• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PROYEK PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PROYEK PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PROYEK

PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

Chandra1 dan Yohanes LD. Adianto2

1 Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Email: Chan_0372@yahoo.co.id

2 Dosen Program Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Email: yohanesadianto@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tesis ini berawal dari adanya permasalahan tentang bangunan gedung negara yang belum memenuhi standar kualitas. Tercapainya kualitas bangunan gedung sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut berasal dari setiap tahapan pembangunannya. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data berupa kuesioner dengan menggunakan skala Likert dari responden pihak pemerintah, kontraktor dan konsultan di Provinsi Sumatera Utara.

Penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara dalam penelitian ini adalah 15 faktor dan dibagi kedalam 5 kelompok yaitu 5 faktor kelompok sumber daya manusia, 2 faktor kelompok material, 2 faktor kelompok peralatan, 4 faktor kelompok metode pelaksanaan, dan 2 faktor kelompok keuangan.

Hasil analisa menunjukkan 5 peringkat tertinggi dari responden gabungan dengan prosentase nilai interpretasinya adalah kompetensi sumber daya manusia pengelola teknis (80,95%), kompetensi sumber daya manusia perencana (80,74%), kompetensi sumber daya manusia kontraktor (80,21%), ketrampilan pekerja proyek (79,05%), dan kompetensi sumber daya manusia panitia pengadaan barang/jasa (78,74%).

Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan persepsi yaitu:terdapat 1 faktor (6,67%) antara responden pihak pemerintah dan kontraktor, dan 3 faktor (20%) antara responden pihak pemerintah dan konsultan, selanjutnya 6 faktor (40%) antara responden kontraktor dan konsultan.

Kata kunci: Faktor pengaruh, bangunan gedung negara, kualitas, kompetensi

1. PENDAHULUAN

Dalam menjalankan roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, pemerintah sangat membutuhkan sarana dan prasarana pendukung. Salah satu sarana dan prasarana pendukung tersebut adalah bangunan gedung negara. Tujuannya adalah sebagai tempat bagi penyelenggaraan urusan kepemerintahan dalam memenuhi standar pelayanan minimal kepada masyarakat. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung negara yang dimaksud dengan bangunan gedung negara adalah bangunan untuk keperluan dinas yang menjadi/akan menjadi kekayaan milik negara dan diadakan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari APBN, dan/atau perolehan lainnya yang sah antara lain gedung kantor, gedung sekolah, rumah sakit, rumah negara dan lainnya.

Berdasarkan atas fungsi dan manfaat dari bangunan gedung negara tersebut, maka diperlukan pengaturan penyelenggaraan pembangunan bangunan negara agar memenuhi standar mutu (kualitas) yang dipersyaratkan. Permasalahan yang timbul pada penyelenggaraan proyek pembangunan bangunan gedung negara yaitu: masih adanya bangunan yang belum tertib administrasi, belum tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum pada sosialisasi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, persyaratan yang harus dipenuhi bangunan gedung antara lain keandalan teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan aksesibilitas. Sebagai salah satu aset negara yang mempunyai nilai strategis sebagai tempat penyelenggaraan negara, gedung negara perlu diatur secara efektif, efisien dan tertib.

Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah hampir sama, yaitu kualitas bangunan gedung negara yang belum sepenuhnya memenuhi persyaratan teknis bangunan gedung negara. Hal ini dapat

(2)

menyebabkan kurangnya keandalan bangunan gedung yang dibangun dan mengakibatkan pendeknya umur bangunan dibandingkan umur rencana. Kualitas bangunan gedung negara dapat dicapai jika semua siklus tahapan pelaksanaan pembangunan proyek berjalan dengan baik.

Melihat dari permasalahan tersebut, ternyata dalam penyelenggaraannya ada beberapa tahapan pembangunan yang harus dilakukan. Dalam setiap tahapan pembangunan ini memiliki faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dari hasil bangunan gedung negara yang dihasilkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas ini bersumber dari seluruh sumber daya yang terlibat didalam penyelenggaraannya misalnya: sumber daya manusia, uang, mesin (alat), metode dan material. Dengan banyaknya sumber daya yang terlibat tersebut, perlu dilakukan kajian tentang faktor-faktor mana dari sumber daya tersebut yang sangat mempengaruhi kualitas pembangunan bangunan gedung negara. Oleh karena itu untuk mewujudkan suatu hasil bangunan gedung negara yang memenuhi harapan sesuai dengan persyaratan teknis yang ditetapkan, perlu dilakukan suatu metode untuk perbaikan kualitas bangunan gedung negara dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas bangunan gedung negara.

Penelitian ini dilakukan terbatas untuk bangunan gedung negara di Provinsi Sumatera Utara, yang sumber dana pembangunannya berasal dari APBD Provinsi Sumatera Utara, dan dana APBN untuk bangunan gedung negara pemerintah pusat yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara, menentukan skala pengaruh dan peringkat dari faktor-faktor tersebut dan mengetahui sejauh mana perbedaan persepsi terhadap tingkat pengaruh setiap faktor dari sudut pandang pihak pemerintah, kontraktor dan konsultan. Dari tujuan tersebut selanjutnya dapat diberikan masukan dalam pemanfaatan faktor-faktor tersebut untuk meningkatkan kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara di Provinsi Sumatera Utara.

Metode pengumpulan data lapangan yang dipakai dalam penelitian adalah dengan kuesioner, yang diperoleh dari 3 kelompok responden yaitu pemerintah, kontraktor dan konsultan. Yang menjadi instrumen pengumpulan data, berupa item pertanyaan yang merupakan hasil penjabaran dari inti penelitian. Data yang didapat dari hasil jawaban kuesioner akan dikumpulkan dan kemudian dicari nilai rata-rata (mean), skala pengaruh dan peringkat dari masing-masing faktor untuk kemudian di tampilkan pada beberapa tabel. Rumus mencari rata-rata (mean) seperti telihat pada rumus (1.1) dibawah ini:

dimana: Me = rata-rata (mean) Xi = nilai X ke i sampai ke n n = jumlah data

Langkah berikutnya yaitu menghitung nilai prosentase bobot dari setiap faktor agar dapat di interpretasikan dalam skala interval, dengan memakai rumus (1.2) :

Nilai rata-rata (mean)

X 100% (1.2) Nilai bobot tertinggi

Setelah setiap faktor dihitung nilai prosentasenya maka interpretasi nilainya dapat dilihat pada Tabel 1.1 sebagai berikut:

Tabel 1.1 Interpretasi Nilai Rata-Rata Pada Masing-Masing Faktor Pengaruh Nilai interval mean (%) Pengaruh

0% - 20% sangat lemah

21% - 40% lemah

41% - 60% cukup

61% - 80% kuat

81% - 100% sangat kuat

Nilai rata-rata interpretasi digunakan untuk menentukan tingkatan penilaian pada pembagian kelas interval nilai rata-rata dengan Skala Likert yang menunjukkan bobot pengaruh faktor tersebut seperti yang ditunjukkan gambar 1.1 di bawah ini:

Gambar 1.1 Skala Likert Untuk Interpretasi Bobot Pengaruh

0% 20% 40% 60% 80% 100%

(3)

Berdasarkan nilai yang diperoleh dari Skala Likert ini, perangkingan faktor-faktor di rangking dari nilai tertinggi hingga yang terendah.

Selanjutnya berdasarkan data hasil jawaban kuesioner dari responden pemerintah, kontraktor dan konsultan dilakukan uji U (Mann-Whitney) untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan persepsi dari masing-masing responden, uji ini dilakukan dengan menggunakan rumus (1.3) dibawah ini:

U1 = n1n2 + - R1 dan (1.3)

U2 = n1n2 + - R2 dan

Dimana : n1 = jumlah sampel 1

n2 = jumlah sampel 2

U1 = jumlah peringkat 1

U2 = jumlah peringkat 2

R1 = jumlah peringkat pada sampel n1

R2 = jumlah peringkat pada sampel n2

2. IDENTIFIKASI

FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

KUALITAS

PROYEK

PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara, maka tahap awal diidentifikasikan data mengenai faktor-faktor tersebut berdasarkan studi literatur yang terdapat dalam text book dan penelitian-penelitian terdahulu.

Al ma’ruf (2008) menyatakan dalam penelitiannya ada enam faktor yang mempengaruhi kualitas proyek konstruksi yaitu: (1) Sumber daya bahan/material, (2) Sumber daya tenaga (manusia), (3) Metode Pelaksanaan, (4) Sumber daya keuangan, (5) Sumber daya alat, (6) Sistem Manajemen Mutu.

Ahuja (1994) menyatakan bahwa seringnya terjadi pekerjaan berulang yang dilakukan, disebabkan oleh faktor-faktor yaitu: (1) Kualitas tenaga kerja, (2) Penggunaan mutu material yang tidak sesuai dengan perencanaan, (3) Penggunaan peralatan yang usang, (4) Kurangnya pemeliharaan terhadap peralatan, faktor-faktor ini juga menjadi penyebab rendahnya kualitas konstruksi.

Stuckhart (1995) menyatakan material yang di terima harus sesuai dengan pesanan dan memenuhi spesifikasi untuk memenuhi kualitas konstruksi yang dihasilkan.

Barrie dan Paulson (1990) menyatakan ada empat faktor yang mempengaruhi kualitas proyek yaitu: (1) Pemilihan tipe material, (2) Metode Pelaksanaan, (3) Desain yang telah memenuhi standar dan peraturan, dan (4) Standar spesifikasi yang telah tercantum didalam kontrak.

Enshassi et.al (2009) menyatakan ada lima faktor yang berpengaruh terhadap kualitas proyek yaitu: (1) Pemenuhan terhadap spesifikasi, (2) Tidak tersedianya pekerja yang memenuhi kompetensi, (3) Kualitas peralatan dan material, (4) Sistem penilaian mutu dari organisasi, (5) Mutu pelatihan dan rapat.

Saqib et.al (2008) menyatakan ada tujuh variabel utama yang mempengaruhi kesuksesan proyek yaitu: (1) Faktor manajemen proyek, (2) Faktor pengadaan, (3) Faktor klien (customer), (4) Faktor tim desain, (5) Faktor kontraktor, (6) Faktor manajer proyek, dan (7) Faktor bisnis dan lingkungan kerja.

Humayun (2005) menyatakan faktor-faktor kualitas pelaksanaan konstruksi pemerintah yaitu: (1) Perencanaan, (2) Hasil pelelangan, (3) Eksternal kontraktor, (4) prakonstruksi, (5) Kualitas pejabat, (6) Kualitas pemimpin proyek, (7) Peralatan dan Tenaga kerja, (8) Perencanaan Sumber Daya Manusia, (9) Koreksi pengendalian, (10) Revisi Desain, (11) Pembayaran termin, (12) Terjadinya Change Order.

Nyirongo (2010) menyatakan ada enam faktor kritis yang terkait dengan kontraktor yang mempengaruhi kesuksesan proyek konstruksi bangunan yaitu: (1) Manajemen Cash-Flow Kontraktor, (2) Pengalaman Kerja Kontraktor, (3) Pengelolaan tapak oleh kontraktor, (4) Koordinasi kontraktor dengan konsultan di proyek, (5) Pengendalian kualitas kontraktor, dan (6) Koordinasi kontraktor dengan kontraktor-kontraktor lain di proyek.

Berdasarkan kajian literatur diatas dilakukan penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara berdasarkan kelompok 5 M ( man, money, machines, method and material), dari kelompok faktor tersebut diperoleh 15 faktor seperti terlihat pada tabel 2.1 dibawah ini:

(4)

Tabel 2.1 Daftar Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Proyek Pembangunan Bangunan Gedung Negara

Kode

Kategori Jenis dan Variabel Faktor

A

Sumber Daya Manusia

A1 Kompetensi Sumber Daya Manusia Konsultan A2 Kompetensi Sumber Daya Manusia Kontraktor A3 Kompetensi Sumber Daya Manusia Pengelola Teknis A4 Kompetensi Sumber Daya Manusia Panitia Pengadaan B/J A5 Ketrampilan pekerja proyek

B Material

B1 Pengelolaan Material B2 Kualitas material

C Peralatan

C1 Perencanaan peralatan C2 Sering terjadi kerusakan alat

D Metode Pelaksanaan

D1 Metode pelaksanaan konstruksi D2 Waktu pelaksanaan

D3 Penerapan Sistem Manajemen Mutu D4 Penerapan Sistem Manajemen K3

E Keuangan

E1 Pembiayaan proyek terkendala E2 Biaya yang tidak terduga

Dari 15 faktor diatas seluruhnya dijadikan pertanyaan dalam kuesioner yang disebarkan kepada responden pemerintah, kontraktor dan konsultan.

3. REKAPITULASI DATA DAN ANALISA NILAI RATA-RATA (MEAN), PERINGKAT DAN

SKALA PENGARUH BERDASARKAN JAWABAN RESPONDEN

Dari data yang terkumpul diperoleh sebanyak 52 responden pihak pemerintah, 96 responden kontraktor dan 42 responden konsultan, sehingga total menjadi 190 responden. Berdasarkan total nilai yang diperoleh dari jawaban responden gabungan, terlihat rekapitulasi data nilai rata-rata (mean), peringkat dan skala pengaruh seperti pada tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.4 Rekapitulasi Data Nilai Rata-Rata (Mean), Skala Pengaruh Dan Peringkat Berdasarkan Jawaban Responden Gabungan

No Nomor N.Bobot Mean (%) Nilai Skala Pering-

Klasifikasi Total n ( Rata-Rata) Interpretasi Pengaruh kat

1 D3 740 190 3,89 77,80% Kuat 7 2 A3 769 190 4,05 81,00% Sangat Kuat 1 3 D4 727 190 3,83 76,60% Kuat 13 4 A4 748 190 3,94 78,80% Kuat 5 5 B2 719 190 3,78 75,60% Kuat 15 6 A5 751 190 3,95 79,00% Kuat 4 7 C1 729 190 3,84 76,80% Kuat 11,5 8 E2 732 190 3,85 77,00% Kuat 9,5 9 A1 767 190 4,04 80,80% Sangat Kuat 2 10 D2 735 190 3,87 77,40% Kuat 8 11 B1 721 190 3,79 75,80% Kuat 14 12 E1 743 190 3,91 78,20% Kuat 6 13 D1 731 190 3,85 77,00% Kuat 9,5 14 A2 762 190 4,01 80,20% Sangat Kuat 3 15 C2 730 190 3,84 76,80% Kuat 11,5

Berdasarkan tabel 3.1 selanjutnya dilakukan analisa terhadap skala pengaruh dan 5 peringkat tertinggi dari masing-masing faktor menurut responden gabungan. Dari tabel 3.1 diatas terlihat gabungan responden pihak pemerintah, kontraktor dan konsultan menempatkan 4 faktor kompetensi yaitu: sumber daya manusia pengelola teknis (A3) peringkat pertama, kompetensi sumber daya manusia konsultan (A1) peringkat kedua dan kompetensi sumber daya manusia kontraktor (A2) peringkat ketiga dan kompetensi panitia pengadaan barang/jasa (A4) peringkat kelima. Hal

(5)

ini semakin membuktikan bahwa begitu berpengaruhnya faktor kompetensi sumber daya manusia dari penyelenggara proyek pembangunan bangunan gedung negara dalam mencapai kualitas gedung negara yang dihasilkan. Faktor ketrampilan pekerja proyek juga menempati peringkat keempat menurut data jawaban dari gabungan responden, karena tingginya keterampilan pekerja proyek diharapkan akan semakin baik bangunan yang dihasilkan. Dari 5 faktor peringkat tertinggi tersebut terdapat 3 faktor yang memiliki pengaruh sangat kuat yaitu faktor kompetensi sumber daya manusia pengelola teknis (A3), kompetensi sumber daya konsultan (A2) dan kompetensi sumber daya manusia kontraktor (A2), sedangkan 2 faktor lainnya memiliki pengaruh kuat.

4. PERBANDINGAN PERSEPSI RESPONDEN

Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi antara pihak pemerintah dan kontraktor maka dilakukan Uji Mann-Whitney.

Sesuai dengan bunyi hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “tidak terdapat perbedaan persepsi antara pihak pemerintah dengan kontraktor (sama dengan)” dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi “terdapat perbedaan persepsi antara pihak pemerintah dan kontraktor (tidak sama dengan)” maka dilakukan uji dua pihak. Hasil pengujian U test dari persepsi responden tiap variabel dengan menggunakan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05) uji dua pihak dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1 Hasil Uji U (Mann-Whitney) Responden Pihak Pemerintah dan Kontraktor No. Faktor-Faktor Pengaruh Kode Sig Nilai α Hasil Analisis

1 Pengelolaan material B1 0,017 0,05 Berbeda Persepsi

Dari hasil pengujian Mann-Whitney seperti terlihat pada tabel 5.1 diatas, dari 15 faktor terdapat 1 faktor yang memiliki perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan kontraktor (6,67%). Faktor adalah faktor pengelolaan material (B1). Sementara itu 14 faktor (93,33%) tidak terdapat perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan kontraktor. Berdasarkan hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar faktor 93,33% memiliki persepsi yang sama antara kedua responden.

Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini:

Tabel 5.2 Hasil Uji U (Mann-Whitney) Responden Pihak Pemerintah dan Konsultan No. Faktor-Faktor Pengaruh Kode Sig Nilai α Hasil Analisis 1 Penerapan sistem manajemen mutu D3 0,005 0,05 Berbeda Persepsi

2 Kualitas material B2 0,006 0,05 Berbeda Persepsi

3 Perencanaan peralatan C1 0,022 0,05 Berbeda Persepsi

Dari hasil pengujian Mann-Whitney seperti terlihat pada tabel 5.2 diatas, dari 15 faktor terdapat 3 faktor yang memiliki perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan (20,00%). Faktor –faktor tersebut yaitu: faktor penerapan sistem manajemen mutu (D3), faktor perencanaan peralatan (C1) dan faktor kualitas material (B2). Sementara itu 12 faktor (80,00%) tidak terdapat perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan. Berdasarkan hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa 4/5 dari jumlah faktor memiliki persepsi yang sama antara kedua responden.

Kemudian untuk mengetahui perbedaan persepsi antara responden kontraktor dan konsultan dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut ini:

Tabel 5.3 Hasil Uji U (Mann-Whitney) Responden Kontraktor dan Konsultan No. Faktor-Faktor Pengaruh Kode Sig Nilai α Hasil Analisis

1 Kualitas material B2 0,000 0,05 Berbeda Persepsi

2 Ketrampilan pekerja proyek A5 0,027 0,05 Berbeda Persepsi

3 Perencanaan peralatan C1 0,000 0,05 Berbeda Persepsi

4 Waktu pelaksanaan D2 0,020 0,05 Berbeda Persepsi

5 Pengelolaan material B1 0,004 0,05 Berbeda Persepsi

6 Metode pelaksanaan konstruksi D1 0,029 0,05 Berbeda Persepsi

Dari hasil pengujian Mann-Whitney seperti terlihat pada tabel 5.3 diatas, dari 15 faktor terdapat 6 faktor yang memiliki perbedaan persepsi antara responden kontraktor dan konsultan (40%). Faktor –faktor tersebut yaitu: faktor kualitas material (B2), faktor ketrampilan pekerja proyek (A5), faktor perencanaan peralatan (C1), faktor waktu pelaksanaan (D2), faktor pengelolaan material (B1), dan faktor metode pelaksanaan konstruksi (D1). Sementara itu

(6)

9 faktor (60%) tidak terdapat perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan. Berdasarkan hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa 2/3 dari jumlah faktor memiliki persepsi yang sama antara kedua responden.

5. ANALISA PERBANDINGAN PERSEPSI RESPONDEN

Hasil uji Mann-Whitney seperti terlihat pada tabel 5.1, 5,2 dan 5.3 terdapat perbedaan persepsi dari jumlah 15 faktor yaitu: 1 faktor antara pihak pemerintah dan kontraktor, 3 faktor antara pihak pemerintah dan konsultan dan 6 faktor antara kontraktor dan konsultan. Dari total 9 faktor yang menjadi perbedaan persepsi dari ketiga responden, sebenarnya hanya ada 6 faktor yang berbeda, karena ada faktor yang menyebabkan perbedaan lebih dari 2 pihak. 6 faktor tersebut adalah :

1. Faktor penerapan sistem manajemen mutu (D3). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 81,15% dan 72,86%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa faktor penerapan sistem manajemen mutu belum merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara menurut sudut pandang konsultan, karena masih ada faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh misalnya faktor kompetensi sumber daya manusia. Sebaliknya bagi pihak pemerintah ini sudah merupakan kewajiban karena adanya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.04/PRT/M/2009 tentang sistem manajemen mutu, dimana ada kewajiban bagi pengguna jasa untuk membuat Rencana Mutu Pelaksanaan (RMP) dan Rencana Mutu Kontrak (RMK) bagi penyedia jasa, sebelum proyek dilaksanakan. Tetapi kalau dilihat dari prosentase nilai interpretasi dan dihubungkan dengan skala pengaruh sebenarnya pihak pemerintah maupun konsultan masih sama-sama memiliki pengaruh kuat karena masih berada pada angka prosentase antara 60% hingga 80%.

2. Faktor waktu pelaksanaan (D2). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden kontraktor dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 79,79% dan 72,86%. Kontraktor menganggap faktor ini sangat menentukan dalam hal pencapaian target penyelesaian suatu proyek, dimana semakin panjang waktu yang diberikan akan semakin baik bagi kontraktor, sebaliknya jika waktu singkat kontraktor harus bekerja lebih ekstra, yang artinya lebih banyak menggunakan sumber daya untuk mengejar target waktu penyelesaiannya. Bagi konsultan hal ini belum menjadi yang paling berpengaruh karena budaya kerja antara konsultan dan kontraktor berbeda. Kalau dilihat dari prosentase nilai interpretasi sebenarnya antara kontraktor dan konsultan masih sama-sama berada dalam skala pengaruh kuat.

3. Faktor pengelolaan material (B1). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan kontraktor dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 73,08% dan 79,17%, selanjutnya perbedaan persepsi antara kontraktor dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 79,17% dan 71,90%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kontraktor menganggap faktor ini lebih berpengaruh dibandingkan dengan pihak pemerintah dan konsultan terhadap kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan dan profesinya selalu melakukan pengelolaan material pada tahap pelaksanaan konstruksi agar target kinerja tercapai, sebaliknya pihak pemerintah dan konsultan tidak melakukan pengelolaan material secara langsung, karena tugas pokok dan fungsinya yang berbeda. Walaupun terjadi perbedaan persepsi dari kontraktor dengan pihak pemerintah dan konsultan, faktor ini masih berada pada tingkatan skala pengaruh yang sama, yaitu skala pengaruh kuat, dengan kisaran prosentase nilai interpretasi 60% hingga 80%.

4. Faktor perencanaan peralatan (C1). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 76,15% dan 70,00%, selanjutnya perbedaan persepsi antara kontraktor dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 80,00% dan 70,00%. Faktor ini dilihat dari sudut pandang pihak pemerintah dan kontraktor lebih berpengaruh dibandingkan dengan sudut pandang konsultan, karena faktor ini memang sering dilakukan oleh kontraktor pada tahap pelaksanaan atau pihak pemerintah pada tahap membuat syarat-syarat dalam dokumen pelelangan. Jika dilihat dari prosentase nilai interpretasi yang diperoleh dari semua responden, masih berada dalam tingkatan skala pengaruh kuat.

5. Faktor metode pelaksanaan konstruksi (F6). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden kontraktor dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 78,33% dan 72,86%. Kontraktor melihat bahwa faktor ini sangat berpengaruh, karena kesalahan dalam menentukan metode pelaksanaan konstruksi dapat menyebabkan kegagalan ataupun kerugian. Ketepatan didalam memilih suatu metode pelaksanaan konstruksi, akan mempermudah pelaksana proyek (kontraktor) dalam menyelesaikan pekerjaan. Konsultan berpandangan bahwa faktor ini juga penting, tetapi masih ada faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh, karena dalam menjalankan profesinya konsultan jarang dihadapkan dengan masalah penentuan metode pelaksanaan konstruksi dibandingkan dengan kontraktor.

(7)

6. Faktor kualitas material (B3). Faktor ini menyebabkan perbedaan persepsi antara responden pihak pemerintah dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 75,38% dan 65,71%, selanjutnya perbedaan persepsi antara kontraktor dan konsultan dengan perbandingan prosentase nilai interpretasi 80,21% dan 65,71%. Pihak pemerintah dan kontraktor berpendapat bahwa faktor kualitas material harus menjadi perhatian yang serius dalam melaksanakan proyek pembangunan bangunan gedung negara Karena menurut pihak pemerintah dan kontraktor kualitas material yang baik akan menghasilkan bangunan gedung yang berkualitas, hal ini telah dituangkan pemerintah dengan menerbitkan Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM). Konsultan sebenarnya juga masih menempatkan faktor ini dalam tingkatan skala pengaruh “kuat”, ini artinya menurut pandangan konsultan faktor ini masih berpengaruh tetapi, lebih kecil jika dibandingkan faktor lain yang sama tingkatan skala pengaruhnya.

6. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis data yang dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1.

Berdasarkan kajian pustaka terhadap penelitian terdahulu dan textbook diperoleh hasil identifikasi dari faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara sebanyak 15 faktor-faktor yaitu: (1) Kompetensi sumber daya manusia konsultan, (2) Kompetensi sumber daya manusia kontraktor, (3) Kompetensi sumber daya manusia pengelola teknis, (4) Kompetensi sumber daya manusia panitia pengadaan barang/jasa, (5) Ketrampilan pekerja proyek, (6) Pengelolaan material, (7) Kualitas material, (8) Perencanaan peralatan, (9) Sering terjadi kerusakan alat, (10) Metode pelaksanaan konstruksi (11) Waktu pelaksanaan, (12) Penerapan sistem manajemen mutu, (13) Penerapan sistem manajemen K3, (14) Pembiayaan proyek terkendala, (15) Biaya yang tidak terduga.

2.

Berdasarkan peringkat skor faktor yang berpengaruh menurut responden gabungan, lima faktor yang memiliki peringkat tertinggi adalah: (1) Kompetensi sumber daya manusia pengelola teknis (81,00%), (2) Kompetensi sumber daya manusia konsultan (80,80%), (3) Kompetensi sumber daya manusia kontraktor (80,20%), (4) Ketrampilan pekerja proyek (79,00%), dan (5) Kompetensi sumber daya manusia panitia pengadaan barang/jasa (78,80%).

3.

Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan persepsi antara pihak pemerintah dan kontraktor diperoleh 1 faktor (6,67%) yang memiliki perbedaan persepsi dari 15 faktor yang ada, yaitu: faktor Pengelolaan material.

4.

Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan persepsi antara pihak pemerintah dan konsultan diperoleh 3 faktor (20,00%) yang memiliki perbedaan persepsi dari 15 faktor yang ada, yaitu: (1) Penerapan sistem manajemen mutu, (2) Perencanaan peralatan, dan (3) Kualitas material.

5.

Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan persepsi antara kontraktor dan konsultan diperoleh 6 faktor (40%) yang memiliki perbedaan persepsi dari 15 faktor yang ada, yaitu: (1) Ketrampilan pekerja proyek, (2) Waktu pelaksanaan, (3) Pengelolaan material, (4) Perencanaan peralatan, (5) Metode pelaksanaan konstruksi, (6) Kualitas material. Dari keenam perbedaan persepsi antara kontraktor dan konsultan terlihat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut, selalu dialami oleh kontraktor.

Dari penelitian yang dilakukan diberikan saran-saran yaitu:

1.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Penataan Ruang dan Permukiman untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas proyek pembangunan bangunan gedung negara dalam penyelenggaraannya, terutama faktor-faktor yang termasuk dalam kelompok faktor sumber daya manusia.

2.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebaiknya membuat peraturan daerah atau peraturan gubernur tentang penerapan sistem manajemen mutu proyek konstruksi sebagai upaya meningkatkan kualitas hasil konstruksi dengan mengacu kepada Peraturan Menteri PU No.04/PRT/M/2009..

3.

Penelitian ini dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proyek bangunan gedung negara untuk itu disarankan agar dilakukan penelitian sejenis terhadap proyek-proyek konstruksi lainnya seperti kualitas proyek bidang jalan dan sumber daya air.

DAFTAR PUSTAKA

________, Undang-Undang RI Nomor 18 tahun 1999 tentang jasa konstruksi. ________, Undang-Undang RI Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

(8)

________, Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 tahun 2000 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi.

________, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

.________, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PER/M/2008 tentang Sistem Manajemen K3 (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

________, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu (SMM) Departemen Pekerjaan Umum.

Al’Maruf, Dian Mochammad, Analisa Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pekerjaan konstruksi dalam pelaksanaan pembangunan prasarana irigasi, Tesis Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, 2008.

Barrie, Donald S. & Paulson, Boyd C, Jr., Manajemen Konstruksi Profesional (Terjemahan), Edisi II, Jakarta, Erlangga, 1990.

Enshassi, Mohamed and Abushaban, Factor Affecting The Performance of Construction Projects in The Gaza Strip, Journal of Civil Engineering Management, 15(3) 269-280, 2009.

Nyirongo, Chimwemwe B, Faktor-faktor kritis terkait dengan kontraktor yang mempengaruhi kesuksesan proyek manajemen dalam konstruksi bangunan di Malawi, Tesis, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, 2010.

Saqib, Farooqui, and Lodi, Assesment of Critical Success Factor for Construction Project in Pakistan, First International Conference on Construction in Developing Countries (ICCIDC-I), Karachi Pakistan, 2008. Stuckhart, George, Construction Materials Management, Marcel Dekker, Inc, USA, 1995.

Gambar

Tabel 1.1 Interpretasi Nilai Rata-Rata Pada Masing-Masing Faktor Pengaruh  Nilai interval mean (%)  Pengaruh
Tabel 3.4 Rekapitulasi Data Nilai Rata-Rata (Mean), Skala Pengaruh Dan Peringkat Berdasarkan Jawaban  Responden Gabungan
Tabel 5.1 Hasil Uji U (Mann-Whitney) Responden Pihak Pemerintah dan Kontraktor  No.  Faktor-Faktor Pengaruh  Kode  Sig  Nilai α  Hasil Analisis

Referensi

Dokumen terkait

Perusa- haan dengan nilai aset lebih kecil daripada kewajibannya akan menghadapi bahaya kebangkrutan (Susanto, 2009) yang mendukung hasil penelitian terdahulu (Chen & Church,

correcting atau mengkoreksi penampilan temannya dalam membaca puisi, pengkoreksian dilakukan berdasarkan panduan dari media kartu kuning yang berisi teks puisi

Berdasarkan hasil penelitian pernyataan mengenai kesiapan perawat yang di ungkapkan oleh partisipan sesuai dengan pernyataan yang sudah ada pada teori yaitu

Analisis penyejajaran urutan nukleotida dan asam amino yang menggunakan program BLAST, menunjukkan bahwa fragmen GmMt2 sama dengan cDNA utuh dari AtMt2A (nomor akses

Corporate governance lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para

Pendapat tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Tariq dan Muhammad 2014, dimana mahasiswa fakultas Sains Universitas Karachi menggunakan sumber informasi

Daerah yang memiliki tipologi cepat maju dan tumbuh mempunyai kemungkinan mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih baik pada masa desentralisasi dibanding dengan daerah dengan

Menurut bapak Supriyanto mengatakan bahwa SD kedongori sudah menggunakan konsep manajemen berbasis sekolah.kami sebagai kepala sekolah memilki otonomi untuk membuat