang menurut anda pernyataan tersebut lebih sesuai dengan salah satu dari pernyataan yang berlawanan tersebut.

Cara melakukan skoring pada alat ukur ini adalah dengan menjumlahkan nilai total dari jawaban, bila didapat hasil hasil sebanyak 80-110 merupakan individu dengan tipe kepribadian A yang tinggi. Sedangkan skor dengan 0-80 merupakan individu dengan tipe keperibadian A yang rendah.

Contoh:

1

Tenang dan tidak tergesa-gesa ketika menepati janji 1 2 3 4 5 6 7 Tidak pernah terlambat ketika menepati janji

3.1 Gambar Contoh Pengisian Kuesioner Tipe Kepribadian A

Apabila anda menyilang angka 7 berarti anda merasa sangat dekat dengan pernyataan. “Tidak pernah terlambat ketika menepati janji “ Sedangkan bila anda menyilang angka 1 berarti anda merasa sangat dekat dengan pernyataan “Tenang dan tidak tergesa-gesa ketika menepati janji” maka anda akan silang di nomer pernyataan yang sesuai dengan diri anda.

Tabel 3.1. Contoh Alat Ukur Tipe Kepribadian A

Variabel Dimensi Indikator Contoh Item

Tipe Kepribadian

A

• Teburu-Buru • Dalam

melakukan aktivitas

• Merasa sangat jengkel ketika terjebak lalu lintas atau mengantri • Gelisah ketika sedang

(5)

menunggu

• Mudah Stress • Merasa Tertekan

• Harus meyelesaikan pekerjaan yang dimulai • Selalu merasa bertanggung jawab • Persaingan • Semangat kompetitif tinggi

• Ambisius, ingin cepat mendapatkan promosi dalam pekerjaan. • Perfeksionis • Melakukan sesuatu harus sempurna

• Merasa gelisah ketika melihat pekerjaan yang dikerjakan secara lambat

• Merasa kesal ketika orang lain terlambat

• Ambisius

• Berkeinginan keras untuk mencapai sesuatu

• Melakukan pekerjaan dengan dilakukan saat itu juga atau dilakukan dengan cepat

• Ingin mendapat pengakuan oleh orang lain ketika melakukan pekerjaan dengan baik

• Polyphasic

• Mengerjakan dua hal dalam waktu yang sama

• Mencoba untuk melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu

• Asertif • Bicara terus terang

• Mampu

mengungkapkan

(6)

2. Preferensi untuk Konsistensi

Untuk mengukur variabel Preference of Consisstency maka peneliti menggunakan alat ukur Preference for Consistency scale yang dikembangkan oleh Cialdini. Instruksi dalam mengisi kuesioner ini adalah partisipan diminta untuk membaca dan memilih 1 dari 6 pilihan yang tersedia, 6 skala tersebut terdiri dari Instruksi dalam mengisi kuesioner ini adalah partisipan diminta untuk membaca dan memilih 1 dari 6 pilihan yang tersedia, 6 skala tersebut terdiri dari (1) Sangat tidak setuju (2) Tidak setuju (3) Agak tidak setuju (4) Agak Setuju (5) Setuju (6) Sangat setuju.

Tabel 3.2. Contoh Alat Ukur Preferensi dalam Konsistensi

Variabel Dimensi Indikator Contoh Item

Konsistensi

• Konsistensi sikap dan tindakan

• Penting bagi saya kalau tindakan saya konsisten dengan keyakinan saya

• Konsistensi sikap dan tindakan

• Saya biasanya lebih suka melakukan hal-hal dengan cara yang sama.

(7)

3. Rasa Bersalah

Pengukuran kecenderungan rasa bersalah dilakukan dengan instrument GASP (Rasa bersalah (guilt)y and Shame Proneness) yang dikembangkan oleh Cohen et al. Instrumen ini menerapkan metode survei dengan menggunakan 7 skala yang tersusun sebagai berikut: (1) Sangat tidak mungkin (2) Tidak mungkin (3) Sedikit tidak mungkin (4) Netral (5) Ada kemungkinan (6) Mungkin (7) Sangat mungkin. Berikut instruksi yang harus disampaikan kepada partisipan sebelum mengisi kuesioner ini: “Dalam kuesioner ini, Anda akan membaca situasi sehari-hari yang sering dihadapi, dan diikuti oleh reaksi umum terhadap situasi tersebut. Saat Anda membaca setiap skenario, berusahalah untuk membayangkan diri Anda dalam situasi tersebut. Setelah itu, indikasikan kemungkinan Anda akan bereaksi sesuai dengan yang telah dipaparkan”.

Tabel 3.3. Contoh Alat Ukur Rasa Bersalah Variabel Dimensi Indikator Contoh Item

Rasa Bersalah • Rasa bersalah • Evaluasi perilaku negatif

• Anda berbohong kepada banyak orang namun mereka tidak pernah mengetahuinya. Berapa besar kemungkinan Anda akan merasa menderita karena akan kebohongan Anda

• Anda diharuskan untuk melakukan penipuan pendapatan untuk

meminimalisir pajak perusahaan. Seberapa besar Anda merasa menjadi seorang yang buruk karena perbuatan ini?

(8)

• Perbaikan

• Di tengah diskusi seru dengan teman-teman, mendadak Anda sadar bahwa Anda berteriak meskipun tidak ada orang yang sepertinya memperhatikan. Berapa besar kemungkinan Anda akan mencoba bertindak lebih peka terhadap teman-teman Anda? • Anda bersikeras mempertahankan

sudut pandang Anda dalam suatu diskusi, dan pada saat yang sama, meskipun tidak ada orang yang menyadarinya, Anda sebenarnya tahu bahwa Anda salah. Berapa besar kemungkinan hal ini akan membuat Anda berpikir lebih hati-hati sebelum Anda berbicara?

(9)

3.4.2. Validitas & Reliabilitas Alat Ukur 3.4.2.1 Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Dikatakan andal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2006: 45). Uji reliabilitas menggunakan teknik uji konsistensi internal (Cronbach’s Alpha) dengan kriteria index Alpha harus lebih besar dari 0.6. Jika nilai Cronbach’s Alpha Coefficient sama dengan atau lebih besar dari 0.6, maka instrumen tersebut dapat dikatakan dapat diandalkan (Santoso, 2001).

3.4.2.2. Validitas

Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu content validity (validitas isi), yaitu menggunakan teknik expert judgment dengan Bapak Juneman, S.Psi., M.Si sebanyak tiga kali pada tanggal 03 Juni 2014, 5 Juni 2014, dan 9 Juni 2014. Serta construct validity (validitas konstruk), yaitu uji korelasi butir total dengan kriteria korelasi setiap butir dengan total skor skala ybs harus lebih besar dari 0.25.

Pengujian yang dapat dilakukan untuk uji validitas adalah dengan cara:

1. Bivariate Pearson, analisis ini dilakukan dengan mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan item. Item – pertanyaan yang berkorelasi signifikan dengan skor total menunjukkan item-item tersebut mampu memberikan dukungan dalam mengungkap dan apa yang ingin diungkap.

2. Correlated item-total correlation, analisis dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total dan melakukan koreksi terhadap nilai koefisien korelasi yang overestimasi. Hal ini dikarenakan agar tidak terjadi koefisien item total yang overestimasi (estimasi nilai lebih tinggi dari yang sebenarnya). Atau dengan kata lain, analisis ini menghitung korelasi tiap item dengan skor total (teknik Bivariate Pearson).

(10)

Tabel 3.4. Rangkuman Alat UkurTipe Kepribadian A Setelah Uji Coba

Dimensi Indikator

No Item Fav No Item Unfav

CIT

Min CIT Max

Alpha Pre Tryout

Alpha Post Tryout Pre Tryout Post Tryout Pre Tryout Post Tryout

Tipe Kepribadian A 1,2,3,4,5,6,7,8, 9,10,11,12,13, 14,15,16,17,18 ,19,20,21,22,2 3,24,25,26,27, 28,29 2,6,8,10,11, 18,22,26, 27,29 4,7,8,9,12,1 4, 15,16,19, 20, 21,25 8,14,16, 19,20 0,424 0,676 0,803 0,895

(11)

Tabel 3.5. Rangkuman Alat Ukur Preferensi Untuk Konsistensi Setelah Uji Coba

Dimensi Indikator

No Item Fav No Item Unfav

CIT Min CIT Max Alpha Pre Tryout Alpha Post Tryout Pre Tryout Post Tryout Pre

Tryout Post Tryout Konsistensi 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, 12,13,14,15,16,17,18 2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, 12,13,14,15,16,17,18 0,279 0,706 0,858 0,866

(12)

Tabel 3.6. Rangkuman Alat Ukur Rasa Bersalah Setelah Uji Coba

Dimensi Indikator

No Item Fav No Item Unfav

CIT Min CIT Max Alpha Pre Tryout Alpha Post Tryout Pre Tryout Post

Tryout Pre Tryout

Post Tryout Rasa Bersalah Evaluasi Perilaku Negatif 1,9,14, 16,17,21,23 1,14,16,21, 0,266 0,627 0,644 0,746 ,24, 26,37 ,24,26,37 Perbaikan 2,5,11, 15,19,25,27, 11,15,19, 0.329 0,668 0,607 0,786 29, 32,35 25,27,29, 32,35

(13)

3.5 Prosedur Penelitian 3.5.1 Persiapan Penelitian

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian adalah mencari fenomena yang tepat yang sedang marak belakangan ini. Tahapan ini dimulai sejak awal bulan September 2013 dengan melakukan riset melalui internet dan menggali informasi dari berbagai media.

Setelah menemukan fenomena dan partisipan yang sesuai, peneliti mulai membuat gambaran dari kerangka berpikir untuk meninjau kesesuaian dan kemungkinan adanya korelasi dari variabel yang telah ditentukan. Langkah berikutnya adalah merampungkan landasan teori dengan mencari literatur terkait mengenai variabel beserta mencari alat ukur yang sesuai.

Setelah peneliti menemukan alat ukur yang sesuai, tahapan berikutnya adalah mengkonsultasikan alat ukur dengan dosen pembimbing dan melakukan adaptasi alat ukur serta melakukan uji validitas dengan expert judgement. Uji validitas ini berhasil dirampungkan dalam 3 kali pertemuan dengan dosen. Persiapan penelitian dimulai dengan membuat alat ukur Tipe kepribadian A yang di adaptasi dari alat ukur yang dibuat oleh Dr. Howard Glazer. Alat ukur konsistensi yaitu Preference for Consistency (PFC) yang diadaptasi dari Cialdini. Serta alat ukur dua dimensi rasa bersalah yang diadaptasi dari GASP Scale (Rasa bersalah (guilt) and shame Proneness) dan item tambahan yang dibuat sendiri oleh peneliti dengan acuan dari jurnal GASP Scale (Cohen et al. 2011). Setelah alat ukur jadi, penelitian dimulai dengan penyebaran kuesioner langsung dewasa muda di Wilayah DKI Jakarta.

Tahapan ini kemudian dilanjutkan dengan melakukan studi awal (pilot study) pada bulan Juni. Peneliti berencana untuk melakukan studi awal pada 90 dewasa muda di Wilayah DKI Jakarta. Dengan dilakukannya uji awal, maka peneliti dapat menguji validitas dan reliabilitas alat ukur. Uji reliabilitas dan validitas akan membantu peneliti untuk memperbaiki butir pertanyaan dalam kuesioner. Kuesioner dibagikan secara menyeluruh kepada responden setelah kuesioner memiliki reliabilitas di atas 0,6 dan setiap butir pertanyaan memiliki nilai validitas di atas 0,25. Setelah peneliti memperbaiki butir pertanyaan dalam kuesioner, maka kusioner dapat dibagikan kepada responden dan penelitian dapat dijalankan.

(14)

3.5.2 Pelaksanaan Penelitian

Pada bulan pertengahan bulan Juni – Juli 2014 peneliti melakukan uji validitas konten dengan menggunakan expert judgement bersama Bapak Juneman, S.Psi., M.Si sebanyak 3 kali. Uji validitas ini dilakukan pada tanggal tanggal 03 Juni 2014, 5 Juni 2014, dan 9 Juni 2014.

Setelah menuntaskan uji validitas dengan menerapkan expert judgement, penulis mengambil 90 partisipan, yaitu dewasa muda yang berada di Wilayah DKI Jakarta sebagai uji coba awal. Pendistribusian kuesioner dibantu oeh kerabat yang telah setuju untuk membantu penulis. Pengambilan sampel pertama berlagsung dalam durasi 5 hari, yaitu pada tanggal 9-13 Juni 2014.

Tahapan berikutnya adalah melakukan input data, menguji reliabilitas dan validitas dari alat ukur. Setelah pengujian reliabilitas dan validitas dituntaskan, penulis mengeliminasi beberapa butir item dan memperbaiki kuesioner. Tahapan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu pada tanggal 14-15 Juni 2014.

Peneliti menetapkan durasi yang cukup panjang ketika menyebar kuesioner pada dewasa muda langsung mengingat kegiatan yang cukup sibuk sehingga ada kemungkinan partisipan membutuhkan waktu untuk mengisi kuesioner. Penelitian akan dilakukan dengan meminta bantuan dari kerabat yang telah setuju membantu sehingga peneliti dapat mendistribusikan lembar kuisoner dengan lebih mudah. Kuesioner ini akan didistribusikan pada 300 partisipan yang dibagikan secara acak kepada semua dewasa muda di Wilayah DKI Jakarta.

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menyebar kuesioner yang telah dibuat sebelumnya. Peneliti mulai melakukan penyebaran kuesioner pada tanggal 20 Juni 2014 hingga 5 Juli 2014 dengan menyebar secara online (google) maupun secara langsung (booklet). Kuesioner ini diberikan kepada seluruh Dewasa muda di Wilayah DKI Jakarta. Semua proses pelaksanaan penyebaran kuesioner diharapkan dapat berlangsung sesuai dengan harapan, yakni kuesioner diisi dengan lengkap sesuai dengan petunjuk.

(15)

3.5.3 Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data merupakan teknik yang digunakan dalam pengujian variabel-variabel dalam penelitian ini. Pengolahan data yang diperoleh dalam kuesioner dilakukan dengan menggunakan alat berbantuan komputer dengan program SPSS 17. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linear sederhana dan analisis regresi linear berganda untuk menguji hubungan prediktor yang lebih dari satu dengan satu dependent variabel.

Peneliti juga menggunakan uji asumsi, pengujian ini dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat masalah regresi dalam penelitian ini. Pengujian ini terdiri dari beberapa macam pengujian: (1) Normalitas, (2) Multikolinearitas, (3) Heteroskedastisitas.

Uji normalitas digunakan untuk melihat persebaran data responden, bila mendekati garis lurus maka data dikatakan tersebar secara baik dan normal. Multikolinearitas adalah keadaan dimana terjadi hubungan linear yang sempurna atau mendekati sempurna antar variabel independen dalam model regresi. Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Adanya hubungan diantara variabel-variabel independen menyebabkan informasi yang dihasilkan menjadi sangat mirip dan sulit memisahkan pengaruh dari variabel independen secara individual. Oleh karena itu, prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas.

Uji multikolinearitas yang paling sering digunakan adalah dengan melihat nilai Inflation Factor (VIF) pada model regresi karena cara tersebut dirasa paling mudah dan praktis. Multikolinearitas terjadi apabila nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,1.

Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadi ketidaksamaan varian dari residual (kesalahan pengganggu) untuk semua pengamatan pada model regresi. Hasil pengujian heteroskedastisitas berupa grafik scatterplot. Jika terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur, maka terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :